Penulis : Ohdeerwillis

Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka

Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll

Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members

Chapter 13

Sehun menempelkan ponselnya diantara bahu dan telinganya, tanganya sibuk mengancing lengan bajunya.

"Maaf aku tidak bisa berangkat bersamamu hari ini Luhan," Ucap Sehun ketika nada sambungnya tergantikan suara orang menyapanya di ujung telpon.

"Hmm..baiklah, kamu ada meeting di luar hari ini?" Sehun mengganti posisi ponselnya di bahu kiri.

"Mmm..iya bisa dibilang seperti itu, aku hari ini tidak berangkat ke kantor, ada banyak hal yang harus aku kerjakan di luar kantor," Jawab Sehun

"Kamu tidak akan ke kantor? Tumben sekali," Sehun tersenyum lalu berdiri di depan cermin.

"Why? Kamu merindukanku?" Goda Sehun lalu memperbaiki letak simpul dasinya.

"Jangan bercanda Willis," Sehun terkekeh mendengar jawaban Luhan.

"Kalau begitu aku akan berangkat ke kantor sekarang, sam-"

"Tunggu," Sehun menyela,

"Why?"

"Apa kamu ada janji hari ini?" Tanya Sehun.

"Hari ini? Tunggu sebentar," Terdengar suara kertas.

"Aku tidak ada janji hari ini, why?" Sehun tersenyum lalu merapikan rambutnya.

"Kalau begitu tunggu aku di apartemenku setelah pulang dari kantor,"

"Apartemenmu?"

"Iya, kamu akan menggunakan kartu itu untuk pertama kalinya kan? Kamu tidak pernah menggunakannya setelah ku berikan 2 minggu lalu," Terdengar suara kekehan.

"Bagaimana aku menggunakannya jika aku selalu bersamamu jika ke apartemenmu itu,"

"Karena itu, gunakanlah hari ini, aku akan sangat senang jika ada orang yang menungguku pulang," Ucap Sehun.

"Hmm..baiklah, aku akan menunggumu disana nanti sore," Sehun melihat pantulan dirinya di cermin, memastikan penampilannya sekali lagi.

"Okay, sampai nanti di apartemenku, semoga harimu menyenangkan Luhan,"

"Sampai nanti, semoga harimu menyenangkan juga Willis," Balas Luhan lalu memutuskan panggilan, Sehun tersenyum lalu mengambil jasnya.

"Hariku selalu menyenangkan Xiao Lu," Gumannya berlalu.

..

..

"Luhan," Seseorang penepuk bahu Luhan, pria berambut caramel itu reflek menoleh,

"Hay Chen, lama tidak melihatmu," Chen tersenyum lalu mengusak rambut Luhan.

"Aku juga lama tidak melihatmu,"

"Yaaa! Jangan merusak rambutku, pabbo!" Chen tertawa.

"Aku mengambil banyak pekerjaan Luhan, aku ingin ambil libur," Luhan menautkan alisnya.

"Libur? Untuk apa?"

"Aku ingin pulang ke Korea Luhan, aku benar-benar merindukan keluargaku dan juga tunanganku." Jawab Chen lalu tertawa,

"Jinjja? Kau akan pulang ke Korea?" Chen mengangguk.

"Karena aku tidak pernah menggunakan jatah liburku, aku akan mengambil waktu yang lama di Korea, aku harus memperbaiki hubunganku Luhan," Luhan tersenyum lalu menepuk bahu Chen.

"Wahh..daebak, aku senang mendengarnya,"

"Lalu, kapan kamu akan pulang juga Luhan?" Luhan menggeleng pelan.

"Aku belum tahu Chen, tapi setelah mendengarmu akan pulang, rasanya aku juga ingin pulang," Balas Luhan.

"Kalau begitu, pulanglah bersamaku," Luhan terkekeh,

"Aku akan pulang, nanti tapi tidak bisa denganmu Chen,"

"Kalau begitu, jika kau pulang dan aku masih di Korea, kabari aku, aku akan mengenalkan tunanganku padamu." Luhan mengangguk lalu mengangkat ibu jarinya.

"Akan aku lakukan,"

"Karena ini masih jam makan siang, bagaimana jika kita makan siang bersama?" Tawar Chen dan Luhan menggeleng.

"Aku tidak ingin makan Chen, aku akan membeli kopi dan roti,"

"Yaa! Kamu terlalu banyak minum kopi, berhentilah untuk hari ini dan makan siang bersamaku, kajja!" Chen menarik tangan Luhan dengan cepat.

"Pabbo!"

..

..

Pria berambut caramel itu melangkah memasuki lobby apartemennya, di tangannya terdapat beberapa bungkus makanan. Matanya menatap sekitar dan sempat melirik untuk membeli kopi namun akhirnya ia menggeleng,

"Jangan malam ini Luhan," Ucapnya pelan lalu berjalan cepat menuju lift. Ia mengeluarkan kartu bewarna hitam dengan angka 20 di ujung barcode itu. Ia memasuki lift itu dengan tenang lalu menempelkan kartunya di sensor otomatis. Dengan cepat lift itu berjalan naik menuju lantai atas, lantai 20.

Kakinya melangkah memasuki apartemen itu, ini bukan kali pertamanya, namun Luhan selalu merasa berdegup jika memasuki apartemen Sehun. Luhan meletakkan bungkusan makanan yang ia belikan di atas meja makan, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuat coklat panas. Tangannya mengaduk dua mug berisi cairan bewarna coklat itu dengan pelan dan sesekali melirik ponselnya di samping mug.

