Penulis : Ohdeerwillis
Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka
Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll
Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members
Chapter 15
i'm praying that your eyes are the first to go
the way they looked when you smiled
the way they opened and closed
and your nose, every single breath against my neck
and then your lips, every empty promise made and said
please fade, fade to black
please fade, fade to black
but the nightmares come back
because your eyes, nose, lips
every look and every breath
every kiss still got me dying
uh, still got me crying
because your eyes, nose, lips
every look and every breath
every kiss still got me dying
uh, still got me crying
-Tablo x Taeyang : Eyes,Nose,Lips-
"Gomawo hyung sudah banyak membantu selama ini," Ucap pria manis berambut caramel dan pria dengan jas putih di depannya hanya tersenyum lalu mengusak pelan rambut Luhan, si pria manis.
"Geumanhae, kau tidak perlu mengucapkan terimakasih terus menerus Lu, kamu bukan orang baru." Balas pria berjas putih lalu tersenyum.
"Aniyo hyung, aku merasa kau telah membantu banyak selama ini Suho hyung, terutama ketika di rumah sakit ini." Suho, pria berjas putih itu hanya tersenyum mendengar ucapan Luhan. Luhan mendatangi rumah sakit ini lagi, entah ini kali keberapa ia keluar masuk rumah sakit ini selama hampir tiga bulan terakhir ini. Mamanya diputuskan untuk menjalani tiroidektomi, pengangkatan kelenjar tiroid dan setelah di rawat hampir sebulan lamanya, wanita kesayangan Luhan itu diperbolehkan pulang beberapa minggu yang lalu. Walaupun mamanya telah diijinkan untuk pulang, ia tetap harus melakukan kontrol untuk mengetahui perkembangan pasca operasi.
Dan disinilah Luhan, kembali ke rumah sakit untuk menerima hasil kontrol rutin mamanya. Dan selama mamanya menjalani perawatan, Suho adalah orang yang banyak membantu Luhan. selain appanya adalah salah satu dokter yang bertugas merawat mama Luhan, ia juga adalah anak dari pemilik rumah sakit, bisa dikatakan Suho adalah pewaris tunggal rumah sakit kalangan menengah keatas itu dan appa yang mengurus mama Luhan adalah pemiliknya, sehingga Luhan memiliki akses lebih mudah. Walaupun begitu, mama Luhan tetap menjalani prosedur seperti pasien lainnya karena permintaan Luhan dan menolak perlakuan berlebihan yang diberikan Suho dan appanya.
"Kamu akan datang makan malam di tempat Baekhyun dan Chanyeol hari ini?" Tanya Suho dan Luhan mengangguk.
"Aku akan menemui mama dulu, lalu pergi ke tempat mereka, kau tak datang hyung?" Suho menggeleng pelan.
"Aku sangat ingin berkunjung, tapi kamu tahu sendiri pekerjaan ini tidak bisa ditinggalkan," Keluh Suho lalu mendesah pelan dan Luhan menepuk bahu Suho pelan.
"Kamu dokter yang hebat hyung, jangan mengeluh. Lagipula, kamu tetap bisa berkunjung saat malam natal nanti," Suho mengangguk.
"Untuk hal itu aku sudah berjanji akan datang, aku sudah mengurus agar ada yang menggantikanku selama aku pergi. Lagipula, siangnya aku juga harus menjemput Lay di bandara," Luhan tersenyum.
"Lay akan datang?" Suho mengangguk. Lay adalah pasangan dari Suho, ia seseorang yang berasal dari negara yang sama dengan Luhan. Walaupun berasal dari negara yang sama, Luhan dan Lay tidak saling mengenal sebelumnya, karena Luhan berasal dari Beijing dan Lay berasal dari Changsa. Keduanya saling mengenal karena Suho, 6 tahun yang lalu. Suho dan Lay termasuk pasangan favorit Luhan setelah Chanyeol dan Baekhyun, keduanya saling berkenalan 7 tahun yang lalu ketika Suho sedang sibuk dengan kuliah kedokterannya. Suho termasuk anak dengan otak di atas rata-rata, ia mengalami 3 kali akselerasi selama bersekolah dan memulai kuliah lebih cepat dari teman seusianya, sehingga ia mendapat gelar dokter muda lebih cepat. Dan selama Suho sibuk dengan pendidikannya, takdir membawa berkah lain berupa seseorang yang melengkapi kisah hidupnya. Suho dan Lay tidak sengaja bertemu di festival tahunan Asia di Los Angeles, tempat dimana mereka tinggal saat itu. Lay yang saat itu sedang menempuh pendidikan di sekolah musik tahun pertama, mendapat ajakan untuk mendatangi festival tahunan untuk orang-orang Asia yang tinggal di Los Angeles dan dengan senang hati ia menerimanya. Kejadian kecil namun menjadikan takdir baru untuk hidupnya terjadi ketika Lay datang ke festival tersebut bersama teman-temannya. Karena ia adalah satu-satunya orang yang berasal dari China diantara teman-teman dekatnya, membuat dirinya harus terpisah karena ingin mendatangi perkumpulan orang yang berasal dari negara yang sama dengan dirinya. Namun, karena terlalu ramai dan itu adalah kali pertamanya mendatangi festival tersebut membuatnya cukup kesusahan mencari spot yang ia tuju dan berakhir dengan berdiri di dekat perkumpulan orang Korea. Dan karena itulah ia bisa berkenalan dengan Suho yang sempat mengira jika Lay adalah orang Korea sama seperti dirinya. Perkenalan awal mereka pun cukup berantakan karena susah mengerti bahasa satu sama lain, namun karena Suho sudah terlanjur terpikat dengan senyum dengan lesung pipi milik Lay, membuat dirinya tidak menyerah untuk terus mengajak Lay berbicara dan berakhir menggunakan bahasa Inggris agar saling mengerti dan Lay yang melupakan tujuan utamanya datang ke festival tersebut.
