Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chap 11
Sehun menyiapkan peralatan masak di dapur apartemennya, ia memang belum pernah memasak untuk Luhan sebelumnya, tapi ini bukan kali pertama Sehun bersentuhan dengan peralatan dapur seperti sekarang ini. Setidaknya ia pernah diajarkan cara memasak ketika di panti asuhan dulu, walaupun ia tahu itu sudah sangat lama. Selain itu, ia juga pernah beberapa kali memasak untuk dirinya sendiri, jadi bisa dikatakan Sehun cukup yakin dengan kemampuan memasaknya. Namun, tetap saja ia mengerti jika kemampuan memasaknya tidak sepeti Luhan. Luhan pernah memasak untuk Sehun, tetapi bukan di apartemen Sehun. Lebih tepatnya, Luhan membuat bekal untuk Sehun dan itu kali pertama Sehun mencoba masakan Luhan, setelah saat itu Sehun sering kali meminta untuk dibuatkan bekal oleh Luhan.
Sehun melangkah ke arah kulkas dan membukanya, matanya menatap isi kulkas dan mencoba memikirkan apa yang akan ia buat untuk Luhan. Manik matanya menangkap tempat penyimpanan ikan dan sebungkus kentang goreng beku, bibirnya melengkung ke atas secara otomatis setelah melihat kedua bahan itu.
"Ini akan mudah," Gumannya lalu mengambil kedua bahan itu dari dalam kulkas. Kakinya akan melangkah menuju lemari penyimpanan sebelum ponselnya bergetar, ia mengambil ponselnya lalu membuka pesan masuk,
From : Luhan
I'm waiting for you, lobby now
Sehun tersenyum membaca pesan yang sangat singkat itu, ia memutar badan dan menuju pintu, mengambil dua buah jaket dari gantungan lalu berjalan menuju lift. Kakinya melangkah keluar ketika pintu lift terbuka, matanya mencari sosok berambut caramel dan tersenyum ketika menemuka sosok yang ia cari.
"Luhan" Sosok berambut caramel itu menoleh ketika namanya dipanggil lalu tersenyum ketika mendapati Sehun berjalan ke arahnya.
"Hay Willis," Sehun tersenyum lalu berubah ketika melihat sesuatu yang dibawa Luhan.
"What is that?" Tanyanya menunjuk gelas kertas dan gelas plastic di tangan Luhan.
"Ini kopi, why?" Sehun menautkan alisnya,
"Kamu masih bertanya kenapa? Harusnya aku yang bertanya Luhan, kenapa kamu membeli kopi-kopi itu?"
"Ohh, aku merindukan kopi Willis, cukup lama aku tidak meminum ini," Balas Luhan lalu menyodorkan gelas plastic ke arah Sehun.
"Dan ini affogato mu Willis, minumlah sebelum ice creamnya mencair," Lanjut Luhan lalu dibalas gelengan kepala Sehun. Sehun berjalan mendakati Luhan lalu memakaikan jaket yang ia bawa di pundak Luhan, lalu tangannya mengambil dua kopi yang dibawa Luhan. Luhan membuka mulutnya ingin protes,
"Tidak boleh minum kopi sebelum makan Luhan, aku akan menyimpannya," Ucap Sehun sebelum Luhan memprotes apa yang Sehun lakukan padanya.
"Tapi itu akan menjadi dingin Willis, dan ice creammu akan mencair," Balas Luhan.
"Kalau begitu aku akan memberikannya kepada orang lain," Sehun berjalan ke arah gerombolan perempuan setelah mengatakan itu. Luhan memandanginya dari jauh dengan bingung, lalu matanya membulat ketika melihat Sehun menyerahkan kopi-kopi itu kepada dua orang perempuan yang langsung tersenyum bahagia setelah mendapatkan kopi dari Sehun. Luhan memasang wajah kesal ketika Sehun berjalan kembali ke arahnya.
"Aku akan membelikanmu nanti setelah makan," Ucap Sehun ketika tahu Luhan kesal dengannya. Luhan tidak membalas lalu berjalan meninggalkan Sehun. Sehun mendesah pelan lalu menyusul langkah Luhan,
"Bukannya kamu bilang kopi-kopi itu akan dingin dan ice creamku akan mencair? Jadi aku memberikannya pada mereka," Luhan masih diam dan terus berjalan meninggalkan Sehun. Sehun hanya tidak ingin Luhan minum kopi sebelum makan, dia tidak melarang hanya memberi tahu yang terbaik. Pria berambut perak itu mensejajarkan langkahnya dengan Luhan lalu menahan tangan Luhan, seketika Luhan berhenti berjalan. Sehun memutar tubuh Luhan agar berhadapan dengannya, menangkup wajah Luhan lalu menatap mata pria berambut caramel itu,
"Dengar Luhan, aku tidak melarangmu untuk minum kopi tapi setidaknya kamu harus makan dulu," Luhan menatap manik mata Sehun,
"Lalu mengapa kau memberikannya kepada mereka?"
"Kopi itu tidak akan enak ketika menunggu kita selesai makan, aku akan membelikanmu yang baru nanti setelah makan,"
"Benarkah?" Sehun mengangguk lalu menarik jaket di pundak Luhan yang hampir terjatuh.
