dlocriz-hry present

.

.

.

A Doll

.

Genre : Humor (?), Romance (?), de el el

Rate : T

Character : All member SVT, NU'EST, PRISTIN, BTS, de el el

WARN! BXB AREA, JOWO AREA, EDAN AREA, de el el

.

enjoy?


Add | Block | Report

DK_SM

halu?

addback yesh

Jisoo mengernyit. Tiba-tiba dia mendapat notifikasi pesan line dari orang asing. Jisoo yang sedang asik-asiknya ngekepoin uljjang-uljjang di instagram harus menghentikan kegiatannya.

Ji Shua

ya?

done

Setelah mengetik balasan Jisoo kembali ke kegiatan sebelumnya. Namun hanya beberapa detik saja balasan line muncul. Ini membuat Jisoo sedikit jengkel.

DK_SM

hehe

aku yg kemaren

Jisoo membulatkan mulutnya.

Ji Shua

oh mas yang kemaren

apa? masnya mau minta ganti rugi bonekanya?

DK_SM

eh gk kok

bolh kenalan?

Seokmin melihat layar handphonenya penuh harap. Berharap agar teman chatnya disana membalas pesannya. Pertemuannya kemarin dengan pemuda manis membuat Seokmin merasakan perasaan aneh yang mengganjal dalam hatinya. Dia ingin lebih mengenal pemuda manis itu.

Setelah beberapa menit tetapi tidak ada balasan. Seokmin rasa pemuda manis itu sedang sibuk atau terburuknya malah mengabaikannya karena dia hanyalah orang asing yang mengajak berkenalan. Tidak penting.

"Ah..."

Seokmin merebahkan dirinya ke kasur lalu menaruh handphonenya di meja nakas. Mulai berangan-angan tentang pemuda manis yang membuatnya penasaran. Memejamkan mata agar angan-angan itu bisa lebih kentara.

"Seokmin, Seokmin!"

Seokmin spontan bangkit dari kubur –tidak deng. Spontan bangun dari tidurnya lalu celingak-celinguk kesana-kemari. Apakah ada orang yang memanggilnya?

DOK!

DOK!

DOK!

"Min! Woy Sukimin! Cepet keluar hadeh!"

"Ya bentar!"

Seokmin turun dari ranjangnya lalu-

BUAGH!

"Pake acara jatuh lagi! Cepet woy udah kepanasan gua!"

"Bentar nenek lampir!"

Seokmin berdiri dan membuka pintu kamarnya. Di depannya sudah ada nenek lampir –kakak sepupunya, Jeonghan sedang berkacak pinggang.

"Lama beut iyuh! Sana minggir kasih jalan!"

Jeonghan mendorong kasar Seokmin untuk bisa memasuki kamar Seokmin. Seokmin mendengus kasar lalu menutup pintu kamarnya. Ketika Seokmin ingin melanjutkan tidurnya lagi Jeonghan menarik kerah bajunya dari belakang.

"Apa? Mau lanjutin sleeping beauty lagi? Gak ada! Lu kudu nganter gua ke salon sekarang setelah gua ngadem di kamar lu!"

Seokmin menahan emosinya. Dasar nenek lampir sialan!

"Ngomong-ngomong, AC lu off? Nyalain gih gua panas pake banget paijo!"

"Banyak ngomong ae ndes! Nyalain ndiri bisa kan?!"

"Gak usah ngajak tubir! Lu sendiri yang nyimpen remot ACnya dan gua gak tau dimana kampret!"

Seokmin inginmencak-mencak tapi kudu ditahan. Sedangkan Jeonghan menyeringai setan. Menggoda saudaranya ini menyenangkan juga.


"Eh udah sampe! Gak usah ngegas terus kali!"

Jeonghan turun dari motor ninja Seokmin sambil melepas helmnya lalu mengibaskan rambut. Seokmin memarkir motornya dan menatap Jeonghan jengah.

"Lagian lu gak bilang! Gini kenapa gak bareng mas Seungcheol aja sih?!"

"Seungcheolnya itu disini goblok! Makanya gua nyusul!"

Jeonghan masuk ke salon –meninggalkan Seokmin yang ternyata punya masalah di luar dan terkejut ketika melihat perubahan dari seseorang yang dirindukannya selain kekasihnya saat berada di luar kota.

"JICHU! OH MY GOD!"

Jeonghan memeluk sahabat karibnya, Jisoo. Saking eratnya Jisoo sampai kehabisan nafas.

"Han... Han... sesak..."

"SUMPAH YA KAMU TAMBAH MANIS AJA! SUKA DEH!"

"Han... Han... le-pas... sin duluhhh..."

"Eh sori hehe"

Jeonghan melepaskan pelukannya. Wajah Jisoo memerah akibat kehabisan nafas lalu dengan rakus menghirup udara. Jeonghan yang masih gemas lalu mencubit kedua pipi Jisoo.

"Hannie~ Sakit~"

"Abis lucu sih kamu"

Seokmin akhirnya masuk ke salon setelah dia menata motor-motor yang jatuh berantakan akibat ulah Jeonghan yang sebelumnya menendang motor Seokmin hingga jatuh dan berimbas pada motor-motor sebelahnya. Terkena marah tukang parkir lagi. Seokmin tidak akan memaafkan nenek lampir itu!

