Penulis : Ohdeerwillis

Disclaimer : Tuhan dan keluarga mereka

Peringatan : Kesalahan penulisan, yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll

Cast : Sehun, Luhan, dan other exo members

(Sebelumnya cuma mau memberitahu, ini akan menjadi chapter akhir. Tapi setelahnya masih ada epilog dan di update bersamaan. Jadi, buat yang baca ini silahkan baca epilognya juga jika ingin ^^ Gomawo)

Chapter 16

Nobody ever knows

Nobody ever sees

I left my soul

Back then, no I'm too weak

Most nights I pray for you to come home

Praying to the lord

Praying for my soul

Now please don't go

Most nights I hardly sleep when I'm alone

Now please don't go, oh no

I think of you whenever I'm alone

So please don't go

Cause I don't ever wanna know

Don't ever want to see things change

Cause when I'm living on my own

I wanna take it back and start again

-Joel Adams : Please Don't Go-

Suara pantofel beradu pelan dengan lantai marmer, langkah kakinya terdengar jelas di lorong yang tidak terlalu ramai itu. Sesekali tangannya merapikan overcoatnya yang menutupi rompi dan turtle necknya. Di tangannya terlihat sebuket mawar putih segar yang indah. Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu masuk ruangan yang telah lama tak dikunjunginya. Sosok pria itu menghembuskan nafasnya pelan lalu melangkah masuk menuju dua buah guci di ujung ruangan.

"Annyeonghaseyo eomma, appa," Ia membungkukkan badannya 90 derajat lalu tersenyum.

"Apa kalian baik-baik saja?" Jari-jarinya mengelus kedua guci putih itu.

"Mianhaeyo Sehun baru bisa mengunjungi kalian," Sosok pria itu, Sehun.

"Ada banyak hal yang ingin Sehun ceritakan, tapi sepertinya kalian sudah sangat tahu sebelum aku menceritakannya," Ucap Sehun.

"Terimakasih sudah menjagaku dari sana,"

"Ahh~ aku sangat merindukan kalian, bagaimana bisa kalian tidak pernah mengunjungiku sekalipun lewat mimpi? Kalian tidak melupakanku kan?" Pria tampan itu terkekeh pelan.

"Kalian pasti sangat bahagia disana, aku harap aku juga bisa bahagia disini,"

"Ah~ entah mengapa aku merasa bersalah sekarang karena mengunjungi kalian seorang diri," Sehun memandang buket bunganya.

"Mianhaeyo eomma, appa aku belum bisa membawa orang yang kucintai untuk bertemu kalian, pasti kalian juga merindukannya. Sehun juga merindukannya, walaupun sekarang kita berada di negara yang sama rasanya seperti terpisah benua," Keluhnya lalu merengut.

"Bagaimanapun juga, jangan terlalu berharap tentang memiliki menantu seperti dirinya. Cukup sulit dan bahkan semakin sulit sekarang, rasanya ingin menyerah jika tidak mengingat kalian sangat menyayanginya dari dulu,"

"Eomma, seandainya saat itu eomma tidak bilang ingin memiliki anak atau menantu seperti dirinya, mungkin sekarang Sehun tidak menemui kalian seorang diri. Appa juga, terlalu menyayanginya sampai Sehun harus berjuang seperti ini demi kalian." Ia tersenyum.

"Tapi, diluar itu semua. Seandainya kalian tidak mengingikan dia, aku juga akan tetap berusaha membawanya kesini. Karena aku sudah menyukainya jauh sebelum kalian menyukainya juga,"

"Eomma, appa kumohon kuatkan aku, ini tidak akan lama kan? Sejujurnya aku mulai kekurangan harapan akhir-akhir ini. Setelah membuat pengakuan beberapa hari yang lalu sepertinya dia lebih membenciku sekarang," Sehun menatap ujung sepatunya.

"Dan ini, hadiah natalku untuk kalian. Sejujurnya natal kali ini lebih berkesan karena aku bisa mengunjungi kalian dan aku harap natal selanjutnya aku bisa mengunjungi kalian lagi." Sehun meletakkan buket mawar putih di depan kedua guci putih itu.

"Aku akan mengunjungi kalian ketika tahun baru nanti, selamat natal dan sampai jumpa."Sehun membungkukan badannya lagi, tersenyum lalu berlalu dari tempat itu.

Ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang,

"Baekhyun?"

..

..

..

"SELAMAT NATAL! Tring" Terdengar suara gelas-gelas kaca yang saling bersentuhan diiringi suara tertawa dari kumpulan orang yang menikmati malam natal mereka.

"Terimakasih semuanya sudah datang di acara makan malam ini, terutama Suho hyung dan Kris Ge," Ucap pria dengan telinga caplang itu.

"Kau tak berterimakasih untukku Chanyeol?" protes pria dengan lesung pipi itu.

"Ahh~ terimakasih juga sudah datang dari tempat yang jauh Lay dan Tao," Semuanya terkekeh.

"Akhirnya kita bisa merayakan natal bersama tahun ini," Baekhyun tersenyum melihat teman-temannya.

"Senang rasanya menikmati malam natal bersama kalian," Kali ini Tao bersuara.

"Apakah tidak ada yang ingin menyampaikan pesan dan kesannya tentang natal tahun ini?" Tanya Baekhyun dan secara serempak semua kepala menoleh ke arah sosok pria manis yang sedang sibuk dengan steaknya. Merasa diperhatikan, Luhan, pria manis itu mengangkat kepalanya.

"Mwo?" Tanyanya ketika mendapatkan tatapan dari teman-temannya.

"Berbicaralah Lu, ini natal pertamamu lagi dengan kami setelah 3 tahun." Kris bersuara.

"Wae? Naega? Tapi ini juga pertama kali untuk Chen dan Xiumin," Semuanya menggeleng.

"Mereka orang baru Lu," Balas Suho. Luhan mengerucutkan bibirnya lalu mendesah pelan.

"Arraseo…arraseo," Luhan menggeser mundur kursinya lalu berdiri. Ia berdehem pelan sebelum mengeluarkan suaranya.

"Hmm.. Sejujurnya aku tidak memiliki ide apapun untuk berbicara sekarang jadi cukup dengarkan saja ne." Semua orang menatapnya.

"Pertama, aku mau ngucapin terimakasih sudah datang disini dan meramaikan suasana natal kita. Lalu aku mau ngucapin selamat datang Chen dan Xiumin di lingkaran pertemanan kita. Ini akan menjadi natal yang berkesan karena ada kalian semua," Semuanya tersenyum.

"Mianhaeyo karena selama tiga tahun kemarin aku tak bersama kalian, dan aku harap untuk tahun-tahun selanjutnya kita tetap bersama dan saling menguatkan," Luhan mengambil gelas winennya.

"Aku menyayangi kalian," Ucapnya lalu mengangkat gelas winennya.

"Kami menyayangimu Lu," Balas yang lainnya lalu saling menempelkan gelas dan tertawa. Luhan kembali duduk setelah berpidato singkat dan yang lainnya bertepuk tangan.

"Aku menyayangimu adek ipar," Lay yang duduk disamping Luhan mencium pipi lalu memeluk Luhan erat secara mendadak. Luhan sedikit terkejut lalu tertawa, ia selalu menyukai tingkah laku Lay yang menggemaskan.

"Nado," Luhan membalas pelukan Lay.

"Jadi kapan kau akan membawa pasangan Lu?" Pertanyaan Tao membuat Luhan tersedak makanannya.

"Kwaenchana?" Xiumin menepuk pelan punggung Luhan lalu memberikannya segelas air.

"Yaa! Kenapa tiba-tiba kau bertanya pasanganku hah?" Luhan melirik Tao dan yang dilirik hanya tertawa.

"Aku juga calon kakak iparmu Lu, wajar jika aku ingin melihat adik iparku memiliki pasangan,"Luhan mendengus.

"Kau menikahlah dengan Kris Ge dulu, lalu mengurus pasanganku," Tawa Tao meledak. Tao mengerti jika Luhan mengetahui jika dirinya selalu menolak permintaan Kris untuk menikah karena menurutnya ia masih sangat muda.

"Aku masih muda Lu, nikah muda it's not my style." Kris menggeleng pelan melihat tingkah kekasihnya itu.

"Apakah kau tega melihat Kris berjamur menunggu dirimu," Tao terkekeh.

"Usia kita tidak sejauh itu Lu, lagipula kenapa kamu tidak mencoba kencan buta?" Kali ini Baekhyun yang tersedak.

"Yaa chagi, kwaenchana?" Chanyeol memberikan segelas air.

"Berhentilah menyuruh Luhan kencan buta Tao, it's not his style." Semua tertawa mendengar ucapan Baekhyun.

"Why? Itu bukanlah saran yang buruk," Chen menimpali.

"Dia hanya akan mengacaukannya Chen, dia tidak pintar melakukannya," Balas Chanyeol dan mendapatkan lirikan penuh kekesalan dari Luhan.

"Bagaimana jika kau ku kenalkan dengan teman-temanku Lu? Lagipula bukankah bagus jika dari negara yang sama," Lay mulai mengikuti pembicaraan itu.

"Jangan, dari Korea lebih baik," Ke empat orang yang berasal dari China menoleh arah Suho secara bersamaan.

"Wae? Aku mengatakan pendapatku, aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman dokterku." Xiumin menggeleng.

"Jangan dokter Lu, mereka terlalu sibuk. Bagaimana dengan teman-teman kerjaku?" Suho menoleh ke arah Xiumin dan dibalas senyuman tanpa dosa Xiumin.

"Geumanhae, kenapa kalian membahas tentang pasanganku sih," Keluh Luhan lalu menatap semua teman-temannya secara bergantian.

"Karena kita menyayangimu," Balas Lay lalu tersenyum dan Luhan mendesah pelan.

"Aku baik-baik saja, tidak perlu seperti itu untuk mencarikanku pasangan."

"Tapi hanya kamu yang tidak berpasangan Lu diantara kita," Ingatkan Luhan untuk berterimakasih kepada Xiumin yang mengatakan hal itu.

"Aku tahu, dan aku baik-baik saja."

"Kami yang tidak baik-baik saja Lu," Balas Beakhyun.

"Ahh~ ayolah jangan bahas ini terus menerus," Keluh Luhan lalu mengunyah makanannya.

"Bagaimana jika kita membahas acara tahun baru nanti?" Usul Suho yang dibalas anggukan dari semua orang kecuali Luhan.