"Kenapa kamu tidak pernah menggunakan baju yang hangat ketika keluar dari kamar?" Tanya Sehun lalu memakaikan Luhan jaket dengan benar.
"Piyamamu tidak cukup hangat Luhan," Lanjutnya lalu menatap Luhan
"Aku malas Willis," Sehun menggeleng, "Tidak berubah sama sekali," pikir Sehun.
Sehun menggengam tangan Luhan lalu menariknya menuju lift.
..
..
..
Luhan menatap kagum isi apartemen Sehun, sangat berbeda dengan milik Luhan. Jika Luhan menyukai gaya klasik vintage, maka Sehun menyukai gaya modern untuk apartemennya. Dan seperti perkiraan Luhan, apartemen bosnya di dominasi warna stone dan leal , sama seperti ruangan kerja bosnya di kantor, aroma yang terkuar ketika Luhan masuk perpaduan jeruk bergamot, lavender, dan verbena. Luhan menyukai penataan apartemen Sehun, sama seperti ia menyukai ruangan bosnya itu di kantor.
"Mau sampai kapan kamu berdiri disana?" Sehun mengintrupsi Luhan, pria berambut caramel itu menoleh ke arah Sehun yang telah berdiri beberapa meter di depannya.
"Aku tidak akan melarangmu untuk melihat isi apartemenku, jadi nikmatilah isi apartemenku selagi aku memasak, jangan lupa untuk melepaskan jaketmu." Luhan tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu yakin akan memasak?" Sehun menautkan alisnya, Luhan masih tidak mempercayainya.
"Sangat yakin, tunggulah," Luhan mengangguk lalu berjalan menuju sofa. Sehun berjalan ke arah dapur meninggalkan Luhan di ruang tamunya.
Pria berambut perak itu kembali ke dapurnya, memakai apron lalu mencuci tangannya. Tanganya membuka tempat penyimpanan ikan lalu mengeluarkan dua ekor ikan, ia mengambil boning knife dari tempat pisau.
"Jadi aku hanya perlu memisahkan daging dari tulangnya kan?" guman Sehun lalu memulai mengarahkan pisaunya. Sehun melakukannya dengan pelan, ini memang bukan kali pertamanya memasak tapi ini kali pertamanya membelah ikan seperti ini. Sehun menggunakan 30 menit waktunya untuk kegiatan -memisahkan ikan dari tulangnya- ia mengelap keringkat di dahinya dengan punggung tangannya.
"Ini lebih susah dari yang dibayangkan," Ucap Sehun lalu meletakkan pisaunya.
"Lumayan untuk pemula," Lanjutnya sambil menatap hasil potongan ikannya. Ia membersihkan tangannya lalu berjalan menuju lemari penyimpanan, mengambil tepung dan beberapa telur dan meletakkannya di samping potongan ikannya. Ia mulai mencampur beberapa bahan untuk lapisan ikannya sebelum digoreng. Jika ditanya darimana Sehun tahu resep dan cara memasaknya kali ini, jawabannya adalah ia pernah melihat resep dan cara memasaknya dari siaran di TV. Ia pernah tidak sengaja mengganti channel TV nya ke acara masak dan melihat cara memasaknya dan kebetulan sekali ia memiliki bahan-bahannya.
Sehun mulai mengaduk adonan tepungnya lalu ia mengingat sesuatu. Ia menuju kulkas lalu mengambil brokoli dan wortel, setidaknya Luhan perlu makan sayur yang banyak, pikir Sehun. Sehun mencuci sayurnya lalu mulai memotongnya,
"Willis!" Luhan berjalan ke arah dapur.
"Akh," Pisaunya melukai jari Sehun, Ia terkejut dengan suara Luhan yang tiba-tiba memanggilnya.
"Apakah kamu sudah se-" Luhan berhenti bicara dan membulatkan matanya ketika melihat Sehun meletakkan pisaunya lalu memegang jarinya, matanya menangkap jari Sehun yang berdarah.
"YAA! WILLIS! WAE? PI!" Reflek Luhan menjerit lalu berjalan ke arah Sehun.
"Yaa! Kwaenchana?" Luhan menarik tangan Sehun, menyalakan keran lalu mengarahkan jari Sehun ke bawah keran air. Luhan menatap wajah Sehun yang meringis menahan sakit, Ia dapat melihat Sehun cukup dalam melukai jarinya.
"Dimana kamu meletakkan kotak obat?" Luhan bertanya lalu mematikan keran air.
"I am well Luhan, nanti kering sendiri," Ucap Sehun mecoba menarik tangannya dari genggaman Luhan.
"Yaa! You're unwell Willis, dimana kamu meletakkan kotak obatnya?" Luhan menahan tangan Sehun lalu mengambil beberapa lembar tisu dan menutup luka Sehun yang terus mengeluakan darah.
"Di laci nakas bawah TV," Balas Sehun akhirnya.
"Tunggu sebentar," Luhan berlalu dari hadapan Sehun, lalu kembali dengan kotak obat di tangannya.
"Sini," Luhan menarik Sehun agar mendekat, Sehun berjalan ke arah Luhan lalu mengangkat Luhan dan mendudukannya di meja dapur.
