Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members Chap 7
"Xiao Lu, uljima ne, Sehun janji akan membelikan yang baru setelah ini," tangan anak laki-laki itu mengusap pelan rambut sesosok laki-laki manis berumur 7 tahun yang sedang menangis di depannya.
"Hksss..hksss..ta-tapi Lu-lu-luhan yang salah Hunnie, hkss," anak laki-laki yang dipanggil Xiao Lu itu terus menangis merasa bersalah telah menjatuhkan ice creamnya dan Sehun.
"Kwaenchana Xiao Lu, Sehun tidak menyalahkanmu. Ayo kita obati dulu lututmu," Ucap Sehun mencoba menenangkan temannya. Luhan menggeleng ia tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri, ia benar-benar sedih.
"Xiao Lu jika lututmu tidak diobati akan terus berdarah, setelah diobati Sehun akan membelikan ice cream baru? Otte?" Tawar Sehun masih terus mengusap rambut temannya. Luhan masih sesengukkan, seandainya ia tidak berlari, nasib ice creamnya akan baik-baik saja sekarang.
"Se-sehun ti-tidak marah dengan Luhan? hkss," tanya Luhan menatap mata teman yang sedang mengusap rambutnya. Sehun menggeleng,
"Ani, Sehun tidak marah sama sekali, Sehun akan marah kalo Xiao Lu tidak mau diobati. Jadi ayo kita obati lukamu Xiao Lu,"Jawab Sehun lalu tersenyum. Luhan selalu menyukai senyum temannya itu, dia merasa akan baik-baik saja jika berdekatan dengan Sehun.
"Ayo," Sehun tersenyum mendengar jawaban Luhan lalu menarik tangan kecil Luhan.
..
Laki-laki berambut caramel itu membuka matanya cepat, dan lagi ini semua hanya mimpi. Sudah beberapa hari ini Luhan memimpikan masa kecilnya dengan sosok itu, sosok masa lalunya. Luhan merasa beberapa hari ini tidurnya tidak tenang, dan selalu terbangun tengah malam seperti sekarang ini. Ia melirik jam beker di samping tempat tidurnya, 02.03 A.M. Bahkan ini masih sangat jauh dari kata pagi untuknya. Luhan bangun dan bersender pada head board, membetulkan posisi selimutnya dan mengambil ponselnya dari atas nakas. Jarinya dengan cepat membuka ponsel dan mencari nama seseorang disana, dia harus mengubungi seseorang untuk menemaninya sekarang. Jarinya berhenti di salah satu nama "Happy Virus", nama yang ia gunakan untuk sahabatnya Baekhyun. Dengan cepat jarinya menekan lambang untuk menelpon sahabatnya itu, mungkin jika ia berbicara dengan Baekhyun rasa kantuknya akan muncul kembali.
"Yeoboseyo? Lu?" Luhan tersenyum ketika Baekhyun mengangkat telpon darinya.
"Baek-"
"Lu mian, aku sedang ada pertemuan fashion sekarang, aku akan menelpomu lagi nanti," Belum sempat Luhan menyapa Baekhyun, sahabatnya itu memutus pembicaraanya.
"Ah ne Baekki, arraseo," Jawab Luhan lalu memutuskan panggilannya.
"Hhhhah." Luhan menggembungkan pipinya mencoba berfikir harus menghubungi siapa sekarang ini, semua orang pasti sedang bekerja di Korea sana. Ia benar-benar butuh sesuatu untuk menghilangkan pikiran anehnya dan kembali tertidur. Luhan mencoba berfikir lalu tersenyum, menemukan caranya. Ia menyibak selimut menggunakan sandal kamarnya dan berjalan menuju nakas di sebelah lemarinya, menarik salah satu laci nakas tersebut dan mengambil kartu berwarna gold. Ia tersenyum ketika menemukan kartu itu disana, kartu yang bahkan tidak pernah disentuhnya sama sekali sejak pertama kali ia tinggal di apartemen itu. Kartu itu adalah kartu VIP bagi pengguna apartemen tempat dimana Luhan tinggal.