"Jadi dimana kita akan merayakan tahun baru?" Chanyeol tampak antusias dengan rencana tahun baru mereka.

"Bagaimana jika makan malam diluar?" Chen memberikan saran.

"Akan sangat ramai, bagaimana di tempatku saja?" Kali ini Suho yang memberi saran.

"Aku akan memasak untuk kalian," Lay tersenyum.

"Sejak kapan kamu bisa masak Lay?" Semua tertawa mendengar godaan Baekhyun.

"Rumahku di Gangnam memiliki halaman, kita akan BBQan saja," Suho tersenyum melihat Lay yang meliriknya kesal.

"Ahh~ aku setuju. Rumah Suho hyung di Gangnam itu luas sekali, ayo kita rayakan disana," Baekhyun menepuk tangannya antusias.

"Kalian akan tetap disini sampai tahun baru kan?" Xiumin bertanya kepada Tao dan Kris.

"Sebenarnya kita belum memiliki rencana jadi kemungkinan iya,"

"Jadi bagaimana? Setuju?" Chanyeol memastikan.

"Setuju~" Baekhyun tersenyum lalu diikuti kata setuju dari yang lainnya kecuali pria manis yang sedari tadi hanya mengunyah makanannya dalam diam.

"Bagaimana denganmu Lu," Luhan memainkan garpunya lalu menoleh ke arah Tao.

"Hnm?"

"Bagaimana denganmu Lu? Kamu akan ikut kan?" Luhan melepas garpunya lalu bersender pada kursi.

"Aku sudah memiliki rencana saat malam tahun baru nanti,"

"Mwo?"

"Kamu memiliki acara sendiri?" Tanya Lay dan dibalas anggukan Luhan.

"Mianhae, aku tidak bisa merayakannya dengan kalian. Bersenang-senanglah," Ucapnya lalu tersenyum.

"Kamu tidak merayakannya sendirian di apartemenmu kan Lu?" Luhan menoleh ke arah Kris.

"Tidak Ge, aku tidak sesedih itu, ayolah~" Luhan meneguk air minumnya.

"Chanyeol, keluarkan alat karokeanmu, kita perlu bersenang-senang," Ucap Luhan lalu mengelap bibirnya.

"Baiklah," Chanyeol beranjak untuk mengambil alat karokean miliknya.

"Mari bersenang-senang," Luhan tersenyum lalu berdiri.

..

..

..

Pria manis itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Jam telah menunjukkan angka 02.16, ia memutuskan pulang ketika teman-temannya memilih menginap di tempat Chanyeol dan Baekhyun. Hampir seluruh teman-temannya mabuk kecuali dirinya dan Suho, beruntung Suho mengantarkan dirinya pulang lewat tengah malam seperti ini. Alasan Luhan tidak ikut mabuk karena Chen dan Baekhyun melarangnya untuk mabuk, sedangkan Suho karena ia memiliki pekerjaan besok walaupun yang lain sedang libur, nyatanya Suho masih bekerja.

Luhan beranjak dari kasurnya, ia belum mengantuk. Kakinya melangkah menuju ruang tamu lalu menyalakan lampu di ruang tamu, Ia membuka gorden di samping pohon natalnya dan berdiri menatap malamnya Seoul yang selalu ramai dari dinding kaca apartemennya. Ia bersender pada dinding kaca dan menatap pohon natalnya yang bewarna putih. Ia memutuskan membeli pohon natal berwarna putih untuk apartemennya , menurutnya akan lebih terasa musim dingin jika pohonnya berwarna putih. Sejujurnya ia tidak pernah merayakan natal selama di China maupun London, ia selalu merayakannya ketika di Korea. Selain karena keluarganya memang tidak merayakan natal, ia tidak ingin merayakan natal sendirian selama di London jadi ia tidak pernah membeli pernak pernik natal satupun.

Diantara teman-temannya hanya Suho lah yang benar-benar merayakan natal, selebihnya tidak. Namun, semua bersuka cita ketika hari itu tiba sama seperti dirinya yang ikut merayakan natal. Sejujurnya, ia tidak berniat membeli pernak-pernik natal untuk apartemennya, namun Kris lah yang menyuruhnya.

"Setidaknya apartemenmu tidak akan sepi Lu," Begitulah menurut Kris dan Luhan hanya mengikutinya.

Lagipula Luhan menyukai acara tukar kado setiap natal tiba dan selalu membuatnya senang melihat ekspresi berbeda yang datang dari teman-temannya saat membuka bungkusan kado. Sama seperti tadi ketika melihat Chanyeol mengerang kesal mendapatkan sepasang kaos kaki tidur di dalam kotak super besar dari Chen dan Tao yang berteriak gembira mendapatkan voucher belanja unlimited dari Suho, natal yang luar biasa. Dan tebak apa yang Luhan dapatkan? Sepasang gantungan rusa manis dari Lay,bahkan Lay tidak bermaksud ingin memberikannya untuk Luhan, kado itu acak dan ternyata Luhan lah yang mendapatkannya. Sedangkan kado Luhan jatuh ke tangan Xiumim, ear warm winter berbentuk kartun baozi itu menemukan pemilik yang menyukai baozi lebih dari apapun, bahkan Xiumin memeluknya erat ketika mengetahui jika kado itu dari Luhan.

Luhan mengambil salah satu kotak yang ia tumpuk di bawah pohon natal. Ia ingat seseorang yang sangat membenci musim dingin tapi selalu menyukai natal. Seseorang yang merayakan natal juga sama seperti Suho. Luhan mendesah lalu meletakkan kotak itu kembali.

"Selamat natal," Gumannya lalu menutup gorden.

..

.

.

"Berhentilah menginap Sehun-ah, kamu memiliki apartemenmu sendiri," Keluh pria dengan kulit yang bisa dikatakan gelap untuk ukuran kulit Korea.

"Yaa! Kau yang menyuruhku ke Korea Kai, tapi kau tidak ingin dikunjungi," Balas Sehun lalu mengambil Koran pagi.

"Aku tahu, tapi bukankah ini keterlaluan? Kamu sudah membeli apartemen mahal tapi kamu lebih sering menginap disini, untuk apa kamu membeli apartemen itu," Kai, pria yang selalu dibuat susah dengan kelakuan Sehun selama di Korea.

"Aku membutuhkannya nanti," Kai mendengus,

"Dan kau noona, berhentilah berkunjung. Kakak ipar akan membunuhku jika ia tahu kau sering kesini selama dia pergi wamil."Perempuan yang ditunjuk Kai hanya mengangkat bahunya.

"Aku sedang hamil Kai, butuh teman,"

"Yaa! Kamu bahkan memiliki pelayan di apartemenmu, lagipula kamu bisa mengunjungi bibi daripada kesini yang berisi dua pria yang tidak mengerti kehamilan sama sekali,"

"Yaa? Kau berani menggunakan "yaa" denganku? Ingin mati?" Kai menjauh,

"Kurangi galakmu noona, aku tidak ingin memiliki keponakan yang galak sepertimu," Reina melempar majalahnya ke arah Kai.

"Jujur padaku, kamu kesini karena ada Sehun kan noona?" Kai menunjuk sosok yang sibuk dengan koran paginya.

"Hmm? Mungkin ya," Kai mendesah.

"Noona, dengar ya, kamu sudah menikah dan sekarang sedang hamil bagaimana mungkin kau masih menyukai pria lain?"

"Jika aku tahu dia akan ke Korea aku tidak akan menikah secepat itu Kai, lagipula jarak umurku dengan suamiku cukup jauh. Bukankah dengan Sehun lebih cocok?" Kai menggeleng mendengar jawaban kakak sepupunya itu.

"Tapi kamu sedang hamil noona,"

"Karena itu aku harus berdekatan dengan Sehun, agar anakku kelak mirip dengannya," Kai mengerang,

"Bagaimana mungkin anakmu mirip Sehun jika sperma yang memasukimu tidak mirip Sehun, jangan bermimpi noona," Reina menggeram lalu melempar bantal sofa ke arah Kai dan pria itu menangkisnya.

"Jangan merusak mimpiku Kim Jongin,"

"Dan jangan banyak bermimpi Kim Reina," Sehun menghembuskan nafas sebal mendengar pertengkaran saudara di depannya.

"Yaa! Bisakah kalian berhenti bertengkar, jangan merusak pagiku jebal," Kai menoleh ke arah Sehun lalu melempar bantalan sofa.

"Kalau begitu pergi dari sini pabboya,"

"Yaa! Jangan melempar Sehun dengan bantal sofa pabbo," Kai menoleh ke arah Reina dengan tatapan kesal.

"Noona, kamu bahkan membela Sehun? Aku adikmu,"

"Jika kau tampan sepertinya akan kubela, bagaimana bisa keluargaku ada yang gelap sepertimu,"

"Jangan bawa-bawa warna kulit!"

"Geumanhaee," Sehun mengerang, telinganya cukup panas sekarang.

"Sehun-ah, bagaimana jika ku ceraikan suamiku setelah aku melahirkan dan setelahnya ayo menikah,"

"Noona, apa kau gila?" Kai menatap Reina tidak percaya.

"Yaa! Kau berani mengataiku gila," Satu bantal melayang.

"Noona, dengar ya. Percuma kau menggoda Sehun dengan berbagai carapun ia tak akan tergoda lalu menikahimu, dia tidak menyukai kaum mu noona, jadi berhentilah berharap." Ucap Kai lalu mengangkat sebelah alisnya. Reina mendesah pelan, ia melupakan fakta itu.

"Ahh~ aku lupa tentang hal itu. Yaa! Sehun-ah bagaimana bisa pria tampan sepertimu menyukai kaum yang sama denganmu? Apakah matamu tidak bisa melihat para gadis cantik yang memujamu secara terang-terangan? Kau tidak tertarik? Bagimana mungkin kau lebih tertarik dengan orang berdada rata sama seperti Kai," Kai menoleh ketika namanya dibawa-bawa lagi.

"Wae? Kau selalu saja membawa-bawa diriku noona,"

"Aku benarkan? Kau juga menyukai kaum yang sama denganmu, berdada rata. Wae? Apakah dada berisi sepertiku tidak menggoda? Gadis-gadis dengan pakaian seksi tidak menggoda kalian? Wae?"

"Molla, aku juga tidak tahu noona, jadi berhentilah bertanya." Keluh Kai lelah dengan pertanyaan kakaknya tentang "keanehan" mereka menurut kakaknya.