"Lebih mudah seperti ini," Ucap Sehun sebelum Luhan protes. Luhan menghembuskan nafasnya pelan lalu menarik tangan Sehun. Membuka tisu yang menutupi jari Sehun.
"Darahnya belum berhenti ya," Luhan membuka kotak obat, mengambil botol cairan disinfectant dan kapas. Menuangkan cairan itu ke atas kapas lalu mulai membersihkan luka Sehun. Luhan menatap wajah Sehun yang menahan sakit di jarinya, jika saja lukanya tidak begitu dalam mungkin darahnya cepat berhenti. Sehun mengangkat kepala, matanya bertemu dengan mata Luhan. Posisi duduk Luhan membuat Luhan lebih tinggi sedikit dari Sehun, membuat Sehun bisa melihat wajah Luhan dari jarak yang sangat dekat.
"E..em..mau ditutup perban atau plaster luka biasa?" Ucap Luhan lalu mengalihkan pandangannya.
"Plaster," Jawab Sehun masih menatap wajah Luhan yang mulai memerah.
"Luhan?"
"Hmm?" Luhan mulai menutup luka Sehun.
"Apa setiap panik, kamu menggunakan bahasa Korea?" Luhan mengangkat wajahnya,
"Bahasa Korea?"
"Ahh..yang tadi? Iya, itu hanya gerak reflek, jadi mengucapkan kata-kata Korea, nahh selesai," Ucapnya setelah selesai menutup luka Sehun.
"Luhan?"
"Hmm?" Luhan mengangkat wajahnya, lalu Sehun menempelkan jarinya yang tertutup plaster ke arah bibir Luhan.
"Why?" Luhan menautkan alisnya bingung.
"Agar cepat sembuh," Ucap Sehun lalu terkekeh, Luhan memukul pelan lengan Sehun .
"Biarkan aku turun," Ucap Luhan lalu menutup kotak obat dan mendorong Sehun menjauh.
"Wajahmu memerah," Goda Sehun dan Luhan hanya melotot kesal lalu turun dari meja dapur.
"Aku akan menyelesaikan masakanmu, duduklah. Setelah mengembalikan ini aku akan memasak," Ucap Luhan, Sehun menahan lengan Luhan,
"Aku baik-baik saja Luhan, biarkan aku yang selesaikan jadi kamu tunggulah," Balas Sehun
"Terimakasih untuk penanganan lukanya dan ciuman di jari," Lanjut Sehun lalu terkekeh dan kembali ke peralatan masaknya. Luhan menggeleng lalu meninggalkan Sehun di dapur.
..
..
..
Luhan menunggu di meja makan, matanya tidak lepas dari layar ponsel, ia mengecek surel yang masuk dan membalas satu persatu. Tangannya berhenti bergerak ketika Sehun datang membawa dua piring besar lalu meletakkannya di atas meja. Luhan tersenyum menatap isi dari piring yang dibawa Sehun.
"Fish and Chips from chef Willis," Sehun tersenyum dengan lebar ketika berhasil menghidangkan makanan untuk Luhan.
"Jadi berapa lama kamu menyelesaikan ini?" Luhan terkekeh
"Ahh sorry, kamu menunggu sangat lama ya? Ini lebih susah dari perkiraanku,"Jawab Sehun lalu duduk di depan Luhan.
"No problem Willis, Terimakasih untuk makanannya," Ucap Luhan lalu mengambil pisau dan garpu dan mulai memakan masakan Sehun.
"Bagaimana?" Tanya Sehun.
"Bagaimana apanya?" Balas Luhan lalu menatap Sehun.
"Rasanya, apakah enak?" Sehun menunggu Luhan menjawab pertanyaannya.
"Mmmm" Luhan terlihat berpikir lalu mengacungkan ibu jarinya.
"Tasty," Sehun tersenyum mendengar jawaban Luhan, setidaknya dia berhasil memasak untuk Luhan.
"Finally, mission success," Luhan tertawa melihat wajah Sehun.
"Kamu harus memasak lagi untukku setelah ini Willis," Sehun tertawa,
"Akan aku usahakan..hahaha" Luhan dan Sehun menikmati makan malam mereka.
Setengah jam kemudian mereka menyelesaikan makan malam.
"Akan aku bersihkan," Ucap Luhan lalu berdiri dari kursi.
"No, biarkan aku yang lakukan Luhan, tunggulah," Luhan menggeleng dengan cepat.
"Lukamu tidak akan kering jika terkena air terus, biarkan aku membantumu Willis, lagipula itu otomatis" Luhan mengambil peralatan makan mereka dan membawanya ke bak cuci.
"Baiklah,"
Luhan meletakkan peralatan makan yang kotor di alat cuci otomatis, lalu mengambil peralatan masak dan mencucinya di bak cuci.
"Biarkan aku membantu mengeringkan," Luhan menoleh ketika mendengar suara Sehun,
"Okay," Sehun memposisikan tubuhnya di samping Luhan, matanya memandang Luhan dari samping,
"Kamu seperti seorang istri, Luhan," Luhan menoleh mendengar perkataan Sehun lalu kembali mencuci.
"Aku pria Willis," Jawab Luhan singkat lalu menyerahkan satu persatu alat masak untuk dikeringkan Sehun.
"Why? Apakah ada aturannya jika istri harus perempuan?"