Tidak semua orang memiliki kartu VIP tersebut, hanya orang-orang yang membayar penuh di awal ketika membeli apartemen tersebut dan mendaftarkan dirinya pada layanan VIP. Saat pertama kali Luhan membeli apartemennya, ia memang membayar penuh di awal dan di tawarkan untuk mendaftar layanan VIP dan ia hanya menyetujuinya tanpa ada keinginan lebih lanjut. Kartu itu dapat mengakses beberapa lantai dengan standart VIP. Lounge, bar, pool, king karaoke bahkan gym dengan standart VIP, dan Luhan benar-benar tidak tertarik dengan itu semua, sehingga membuat ia tidak pernah menggunakan kartu itu sama sekali. Namun ia tiba-tiba berfikir ingin menggunakan kartu itu ke salah satu tempat, rooftop.
Yang membuatnya tertarik karena rooftop itu tidak bisa di akses semua orang, kecuali mereka adalah VIP. Luhan menyakukan kartu berwarna gold itu di saku piyamanya, mengambil ponsel, uang dan kartu apartemennya. Ia berjalan keluar kamar dan menuju pintu apartemennya. Ia tidak sabar ingin mengunjungi rooftop apartemennya untuk pertama kali. Luhan menaiki lift dan menuju lobby, ia akan membeli kopi dulu sebelum naik ke atas. Namja berambut caramel itu berjalan menuju coffee bar,
"Espresso one please," ucapnya lalu mengeluarkan uang
"Okay, wait a minute," balas pelayan itu lalu memberikan kembalian pada Luhan. Luhan mengangguk lalu memilih untuk menunggu di salah satu kursi. Matanya melihat beberapa orang yang sedang duduk di kursi lain dan fokus pada kerjaan mereka masing-masing. "Ternyata bukan hanya dirinya yang tidak bisa tidur." Pikirnya. Ini juga kali pertamanya berjalan di lobby tengah malam dan memesan kopi seperti ini. Ia tak menyangka ternyata banyak orang yang seperti dirinya, susah tidur. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang hanya duduk dan mendengarkan musik sambil terpejam dengan secangkir kopi yang masih mengepul di depannya.
"Your espresso here," panggil salah satu pelayan membuatnya menoleh dan mengangguk. Luhan mengambil kopinya, mengucapkan terimakasih dan segera berlalu. Kakinya melangkah menuju lift bertuliskan VIP di atasnya. Ia menempelkan kartu berwarna goldnya di sensor hingga lift itu terbuka. Ia menekan RT untuk menuju rooftop. Ia terus tersenyum selama menunggu lift yang terus naik menuju tempat yang ia inginkan. Sesekali bibirnya menyentuh permukaan tutup gelas kertas yang ia pegang untuk menyesap kopinya.
Lift terbuka, dan Luhan melangkah keluar disambut angin yang berhembus ke arahnya.
"Harusnya aku menggunakan jaket tadi," Gumannya lalu berjalan mencari tempat yang nyaman. Matanya terus melihat sekitar, rooftop cukup sepi malam ini, ia hanya bisa melihat dua atau tiga orang sedang mengobrol di kursi yang melingkar. Ia benar-benar menyukai rooftop itu, ekspresinya menujukan kekaguman yang amat sangat. Rooftop itu dipenuhi beberapa tanaman hias, beberapa kursi yang melingkar untuk pengunjung dan disediakan juga tempat yang tertutup atap yang indah. Selain itu, Luhan bisa mendengarkan suara musik yang samar-samar terdengar di telinganya, ini luar biasa. Kakinya melangkah menuju bagian ujung dari rooftop itu, bagian yang dipenuhi lampu kecil warna warni itu menarik perhatiannya. Namun kakinya tiba-tiba berhenti ketika melihat sosok laki-laki yang sudah berdiri di tempat yang ia ingin gunakan, bagaimana bisa ia tidak melihat laki-laki itu sebelumnya.
