Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chap 10
Sehun tersenyum melihat seseorang yang sedang makan di depannya, sangat manis. Bahkan Sehun belum menyentuh makan siangnya sedikit pun, dia terlalu senang memandangi orang di depannya. Seseorang berambut caramel itu terlalu serius dengan makanannya, sehingga tidak sadar jika Sehun terus memperhatikannya.
"Kamu sangat lapar ya Luhan?" Merasa namanya disebut, Luhan mengangkat wajahnya yang sedang mengunyah sandwich tuna, kesukaannya.
"Woahy?" Mulutnya terlalu penuh dengan sandwich tunanya, dia tidak bisa membalas Sehun.
"Telan dulu, jangan berbicara ketika mengunyah," Tegur Sehun dan Luhan hanya mengangguk lalu kembali fokus dengan makan siangnya. Sehun cukup senang dengan nafsu makan Luhan akhir-akhir ini, sebelumnya Luhan sangat susah untuk diajak makan dan selalu memilih untuk minum kopi.
"Kamu tidak makan Willis?" Luhan bertanya setelah sadar jika Sehun tidak menyentuh makan siangnya sedikitpun.
"Aku tidak lapar," Jawab Sehun singkat masih menatap Luhan.
"Bukannya kamu bilang, kita harus makan apapun yang terjadi, dan sekarang apa ini?" Luhan balas menatap Sehun.
"Iya, aku memang pernah mengatakannya, hanya saja aku benar-benar tidak lapar hari ini," Sehun masih terus tersenyum.
"Kamu harus makan Willis, dan berhentilah tersenyum terus. Senyumanmu bisa merobek bibirmu sendiri," Ucap Luhan kesal.
"Wahh, ternyata Luhan sudah berani memerintahku ya?" Goda Sehun lalu tertawa, Luhan memutar matanya kesal.
"Jujur saya aku senang karena sifat dinginmu mulai hilang, tapi melihatmu selalu tersenyum tidak jelas membuatku kesal," Luhan meletakkan pisau dan garpunya lalu mengambil pisau dan garpu Sehun.
"Kesal? Why?"
"Siapa yang tidak kesal jika selalu mendapatkan senyuman dengan tidak jelas seperti ini? Semua orang bahkan akan kesal Willis, jadi berhentilah tersenyum. Kamu bisa memasang wajah seram mu seperti biasa," Balas Luhan lalu mulai memotong sandwich milik Sehun.
"Bahkan jika orang tampan seperti ku yang tersenyum, masih membuat orang kesal? Sepertinya mustahil, dan juga aku tidak memiliki wajah seram Luhan, wajah mana yang kamu maksudkan?" Balas Sehun lalu menaikkan satu alisnya, dia tidak terima wajah dinginnya dikatakan wajah seram.
"Berhentilah menjadi terlalu berlebihan , dan sekarang makan sandwichmu, buka mulut," perintah Luhan lalu menyodorkan potongan sandwich ke depan mulut Sehun.
"Kamu benar-benar sudah mulai suka memerintah ya Luhan," Luhan tersenyum,
"Aku tidak akan memerintah jika Willis bisa melakukannya sendiri dengan baik, dan sekarang aku mohon buka mulutmu, ini mulai pegal." Luhan memasang wajah memelasnya, dan tentu saja Sehun akan mengalah setelahnya.
"Baiklah, aaa"Sehun membuka mulutnya lalu memakan potongan sandwich dari Luhan.
"Anak pintar, lanjutkan sendiri." Ucap Luhan lalu meletakkan garpu dan pisau Sehun.
"Kamu tidak menyelesaikan pekerjaanmu dengan benar Luhan, kenapa kamu hanya melakukannya sekali?" Protes Sehun setelah Luhan menyuruhnya makan sendiri.
"Aku harus menyelesaikan makan siangku juga Willis, dan jam istirahat siang kita akan berakhir, jadi cepatlah," Luhan melanjutkan makannya dan Sehun menatapnya kesal.
"Ck, aku bosnya jadi jangan pedulikan waktu istirahat siang, oke? Sekarang lanjutkan ini," Perintah Sehun lalu menunjuk makan siangnya. Luhan menggeleng,
"Jangan bawa-bawa jabatanmu itu Willis, sangat tidak adil kalo kamu seperti ini terhadapku saja tapi tidak dengan yang lain, dan juga sejak kapan Willis yang dingin menjadi Willis yang kekanan-kanakan seperti ini?" Luhan tersenyum lalu kembali mengunyah makanannya.