Keduanya menjalani tali pertemanan selama setahun, dan selama itu pula mereka saling mempelajari kebudayaan satu sama lain dan belajar bahasa masing-masing. Suho memilih untuk menyatakan perasaannya pada Lay di tahun kedua mereka berteman, tepat saat ulang tahun Lay. Saat itu, Suho juga telah siap menerima penolakan jika Lay hanya menganggapnya sebagai teman dan ia menyukai wanita bukan pria seperti Suho. Namun, takdir tetaplah takdir, Lay dengan senang hati menerima pernyataan Suho yang menurutnya sangat manis sekaligus lucu itu. Manis karena ia telah berani menyatakan perasaan tepat saat Lay berulang tahun dan lucu karena Suho yang lancar dalam segala hal bahkan selalu sempurna jika melakukan sesuatu itu bisa tergagap saat menyatakan perasaan padanya. Dan bagi Lay, ulang tahunnya saat itu dan seterusnya menjadi hari yang paling special dalam hidupnya, karena ia bisa merayakan hari bertambahnya umur dan hari dimana tahun bertambah untuk hubungannya dan Suho.
Walaupun akhirnya Suho lah yang pertama kali meninggalkan LA karena harus bekerja di rumah sakit appanya, hubungan keduanya tetap berlanjut bahkan masih sangat baik hingga saat ini. Lay sekarang adalah seorang pekerja di industri musik di negaranya, dan Suho adalah dokter di Korea. Keduanya memiliki perbedaan yang mencolok namun menjalani hubungan yang menurut Luhan sangat luar biasa walaupun terpaut perbedaan dalam banyak hal termasuk menjalani hubungan jarak jauh. Karena itulah Luhan menyukai pasangan ini sejak pertama kali Suho mengenalkan Lay sebagai kekasih, 6 tahun yang lalu.
"Dia akan sangat senang jika bertemu denganmu Lu," Luhan terkekeh
"Aku juga akan sangat senang jika bertemu dengannya, aku masih berhutang hadiah ulang tahun dengannya," Keduanya tertawa.
"Kamu harus datang ke acara makan malam di tempat Baekhyun natal nanti, aku ingin mengenalkan Lay dengan Chen dan pasangannya." Suho mengangguk.
"Kamu juga harus mengenalkan Lay dengan pasanganmu Lu," Luhan merengut lalu memukul pundak Suho pelan.
"Berhentilah membahas pasangan hyung," Suho tertawa.
"Kita juga ingin melihatmu membawa pasangan Lu," Luhan menggeleng cepat lalu melihat jam di tangan kirinya.
"Lupakan masalah pasangan hyung, aku akan telat jika terus berbicara denganmu, sampai jumpa," Suho mengangguk.
"Sampai jumpa, dan sampaikan salamku pada mereka, aku berjanji akan datang dengan lay ketika makan malam saat natal nanti dan juga pada mama, aku akan berkunjung dengan Lay." Luhan mengangkat ibu jarinya lalu berjalan meninggalkan Suho.
Luhan berjalan menuju lobby dengan map coklat di tangannya, musim telah berganti dan keindahan musim dingin semakin terasa dengan pernak pernik natal yang terpasang manis di rumah sakit ini. Walaupun natal masih beberapa hari lagi, tetapi mata Luhan sudah disuguhi pemandangan natal yang cantik di beberapa tempat di Korea yang telah memasang pernak pernik natal dari hari pertama salju turun. Berbicara salju pertama, Luhan menghabiskan malam bersama Chanyeol, Baekhyun serta Suho di Namsan Tower untuk menikmati salju pertama yang turun di Korea hari itu. Selain untuk menikmati salju pertama, Baekhyun menyuruh mereka untuk berdoa karena menurut orangtuanya, doa di saat salju pertama turun akan di dengarkan Tuhan dan Luhan mencoba mempercayainya malam itu dengan menutup matanya dan berdoa. Dan setelahnya mereka memutuskan untuk menginap di tempat Suho sebelum menjalani aktifitas seperti biasa keesokan harinya.
Pria manis itu menghentikan langkahnya di depan pintu rumah sakit, memandang keluar lalu melirik gelang silver di tangan kanannya,
..
..
..
Pria berambut caramel itu mengeluarkan box besar bewarna coklat dari closetnya lalu meletakkannya di samping box putih yang ia turunkan dari atas lemarinya. Matanya menatap isi box putih yang telah ia pindahkan beberapa ke dalam kopernya dan beralih untuk membuka box coklatnya. Manik matanya menangkap tumpukan buku dan beberapa alat tulis serta laptop lama yang tak tersentuh semenjak kedatangannya di London. Barang-barang itulah yang menjadi mimpi lama Luhan, sebelum berakhir 5 tahun yang lalu, seorang penulis. Luhan mengambil beberapa buku yang menjadi temannya sebelum ia memutuskan untuk memendam mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Manik matanya bergerak membaca setiap kata yang ia tulis dengan rapi di buku-buku itu. Buku-buku yang berisi setiap idenya yang bisa muncul kapan pun dan berakhir menjadi tulisan di lembaran kertas tersebut. Ia mengambil satu buku berukuran kecil dengan sampul tosca di antara tumpukan buku lainnya. Luhan menghembuskan nafas pelan lalu membuka lembar demi lembar buku tersebut, buku yang menyimpan berbagai perasaan dan pikiran Luhan yang tiba-tiba muncul dan menjadi beban untuk dirinya. Buku yang hampir selalu ia bawa sebelum dirinya memutuskan untuk kembali ke China, buku yang menjadikan dirinya ingin terus menulis sebelum semuanya ia pendam, buku yang diam-diam menjadi penyemangat harinya dan buku yang ia terima saat sebelum kepindahannya ketika usianya 10 tahun. Buku yang ia dapat dari sahabatnya dan berakhir menamai buku itu sama seperti nama sahabatnya, Oh Sehun.
