Penulis : Ohdeerwillis

Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka

Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll

Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members

Chap 8

Luhan menarik tangga kecil yang biasa ia gunakan untuk menggapai tempat tinggi. Tangga kecil itu ia dirikan di depan lemari, lalu menaikinya. Tangannya berusaha menggapai box putih berukuran sedang di atas lemarinya, dan ketika jarinya menyentuh pengait box putih itu, ia menarik boxnya. Luhan mengangkat box itu lalu membawa turun dan berjalan menuju kasurnya.

"Heumh, sudah sangat lama sekali ya," Gumannya mengusap tutup box yang berdebu. Ia membuka tutup box itu lalu meletakan disebelahnya. Matanya menatap isi box dengan sendu, sudah sangat lama ia tidak membuka box putih itu. Bahkan ia sudah lupa kapan terakhir kali ia membukanya, seingatnya ketika pindah ke apartemennya, ia langsung meletakan box putih itu di atas lemari dan mendorongnya hingga menjauh. Jarinya meraba pelan isi box itu, beberapa album foto, buku cerita, buku tulis bergambar, crayon, dan beberapa barang masa kecilnya. Sejujurnya ia tidak ingin membuka box itu lagi, ia akan merasa ingin menangis jika melihat isi box itu. Namun, hari ini ia menguatkan hatinya untuk membuka box itu lagi setelah sekian lama dirinya tidak ingin membuka box putih itu.

Luhan meletakkan dagunya di tepian box, membiarkan pikiran masa kecilnya menguasai dirinya. "Biarkan, hanya hari ini saja Luhan," pikirnya lalu tersenyum sendu. Setiap ia membuka box itu, Luhan merasakan dirinya seperti ditarik paksa untuk kembali ke masa lalunya dan mengingat banyak hal yang ia tak ingin. Luhan memejamkan matanya dan mencoba setenang mungkin dengan perasaannya sendiri, ia harus kuat. Satu demi satu Luhan mengingat masa lalunya yang mulai berputar cepat di kepalanya.

..

..

..

"Sehunnie ayo cepat jalannya," Teriak anak berusia 9 tahun itu, rambut caramelnya terlihat mengkilap terkena cahaya matahari,

"Sabar Xiao Lu, aku lelah," Anak yang dipanggil Sehun itu terlihat terengah-engah mengatur nafasnya. Ia tak habis pikir temannya itu secepat itu, biasanya ia yang di depan dan meneriaki temannya untuk berjalan dengan cepat.

"Kita akan terlambat sampai ke pamerannya Sehunnie, ini hari terakhir,"Balas anak berambut caramel itu, dia Luhan.

"Nghh..aku benar-benar lelah Xiao Lu, kamu jalan duluan saja, aku akan menyusul." Sehun mengelap keringatnya, sekarang musim panas dan ia harus berjalan jauh untuk menuju pameran anak-anak. Jika bukan Luhan yang meminta, ia akan sangat malas untuk berjalan sejauh itu, ia lebih memilih meminum bubble tea di kamarnya dan menyalakan pendingin ruangan. Sehun bukanlah orang yang bisa berlama-lama di bawah terik matahari, ia akan cepat sekali lelah, seperti sekarang ini.

"Kamu menyuruhku duluan?" Tanya Luhan bingung. Sehun mengangguk, ia benar-benar sangat lelah sekarang ini.

"Aku ingin duduk disini sebentar, aku akan segera menyusulmu," Jawab Sehun lalu duduk di bangku jalan. Luhan tampak berfikir dan menatap temannya dari jauh yang sedang kelelahan, lalu mengangguk.

"Baiklah aku akan pergi duluan, sampai nanti Sehunnie," Balas Luhan lalu melambaikan tangan dan berlalu.

"Mwo? Dia benar-benar meninggalkanku disini sendirian? Sungguh tidak bisa dipercaya," Ucap Sehun kesal. Bagaimana bisa temannya itu meninggalkan dirinya sendirian jika selama ini Sehun selalu menunggunya. Sehun mengelap wajahnya lalu menunduk menatap sepatunya.

