Chapter 1
"Selamat pagi~"
Kyungsoo mengucapkannya dengan riang gembira, tidak lupa dengan senyumannya yang semanis gula ikut tersemat dibibirnya. Meski tidak ada yang mau menanggapi kebaikannya, gadis itu tidak apa. Itu tidak akan menurunkan semangat paginya.
"Pagi juga Kyungsoo."
Ah, gadis itu melupakan kehadiran kakak tertuanya yang akan selalu membalas sapaannya. Hanya dia, satu-satunya.
"Kau akan memulai ujian pertama hari ini?" itu masih kakak lelakinya yang tertua sementara yang lain fokus kepada makanan mereka.
Kyungsoo memberikan anggukan semangat lalu memilih duduk disebelah kakak tertuanya yang memberikannya selembar roti dengan selai coklat diatasnya.
"Ini. Oppa berdoa untuk yang terbaik untuk ujianmu kali ini."
Kyungsoo tersenyum lagi. Mengucapkan terimakasih dan hendak memakan roti dengan selai coklatnya. Namun baru saja ia membuka mulut untuk memakan sarapannya. Seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Aku selesai."
Itu suara kakak keduanya. Kemudian gadis itu juga melihat kakak ketiganya serta ibu dan ayahnya yang ikut beranjak dari meja makan. Tiba-tiba saja semangat paginya menjadi sedikit menurun.
Bahunya langsung terjatuh lesu karena sekali lagi keluarganya memperlakukannya dengan semena-mena. Mungkin ia beruntung karena mereka tidak pernah main tangan dengannya namun tetap saja, diacuhkan sejak usiamu baru beberapa menit hadir kedunia itu tetap lebih menyakitkan.
"Tidak apa-apa, masih ada Oppa disini menemanimu."
Tapi setidaknya dia beruntung karena memiliki satu anggota keluarga yang mencitainya lebih dari segala-galanya yaitu kakak tertuanya –Do Kwangsoo.
Kyungsoo bersyukur kakak lelakinya itu selalu memberikannya energi lebih untuk menguatkannya. Ia menjadi motivator utama untuk Kyungsoo menjadi seseorang lebih baik kedepannya.
Gadis itu tersenyum kecil ketika kakaknya mengusap sayang kepalanya. Menyuruhnya untuk segera memakan sarapannya.
"Cepat habiskan sarapanmu Kyungsoo. Hari ini biarkan Oppa mengantarkanmu ke sekolah."
Kyungsoo mengangguk. Melahap cepat rotinya lalu mengosongkan gelas susunya sebelum beranjak pergi bersama kakak tertuanya keluar rumah.
Perfect Velvet
Kyungsoo melambaikan tangannya kearah mobil kakak lelakinya yang perlahan-lahan pergi menjauh. Gadis itu tersenyum senang ketika mendapat lambaian balik dari kakak lelakinya.
"Sampai jumpa nanti dirumah Oppa. Hati-hati dijalan." Gadis itu berteriak sekencang-kencangnya berharap kakaknya yang mulai menjauh itu dapat mendengar suara lantangnya.
Dan ketika mobil kakaknya hilang termakan jarak, gadis itu memilih membalikkan badan dan melangkahkan kakinya kedalam sekolah tempatnya menuntut ilmu.
Sekolahnya bukan tergolong sekolah mewah atau semacamnya. Sekolahnya hanyalah sekolah biasa yang ditempati oleh orang-orang biasa pula. Cocoklah untuk dirinya, begitu kata ayah serta ibunya.
Mengingat itu Kyungsoo menjadi sesak sendiri. Ia memang diperlakukan macam anak tiri. Bahkan dulu kakak-kakak lelakinya bersekolah ditempat-tempat yang bertaraf internasional. Sedang dia –ah sudahlah bisa bersekolah sampai sekarang saja Kyungsoo sudah merasa beruntung.
Gadis itu menghela nafas. Kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya. Mencoba menyadarkan dirinya dari pikiran-pikiran jahat yang ada dikepalanya.
Ia menyadari jika tidak baik berpikir seperti itu terlebih kepada keluarganya. Bukankah saat ini Kyungsoo harusnya fokus kepada sekolahnya untuk membuktikan kepada orangtuanya jika ia juga berguna nantinya.