"Tapi sudah jelas jika istri adalah perempuan, Willis," Sehun menautkan alisnya
"Jadi kamu tidak ingin menikah?" Tangan Luhan seketika berhenti setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sehun.
"Keringkan saja itu dengan benar," Balas Luhan lalu melanjutkan pekerjaannya. Sehun menatap Luhan, lalu meletakan kain pengeringnya dan berjalan ke belakang Luhan. Pria berambut caramel itu terkesiap ketika sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Aku tidak suka jika kamu menjadi kesal Luhan," Ucap Sehun di telinganya. Sehun dapat mencium wangi yang terkuar dari tubuh Luhan, perpaduan peach, jasmine dan caraway. Wangi yang sangat lembut menurut Sehun bahkan terkesan manis untuk Luhan.
"Aku baik-baik saja Willis, kembalilah mengeringkan itu," Ucap Luhan. Sehun mengeratkan pelukannya, ia menyukai aroma Luhan, dapat dipastikan ia akan kecanduan aroma ini. Luhan dapat merasakan telinga kanannya ditiup pelan oleh Sehun, ia merasa tidak nyaman.
"Berhenti mengganguku Willis," Luhan menggeliat di pelukan Sehun, mecoba lepas dari pelukan bosnya itu.
"Menganggu?" Bahkan Luhan lebih memperdulikan untuk mencuci peralatan masak daripada merespon pelukannya?
Sehun memutar tubuh Luhan agar berhadapan dengannya dan seketika Luhan terkejut ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu menempel di bibirnya. Matanya membulat sangat lebar ketika mengetahui yang menempel di bibirnya adalah bibir Sehun. Luhan benar-benar membeku dengan perlakuan Sehun, ia hanya bisa terdiam dengan ciuman mendadak itu.
Sehun hanya menempelkan bibirnya di atas bibir Luhan, dan dia cukup lega ketika mengetahui Luhan tidak menolaknya. Sehun memutar tubuhnya dan tubuh Luhan lalu mendorong tubuh Luhan dan mengangkatnya ke atas meja dapur. Luhan belum merespon ciuman Sehun, ia masih terkejut dengan perlakuan Sehun. Sehun melepaskan bibirnya lalu menatap wajah Luhan.
"Katakanlah sesuatu," Ucap Sehun dan Luhan masih menunjukkan wajah terkejutnya.
"Jangan terlalu terkejut Luhan," Lanjut Sehun dan setelah itu Luhan seperti tersadar dari keterkejutannya,
"Stupid, what are you doing heh? Menyingkirlah aku belum menyelesaikan pekerjaanku, ini masih penuh sabun," Balas Luhan lalu menunjukkan tangannya yang penuh busa. Sehun menggeleng dengan cepat lalu menarik tengkuk Luhan dan kembali menempelkan bibirnya di atas bibir Luhan. Luhan mengerjap bingung,
"Jangan pedulikan cucian itu, pedulikan aku mulai sekarang," Ucap Sehun lalu menggigit pelan bibir bawah Luhan,
"Akhh," Luhan menjerit lalu reflek membuka mulutnya, dan secepat kilat lidah Sehun bertemu dengan lidah Luhan. Ciuman Sehun berubah menjadi lebih panas, Sehun menyukai bibir Luhan, sangat manis menurutnya. Lidah Sehun terus bermain di dalam mulut Luhan, menunggu respon dari Luhan. Namun Luhan belum meresponnya juga, Sehun mulai kecewa. Ia ingin menarik kepalanya ketika ia merasakan rambutnya basah dan seketika itu juga ia merasakan lidah Luhan bergerak menerima lidahnya. Sehun tersenyum dalam ciumannya, ia menggigit bibir bawah Luhan begitupun sebaliknya. Mereka melepaskan ciuman panas itu ketika merasa kehabisan oksigen, benang saliva terjalin ketika bibir mereka berpisah.
"Aku sudah mengatakan padamu, tanganku penuh sabun, setidaknya biarkan aku mencuci tanganku. Tapi kenapa kau terus menyerang bibirku?" Ucap Luhan sambil menarik nafas, Sehun tersenyum melihat wajah Luhan yang memerah.
"Aku kira kamu menolakku, dan aku tidak mempermasalahkan tanganmu," Balas Sehun lalu tersenyum
"Sejak kapan aku bisa menolakmu ? ak-" belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Sehun menarik wajah Luhan lalu menciumnya kembali, dan tanpa diperintah Luhan membuka mulutnya. Sehun dapat merasakan tangan kanan Luhan melingkar di lehernya dan tangan yang lain meremas rambutnya. Sehun menatap wajah Luhan, ia melihat mata Luhan yang terpejam lalu ia memejamkan mata dan menekan tengkuk Luhan semakin dalam. Sehun melepaskan ciumannya ketika Luhan memukul pelan pundaknya.
"Heehhh…ehh...jangan memotong pembicaraan Willis," Ucap Luhan menarik nafas.
"Kau terlalu banyak bicara Luhan," Balas Sehun lalu mencubit pelan hidung Luhan.
"Wajahmu sangat merah Luhan, ayo kita lanjutkan," Sehun menarik turun Luhan, menyalakan keran air lalu mencuci cepat tangan Luhan dan Luhan hanya mengikuti gerak tubuh Sehun yang menariknya.