"Kapan dia akan pulang?" Guman Luhan lalu mengambil ponsel dan membawa dua mug coklat panas menuju ruang tengah. Luhan sengaja untuk pulang terlambat, agar tidak menunggu Sehun terlalu lama. Namun, hingga jam menunjukkan angka 7, belum ada tanda-tanda bosnya itu akan pulang. Luhan meraih remote TV di atas meja lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Jarinya bergerak menekan setiap angka di remote itu, mencari acara yang menarik. Tangan kirinya mengenggam mug berisi coklat panas dan sesekali Luhan menyesap pelan minumannya.

"Tidak ada yang menarik," Luhan meletakkan remote dan mugnya, lalu mengambil ponselnya. Jarinya mulai bergerak di atas layar ponsel, membalas surel-surel yang masuk dan mengabaikan acara TV di hadapannya. Menit demi menit berlalu dan Luhan masih fokus dengan pekerjaannya, sesekali ia menyesap coklatnya. Hingga akhirnya ia merenggangkan tangannya lalu melihat ke arah jam dinding,

"Setengah 9?" Luhan membulatkan matanya kaget, tak menyangka terlalu fokus dengan pekerjaannya. Dia menekan pelipisnya dan menggerakkan kepalanya yang terasa lelah lalu melirik mug nya yang telah kosong dari beberapa waktu yang lalu.

"Kenapa lama sekali," Gumannya lalu bersender di sofa.

..

..

Pria berambut perak itu berjalan dengan tergesa di lobby apartemennya, beberapa kali ia melirik jam mewah yang melingkar di tangan kirinya. Suara sepatu pantofelnya cukup terdengar jelas. Dengan cepat ia menempelkan kartu apartemennya lalu menunggu liftnya bergerak.

"Luhan?" Sehun memanggil nama Luhan dengan pelan ketika memasuki apartemennya. Ia meletakkan sesuatu yang besar di depan pintu lalu berjalan masuk dengan beberapa bungkus makanan. Matanya menatap sekitar ruangan mencari keberadaan Luhan. Manik matanya menangkap bungkusan di atas meja makannya lalu tersenyum ketika melirik bungkusan di tangannya. Kakinya melangkah menuju ruang tengah dan melihat sesuatu menyembul di ujung sofanya, ia mendekat dan tersenyum mendapati Luhan tertidur di sofanya. Sehun melangkah dengan pelan mendekati sofa, meletakkan bungkusan makanannya di atas meja lalu menyusul duduk di atas meja menghadap Luhan yang tertidur.

"Pasti aku terlalu lama," Gumannya menatap Luhan. Manik mata Sehun tidak melepaskan pandangannya terhadap pria manis yang tertidur dengan damai di depannya. Dengan pelan ia menggerakan tangannya menuju rambut Luhan, jari-jarinya menyentuh poni Luhan lalu ia menyingkirkan poni Luhan yang menutup wajah manisnya, tersenyum menatap wajah Luhan. Sehun memajukan tubuhnya mendekati Luhan dan dengan lembut mengecup mata Luhan yang tertutup. Luhan menggeliat ketika merasa tidurnya terganggu, perlahan membuka mata dan mengerjapkannya ketika matanya menangkap cahaya.

"Willis?" Luhan bangun dari tidurnya lalu menyenderkan tubuhnya.

"Kamu baru datang? Jam berapa ini?" Pria manis itu melihat jam dinding yang menunjukan angka 10.

"Kenapa telat sekali?" Ucap Luhan lalu menatap Sehun yang tidak bergerak sama sekali.

"Kamu ingin tidur lagi?" Luhan menautkan alisnya mendengar pertanyaan Sehun.

"Aku hanya merasa bersalah membangunkanmu," Lanjut Sehun sebelum Luhan bertanya.

"Aku akan tidur nanti Willis dan jawab pertanyaanku, kenapa baru pulang ketika kamu menyuruhku menunggu?"

"Ahh… maafkan aku Luhan, meetingku baru saja selesai jadi aku baru pulang. Aku kira akan pulang lebih cepat," Balas Sehun.

"Setidaknya beri tahu aku Willis,"

"Kamu merindukanku?" Luhan memutar matanya sebal dan Sehun terkekeh.

"Baiklah, maafkan aku tidak memberitahumu, karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku," Luhan mengangguk lalu meraih mug berisi cairan coklat yang telah dingin di atas meja.

"Aku akan membuatkanmu coklat panas lagi, kamu sudah makan?" Sehun menggeleng

"Akan ku siapkan makan malam juga, bersihkan tubuhmu sekarang,"Luhan berdiri dari sofa dan Sehun menahan pergelangan tangannya. Luhan memandangnya dengan tatapan "ada apa?". Sehun menarik tangan Luhan agar kembali duduk, mengambil mug nya dan meletakkannya kembali di atas meja.

"Aku ingin memberikan sesuatu," Luhan mengernyit.

"Sesuatu?" Sehun mengangguk lalu berdiri.

"Tunggu dan tutup matamu?" Perintah Sehun.

"Harus menutup mata?" Sehun mengangguk, menunggu Luhan menutup matanya. Luhan mengikuti perintah Sehun, memejamkan matanya dalam diam. Pria berambut perak itu berjalan menuju pintu masuk lalu mengeluarkan sesuatu dari barang yang ia tinggal di depan pintu tadi, bibirnya tertarik ke atas.

