Penulis : Ohdeerwillis

Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka

Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll

Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members

Chapter 12

"Baekhyun-ah palliwaa~" Teriak salah satu anak laki-laki di depan Baekhyun

"Yaaa! Junmyeon hyung jamkkan manyo, ini sangat melelahkan," Balas Baekhyun lalu berhenti berlari.

"Yaa! Berhenti memanggilku Junmyeon, panggil aku Suho, S-U-H-O." Ucap anak laki-laki itu mengeja namanya.

"Arraseo..arraseo, tunggulah sebentar hyung, biarkan aku bernafas,"

"Luhan dan Sehun akan lama menunggu di sana, Luhan akan sangat cerewet nanti, palliwa Baekhyun-ah," Anak laki-laki bernama Suho itu berlari kembali ke arah Baekhyun lalu menarik tangan anak kecil berwajah lucu itu dan mengajaknya berlari.

"Ini benar-benar melelahkan hyung, kau menyiksaku," Ucap Baekhyun sambil berlari mengikuti Suho.

"Ani, aku hanya tidak ingin mendengar suara cerewet Luhan," Balas Suho terus berlari.

Sepuluh menit kemudian, kedua anak laki-laki itu sampai di depan pintu masuk taman. Mata mereka menangkap dua anak laki-laki lainnya sedang duduk di salah satu bangku taman dengan bubble tea di masing-masing tangan mereka.

"Liatlah, mereka menunggu dengan bubble tea dan kita berlari terus-terusan," Ucap Baekhyun lalu mendekati dua anak laki-laki itu.

"Lu." Anak berambut caramel menoleh ketika namanya dipanggil lalu tersenyum.

"Kau sudah datang Baekkie? Annyeong Suho hyung," Luhan melambaikan tangannya ke arah Suho dan Suho membalasnya.

"Yaa! Kita berlari sangat jauh dan kau menunggu disini dengan bubble tea?" Ucap Baekhyun kesal lalu berdiri di depan kedua anak laki-laki itu.

"Ahh mian Baekki, kita membelikannya untukmu dan Suho hyung juga," Balas Luhan lalu menyerahkan dua bubble tea ke arah Baekhyun dan Suho.

"Kalian telat jadi jangan mengomel," Ucap anak laki-laki di samping Luhan lalu melirik Baekhyun.

"Wahh.. jadi kamu menyalahkanku Sehun-ah?" Balas Baekhyun lalu melipat tangannya di depan dada.

"Mungkin?" Sehun menyedot bubble teanya. "Plakk"

"Arghh, wae? Kenapa kau memukul kepalaku Baekhyun." Ucap Sehun memegang kepalanya, meringis.

"Molla, tanganku tiba-tiba ingin memukulmu," Balas Baekhyun lalu mengambil bubble teanya dan duduk di samping kiri Luhan.

"Geumanhae, kalian selalu saja ribut jika bertemu," Ujar Suho lalu mengambil bubble teanya.

"Gomawo Lu," Luhan mengangguk lalu tersenyum.

"Cuaca hari ini cukup terik ya," Luhan memandang ke atas lalu menyipitkan matanya.

"Ini musim panas Lu, sudah pasti terik," Balas Baekhyun lalu melirik Luhan.

"Suho hyung, tumben sekali bisa main hari ini," Suho mengangguk.

"Aku meminta libur hari ini Sehun-ah, terus-terusan belajar itu membosankan," Balas Suho lalu melirik Sehun di sampingnya.

"Ya Sehun-ah, kenapa kamu tidak memanggilku hyung juga, seperti Suho hyung," Protes Baekhyun.

"Kamu tidak cocok dipanggil hyung, sangat tidak cocok," Balas Sehun lalu menyedot bubble teanya.

"Tapi aku setahun lebih tua darimu,"

"Aku juga tidak memanggil hyung ke Xiao Lu," Sehun melirik Luhan.

"Itu karena kamu menyukainya pabbo," Ucapan Baekhyun membuat pipi Luhan memanas.

"Ya geumanhae, ini sangat panas," Luhan mengipas wajah dengan tangannya.

"Aku tidak bisa bilang tidak," Sehun mengendikkan bahunya.

"Sehun-ah, kenapa kamu tidak pindah saja ke sekolah kita? Bukannya akan mengasikkan jika satu sekolah?" Tanya Suho. Sehun memandang bubble teanya,

"Appa bilang aku harus menyelesaikan sekolahku di tempat yang sekarang hyung," Suho mengangguk mengerti.

"Kenapa kita tidak tinggal di daerah yang sama sih?" Baekhyun menatap kedepan. Berbeda dengan Luhan dan Sehun yang tinggal di apartemen yang sama, Baekhyun dan Suho tinggal di apartemen yang sama, namun berbeda beberapa blok dari tempat tinggal Luhan dan Sehun.