Ia menuliskan kata pertama di buku itu sama seperti hari dimana ia mendapat kabar jika Sehun, sahabatnya telah meninggal. Perasaan terpukul dan sedih yang tak bisa ia ceritakan, Luhan tumpahkan ke dalam buku itu berupa tulisannya dan sejak saat itu, ia seperti merasa Sehun selalu bersamanya dan mendengar segala bentuk ceritanya. Lembarannya telah menguning, bahkan lembar terakhirnya telah ia selesaikan ketika di bangku SMP. Namun, ia selalu membawa buku itu kemana dirinya pergi sebelum dirinya memutuskan untuk berhenti dibayangi oleh Sehun dan mencoba menerima segala kenyataan dengan lapang. Dan begitulah buku itu berakhir bersama tumpukan buku mimpi Luhan yang lain. Ia meletakkan kembali buku bersampul tosca itu dan mengambil beberapa buku yang berisi ide menulisnya serta laptop lamanya lalu meletakkanya bersama barang-barang yang akan ia bawa ke Korea, dua hari lagi.
Luhan berencana akan memulai lagi menulis walaupun tidak bemimpi menjadi penulis, setidaknya ia bisa menghabiskan waktunya untuk menulis selama menemani mamanya. Ia mengambil kotak kecil berwarna hitam dari dalam box putih lalu membukanya, sebuah gelang silver.
"Setidaknya kau lebih nyata dari keadaanku sekarang, pilihan untuk melupakanmu akan aku pikirkan lagi. Bukannya lebih baik tetap mengingat dengan kebahagiaan daripada menjalani kenyataan yang menyakitkan?" Guman Luhan lalu memakai gelang tersebut dan saat itulah ia memutuskan untuk mengabaikan perasaannya yang mulai tumbuh untuk seseorang yang bahkan tidak menyukai dirinya dan kembali untuk mengingat sahabatnya dengan cara yang berbeda, kali ini lebih bahagia.
..
..
..
"Aku selalu teringat padamu jika musim dingin tiba, mengingat bagaimana kau tidak pernah menyukai musim dingin tetapi selalu menemaniku menikmati salju pertama dengan pakaian hangat yang berlebihan. Selamat menikmati musim dingin, Sehunnie," Gumannya pelan memandangi gelang silver di tangan kanannya. Luhan menarik turtle necknya hingga menutupi hidungnya, entah mengapa ia merasa tahun ini musim dingin lebih dingin daripada sebelumnya atau mungkin karena ini musim dingin pertamanya di Korea setelah 3 tahun ia menikmati musim dingin di London, Luhan tak tahu. Ia melilit ulang syal abu-abunya lalu mengenggam erat map coklat itu. Kakinya melangkah keluar dari rumah sakit, Luhan menundukkan kepalanya karena angin yang merhembus pelan ke wajahnya. Ia terus melangkah lalu mengangkat wajahnya ketika merasa lebih baik dan matanya membulat ketika manik matanya menangkap sosok yang tidak ia lihat hampir 3 bulan lamanya. Sosok selama beberapa bulan lalu selalu mengisi hari-harinya sebelum ia memutuskan meninggalkan London. Sosok dingin namun hangat secara bersamaan bagi Luhan dan sosok yang Luhan anggap tidak akan pernah ia temui lagi. Namun, kenyataannya ia masih bisa melihat sosok itu berdiri tepat di depan matanya. Penampilan sosok yang sempat Luhan anggap sebagai bosnya itu sedikit berubah dari terakhir kali Luhan lihat. Rambut peraknya telah berganti menjadi rambut hitam bahkan ia menggunakan poni berbeda dengan penampilannya yang lalu dengan rambut yang selalu terangkat kebelakang. Tatapannya masih sama, dingin dan hangat secara bersamaan namun berbeda untuk Luhan ketika ia melihat seorang perempuan cantik yang berdiri di sampingnya. Seorang perempuan yang menggunakan baju hangat hijau muda tapi dapat Luhan pastikan jika sosok perempuan tersebut sedang mengandung.
Entah perasaan apa yang tiba-tiba menghampiri Luhan saat itu, rasanya sangat tidak nyaman. Perasaan yang muncul ketika dirinya mengetahui jika sosok yang selama ini memberikan banyak perhatian untuknya, pada kenyataannya adalah seseorang yang normal dan berbeda dengan dirinya, cukup membuat dirinya sedikit miris. Namun diluar itu semua, Luhan merasa bersyukur jika sosok tersebut memiliki seseorang untuk kehidupannya, seseorang yang menurut Luhan pas jika bersanding dengan sosok yang pernah menjadi bos 3 bulan yang lalu, Willis. Luhan terus melangkahkan kakinya menuju dua orang yang tanpa ia ketahui salah seorang dari mereka tengah mengatur detakan jantungnya ketika melihat Luhan yang terus berjalan ke arahnya.
Pria manis itu sedikit membungkuk ketika melewati pasangan itu, bagaimanapun juga sosok itu pernah menjadi bosnya, bahkan ia sempat tersenyum untuk sosok perempuan di samping bosnya, walaupun tidak terlihat karena turtle necknya. Kakinya terus berjalan melewati pasangan itu dan segera menghentikan taksi yang lewat. Tangannya membuka pintu taksi sebelum ia mendengar suara,
"Xiao Lu," Reflek ia menoleh dan terdiam ketika mendapati sosok berambut hitam itu berjalan ke arahnya lalu menyentuh pergelangan tangannya.
"Kita perlu bicara, sekarang." Ucapnya tegas lalu menarik tangan Luhan.
..
..
..
..