Sehun mematikan keran air lalu menggendong Luhan ala bridal style.
"What are you doing?" Tanya Luhan dan dibalas kekehan Sehun.
"Kamu tidak ingin tahu isi kamarku?" Luhan memandang Sehun dengan bingung.
"Kenapa aku harus tahu isi kamarmu?" Luhan bertanya balik
"Karena kamu akan sering ke kamarku," Jawab Sehun lalu membuka pintu kamarnya. Luhan menoleh, mencoba melihat isi kamar Sehun dari dalam gendongan. Sehun berjalan ke arah tempat tidur lalu menurunkan Luhan dari gendongannya ke atas kasur.
"Kamu bisa menikmati isi kamarku sebanyak yang kamu inginkan," Ucap Sehun yang beridiri di depan Luhan.
Posisi Luhan sekarang duduk di pinggiran tempat tidur Sehun yang berukuran king itu, matanya menatap sekeliling kamar Sehun yang berwarna mint, cocok dengan kesan dingin dari bosnya itu. Dan dapat dikatakan Sehun memiliki isi kamar yang cukup simple daripada Luhan, dan keseluruhan barangnya bernuansa modern. Manik matanya menangkap sebuah foto berukuran cukup besar di samping lemari, foto bosnya dan entah mengapa Luhan berfikiran jika bosnya itu terlihat sangat seksi di foto itu,
"Apa yang kau pikirkan pabbo?"Batin Luhan lalu menatap Sehun yang berdiri di depannya.
"Sudah puas?" Sehun bertanya lalu melangkah ke arah Luhan
"Puas?"
"Kau bisa melihat-lihat lagi nanti Luhan, jadi berikan aku waktu sekarang," Luhan belum mengerti dengan perkataan Sehun, tetapi pria berambut perak itu telah berdiri sangat dekat di depannya. Sehun membungkukan badan, meletakkan tangannya di sisi kiri dan kanan Luhan lalu secara singkat mengecup bibir Luhan.
"A-apa y-yang kamu l-l-lakukan?" Luhan tergagap bingung
"Meminta waktuku Luhan," Bibir Sehun mendekati telinga kiri Luhan,
"Cause I want you Luhan," Bisik Sehun sangat pelan lalu meniup telinga pria berambut caramel itu. Luhan membulatkan matanya dan ingin berdiri namun tangan Sehun menahan tubuh Luhan.
"T-tun-ggu Wi-wi-llis, aku belum siap," Balas Luhan
"Cepat atau lambat kau akan siap," Ucap Sehun lalu mendorong bahu Luhan hingga terjatuh di atas kasur. Dengan cepat bibinya menyentuh bibir Luhan lalu mengigit bibir bawah Luhan,
"Akh" Luhan membuka mulutnya dan Sehun memasukkan lidahnya, lidahnya mencari lidah Luhan dan menghisap bibir bawah Luhan. Dengan pelan Luhan membalas ciuman dari Sehun, tangannya mulai melingkar di bahu Sehun. Pria berambut perak itu mengubah posisi mereka sehingga dirinya dan Luhan berada di tengah kasur. Tangannya mengusap pipi Luhan dengan pelan lalu turun melewati bahu Luhan dan berhenti di bagian perut Luhan. Bibirnya menghisap bibir Luhan dan saling bertukar saliva.
Tangan Sehun dengan sigap membuka kancing piyama Luhan dari bawah hingga ke atas. Luhan yang merasa kulit perutnya mendingin, mendorong bahu Sehun agar melepaskan ciuman mereka. Mulutnya membuka ketika melihat kancing piyamanya sudah terbuka semua dan Sehun hanya tersenyum melihat reaksi Luhan. mata Sehun tidak lepas dari wajah Luhan yang memerah dan bibir bagian bawahnya yang membengkak, Luhan sangat mengairahkan menurutnya. Sehun mengarahkan bibirnya lagi mencium Luhan sebelum pria berambut caramel itu berbicara, Luhan yang belum sempat berkata-kata hanya bisa diam ketika Sehun menciumnya kembali, entah dorongan darimana tangan kiri Luhan menekan tengkuk Sehun.
Sedangkan tangan kanan Sehun mengusap pelan perut Luhan lalu mengusap terus hingga kebagian atas. Tangan kanannya berhenti tepat di atas nipple Luhan yang mulai mengeras, dan dengan pelan memelintir tonjolan itu.
"Enghhhhh…"Luhan melenguh di ciumannya lalu melepaskan ciumannya dari Sehun.
"Hei bahkan aku baru memulai tapi mengapa ini mengeras?" Tanya Sehun lalu menekan nipple Luhan.
"Engghhhh…jangan melakukan itu bodoh," Ucap Luhan lalu menatap Sehun yang berada di atasnya.
"Bodoh? Siapa yang kamu bilang bodoh heh?" Tanya Sehun lalu menarik nipple Luhan.
"Akkhhhh…" Luhan memejamkan matanya, sensasi aneh mengalir ke sekujur tubuhnya, ia seperti disetrum dan membuat dirinya bergetar.