"Bukannya selama ini aku selalu menunggunya? Kenapa ia tidak menungguku sebentar saja," Guman Sehun sedikit kecewa, lalu memejamkan matanya. Sehun berniat mengumpulkan tenaganya, tak ingin membuat Luhan menunggunya terlalu lama sampai ia merasakan dahinya terasa sangat dingin. Sehun membuka matanya dan mendapatkan sepatu orang lain di depannya, ia mendongak dan menemukan Luhan sedang menempelkan minuman kaleng di dahinya. Wajah Luhan tampak memerah seperti habis berlari dan penuh dengan keringat yang membasahi wajahnya.

"Xiao Lu?" Tanya Sehun bingung, bukannya Luhan sudah meninggalkannya, kenapa disini?

"Nghh…humph..minumlah ini," Ucap Luhan lalu menyerahkan sekaleng coke untuk Sehun. Luhan berusaha mengatur nafasnya lalu terduduk di samping Sehun, ia kelelahan.

"Kenapa kamu kembali Xiao Lu? Dan dimana kamu mendapatkan ini?" Tanya Sehun menatap temannya bingung.

"Nghh…kamu pikir aku tega meninggalkanmu disini Sehunnie, dan juga minuman itu aku membelinya di ujung jalan sana pabboya." Balas Luhan lalu menyenderkan kepalanya di lengan Sehun.

"Jadi kamu berlari kesini untuk memberikan ini padaku?" tanya Sehun lagi dan Luhan mengangguk. Sehun tersenyum melihat tingkah teman manisnya ini, dia mengira Luhan meninggalkannya, bahkan ia tidak mendengar suara langkah Luhan tadi. Matanya menatap Luhan yang sedang bersender di lengannya, ia tempelkan minuman kalengnya ke pipi Luhan.

"Eh?" Luhan mengangkat kepalanya setelah merasakan dingin di pipinya.

"Wae Sehunnie?" Tanya Luhan bingung.

"Aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan tadi,"Jawabnya lalu tersenyum. Sehun mengambil sapu tangan di saku celananya dan mengelap keringat Luhan.

"Aigoo wajahmu merah Xiao Lu," Goda Sehun membuat Luhan tersenyum lalu merebut sapu tangan Sehun.

"Aku bisa melakukannya sendiri," Ucap Luhan lalu mengelap wajahnya.

"Arraseo," Sehun membuka minuman kalengnya lalu menyerahkan ke Luhan,

"Minumlah, kamu pasti sangat lelah,"Lanjut Sehun lalu mengambil minuman kaleng Luhan.

"Gomawo Sehunnie," Balas Luhan lalu meneguk minuman kalengnya, Sehun hanya tersenyum melihat temannya itu.

"Nado Xiao Lu, sudah mau kembali untuk Sehun."Ucap Sehun lalu meneguk minuman kalengnya juga, terasa cairan itu menyentuh kerongkongannya.

"Aku tidak akan meninggalkan Sehunnie," Balas Luhan lalu tersenyum senang dan Sehun ikut tersenyum mendengarnya, ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Luhan.

..

..

..

"Hhhehh,"Luhan mendesah pelan mengingat masa lalunya, ia membuka matanya dan menatap isi box putih itu lagi. Matanya menangkap sebuah sapu tangan berwarna mint yang terlipat rapi di dalam boxnya. Luhan mengambil sapu tangan itu,

"Aku tidak meninggalkanmu, tapi sebaliknya," Gumannya menahan sedih. Ia mengusap lembut sapu tangan itu lalu meletakkannya kembali. Ia mengangkat tumpukan buku ceritanya lalu mengambil sesuatu di bawahnya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam.

..

..

..

..

Laki-laki yang biasa dipanggil Willis itu membuka laci di bawah TV nya, ia mengambil sebuah kotak persegi panjang bewarna navy dan membawanya menuju sofa. Tangan besarnya membuka tutup kotak itu lalu mengambil isinya, dua buah album foto. Ia membuka album foto bersampul merah muda dan meletakan yang lain di sampingnya. Matanya menatap satu persatu foto di dalam album itu, hampir seluruh isi fotonya ketika ia bersama orangtuanya, orangtua sesungguhnya -bukan- orangtua yang mengajarkannya berbisnis. Jarinya terus membalik lembar demi lembar hingga berhenti di halaman terakhir, itu foto terakhir yang ia ambil bersama orangtuanya di rumah sekitar 13 tahun yang lalu, ketika usianya 11 tahun. Ia ingat ketika itu ia dan orangtuanya akan berlibur ke Busan untuk merayakan ulangtahunnya, bahkan ia sudah menunggu hal itu sebulan lamanya. Keluarga kecilnya memilih menggunakan mobil pribadi dan terlihat sangat bahagia. Saat itu yang ia pikirkan adalah dirinya akan menghabiskan akhir pekannya bersama keluarganya dengan bahagia, namun takdir berkata lain.

