Perfect Velvet

Chapter 2


Yunho keluar dari mobil dengan payung ditangannya. Lelaki itu bergegas untuk membuka pintu belakang mobil ketika melihat tuannya dari sebrang tengah berlari menembus hujan hanya menggunakan mantel sebagai penutup kepalanya.

Lelaki itu tertegun ketika melihat bagaimana senyuman lebar Jongin yang terlihat dari jarak sekian meter padahal setaunya tuannya itu sulit sekali untuk tersenyum.

"Kemana payung anda tuan, bukankah anda tadi membawa payung?" tanyanya ketika mereka berdua sudah duduk didalam mobil.

Jongin yang tengah menepuk-nepuk mantelnya yang basah mengangkat kepalanya sebelum tersenyum kecil kepada Yunho.

"Aku memberikan payungku pada-nya."

Yunho mengangguk. Tak perlu disebutkan pun ia mengerti siapa yang dimaksud oleh tuannya itu. Terlihat jelas dari sorot bahagia sang tuan.

"Jadi apa kita pulang?"

Jongin mengangguk. "Ya Yunho. Mari kita pulang."

Yunho dengan segera kembali menghidupkan mesin mobil dan sedikit demi sedikit mulai menjalankan mobilnya untuk menembus hujan.


Perfect Velvet


Kyungsoo mendongak menatap kearah langit pagi. Gadis itu melengkungkan bibirnya kebawah ketika mendapati awan kelabu bergelung menyelimuti langit pagi yang seharusnya terang.

Hujan yang kembali turun membuat gadis itu kembali menaruh sepedanya. Ia kecewa karena sekali lagi tidak bisa berangkat sekolah menggunakan transportasi andalannya. Ia menghela nafas karena setelah ini harus berjalan menuju halte bus yang jaraknya dua blok dari kediamanannya. Cukup jauh dan hal itu lah yang membuat Kyungsoo malas.

Gadis itu mengulurkan tangannya. Meraba-raba kantong samping ranselnya mencari payung agar melindunginya dari guyuran hujan dipagi hari. Ketika dapat, gadis itu langsung tersenyum senang dan menariknya. Namun kemudian ia dibuat tertegun ketika melihat payung kuning yang berada digenggamannya.

Ia kembali mengingat kejadian tadi malam tentang seseorang yang memberikan payung itu kepadanya. Ia ingat jika seseorang itu adalah orang terakhir yang ia layani sebelum shiftnya berakhir. Namun yang menjadi pertanyaan Kyungsoo adalah apa yang lelaki itu lakukan didepan cafe tempatnya bekerja? Tidak mungkin ia menunggu hujan karena ia membawa payung –meski pada akhirnya payung itu diberikan kepada Kyungsoo. dan Kyungsoo juga bisa melihat jelas jika lelaki itu langsung memasuki sebuah mobil mewah setelah berlari menjauhinya.

Apa mungkin lelaki itu menunggu dirinya? Tapi itu lebih tidak mungkin lagi, memang siapa Kyungsoo hingga lelaki itu mau menunggu sampai ia selesai bekerja.

Kyungsoo memukul kecil kepalanya karena pemikirannya yang ngelantur itu.

Gadis itu masih terfokus dengan memandangi payung kuning ditangannya sampai tidak menyadari jika seseorang tengah berdiri dibelakangnya dengan memandangnya datar.

"Apa yang kau lakukan disana? Kau tau kau menghalangi mobilku. Minggir."

Kyungsoo tersentak kaget ketika mendengar suara itu. Gadis itu sedikit terhuyung ketika merasakan bahunya didorong cukup keras oleh seseorang. Ketika ia mendongak ia mendapati kakak lelakinya yang ke dua tengah memandang tajam kearahnya.

Kyungsoo menunduk. Menyingkir dari tempatnya berdiri sembari meminta maaf.

"Maafkan aku oppa."

Junhoe –kakak lelaki Kyungsoo yang kedua– mendengus. Merasa muak dengan gadis yang sialnya adalah adiknya. Sungguh sejujurnya ia enggan jika harus mengakui gadis itu adiknya.

Ayolah.. usia mereka sudah terpaut terlalu jauh membuatnya kadang risih jika harus berhadapan dengan gadis semacam Kyungsoo.

Ia segera menaiki mobilnya ketika melihat Kyungsoo menyingkir kesisi pintu garasi. Tanpa mengucapkan apa-apa ia segera melajukkan mobilnya meninggalkan kediamanannya.

Kyungsoo sendiri hanya bisa menghela nafas.

Ia sudah terlalu terbiasa dengan tatapan tajam kakak lelakinya itu. Tapi tetap saja, kadang dadanya berdenyut ngilu ketika diperlakukan seperti itu.

"Kapan kau akan memandangku ada oppa?" bisiknya sendu.


Perfect Velvet


Jongin mengetuk-ngetuk jarinya dimeja sembari menunggu kepala HRD membaca berkas yang ia serahkan.

Ini sudah berlangsung 10 menit dan Jongin sedikit tak sabar dikursinya. Lelaki itu memutar matanya ketika sekali lagi melihat kepala HRD itu hanya membolak-balik lembaran yang tadi ia berikan.

"Apa membaca sebuah riwayat hidup harus membutuhkan waktu selama itu Park Chanyeol-ssi?"