"Kamu sudah menutup mata?" Tanya Sehun memastikan dan Luhan mengangguk. Sehun berjalan ke samping Luhan dengan menggendong sesuatu di tangannya.

"Buka matamu sekarang," Luhan membuka matanya dengan perlahan lalu menjerit tertahan,

"Oh Tuhan, Willis?" Luhan menutup mulutnya lalu tersenyum lebar.

"Ini untukmu," Willis memberikan sesuatu yang berbulu untuk Luhan, dan itu

"Ini seekor anjing Willis, kau memberikannya padaku?" Tanya Luhan lalu menatap Sehun dan ia hanya menangguk dengan senyumannya.

"Bagaimana kamu mengetahuinya? Jika aku menginginkan anjing?" Luhan menatap seekor anjing ber ras Bichon Frisé dengan bulu putih di pangkuannya. Dengan perlahan Luhan mengusap pelan kepala anjing itu yang nyaman di pangkuan Luhan.

"Telepati?" Jawab Sehun lalu duduk di samping Luhan.

"Telepati? Maksudnya kamu mengetahui pikiranku?" Sehun mengangguk mengulum senyumnya.

"Tapi masalahnya kamu tidak bisa membohongiku Willis," Lanjut Luhan masih mengusap kepala anjing dengan tenang.

"Kenapa aku harus membohongimu?"

"Pasti kamu mendengarkan pembicaraanku dengan Cindy beberapa waktu lalu, benar kan?" Tanya Luhan lalu menoleh ke arah Sehun dan ia hanya bisa terkekeh.

"Ternyata kamu lebih pintar dari yang kuperkirakan," Balas Sehun masih terkekeh.

"Jangan memulai Willis," Pria itu semakin terkekeh.

"Kalau begitu, berikan dia nama," Sehun menunjuk anjing itu.

"Aku?" Sehun mengangguk

"Kau pemiliknya Luhan, siapa lagi?" Luhan menggeleng,

"Akan kuserahkan padamu, beri dia nama,"

"Kau menyuruhku?"

"Berikan saja dia nama yang menurutmu bagus," Sehun tampak berpikir,

"Vivi? Bagaimana dengan Vivi?" Usul Sehun setelah berpikir beberapa saat.

"Vivi?"Sehun mengannguk.

"Baiklah, namamu sekarang Vivi, mengerti?" Luhan mengusap kepala anjing itu dan Sehun hanya tertawa melihatnya.

"Mmm..Luhan?"

"Ya?"

"Kenapa kamu tidak membeli anjing atau sejenisnya dari dulu jika kau menginginkannya?" Luhan berhenti mengusap kepala Vivi lalu mengangkat anjing kecil itu dan menatap wajahnya.

"Sebenarnya, bukan karena aku tidak ingin membelinya, hanya saja aku belum memikirkannya dengan serius," Balas Luhan lalu tersenyum.

"Lalu kenapa sekarang kau menerima anjing pemberianku?"

"Ada dua alasan," Luhan mengangkat dua jarinya.

"Apa itu?"

"Yang pertama, karena ini pemberian darimu dan aku sangat menyukainya," Luhan melipat satu jarinya.

"Lalu?"

"Yang kedua, karena aku bisa merawatnya bersamamu, jadi aku tidak perlu takut akan menelantarkan atau tidak mengurusnya dengan baik sehingga membuatku siap," Jawab Luhan lalu tersenyum, Sehun yang mendengarkan alasan itu pun ikut tersenyum dan mengusak rambut Luhan pelan.

"Yaa kamu benar, kita bisa merawatnya bersama," Ucap Sehun.

"Apakah tidak ada alasan lain, untuk pertanyaan pertamaku?" Tanya Sehun lalu menatap Luhan. Sedangkan pria berambut caramel itu menatap Vivi dengan berbagai pikiran,

"Ada," Jawab Luhan.

"Apa itu?"

"Ada seseorang yang pernah memberitahuku, agar aku tidak boleh memelihara sesuatu jika aku belum siap dengan segalanya. Dan itulah alasan terkuatku sehingga aku tidak pernah memelihara apapun walau aku menginginkannya, karena aku selalu merasa tidak siap." Luhan mengelus Vivi.

"Jadi kau tidak pernah memiliki peliharaan sebelumnya?" Luhan menggeleng

"Tidak pernah,"Balas Luhan.

"Dan siapa seseorang yang memberi tahumu itu?" Luhan memeluk Vivi.

"Hanya seseorang di masa lalu"

..

..

..

..

"Ini untukmu," Sehun menghentikan makannya ketika Luhan meletakkan sesuatu di samping piringnya

"Kartu?" Sehun tidak cukup bodoh untuk bertanya "Ini apa?" ketika bisa melihat itu sebuah kartu. Luhan mengangguk,

"Itu kartu apartemenku," Sehun menatap bingung kartu di depannya.

"Untuk apa?" Luhan mengelus Vivi

"Aku rasa kamu akan membutuhkannya, seperti saat kamu memberikanku kartu," Jawab Luhan. Sehun dan Luhan sedang menikmati makan sorenya dengan Vivi setelah mengajak Vivi berjalan-jalan di taman. Kedua orang itu merawat Vivi dengan cukup baik, setelah bertanya banyak hal dengan Cindy tentang anjing dan perawatannya. Vivi dan Lucky pun berteman cukup baik setelah dikenalkan beberapa waktu yang lalu. Dan aktifitas jalan-jalan di sore hari menjadi rutinitas mereka beberapa waktu belakangan ini.