"Aku hanya bertingkah di depanmu Luhan, jangan suruh aku menjadi dingin lagi di depanmu," Balas Willis lalu melipat tangannya dan Luhan mengangguk, mengerti. Sehun tidak berniat melanjutkan makan siangnya dan memilih menatap Luhan yang hampir menyelesaikan makan siangnya. Sehun menatap Luhan dengan serius, pikirannya seperti tercampur jadi satu. Entah sejak kapan Sehun dan Luhan akhirnya menjadi dekat seperti ini, dia tidak mengingatnya dengan baik. Semuanya seperti terjadi begitu saja, Sehun yang memilih untuk tidak menjadi dingin di depan Luhan beberapa bulan terakhir, dan Luhan yang mulai terbuka dengan Sehun membuat keduanya menjadi dekat seperti sekarang ini.
Hampir semua pekerjaan mereka lakukan bersama, mulai dari makan siang, makan malam, berangkat dan pulang kerja, menghabiskan akhir pekan, bahkan berbelanja mereka lakukan bersama. Beberapa karyawan Sehun pun mulai bingung dengan hubungan keduanya, hanya saja Sehun maupun Luhan tidak terlalu peduli dengan orang lain. Jika ditanya apakah mereka berpacaran? Jawabannya tidak atau mungkin belum? Entahlah Sehun belum memutuskan untuk menjadikan Luhan kekasihnya. Bukan karena Sehun tidak mau atau tidak serius dengan Luhan, hanya saja ia masih harus menyelesaikan beberapa masalahnya lalu setelah itu ia akan menyatakan perasaannya. Dan sejauh ini, Luhan bahkan tidak pernah mempermasalahkan hubungan mereka, jauh di dalam hati Sehun, ia ingin Luhan bersabar dengan semuanya.
"Selesai," Sehun tersadar dari lamunannya lalu menatap Luhan.
"Sudah selesai? Ayo kembali ke kantor," Ucap Sehun dan dibalas anggukan Luhan. Luhan bersiap berdiri dari kursinya sampai tangannya di tahan Sehun.
"Why? Katanya kita kembali ke kantor." Tanya Luhan bingung. Sehun mengambil selembar tisu lalu menarik wajah Luhan mendekat.
"Umurmu berapa sih? Berantakan sekali," Ucap Sehun lalu menyeka saos di ujung bibir Luhan.
"Eh? Aku bisa melakukannya sendiri," Ucap Luhan lalu merebut tisu dari tangan Sehun dan menyeka bibirnya. "Ini Dejavu," Pikir Sehun.
"Wajahmu memerah," Goda Sehun lalu berdiri dari kursinya,
"Berhenti menggodaku ," Balas Luhan lalu menyusul Sehun berdiri.
..
..
..
..
"Cassie, ini datanya dan tolong serahkan salinan data sebelumnya ke aku, besok siang sebelum jam 11 oke?" Ucap Luhan lalu menyerahkan map kepada Cassie.
"Okay Luhan, besok siang berkasnya ada di mejamu sebelum jam 11," Luhan mengangguk
"Thanks Cassie," Cassie tersenyum lalu mengangkat ibu jarinya. Luhan kembali ke meja kerjanya, mengambil beberapa map lalu berjalan menuju lift.
Luhan melangkahkan kakinya keluar setelah lift menunjukan angka 3, kakinya terus melangkah menuju ruang editing untuk menyerahkan berkasnya.
"Luhan," Merasa dipanggil Luhan menoleh,
"Chen!" Luhan tersenyum lalu berjalan menuju Chen.
"Yaa.. sangat jarang melihatmu di lantai 3, wae?"
"Aku mau ke ruang editing, berkas ini akan masuk ke percetakan," Balas Luhan lalu menunjukan setumpuk map di tangannya.
"Kenapa kamu yang turun? Dimana yang lain?"
"Mereka sedang sibuk Chen, lagipula hanya aku yang bisa, jadi aku yang menyerahkannya." Chen mengangguk tanda mengerti.
"Kalau begitu, kita bersama, kajja," Luhan tersenyum lalu mengikuti Chen menuju ruang editing.
..
..
"Data yang lain akan menyusul, tolong selesaikan yang itu," Ucap Luhan dan dibalas anggukan staff editing.
"Terimakasih," Luhan berjalan keluar, Chen menunggunya.
"Otte?" Luhan mengangkat ibu jarinya, Chen tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan setelah jam pulang Luhan?" Tanya Chen lalu melangkah disebelah Luhan.
"Naega? Entahlah, mungkin akan berbelanja lalu pulang, wae?"