"Ya. Fokus kepada sekolahmu Kyungsoo. Ayo buktikan kepada ayah dan ibu jika kau juga bisa membuat mereka bangga. Semangat Kyungsoo, semangatttt!"
Kemudian gadis itu memilih untuk menyambung langkah kakinya dengan ceria, tidak lupa menyapa teman-teman yang ia jupai saat menuju kelasnya.
Perfect Velvet
Suara gesekan antara kertas terdengar nyaring diruangan 5x6 tersebut. Sedangkan satu-satunya lelaki yang berada disana terlihat fokus dengan kertas-kertas yang dapat mendatangkan pundi-pundi dolar untuk mengisi kantongnya yang tebal.
Ia bahkan mengacuhkan seseorang yang datang membuka pintu kaca ruangannya dengan nafas yang terengah-engah. Ia hanya melirik sekilas kepada orang kepercayaannya tersebut sebelum kembali terfokus dengan kertas-kertas ditangannya.
"Apa yang membawamu kemari Yunho, hingga kau masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu pintu ruanganku?" tanya.
Sedang orang yang dipanggilnya Yunho itu memilih mentralkan deru nafasnya terlebih dahulu sebelum membungkuk dan menyampaikan maksud kedatangannya.
"Maafkan saya Tuan. Namun saya datang membawa berita besar."
"Berita besar semacam apa?" lelaki itu masih terfokus dengan laporan-laporan ditangannya. Bukannya niat mengacuhkan bawahannya, namun Jongin bisa menebak apa kiranya yang akan Yunho sampaikan. Mungkin seperti bisnis mereka yang berhasil atau tanah sengketa dipinggiran kota berhasil berpindah tangan kepada mereka. Sejujurnya saja lelaki itu tak tertarik. Ia sudah terlalu sering menyelesaikan masalah macam itu jadi sedikit banyak tidak akan mampu menarik minatnya.
Namun berbeda kali ini. Ia bahkan langsung mengacuhkan kertas dengan harga jutaan dolar ditangannya ketika sebuah kalimat keluar dari belah bibir tangan kanannya.
"Saya menemukannya Tuan. Saya menemukan nona Perfect Velvet."
"K-kau bilang apa?"
Matanya terbelalak tak percaya. Namun ketika senyuman hangat tersemat dibibir tangan kanannya tiba-tiba saja hati Jongin menjadi lega. Beban yang selama ini bertumpu dipundaknya seolah hilang begitu saja.
"Akhirnya. Akhirnya aku menemukanmu."
Perfect Velvet
Dan disinilah lelaki itu sekarang. Duduk didalam mobil mewahnya sembari memandangi sekolahan dengan bangunan yang bisa dikatakan kumuh jika lelaki itu bilang.
"Jadi... ini sekolahnya?" tanyanya setengah tak percaya. Dan ia menghela nafas ketika tangan kanannya itu mengangguk mengiyakan.
Ia merasa tak percaya jika di negaranya yang terbilang maju ini masih memiliki sekolah sekumuh ini karena selama masa eksistensinya didunia ia tidak pernah melihat hal-hal yang kecil seperti ini.
Jongin terus mengedarkan pandangannya kearah gerbang yang tertutup disebrang mobilnya itu. Setelah hampir 5 jam berdebat –atau bisa disebut merengek– dengan tangan kanannya untuk segera dibawa ke sekolah gadisnya. Akhirnya ia berada disana meski harus menunggu satu jam lagi untuk melihat gadisnya setelah bertahun-tahun lamanya. Tidak apa, ia rela menunggu.
Ia menghela nafas ketika teringat cerita dari Yunho.
Ia tidak menyangka gadis mungil yang ditemuinya beberapa tahun silam bernasip sebegitu menyedihkan karena perlakuan keluarganya. Bahkan ia harus sekolah ditempat yang sekecil ini karena hanya kakak lelaki tertuanya yang mau membiayai sekolahnya.
Dan ketika pintu gerbang itu dibuka, mata lelaki itu langsung berpendar mencari sosok yang selalu diingatnya diantara kerumunan siswa lainnya. Ketika siswsa-siswi mulai sedikit yang keluar, akhirnya matanya menemukan sosok yang selama ini begitu ingin ia temui.