Saat itu sedang turun hujan yang sangat deras, ia terlalu bahagia dan banyak bercanda dengan orangtuanya di dalam mobil. Keluarga kecil itu mendengarkan musik dan bernyanyi bersama, larut dalam kebahagiaan. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, ia ingat ketika tiba-tiba dari arah samping sebuah mobil melaju sangat kencang dan menghantam mobilnya dengan sangat keras. Appanya yang tidak siap dengan situasi itu langsung membanting setir cukup kuat, mobilnya berputar lalu menabrak pembatas jalan. Kejadian itu seperti terjadi sangat cepat sehingga ia bahkan tidak sadar apa yang terjadi. Yang ia ingat ia melihat orangtuanya sempat berteriak sebelum ia merasa terbanting sangat keras dan tak sadarkan diri.

Takdirlah yang membawanya agar sadar dari tidurnya, ia dinyatakan tidak sadarkan diri selama 1 bulan lamanya. Namun takdir yang berbeda menghampiri orangtuanya, ia harus kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan mengenaskan itu, ya orangtuanya meninggal di tempat. Saat mendengar kabar orangtuanya, dirinya seperti di jatuhkan dari bangunan yang sangat tinggi, sangat menyakitkan. Bahkan ia menangis mengingat bahkan ia tidak bisa mengantar orangtuanya di tempat perisitirahatan terakhir. Hatinya seperti diiris, ia kecewa dengan dirinya sendiri. Setelah kejadian itu, dirinya baru diizinkan pulang dari rumah sakit 3 minggu kemudian. Perasaannya berkecamuk dengan semua kejadian yang bahkan tak pernah terfikirkan di kepalanya. Ia bahkan mengabaikan sakitnya penyembuhan 3 minggu di rumah sakit itu, yang dia inginkan adalah menemui orangtuanya.

Hal pertama yang ia lakukan ketika keluar dari rumah sakit adalah mendatangi krematorium di mana orangtuanya berada.

..

..

Sehun lebih tepatnya Oh Sehun, anak yang berusia 11 tahun itu melangkah masuk ke dalam krematorium dengan sebuket bunga mawar putih di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya terpasang gips dan penyanga. Kecelakan itu membuat tangan kanannya patah dan lehernya mengalami cidera cukup berat sehingga ia juga mengenakan penyangga pada lehernya. Kakinya terus melangkah masuk dan memasuki salah satu ruangan di bangunan itu, langkahnya berhenti ketika matanya menangkap dua buah guci berwarna putih yang tampak masih baru, "Oh Jong-Hyuk dan Jung Yu-mi" itu orangtuanya.

"Annyeonghaseyo eomma,appa," Sapa Sehun pelan lalu berusaha membungkukan badannya. Matanya menatap dengan sedih dua nama yang tertulis di depan guci itu, Sehun bahkan belum percaya sepenuhnya jika ia menjadi yatim piatu sekarang.

"Mianhaeyo, Sehun tidak bisa mengantar kalian kemarin, Sehun menyesal," ucapnya. Ia berusaha mati-matian menahan suaranya agar tak bergetar di depan orangtuanya.

" eomma? Appa? Kenapa kalian meninggalkan Sehun duluan?"

"Kenapa kalian disini? Bagaimana dengan liburan kita? Bagaimana dengan ulangtahunku?"

"Kenapa kalian harus membiarkanku sendiri sekarang? Kenapa? Kenapa kalian tak membawaku bersama sekalian?" Suaranya mulai bergetar.

"Kenapa kalian memberikanku kejutan terlalu banyak? Di saat Sehun tidak mengharapkan kejutan ini? Ini sudah kelewatan eomma, appa,"

"Kembalilah, jangan meninggalkan Sehun begitu cepat, bahkan kita belum tiup lilin bersama..hkks,"Satu air matanya berhasil lolos.