"Ahh~ bagaimana aku bisa berhenti bertanya. Aku tidak terima jika semua lelaki tampan seperti Sehun menyukai kaum yang sama, bagimana dengan kaum ku? Mereka tidak akan mendapatkan apa-apa,"

"Bagaimana mungkin kamu mempertanyakan kaummu? Setidaknya kamu telah menikah noona,"

"Karena itu, suamiku tidak setampan dia," Reina menunjuk Sehun yang sibuk dengan ponselnya.

"Yaa, apa jangan-jangan kalian menyukai satu sama lain, bukankah kalian dari kaum yang sama," Ucap Reina kemudian menatap dua pria di depannya.

"MWOO?" Kedua pria itu memandang satu sama lain dengan tatapan jijik.

"Aku tidak menyukai pria hitam seperti dia, aku memang menyukai kaumku tapi dia bukan tipeku sama sekali. Bahkan yang kusukai jauh diatasnya,"Sehun menunjuk Kai.

"Yaa! Aku juga tidak menyukaimu pabbo, walaupun kata noona kau tampan aku tidak tertarik, bagaimana mungkin aku menyukai pria dingin seperti iblis sepertimu. Tipeku itu menggemaskan dengan mata besar," Kai bergidik ngeri dengan perkataan kakaknya.

"Yaa, itu hanya dugaanku saja baguslah kalau kalian tidak menyukai satu sama lain. Setidaknya aku tidak melihat pria dan pria bermesaraan di depanku sekarang," Satu bantal melayang kali ini dari Kai.

"Noona, berhentilah menghayal. Lagipula aku sudah memiliki kekasih dan kau tahu itu." Reina mengangguk.

"Bagimana dengan Sehun? Dia tidak memiliki kekasih?" Kai menoleh ke arah Sehun yang kembali sibuk dengan ponselnya.

"Dia?" Kai menunjuk Sehun.

"Dia sedang diambang putus asa, ditolak cinta pertamanya," Lanjut Kai lalu terkekeh.

"Mwo? pria seperti apa yang berani menolakmu Sehun-ah?"

"Yaa! Aku tidak ditolak, jangan percaya perkataan hitam itu," Balas Sehun lalu melirik Kai.

"Kalau begitu bawa kekasihmu kesini besok ketika malam tahun baru, aku juga ingin bertemu dengannya. Setidaknya aku perlu tahu bagaimana tampangnya dan memastikan dia cocok denganmu," Ucap Reina lalu menatap Sehun.

"Kau sudah pernah bertemu dengannya Reina," Reina membulatkan matanya.

"Naega? Onje?" Ia tampak berpikir lalu menepuk tangannya,

"Ahh~ aku tahu. Pria berambut caramel dengan syal abu-abu waktu di rumah sakit itu? Apakah itu orangnya?" Tanya Reina ketika mengingat kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Reina tidak akan melupakan kejadian itu, dimana Sehun tiba-tiba meninggalkannya dan menarik pria yang hampir menaiki taksi yang berakhir dengan Reina ke rumah sakit seorang diri, betapa kesalnya dia saat itu.

"Hmm." Sehun mengangguk lalu memainkan ponselnya lagi. Kai menoleh ke arah Sehun dan kakaknya secara bergantian.

"Mwoya Ige? Jadi noona sudah pernah bertemu dengannya? Bagaimana? Apakah cocok dengan Sehun? Bahkan aku yang mengetahui namanya hingga saat ini tidak pernah melihat wujudnya," Kai melirik Sehun.

"Aku bertemu dengannya hanya saja tidak melihat wajahnya, pria itu menutup wajahnya denganturtle neck setinggi ini," Reina menunjuk hidungnya.

"Jadi bagaimana bisa aku menilai, tapi sepertinya ia memiliki mata yang bagus," Lanjutnya.

"Kau benar," Ucap Sehun lalu beranjak dari kursinya.

"Kamu mau kemana?" Tanya Reina memandang Sehun yang mengambil coatnya.

"Ada yang perlu aku urus, lagipula si hitam itu tidak menyukai jika aku terlalu lama disini," Jawab Sehun lalu melilit syal.

"Yaa! Siapa yang kau sebut si hitam! Kyungsoo menyukai kulitku,"

"Karena dia kekasihmu pabbo!" Kai melirik kakaknya.

"Kamu akan membawa kekasihmu itu kan ketika malam tahun baru nanti?" Sehun menggeleng.

"Aku tidak akan tahun baru disini, aku telah memiliki rencana. Sampai jumpa," Sehun berlalu meninggalkan kedua saudara itu.

"Yaa! Menurutmu bagaimana sosok orang yang disukai Sehun itu?" Kai menatap kakaknya lalu menggeleng.

"Entahlah, bagaimanapun sosoknya, Sehun pasti sangat mencintainya. Dilihat dari semua perjuangannya sejauh ini, ku rasa pria itu harus menerima Sehun," Reina mengangguk mendengar perkataan Kai.

"Setidaknya kali ini aku setuju denganmu," Kai melirik kakaknya lalu beranjak.

"Yaa! Kau mau kemana,"

"Aku harus bertemu Kyungsoo, dia ingin mencari kado akhir tahun," Balas Kai lalu mengambil coatnya dan meninggalkan Reina seorang diri.

"Lalu buat apa aku kesini pabbo jika kalian meninggalkanku!"

..

..

..

Sosok berkulit putih mendekati pucat itu berjalan cepat melewati lorong-lorong yang cukup ramai dengan beberapa orang yang berkunjung. Seperti biasa ia membawa sebuket mawar putih, ia yakin buket bunga sebelumnya telah layu. Ia tersenyum sepanjang langkahnya, kali ini ia menata rambutnya sama seperti ketika ia di London. Sehun, sosok itu terdiam seperti biasa di depan pintu masuk, menghembuskan nafasnya pelan lalu melangkah masuk. Baru sekitar 3 langkah, ia terhenti. Matanya menatap dua guci putih di ujung ruangan, bukan, bukan kedua guci itu yang membuatnya terhenti tetapi matanya menangkap sesuatu yang berbeda disana. Kakinya melangkah secara perlahan mendekati dua guci putih yang baru dikunjunginya beberapa hari yang lalu ketika natal. Pandangannya tertuju pada buket bunga mawar putih di depan kedua guci orangtuanya, tangannya mengambi buket bunga itu lalu menatapnya. Buket bunga itu terlihat masih sangat baru, ia yakin jika itu bukan buket bunga yang ia bawa beberapa hari yang lalu. Manik matanya menangkap hal lain, sebuah syal berwarna merah muda melingkar di kedua guci putih itu. Ia menyentuh syal merah muda itu, tampak familiar.

.

.

"Tapi Luhan namja eomma, namja tidak pakai syal merah muda," Keluh anak laki-laki berwajah manis itu menolak dipakaikan syal merah muda.

"Tapi eomma yang membuatnya sendiri Luhan, jadi Luhan tidak suka? Kalau begitu eomma buang saja ya," Ucap wanita muda yang menggulung kembali syal merah muda yang ingin diberikan pada Luhan kecil.

"Ahh~ jangan eomma, sayang sekali."Luhan ingin menolak tapi ia tidak bisa melihat syal buatan wanita muda itu dibuang.

"Kalau begitu, apa Luhan mau memakainya?" Luhan kecil nampak berpikir,

"Tapi mengapa punya Sehunnie berwarna merah eomma?" Luhan kecil menunjuk sosok yang sedari tadi memandang dirinya yang menolak menggunakan syal buatan eommanya.

"Ahh~ eomma kehabisan benang merah Luhan sayang, jadi menggunakan yang merah muda. Lagipula Luhan manis menggunakan syal merah muda, benarkan Sehun-ah?" Wanita muda itu menoleh ke arah anaknya meminta dukungan dan Sehun kecil mengangguk mendukung eommanya.

"Benar Xiao Lu, jadi pakailah itu lalu kita main," Luhan kecil mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk pasrah dan wanita muda itu tersenyum senang melilitkan syal merah muda di leher Luhan.

.

.

"Tunggu, Xiao Lu?" Sehun meletakkan kembali buket bunganya dan segera meninggalkan ruangan itu. Kakinya berlari kecil ketika keluar dari bangunan itu, mata elangnya menatap sekitar berharap sosok yang dicarinya berada disana. Lapangan di depan bangunan itu cukup penuh dengan orang-orang yang menghabiskan malam tahun baru menunggu kembang api pertanda tahun berganti disana. Ia melangkah masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang mencari spot untuk duduk menikmati percikan kembang api kecil berpadu dengan tebaran bintang. Manik matanya memperhatikan satu-satu orang yang berada disana, tidak melewatkan satu pun.

"Apa dia sudah pulang?" Sehun hampir menyerah ketika keluar dari kerumunan orang dan tidak berhasil menemukan sosok yang dicari. Namun ia segera tersenyum ketika matanya menangkap sosok berambut caramel yang sedang duduk di pinggir lapangan menatap langit, menjauh dari keramaian. Ia melangkahkan kakinya menuju sosok itu dengan perasaan yang bercampur, perutnya menjadi sakit secara mendadak. Ia berdiri tepat di belakang sosok itu sejauh dua langkah, namun kakinya terasa berat untuk melangkah lagi. Ia memeperhatikan rambut caramelnya yang bergoyang karena angin musim dingin.

"Kau datang?"Sehun membeku, suara itu bertanya padanya kan?

"Sampai kapan kamu akan berdiri disana," Sehun menelan ludahnya dengan susah payah lalu melangkah maju, berdiri di samping Luhan, sosok yang ia cari dari tadi.

"Kamu akan terus berdiri?"Sehun melirik Luhan lalu memposisikan dirinya untuk duduk di samping pria manis itu. Luhan tidak bersuara lagi, begitupun Sehun yang entah mengapa jadi susah membuka mulutnya. Ia melirik Luhan yang sedang memejamkan matanya, merasakan angin menyentuh wajahnya. Sehun menatap buket bungan di tangannya,

"Apakah kamu yang meletakkan buket bunga mawar untuk eomma dan appa Xiao Lu ani Luhan?" Sehun melirik Luhan, menunggu respon dari sosok di sampingnya itu.

"Hmm~"Luhan mengangguk.

"Aku yang meletakkannya," Jawab Luhan.