"Haruskah aku meminta orangtua ku pindah?" Tanya Baekhyun lalu menatap ketiga temannya. Luhan menggeleng,

"Akan sangat merepotkan Baekkie," Baekhyun mendesah pelan.

"Luhan, kata eomma, kau akan kembali ke China beberapa bulan lagi, benarkah?" Tanya Suho lalu menoleh ke arah Luhan. Anak laki-laki berambut caramel itu mengendikkan bahunya.

"Baba belum memberikan jawaban hyung," Balas Luhan malas.

"Jangan pindah Lu, aku tidak bisa mendengarkan cerewetmu lagi," Luhan tersenyum lalu turun dari kursinya.

"Yaa! Jangan membicarakan ini, ayo kita main," Ucap Luhan lalu menarik tangan Baekhyun.

"Kamu tidak akan pindah kan Xiao Lu?" Sehun menatap Luhan berharap.

"Molla, aku harap begitu," Balas Luhan lalu mengusak rambut hitam Sehun. Sehun menahan tangan Luhan di atas kepalanya.

"Kita tidak boleh saling meninggalkan Xiao Lu," Luhan menatap Sehun.

..

Luhan mengerjapkan matanya cepat, "Lagi?" pikirnya. Sudah cukup lama Luhan tidak pernah mendapatkan mimpi masa kecilnya, bahkan sekarang Baekhyun dan Suho masuk ke dalam mimpinya. Luhan menggerakan tubuhnya, namun sepasang tangan melingkar di tubuhnya. Pria berabut caramel itu menoleh ke belakang dan mendapatkan wajah seorang pria dengan rambut peraknya sedang tertidur dengan nyaman, ia tersenyum.

"Aku hampir lupa denganmu Willis," Bisik Luhan lalu menggeser tangan Sehun agar lepas dari tubuhnya. Ia ingin menelpon Baekhyun sekarang, dan Luhan ingat jika meninggalkan ponselnya di meja makan.

"Setidaknya aku harus menceritakan mimpi ini," Gumannya lalu bangun dari kasurnya. Luhan bersiap turun dari kasur ketika sepasang tangan tadi menarik pingganya kembali,

"What are you doing Luhan?" Tanya suara berat di sampingnya dengan mata terpejam.

"Ahh, aku menganggumu tidur ya? aku hanya ingin megambil ponsel Willis, sebentar saja," Balas Luhan lalu mencoba bergerak kembali.

"Jangan pergi Luhan, ini bahkan belum pagi, untuk apa kamu mencari ponselmu? kembalilah tidur," Ucap Sehun lalu menarik pinggang Luhan.

"Ada yang harus aku hubungi Willis, biarkan aku ambil ponselku sebentar," Sehun membuka matanya lalu menatap pria manis di sampingnya,

"Siapa yang akan kamu hubungi jam segini Luhan?"

"Sahabatku, Baekhyun,"

"Baekhyun? untuk apa?" Tanya Sehun

"Ada yang harus aku ceritakan padanya, ini tentang mimpiku,"

"Mimpi tentang masa kecilmu?" Luhan menoleh ke arah Sehun lalu mengangguk

"Kalau begitu ceritakan padaku, aku akan mendengarkannya," Lanjut Sehun.

"Ceritakan padamu? why?"

"Karena aku ingin tahu apa yang kamu mimpikan sehingga sering terbangun tengah malam seperti ini, dan juga aku ingin menjadi pendengar yang baik untukmu seperti sahabatmu itu," Balas Sehun lalu tersenyum.

"Tapi ini tidak ada hubungannya denganmu Willis," Ucap Luhan menatap Sehun.

"No problem, semua tentangmu berhubungan denganku, jadi berceritalah," Sehun bangun dari tidurnya lalu bersender di head board lalu menepuk kasur sebelahnya. Luhan mengikuti posisi Sehun untuk bersender di head board lalu menarik selimut hingga menutupi perut mereka berdua.

"Center Lights on,"Ucap Sehun lalu beberapa lampu kecil di atas mereka menyala otomatis. Sehun melingkarkan tangan kirinya di bahu Luhan lalu menarik Luhan agar mendekat deganyanya.

"Jadi?" Luhan menoleh ke arah Sehun dan pria itu hanya mengangguk.

"Hhh" Luhan mendesah pelan, "Ini cukup rumit Willis," Luhan memulai ceritanya dari awal. Bagaimana ia dilahirkan di China lalu dibesarkan di Korea, bagaimana ia bertemu sahabat-sahabatnya di Korea dan tumbuh bersama dengan mereka, bagaimana akhirnya ia harus kembali ke China karena orangtuanya harus melanjutkan usaha kakeknya, bagaimana ia memilih untuk kembali ke Korea lagi ketika menginjak sekolah menengah akhir dan berlanjut hingga kuliah. Bahkan bagaimana ia selalu mendapatkan mimpi masa kecilnya yang selalu membuatnya terbangun di tengah malam dan membuatnya selalu sedih. Pria manis itu benar-benar menceritakan seluruhnya pada Sehun yang ia anggap bosnya tanpa mengurangi apapun, bahkan ia menjelaskan bagaimana rasa sakitnya ketika mengetahui salah satu temen dekatnya di Korea pergi dua tahun setelah ia kembali ke China. Luhan merasa matanya memanas ketika semua cerita itu keluar dari mulutnya, tanpa sadar ia meremas selimut ketika menceritakan masa lalunya.