"Orang bodoh ini akan membuatmu menjerit semalaman Luhan," Ucap Sehun lalu mencium kembali bibir Luhan. Bibir Luhan mulai menjadi candu untuknya, benar-benar lembut dan manis. Tangannya kembali melakukan pekerjaannya di nipple Luhan, menarik, memutar bahkan mencubit gemas tonjolan itu dan Luhan hanya bisa menguatkan pejaman matanya merasakan sensai aneh yang terus datang untuk tubuhnya, ia tidak bisa bersuara karena bibir Sehun terus menyerang bibirnya. Sehun melepaskan ciumannya lalu mencium seluruh wajah Luhan, mulai dari mata lalu hidung dan kedua pipinya. Bibirnya turun ke leher Luhan lalu menghisap leher itu, meninggalkan tanda keunguan disana. Luhan memejamkan matanya, tangannya meremas sprei menahan serangan Sehun. Sedangkan pria berambut perak itu terus menghisap beberapa bagian di leher Luhan dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan di leher Luhan. Kepalanya naik menuju telinga kiri Luhan, meniup pelan, menjilat dan mengigit telinga itu.
"Uenghh…" Luhan mengeluarkan desahannya dan Sehun tersenyum. Ia mengangkat kepalanya mlihat wajah Luhan yang sangat merona merah lalu mengecup sekilas bibir Luhan dan mengarahkan bibirnya menuju nipple Luhan. Sehun mulai menjilati sekitar nipple Luhan dengan lidahnya, memutari nipple itu. Luhan mengigit bibir bawahnya menahan desahan dari mulutnya, ia benar-benar bergetar merasakan lidah Sehun yang bermain disekitar nipplenya.
"Keluarkan suaramu Luhan, jangan menahannya," Ucap Sehun ketika melihat Luhan mengigit bibir bawahnya. Bibir sehun mencium nipple Luhan sebelum lidahnya menjilat tonjolan itu.
"Eungggghhh…" Luhan mendesah kembali, Sehun mengigit pelan tonjolan itu lalu menariknya ke atas.
"Akhhhh…" Tangan kirinya memainkan nipple kiri Luhan. Tangan Luhan berpindah ke atas kepala Sehun dan meremas rambut Sehun, mencoba mengeluarkan getaran tubuhnya. Sehun menghisap kuat nipple itu dan tangan kirinya menarik kuat nipple kirinya secara bersamaan.
"Yaaaakkhhhh…" Luhan menjerit lalu menarik rambut Sehun. Luhan merasakan getaran yang sangat kuat dan merasakan juniornya sangat tegang. Bibir Sehun beralih ke nipple kiri Luhan dan tangan kanannya mulai menyusuri perut Luhan menuju bagian bawah Luhan. Tangan Sehun dengan pelan masuk ke dalam celana piyama Luhan lalu melewati celana dalam Luhan hingga tangan kanannya tepat di atas kulit junior Luhan yang sangat menegang.
"Kau sangat basah disini Luhan," Ucap Sehun ketika tangannya merasakan cairan percum yang cukup banyak di junior Luhan.
"Jangan menyentuhnyaaa, keluar dari sanaaa," Jerit Luhan ketika merasakan tangan Sehun menyentuh juniornya.
"Junior yang basah tidak boleh dibiarkan Luhan" Sehun berdirty talk membuat wajah Luhan sangat memerah. Mulut Sehun mulai menghisap nipple kiri Luhan dan tangan kanannya mulai menggenggam junior Luhan lalu menggerakannya dengan pelan.
"Yaaaaakkhhhhhhh…" Luhan menjerit dan diikuti orgasme pertamanya.
"Aku bahkan baru mulai menggerakannya Luhan, tapi kau keluar dengan cepat," Luhan memukul pundak Sehun. Bahkan ia tidak tahu kenapa ia berejakulasi dengan cepat hanya karena nipplenya di hisap terus menerus.
"Baiklah, ini akan lebih cepat sepertinya," Ucap Sehun lalu menurunkan tubuhnya dan berhenti ketika kepalanya tepat di depan tonjolan junior Luhan.
"Apa yang kau lakukan Willis?" Tanya Luhan gugup.
"Nikmatilah Luhan," Balas Sehun lalu menarik turun celana piyama Luhan dan celana dalam Luhan.
"Yaaa! Stop it !" Jerit Luhan ketika Sehun menarik turun celana Luhan.
"Ini sangat imut Luhan," Ucap Sehun ketika junior Luhan terlihat keseluruhan.
"Jangan menatapnyaa," Pekik Luhan lalu mencoba menyilangkan kakinya, namun Sehun menahannya.
"Jangan berusaha menutupinya Luhan," Sehun menatap junior Luhan yang berkedut pelan, tangan kanannya menyentuh junior itu lalu mengenggamnya.
"Uhhh…" Sehun mengocok junior Luhan dengan tempo pelan lalu menaikan temponya.
"Akhhhh…akkhhh" Luhan mendesah. Tangan kirinya Sehun bergerak menuju nipple Luhan. Sehun terus menggerakkan tangannya sampai junior Luhan kembali menegang. Bibirnya mengecup pelan junior Luhan lalu mulai menjilatnya, Luhan mengerang ketika lidah Sehun menjilat juniornya. Sehun terus menjilatnya lalu memasukkan junior Luhan ke dalam mulutnya.