"Aku sedang bosan, bagaimana aku ikut berbelanja? Aku juga akan mencari beberapa barang." Luhan menoleh ke arah Chen, "Dia butuh teman berbicara,"Pikir Luhan lalu menyetujui saran Chen.
"Baiklah, tunggu aku setelah jam kerja selesai, aku akan mengirim pesan," Balas Luhan.
"Arraseo, aku akan menunggumu di lobby," Luhan mengangguk
"Sampai nanti," Ucap Luhan lalu menaiki lift.
..
..
..
Luhan dan Chen mengambil trolley di depan pintu masuk supermarket, lalu berjalan beriringan melewati rak-rak barang, Luhan mendorong trolley itu dan matanya terus menatap rak-rak mencari yang ia butuhkan.
"Mmm…Luhan,"
"Wae?" Luhan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa kamu tidak kangen dengan Korea?" Mata Luhan berhenti tepat di depan tumpukan kotak sereal, tangannya mengambil dua kotak sereal kesukaannya.
"Kangen? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Luhan melajutkan mendorong trolley nya.
"Entahlah, ini menurutku saja atau memang kamu bukanlah orang yang gampang rindu tempat asalmu," Luhan mengambil sebungkus gula lalu menoleh ke arah Chen.
"Begitukah? Apa aku terlihat seperti itu?" Chen mengangkat bahunya.
"Sejujurnya aku juga bingung, apakah aku kangen atau tidak dengan Korea ataupun China, menurutku semuanya masih membingungkan disini," Balas Luhan lalu menunjuk dadanya.
"Wae?" Chen tidak mengerti.
"Artinya hatiku belum memberikan kejelasan Chen, apakah aku kangen atau tidak. Kadang aku berpikir aku kangen hanya saja hatiku mengatakan tidak, entahlah semuanya membingungkan," Jawab Luhan lalu mengambil sekotak jus jeruk dan sebotol susu. Chen mengangguk paham dengan perkataan Luhan.
"Apakah tidak ada orang yang ingin kamu temui disana selain keluargamu Luhan?" Luhan berhenti menatap rak lalu menatap ke samping.
"Naega?" Luhan menunjuk dirinya dan Chen mengangguk.
"Tentu saja ada, ada beberapa orang yang sangat ingin aku temui. Hanya saja aku belum bisa Chen, kembali ke Korea sama dengan menyakiti diriku sendiri," Balas Luhan.
"Wae?" Luhan terdiam, dia bingung bagaimana membalas pertanyaan ini,
"Arraseo, kamu tidak perlu bingung untuk menjawabnya Luhan, anggap saja aku tidak pernah bertanya," Ucap Chen lalu mengambil alih trolley Luhan.
"Ngg..bukannya aku tidak ingin menjawab Chen, hanya saja aku tidak tau bagaimana menjawabnya," Chen mengangguk mengerti situasi Luhan.
"Setidaknya aku bukan satu-satunya orang yang sedih disini, hahaha" Chen mendorong trolley meninggalkan Luhan. Luhan menautkan alisnya, bingung.
"Jadi kamu sedang sedih Chen," Tanya Luhan lalu menyusul Chen.
"Mungkin bisa dibilang seperti itu, aku memang tidak mengerti masalahmu, tapi setidaknya aku memiliki teman sepertiku," Luhan menatap punggung Chen,
"Aku kira kamu bukanlah orang yang memiliki masalah serius Chen,"
"Yaa..aku juga manusia, tetap memiliki masalah," Balas Chen lalu mengambil beberapa bungkus biscuit. Luhan terkekeh di belakangnya,
"Mungkin karena kamu sering bercanda Chen, siapapun akan menganggap seperti itu," Chen mengambil sebungkus keripik kentang lalu menatapnya,
"Begitu ya? Semua jika terlihat dari luar akan baik-baik saja. Sama seperti keripik kentang ini, hanya jika ini dibuka kita akan mengerti isinya," Luhan mengeryitkan dahi mendengar perkataan Chen lalu terkekeh,
"Yaaa… keripik kentang itu tidak bersalah Chen, jangan gunakan untuk perumpamaan," Balas Luhan lalu mengambil keripik kentang dari tangan Chen dan meletakkannya ke dalam trolley. Chen tersenyum, menoleh ke samping,
"Hahaha…aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja ini benar Luhan. Contohnya kamu dan aku, kita berdua dari luar terlihat baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak seperti itu," Luhan mengangguk menyetujui perkataan Chen lalu mengambil trolley dari tangan Chen.