"Aku rasa, aku mulai cengeng kembali Willis," Ucap Luhan lalu mengapus air matanya yang hampir menangis dan terkekeh. Sehun tak membalas perkataan Luhan, dan selama Luhan bercerita, Sehun hanya bisa menatap kedepan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia tak bisa menoleh.

"Jadi begitulah masa kecilku Willis, dan juga alasan kenapa aku selalu mendapakan mimpi masa kecil yang bahkan aku tidak ingin mengingatnya terus menerus," Lanjut Luhan kembali. Sehun tak bersuara, sehingga membuat kamar itu hening untuk beberapa saat. Luhan merasa tidak nyaman dengan situasinya, ia menoleh ke arah Sehun.

"Kamu mendengarkanku kan Willis?" Tanya Luhan menatap Sehun disampingnya.

"Luhan," kata pertama yang keluar dari Sehun setelah mendengarkan semua cerita Luhan.

"Hm?"

"Apa kamu yakin sahabat masa kecilmu itu meninggal?" Luhan mengeryitkan dahinya setelah mendengar pertanyaan dari Sehun.

"Apa maksudnya?" Sehun menoleh ke arah Luhan.

"Bagaimana jika selama ini dia tidak meninggal, dia hanya pergi entah kemana dan akan kembali lagi, bagaimana?" Luhan menoleh lalu menatap wajah Sehun.

"Bagaimana mungkin kamu berpikirkan seperti itu Willis? Ia sudah meninggal dan tak mungkin kembali, jangan bercanda," Balas Luhan dengan nada kesal.

"Banyak kemungkinan yang terjadi Luhan, ini hanya salah satu kemungkinan, cobalah berpikir positif,"

"Kemungkinan? Kamu tidak tahu apa yang terjadi denganku dulu Willis, dan bagaimana aku menjalankan masa laluku, berhentilah membahas kemungkinan yang tidak akan terjadi,"

"Tapi kamu belum tahu yang terjadi kan? Apa kamu pernah berkunjung ke tempat perisitirahatan terakhirnya? Apakah kamu pernah mencari tahu cerita sesungguhnya?"

"Berhenti membahas ini Willis, jangan menjadi terlalu jauh," Luhan mendesah pelan

"Aku hanya membicarakan realita Luhan, bukankah aku benar? Bagian mana yang salah dari apa yang aku bicarakan?" Luhan menatap Sehun kesal.

"Bagian yang salah? Realita? Bagian yang salah adalah dimana kamu menepatkan realita itu Willis dan semua kemungkinan yang kamu pikirkan. Lalu dengan semua realita dan kemungkinamu, kenapa sampai detik ini ia tak kembali Willis? Kenapa? Hah? Apa kamu bisa menjawab dengan kemungkinanmu?" Sengit Luhan.

"Ini sudah 13 tahun Willis, dan sampai detik ini pula tak pernah ada kabar. Semua orang juga berpikiran sama denganku. Jadi berhentilah membahas realita dan kemungkinan yang hanya membuatku sakit, biarkan aku tenang dengan hidupku sekarang. 13 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk melupakan dia," Lanjut Luhan menatap selimut dengan sendu lalu mengembuskan nafasnya pelan. Sehun menangkap aura kesedihan yang menyelimuti Luhan, dan tiba-tiba saja hatinya merasa sangat sakit setelah apa yang ia dengarkan dan apa yang ia lihat sekarang ini. Ia hanya tidak menyangka jika selama ini Luhan menganggapnya telah meninggal, berbeda dengan apa yang selama ini ia pikirkan. Selain itu, ia juga tidak menyangka perjuangan Luhan untuk menghilangkan kesedihnnya selama 13 tahun ini karena dirinya.

Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya, ia mencium puncak kepala Luhan dengan lembut,

"Maaf Luhan, aku benar-benar minta maaf dengan ucapanku. Maaf jika itu menyakitkanmu," Luhan mengusap pelan lengan Sehun lalu mengangguk.

"Maaf aku terlalu menyakitkanmu, maaf aku sangat buruk," Sehun mengeratkan pelukannya.

"Maaf membuatmu sakit setiap saatnya ketika memikirkan masa lalu, maaf membuatmu menunggu terlalu lama, maaf membuatmu sedih terus menerus, maaf karena aku meninggalkanmu, aku benar-benar minta maaf," Batin Sehun lalu mengecup puncak kepala Luhan lagi.

"I'm fine Willis, lupakanlah, aku mengerti kamu mencoba menghiburku," Ucap Luhan menepuk pelan lengan Sehun.