"Kau yakin?" Luhan mengangguk,

"Lagipula dengan kartu itu kau bisa bertemu atau mengajak Vivi bermain kapanpun tanpa menunggu aku Willis," Jawab Luhan.

"Kau benar-benar serius Luhan?"

"Aku serius Willis, kamu tidak percaya?" Sehun tersenyum mendengar jawaban Luhan.

"Aku percaya," Luhan membalas senyuman Sehun.

"Jadi aku bisa mengunjungimu kapanpun kan?"

"Hm?"

"Karena aku memiliki ini, aku bisa mengunjungimu kapanpun," Ucap Sehun senang.

"Kamu tetap harus tahu waktu ," Luhan melirik Sehun yang tersenyum.

"Aku tidak bisa berjanji," Sehun terkekeh pelan, senang rasanya bisa menggoda Luhan. Pria itu menyakukan kartu pemberian Luhan lalu kembali memakan makanannya dengan mood yang berbeda.

..

..

"MWO?" Luhan menjauhkan ponsel dari telinganya, teriakan lawan bicaranya sekarang bisa merusak pendengarannya.

"Yaa! Jangan berteriak pabbo!" Omel Luhan.

"Ahh mian Lu, itu teriakan reflek dariku, kamu benar-benar memberikannya kartu apartemenmu?"

"Iya Baekkie, harus seperti apa aku agar kamu percaya," Balas Luhan lalu meletakkan air untuk Vivi. Setelah pulang dari makan sore, Luhan menerima panggilan dari Baekhyun, karena Baekhyun merindukannya. Namun, ketika Luhan mulai menceritakan apa yang ia lakukan tadi sore, Baekhyun mulai berteriak yang hampir membuat telinganya rusak.

"Ani Lu, apa itu tidak berlebihan?" Luhan menautkan alisnya, bingung.

"Apanya yang berlebihan Baekki? Dia yang pertama memberikanku kartu apartemennya, dia baik padaku, bahkan sekarang aku memiliki anjing karenanya," Balas Luhan lalu melirik Vivi yang sedang meminum airnya. Luhan berjalan ke arah sofa dengan segelas jus apel.

"Ne, kamu benar. Dia berubah begitu banyak untukmu, dia baik padamu, dia perhatian, dan bahkan dia memberikanmu anjing sekarang, tapi-"

"Tapi?" Luhan meneguk jus jeruknya lalu menekan remote TV.

"Tapi apakah kalian menjalani hubungan yang jelas selain seorang bos dan karyawannya?" Gerakan jari Luhan berhenti ketika Baekhyun melontarkan pertanyaanya.

"Hubungan yang jelas?"

"Ne, hubungan yang jelas Lu, bukankah selama ini kamu bercerita dia bahkan tidak pernah mengatakan suka padamu?" Luhan terpaku pada TV nya, pertanyaan Baekhyun membuatnya gusar.

"Hubungan yang jelas?" Luhan berguman pelan, meletakkan gelasnya dan mendorong turun tubuhnya agar kepalanya bersender di sofa.

"Lu, dengarkan aku, aku tidak bermasuk melarangmu untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Aku sangat bahagia jika kamu berhasil melupakan masa lalumu dan menjalin hubungan dengan seseorang Lu, tapi aku harap kamu menjalin hubungan yang jelas. Dan menurutku, kebaikan dia tidak bisa menjadi tolak ukur sebuah hubungan yang jelas Lu, bahkan dia tidak pernah mengatakan perasaannya padamu. Aku hanya tidak ingin kamu disakiti,"Ucap Baekhyun, terdengar nada khawatir dari ujung telpon.

"Baekkie?" Suara Luhan terdengar pelan,

"Ne?"

"Apa menurutmu dia memiliki perasaan yang sama denganku?" Tanya Luhan.

"Bagaimana aku bisa tahu ketika aku belum mengenalnya? Karena dari itu kamu harus memastikannya Lu,"

"Tapi jika dia tidak menyukaiku, lalu untuk apa dia seperti itu selama ini?"

"Kamu harus mencari tahunya Lu, pastikanlah apa alasannya," Luhan menggeleng

"Aku belum siap untuk menerima kenyataan baru Baekkie," Ucap Luhan pelan lalu mendongakkan kepalanya, menatap atap.

"Semua akan baik-baik saja Lu, karena dari itu, pastikanlah kamu tidak tersakiti lagi," Balas Baekhyun menenangkan Luhan.

"Ahh~ aku benar-benar merindukanmu Baekkie,"

"Aku juga merindukanmu Lu, aku selalu menunggumu untuk pulang,"

"Maafkan aku belum bisa bertemu denganmu Baekkie,"

"Kwaenchana Lu, dengan kamu selalu baik-baik saja disana sudah cukup membuatku senang, beri tahu kapanpun kamu ingin pulang, aku siap menjemputmu Lu," Luhan terkekeh.

"Kamu akan menjadi orang pertama yang tahu berita kepulanganku Baekkie, sampai jumpa," Luhan memutus panggilan telponnya lalu mendesah pelan. Pria manis itu tidak menyangka, niatan awal menerima telpon Baekhyun agar sahabatnya itu tidak merindukannya ternyata menjadi dia yang sangat merindukan Baekhyun sekarang ini. Entah mengapa setelah obrolan mereka menjadi obrolan serius, membuat Luhan menjadi cukup gusar dan terus terpikirkan setiap perkataan Baekhyun.