"Bagaimana Sehun akan bertahan sekarang? Rasanya seperti kaki Sehun diambil secara paksa," Tangannya bergetar,

"Eomma, appa, kalian bahkan tidak menunggu Sehun. Kenapa kalian tak bertahan lebih lama demi Sehun? Heuh? Waeyo eomma, appa? Waeyo?"

"Bukannya kalian janji akan terus merayakan ulangtahun bersama Sehun? Hkks..hkss..kenapa terlalu cepat Tuhan?" Sehun menunduk tak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Sakit, sangat sakit yang ia rasakan. Bukan fisiknya, tapi batinnya, batinnya sangat tersiksa sekarang ini. Air matanya terus keluar, semakin ia berusaha menahan semakin air matanya terus memaksa keluar.

"Mianhaeyo eomma, appa, Sehun melanggar janji untuk tidak pernah menangis lagi, kali ini saja, biarkan Sehun menangis, sekali ini saja, hkkss…hksss,"

"Sehun..hkss..Sehun tidak kuat eomma,appa, Sehun takut..hkkss," ia menatap guci putih itu lagi.

"Sehun bukan anak laki-laki yang kuat..Se-Sehun…hkksss…Sehun..Se-Sehun…Hkkkssss" ia benar-benar sangat lemah sekarang, ia tidak menahan segalanya sendirian.

"Eomma, Sehun membawakan mawar putih untuk eomma, eomma menyukainya kan? Sehun ingat eomma pernah mengatakan, ketika appa melamar eomma dengan mawar putih, eomma sangat bahagia sehingga terus-terusan menyukai mawar putih. Karena dari itu Sehun membawakan ini untuk eomma dari appa," Sehun meletakkan buket mawar putih itu di depan kedua guci putih itu.

"Appa harus bangga dengaku, aku melakukannya demi appa," ucapnya lalu mengapus air matanya.

"Eomma, appa, Sehun tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Tolong jaga Sehun ya eomma, appa, Sehun…" ia menarik nafasnya dengan pelan

"Sehun akan berusaha kuat demi eomma, appa," ucapnya lalu tersenyum.

"Sehun, akan melakukan apapun untuk kebahagian Sehun seperti kata kalian dulu, untuk terus menjadi orang yang kuat dan terus bahagia,"

"Karena itu, tolong jaga Sehun dari sana eomma, appa," ucapnya lalu mengusap kedua guci itu.

"Mianhaeyo telah menangis disini, Sehun hanya merasa terlalu kecewa,"

"Eomma, appa, Sehun mencintai kalian, sangat mencintai kalian, sangat-sangat mencintai kalian,"

"Dan ini, agar kalian terus mengingat Sehun disini,"Ucapnya lalu meletakkan sebuah kalung berbandul tabung kecil dan sebuah foto, foto terakhir yang diambil sebelum berangkat ke Busan.

"Sehun akan sangat merindukan kalian, teruslah tersenyum disana,"

"Suatu saat nanti Sehun akan kembali lagi," ucapnya lalu mencium kedua guci putih itu.

"Annyeong-hi gyeseyo," Lanjutnya lalu membungkuk. Matanya menatap kedua guci putih itu sesaat lalu berlalu.

..

..

Setelah kecelakaan itu, Sehun seperti dibuah oleh keluarganya. Keluarganya hanya memperebutkan perusahaan appanya, Sehun benar-benar tak terurus. Jika ditanya mengapa Sehun tidak memberontak? Jawabannya adalah untuk apa? Dia hanya anak berusia 11 tahun yang tidak mengerti apa-apa. Dia hanya dianggap penganggu dalam keluarganya, dan secara langsung dibuang oleh keluarganya sendiri. Dirinya tidak menolak ketika dikirim ke sebuah panti asuhan oleh keluarganya sendiri. Kenapa? Karena dirinya tidak memiliki keinginan untuk bertahan di dalam keluarganya yang mensia-siakan dirinya. Dirinya terlalu lelah disalahkan sebagai penyebab kematian kedua orangtuanya. Mengapa harus dirinya yang disalahkan? Bahkan dirinya sendiri tidak ingin kehilangan kedua orangtuanya seperti itu. Setelah saat itu, Sehun berubah menjadi anak yang dingin dan pendiam. Bahkan ketika dirinya masuk ke panti asuhan, Sehun tidak ingin bergaul dan selalu bersikap dingin kepada siapapun.