"Jangan membenciku Luhan," Luhan menautkan alisnya.

"Kenapa aku harus membencimu?" Balas Luhan bingung,

"Berjanjilah kamu tidak akan membenciku apapun yang terjadi,"

"Hm? untuk apa?"

"Kumohon berjanjilah," Luhan mengangguk,

"Baiklah, aku berjanji," Jawabnya dan Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

"Kita harus kembali tidur Willis, besok harus bekerja," Luhan melepas pelukan Sehun lalu menoleh ke arah Sehun.

"Kalau begitu biarkan aku memelukmu ketika tidur," Luhan tersenyum lalu mengangguk. Sehun dan Luhan kembali berbaring di kasur, Sehun menarik Luhan ke dadanya dan Luhan menyamankan posisinya. Ketika Luhan akan menutup matanyanya, manik matanya menangkap sesuatu yang berkilau di leher bosnya itu.

"Mmm Willis?"

"Hm?"

"Sejak kapan kamu memakai kalung?" Tanya Luhan memandang kalung yang melingkar di leher Sehun. Pria berambut perak itu menunduk untuk melihat kalung yang dimaksud Luhan.

"Sejak masih kecil," Jawab Sehun pelan,

"Tapi kenapa aku baru sadar?" Luhan mendongakkan kepalanya, menatap Sehun.

"Karena kamu terlalu menikmati kegiatan kita Luhan," Balas Sehun lalu terkekeh. Wajah Luhan tiba-tiba memanas mendengar jawaban dari Sehun, dengan cepat ia menempelkan wajahnya pada dada Sehun, menutupi wajah malunya.

"Jangan membahasnya,"

"Aku akan sangat senang membahasnya Luhan,"

"Yaa! stop it," Luhan memukul pelan dada sehun, diikuti tawa dari Sehun. "sangat manis," batin Sehun lalu mengusap pelan punggung Luhan.

"Hmm, Willis?"

"Kenapa lagi? kamu ingin membahasnya?"

"Bukan itu Willis, berhentilah ini memalukan," Sehun tersenyum mendengar jawaban Luhan.

"Jadi ada apa lagi?" Setelahnya Sehun dapat merasakan jari telunjuk Luhan bergerak di dada atasnya, Sehun menunduk

"Apakah ini bekas luka?" Tanya Luhan lalu menggerakan jari telunjuknya.

"Hm? iya itu bekas luka, aku pernah mengalami kecelakaan ketika masih kecil," Luhan ber-ooh setelah mendengar ucapan Sehun. Jari telunjuknya masih bergerak di sepanjang bekas Luka Sehun, setelah itu manik matanya menangkap bekas yang sama di bawah dagu Sehun.

"Apakah ini juga karena kecelakaan itu?" Tanya Luhan lalu menyentuh dagu Sehun. Sehun menggeleng pelan,

"Bukan, bekas itu karena bermain dengan teman masa kecilku," Jawab Sehun pelan.

"Aku juga punya bekas luka karena bermain saat kecil, disini," Ucap Luhan lalu menunjukan garis di bawah bibirnya," Sehun menunduk menatap bekas luka Luhan "Aku akan menyembuhkannya," Sehun mengecup singkat bibir Luhan lalu tersenyum. Luhan membulatkan matanya,

"Apa yang kamu lakukan?" Ia masih kaget dengan kecupan tiba-tiba dari Sehun

"Menyembuhkannya," Balas Sehun singkat lalu tersenyum,

"Ini sudah sembuh Willis, tidak perlu disembuhkan kembali," Luhan menundukan wajahnya.

"Tapi aku ingin menyembuhkannya sekarang, kamu juga bisa melakukan hal yang sama disini," Sehun menunjuk bekas luka di dada atasnya, "Dan disini," Lanjut Sehun lalu menujuk bawah dagunya. Luhan terdiam memandang bekas luka di bagian dada atas Sehun cukup lama, entah mengapa ia merasa sedih melihatnya, walaupun itu hanya bekas luka lama. Dengan pelan Luhan memajukan kepala dan menempelkan bibirnya di atas bekas luka Sehun selama beberapa detik lalu beralih menempelkan bibirnya dengan pelan di bawah dagu Sehun.

"Terimakasih Luhan," Ucap Sehun lalu tersenyum dan memeluk Luhan kembali.

"Kamu selalu membuatku malu," Sehun terkekeh mendengar perkataan Luhan.

"Apakah hanya itu bekas luka yang kamu miliki Willis?" Luhan masih penasaran dengan bekas luka di bagian dada atas Sehun.

"Kenapa? Jika ada yang lain, kau akan mengecupnya satu-satu?" Goda Willis.

"Ahh, lupakan saja," Luhan menempelkan wajahnya menahan malu, bosnya sangat senang menggodanya.

"Tidurlah, kita hanya bisa tidur sebentar sebelum bekerja," Sehun menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua.