"Jadi bagaimana dad?" Pria berambut perak itu memandang sosok yang telah ia anggap orangtua keduanya selama ini. Sosok pria yang telah masuk pertengahan abad itu tampak berpikir dalam duduknya, manik mata hazelnya memandang balik sosok yang telah ia anggap anaknya sendiri.
"Kau yakin dengan keputusanmu Willis?"
"Aku sangat yakin dad, aku telah menepati janjiku untuk bekerja dengan sangat baik sejauh ini, dan aku mohon dad untuk menepati janji yang dad katakan padaku beberapa tahun yang lalu," Archer, pria tua yang menjadi orangtua angkat Sehun selama ini mendesah pelan. Ia mengingat janji pada anak satu-satunya itu, namun ia merasa tidak rela jika anaknya menagih janjinya secepat ini, janji untuk membiarkan anaknya itu menggunakan nama lamanya lagi, Oh Sehun. Ia mengerti jika nama itu sangat berarti untuknya saat ini dan sampai kapanpun, namun Archer belum bisa secepat itu merelakan anaknya berganti nama. Ia memandang mata Sehun yang penuh dengan permohonan dan sebagai orangtua ia cukup sedih melihat anaknya seperti itu.
Beberapa tahun yang lalu, Archer dan Sehun pernah terlibat suatu perjanjian antara anak dan orangtua. Sehun berjanji akan fokus dan serius dalam bekerja dengan syarat ayahnya akan mengabulkan keinginannya untuk menjadi Oh Sehun kembali setelah ia berhasil menemukan kebahagiaannya dan orang yang ia cintai, dan Archer menyetujuinya. Sesuai perkiraan, Sehun benar-benar menjalankan pekerjaannya dengan sangat baik, dan jarang sekali mengeluh. Bahkan dalam waktu singkat Sehun telah memiliki sahamnya sendiri atas usahanya sendiri, dan tentu itu bagian dari rencana Archer yang menginginkan Sehun mandiri. Namun, secepat Sehun sukses dengan pekerjaannya, secepat itupula Sehun mendapatkan apa yang ia cari selama ini, kebahagiaan dan orang yang ia cintai.
Archer mengingat dengan sangat jelas bagaimana anaknya itu memohon padanya untuk pertama kalinya agar dipindah kerjakan di London, kantor cabang dari perusahaannya. Dan sebagai orang yang mengenal Sehun dari kecil, Archer cukup heran karena anaknya itu yang tidak pernah meminta sesuatu ataupun memohon sesuatu padanya selama ini kecuali perjanjian yang mereka buat. Dan tentu saja saat itu Archer dan istrinya mengijinkan Sehun pindah tugas, Sehun juga yang membeli saham dari perusahaan di London itu.
Dan setelah jalan beberapa waktu, Archer mendapatkan jawaban atas alasan anaknya yang memohon untuk pindah ke London, karena ia menemukan seseorang yang selama ini ia cari. Bahkan menurutnya, Sehun banyak berubah setelah berada di London, lebih banyak berbicara daripada sebelumnya. Setelah beberapa bulan Archer memantau perkembangan perusahaan London dan pekerjaan anaknya, hasilnya sangat memuaskan. Namun, ternyata kesuksesan Sehun juga menjadikan ia menjadi dekat dengan janjinya pada anaknya dan hari inilah, hari dimana Archer harus memutuskan semuanya.
Ia dapat melihat istrinya mengangguk tanda setuju dengan permohonan kedua dari anaknya, tinggal menunggu keputusan dari dirinya sendiri.
"Jika dad mengijinkanku kembali berganti nama menjadi Oh Sehun, aku akan senang hati meninggalkan segela sesuatu yang telah dad dan mom berikan,semuanya termasuk saham dan perusahaan itu. Aku akan bekerja sendiri tapi aku mohon untuk mengijinkanku," Nyonya Archer menggeleng mendengar ucapan Sehun, ia berjalan ke arah Sehun lalu memeluk bahu anaknya itu.
"Tidak, aku tidak akan setuju kamu harus meninggalkan semuanya, semua itu kamu peroleh karena usahamu sendiri dan itu milikmu. Tidak ada hubungannya dengan perjanjian yang kalian buat ini Willis," Nyonya Archer mengusap kepala Sehun pelan, ia sangat menyayangi bahkan mencintai Sehun seperti anak kandungnya sendiri, karena itu ia akan selalu setuju dengan apa yang anaknya itu inginkan. Ia tidak akan keberatan jika Sehun ingin kembali dengan nama lamanya, asalkan ia tetap menjadi orangtuanya.
"Bagaimana dad?" Archer menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap istri dan anaknya.
"Dengan satu syarat,"
"What?"
"Perkenalkan dia padaku dan mom, jika kau setuju, kau boleh kembali menjadi Sehun," Sehun tersenyum lalu mengangguk.
"Secepatnya aku akan mengenalkannya, kalian akan menyukainya," Ucapnya lalu tersenyum. Archer mendekati istri dan Sehun lalu memeluk mereka berdua,
"Kau tau, siapapun namamu, kau tetap menjadi anak kesayangan keluarga kami dan Oh Jong-Hyuk." Ujar Archer, ia mencoba menyetujui keinginan anaknya. Lagipula, ia berjanji akan selalu membahagiakan Sehun sama seperti dulu sahabatnya membahagiakannya.
"Anakmu sudah sangat dewasa Jong-Hyuk, sama seperti kau dulu," Batin Archer lalu tersenyum.
..
..
..