Luhan menatap punggung laki-laki itu, seperti familiar untuknya. Cukup familiar hingga ia yakin jika itu bosnya, Willis. Ia ragu-ragu ingin menyapa namun jika ia tidak menyapa akan merasa tidak enak karena beberapa hari ini setelah makan siang bersama waktu itu, bosnya itu sedikit berbeda. Luhan merasa bosnya menjadi cukup baik untuknya, walaupun sifat dinginnya itu tidak berubah sedikitpun, tapi Willis cukup berbeda. Luhan pun memutuskan untuk menyapa, ia mengambil beberapa langkah maju,
"Wi-Willis?" Sapanya ragu-ragu takut salah orang, namun ia masih yakin jika tidak salah. Merasa namanya dipanggil, laki-laki itu menoleh dan terkejut mendapati Luhan di belakangnya.
"Luhan?" Tanyanya memastikan jika ia tidak bermimpi.
"Ahh, benar selamat malam Willis eh mungkin selamat pagi?" Ucap Luhan bingung harus seperti apa. Willis masih menatapnya heran, bagaimana bisa ia bertemu Luhan disini, dan lagi ini sudah lewat tengah malam.
"Jadi kamu VIP?" tanya Willis membuat Luhan salah tingkah, ia merasa pertanyaan itu agak menganggunya.
"I-iya, aku VIP," Jawab Luhan lalu mengangguk
"Bagaimana bisa karyawan sepertimu memiliki layanan VIP Luhan? bahkan gajimu 3 tahun itu tidak mungkin bisa seperti ini," Luhan merasa kesal dan bingung di waktu yang bersamaan, "Mengapa karyawan sepertinya tidak bisa VIP juga? Bahkan ia bisa memiliki yang lebih dari ini jika ia mau, tapi jika ia jujur akan sangat buruk kedepannya." Pikir Luhan lalu mencoba setenang mungkin, jika bosnya sudah bertanya akan sulit diabaikan.
"Ng, apartemen ini hadiah dari kakakku, layanan VIP nya juga," Jawab Luhan berbohong,
"Hadiah dari kakakmu? Berarti ia orang kaya, mengapa kau tidak bekerja padanya saja?" Lagi, Luhan tidak menyukai cara bertanya Willis yang menyebalkan.
"Itu karena kakakku tidak menyukai jika aku bekerja padanya, karena itu aku memilih disini," bohong Luhan lagi, ia hanya berharap bosnya itu berhenti bertanya agar ia tidak berbohong terus menerus, ia juga menghindari tatapam mata bosnya. Willis hanya mengangguk lalu berbalik badan kembali,
"Lalu bagaimana bisa kamu sekarang disini? Ini sudah sangat malam Luhan," Luhan mengalihkan pandangannya dan melihat punggung bosnya itu.
"Eh? Itu karena aku susah tidur Willis," Jawab Luhan.
"Kamu susah tidur tapi membeli kopi? Ckckck" Luhan bingung harus menjawab apa, dia hanya diam tanpa menjawab. Willis berbalik lagi ketika ia tidak mendapat jawaban dari Luhan, ia mengira Luhan telah pergi dari belakangnya. Dan ia masih melihat Luhan berdiri di tempatnya, tidak bergerak sama sekali dan menatap kopi yang ia bawa.
"Kau tak menjawab pertanyaanku Luhan?" Luhan menoleh ke arah bosnya, dan menyadari jika bosnya telah mengahadap ke arahnya lagi. Ia memperhatikan Willis malam itu, menggunakan piyama tidur berwarna abu-abu dipadukan cardigan coklat tua, sangat tampan di tambah rambut peraknya seperti bercahaya karena terkena cahaya lampu dalam gelap.
"Luhan?" Willis menginterupsinya, Luhan seperti sadar jika ia melamun lagi.