"Bahkan dia tidak pernah mengatakan perasaannya padamu. Aku hanya tidak ingin kamu disakiti". Baekhyun benar, setelah Luhan dan Sehun menjadi sangat dekat beberapa bulan terakhir ini, Luhan tidak pernah mendengar pengakuan perasaan dari Sehun. Pria manis itu tidak mengharapkan Sehun memintanya menjadi kekasih, bukan, bukan itu yang dia harapkan. Yang Luhan harapkan, setidaknya Sehun mengatakan ia menyukai Luhan, itu sudah cukup untuk dirinya. Dengan begitu Luhan yakin dengan pilihannya, namun, sampai sejauh ini pun Sehun tidak pernah mengatakannya dan itu cukup membuat Luhan mulai meragukan perasaannya.

Luhan mematikan TV lalu berdiri dan melangkah menuju tempat tidur Vivi. Luhan berjongkok dan menatap Vivi yang sedang bergelung di atas tempat tidurnya, dengan perlahan Luhan mengelus badan Vivi,

"Apakah menurutmu Willis menyukaiku seperti aku menyukaimu?" Ucap Luhan pelan. Kegiatan mengelus Vivi berhenti ketika ponsel di genggamannya bergetar, sebuah pesan masuk,

From : Kris Ge

Bagaimana kabarmu? Kapan kamu akan pulang Lu? Mama merindukamu, aku juga merindukanmu. Telpon aku jika kau sedang tidak
sibuk, ada hal penting yang perlu ku bicarakan. Aku menyayangimu Lu.

Luhan mendesah pelan, Kris mengubunginya lagi setelah beberapa bulan sejak panggilan terakhirnya. Luhan menimbang-nimbang mencari jawaban, apakah ia akan menelponnya lagi? Ia hanya cukup lelah membahas hal yang sama ketika berhubungan dengan Kris. Ia menatap ponselnya cukup lama, mengingat pembicaraan terakhirnya dengan Kris beberapa bulan yang lalu.

.

.

Luhan merebahkan tubuh di atas kasur berwarna seafoam. Warna yang menenangkan akhir-akhir ini. Ia melirik jam di atas nakas, 4 p.m. sejam lebih cepat dari jam pulang kantornya. Sebenarnya tidak masalah jika dirinya harus bertahan sejam lagi, tapi bentakan dari si Willis itu membuatnya sangat kesal. Pria itu bisa berubah menjadi iblis secepat kilat setelah menjadi malaikat untuk sesaat. Luhan merogoh saku celana ketika merasakan getaran dari ponselnya. "Kris Ge"

"Tumben sekali Kris Ge menelpon jam segini, bukannya di sana sudah larut malam?" gumannya lalu berganti posisi menjadi duduk

"Wèi?" sapa Luhan setelah menggeser lambang hijau di layar ponsel.

"Lu?" Suara berat berbahasa mandarin yang sangat Luhan hafal terdengar di ujung sambungan.

"Ada apa Ge? Luhan berdiri menuju kulkas kecil di kamarnya, lalu mengeluarkan sekaleng kopi.

"Apa kabar?" Luhan menahan ponselnya di antara bahu dan telinga lalu menarik pembuka minuman kalengnya.

"Kamu menelponku hanya untuk bertanya kabar?" Luhan meneguk kopinya lalu berjalan kembali menuju kasur. Terdengar suara kekehan dari sambungan telpon.

"Apakah aku tidak boleh menelpon Didi ku sendiri untuk bertanya kabar?" Balas Kris.

"Aku tidak melarangmu Ge, hanya saja kita bisa berkirim pesan jika hanya bertanya kabar," Luhan menyenderkan tubuhnya.

"Aku menghubungimu karena merindukan suaramu Lu,"

"Berhentilah bergurau Ge, kabarku tidaklah buruk, bagaimana denganmu?"

"Baguslah, aku cukup baik, apa pekerjaanmu lancar?"

"Cukup lancar, hanya semenjak bosnya diganti, cukup melelahkan," Keluh Luhan.

"Kenapa?" Luhan mendesah pelan.

"Bos baruku cukup merepotkan, dia memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda,"

"Dua kepribadian?" Luhan mengangguk.

"Menjadi jahat dan baik dalam sekejap," Kris tertawa.

"Pasti sangat menyebalkan,"

"Sangat Ge," Balas Luhan lalu meneguk kopinya lagi.

"Lu,"

"Hm?"

"Apa kamu tidak ada keinginan untuk pulang?" Luhan mendesah pelan, lalu meletakkan kaleng kopinya di atas nakas.

"Tentu ada Ge, tapi aku tidak tahu kapan akan pulang,"

"Lalu kenapa kamu tidak mengambil libur?"

"Karena aku belum ingin Ge, masih banyak yang harus aku kerjaan Ge,"

"Tapi aku merindukanmu, mama juga," Luhan menegakkan tubuhnya lalu meminjat pelipisnya pelan.

"Aku juga merindukan kalian, hanya saja aku tidak bisa pulang sekarang, kau tahu alasannya Ge,"

"Yahh, aku mengerti. Apa kau akan pulang jika mama pindah ke Korea?" Luhan mengernyit bingung

"Pindah? Untuk apa?" Luhan bertanya balik.

"Agar kamu cepat kembali Lu, mama bilang ia tidak akan melarangmu untuk menjadi penulis, jadi kembalilah," Luhan menggeleng pelan.

"Bahkan aku disini pun lama tidak menulis Ge, berikan aku waktu, cepat atau lambat aku akan pulang," Jawab Luhan pelan dan terdengar desahan dari ujung telpon.