"Center Lights off," Seketika kamar Sehun menggelap kembali.

..

..

..

Luhan menyesap pelan flat white nya, ini cup kopi keduanya hari ini. Jam menunjukan angka 2 lewat 26 menit, dan Luhan masih menikmati kopi di coffee bar kantornya. Jam istirahat siang bahkan telah lewat beberapa waktu yang lalu, namun Luhan enggan meninggalkan coffee bar yang berisi beberapa karyawan kantornya itu. Hari ini Luhan menggunakan classic turtleneck dengan kemeja. Selain cuaca yang mulai dingin karena mendekati musim dingin, Ia harus menutupi tanda keunguan di sekitar lehernya karena ulah bosnya itu. Jika mengingat hal itu, Luhan hanya bisa tersenyum tipis. Ia cukup bersyukur karena kantornya tidak memiliki ketetapan dalam berpakaian, selain karena mereka bekerja dalam bidang yang serius tapi santai, juga karena kantornya ingin memberikan kenyaman untuk karyawannya.

Pria berambut caramel itu menatap sekitar, coffee bar tidak begitu ramai, karena jam istirahat siang sudah lewat. Sesungguhnya, Luhan tidak berniat duduk terlalu lama di coffee bar itu, hanya saja ia ingin menikmati waktunya saat ini. Beberapa pekerjaannya pun telah selesai,sehingga teman-temannya tidak akan mencarinya. Ia mengambil ponselnya, dan mencari sebuah kontak lalu menekan lambang hijau.

"Yeoboseyo?" Suara hangat menyapanya di ujung telpon.

"Yeoboseyo hyung?" Luhan tersenyum

"Luhan?"

"Ahh~ akhirnya aku mendengar suaramu juga hyung, hahaha"

"Yaa! Nappeun dongsaeng ! kenapa kamu baru menghubungiku? Heuh?" Luhan terkekeh.

"Mianhae Suho hyung, aku tidak memberi tahumu jika aku berganti nomor," Terdengar suara desahan pelan dari sambungan telpon.

"Kwaenchana, setidaknya sekarang kamu menelponku, bagaimana kabarmu?" Luhan menatap kopinya.

"Hmm, tidak terlalu buruk hyung, bagaimana denganmu?"

"Selalu baik seperti biasa Lu, bagaimana pekerjaanmu di London?"

"Tidak ada yang berubah hyung, selalu sama, hmm apa aku menggangu waktu istirahatmu hyung?" Suho terkekeh

"Ani, wae? Kamu tidak pernah mengangguku, aku senang kamu mengabariku Lu," Luhan tersenyum.

"Hyung, ada yang ingin aku tanyakan padamu,"

"Bertanyalah," Luhan menempelkan pipinya di atas meja.

"Mmm.. hyung, menurutmu apa mungkin Sehun masih hidup?" Luhan menggengam erat cup kopinya.

"Heuh? Sehun? Wae?"

"Ani, aku hanya minta jawabanmu saja," Luhan dapat merasakan jika Suho sedang memikirkan jawabannya saat ini.

"Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?" Suho balik bertanya.

"Yaa hyung, jangan bertanya balik," Suho terkekeh

"Ani, jawab pertanyaanku, aku akan menjawab setelahnya," Luhan menggerakan matanya.

"Entahlah, ada seseorang yang mengetahui masa kecilku dan ia mengatakan bagaimana jika sahabatmu itu tidak meninggal tapi hanya pergi dan akan kembali, sejujurnya aku mencoba untuk tidak memikirkan hal itu hyung, tapi hal ini cukup mengangguku dua hari ini, karena itu aku memutuskan bertanya padamu."

"Apakah kamu menanyakan hal yang sama ke Baekhyun?" Luhan menggeleng.

"Aku bahkan tidak siap menerima ocehannya hyung," Luhan terkekeh pelan, membayangkan sahabat cerewetnya itu akan kesal ketika ia bertanya hal seperti ini.

"Sejujurnya Lu, aku pernah memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang orang itu katakan padamu beberapa tahun yang lalu," Luhan membulatkan matanya mendengar pernyataan Suho, ia mengakat kepalanya.

"Lalu?"

"Tapi itu telah berhenti hingga 5 tahun yang lalu,"

"Berhenti?"

"Ne, berhenti, setelah aku menunggu 8 tahun lamanya dan keyakinanku mulai runtuh perlahan, sehingga aku memutuskan untuk melupakan semua keyakinanku itu," Luhan menggerakan cup kopinya.

"Kenapa kamu memutuskan melupakannya hyung?"

"Karena aku tidak bisa memaksakan apa yang seharusnya tidak dipaksakan Lu, setelah aku mendapat kabar kematian Sehun, sejujurnya aku tidak bisa menerima itu secara langsung Lu, kamu tahu kenapa?"

"Kenapa?"