"Woi nenek lam-"

Seokmin menghentikan kalimatnya ketika melihat pemuda manis yang kemarin dengan mata membelalak dan mulut terbuka. Jeonghan memutar bola matanya malas melihat tingkah gila Seokmin.

Njir si Seokmin. Malu-maluin aja.

"Udah biarin aja. Dia emang gila. Gak usah diperhatiin."

"Itu siapamu, Han?"

"Sodara gua. Napa?"

Jisoo memperhatikan dengan seksama saudara Jeonghan itu. Lalu dia juga membelalak.

"Oh! Masnya yang kemaren!"

"Jadi kamu kenal sama paijo itu? Aish"

Jeonghan menggelengkan kepalanya tidak percaya lalu mendudukkan dirinya di depan kaca. Jisoo mengangguk.

"Ya tau lah. Eh bentar, kamu mau potong rambut?"

"Emang napa? Gak boleh?"

"Boleh sih. Cuma kamu gak eman-eman sama rambut panjangmu?"

"Di sekolah gak boleh rambut panjang buat anak laki pas kelas dua belas ini. Aku gak like sih. Tapi yo dah, daripada dipotong gundul? Kan ngeri..."

"Wkwkwk emang ngeri"

Jisoo berjalan meninggalkan Jeonghan namun dengan cepat Jeonghan menahan tangan Jisoo.

"Mau kemana?"

"Mau manggil mbak-"

"Gak mau. Maunya dipotongin kamu. Ya ya?"

Pinta Jeonghan seperti orang hampir ingin menangis. Jisoo menghela nafas. Kebiasaan Jeonghan memang. Tidak ingin dipotong rambutnya oleh orang lain selain dirinya. Entah mengapa.

Seokmin yang melihat ekspresi Jeonghan kesal. Dasar nenek lampir pemaksa!

"Eh mas ngomong-ngomong, kak Jeonghan itu gimana sih orangnya?"

Seungcheol menatap adik saudara kekasihnya itu dengan tatapan kamu-kan-pasti-sudah-tahu.

"Ya begitulah"

"Hih mas. Yang bener jawabnya."

"Kenapa sih? Langsung to the point aja"

Seokmin menimang-nimang pertanyaannya.

"Kak Jeonghan kalo pacaran sama mas, gimana?"

"UHUK!"

"Seokmin! Kamu tanya apa sih? Gak jelas beut!"

Jeonghan memarahi Seokmin. Jisoo kaget. Seokmin menatap malas Jeonghan.

"Apa sih salahnya tanya? Bikin kesel aja!"


"Nah udah Han. Gimana?"

"Ih ucul beut. Suka! Makasih Shua!"

Jisoo tersenyum. Tiba-tiba dia merasa tangannya ditarik.

"Chup!"

"Yak Jeonghan! Jan cium orang sembarangan!"

Itu Seungcheol. Matanya sudah berapi-api. Dengan cepat bangun dari duduknya lalu menarik Jeonghan yang masih menempel pada Jisoo.

"Ih bentaran! Masih gemes ma Shua!"

"Besok aja gemes-gemesannya! Ayo!"

Seungcheol dengan paksa menarik Jeonghan dan membawanya keluar salon. Menyisakan Jisoo dan Seokmin. Keduanya sama-sama canggung sehingga mereka mencoba untuk mengeluarkan sepatah kata.

"Mas/eh"

Jisoo dan Seokmin saling pandang.

"Duluan aja/kamu dulu"

Seokmin tertawa keras. Jisoo hanya tersenyum tipis.

"Eh kenalan dong. Dari kemaren belom pada tahu nama masing-masing kan?"

Jisoo memiringkan kepalanya, bingung. Lalu mengulurkan tangannya, "Aku Jisoo."

"Oh. Kalo aku Seokmin. Salken ya"

Setelah perkenalan singkat itu baik Jisoo dan Seokmin saling mencari topik pembicaraan agar bisa mengobrol. Tidak terasa dua jam telah berlalu, Seokmin ingin pamit pulang.

"Maaf ya keblabasan ngajak ngobrol, hehe."

Seokmin mengusap tengkuknya kikuk.

"Gak apa kok. Btw, ini hujan lo"

"Ah masa-"

DUAR!

CEKLEK!

"Mama!"

Jisoo ketakutan refleks memeluk Seokmin. Seokmin tidak bisa melihat apa-apa karena mati lampu namun dia bisa merasakan ada yang memeluknya.

"Jisoo?"

"Mas, takut..."

Cicit Jisoo. Seokmin yang tidak tega mendengar suara Jisoo lalu meraih pinggang Jisoo dan semakin merapatkan pelukannya.

Dua menit kemudian lampu menyala lagi. Jisoo masih tetap mempertahankan posisinya. Nah, ini yang membuat Seokmin agak risih. Dia kan tidak punya hubungan apa-apa dengan Jisoo.

"Jisoo"

Jisoo mendongak dengan airmata yang menetes. Seokmin gelagapan lalu mengelap airmata Jisoo menggunakan ibu jarinya.

"Udah jan nangis ya?"

Jisoo mengerjap polos. Dia melepaskan pelukannya dan wajahnya merona hebat.

"Ah... maaf lo."

"Gak usah dipikir. Oh ya aku mau langsung pulang ya? Dadah Jisoo~"

Seokmin segera keluar dari salon dengan jantungnya yang berdetak tak karuan.


yeah.

.

.

.

12.30

2k17