"Bahkan kamu bisa melamun di saat seperi ini? Hahaha," Luhan menatap bosnya bingung, Willis tertawa? Benarkah? Ini tawa pertama yang Luhan lihat dari pertama kali ia mengenal Willis. Willis masih tertawa dan matanya beradu pandang dengan mata Luhan, membuat ia sadar lalu mengehentikan tawanya.
"Ah, maaf aku kelepasan, ini cukup lucu melihatmu terus-terusan melamun," Luhan menggeleng,
"Tak masalah Willis, aku senang jika kamu tertawa. Sangat jarang melihatmu tertawa," Balas Luhan lalu tersenyum
"Dan masalah kopi ini, sejujurnya aku tadi berniat akan meminum kopi ini ketika sampai disini, namun karena terlalu dingin aku hanya akan memegangnya untuk mengurangi rasa dingin disini," Lanjut Luhan lagi lalu melangkah maju dan berdiri di sebelah Willis. Dan laki-laki berambut perak itu mengikuti arah pergerakan Luhan, dan menautkan alisnya ketika tau Luhan berdiri di sisinya,
"Waaah, ternyata begini pemandangan dari atas sini, ini sangat indah," Kekaguman demi kekaguman keluar dari mulut Luhan ketika berhasil menyentuh ujung rooftop dan melihat pemandangan London malam hari dari sana. Bahkan matanya dapat menangkap London Eye dari situ. Dan Willis hanya bisa melihat Luhan membulatkan matanya berbinar-binar dengan pemandangan malam London.
"Kau sangat menyukainya?" Tanya Willis yang di balas anggukan oleh Luhan.
"Sangat," Balas Luhan masih melihat pemandangan dari atas sana. Namun, beberapa menit kemudian Luhan berbalik dengan tiba-tiba dan menyentuh dadanya, sesak. Willis yang melihat itu cukup kaget lalu menyentuh pundak Luhan,
"Why? Are you okay?" Willis bertanya sedikit panik, kenapa tiba-tiba Luhan menunduk dan merasa kesakitan. Luhan menggeleng,
"Nghmph, hehh, no problem, ini hanya masalah kecil," Ucapnya menahan sesak di dadanya.
"Apanya yang masalah kecil, kita harus ke rumah sakit Luhan," Balas Willis lalu mengambil ponsel di sakunya untuk menelpon supirnya, Luhan menahan tangan Willis lalu menggeleng,
"Janghmp..jangan menelphngon, hehh ini akan baik sebentar laghhgihh," Luhan masih berusaha mengatur nafasnya. Willis benar-benar bingung dengan Luhan yang masih berusaha mengatur nafasnya dan meremas gelas kertas di tangan kirinya, bahkan cairan hitam pekat itu mengotori ujung piyamanya.
"Luhan? kau kenapa?" Willis masih berusaha bertanya. Luhan terus mengatur nafasnya lalu mencoba berdiri ketika merasa dadanya tidak terlalu sakit lagi.
"Ngehh hehh.. aku baik-baik saja, itu hanya efek karena terlalu lama melihat kebawah," Jawabnya lalu melepas pegangannya di tangan Willis dengan merasa tidak enak,
"Maksudnya?" Willis masih tidak mengerti dengan apa yang Luhan katakan.
"Ahh, aku memiliki acrophobia, phobia ketinggian. Aku akan seperti itu jika terlalu lama melihat kebawah," Jawan Luhan lalu mencoba bersender pada dinding pembatas.
"Lalu mengapa kau masih kesini jika memiliki phobia Luhan? kau ingin mati? Bagaimana jika tadi tidak ada orang disini? Dan kau seperti tadi? Tidak ada yang menolongmu, kau mau apa?" Willis membentak Luhan, ia masih merasa khawatir dengan kondisi Luhan,
"Maafkan aku Willis membuat kamu panik, tidak akan terulang lagi," balas Luhan merasa sangat tidak enak harus sesak nafas di depan bosnya. Willis tak menjawab ia masih merasakan jantungnya berdenyut dengan cepat karena panik, ia mengusap wajahnya.