"Syal juga?" Luhan membuka matanya,

"Hmm~ syal juga," Balasnya, Sehun mendesah lega dalam diam.

"Ternyata kamu masih ingat bunga kesukaan eomma," Ucap Sehun memandang buket bunga mawar putih di tangannya. Luhan menekuk kakinya lalu meletakkan dagunya.

"Bagaimana aku bisa lupa jika setiap berkunjung selalu di ajak merawat taman kecil di apartmenmu? Semuanya berisi mawar putih," Luhan tersenyum mengingatnya.

"Iya, eomma terlalu mencintai mawar-mawar putih itu," Sehun terkekeh.

"Lalu kenapa kamu mengikatkan syal disana?" Luhan memainkan rumput di kakinya.

"Aku mengembalikannya sebagai hadiah natal. Aku rasa eomma dan appa membutuhkan syal itu disana," Balas Luhan.

"Eomma selalu bilang jika aku selalu cocok dengan syal merah muda itu ketika kecil namun, sejujurnya eomma lah yang sangat cocok menggunakannya. Dia wanita cantik kedua setelah mama," Lanjut Luhan.

"Apa yang kamu katakan padanya?" Luhan menoleh ke arah Sehun.

"Kamu ingin tahu?" Sehun mengangguk dan Luhan menatap langit.

"Aku menyapanya lagi untuk pertama kali setelah sekian lama, meminta maaf karena sejak awal aku tak pernah mengunjungi mereka." Luhan mendesah pelan, merasa bersalah karena tidak pernah mengunjungi mereka dari pertama kali ia tahu jika mereka telah tiada.

"Lalu?"

"Lalu? Aku mengatakan bahwa aku merindukan mereka, sangat merindukan mereka," Sehun masih menatap Luhan, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Aku juga bertanya apa mereka bertemu baba disana, aku juga merindukan baba." Manik mata Luhan terus memandang langit malam.

"Dan aku juga mengucapkan terimakasih,"

"Terimakasih? Untuk apa?"

"Terimakasih untuk banyak hal, terimakasih karena telah menyayangiku selama ini, terimakasih karena telah melahirkan anak seperti Sehun sehingga bisa menjadi temanku dari dulu," Luhan menoleh lalu menatap Sehun.

"Dan terimakasih untuk tidak membawa Sehun, karena aku tahu mereka sangat menyayangi bahkan mencintai anaknya tapi terimakasih karena membiarkan Sehun untuk tinggal disini lebih lama, sehingga aku memiliki kesempatan untuk berteman dengannya lebih lama lagi," Luhan tersenyum dan Sehun tersentuh dengan semua kata-kata yang diucapkan Luhan, hatinya menghangat.

"Luhan ani Xiao Lu,"

"Hm?"

"Kamu sudah percaya jika aku Sehun?" Luhan mengangguk.

"Aku selalu percaya jika kamu Sehun,"

"Tapi kenapa waktu itu kamu meninggalkanku?" Luhan tersenyum.

"Semua butuh proses, aku terkejut saat itu, sangat. Tapi semua kembali lagi dengan keyakinan. Ketika aku menggunakan gelang ini," Luhan mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan gelang silver yang melingkar di tangan kanannya.

"Ketika itu pula aku yakin jika Sehun masih ada, dan aku percaya itu. Aku percaya Tuhan mengabulkan doaku," Jawabnya.

"Aku kecewa, aku tahu itu. Tapi aku sudah kecewa selama ini, dan tidak ada gunanya lagi untuk kembali kecewa dan aku putuskan untuk percaya dengan perasaanku Sehunnie," Sehun tersenyum mendengar Luhan memanggil namanya setelah sekian lama.

"Bagaimana jika kamu kecewa lagi karena aku?" Luhan tersenyum, tangannya bergerak menuju rambut Sehun lalu mengacak tatanan rambut itu hingga kembali menjadi poni.

"Aku yakin Sehunnie tidak akan mengecewakanku lagi setelah ini, itu salah satu kepercayaanku,"Sehun menahan tangan Luhan di kepalanya.

"Kamu tidak marah lagi denganku?" Luhan menggeleng,

"Bukankah aku pernah berjanji untuk tidak marah denganmu?" Sehun mengenggam tangan Luhan.

"Gomawo Xiao Lu," Luhan terkekeh. Ia tidak menyangka jika orang yang selama ini ia rindukan telah berada di depannya. Jika diperhatikan, Sehun banyak berubah selain tubuhnya yang semakin tinggi dan wajahnya yang menjadi dewasa, ia juga sempat mengubah warna rambutnya. Tapi, mata Sehun adalah hal yang tidak berubah sejak pertama kali Luhan mengenalnya. Luhan merasa bodoh karena tidak pernah memperhatikan mata itu, hanya merasakan tatapannya tanpa menyadari jika mata itu adalah mata yang sama sejak mereka kecil.

Ia mengusak rambut Sehun, Luhan lebih menyukai rambut hitam Sehun yang berponi, sangat manis. Sehun melirik jam tangannya lalu beranjak,

"Mau kemana?"

"Masih ada waktu sebelum tahun bergenti, ayo kita masuk dulu,"

"Tapi aku sudah masuk, Sehunnie."

"Dan aku belum Xiao Lu, kajja,"Sehun menarik tangan Luhan untuk berdiri lalu membawanya menuju gedung.

Kedua orang itu berdiri di depan dua guci putih yang sekarang terlilit syal merah muda.

"Annyeonghaseyo," Sehun membungkuk diikuti Luhan di sampingnya.

"Eomma, appa, Sehun kembali dan kali ini tidak sendiri," Sehun melirik Luhan di sampingnya.

"Bagaimana rasanya bertemu orang yang kalian suka lebih dari Sehun?" Luhan menyenggol lengan Sehun dan pria itu terkekeh.

"Bahkan sekarang dia sudah berani menyenggol Sehun," Luhan menoleh ke arah Sehun.

"Eomma, appa, terimakasih sudah menguatkan Sehun dan bersabar sampai saat ini."

"Sehun menepati janji, jadi sekarang aku akan menagih hadiah dari kalian,"Luhan menatap Sehun dengan mengambil sesuatu dari balik guci, sebuah kalung berbandul tabung.

"Kalian pernah bilang, aku boleh membukanya jika berhasil menemukan kebahagian, dan sekaranglah waktunya."

"Mwoya?" Luhan tidak mengerti dengan ucapan Sehun.

"Xiao Lu, sinikan gelangmu," Sehun menunjuk tangan kanan Luhan.

"Gelang? Ahh~" Luhan melepas gelangnya.

"Sekarang buka tabung ini dengan kunci yang ada di gelang itu,"

"Maksudmu ini?" Luhan menunjuk bandul gelangnya dan Sehun mengangguk. Luhan memasukkan kunci kecil itu ke dalam tabung lalu memutarnya.

"Ini terbuka," Luhan tersenyum ketika melihat tutup tabung terbuka.

"Kamu bisa membuka yang di leherku Xiao Lu," Luhan menarik keluar kalung Sehun lalu membukanya.

"Ige mwoya?" Luhan menarik keluar gulungan kecil kertas.

"Bacalah," Luhan membuka gulungan kertas dari kalung Sehun.

"Aku menemukannya? Mwo? apa yang kamu temukan,"

"Kamu harus membaca yang satunya Xiao Lu," Luhan membuka gulungan kertas lain yang berasal dari kalung yang Sehun ambil dari balik guci.

"Temukan kebahagianmu Sehun-ah,lalu?" Luhan menatap Sehun tak mengerti.

"Itu pesan dari orangtuaku Xiao Lu," Luhan mengangguk

"Lalu?" Ia bertanya lagi.

"Dan aku sudah menemukannya," Jawab Sehun tersenyum.

"Menemukan kebahagianmu? Kapan?"

"Sekarang,"

"Apa itu?" Sehun menggeleng.

"Lebih tepatnya siapa itu Xiao Lu,"

"Arra.. jadi siapa itu?"

"Kamu," Luhan mengedipkan matanya, bingung.

"Naega?" Sehun mengangguk.

"Kamu kebahagianku Xiao Lu," Balas Sehun lalu tersenyum melihat ekspresi bingung Luhan.

"Jadi kamu masih ingat ketika aku memberikanmu gelang itu sebelum kamu pindah Xiao Lu?" Luhan mengangguk.

"Kedua kalung dan gelang itu pemberian orangtuaku, mereka bilang hanya gelang itu yang bisa membuka kalung ini, dan di setiap kalung dimasukkan pesan yang aku dan orangtuaku inginkan,"

"Orangtuaku menginkan aku untuk mencari kebahagianku dan aku menulis jika aku "menemukannya" sebagai balasan pesan orangtuaku, sebelum kamu pindah gelang itu aku berikan padamu, kamu tau artinya Xiao Lu?" Luhan tampak bingung,

"Maksudmu aku kebahagianmu?" Sehun mengangguk lalu mengusak rambut Luhan.

"Karena bagaimanapun aku harus mencarimu untuk membuka kedua kalung ini dan aku berhasil, aku menemukan kebahagianku sekarang." Hati Luhan menghangat lalu tersenyum,

"Apakah eomma dan appa tau jika gelang ini di tanganku?" Sehun mengangguk

"Tentu saja mereka tahu Xiao Lu, karena itulah mereka mengatakan aku bisa mendapatkan kedua kalungnya jika aku berhasil menemukan kuncinya," Sehun merogoh saku coatnya,

"Dan ini," Ia mengangkat sesuatu.

"Buku ku," Luhan membulatkan matanya ketika melihat buku bersampul tosca di tangan Sehun.

"Bagaimana bisa kamu mendapatkannya Sehunnie?" Sehun tersenyum.

"Bagaimana mungkin kamu meninggalkan ini di London?"

"Ahh~ mian"

"Kwaenchana, lagipula aku sudah membaca semuanya,"

"Mwo? kamu membaca semuanya?" Sehun mengangguk

"Kamu menulis disini dan menganggap itu aku tapi mulai sekarang kamu tidak perlu menggunakannya,"

"Wae?"

"Karena kamu memiliki Oh Sehun yang asli Xiao Lu, bukan sebuah buku lagi. Kamu bisa bercerita apapun yang kau mau mulai sekarang langsung denganku," Ucap Sehun dan entah mengapa mata Luhan terasa panas sekarang.