"Karena aku tidak tahu dimana tempat peristirahatan terakhir Sehun, bahkan disaat aku mengunjui acara kematian orangtuanya, tapi ia tidak ada Lu. Dan disaat itu pula aku yakin jika Sehun masih hidup, hanya aku tidak tahu keberadaannya," Luhan mendesah pelan,

"Setelah saat itu aku yakin dengan pikiranku Lu, aku yakin Sehun akan kembali suatu hari nanti dan menjelaskan semuanya, aku yakin hinga 8 tahun lamanya, tapi setelah 8 tahun keyakinanku mulai hilang bersama dengan mulainya aku berpikir realita Lu. Pertanyaan seperti, kenapa dia tidak kembali juga? Kenapa dia tidak ada kabar? Bahkan kenapa aku menunggu untuk hal seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuatku mulai menghilangkan keyakinanku, dan mulai berpikir jika Sehun memang meninggal dan aku berusaha yakin agar Sehun tenang di surga," Lanjut Suho.

"Jadi sekarang hyung berpikiran jika Sehun telah meninggal?"

"Heum, aku mencoba mengganti keyakinanku Lu, dan aku harus melakukan itu untuk kebaikan Sehun," Luhan mengangguk mengerti.

"Tapi, tidak pernah ada yang pasti di dunia ini Lu, dan setiap orang berhak memiliki keyakinan tersendiri. Jadi, kamu boleh meyakinkan apapun yang menurutmu benar, hanya saja yakinilah hal yang tidak membuatmu sakit untuk masa yang akan datang Lu," Luhan tersenyum, mendengar Suho seperti ini membuatnya merasakan sayang dari seorang kakak selain keluarganya sendiri.

"Hyung, aku tidak pernah salah untuk menghubungimu seperti ini," Suho terkekeh di ujung telpon.

"Jadi apakah kamu mendapatkan jawabanmu Lu?" Luhan menyesap kopinya.

"Sepertinya iya, gomawo Suho hyung untuk semuanya,"

"Neee, senang bisa membantu dongsaengku yang manis sepertimu,"

"Yaaa! Berhentilah menyebutku manis,"

"Ini kenyataan Lu, itu tidak akan berubah,hahaha" Luhan terseyum tipis.

"Kalau begitu aku akan kembali bekerja hyung, kembalilah beristirahat hyung, aku akan mengajakmu makan jika pulang ke Korea nanti,"

"Ne..ne uri dongsaeng, bahkan aku tidak tahu kapan kamu akan kembali, beristirahatlah yang cukup Lu, jangan lupa untuk minum vitamin yang aku kirimkan padamu, dan satu lagi, kurangi konsumsi kopimu itu Lu, sangat mengerikan." Luhan terkekeh menatap cup kopinya yang telah kosong.

"Ne..ne uri eomma, sampai nanti," Luhan memutus panggilannya lalu mendesah lega.

"Aku merindukamu hyung,"

..

..

..

"Ayo pulang," Luhan menoleh dan mendapati sosok Sehun berdiri di sampingnya

"Tunggulah di lobby, aku akan selesai sebentar lagi," Balas Luhan lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.

"Aku akan menunggumu disini" Ucap Sehun lalu menarik salah satu kursi dan duduk di samping Luhan.

"Tunggulah di lobby Willis, tidak enak jika yang lain melihatmu duduk disini,"

"Semua orang sudah pulang Luhan, tidak masalah," Luhan menoleh sekilas.

"Kenapa kamu tidak melanjutkannya besok Luhan, ini sudah jam pulang," Sehun melihat Luhan dengan pekerjaannya.

"Ini hanya kurang sedikit lagi Sehun, lagipula kamu harusnya senang jika ada karyawan yang rajin sepertiku," Ucap Luhan dan Sehun menggeleng,

"Aku tidak senang jika itu kamu yang rajin hingga pulang telat," Luhan terkekeh,

"Why?"

"Karena aku sudah sangat lapar Luhan, cepatlah,"

"Aku akan memasakkan sesuatu untukmu malam ini," Sehun membulatkan matanya,

"Really?" Luhan mengangguk.

"Jadi aku akan makan malam di tempatmu?" Luhan mengangguk lagi lalu mematikan komputernya.

"Done, ayo kita pulang," Balas Luhan lalu membereskan sisa pekerjaannya dan mengambil tasnya.

"Kenapa tiba-tiba sekali?" Luhan menoleh bingung,

"Kenapa? Kamu tidak ingin? Kalau begitu kita bisa makan di luar," Sehun menggeleng cepat.

"Jangan, kita tetap harus makan di tempatmu, ayo," Sehun menarik tangan Luhan, dan pria berambut caramel itu hanya tersenyum.

..

"Turun dan tunggu aku di lobby," Ucap Sehun dan Luhan hanya mengangguk. Luhan turun dari mobil Sehun dan berjalan memasuki gedung apartemennya. Kakinya melangkah memasuki lobby lalu manik matanya menangkap seseorang yang ia kenal sedang berjalan ke arahnya, Luhan tersenyum.