"Mama menunggu kepulanganmu Lu, jadi cepatlah pulang," Luhan mengangguk

"Bù hǎoyìsi Ge, karena belum bisa pulang dan mengecewakan kalian," "Tidak masalah Lu,"

"Berikan salamku untuk mama jika ia belum ingin berbicara denganku,"

"Baiklah, jaga kesehatanmu Lu,"

"Tolong jaga mama dengan baik Ge, sampai jumpa Ge," Kris memutuskan panggilan telponnya dan Luhan menyenderkan tubuhnya lalu memijat pelipisnya kembali.

.

.

.

Luhan memutuskan untuk mengubungi Kris setelah berpikir beberapa saat. Ia menempelkan ponsel di telinga ketika terdengar nada sambung lalu berdiri dan berjalan menuju balkon apartemennya.

"Lu?" Suara terkejut dari Kris nampak terdengar.

"Hai Yifan Ge," Sapa Luhan, memandang kelap kelip lampu London.

"Sudah sering ku katakan, berhenti memanggilku Yifan, Lu" Luhan terkekeh,

"Tapi namamu Wu Yifan, wajar jika aku memanggilmu seperti itu," Kris mendesah.

"Tapi aku tidak suka jika orang terdekatku memanggil Yifan, Lu,"

"Baiklah-baiklah, ada apa Kris Ge?" Luhan duduk di salah satu kursi malasnya.

"Bagaimana kabarmu?" Luhan memutar matanya, sebal.

"Berhenti bertanya tentang kabar jika menghubungi ku, Ge,"

"Apa aku salah bertanya kabar denganmu?"

"Baiklah, kabarku cukup baik Ge, jadi hal penting apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kamu bahkan tidak bertanya balik tentang kabarku Lu,"

"Karena aku tahu kamu baik-baik saja Ge, jangan membahas masalah bertanya kabar ini. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" Kris tampak mendesah pelan.

"Gege?" Luhan memanggil Kris ketika pria di ujung sambungan itu tidak membalasnya. Luhan melihat pakaiannya sendiri, dan ia menepuk kepalanya pelan ketika menyadari hanya menggunakan long raglan sleeve dan drawstring pants tanpa jaket atau coat. Luhan terlalu malas untuk mengambil baju hangatnya sehingga ia menekuk kaki dan melingkarkan tangan di kakinya.

"Lu, sebelum Gege memberitahumu sesuatu, berjanjilah dulu,"

"Berjanji? Apa?"

"Berjanjilah untuk tetap kuat dan tidak bersedih di depanku," Luhan menatap langit,

"Baiklah, aku berjanji." Kris menghembuskan nafasnya pelan di ujung telpon.

"Lu, mama sedang sakit," Satu kalimat pendek dari Kris sukses membuat Luhan mengalihkan pandangannya dari langit malam.

"Sakit? Sakit apa?" Tanya Luhan penuh harap agar mamanya tidak memiliki penyakit yang serius.

"Mama di diagnosa mememiliki kanker tiroid jenis karsinoma papiler." Pria manis itu menjatuhkan tubuhnya di kursi malas, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemah, kenyataan berbeda dengan harapannya.

"Kanker tiroid? Sejak kapan Ge? Kenapa Luhan baru tahu," Kris mendesah pelan,

"Hasil pemeriksaannya baru keluar dua hari yang lalu Lu, dan ternyata itu sudah setahun belakangan ini. Ada pembengkakan di bagian leher depannya, dan akhir-akhir ini menjadi sakit."

"Mama tidak mengijinkan Gege untuk memberitahumu, tapi bagaimanapun kamu anaknya Lu dan berhak mengetahui hal tersebut, karena dari itu Gege memberitahumu sekarang," Lanjutnya.

"Apakah mama akan dioperasi?" Luhan meremas pelan ujung bajunya.

"Belum tahu Lu, mama akan menjalankan pemeriksaan lanjutan dan setelah itu ditentukan akan dioperasi atau radioterapi eksternal, dan dalam waktu dekat kita akan ke Korea Lu,"

"Korea? Untuk apa?"

"Mama ingin di rawat di Korea, beberapa orang juga menyarankan untuk melakukan pengobatan di Korea." Luhan tertegun, entah mengapa dia merasa sangat bersalah sekarang ini.

"Ge, maafkan Luhan," Lirih Luhan pelan, sekuat tenaga ia menahan air matanya yang akan keluar. Dia berjanji tidak akan bersedih di depan Gegenya dan dia akan lakukan itu.

"Lu, jangan merasa bersalah dengan hal ini. Ini bukan salah kamu atau siapapun dan mama tahu itu. Gege sudah berjanji akan menjaga mama dan Gege akan lakukan sampai mama sembuh, dan bantu Gege dengan tidak bersedih dan merasa bersalah." Luhan menggengam erat ponselnya.

"Berikan aku waktu Ge, secaptnya aku akan pulang,"

"Pulang? Kamu akan ke Korea?"

"Aku bukan anak durhaka Ge, dan aku tidak mungkin membiarkanmu menjaga mama sendirian."

"Kamu tidak perlu memaksakan jika kamu tidak bisa Lu, Gege sanggup," Luhan menggeleng lemah.

"Aku mencintai mama Ge, katakan pada mama aku akan pulang, dan lakukan perawatan setelah aku sampai sana, secepatnya." Ucap Luhan final.