Gadis itu masih sama. Masih sama mungilnya, masih sama manisnya, masih sama menggemaskannya dan masih sama cantiknya. Bahkan lebih cantik lagi. Matanya berbinar terang dengan bibir penuh yang tersenyum ceria ketika menyapa teman-temannya membuat sesuatu dibagian terpenting hidupnya berdekat terlalu kecang.
Namun ia tak ambil peduli meskipun si tangan kanannya akan mendengar hentakan keras itu karena ia sedang merasa bahagia.
Yunho sendiri ikut tersenyum senang ketika mengamati reaksi bahagia dari atasannya itu. Selama bertahun-tahun bekerja bersama seorang Kim Jongin, Yunho tak pernah sekalipun melihat atasannya itu tersenyum begitu tulusnya hanya karena melihat seseorang yang berjarak beberapa meter didepan mereka.
Ia bahkan tak mengira jika sebegitu besarnya arti gadis mungil itu untuk kebahagiannya tuannya.
"Namanya Kyungsoo. Do Kyungsoo." Ucap Yunho memberitahu.
Memang meski sejak tadi Yunho menceritakan segala macam kehidupan gadis mungil itu tak sekali pun Yunho memberitahukan namanya. Mereka hanya akan memanggil Kyungsoo dengan sebutan 'Perfect Velvet' sesuai dengan kenangan manis yang pernah gadis mungil itu tinggalkan untuk tuannya.
Perfect Velvet
Kyungsoo memasuki cafe tempatnya bekerja dan langsung disambut oleh beberapa pegawai disana. Gadis itu lalu berlari kecil kedalam ruangan karyawan untuk mengganti baju sekolahnya dengan seragam cafe.
Gadis itu memang menjalankan kerja part time seusai sekolah untuk menambah uang sakunya. Dan beruntung kakak tertuanya mengijinkan dengan syarat ia tidak akan pulang terlalu malam serta meninggalkan kewajibannya untuk belajar. Sedang ayah ibunya, jangan ditanya. Ia tidak pulang berhari-haripun mereka tidak akan pernah ambil perduli.
Jadi tadi setelah turun dari bus yang ia tumpangi, Kyungsoo langsung berlari kedalam cafe karena jam kerjanya akan segera mulai.
Gadis itu selesai setelah 10 menit bersiap didalam ruang karyawan. Ia keluar dan langsung mengambil alih tugas pegawai sebagai penjaga kasir dan mulai melayani pelanggan yang datang memesan. Ia bahkan sesekali akan bercanda dengan pelanggan yang merupan langganan cafe itu. Ia juga akan tersenyum dengan lebar tiap ada pembeli yang datang.
Dan tak terasa sudah empat jam Kyungsoo berdiri didepan meja kasir itu yang berarti tinggal satu jam lagi jam kerjanya berakhir. Memang Kyungsoo hanya bekerja dalam waktu yang terbilang singkat hanya mulai jam tiga sore sampai jam delapan malam.
"Kyungsoo apa kau membawa payung? Sepertinya malam ini akan hujan."
Kyungsoo mengalihkan atensinya kearah luar cafe. Ia melihat langit malam yang terlihat kelabu juga sesekali gemuruh yang terdengar.
"Hehe aku tidak membawanya Hanbin-ah. Tapi tenang saja sebentar lagi jam kerjaku akan habis dan semoga saja hujan tidak turun sebelum aku sampai dihalte."
Hanbin –teman kerja Kyungsoo mengangguk mengamini perkataan Kyungsoo. Ia mengenal Kyungsoo lama bahkan sedari gadis itu kecil. Bahkan ia juga yang membawa Kyungsoo ke cafe ini agar gadis itu mendapat tambahan uang saku.
Keduanya meneruskan pembicaraan mengenai beberapa hal random. Beruntung suasana toko yang mulai sepi sehingga mereka menjadi bebes untuk berbicara. Toh manajernya juga tidak akan menegur selama mereka tidak melalaikan pekerjaannya.
"Bagaimana dengan libur natal nanti? Kau akan pergi kemana?"
"Aku tidak tau. Mungkin aku akan mengambil shift penuh karena biasanya cafe akan memberikan bonus banyak jika malam natal."
Hanbin tersenyum kemudian mengusak kepala gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. "Baiklah kalau begitu aku juga akan menemanimu bekerja di cafe."