"Dan yang terakhir, karena aku berhasil mendapatkan kedua kalung ini. Ayo kita tulis pesan yang baru yang berhubungan dengan kita berdua," Sehun mengambil pulpen dari kantung kemejanya lalu membalik kertas miliknya dan menulis sesuatu disana.

"Giliranmu Xiao Lu," Luhan menatap kertasnya lalu menulis sesuatu disana.

"Lalu masukkan ke dalam kalung dan kunci," Luhan juga melakukan hal yang sama dan memakai kalungnya.

"Lalu siapa yang akan membawa gelang ini?" Tanya Luhan. Sehun merangkul bahu Luhan agar mendekat dan pria manis itu sedikit terkejut.

"Eomma, appa, karena aku sudah berhasil jadi aku mengambil kalungnya ya dan sebagai gantinya tolong jaga gelang ini untuk kita," Sehun memberikan kode agar Luhan meletakkan gelangnya.

"Dan mulai sekarang, lindungi kita berdua. Kita menyayangi kalian,"Sehun dan Luhan membungkuk. Sehun memutar tubuh Luhan agar berhadapan dengannya dan mengambil salah satu buket bunga mawar putih.

"Ini untukmu,"

"Ini milik eomma dan appa Sehunnie,"

"Mereka mengatakan padaku untuk memberikanmu satu," Luhan terkekeh mendengar ucapan Sehun lalu ia menerima buket bunga itu.

"Ayo kita segera pergi Sehunnie, sebentar lagi pergantian tahun." Luhan ingin melangkahkan kakinya namun badannya ditahan Sehun.

"Wae?" Sehun tak membalas Luhan, ia mencondongkan badannya dan menatap mata Luhan lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Luhan. Pria manis itu membeku sesaat dengan mata yang membulat sempurna. Sehun tidak menggerakan bibirnya, ia memejamkan matanya merasakan manisnya bibir Luhan yang sangat ia rindukan dan Luhan hanya terdiam menatap mata Sehun yang terpejam.

"HAPPY NEW YEAARRRRRRRRR!" Terdengar suara teriakan orang-orang dari lapangan luar diikuti suara kembang api yang saling bersautan di langit. Sehun melepaskan bibirnya,

"Selamat tahun baru Xiao Lu, saranghae," bisiknya lalu menicum Luhan lagi dan tepat saat itu pertahanan air mata Luhan lepas, pria manis itu menangis bahagia. Luhan mengalungkan tangannya di Leher Sehun dan memejamkan matanya lalu membalas ciuman Sehun di saksikan kedua orangtua Sehun.

..

.

.

Pria manis itu melenguh kuat ketika Sehun menghisap kuat lehernya, entah siapa yang mulai, yang jelas kondisi mereka berdua sudah jauh dari kata rapi. Luhan sudah terbaring pasrah tanpa sehelai kainpun, sedangkan pria di atasnya hanya menggunakan boxer yang tertinggal di tubuh sekarang. Pakaian mereka telah berserakan di lantai kamar Sehun. Pria tampan itu menggeram ketika dengan sengaja paha Luhan menyentuh juniornya, ia menghisap kuat leher Luhan dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan disana. Tangan kirinya menuju nipple Luhan lalu menarinya dengan gemas,

"Akhhhhh Sehunnie~" Luhan mendongak semakin mempermudah Sehun untuk membuat tanda kepemilikan lebih banyak disana.

"Teruss sebut namakuu Xiao Lu," Bisiknya lalu menjilat telinga kanan Luhan. Peluh sudah membasahi Luha bahkan sebelum mereka melakukan permainan utama, Sehun selalu berhasil membuat sang pria manis berkeringat.

"Sehunnieehhhhhh….ahh jebaalll~" Luhan memejamkan matanya ketika jari Sehun terus bermain di nipplenya. Sehun menurunkan kepalanya dan langsung menjilat nipple kanan Luhan ketika ia melihat nipple itu mengacung.

"Akhhhhhhh~"Jari-jari Luhan meremas rambut Sehun. Tangan kanan Sehun beralih menuju pusat tubuh Luhan lalu meremasnya.

"Yaaaaaghhhhhhhhh"Luhan menjerit merasakan tangan Sehun yang bermain di juniornya.

"Kamu menyukainya Xiao Lu?" Sehun menatap wajah Luhan yang memerah sempurna.

"Aku benar-benar tak tahan," Sehun membalik tubuh Luhan lalu menarik pinggulnya tinggi memperlihatkan hole Luhan yang berkedut gemas. Ia menjilat jari telunjuknya lalu memasukkan jari itu ke dalam hole Luhan.

"Akhhhh appo" Luhan merintih ketika merasakan jari Sehun di holenya. Tangannya meremas seprai. Sehun terus menggerakkan jari telunjuknya lalu menambahkan dengan jari tengahnya.

"Yaaaakhhhhhh" Luhan mengigit bibirnya. Pria tampan itu melepas boxernya dengan tangan kiri lalu mengocok juniornya, bersiap.

"Nggghhhhhh~" Sehun menggeram.

"Akan aku lakukan sekarang Xiao Lu, kamu bisa berteriak jika sakit," Ucap Sehun lalu mempersiapkan junirnya di depan hole Luhan. Dengan cepat Sehun mendorong masuk juniornya tanpa aba-aba.

"AAAAKKKHHHHHHHHHHH APPPOOOOO SEHUNNIEEEEH~" Luhan berteriak lalu semakin kencang meremas seprainya.

"Akhh~ mian Xiao Lu," Sehun mengecup punggung Luhan ketika ia berhasil dengan tugasnya. Luhan menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat.

Bergeraklah Sehunnie," Sehun tersenyum mendengar perkataan Luhan. Dengan pelan ia mulai menggerakkan pinggulnya. Sehun memejamkan matanya ketika juniornya dijepit dindin hole Luhan.

"Akhh~ kamu sang-at ketathhhh Xiao Luuu~" Tubuh Luhan terguncang kedepan ketika Sehun menusuk juniornya. Sehun mengarahkan tangan kirinya menuju bibir Luhan.

"Hisapphhhh," Bibir Luhan terbuka lalu menghisap jari telunjuk dan tengah milik Sehun. Sehun menarik keluar jarinya lalu menggeser pinggul Luhan sehingga kini mereka berdua berhadapan dengan cermin yang besar.

"Hisaaphh" Lagi Luhan mulai menghisap jari-jari Sehun.

"Kamuu bikkh akhh~ bisa liat kedepan Xiao Lu,"

"Sangat Seksihhh akhh~" Luhan mengangkat kepalanya dan terkejut dengan bayangan tubuhnya di cermin sekarang.

Posisi pinggulnya yang lebih tinggi dari tubuh bagian depannya terlihat. Tanda kepemilikan yang ditinggalkan Sehun di tubuhnya dan jangan lupakan bayangan Sehun yang sedang menggeram di belakangnya dengan pinggul yang terus bergoyang, satu lagi, posisi dirinya yang sedang menghisap jari Sehun. Sungguh pemandangan tubuhnya saat ini membuatnya sangat malu dan merona secara bersamaan, Luhan menundukkan wajahnya.

"Janghhan menundukhh Xiao Lu, terus lihat cermin itu," Perintah Sehun dan Luhan mengangkat wajahnya lagi. Saliva yang terus keluar dari mulutnya benar-benar membuat penampilannya seperti pecandu seks kelas berat.

"Aku suka dirimu yang merona Xiao Lu, sangat seksi." Luhan tidak menjawab, bibirnya sibuk menghisap jari-jari panjang Sehun.

"Akhhhhh." Luhan mendongakkan wajahnya ketika Sehun menumbuk keras prostatnya dan Sehun menyukai ekspresi Luhan yang terlihat jelas di cermin.

"Kau menyukainya? Akan kuberikan lagi"

"Akhhhhhhh" Lagi, Luhan menjerit tertahan karena jari-jari Sehun di mulutnya. Tangan kanan Sehun meraba pelan pinggul Luhan lalu terus ke atas hingga menyentuh nipple Luhan.

"Ngggghhhhhh~" Luhan bergerak tidak nyaman ketika Sehun menyentuh nipplenya.

"Andweehhhhhh Sehunnieehhhh" Ia kesusahan dengan jari-jari Sehun. Dan Sehun tidak peduli, dengan gemas ia menarik nipple Luhan ke bawah,

"Yaaaaakhhhhhhhhhhhhh~" Luhan mengeluarkan orgasme pertamanya lalu menjatuhkan dirinya dengan sigap Sehun menahan pinggul Luhan.

"Kamu terlalu cepat Xiao Lu ngghh~" Sehun terus menggoyangkan pinggulnya. Dengan cepat ia membalik tubuh Luhan yang lemas.

"Akhh..akhhh..biarkan akh aku istirahat nghhh~" Sehun menggeleng, wajahnya penuh dengan peluh.

"Bertahan sebentar laghii Xiao Luuuh~" Pria tampan itu menekuk kedua lutut Luhan dan terus menumbuk prostat Luhan sehingga pria manis di bawahnya hanya mendesah terus menerus. Tangan kiri Sehun menahan kedua lutut Luhan dan tangan kanannya mulai bergerak ke arah junior Luhan yang melemah, ia mengocoknya kuat.

"Akhhhh jangahnnn Sehunieehhh~" Luhan menggeleng ketika Sehun mulai mengocok juniornya lagi namun Sehun tak meresponnya.

"Terussshh Sehunnieeehhhhhh akhhhhh akkhhhhhh." Luhan meracau, ia memejamkan matanya. Sehun menundukkan tubuhnya yang terus bergoyang, wajahnya mendekati dada Luhan.

"Akkkhhhhh andweehhh~" Luhan membuka matanya ketika merasa sesuatu yang basah menyentuh nipplenya dan ia menemukan kepala Sehun yang menunduk di dadanya.

"Jangaanhhh dijilaathhhh akkhh" Pria berambut caramel itu meremas kuat rambut Sehun ia mengeratkan dinding holenya ketika merasa junior Sehun terus membesar.

"Akhhhhh jangan dijepit," Sehun meringis namun terus bergoyang, sebentar lagi Sehun akan orgasme.

"Sedikittthhh lagiiiii Sehuniiieehh," Jerit Luhan merasa dirinya akan orgasme yang kedua kali.

"Bersamaaaahh" Sehun terus menggoyangkan pinggulnya lalu mengigit pelan nipple Luhan.

"Akkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhh" Luhan menjerit diikuti orgasme keduanyaa

"Akhhhhhhh" disusul dengan ledakan sperma Sehun di holenya. Tubuh Sehun ambruk menimpa Luhan dan pria manis itu hanya diam merasakan orgasmenya.

"Kamu lelah?" Sehun membuka suaranya ketika masa-masa orgasmenya telah selesai dan Luhan mengangguk.

"Tapi aku belum," Luhan melotot lalu memukul bahu Sehun.

"Yaa!" Sehun terkekeh mendengar suara Luhan. Pria tampan di berguling ke samping kiri Luhan, melepas kontak mereka.

"Sssh" Luhan berdesis ketika merasa holenya kosong, ia dapat merasakan cairan sperma Sehun yang mengalir keluar. Luhan bergerak ingin turun dari kasur namun lengan Sehun menahan perutnya.

"Jangan pergi, besok saja membersihkannya," Ucap pria tampan itu lalu menarik selimut setinggi perutnya dan Luhan hanya mengikuti perkataan Sehun.

Lengan pria tampan itu melingkar di perut Luhan dengan erat, sesekali ia mengecup punggung Luhan yang terbuka. Sedangkan Luhan sedang resah dengan pikirannya,

"Hmm.. Sehunnie?"

"Hm?" Ada banyak hal yang ingin Luhan tanyakan pada sosok yang dipunggunginnya, namun ia memutuskan untuk tidak membuka mulutnya.

"Ani," Luhan menggeleng, mencoba mengabaikan pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Sehun menatap punggung Luhan lalu menarik pria manis itu lebih dalam ke pelukannya.

"Bertanyalah jika ingin bertanya, aku akan menjawab semuanya," Ucap Sehun, seperti mengerti keinginan Luhan.

"Semuanya?"

"Ya, semuanya," Luhan menggeleng,

"Aku takut kamu merasa tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaanku Sehunnie," Sehun terkekeh lalu mengusap perut Luhan.

"Kwaenchana, kenapa aku harus merasa tidak nyaman? Bertanyalah," Luhan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Sehun.

"Benar-benar semuanya?" Sehun mengangguk.

"Kenapa kamu yakin sekali akan menjawab semua pertanyaanku?" Sehun mencubit hidung Luhan gemas.

"Karena tidak ada yang perlu di sembunyikan darimu Xiao Lu, aku akan menjawab semuanya, semua pertanyaan untukku," Luhan tersenyum.

"Kalau begitu aku akan mulai bertanya," Sehun mengangguk menunggu pertanyaan dari Luhan,

"Pertanyaan pertama, tentang bekas luka ini," Jari-jari Luhan bergerak di atas dadanya.

"Apa ini karena kecelakaan itu?" Sehun menatap Luhan yang sedang memperhatikan bekas lukanya dengan alis terangkat satu, pertanyaan pertama Luhan sangat ringan berbeda dengan ekspetasinya.

"Iya, bekas luka itu karena kecelakaan bersama orangtuaku," Luhan mengangguk paham lalu jarinya bergerak ke bawah dagu Sehun,

"Ini juga?" Sehun menggeleng.

"Bekas itu karena kamu Xiao Lu," Luhan membulatkan matanya lalu medongakkan kepalanya, menatap mata Sehun.

"Naega? Wae?"

"Karena aku mengajarimu bersepeda," Bibir Luhan terbuka membentuk "o" kecil, lalu wajahnya bersemu ketika kenangan masa kecilnya terlintas di kepalanya. Ia ingat bagaimana Sehun mengejarnya yang tidak bisa mengerem sepedanya dengan baik lalu berakhir dengan terjatuh bersama di aspal, Sehun mendapat jaitan di bawah dagunya dan Luhan di bawah bibirnya. Ia juga ingat bagaimana ia terus menerus menangis karena takut Sehun akan marah dengannya, namun kenyataannya Sehun bahkan tidak membahas masalah sepeda itu lagi dan terus menjadi guru bersepeda Luhan.

"Ahh~ karena itu, aku ingat, mian Sehunnie," Ucapnya lalu mengusap pelan dagu Sehun dan pria itu hanya terkekeh melihat ekspesi Luhan yang terlihat bersalah.

"No problem, lagipula itu sudah sangat lama dan aku senang bisa mengajarimu bersepeda," Balas Sehun lalu mengusap bekas luka di bawah bibir Luhan.

"Sayang sekali bibir ini pernah terluka," Lanjutnya dan Luhan hanya tersenyum mendengarnya.

"Apa ada bekas luka yang lain karena kecelakaan itu?"

"Ada," Sehun menunjukkan jari-jari di tangan kirinya kepada Luhan, reflek tangan Luhan menyentuh jari-jari Sehun.

"Ini?" Tanya Luhan dan Sehun mengangguk, mata rusa itu menatap jari-jari Sehun dan terlihat beberapa bekas luka yang tidak hilang disana, ia mengusapnya. Bahkan ia tidak sadar jika selama ini Sehun memiliki bekas luka di jari-jarinya.

"Ada lagi?" Sehun menggeleng.

"Hampir semua bekas lukaku menghilang ketika aku semakin tumbuh, tapi entah kenapa bekas luka di bagian dada atas dan jari-jari itu tidak menghilang," Luhan mendesah, ia mengerti jika sebenarnya Sehun memiliki banyak sekali bekas luka namun telah menghilang, entah mengapa ia merasa bersyukur tidak melihat bekas luka yang lebih banyak di tubuh Sehun saat ini.

"Sehunnie, berjanjilah satu hal padaku,"

"Janji? Apa?"

"Jangan pernah terluka atau memiliki bekas luka lain lagi setelah ini, karena aku tidak akan sanggup melihatnya, berjanjilah," Sehun tersenyum dengan lebar lalu mengangguk.

"Aku berjanji,"Perkataan Sehun membuat pria manis itu cukup lega, dan untuk Sehun, janji yang ia buat bersama Luhan menjadikan dirinya harus lebih berhati-hati lagi setelah ini.

"Pertanyaan kedua,"

"Siapa wanita yang bersamamu ketika di rumah sakit saat itu?" Luhan menatap mata Sehun dan sebaliknya.

"Kamu cemburu?" Luhan mengalihkan pandangannya,

"Ani," Sehun terkekeh,

"Dia Kim Reina, sepupu dari teman lamaku Kim Jongin atau Kai. Mereka berdua pernah tinggal di Amerika, dan aku mengenalnya, ceritanya cukup panjang tentang bagaimana aku bisa dekat dengan mereka berdua tapi Kai banyak membantuku sejauh ini. Sejujurnya, aku hampir melupakan Reina karena aku lebih banyak berkomunikasi dengan Kai, dan beberapa bulan yang lalu Reina mengubungiku lagi." Luhan mengangguk,

"Ia hamil?" Sehun mengangguk,

"Ia telah menikah tahun lalu, dan alasan mengapa aku menemaninya ke rumah sakit waktu itu, karena ia meminta sebagai ganti aku yang tidak hadir saat pernikahannya."

"Aku kira ia menyukaimu Sehunnie," Sehun tertawa mendengar perkataan Luhan.

"Apa aku narsis jika mengatakan hampir semua wanita menyukaiku?" Luhan memasang ekspresi aneh,

"Aku tidak bisa bohong mengatakan jika Reina tak menyukaiku jika kenyataannya ia menyukaiku Xiao Lu. Bahkan ia mengatakan ingin menceraikan suaminya dan menikahiku," Luhan melotot mendengarnya, dan Sehun menyukai ekspresi itu.

"Tapi tidak ada alasan aku menerima ajakan gilanya untuk menikah kan?"

"Wae?" Kali ini suara Luhan terdengar kesal, dan Sehun mengulum senyumnya.

"Karena calon pengantinku sedang bersamaku saat ini, jadi tidak ada alasan aku menikahi orang lain Xiao Lu," Luhan bersemu mendengarnya lalu mencubit gemas perut Sehun.

"Wae? Kamu tidak ingin menikah denganku?" Tanya Sehun membuat Luhan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Sehun.

"Bukankah ini terlalu cepat untuk membahas pernikahan?" Jari-jari Luhan memainkan rambut hitam Sehun.

"Aku tidak bisa mengulur waktu lagi Xiao Lu, sudah terlalu banyak waktu yang terbuang selama ini," Luhan tersenyum.

"Pertanyaan ketiga," Luhan mengalihkan pembicaraan.

"Mwo?" Jari-jari Luhan masih bermain di rambut Sehun.

"Apa kamu masih memiliki trauma karena kecelakaan itu?" Luhan bertanya dengan nada rendah, mengkhawatirkan perasaan Sehun dan pria tampan itu menggeleng pelan.

"Aku memiliki trauma namun sudah lama menghilang, cukup berat di awal tapi semuanya berhasil ku selesaikan Xiao Lu," Luhan terharu, reflek ia menepuk pelan punggung Sehun.

"Aku tahu rasanya," Balas Luhan pelan. Pernah merasakan kehilangan seseorang yang disayang dan dicinta membuatnya mengerti sakitnya, dan bersyukur salah satu orang itu kembali padanya.

"Aku merindukan baba Sehunnie,"Sehun mengangguk.

"Secepatnya kita akan mengunjungi baba Xiao Lu,"

"Pertanyaan selanjutnya?" Tanya Sehun dan Luhan menggeleng.

"Tidak ada pertanyaan selanjutnya," Pria tampan itu mengernyit.

"Eobseo?"

"Hm" Sehun menggeser kepala Luhan agar berhadapan dengannya lalu menatap pria manis di depannya.
"Hanya tiga pertanyaan?" Luhan mengangguk,

"Kamu tidak ingin bertanya lagi?" Luhan menggeleng,

"Kamu tidak penasaran dengan kehidupan lamaku? Masa kecilku setelah kecelakaan? Ataupun tentang siapa orangtua angkatku sekarang?" Luhan menggeleng lalu menangkup wajah Sehun,

"Aku tidak perlu mengetahui tentang masa lalu mu karena itu semua sudah lewat Sehunnie, dan tentang orangtuamu, aku tidak ingin terburu-buru untuk mengetahui semuanya dengan cepat. Kamu bisa mengenalkan aku dengan mereka secara pelan-pelan." Sehun tersenyum mendengar perkataan Luhan, dengan cepat ia menarik dagu Luhan lalu mengecup bibir manis itu.

"Gomawo Xiao Lu," Mereka berdua tersenyum.