"Cindy!" Yang dipanggil melambaikan tangan ke arah Luhan.

"Kapan kau datang?" Tanya Luhan

"Tadi siang Luhan, akhirnya aku kembali lagi, bagimana kabarmu Luhan?"

"Tidak terlalu buruk, bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?" Cindy terkekeh,

"Lumayan menyenangkan,"Cindy baru saja kembali dari perjalanan asianya setelah hampir beberapa bulan meninggalkan London untuk penelitian.

"Cukup lama aku tidak melihatmu dan Lucky," Ucap Luhan lalu berjongkok di depan Lucky.

"Hey boy, apakah kau tidak merindukanku?" Lanjut Luhan lalu mengusak kepala Lucky, dan anjing itu menempelkan tubuhnya di kaki Luhan.

"Kamu belum memutuskan untuk memelihara anjing atau apapun itu Luhan?" Tanya Cindy, Luhan berdiri lalu tersenyum,

"Belum aku putuskan, tapi aku benar-benar ingin memiliki satu," Jawab Luhan lalu melirik Lucky dan tersenyum.

"Kalau begitu peliharalah, dan Lucky akan memiliki teman," Luhan terkekeh.

"Luhan?" Luhan menoleh.

"Oh iya Cindy, perkenalkan ini Willis, temanku dan Willis, ini Cindy, dia yang tinggal satu lantai di atasku dan di bawahmu," Ucap Luhan lalu menggeser tubuhnya agar Sehun bisa berkenalan dengan Cindy.

"Oh hai, nice to meet you, jadi aku tinggal di tengah-tengah kalian?" Tanya Cindy setelah menjabat tangan Sehun dan Luhan mengganguk lalu tersenyum.

"Wah senang sekali, kalian berdua cocok," Cindy terkekeh

"Kita hanya teman Cindy," Ucap Luhan lalu melirik Sehun.

"Aku tidak bilang kalian pasangan kan? kalian cocok sebagai teman atau apapun itu, hahaha," dan seketika wajah Luhan memanas.

"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi Luhan, nanti akan aku letakkan oleh-oleh dariku di lobby jadi mereka yang akan mengantarnya, sampai nanti,"

"Oh iyaa, terimakasih Cindy,"

"Kamu mudah sekali memerah," Ucap Sehun lalu terkekeh.

"Diamlah,"

..

Pria berambut perak itu melangkahkan kakinya memasuki kamar apartemen Luhan, reaksinya sama seperti pertama kali Luhan menginjakkan kakinya di kamar apartemen Sehun. Matanya menatap keseluruhan isi apartemen Luhan dan menyimpulkan jika Luhan menyukai gaya klasik vintage.

"Duduklah dulu, aku akan berganti pakaian sebentar," Ucap Luhan.

"Kamu tak ingin mengajakku ke kamarmu?" Tawar Sehun dan Luhan hanya melotot lalu pergi meninggalkan Sehun di ruang tamu.

"Bahkan belum ada seminggu yang lalu kamu dari tempatku Xiao Lu, dan sekarang kamu mengajakku kesini," Ucap Sehun lalu berjalan mengitari ruang tamu Luhan. Ruang tamu Luhan bercat callente dan pecan cocok dengan sofa beludru coklat yang Sehun duduki. Sehun tersenyum, ia menyukai penataan ruangan Luhan.

"Tidak akan buruk jika disatukan," Ucapnya

"Apa yang tidak akan buruk jika disatukan?" Luhan muncul dengan piyamanya.

"Ehm? Tidak ada apa-apa," Sehun mengelak

"Kita akan makan apa?" Tanya Sehun lalu mengikuti Luhan menuju dapurnya.

"Bagaimana dengan ramyeon?" Usul Luhan.

"Ramyeon?" Sehun menautkan alisnya.

"Iyaa, ramyeon itu mie instant Korea," Balas Luhan lalu menunjukan beberapa bungkus ramyeon.

"Jadi kamu tidak akan memasak?" Tanya Sehun.

"Ramyeon juga dimasak Willis, jadi aku memasak," Jawab Luhan lalu menyiapkan panci.

"Bukan, maksudku memasak yang tidak instant," Luhan menoleh

"Jadi kamu tidak mau? Kalau begitu aku akan memasak untukku sendiri," Sehub mendesah

"Kalau begitu tunggulah di meja makan, ini tidak akan lama,"

"Karena itu instant," Balas Sehun dan Luhan hanya memutar matanya.

Beberapa menit kemudia Luhan datang dengan panci berisi ramyeon dan meletakkan di atas meja makan. Lalu ia mengambil dua mangkuk, sumpit, sendok dan setoples kimchi dari kulkasnya.

"Setidaknya kamu harus memakan sesuatu yang berasal dari tempatku," Ucap Luhan lalu meletakkan mangkuk, sendok, dan sumpit di depan Sehun.