"Gege tidak bisa melarangmu Lu, akan aku sampaikan pada mama. Jika kamu tidak bisa, katakan pada Gege. Berikan aku kabar terus Lu,"

"Tolong jaga mama sampai Luhan sampai sana Ge,"

"Kamu tahu kan, mama orangtua kedua untukku dan pasti Gege akan menjaganya. Hanya selesaikan apa yang perlu kamu selesaikan disana Lu. Gege menyayangimu."

"Aku juga," Luhan menunduk setelah sambungan telpon terputus, dan setelahnya ia melepaskan segala sesuatunya yang tertahan. Setidaknya ia tidak melanggar janjinya untuk bersedih di depan Kris dan biarkan bahunya bergetar sekarang dengan kesendiriannya. Suara isakan yang tidak berusaha ia tahan, ia keluarkan dengan segala kekesalan hatinya. Hari ini cukup berat untuknya, setidaknya hari ini saja.

..

..

..

Sehun menatap kursi kosong di samping Cassie, patner dari orang yang ia khawatirkan sejak kemarin. Luhan, nama yang berputar di pikirannya sejak kemarin, dimana nomor Luhan tidak aktif dan ternyata ia tidak berangkat kerja juga. Sehun sedang menjalankan rapat bulanan dengan karyawannya, namun pikirannya tidak mengikuti rapat itu dengan baik. Sejak pulang dari jalan sorenya dengan Luhan dua hari yang lalu, sampai detik ini pria manis itu belum menghubunginya lagi, dan cukup membuat Sehun khawatir. Pria bermbut perak itu mencoba untuk tidak terlalu berlebihan menanggapi Luhan yang tidak mengabarinya atau tidak bekerja dua hari ini. Tadi pagi Sehun mendapatkan daftar karyawan yang tidak masuk hari ini, dan Luhan masuk daftarnya dengan tanpa alasan yang jelas setelah kemarin juga tidak masuk, sehingga membuat Sehun mau tidak mau menebak-nebak alasan Luhan membolos kerja dua hari ini. Namun, semakin dipikirkan semakin banyak kemungkinan buruk yang Sehun benci, sehingga ia memutuskan untuk mengabaikan pikirannya dan bekerja seperti biasa. Setidaknya Luhan akan memberikan kabar nanti atau ia akan menggunakan kartu pemberian Luhan untuk mengunjunginya ketika memiliki waktu.

Pria bermbut perak itu menutup rapatnya setelah mendapatkan laporan dari berbagai bagian, walaupun ia akui tidak terlalu fokus menjalankan rapatnya.

"Kita akan lanjutkan di rapat selanjutnya, selamat siang." Sehun berlalu dari ruang rapat dan memutuskan untuk menuju coffee bar. Ia selalu melarang Luhan untuk terus-menerus mendatangi coffee bar, tapi hari ini ia ingin mencoba menenangkan dirinya dengan kopi.

"Maaf , anda mau kemana?" Sebuah suara menghentikan langkah Sehun menuju lift.

"Saya akan ke coffee bar, ada apa?" Sehun bertanya balik pada asistennya, Marley.

"Ahh, kita masih ada pertemuan setelah ini , biarkan saya menyuruh Lisca untuk mengantar kopi yang anda inginkan ke ruang pertemuan," Sehun memasukkan tangannya ke saku celana lalu menggeleng.

"Tunda pertemuan sampai setelah makan siang, saya ingin ke coffee bar sedirian, sampai nanti." Sehun berjalan kembali menuju lift. Marley menggaruk tengkuknya, ini cukup mengagetkannya, ini pertama kalinya bosnya menunda pertemuan dan menuju coffee bar sendiri.

Sehun melangkahkan kakinya menuju coffee bar, dan kehadirannya di sana menarik perhatian karyawannya yang sedang menikmati kopi dan bekerja. Bagaimana tidak menarik perhatian, Sehun bukanlah bos yang sering ke coffee bar atau sejenisnya di kantor tersebut, bahkan ini kali pertama mereka melihat bosnya itu pergi kesana sejak pertama kali menjadi bos di kantor tersebut, menjadikan sesuatu yang langka. Dan itu tidak berlaku untuk karyawannya saja, bahkan ini menjadi kali pertama Sehun pergi kesana dan melihat keadaan coffee bar yang tidak terlalu ramai karena belum jam istirahat siang. Walaupun begitu, terlihat beberapa orang menikmati kopinya dengan laptop terbuka di depan mereka. Karena kantor mereka tidak menerapkan aturan yang keras tentang bekerja sama seperti aturan berpakaian, mereka bebas bekerja di manapun termasuk coffee bar walaupun belum memasuki jam istirahat, dengan kententuan harus menyelesaikan pekerjaan sesuai waktunya. Karena alasan itulah, coffee bar termasuk spot yang cocok untuk bekerja bagi pecinta kopi.

Beberapa karyawan yang bertemu dengannya menunduk untuk menyapa dan setelahnya mereka berbisik pelan tentang kehadiran Sehun disana. Dan seperti biasa, Sehun tidak terlalu memperdulikan sekitarnya yang bahkan beberapa karyawan perempuan secara terang-terangan menatap kagum ke arahnya, karena melihatnya untuk pertama kali. Karena Sehun bukan tipikal bos yang sering mengunjungi lantai lain selain tempat ia bekerja, menjadikan Sehun seorang bos yang jarang ditemui, dan beberapa karyawan menjulukinya "Bos tidak terlihat". Itulah yang menjadikan alasan para karyawan yang tidak pernah melihatnya menjadi sangat terkagum-kagum dengan penampilan dan ekspresi dingin bosnya tersebut yang selama ini hanya menjadi bayangan saja.