"Ah ya," Luhan teringat sesuatu, ia memutar badannya lalu merunduk ke lantai, mengambil sesuatu dari kantung coatnya.

"Mwo?" Luhan kembali menghadap Sehun lalu memberikan sesuatu kepada pria itu.

"Gantungan rusa?" Luhan mengangguk.

"Itu hadiah natal dariku, couple" Balas Luhan lalu menunjukkan miliknya dan Sehun hanya terkekeh.

"Arra.. gomawo," Sehun mengecup dahi Luhan.

.

.

.

Pria berambut caramel itu bergelung dalam tidurnya lalu mengerjapkan matanya, merasakan jika waktu telah berganti menjadi pagi hari. Ia menoleh ke samping kiri, namun sisi itu kosong tanpa sosok yang menemaninya tidur semalam. Pria manis itu mengambil bathrobe yang entah kapan sudah terlipat rapi di atas nakas, ia memakainya lalu turun dan berjalan menuju kamar mandi. Beberapa belas menit kemudian sosok itu keluar dengan bathrobe yang tersimpul rapi dan rambut yang sedikit basah, kakinya melangkah menuju keluar kamar tidur. Luhan memilih untuk berkeliling apartemen Sehun untuk menemukan si pemilik, sesekali mata rusanya terlihat membulat mengagumi isi apartemen Sehun dan membandingkan dengan apartemen Sehun yang berada di London, secara keseluruhan Luhan menangkap jika Sehun memang menyukai modern style untuk apartemennya. Ia terus melangkah mengitari apartemen Sehun dan juga tidak lupa membuka beberapa ruangan menebak apakah Sehun berada disana. Jangan salahkan Luhan yang begitu penasaran dengan isi apartemen Sehun, bahkan ketika semalam Luhan sampai, ia tidak sempat melihat bagaimana keadaan apartemen Sehun yang baru. Yang ia ingat, Luhan langsung ditarik menuju kamar tidur tanpa diberi kesempatan berkeliling.

"Sehunnie?"Luhan membuka ruangan terakhir dan hasilnya nihil, Sehun tidak berada di ruangan itu sama dengan ruangan-ruangan sebelumnya.

"Pergi kemana dia?" Gumannya lalu melangkah menuju dapur. Seketika bibirnya terangkat ke atas ketika mendapati meja makan yang telah berisi sarapannya dan selembar note,

"Xiao Lu, aku memiliki keperluan di luar saat ini, jadi jangan lupa habiskan sarapanmu karena hanya itu yang dapat ku buat dengan cepat. Sampai bertemu nanti siang"- Sehunnie.

Luhan menarik bibirnya lebih tinggi hingga menghilangkan matanya ketika membaca pesan yang tertulis untuknya lalu melirik sarapan miliknya, sepiring sandwich.

"Gomawo Sehunnie," Pria itu manarik kursi lalu duduk dengan tenang,

"Selamat makan," Ia mengambil gigitan besar.

.

"Ah~ kamu pulang," Luhan tersenyum ketika melihat pintu kamar terbuka dan sosok Sehun melangkah masuk.

"Aku kira kamu sedang tidur Xiao Lu," Sehun mendekati Luhan lalu mengusak rambut caramel itu.

"Aku sedang ingin membaca buku di kamar," Sehun mengangguk.

"Apa keperluanmu sudah selesai?" Sehun mengangguk lagi.

"Apa kamu sudah makan siang?" Luhan menggeleng,

"Aku menunggumu," Pria tampan itu tersenyum,

"Kalau begitu tunggu disini sebentar, lalu kita makan siang," Sehun meninggalkan Luhan dengan ekspresi bingungnya. Beberapa saat kemudian Luhan melihat kepala Sehun yang muncul di balik pintu.

"Aku tahu ini sudah telat untuk memberikan kado natal, tapi semoga kamu suka Xiao Lu," Sehun mendorong pintu lalu melangkah masuk dan saat itu juga Luhan menjerit tertahan,

"VIVI!"Luhan merentangkan tangannya lalu menerima Vivi di pelukannya.

"Ahh~ aku sangat merindukanmu," Pria manis itu terus memeluk anjing berbulu putih di tangannya.

"Bagaimana bisa?" Tanya Luhan lalu menatap Sehun dan yang ditatap hanya menggedikkan bahunya.

"Apapun bisa kulakukan untukmu Xiao Lu, jangan lupakan itu," Luhan memutar matanya lalu terkekeh.

"Arraseo, apapun?"Pria manis itu tersenyum ke arah Vivi

"Hm apapun, termasuk mengunjungi babamu besok," Luhan menoleh ke arah Sehun dengan tampang terkejut.

"Mengunjungi baba? Besok?" Sehun mengangguk.

"Jadi setelah makan siang kita harus segera menyiapkan perlengkapan untuk berpergian,"

"Tunggu, bukannya ini terlalu cepat?" Sehun menggeleng.

"Ini waktu yang pas, pertama karena aku belum pernah mengunjungi babamu dan kedua karena aku perlu ijin untuk menikahimu dua hari lagi,"

"MWO?" Luhan sangat terkejut dengan perkataan Sehun.

"Menikah? Dua hari lagi? Apa kamu sehat Sehunnie?"

"Sangat sehat, wae?"

"Ani, kamu bercanda kan tentang pernikahan?" Sehun menggeleng,

"Kapan aku bercanda tentang pernikahan?" Luhan menatap Sehun tidak percaya.

"Itu terlalu cepat Sehunnie, bahkan kita belum menyiapkan apapun,"

"Apa yang perlu disiapkan?"

"Banyak hal,"

"Contohnya?" Sehun menatap Luhan,

"Baju pernikahan?"

"Check,"

"Tempat pernikahan?"

"Check,"

"Makanan?"

"Check,"

"Undangan?"

"Check,"

"Pesta?"

"Check,check,check," Balas Sehun lalu terkekeh,

"Kamu serius sudah menyiapkan itu semua?" Sehun mengangguk,

"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Xiao Lu, semua sudah beres. Hanya perlu kehadiranmu dan aku,"

"Dimana kita akan melakukan upacara?"

"Hawaii," Jawab Sehun singkat,

"Hawaii? For real?"

"Hmm, bukannya impianmu melakukan upacara pernikahan dengan pantai sebagai latarnya?" Luhan menutup mulutnya, ini terlalu mendadak untuknya.

"Lalu bagaimana dengan keluargaku? Teman-temanku?"

"Semuanya sudah di urus Xiao Lu, mereka semua akan berangkat besok, tidak tersisa dan semua ditanggung aku," Luhan memeluk Vivi semakin erat.

"Karena dari itu besok kita akan ke China untuk mengunjungi babamu dan meminta ijinnya lalu ke Hawaii dan melakukan upacara pernikahan, mereka menunggu kita Xiao Lu," Sehun mengeluarkan sesuatu dari balik tubuhnya, tiket untuk mereka berdua. Pijakan Luhan melemah, ia mendudukan dirinya dipinggir kasur lalu menatap lembaran tiket di tangan Sehun.

"Jadi ini sungguhan?"

"Aku sudah bilang jika ini sungguhan Xiao Lu," Luhan menggeleng,

"Tiba-tiba aku merasa mual," Sehun terkekeh lalu mengeluarkan kotak berwarna dongker dari sakunya dan menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Luhan yang sedang duduk dipinggir kasur dengan ekspresi bingungnya.

"Kamu tau Xiao Lu," Sehun membuka kotak itu,

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri" Mengeluarkan isinya,

"Untuk tidak akan melepaskan kamu lagi, apapun alasannya," Sehun memasang sesuatu di tangan kanan Luhan. Pria manis yang dari awal memperhatikan gerakan Sehun lalu menatap sesuatu di tangan kanannya. Sebuah panthère de cartier bracelet white gold yang telah terpasang manis di tangannya. Gelang mahal itu sangat pas di pergelangan tangan Luhan, gelang dengan kepala panthere yang cantik dan dipenuhi berlian serta batu emerald yang indah.

"Tunggu," Luhan menahan bahu Sehun. Rasanya masih seperti bermimpi dengan begitu cepat saat ini.

"Wae?"

"Tolong pukul aku sekarang, mimpi ini terlalu berlebihan," Sehun tergelak dengan ekspresi Luhan, ia meraih kerah depan Luhan lalu menariknya maju dan mengecup bibir merah milik Luhan.

"Aku tidak mungkin memukulmu Xiao Lu, jadi lebih baik aku melakukan ini terus menerus agar kamu sadar jika ini bukan mimipi," Balas Sehun lalu mengecup bibir Luhan tanpa jeda.

"Yaa hentikan, Vivi terjepit," Keduanya tertawa.

"Jadi bagaimana?" Sehun mentap Luhan.

"Apanya?" Sehun mendesah pelan lalu menarik tangan Luhan dan menggenggamnya.

"Luhan, mau kah kamu mengganti namamu menjadi Oh Luhan dan menjadi pasanganku yang sah?" Mata Luhan memanas, ia menatap mata Sehun yang menatapnya dalam.

"Kamu yakin pilihanmu Sehunnie?" Sehun mengangguk mantap,

"Sangat, tidak berubah dari pertama dan tidak akan berubah sampai nanti," Luhan tersenyum.

"Kalau kamu yakin dengan pilihanmu, aku juga akan yakin dengan pilihanku," Sehun menunggu lanjutan dari Luhan.

"Yakin untuk mengganti namaku menjadi Oh Luhan dan menjadi pasanganmu yang sah," Sehun tersenyum dengan lebar lalu berdiri dan memeluk Luhan yang terduduk di pinggir kasur.

"Tapi dengan satu syarat," Ucap Luhan

"Apa?"

"Kita harus mendapatkan ijin dari baba juga," Sehun mengangguk di perpotongan leher Luhan.

"Secepatnya Xiao Lu, aku yakin baba mengijinkan kita," Luhan terkekeh lalu melingkarkan satu tangannya di pinggang Sehun.

"Vivi terjepit," Bisik Luhan.

"Dia tidak akan marah karena pemiliknya sedang bahagia sekarang," Keduanya tertawa.

..

..

..