Pria manis itu tak menyentuh makanannya sama sekali, pikirannya bercabang, perasaannya terguncang dan tubuhnya seakan tak ingin bergerak sama sekali. Manik matanya memandang makanannya dengan tatapan kosong dan hampa. Sehun duduk di depan pria manis dengan tatapan kosong itu, dengan perasaan kacau. Ia telah menceritakan semuanya dengan Luhan bahkan pengakuan tentang siapa dirinya selama ini dan hasilnya, Luhan tidak berkata apapun untuk meresponnya. Sehun tahu, Luhan pasti sangat terkejut dengan semua ceritanya tapi dia harap Luhan mengatakan sesuatu untuk dirinya.
"Willis," Kata pertama terucap dari bibir Luhan setelah keterdiamannya selama belasan menit.
"Sehun, panggil aku Sehun jebal." Luhan mengangkat wajahnya dan menatap pria di depannya itu.
"Bagaimana aku bisa memanggil seseorang yang telah meninggal? Heum?" Rahangnya mengeras.
"Luhan, ani Xiao Lu-"
"Jangan panggil aku Xiao Lu, kau tidak berhak mengucapkannya," Potong Luhan dan Sehun mendesah.
"Aku masih hidup Luhan, aku Sehun. Aku telah menceritakan semuanya, kau tak percaya?" Sehun menatap wajah sendu Luhan.
"Kau tau bagaimana perasaanku sekarang?" Luhan meremas ujung bajunya.
"Aku tahu karena itu ku mohon percaya denganku Luhan,"
"Bagaimana aku bisa percaya dengan seseorang yang selama ini aku anggap orang lain dan tiba-tiba dia datang padaku dan mengatakan dia seseorang yang selama ini aku anggap sudah pergi? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa selama ini aku bersamamu tanpa tahu semua ini? Hah?" Luhan menundukkan wajahnya, tak sanggup memandang pria di depannya.
"Mianhae Luhan, aku berusaha untuk secepat mungkin jujur padamu," Luhan menggeleng.
"Kau tahu? Rasanya lebih sakit dari ketika aku mendengar sahabatku pergi. Rasanya aku seperti di khianati selama bertahun-tahun,"Lirih pria berambut caramel itu. Sehun mengusap wajahnya, ia tahu ini akan terjadi. Luhan tidak mungkin akan menerimanya secara langsung setelah kejujurannya, setidaknya ia berusaha memperbaiki segalanya.
"Setidaknya hargai kejujuranku Luhan," Balas Sehun pelan.
"Hargai? Bagimana dengan posisiku? Selama bertahun-tahun aku mencoba menyembuhkan perasaan sakitku, perasaan kecewaku dan sekarang kamu ingin dihargai? Bagaimana dengan perasaanku? Haruskah aku berpura-pura tidak sakit setelah mendengar ini semua?" Luhan tahu jika pria di depannya kecewa, tapi bukankah dirinya yang lebih sakit setelah semua ini, setelah semua usahanya.
"Mianhae," Hanya itu yang bisa Sehun ucapkan, ia tidak bisa membalas perkataan Luhan dan tidak ingin membuat Luhan lebih sakit dari ini.
"Kamu tahu itu aku, lalu kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?"
"Banyak hal yang harus aku perbaiki Luhan, aku melakukannya untukmu. Aku tidak bisa mengatakan langsung karena aku harus menepati janjiku dengan keluargaku dulu."
"Dan itu juga penyebab kenapa kamu tidak pernah merespon perasaanku?" Sehun menatap Luhan, ekspresi kecewa jelas terlihat dari mata Luhan.
"Aku tidak meresponnya karena aku ingin kamu menyukaiku sebagai Sehun, bukan Willis, hanya Sehun." Luhan menggeleng,
"Kamu terlalu jauh," Luhan memakai coatnya, dan Sehun menahan pergerakan tangannya.
"Mianhae Luhan, aku tahu ini kelewatan, tapi ku mohon percayalah," Luhan melepas tangan Sehun.
"Berikan aku waktu, ini bukan hal yang mudah," Balas Luhan melilit syalnya di leher lalu berdiri dengan map di tangannya.
"Setidaknya percayalah jika aku Sehun, Lu." Lirih Sehun.
"Akan aku pikirkan," Ucap Luhan singkat lalu meninggalkan Sehun dan pria itu hanya menatap punggung Luhan yang meninggalkannya.
"Seharusnya aku membiarkan dia makan dulu sebelum menceritakan semuanya," Sehun menatap pesanan Luhan yang tidak tersentuh sama sekali lalu mendesah pelan.
"Kamu berjanji untuk tidak membenciku Lu,"
Luhan tidak bisa menahan bendungan air matanya, lagi ia menjadi lemah. Perasaannya sangat kacau dan pikirannya bercampur, ia dapat merasakan sesak di dadanya. Sekuat apapun ia mengabaikan pembicaraannya beberapa waktu yang lalu, sekuat itu juga membayangi dirinya. Ia mengusap kasar air matanya lalu menarik turle necknya setinggi hidung, mencoba mengabaikan tatapan kasihan dari supir taksi di depannya. Ia memejamkan matanya berusaha menahan air matanya yang mendesak keluar, getaran ponselnya mengalihkan pikirannya.
"Hallo mama," Ucapnya setelah menggeser lambang hijau.
"Apakah kamu baik?" Luhan menarik turun turte necknya.
"Tentu, kenapa tiba-tiba menelpon? Aku sedang dalam perjalanan pulang,"
"Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin mendengar suaramu," Luhan berusaha terkekeh.
"Aku baik-baik saja mama, aku akan sampai sana tidak lama lagi. Ada yang ingin mama makan? Akan ku belikan,"
"Tidak, tidak ada, hanya cepatlah pulang,"
"Hmm.. baiklah, tunggu sebentar lagi, sampai jumpa." Luhan memutus panggilannya lalu menarik turtle necknya lagi.
"Aku harap berhenti berbohong seperti ini," Gumannya pelan.
..
..
..
..