Setahun setelah kejadian itu, tiba-tiba panti asuhan tempat ia tinggal di datangin pasangan berwarga negara asing yang mencarinya dan ingin mengangkatnya menjadi anak. Saat itu Sehun menolak tawaran itu, hingga pasangan itu menceritakan kebaikan orangtua Sehun dan hutang budi yang mereka miliki dengan bahasa Korea yang tidak terlalu lancar. Mereka mencari Sehun setelah mendengar kabar jika orangtua Sehun mengalami kecelakaan parah di Korea, sehingga pasangan itu memutuskan untuk terbang ke Korea saat itu juga untuk mencari Sehun. Bahkan mereka sangat sedih ketika mengetahui jika Sehun dibuang oleh keluarganya sendiri dan dikirim ke panti asuhan. Sehun mendengarkan cerita itu dengan pandangan dingin dan terus berfikir. Hingga akhirnya mereka memohon agar Sehun ikut denga pasangan itu dan dibalas anggukan kepala Sehun pada akhirnya yang membuat pasangan suami istri itu tersenyum bahagia.

Dan begitulah akhirnya, Sehun berubah nama menjadi Willis -Willis Archer- tepatnya, namun ia tidak ingin menggunakan nama belakang orangtuanya tersebut. Ia masih Oh Sehun dan sampai kapanpun tetap Oh Sehun, marganya tidak akan pernah berganti. Ia akan menggunakan nama Willis tapi tidak nama belakangnya. Walaupun hal itu sempat diprotes oleh kedua orangtua angkatnya, namun akhirnya mereka menerima pilihan Sehun yang hanya menggunakan Willis sebagai nama barunya. Dan setelah itu pula dirinya memiliki obsesi besar, untuk mencari kebahagian dan membahagiakan orang yang ia cintai, karena Sehun tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya.

Sehun menutup album fotonya, dan bersender pada sandaran sofa. Jika diingat-ingat dirinya sudah terlalu jauh jika ingin menyerah sekarang. Matanya menerawang ke atas, dan reflek tangannya menghapus cepat air mata yang hampir jatuh dari matanya. Ia telah berjanji untuk tidak menangis lagi, dan ia tidak boleh menangis lagi.

"Heuhh, eomma, appa, apa kabar?" Gumannya lalu tersenyum. Takdirnya masa kecilnya mmungkin pahit tapi Tuhan seperti mengganti takdir pahit itu dan membawanya menuju takdir yang lebih indah. Ia bersyukur dipertemukan dengan orangtua angkat yang baik seperti orangtua angkatnya sekarang ini. Walaupun sibuk, mereka terus memperhatikan Sehun dengan sangat baik. Bahkan takdirnya bertambah baik ketika ia memutuskan untuk bekerja di perusahaan cabang ketika mengetahui orang yang ia cari selama ini disini, di London. Ia meletakkan album foto itu dan mengambil album foto lain bersampul biru langit. Ia membuka lembar pertama dan tersenyum melihat fotonya bersama teman masa kecilnya, Luhan.

"Aku akan selalu mengingat kata-kata kalian, eomma, appa," Ucapnya lalu mengusap foto itu.

..

..

"Untuk mencari kebahagiaan dan membahagiakan orang yang dicintai sampai kapanpun," Sehun akan selalu mengingatnya.

.

.

.

.

.

R

C

L

terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa

Maafkan juga ceritanya belum sempurna :") aku bekerja semaksimal mungkin chingu ^^

Makasih yang udah review, silahkan terus review chingu ^^ akan dibalas reviewnya

NB : Karena disini sudah diceritakan masa lalu Sehun dan penyebab dia ganti nama, untuk chap selanjutnya aku akan terus pakai nama "Sehun" bukan Willis, karena takut banyak yang bingung jika digunakan bersamaan. Kecuali untuk orang-orang yang belum tau jika Willis itu Sehun misalnya Luhan dan teman-temannya di London ^^

silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan

Sarangahaeee chinguu