"Ice Americano satu" Pesan Sehun pada salah satu pelayan, lalu ia memilih spot duduk di ujung coffee bar yang menghadap dinding. Beberapa menit kemudian kopi pesanannya datang, dengan tenang ia menyedot americanonya. Dia memejamkan matanya pelan dan dapat mendengar suara-suara karyawan di belakangnya membicarakan dirinya. Salah satu alasan dia memilih yang mengadap dinding karena Sehun tidak ingin melihat karyawan yang membicarakannya. Sehun memijit pelan pelipisnya,

"Tidak terlalu buruk juga," Gumannya pelan.

"Espresso satu," Sehun membuka matanya ketika mendengar suara yang cukup familiar, lalu menoleh ke arah sumber suara.

"Chen!" Chen menoleh dan mendapati bosnya yang memanggil. Ia pun berjalan ke arah Sehun lalu menunduk untuk menyapa.

"Selamat siang ," Sehun mengangguk lalu menujuk kursi di depannya.

"Duduklah,"

"Ya?" Sehun menunjuk kursi di depannya dengan dagu.

"Duduk," Chen mengangguk lalu mengambil posisi di depan Sehun.

"Ada apa ?" Sehun menggeleng.

"Santai saja, kau bisa memanggilku Willis,"

"Tapi ini masih jam kerja ja-"

"Aku sedang butuh teman," Ucap Sehun. Chen dan Sehun telah mengenal satu sama lain setelah Sehun menjadi dekat dengan Luhan. Walaupun tidak sedekat Luhan ke Chen tapi setidaknya Sehun mengenal baik Chen. Beberapa kali mereka pernah makan siang atau malam bertiga.

"Ahh~ baiklah, ada yang bisa aku bantu?" Sehun menyedot americanonya lalu menatap Chen.

"Apakah Luhan mengubungimu hari ini?"

"Luhan?" Sehun mengangguk dan Chen nampak berpikir.

"Dia tidak menghubungiku dari kemarin," Sehun mendesah pelan, harapannya menghilang.

"Apa Luhan tidak masuk kerja hari ini?" Tanya Chen dan Sehun mengeleng,

"Dia tidak masuk kerja dari kemarin dan tidak meninggalkan alasan, aku berusaha untuk mengabaikan rasa khawatirku tapi cukup sulit," Chen mengangguk paham. Chen telah mengetahui jika bosnya itu menjalin hubungan yang berbeda dengan Luhan. Walaupun tidak secara terang-terangan, tapi di depan Chen, mereka cukup terbuka dan Chen senang dengan hal tersebut.

"Kalau begitu, kunjungi apartemennya," Usul Chen.

"Aku sudah berniat seperti itu, tapi aku memiliki pekerjaan sampai malam jadi aku tidak bisa mengunjunginya hari ini."

"Aku akan memberitahumu jika Luhan mengubungiku nanti atau aku akan berusaha mengunjunginya nanti, bagaimana?" Sehun mengangguk.

"Thanks Chen,"

..

..

..

Sehun menyenderkan tubuhnya di kursi kerjanya, waktu telah menunjukan pukul 9 malam dan dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya setelah pertemuan yang lama dan melakukan perjanjian dengan beberapa pihak, akhirnya Sehun bisa beristirahat. Sehun melonggarkan dasinya lalu melirik ponselnya sekilas, tidak ada apapun dari orang yang ditunggunya. Dia memejamkan mata lalu memijit pelipisnya, dalam waktu dekat dia akan melakukan perjalanan yang cukup lama ke Amerika, dan Sehun masih memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu Luhan tentang hal tersebut. Dia membuka matanya ketika mendengar ponselnya berbunyi lalu mengambil ponselnya, sebuah panggilan dari "Chen"

"Halo?"

"Willis!" Terdengar suara panik Chen dari ujung sambungan, Sehun mengurut tulang hidung bagian atas.

"Ada apa?"

"Luhan" Sehun meneggakan tubuhnya ketika nama Luhan disebut.

"Cepat pulang ke apartemen, Luhan mabuk,"

"Tunggu aku!" Sehun segera berdiri dan dengan cepat mengambil kunci mobilnya.

..

.

.

.

R

C

L

terimakasih buat yang baca, semoga suka ff pertama dari aku T.T review sangat membantu dalam menentukan chap berikutnyaaaaa

NB : Yeaaay! Satu chapter lagi selesai :") rasanya luar biasa bisa menyelesaikan satu chapter lagi dalam waktu yang berdekatan :3 dan untuk bagian Luhan yang menelpon Kris dalam garis miring itu adalah lanjutan dari chapter 3, jadi yang belum membaca chapter 3 silahkan membacanya dulu agar nyambung ^^

Semoga ff ini bisa menghibur kalian ya, dan juga aku harap ff ini menjadi baik setiap chapternya :") dan SELAMAT UNTUK EXO yang menerima 4 penghargaan MAMA tahun ini :") aku streaming dan terharu ngeliat para oppa EXO menang daesang T.T JJANG! Chukkae :9

Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Review dan pertanyaan kalian akan dibalas berbentuk pesan.

Sampai bertemu di updatetan selanjutnya ^^

silahkan kirim email untuk berteman, cerita, curhat, kenalan, tanya-tanya atau apapun di ohdeerhunhan aku akan senang hati membalasnya ^^

Sarangahaeee chinguu