"Menurutmu kita di dalam posisi yang benar atau tidak Chen?"
"He? Mwo?"
"Maksudku kita seperti ini, terlihat baik-baik saja tapi kenyataan mengatakan sebaliknya, itu hal yang benar atau salah?"
"Terkadang kita harus bersikap berbalik dari kenyataan seperti sekarang ini Luhan, untuk menutupi hal yang tidak ingin dilihat orang lain. Tapi, terkadang kita harus kembali seperti semula disaat membutuhkannya. Ketika sendiri mungkin? Kita manusia Luhan, tidak selamanya bisa kuat." Luhan menoleh ke arah Chen.
"Kamu berkata seperti orang yang memiliki beban lebih berat dari aku Chen, hahaha" Chen ikut tertawa lalu mengangkat bahunya.
"Terkadang banyak masalah membuat kita lebih dewasa Luhan, atau sebaliknya," Luhan mengangguk setuju.
"Jadi apa kamu ingin menceritakan masalahmu? Siapa tau bebannya bisa berkurang tapi aku tidak janji bisa membantumu," Ucap Luhan lalu mengambil beberapa yogurt, Chen tersenyum mendengar ucapan Luhan.
"Cukup dengarkan saja, itu sudah sangat membantuku," Luhan terkekeh lalu mendorong trolleynya.
"Jadi apa masalahmu?"
"Aku merindukan seseorang," Luhan berhenti mendoro trolley lalu menoleh ke samping.
"Nugu?" Chen mengusap wajahnya pelan.
"Tunanganku," Jawab Chen pelan dan Luhan membulatkan matanya,
"Mwo? Tunangan? Kau sudah bertunangan? Onje?" Chen mengangguk lalu mendunduk menatap lantai supermarket.
"Sebelum aku kesini," Luhan menatap Chen, mencoba berpikir.
"Sebelum kamu kesini? Berarti 5 tahun yang lalu?" Tanya Luhan.
"Iya, sekitar 5 tahun yang lalu," Luhan membulatkan matanya, terkejut. Chen memang lebih dulu tinggal dan bekerja di London sebelum Luhan.
"Dan selama ini kamu belum pulang?" Chen mengangguk.
"Jinjja? Lalu kenapa kamu meninggalkan tunanganmu selama ini?" Luhan menatap Chen tidak percaya.
"Ceritanya panjang, aku bertengkar hebat dengannya sebelum kesini, aku benar-benar bingung hingga memilih untuk tetap di sini dan tidak pulang, jika dipikirkan lagi aku memang pengecut ya Luhan." Luhan menatap Chen lalu menggeleng.
"Yaa..jangan sebut dirimu pengecut, siapapun pernah melakukan kesalahan Chen, dan inti dari semua masalah adalah mencari jalan keluarnya,"
"Jika kamu pengecut lalu aku apa? Aku benar-benar tidak tahu harus menyebut diriku apa Chen, jadi jangan berhentilah berpikir dirimu pengecut." Lanjut Luhan dan Chen menoleh ke samping melihat Luhan yang menatap isi trolley nya.
"Kamu memiliki masalah yang sangat berat ya Luhan?" Luhan mengembuskan nafasnya pelan.
"Aku sedang berusaha untuk berhenti memikirkan masalah yang disebut berat itu, karena semakin aku memikirkannya hanya akan membuatku terus berpikiran buruk tentang diriku sendiri. Karena aku hanya terlalu takut bertemu dengan masalahku sendiri," Ucap Luhan pelan.
"Kalau begitu kita berdua harus mencari jalan keluarnya dan berhenti memikirkan jika kita sangat buruk, otte?" Ucap Chen lalu merangkul bahu Luhan. Luhan mengangguk lalu tersenyum,
"Aku sedang berusaha, dan kau harus berusaha juga. Tunanganmu pasti sudah sangat sedih disana," Chen mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihatmu memakai cincin tunanganmu, kamu tidak membuangnya kan?" Chen menggeleng cepat lalu melepaskan rangkulannya.
"Ani, aku tidak segila itu Luhan, aku masih mencintai tunanganku, hanya saja jika aku melihat cincin itu di jariku, aku hanya terus merasa bersalah jadi aku memakainya disini," Chen mengeluarkan kalung dari balik bajunya, Luhan bisa melihat kalung dengan cincin perak sebagai bandulnya di leher Chen.
"Daebak, bagaimanapun kamu tetap memakainya," Chen mengangguk lalu mengembalikan kalungnya di balik baju.