Baekhyun menatap sahabatnya dengan bingung, Luhan sampai di apartemennya 20 menit yang lalu, namun sampai sekarang ia tidak mengucapkan apapun selain menyapanya tadi di depan pintu. Sahabat manisnya itu hanya diam dengan pisau buah di tangannya, sibuk mengupas apel.
"Lu," Luhan menoleh mendengar panggilan Baekhyun.
"Kwaenchana?" Luhan mengangguk lalu melanjutkan mengupas buahnya. Baekhyun menggeleng lalu mematikan kompornya. Ia melepas apronnya dan menyusul Luhan di meja makan.
"Katakan," Baekhyun merebut pisau buah dari tangan Luhan lalu menduduki dirinya di samping Luhan.
"Mwo?" Tanya Luhan menatap Baekhyun.
"Ceritakan apapun yang sekarang sedang kau pikirkan Lu,"
"Tidak ada yang perlu aku ceritakan Baekkie," Balas Luhan lalu mengambil pisau buahnya namun ditahan oleh Baekhyun.
"Kau tahu kan, kau tidak pintar berbohong di depanku,"Ucap Baekhyun menatap mata Luhan. Baekhyun tahu jika Luhan menyembunyikan sesuatu darinya, semua jelas dari mata Luhan. Ia rela menunda menyelesaikan masakannya untuk acara makan malam nanti, hanya untuk mendengar apapun yang akan keluar dari bibir Luhan. Baekhyun memutuskan untuk tidak bekerja hari ini demi acara makan malamnya, namun ia tidak akan menikmati acaranya jika sahabatnya itu terlihat murung.
"Katakan apapun Lu, aku akan mendengarkannya," Luhan menatap mata Baekhyun lalu mendesah pelan. Ia tahu berbohong dengan Baekhyun bukan jalan terbaik, ia pun membuka mulutnya dan mulai bercerita.
..
Chanyeol datang setelah makanan tersusun rapi di atas meja makan, pria tinggi itu memeluk Baekhyun ketika melihat kekasihnya itu sedang sibuk dengan piring-piring berisi makanan.
"Ada yang perlu ku bantu sayang?" Tanya Chanyeol lalu mengecup kepala Baekhyun dan lelaki imut itu hanya menggeleng.
"Semuanya hampir selesai Channie, bersihkan dirimu dan berganti bajulah sebentar lagi Chen dan tunangannya datang," Ucap Baekhyun lalu menepuk pelan pipi Chanyeol, pria tinggi itu tersenyum lalu mengangguk. Chanyeol meninggalkan Baekhyun lalu melangkah menuju kamar tidur namun langkahnya terhenti ketika melihat Luhan sedang duduk manis di sofa, menonton tv dengan setoples kue kering di pangkuannya.
"Kamu tidak membantu Baekkie, Lu?" Luhan menoleh ketika suara berat menginterupsinya lalu mengangkat bahunya.
"Baekhyun bilang ia tidak butuh bantuan,"Balas Luhan lalu kembali menonton tv.
"Setidaknya kau membantunya Lu," Ucap Chanyeol gemas dengan kelakuan sahabat kekasihnya itu.
"Aku tamu Chan, tamu tidak membantu tuan rumah," Chanyeol menggelengkan kepala setelah mendengar perkataan Luhan.
"Arraseo, silahkan menikmati acara tv nya Luhan-ssi." Ucap Chanyeol lalu meninggalkan Luhan yang terkekeh ketika Chanyeol pergi.
"Berhenti membuat Chanyeol kesal Lu," Luhan menoleh ke arah meja makan.
"Arra, mian, sangat menyenangkan menganggu pria caplang itu," Kekeh Luhan lalu kembali fokus dengan tv nya.
20 menit kemudian, bel apartemen milik Chanyeol berbunyi.
"Lu tolong buka pintunya," Ucap Baekhyun dari arah dapur.
"Aku tamu Bekkie,"
"Luhan?"
"Arra…" Luhan berdiri lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Pria manis itu tersenyum ketika melihat dua orang tersenyum ke arahnya,
"Annyeong," Chen melambai ke arah Luhan.
..
..
..
Luhan meletakkan nampan berisi 3 cangkir kopi pesanannya di atas meja yang telah terisi satu orang.
"Gomawo Luhan," Ucap seseorang yang duduk di sampingnya, Chen.
"Kapan dia akan datang?" Tanya Luhan lalu menyesap kopinya.
"Sebentar lagi, dia sedang dalam perjalanan," Balas Chen memainkan ponselnya.
"Yaa! Bagaimana bisa kau meninggalkan tunanganmu dan menyuruhnya datang sendirian," Chen melirik Luhan.
"Dia menyuruhku menemui duluan Luhan, lagipula dia belum selesai bekerja. Harusnya aku yang kesal saat ini. Bagaimana bisa kau menolak tawaranku untuk pulang ke Korea bersama dan ternyata kau mendahuluiku?" Luhan terbatuk mendengar suara kesal Chen.
"Suaramu terlalu tinggi Chen," Luhan mengusap telinganya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, lagipula aku tidak tahu jika mama sedang sakit. Ini diluar rencana Chen," Lanjut Luhan.
"Dan kamu tidak akan kembali ke London?" Luhan menatap Chen.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku diberitahu daftar orang-orang yang mengajukan surat pengunduran diri dan ada namamu disana," Luhan terkekeh pelan.
"Sepertinya kehidupanku memang disini," Chen berdecih pelan dan dibalas kekehan Luhan. "Cring" Luhan dan Chen menoleh bersamaan ketika mendengar suara pintu café yang terbuka.
"Disini," Chen melambaikan tangannya pada seseorang yang baru memasuki café. Luhan menatap sosok yang sedang berjalan ke arahnya dan Chen, sosok yang bisa dikatakan mungil dengan pipi chubby dan senyuman menggemaskan itu semakin dekat dengan mereka. Chen berdiri dan disusul Luhan,
"Kenalkan ini tunanganku Xiumin, dan ini teman ku di London Luhan." Chen memperkenalkan mereka berdua. Luhan dan Xiumin membungkuk secara bersamaan.