Kyungsoo mengernyit mendapat jawaban dari Hanbin. "Eh, lalu bagaimana dengan kekasihmu? Apa dia tidak akan marah jika kau bekerja bukan malah menghabiskan malam natal dengannya?"
"Tenang saja, Minah akan pulang ke Jepang sebelum natal. Jadi dari pada aku bosan dirumah lebih baik aku menemanimu kan?" hanbin tersenyum membuat Kyungsoo ikut tersenyum.
Keduanya hendak kembali melanjutkan obrolan mereka namun urung ketika mata Hanbin melihat seseorang datang.
"Aku pergi dulu, ada seseorang datang." Kyungsoo mengangguk kemudian memfokuskan atensinya kepada seorang laki-laki yang memasuki pintu depan cafe.
"Selamat malam~ ada yang bisa saya bantu? Tuan ingin memesan apa?"
Gadis itu sudah siap dengan bolpoint serta kertas ditangannya. Bersiap-siap menuluis pesanan si pelanggan.
Sedang Jongin, hanya mampu diam dengan memandang tak berkedip kearah Kyungsoo yang menunduk didepannya. Ia tidak menyangka akan mampu sedekat ini dengan gadisnya. Ia bahagia bahkan hingga mulutnya tanpa sengaja mengucapkan sesuatu yang harusnya menjadi rahasia.
"Perfect Velvet."
Kyungsoo terdiam. Gadis cantik itu menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pelanggan didepannya. Ia yang tadinya menunduk, langsung megenadahkan kepalanya.
Jongin yang melihat Kyungsoo mendongak menatap kearahnya dengan ekspresi tak terbaca langsung tersadar seketika. Dengan canggung ia menggaruk tengkuknya lalu tersenyum kaku.
"Maaf, maksudku Red Velvet cake dan satu chooco blend."
Mendengar itu Kyungsoo kemudian tersenyum. Dengan canggung gadis itu menyebutkan kembali pesanan Jongin sebelum mengatakan berapa yang harus lelaki itu bayar.
Dan ketika Jongin telah pergi. Kyungsoo masih berdiri ditempatnya memandang kepergian lelaki itu. Ada satu hal yang mengganggunya. Sejujurnya bukan masalah penting. Tapi tetap saja, Kyungsoo masih terus memikirkannya dan menebak-nebak siapa pelanggannya itu sebenarnya.
Gadis itu tersadar dari lamunannya ketika mendengar Hanbin memanggilnya karena jam kerjanya telah usai.
Perfect Velvet
Kyungsoo memandang langit dengan lengkungan kebawah bibirnya. Hujan turun dan ia terjebak didepan cafe tempatnya bekerja. Gadis itu berfikir keras bagaimana caranya ia bisa sampai ke halte tanpa terkena air hujan. Ia tau betul jika tubuhnya paling tidak bisa menoleransi sama sekali tentang hujan.
"Ahh bagaimana ini, pasti Oppa akan khawatir dirumah."
Tangannya menggenggam erat tali tas ranselnya. Menyesali keteledorannya lupa membawa pengisi daya membuat ponselnya mati seketika. Dan pasti, kakak lelakinya dirumah akan sangat khawatir sekarang karena Kyungsoo tidak dapat dihubungi.
Ketika ia masih sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba Kyungsoo merasakan seseorang menaruh sesuatu dipundaknya. Dan ketika ia menoleh ia melihat payung kuning yang ada disana.
Dengan segera Kyungsoo memegang payung itu agar tidak jatuh. Ia berniat mengembalikan payung tersebut kepada pemiliknya namun urung ketika lelaki yang diyakini kyungsoo pemilik payung sudah lari terlebih dahulu menembus hujan dengan menutupi kepalanya menggunakan mantelnya.
"Tuan payung anda." Gadis itu berteriak berusaha memberi tahu. Namun lelaki itu sudah terlalu jauh dan ia juga sudah memasuki mobilnya.
Tanpa sadar Kyungsoo mengeratkan genggamannya pada pedagangan payung tersebut ketika menyadari mantel yang seseorang tadi kenakan terlihat familiar.
"Bukankah itu..."
To be continue~
Hey hey hey, thanks for review.
Gak nyangka prolognya dapet tanggapan yang bagus. Dan maaf kalo ceritanya kurang memuaskan. Maaf juga kalo ada typo-nya.
Oke, see ya