Luhan menatap Sehun di depannya dengan perasaan campur aduk, beberapa menit yang lalu dirinya dan Sehun resmi mengikrarkan janji suci untuk menjadi pasangan yang saling melengkapi setiap saat dan menjalani hidup bersama dengan penuh kebahagiaan di depan semua orang yang hadir saat itu, hanya tinggal melengkapi semuanya dengan kegiatan akhir dan mereka resmi menjadi pasangan yang sah. Namun, sekarang jantung Luhan seperti di pompa dengan kuat, penampilan Sehun sepenuhnya membuat Luhan seperti itu. Sehun sangat tampan dengan setelan jas abu-abu dengan dasi dan rompi silver di dalamnya sebagai pelengkap. Rambut hitam milik Sehun dibiarkan turun menutupi dahinya, itu keinginan Luhan membuat pria itu semakin terlihat sempurna. Sedangkan Luhan terlihat sangat manis dengan tuksedo putih lengkap dengan bow tie berwarna hitam dan rambut caramel berponi miliknya menambah kesan manis dan menggemaskan. Sehun menatap mata Luhan yang terlihat gugup dan semakin gugup ketika mendekati kegiatan ini dalam upacara itu.

"Jangan gugup," Bisik Sehun pelan ketika mereka berhadapan.

"Bagaimana bisa? Semua orang melihat kita." Balas Luhan dan Sehun tersenyum.

"Kalau begitu cukup lihat aku dan kamu tidak akan gugup Xiao Lu," Luhan mendengus pelan.

"Aku semakin gugup jika melihatmu," Sehun terkekeh.

"Apa aku tampan?" Goda Sehun dan Luhan hanya mengalihkan matanya yang sukses membuat Sehun ingin mencubit wajah pria di depannya.

"Aku anggap itu jawaban dari "iya" Xiao Lu," Iringan musik terdengar pelan semakin mendekati kegiatan inti, bertukar cincin. Luhan sempat melirik sekilas ke arah pembawa cincin lalu tersenyum walaupun dadanya semakin berdegup dengan kuat. Terlihat seekor anjing berbulu putih melangkah mendekati pasangan Sehun-Luhan diikuti pasangan sahabatnya Baekhyun-Chanyeol yang mengiringi anjing itu, Vivi.

Vivi menggunakan pakaian resmi dengan sebuah kotak beludru di atas punggungnya dan semakin mendekati pasangan yang tengah menunggu kedatangannya dengan perasaan bercampur aduk terutama sang pria manis. Anjing berbuli putih itu terus melangkah mengikuti jalur yang telah disiapkan, jalur yang sama ketika Luhan masuk hingga akhirnya kaki-kaki kecil itu berhenti melangkah tepat di samping kaki-kaki Luhan dan Sehun diikuti pasangan Chanyeol dan Baekhyun yang berhenti dan mengangkat Vivi.

"Hiduplah dengan bahagian kalian berdua," Ucap pria bertumbuh tinggi, Chanyeol.

"Aku menyayangi kalian berdua, sangat. Chukkae," Kali ini pria imut dengan eyeliner yang berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di depan sahabat-sahabatnya. Keduanya mengangkat Vivi dan dengan sigap Sehun membuka ikatan pita yang melingkari tubuh Vivi lalu mengambil kotak beludru di atasnya.

"Kalian yang terbaik, gomawo," Sehun tersenyum.

"Setelah ini kita harus berbicara Baekkie," Luhan menatap Baekhyun dengan ekspresi menuntut banyak jawaban dan Baekhyun hanya terkekeh.

"Selesaikan dulu upacaramu Lu," Baekhyun dan Chanyeolpun berbalik dengan membawa Vivi bersama mereka, meninggalkan pasangan Sehun-Luhan.

"Kalian bisa melakukan pertukaran cincin sekarang," Ucap pendeta dan dibalas anggukan oleh Sehun. Pria tampan itu dengan pelan membuka kotak beludrunya,

"Xiao Lu,"

"Hm?"

"Aku tahu mungkin ini mendadak untukmu,"

"Sangat Sehunnie," Balas Luhan dan Sehun tersenyum.

"Tapi aku sangat bahagia sekarang," Sehun menarik nafasnya.

"Karena kamu memaafkanku, percaya denganku, menerimaku lagi di kehidupannmu," Sehun mengambil salah satu cincin.

"Dan mempercayakan aku untuk menjadi pasanganmu untuk terus menjagamu dan bersamamu sampai maut memisahkan," Pria tampan itu memasangkan cincin di jari manis Luhan.

"Sehunnie,"

"Hm?"

"Kamu tahu semua ini mungkin bisa membuatku terkena penyakit jantung kan?" Sehun terkekeh.

"Tapi aku sangat bersyukur,"

"Bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita lagi sehingga aku bisa memaafkanmu, percaya dengamu, dan menerimamu lagi di kehidupanku," Luhan mengambil cincin lainnya.

"Dan mempercayakanmu untuk menjadi pasanganku untuk terus menjagaku dan bersamaku sampai maut memisahkan," Pria manis itu memasangkan cincinnya di jari manis Sehun dan dada Sehun menghangat. Cincin white-gold dari cartier itu melingkar sempurna di jari manis masing-masing, melengkapi upacara pernikahan mereka. Sehun melingkarkan tangannya di pinging Luhan lalu menariknya maju dan dengan sekejap bibir pria tampan itu berada di atas bibir pria berambut caramel itu diikuti sorakan dari para tamu dan ekspresi terkejut dari Luhan. Ciuman manis yang dilengkapi dengan latar belakang pantai Hawaii di resort itu walaupun belum memasuki musim panas, namun suasana hangat terasa di upacara pernikahan keduanya. Ciuman mereka terlepas, manik mata mereka bertemu lalu keduanya tersenyum,

"Terimakasih sudah membuat pernikahan impianku menjadi nyata," Sehun menggeleng.

"Ini bukan apa-apa Xiao Lu, terimakasih sudah membuat keinginanku untuk menikahimu menjadi nyata Saranghae," Luhan tersenyum lalu melepas pelukannya.

"Nado Saranghae," Balas Luhan

Keduanya berbalik menghadap tamu lalu membungkuk secara bersamaan, diikuti tepuk tangan para tamu dan teriakan heboh dari sahabat-sahabatnya. Luhan mengangkat kepalanya dan menemukan mamanya yang sedang mengelap matanya yang basah lalu melambai ke arahnya dengan senyuman, ia balas tersenyum dan Sehun mendapati kedua orangtua angkatnya yang tersenyum sangat bahagia ke arahnya dengan dua ibu jari mengangkat ke udara, orangtua mereka duduk berdekatan. Luhan beru bertemu kedua orangtua angkat Sehun sehari sebelum menikah, namun ia tidak merasakan kecanggungan sama sekali dan orangtua angkat Sehun menerima Luhan dengan sangat baik membuat pria manis itu merasa nyaman. Sehun menggenggam tangan Luhan lalu mereka berdua membungkuk sekali lagi sebelum melambai ke arah tamu dan mengucapkan terimakasih.

Keduanya resmi menjadi pasangan yang sah untuk saling melengkapi dan melindungi dari sekarang dan selamanya. Karena seperti apapun jalan takdir yang mereka pilih, semua akan menemukan tujuan akhirnya.

Even after time, I couldn't say anything and just swallowed my words
Words saying, I'm sorry, I love you, please believe in me like you do now

I'll hug you, I'll hold your hands
If your heart can be at rest
I'll give it my all

I want to protect your smile (protect)
Always

At some point, it seemed like you were crying even when you were smiling
You couldn't love me with a peaceful heart
And you longed for me as you remembered the memories
My heart ached for you

I couldn't even comfort you, saying that it'll get better, that it'll be forgotten
So I'm nervous again
I want to hold onto you and ask you not to leave

I know I can't turn back a promise that I've already broken
But I want to live and breathe next to you for all my life
I pray that you'll be happy like you were in the beginning

Thank you, I'm sorry, I love you
Even if I give you my everything, it's not enough
My love, I'll protect you forever
Just follow me

-EXO : Promise-

.

..

.

..

"Aku akan selalu disampingmu," Tulis Sehun untuk kalungnya.

"Teruslah bersamaku," Tulis Luhan untuk kalungnya.

..

..

..

"Bagaimana kamu bisa menyiapkan semuanya secepat ini?"

"Semua membantuku,"

"Semua?"

"Hmm.. semua sahabatmu dan mama,"

"Mwo? Bagaimana bisa?" Sehun terkekeh.

"Kamu akan tahu nanti,"

.

..

..

.

"Baekhyun?"

"Sehun?" Terdengar suara di ujung telpon.

"Bisakah kita bertemu?" Tanya Sehun lalu menatap coatnya.

"Bagaimana jika Lu tahu? Aku bahkan belum mengatakan padanya jika kita telah bertemu satu sama lain,"

"Semuanya akan baik-baik saja," Baekhyun mendesah di ujung telpon.

"Baiklah, lagipula kamu sudah berjanji untuk tidak menyakitI Luhan lagi,"

"Aku tidak pernah menyakitinya,"

"Dia akan membunuhku jika tahu aku sudah memaafkanmu Sehun-ah,"

-END-

.

.

R

C

L

terimakasih buat yang baca,

NB : Waaahhhhhhhh~ akhirnya menyelesaikan FF ini dengan penuh usaha T.T ku terhura. Sejujurnya niatan awal ingin selesai kurang dari 15 chap tapi ternyata nambah satu chap hahaha x) tapi melegakan ketika berhasil menyelesaikan ini semua #BERSORAK (semoga kalian tidak kecewa dengan endingnya :))

Dan setelah chap ini aku menyiapkan epilog tentang masa depan semua pasangan yang telah hadir meramaikan ff HunHan ini :* jadi buat kalian yang ingin membacanya sangat dipersilahkan ^^

Dan karena sebentar lagi aku UAS, aku harap doa dan dukungan dari kalian para pembaca kesayangan mungkin setelah UAS atau liburan aku bakal buat ff baru lagi entah oneshoot atau chapter. Jadi buat kalian yang ingin memberi saran tentang genre ff aku selanjutnya atau gambaran cerita bisa langsung tulis di kolom review atau kirim pesan atau bisa kirim email ya chingu ^^

Dan sekali lagi terimakasih sudah me review di chap sebelumnya, ^^ aku harap kalian akan mereview chap ini. Review dan pertanyaan kalian akan dibalas berbentuk pesan.

Sampai bertemu di fanfiction selanjutnya ^^

silahkan kirim email untuk berteman, cerita, curhat, kenalan, tanya-tanya atau apapun di ohdeerhunhan aku akan senang hati membalasnya ^^

Sarangahaeee chinguu