"Eeeghhh…" Luhan menarik rambut Sehun dengan keras. Tangan kiri Sehun beralih dan menekuk kaki Luhan bersamaan dengan tangan kanannya. Ia arahkan jari telunjuk dan jari tengahnya menuju bibir Luhan yang terbuka. Luhan yang tidak terlalu mengerti hanya mengikuti nalurinya untuk mengulum dua jari Sehun. Sedangkan Sehun terus mengulum junior Luhan dan menaik turunkan kepalanya.
Ketika Sehun merasa kedua jarinya cukup basah, ia menariknya dari mulut Luhan dan beralih menuju hole Luhan. Tangan kanan Sehun menahan paha Luhan lalu dengan pelan dua jari Sehun menusuk hole Luhan.
"Akhhhhhhh" Luhan menjerit ketika Sehun menusuk holenya.
"Le-lepaskaannnnn, itu menyakitkann Willis,"Pekik Luhan, merasakan perih di holenya. Sehun melepaskan kulumannya lalu menatap wajah Luhan yang meringis,
"Tahan sebentar Luhan," Ucapnya lalu bergerak naik menuju wajah Luhan. kedua jarinya mulai ia gerakan di dalam hole Luhan, ketika bibir Luhan akan membuka dengan cepat Sehun menempelkan bibirnya. Kedua jari Sehun bergerak keluar masuk di dalam hole Luhan, jari-jari itu juga melakukan gerakan memutar disana.
"Emphhhh" Desahan Luhan terdengar di sela-sela ciuman mereka. Sehun menambahkan satu jari lagi untuk memudahkan pekerjaannya. Luhan terus menarik rambut Sehun yang sudah sangat berantakan itu. Ketika di rasa cukup, Sehun menarik keluar jarinya lalu melepaskan ciumannya. Sehun mengangkat tubuhnya hingga menjadi posisi duduk di antara kaki Luhan. Saat itu Luhan baru menyadari jika Sehun masih berpakaian lengkap berbeda dengan dirinya yang sudah berantakan, namun belum sempat Luhan protes Sehun menarik ke atas kaos yang ia gunakan lalu melemparnya ke sembarang arah. Luhan dapat melihat bagian atas tubuh Sehun, memiliki dada yang bidang dan otot bahu yang kencang, Luhan juga dapat melihat enam kotak di perut Sehun dan Sehun benar-benar memiliki warna kulit putih pucat.
"Kamu menyukainya?" Sehun mengintrupsi Luhan, pria berambut caramel iu reflek mengalihkan pandangannya dari tubuh Sehun ketika ketahuan memandangi Sehun dan Sehun hanya terkekeh lalu melepas kancing celananya dan menarik turun celana serta celana dalam Sehun lalu mengeluarkan juniornya yang telah tegang. Luhan membulatkan matanya ketika melihat junior Sehun yang tegang, "Itu sangat besar Lu, bagaimana mungkin itu masuk kesana," Pikir Luhan lalu menggelengkan kepalanya.
"Tenang saja, ini pasti bisa masuk,"Ucap Sehun seperti bisa membaca pikiran Luhan. Sehun menekuk kedua kaki Luhan ke atas, tangan kirinya menahan kedua kaki Luhan. Sehun membungkukkan badannya,
"Kamu bisa mencakarku jika sakit," Ucap Sehun lalu tangan Luhan mengarah ke lengan Sehun yang berotot. Sehun mulai membasahi tangan kanannya dengan saliva lalu mengusapkan ke juniornya, dan mulai menuntun juniornya masuk ke hole Luhan. Kepala juniornya mulai menusuk masuk ke dalam hole Luhan,
"Akhhhh…keluarkaann Willis… itu sangat sakit, tidak akan bisa," Jerit Luhan, ia merasakan sakit yang melebihkan sakit sebelumnya karena jari Sehun.
"Tahan sebentar Luhann," Ucap Sehun, berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar tak menyakiti Luhan.
"Aku akan mendorongnya masuk sekaligus jadi bertahanlah," Setelah itu Sehun mendorong pinggulnya dengan cepat dan menerobos masuk hole Luhan.
"AAAAAKKKHHHHHHHHH…..ANDWEEEE" Luhan menjerit keras, kukunya mencakar lengan Sehun dan ia mengeluarkan air mata.
"Ngghhhh…" Sehun mendesah ketika juniornya berhasil masuk seluruhnya ke hole Luhan, mengabaikan rasa sakit di lengannya yang mungkin terluka. Ia menatap wajah Luhan yang sangat merah, ia bisa melihat Luhan menangis.
"I am sorry Luhan, itu sangat menyakitkan ya?" Ucap Sehun lalu mengecup pelan mata Luhan dan menghapus air mata Luhan.
"Hkksss…sakit Willis, itu sangat besar, perih," Sehun mengangguk paham, tangannya mengusap wajah Luhan lalu mengecup pelan bibir Luhan.
"Aku akan bergerak jika kamu sudah siap Luhan, jadi jangan menangis lagi," Sehun mengusap pipi Luhan dan menunggu Luhan siap dengan pergerakannya nanti.