"Apakah tempatmu hanya ada mie instant?" Luhan mengerucutkan bibirnya.

"Makan saja," Luhan mengabaikan sindirian Sehun, lalu membuka tutup pancinya. Uap dan wangi dari ramyeonnya tercium jelas, ia juga membuka toples berisi kimchinya.

"Makan dengan ini," Luhan menunjuk kimchi.

"Karena ini makanan Korea, kamu harus mengikuti apa yang aku lakukan sebelum makan,"

"He?" Luhan mengatupkan tangannya.

"Jal moeggesseumnida, cobalah," Sehun mengatupkan tangannya,

"Jal moeggesseumnida," Luhan tersenyum mengangkat jempolnya, lalu menyumpit ramyeonnya.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Luhan ketika Sehun selesai mengunyah makanannya.

"Apakah ada makanan instant yang tidak enak?" Luhan memutar matanya kesal.

"Maafkan aku, lain kali akan aku buatkan sesuatu yang tidak instant," Jawab Luhan lalu memakan ramyeonnya kembali. Sehun tersenyum melihat Luhan yang kesal,

"Terimakasih sudah membuatkanku makan malam Luhan," Sehun mengusak rambut caramel Luhan.

"Makan malam instant," Balas Luhan pelan,

"Instant atau tidak, aku senang bisa makan dengamu," Sehun tersenyum lalu mencubit pipi Luhan.

"Kamu sangat pintar berkata-kata ya Willis," Sehun terkekeh.

" Ngomong-ngomong, selain aku siapa yang pernah kesini sebelumnya?" Tanya Sehun menatap Luhan.

"Mmm.. Chen" Jawab Luhan.

"Chen?" Sehun menautkan alisnya.

"Iya, why?"

"Jadi aku bukan orang pertama yang datang kesini?" Luhan menggeleng.

"Kamu orang kedua setelah Chen, Willis," Sehun mendesah,

"Kenapa harus Chen?"

"Chen satu-satunya temanku yang berasal dari Korea Willis, jadi aku mengajaknya makan disini,"

"Makan? Disini?" Luhan mengangguk tak menyadari raut wajah Sehun yang berubah.

"Iya makan disini, kenapa?" Luhan menatap wajah Sehun, pria berambut perak itu melipat tangannya di depan dada.

"Aku kecewa," Luhan menautkan alisnya, bingung.

"Kecewa? Untuk apa?" Sehun diam tak menjawab pertanyaan Luhan. Pria manis itu menatap mata Sehun lalu mendesah pelan.

"Jadi kamu kecewa karena bukan orang pertama yang datang kesini?" Sehun masih diam.

"Ohh ayolah Willis, jangan seperti ini, bahkan aku juga bukan orang pertama yang mengunjungi apartemenmu, dan itu bukan masalah,"

"Kamu orang pertama yang datang ke apartemenku," Jawab Sehun pelan, Luhan tersedak ramyeonnya lalu menatap Sehun.

"Aku?" Sehun mengangguk. Luhan mendesah pelan meletakkan sumpitnya. Luhan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke samping Sehun lalu memeluk leher pria itu.

"Ahh~ I am sorry Willis, aku juga tidak mengetahui jika kita akan menjadi dekat seperti ini, dan aku merasa senang menjadi orang pertama yang datang ke apartemenmu," Sehun tak menjawab.

"Berhentilah menjadi diam," Luhan mencubit pipi Sehun.

"Aku tidak berbakat untuk mendiamkanmu terlalu lama," Ucap Sehun dan Luhan terkekeh.

"I know it," Luhan ingin melepas pelukannya, namun Sehun menahannya.

"Kamu tidak boleh meninggalkanku Luhan,"

..

.

.

.

R

C

L

terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku T.T review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa

NB : Akhirnyaaaaa bisa menyelesaikan ini di tengah tugas yang menumpuk setiap saatnya -_- sejujurnya aku takut akan lama tidak update karena tugas sangat banyak :")

Tapi ternyata aku bisa menyelesaikan jugaaaa~ bahkan updatenya gk tengah malam *proud* terimakasih yang sudah menunggu untuk updatean ff ini :") aku harap chapter ini tidak mengecewakan ya di chapter ini juga aku mengeluarkan baekhyun dan suho kecil (: walaupun gak banyak T.T

Semoga ff ini bisa menghibur kalian ya, dan juga aku harap ff ini menjadi baik setiap chapternya :") dan semoga ff ini bisa menjadi hiburan malam minggu kalian chingu ^^ selamat bermalam minggu riaa *lanjutnugas*

Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Review dan pertanyaan kalian akan dibalas berbentuk pesan.

Sampai bertemu di updatetan selanjutnya ^^

silahkan kirim email untuk berteman, cerita, curhat, kenalan, tanya-tanya atau apapun di ohdeerhunhan aku akan senang hati membalasnya ^^

Sarangahaeee chinguu