"Senang bertemu denganmu Luhan-ssi,"
"Ahh~ nado, jangan terlalu formal denganku," Balas Luhan lalu tersenyum. Ketiga orang itu kembali duduk dengan senyum di wajah masing-masing.
"Chen banyak bercerita tentangmu, sejujurnya aku cukup penasaran denganmu. Dan ternyata kamu melebihi ekspetasiku. Bagaimana kau mau bertunangan dengannya?" Luhan melirik Chen di sampingnya.
"Yaa! Apa maksudmu Luhan," Xiumin hanya tertawa mendengar godaan Luhan untuk Chen.
"Ahh~ uri Chen terlalu peka,"
"Yaa!" Luhan tertawa melihat ekspresi Chen.
"Aku senang jika Luhan orang yang ramah," Ucap Xiumin dan Luhan tersenyum.
"Aku bukan orang yang mudah berbicara, jadi kumohon bantu aku," Lanjutnya.
"Yaa! Jangan minta bantuannya, kamu akan menjadi cerewet seperti dirinya," Luhan mencubit lengan Chen.
"Aku akan sangat senang membantumu Xiumin, tenang saja."
"Akan lebih baik jika aku mengenalkan kalian kepada teman-temanku yang lain," Ucap Luhan.
"Apa teman-temanmu yang lain juga secerewet kamu?" Luhan mencubit lengan Chen lagi ketika mendengar pertanyaan bodoh Chen.
"Ahh~ mian aku mencubit tunanganmu terus, pertanyaannya membuatku kesal," Xiumin hanya tersenyum dan mengangguk.
"Dan kamu akan mendapat jawabannya sendiri ketika bertemu dengan mereka nanti," Balas Luhan melirik Chen yang mengaduh.
..
..
..
"Aku membawa wine untuk acara malam ini," Ucap Chen mengangkat bawaannya,
"Luhan tidak boleh minum malam ini Chen, dan jangan membiarkan tamu terlalu lama diluar Lu," Tegur Baekhyun yang membuat Luhan menggeser tubuhnya dari depan pintu.
"Silahkan masuk," Ucap Luhan diikuti Chen dan Xiumin yang melangkah masuk.
"Kenapa dia tidak boleh minum? Sedang sakit?" Tanya Xiumin dan dibalas gelengan oleh Luhan.
"Aku tidak sakit, aku boleh minum," Balas Luhan.
"Ani, aku melarangmu," Luhan menoleh ke arah Baekhyun.
"Wae? Sejak kapan kamu menjadi mama ku?"
"Bukan mama Lu, tapi saudara sejak kita di takdirkan bertemu. Sebagai saudara aku berhak melarangmu," Luhan memutar matanya.
"Kau perlu bantuan Baek?"
"Tidak perlu Xiumin, duduklah," Luhan menyusul pasangan Chen duduk.
"Apakah Suho akan datang?" Kali ini Chen yang bertanya.
"Ani, dia akan datang ketika malam natal nanti bersama kekasihnya," Balas Luhan lalu menuang air di gelasnya.
"Kekasihnya? Aku belum pernah bertemu kekasihnya," Ucap Xiumin.
"Kamu akan bertemu dengannya malam natal nanti," Balas Baekhyun, menyusul ketiga temannya duduk.
"Apakah dia secerewet kalian?" Luhan, Baekhyun dan Xiumin menoleh ke arah Chen secara bersamaan.
"Wae? Aku hanya bertanya" Ucap Chen.
"Dia cukup pendiam diantara kita, tapi tingkahnya selalu membuatku tersenyum," Balas Luhan tersenyum mengingat tingkah laku Lay.
"Baguslah, Xiumin banyak berubah setelah berteman dengan kalian."
"Bukankah bagus, aku menyukai Xiumin yang banyak berbicara," Xiumin mengangguk mendengar perkataan Baekhyun.
"Arra.." Chen meneguk airnya.
"Kapan kalian sampai?" Suara Chanyeol mengalihkan perhatian mereka. Pria tinggi itu memposisikan dirinya di samping Baekhyun.
"Beberapa menit yang lalu," Balas Chen. Diam-diam Luhan tersenyum melihat keberadaan teman-temannya malam ini. Setidaknya ia bisa mengabaikan pikirannya yang cukup kusut sejak tadi. Ia juga senang dengan keberadaan Chen dan Xiumin diantara mereka, membawa suasana yang baru. Keputusannya untuk mengenalkan Chen dan Xiumin kepada teman-temannya bukanlah sesuatu hal yang buruk, dia bersyukur teman-temannya sangat terbuka bahkan membantu Xiumin untuk lebih banyak berbicara. Luhan juga senang dapat mengenal tunangan dari temannya itu, Xiumin sosok yang dewasa dan penuh perhatian, penuh dengan aura penyayang sama seperti Baekhyun.
"Berhentilah melamun dan makan Lu," Luhan tersenyum lalu mulai menyumpit makanannya.
..
..
..
"Berhentilah mengunjungiku dan mama, Kris Ge," Keluh Luhan ketika mendapati keberadaan Kris di rumah mamanya pada pagi hari.
"Tidak ada aturan yang melarangku datang menemui keluargaku Lu," Balas Kris lalu meyesap tehnya.
"Ini bahkan masih jam 7 pagi Ge, sejak kapan kamu disini?"
"Penerbangan paling pagi," Luhan menatap Kris bingung.
"Ohh ayolah, Tao akan marah denganku jika dia tahu kau selalu kesini Ge," Ucap Luhan lalu duduk di depan Kris.
"Tao tahu Lu, bahkan dia akan menyusul nanti sore," Luhan membulatkan matanya.