"Bergeraklah Willis, I am okay," Ucap Luhan ketika merasakan perih di holenya mulai menghilang, Sehun menganguk mengerti,
"Kamu bisa mencakarku lagi jika sakit Luhan," Balas Sehun lalu mulai menggerakakkan pinggulnya dengan pelan,
"Eunghhhhh…" Luhan melenguh ketika merasakan junior Sehun yang mulai bergerak di holenya. Matanya mulai terpejam dan mencoba merasakan kenikmatan.
"Nghhhh…ini sangat sempit Luhan," Sehun terus menggerakkan pinggulnya.
"Akkhhhhh" Luhan menjerit ketika Sehun menumbuk titik kenikmatannya. Luhan dan Sehun benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa malam itu, binar bahagia tampak dari kedua wajah mereka.
"Sebut namaku…akhh…Luhan,"
..
..
..
Sehun memeluk Luhan dari belakang, mereka mengistirahatkan diri setelah pergumulan panas yang mereka lakukan. Luhan dapat merasakan lengan besar Sehun melingkar di perutnya, ia tersenyum.
"Terimakasih Luhan," Bisik Sehun pelan di telinga kanan Luhan.
"For what?"
"Because you wanna like that with me," Sehun tersenyum lalu mengeratkan pelukannya dan Luhan mengangguk. Tiba-tiba Luhan memutar tubuhnya menghadap Sehun membuat pelukan Sehun melonggar,
"I am sorry," Ucap Luhan menatap wajah Sehun.
"Why?" Tanya Sehun tak mengerti,
"Because of it, pasti sakit," Balas Luhan lalu mengusap pelan lengan kanan Sehun yang terluka karena kukunya dan bisa dipastika lengan kiri Sehun juga terluka.
"I don't care Luhan, aku tahu kau lebih sakit, forget it," Ucap Sehun lalu memeluk Luhan kembali dan Luhan menggeleng,
"Besok akan aku obati, aku tidak bisa melihat luka itu Willis," Willis tersenyum lalu mengecup singkat bibir Luhan.
"Dengan senang hati," Jawabnya lalu mengeratkan pelukannya.
"Luhan aku ingin memeberikanmu sesuatu," Luhan mendongakkan wajahnya menatap wajah Sehun.
"What?" Sehun melepas pelukannya lalu memutar tubuhnya dan membuka nakas di samping tempat tidurnya, mengeluarkan sesuatu dari sana.
"For you," Ucap Sehun lalu menyerahkan sesuatu kepada Luhan.
"Card?" Sehun mengangguk,
"Itu kartu apartemenku, jadi kamu bisa kesini kapanpun kamu mau tanpa menungguku di lobby," Balas Sehun lalu tersenyum.
"Tapi aku merasa tidak enak Willis," Sehun menggeleng,
"Kenapa kamu merasa tidak enak, aku yang memberikannya padamu Luhan. jadi itu bukan masalah, walaupun kamu tidak menggunakannya sekarang tapi aku yakin kamu akan membutuhkannya. Datanglah kapanpun kamu inginkan," Lanjut Sehun lalu mengecup dahi Luhan.
"Benarkah?" Sehun mengangguk lalu menarik Luhan ke dalam pelukannya.
"Dan besok aku akan menepati janjiku untuk membelikanmu kopi," Luhan terkekeh,
"Terimakasih Willis," Ucap Luhan lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Sehun dan menempelkan kepalanya di dada Sehun.
"Willis?"
"Hm?" Sehun mencium puncak kepala Luhan.
"Bagaimana jika aku menyukaimu?" Tanya Luhan,
"Menyukaiku sebagai Willis?" Sehun balik bertanya yang membuat Luhan mendongakkan kepalanya menatap wajah Sehun.
"Tentu, kau ingin aku menyukaimu sebagai siapa lagi? Bosku?" Luhan terkekeh, Sehun terdiam cukup lama lalu menarik Luhan kembali untuk memeluknya.
"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah," Ucap Sehun mengabaikan pertanyaan Luhan. Luhan menyadari hal tersebut namun tidak memperdulikannya,
"Selamat malam Luhan,"
"Selamat malam Willis,"
"Mungkin dia belum ingin membahasnya," pikir Luhan lalu memejamkan matanya.
"Aku ingin kamu menyukaiku sebagai Sehun bukan Willis," Batin Sehun lalu menarik selimutnya dan mencoba tidur.
..
..
..
"Bagaimanapun juga kamu harus bertahan sedikit lagi Luhan,"
. .
.
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku T.T review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa
NB : Akhirnyaaaa update lagi setelah sibuk UTS dan menyelesaikan beberapa tugas menumpuk. Sebagai bentuk terimakasihku karena sudah membaca FF ini, aku memperpanjang chapter ini lebih dari biasanya dan penuh dengan hunhan ^^
well, aku harap bisa memperbanyak cerita di chap-chap selanjutnya agar mempercepat menyelesaikan FF ini ^^ dan disini juga menyajikan NC pertama hunhan *evil laugh* (maaf jika NC nya kurang memuaskan dan belum sempurna T.T) akan disempurnakan di chap-chap berikutnya hahaha
Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Review dan pertanyaan kalian akan dibalas berbentuk pesan.
Sampai bertemu di updatetan selanjutnya ^^
silahkan kirim email untuk berteman di ohdeerhunhan
Sarangahaeee chinguu
