dlocariz-hry present
.
.
.
A Doll
.
Genre : Humor (?), Romance (?), de el el
Rate : T
Character : All member SVT, NU'EST, PRISTIN, BTS, de el el
WARN! BXB AREA, JOWO AREA, EDAN AREA, de el el
.
enjoy?
Hujan turun dengan deras. Menimbulkan bunyi berisik dari luar rumah. Jisoo yang sedang belajar di ruang tamu pun pindah ke kamarnya. Mencari suasana hening yang bisa membuatnya berpikir untuk mengerjakan naskah cerita bahasa Inggris.
"Hih! Susahnya sak pol!" gerutu Jisoo seraya meremas kertas dan membuangnya ke sembarang arah.
"Ayo mikir, Soo. Mikir-"
"Kak Shua! Ada temen tuh!"
Jisoo mngabaikan teriakan adiknya. Terlalu sibuk mengerjakan tugas. Siapa juga yang mau datang ke rumah dalam kondisi hujan lebat seperti ini? Mungkin adiknya itu hanya mengerjainya.
"KAAAKKK SHUUUAAA~"
Tadi teriak, sekarang sok imut manggilnya, pikir Jisoo kesal. Beranjak menuju sumber suara adiknya.
"Apa?!" tanya Jisoo ketus. Minkyung menggeleng.
"Ckckck. Itu lho ada mas-mas yang kemaren."
"Yang mana? Mas-mas tukang sayur yang godain kakak?" bingung Jisoo.
"Bukan!"
"Mas-mas naik mobil Grandmax nganterin paket lagi?"
"Gak!"
"Oh! Mas-mas gila yang wajahnya mirip kuda di kost-an sebelah?"
"Hmm, iya sih," Minkyung ragu. "Tapi mas-mas kost-an sebelah itu juga bawa orang yang wajahnya mirip kuda juga. Setelah Kyung teliti mas itu yang ada di-"
"Kak/sayangku!"
Jisoo dan Minkyung menoleh bersamaan. Kening Jisoo berkerut.
"Seokmin?"
Seokmin diajak masnya –Hoseok untuk 'katanya' mengapeli sang calon pacar. Sebenarnya Seokmin malas tapi ya demi uang 100 ribu yang menjadi imbalannya maka ia bersedia menemani si kakak tercinta –huek. Setelah dipersilakan Jisoo masuk, mereka berdua dan Minkyung duduk di ruang tamu. Tanpa adanya percakapan sepatah kata apapun. Larut dalam pikiran masing-masing. Mereka hanya bisa menunggu Jisoo dari dapur.
"Monggo diminum"
Akhirnya yang ditunggu datang. Membawa satu teko teh kecil dengan beberapa gelas dalam nampan. Menaruhnya di meja.
"Ada perlu apa kok kesini?" tanya Jisoo.
Hoseok berbinar. "Ya mau ngapelin kamu lah dek!"
Krik... krik...
DUAR!
"HEI TAYO HEI TAYO DIA BIS KECIL RAMAH!" latah Minkyung.
Jisoo bergidik mendengar penuturan Hoseok dan kelatahan adiknya. Sedangkan Seokmin merutuki ucapan masnya yang naudzubillah. Perlu dilakban mulut si Hoseok, pikirnya.
"Maafin mas gua, kak. Dia emang agak gila, obatnya habis. Gak sempet beli tadi." ujar Seokmin yang dihadiahi injakan kaki oleh Hoseok.
"Hehe, gak apa kok." Jisoo terkekeh pelan. Menaruh Minkyung dalam pangkuannya karena masih terlatah-latah. Memeluknya erat juga mencium berulang-ulang pipi Minkyung.
Aduh, enak sekali si bocil itu. Jadi pengen khilafin kakaknya hihi –hs
Pemandangan yang sungguh menguras keimanan –sk
Seokmin dan Hoseok saling berpandangan. Meneguk ludah masing-masing.
"Hmm anu kak. Kalo kami nganggu kami pulang aja-"
"Eh jangan dong! Ngapelnya belum selese!" cegah Hoseok memotong perkataan Seokmin. Seokmin mendengus.
"Apel apel apaan. Besok apel pas hari senin sana!"
"Gundulmu! Aku wis kuliah!"
"Halah kuliah opo? Emang ono kampus sing gelem nerimo jaran goyang koyok kuwe?"
"Asu ndah! Kuwe yo opo rak jaran?! Balek kono ndes!"
"Dah dah! Sesama kuda gak boleh berantem!" lerai Jisoo. Lalu menyuruh Minkyung masuk ke dalam. "Gak boleh kayak gitu sesama sodara! Maafan sana!"
Fine. Jisoo marah. Mau tidak mau kedua lelaki kuda itu bermaafan –pura-pura tapi. Berjabat tangan sambil berkata 'maaf' dengan suara kecil.
"Apa? Aku gak denger kalian minta maaf!" marah Jisoo lagi.
"Iya iya. Adikku Sukimin yang tampan sekali tolong maafkan masmu ini yang gila. Sorrysorrysorrysorrydorymorystrawberry jek!" nge-rap Hoseok.
"Nggeh mas. Aku yo njaluk ngapuramu." Seokmin sungkem pada Hoseok.
Edan, tenanan ndah. Batin Hoseok.
"Nah gitu dong. Kan dilihat enak." Ujar Jisoo tersenyum.
"Hehehehehehe iya."
"Kak, kami pengen pamit pulang aja. Ganggu kakak malah disini. Ayo mas pulang wae."
Seokmin menyikut lengan Hoseok. Namun Hoseok tidak peka. Masih terus memandangi wajah Jisoo antusias.
"Mas? Budeg?" ulang Seokmin.
"Ah ya ya. Pulang wae yo!"