"Memang seharusnya itu tidak terulang lagi Luhan, sangat tidak boleh," jawab Willis dengan nada dinginnya, Luhan menunduk lalu mengangguk merasa bosnya pasti kesal sekarang karena tiba-tiba ia seperti itu. Keheningan cukup lama tercipta di antara Luhan dan Willis, Luhan sangat tidak suka dengan keadaan seperti ini, ia mencoba meminum kopinya yang sudah dingin untuk menghilangkan rasa aneh di situasinya. Belum sempat bibirnya menyentuh ujung gelas kertasnya, tangannya sudah ditahan oleh tangan yang lebih besar darinya. Luhan menoleh dan melihat Willis sedang menatapnya dingin. Tangan besar itu menarik mundur tangan Luhan dari bibirnya, dan dengan cepat mengambil gelas kertas yang berisi kopi favoritnya.
"Ken-" Belum sempat Luhan bertanya, Luhan mendapatkan cardigan berwarna coklat tua di tangannya mengantikan gelas kopinya. Luhan menatap Willis dengan bingung
"Pakailah dan segera turun dari sini, sudah sangat malam bahkan hampir pagi dan besok kau harus bekerja, aku duluan," Lagi, bahkan Luhan belum mengeluarkan sepatah katapun, Willis sudah meninggalkannya pergi sambil meminum kopi yang ia ambil dari Luhan. Luhan menatap punggung tegap itu bingung, bahkan ia mengatakan itu dengan nada dingin, tapi mengapa Luhan merasa hangat?
..
..
..
..
Luhan mencoba membuka matanya ketika mendengar jam bekernya berbunyi, mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke kamarnya. Ia melirik jam bekernya sekilas, 06.04 A.M. Meraba nakasnya untuk mengambil ponselnya, mengecek ponselnya dan mendapatkan notif 10 panggilan tak terjawab, semua dari sahabatnya Baekhyun.
"Pasti ia mengkhawatirkanku," Guman Luhan lalu mengecek pesan yang masuk, lima pesan dari Baekhyun, jarinya berhenti ketika melihat satu pesan selain dari Baekhyun. Matanya membulat ketika membaca siapa pengirim pesan itu, "Bossy Willis" segera Luhan membuka pesannya,
From : Bossy Willis
Kamu tidak perlu datang hari ini ke kantor, aku sudah memberitahu bagian perizinan jika kau sedang sakit Luhan, beristirahatlah dan berangkat besok pagi.
Luhan menatap layar ponselnya, jadi hari ini ia tidak bekerja? Luhan memang merasakan pusing pagi ini, mungkin karena ia kurang tidur. Yang ia ingat sampai ke kamar ketika jam menunjukkan pukul 03.55 A.M. Dirinya baru tertidur kurang lebih 2 jam, wajar saja jika kepalanya pusing. Ia menyibakkan selimut, ingin menutup gorden kamarnya yang terbuka. Namun ia baru menyadari jika dirinya menggunakan cardigan coklat tua, dan langsung teringat kejadian semalam ketika dirinya tiba-tiba sesak, dan ia mendapatkan cardigan ini dari Willis, bosnya. Ia bahkan bisa mencium wangi khas dari bosnya itu di cardigan coklatnya, perpaduan yang Luhan sukai. Dan entah kenapa tiba-tiba bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman manis.
.
.
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
Maaf kalo alurnya terlalu cepat? Atau mungkin terlalu lambat? Aku berusaha keras agar tidak terlalu bertele-tele karena dari itu mohon reviewnya
Maafkan juga ceritanya belum sempurna :") aku bekerja semaksimal mungkin chingu ^^
Makasih yang udah review, silahkan terus review chingu ^^ akan dibalas reviewnya
silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan
Sarangahaeee chinguu