"Pasti sangat senang memiliki tunangan," Ucap Luhan lalu mendorong trolley nya kembali.
"Kalau begitu kamu juga harus mencari pasangan Luhan, bertunangan lalu menikah," Balas Chen lalu terkekeh.
"Yaa… tidak semudah itu pabbo," Chen tertawa mendengarnya.
Luhan dan Chen menyelesaikan kegiatan mereka di supermarket lalu membayar semuanya. Masing-masing dari mereka membawa keperluan mereka lalu berjalan keluar.
"Jadi kita berpisah disini?" Tanya Luhan
"Iya, kita memiliki jalan pulang yang berbeda," Luhan mengangguk mengerti.
"Baiklah, sampai jumpa besok di kantor dan terimakasih sudah menemaniku berbelanja," Chen mengangguk
"Terimakasih juga telah mendengarkan ceritaku Luhan, sampai jumpa," Balas Chen lalu mengusak pelan rambut Luhan.
"Yaa.." Chen tertawa lalu melambaikan tangan dan berlalu. Luhan tersenyum menatap punggung Chen yang menjauh,
"Kita pasti bisa Chen, cepat atau lambat semuanya pasti selesai," Guman Luhan lalu melangkah berlawanan arah.
..
..
..
..
Luhan meletakan semua belanjaannya di dapur ketika sampai di apartemen, ia mengeluarkan semua isinya dari dalam plastic lalu meletakkannya di setiap tempat. Setelah selesai, ia menuju kulkas dan membukanya. Matanya menatap isi kulkas dan berakhir dengan memilih sebotol air.
"Aku benar-benar lelah," Gumannya lalu menuju kamar tidur. Luhan ingin membaringkan tubuhnya sebelum ponselnya bergetar, dia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang menelponnya.
"Willis?" Guman Luhan lalu menggeser lambang hijau.
"Hallo? Luhan?" Suara berat yang sangat familiar menyapanya.
"Iya? Ada apa?" Tanya Luhan lalu membaringkan tubuhnya,
"Kamu baru pulang?"
"Iya baru saja sampai, rasanya aku ingin tidur,"
"Tidur? Ini baru jam 6 Luhan. Kamu sudah makan malam?" Luhan menggeleng,
"Belum, aku benar-benar malas memasak sesuatu,"
"Ck, jangan lewatkan makan malamu. Kalau begitu biar aku yang memasak untukmu," Luhan membulatkan matanya.
"Kamu ingin memasak? Serius? Sejak kapan Willis bisa memasak?" Goda Luhan lalu terkekeh.
"Aku serius Luhan, jangan menggodaku," Luha tersenyum,
"Kamu benar-benar akan memasak? Serius?"
"Kamu benar-benar meremehkanku ya, aku serius. Aku akan memasak asalkan kamu memakannya,"
"Baiklah aku akan memakannya, aku sangat penasaran dengan hasil masakanmu itu," Luhan terkekeh.
"Berhenti meremehkanku Luhan, kamu akan terkejut nanti,"
"Baiklah-baiklah, aku akan mandi dulu lalu bersiap sebelum kesana,"
"Okay, pakai baju yang bagus ya, ini makan malam pertama dengan aku sendiri yang menjadi kokinya," Luhan memutar matanya,
"Aku hanya akan menggunakan piyama , jangan berlebihan,"
"Kau sungguh-sungguh sulit diberi tahu Luhan,"
"Temui aku di lobby nanti, bye,"
"Aku be-" Luhan memutuskan panggilannya, dia sangat malas mendengar omelan bosnya satu itu.
"Kamu benar-benar harus memasak dengan enak Willis," Guman Luhan lalu beranjak dan menuju kamar mandi.
. .
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku TT review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
Maafkan juga ceritanya belum sempurna :") aku bekerja semaksimal mungkin chingu ^^
NB : Aku membuat Luhan dan Sehun (Willis) sudah menjadi dekat di chap ini, anggap saja mereka sudah melewati beberapa bulan ya, hehehe. Aku sengaja tidak menjelaskan secara rinci permasalahan Chen disini dikarenakan fokus tetap di HunHan, jadi Chen sebagai pelengkap saja. Mungkin Chen akan keluar lagi dengan tunangannya di chap-chap akhir, menurut kalian siapa yang cocok jadi tunangan Chen?
Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Reviewkan kalian akan dibalas berbentuk pesan.
Dan karena aku tidak memiliki jadwal update yang pasti (sering banget tengah malem), dan juga aku akan UTS sebentar lagi, jadi aku harap kalian mengerti dan menunggu ^^