Krak.
"Kertas?" Hoseok menunduk untuk meraih remasan kertas yang diinjaknya. Dibukanya kertas itu dan dilihat, dibaca, dan diterawang –gak deng. Seokmin juga ikut-ikutan melihat.
"Cerita bahasa Inggris ya?" tanya Seokmin pada Jisoo.
Jisoo ber-oh-ria dan mengangguk. "Ya. Itu kertas naskahku."
"Kok diremes? Salah emang?" ganti tanya Hoseok.
"Ya begitulah. Lagipula ceritanya susah banget. Masa buat ujian prakter harus bikin naskah cerita fantasi? Itu cuma buat orang yang suka ngayal gak jelas. Fantasinya kan banyak. Mana ini hari terakhir buat naskahnya. Besok dah harus dikumpulin." Terang Jisoo panjang lebar.
Seokmin dan Hoseok hanya mengangguk. Tiba-tiba ide terlintas dalam benak mereka. Mereka pun terkekeh pelan.
"Tenang aja. Kami bikinin ceritanya!"
Esoknya, Jisoo berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Sampai melupakan sarapannya padahal tadi malam ia belum makan apapun. Entah. Hari ini adalah hari penting baginya. Iya, penting.
Harus praktek membacakan cerita fantasi yang dikarang hanya dalam semalam!
Sampai sekolah, buru-buru Jisoo masuk kelasnya. Mengeluarkan kertas folio baru. Ia harus menyalin terjemahan ulang naskahnya dalam bahasa Inggris –karena semalam kertas naskahnya ketumpahan teh karena ketidaksengajaan Hoseok menyenggol teko teh.
Nyebelin!
Padahal, naskah itu satu folio penuh. Jisoo harus menulis extra cepat karena selama ini jika menulis ia selalu lambat. Seperti siput.
"Yak Junhong! Come here and help me!" teriak Jisoo tatkala melihat Junhong melintasi depan kelasnya.
"Ya? Ada apa?" tanya Junhong setelah memasuki kelas. Keadaan di kelas Jisoo gelap. Otomatis Junhong menyalakan lampu,
"WAAA!" histeris Junhong.
Jisoo di depannya persis sambil menautkan jari tangannya seperti berdoa. Matanya memelas. Hampir menangis.
"Aku tahu kamu dah selese ngerjain tugas cerita fantasi. Jadi, bantuin aku ya ya?"
"Bantu apaan sih?" heran Junhong.
"Tolong tulisin naskahku ya! Kamu kan kalo nulis cepet."
Junhong berpikir sejenak. Lalu mengalah. "Ya deh. Aku mau nulisin."
"Hore! Thanks Junhong! I love you!"
"Bwahaha! Cerita apaan ini! Fantasi loh bukan humor pfftt!" komentar Junhong disaat menulis naskah Jisoo.
"Mana kutahu. Yang bikin cerita bukan aku. Tapi dua saudara kuda yang kemaren dateng ke rumah." Jelas Jisoo memberengut.
"Oke oke. Jan cemberut gitu dong. Bagus kok menurutku. Nah, selese! Sana maju ke pembimbing!" suruh Junhong seraya menyodorkan kertas naskah.
"Lah? Kok aku dulu sih?" protes Jisoo.
"Jangan banyak ngomel deh! Udah aku tulisin juga!"
Junhong mendorong Jisoo keluar kelas. Dengan kesal Jisoo meninggalkan Junhong menuju ruang ujian praktek. Di tengah jalan ia bertemu Seokmin. Matanya membelalak kaget.
"Lo lo lo? Seokmin? Kamu sekolah disini?!"
"Ya iyalah. Gua murid baru kelas XI. Wajar kakak gak tau gua pindah karena gua introvert orangnya." Kata Seokmin. "Mau ujian praktek kan? Semangat ya kak!"
"I-iya." jawab Jisoo terbata-bata. Entah mengapa.
Setelah Seokmin berlalu, Jisoo berlari memasuki ruangan praktek. Sebelum itu merapikan naskah dan melihat judul ceritanya.
KUTUKAN CINTA KUDA LUMPING OE OE
"Kok belom aku terjemahin ke Inggris sih? Mana aneh banget judulnya!" Jisoo masa bodoh dengan itu lalu menyerahkan naskahnya pada guru pembimbing.
"Are you ready, Mr. Hong?" tanya pembimbing pada Jisoo.
"Always ready"
Semua kelas XII heboh. Pasalnya nilai ujian praktek bahasa Inggris mereka dipajang dimading. Jisoo berdesak-desakkan melewati teman-temannya untuk melihat nilainya sendiri.
1. Hong Jisoo, 98
"Congrats! Kamu dapet nilai paling tinggi seangkatan!" selamat Junhong pada Jisoo,
Jisoo hanya melongo. Tidak pernah terbayangkan ia mendapat nilai setinggi itu. Diakuinya ia memang pintar bahasa Inggris, namun tugas prakteknya itu tetap saja hasil buatan dua saudara kuda. Ini semua berkat fantasi gila mereka!
"Aku kudu traktir mereka malem ini." Ucap Jisoo pelan.
TING TONG
TING TONG
"Ya bentar!"
"Jisoo/Kak/Sayang!"
"Kalian?" tunjuk Jisoo pada Junhong, Seokmin, dan Hoseok. Mereka semua menampilkan senyum lebar.
"Seokmin sama mas Hoseok kan udah bantuin kamu bikin cerita. Kalo aku yang nulis ceritanya! Kamu juga dapet nilai tertinggi lo..." Junhong menyeringai.
"TRAKTIRANNYA DONG!" ucap mereka kompak.
Huh. Aku kudu kuat mamah huweee -js
brrhh.
.
.
.
03.27
2k18