"Mwo? kalian akan disini?" Kris mengangguk lalu tersenyum.
"Biarkan saja mereka menginap Lu, lagipula 2 hari lagi natal, bukankah lebih baik jika merayakannya bersama keluarga," Ucap mama Luhan dan dibalas anggukan Kris.
"Mama yang tebaik," Kris mengacungkan ibu jarinya.
"Jangan membelanya terus ma, semakin dibela semakin mengesalkan," Kris dan mama Luhan tertawa mendengar ocehan Luhan.
"Bukankah malam natal nanti akan ada acara di rumah Baekhyun," Luhan menaikkan satu alisnya.
"Bagaimana Gege tahu?" Ia tersenyum
"Aku diundang dan akan datang bersama Tao," Luhan mengerang pelan.
"Oh my God, kenapa Baekkie mengundangmu Ge?" Kris mengangkat bahunya.
"Harusnya aku curiga ketika dia bertanya tentangmu beberapa hari yang lalu ketika acara makan malam, ternyata karena ini dia bertanya tentangmu dan Tao," Kris tertawa.
"Berhentilah mengoceh Lu, lebih baik kamu bersiap, kita akan sarapan diluar,"
"Dengan mama?" Mama Luhan menggeleng,
"Terlalu dingin Lu, mama tidak ikut."
"Kalau begitu Luhan juga tidak ikut Ge,"
"Tapi kita belum beli kado natal Lu, dan jangan lupa perlengkapan natal untuk rumah ini dan apartemenmu,"Luhan menepuk dahinya pelan.
"Ahh~ baiklah," Luhan beranjak dari duduknya lalu berlalu.
"Ajak dia berbicara Kris, kalau perlu cari tahu tentang apa yang ada di pikirannya akhir-akhir ini," Ucap mama Luhan.
"Mama merasa dia menyimpan sesuatu yang tidak ingin diceritakannya Kris, mama khawatir," Kris mengelus bahu mama Luhan pelan.
"Akan Kris usahakan ma," mereka berdua tersenyum
..
..
..
My heart is desperate for your breath, I melt it down and shout
In case it becomes ash in just one moment, I spread my arms to the empty space above
In the black and blue dawn, a dreamy voice rings out, who knows?
An endless mystery, a foggy memory
Why are my predictions not coming true?
The sound of the rain mixed with tears, the sound of your breath in my ears
I couldn't find you even once
You hurt me (So bad, so bad)
You hurt me (So bad, so bad)
Forever in my head (insane) you are living
In my eyes, I see the transparent you and me
-EXO : Hurt-
..
..
"Lu, terkadang hal yang tidak masuk akal untuk pikiran kita adalah hal yang sangat nyata terjadi di depan kita. Sejujurnya aku tidak bisa memberikan banyak saran tapi aku harap kamu mempertimbangkan saran yang satu ini," Baekhyun meraih tangan Luhan lalu menggenggamnya.
"Sekarang abaikan segala sesuatu yang ada disini."Baekhyun menunjuk kepala Luhan,
"Dan percayakan semuanya dengan yang disini,"Jarinya bergerak menuju dada Luhan.
"Semuanya tentang keyakinan Lu, sekuat apapun kamu mencoba berpikir itu akan kalah dengan kuatnya keyakinanmu, seyakin kamu menggunakan ini sekarang," Lanjut Baekhyun lalu menunjuk gelang silver di tangan kanan Luhan.
"Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa disini, kalian berdua sahabatku Lu. Aku terkejut? Tentu saja, aku kecewa? Jawabannya iya. Aku juga akan meyakinkan diriku sama dengan dirimu sekarang ini, aku selalu di sampingmu Lu, dan kamu tahu itu." Baekhyun tersenyum di akhir kalimatnya. Luhan balik menggenggam tangan Baekhyun,
"Kamu tahu Baekkie? Tuhan sangat baik dengan menakdirkan kalian untukku." Baekhyun mengangguk lalu mengusap wajah Luhan yang entah kapan sudah basah.
"Aku tahu," Balas Baekhyun lalu tersenyum.
"Aku yakin kamu lebih kuat dari yang di bayangkan Lu," Batin Baekhyun lalu mengusap lembut bahu Luhan.
..
.
.
Luhan menutup matanya lalu menangkupkan tangannya,
"Tolong berikan kebahagiaan untuk ku dan orang-orang yang kusayangi mulai dari sekarang dan seterusnya. Kuatkan diriku untuk segala hal yang akan datang kelak, penuhi kami dengan hal-hal baik dan jagalah mereka untukku," Luhan membuka matanya setelah berdoa lalu tersenyum memandang salju yang berjatuhan di depannya. Berdoa dan saat salju pertama turun bukanlah ide yang buruk, setidaknya ia bisa berharap semua keinginannya menjadi kenyataan.
.
"Seandainya kamu disini Hun,"
.
.
R
C
L
terimakasih buat yang baca,
NB : Sudah mendekati Chapter akhir Yuhuuuu~ dan aku cukup senang dengan reviewan kemarin dan aku harap untuk chapter ini bisa memiliki review yang lebih banyak dari kemarin jadi mohon reviewannya yaa untuk kesan pesan dan sarannya~ menurut kalian enaknya dijadikan happy ending atau sad ending ya? hahaha masih bingung sama endingnya HunHan.
Semoga ff ini bisa menghibur kalian ya, dan juga aku harap ff ini menjadi lebih baik setiap chapternya :")
Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Review dan pertanyaan kalian akan dibalas berbentuk pesan.
Sampai bertemu di updatetan selanjutnya ^^
silahkan kirim email untuk berteman, cerita, curhat, kenalan, tanya-tanya atau apapun di ohdeerhunhan aku akan senang hati membalasnya ^^
Sarangahaeee chinguu