Lelaki yang merasa disebut namanya itu mendongak sembari menaruh lembaran yang tadi diberikan oleh atasannya kepadanya. Ia melepas kacamata bacanya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Kemudian ia memijit pankal hidungnya karena sedikit pusing.

"Sejujurnya apa yang sedang kau lakukan Jongin? Kenapa kau tiba-tiba ingin lelaki ini menempati posisi sebesar ini. Terlebih ia hanya karyawan biasa."

Jongin mengedikkan bahunya. Ikut menyandarkan punggung ke sofa sembari menatap kepala HRD itu dengan santai.

"Tidak ada. Aku hanya merasa kinerjanya baik dan kurasa dia pantas mendapatkannya toh posisi menajer pemasaran juga kosong."

Chanyeol memicingkan matanya. Ia menatap lekat kearah Jongin karena tidak percaya dengan alasan yang lelaki itu ungkapkan. Terlebih ia mengenal apik bagaimana peragai seorang Kim Jongin itu.

"Tidak, aku yakin bukan itu alasanmu. Katakan saja yang sebenarnya Jongin, aku sudah terlalu lama mengenalmu dan bagiku seorang Kim Jongin yang terhormat tidak mungkin memperhatikan seorang karyawannya sebegitu detailnya. Terlebih kau tidak pernah ikut campur masalah memilih karyawan disini."

"Okey aku kalah." Ucap Jongin menyerah kemudian. Percuma jika ia terus mencoba menghindar toh Chanyeol juga tetap akan mengejarnya untuk meminta penjelasan.

"Terkadang aku menyesal menjadi temanmu Park dan membuatmu menjadi bawahanku."

Lelaki bermarga Park itu tergelak. Ia tertawa mendengar curahan hati dari sahabatnya yang terkadang menyebalkan itu.

"Jika boleh diingatkan, aku berada dijabatan ini juga karena hasil kerja kerasku sendiri Kim bukan karenamu meski kau temanku dan jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan kenapa kau ingin dia mendapat jabatan sebagai manajer pemasaran?"

"Kau ingat gadis perfect velvet yang pernah ku ceritakan?"

Chanyeol mengernyitkan dahinya. Mencoba menggali ingatannya tentang siapa gadis yang dimaksud oleh temannya dan saat ia mendapatkan ingatan itu ia langsung mengangguk.

"Ya, tentu aku mengingatnya. Lalu apa hubungannya dengan gadis perfect velvetmu itu?"

"Dia kakak tertua gadis itu."

"What?" Chanyeol melebarkan matanya yang sudah lebar, menatap tak percaya kepada sahabat yang berada didepannya.

"Bisa kau ulangi? Kurasa aku salah dengar."

Jongin mendengus mendapati reaksi berlebihan yang dikeluarkan oleh Chanyeol.

"Bisakah kau biasa saja? Juga kau tidak salah dengar. Dia memang kakak tertua gadis itu. Perfect velvet ku."

Lelaki dengan tinggil 6 kaki itu menggeleng tak percaya. "Jadi kau sudah menemukannya?"

Jongin mengangguk. "Ya kemarin aku menemuinya dan kau tau, ia semakin cantik dari terakhir kali kami bertemu."

Mendengar itu Chanyeol mendengus. "Lalu setelah itu dia memintamu untuk menaikkan jabatan kakaknya setelah tau siapa lelaki yang dia tolong 10 tahun lalu. Begitu?"

"Yang benar saja Park. Ia bahkan tak mengenaliku ketika kemarin kami bertemu lalu bagaimana ia bisa memintaku untuk menaikkan jabatan kakaknya." Jawab Jongin tak suka.

Jujur saja ia merasa kesal dengan ucapan Chanyeol tentang gadisnya. Bahkan kemarin ia hanya menemui Kyungsoo sebagai pembeli dicafe tempatnya bekerja dan meskipun mereka saling kenal, gadisnya itu tak mungkin meminta hal macam itu kepadanya. Ia bisa merasakan betapa cantiknya hati gadis itu.

"Aku hanya ingin memberikannya apresiasi atas kebaikannya kepada gadisku. Didalam keluarganya hanya dia yang baik kepada adik terakhirnya. Hanya ia yang memperhatikan adik terakhirnya. Dan hanya ia yang menyayangi adik terakhir. Lantas apa salahnya aku membayar kebaikannya itu dengan memberikannya posisi sebagai manajer pemasaran. Toh kinerjanya selama mengabdi diperusahaan kita juga bagus dan aku rasa tidak masalah menempatkannya disana."

Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia bisa memahami niat baik Jongin dan jika boleh Chanyeol jujur kakak dari gadis Jongin itu memang memiliki kinerja baik. Ia tak memiliki catatan merah sedikit pun didaftar kerjanya.

"Baiklah.. biar aku pikirankan dulu karena ini posisi yang juga penting. Aku akan melihat kinerja karyawan yang lain dan membandingkannya."

Jongin yang tadi berwajah muram seketika langsung berbinar cerah. Lelaki itu bahkan tak ragu mengembangkan senyumannya yang membuat Chanyeol sebagai sahabatnya tertegun karena tidak pernah melihat Jongin tersenyum setulus itu.

Seingin itukah lelaki itu untuk mengangkat derajat kakak dari gadisnya? Pikir Chanyeol.

"Ya pikirkan baik-baik. Aku berharap kau akan memilih pilihanku."

Chanyeol hanya mengangguk kecil merespon ungkapan bahagia dari sahabatnya.


Perfect Velvet


Pukul 3 lebih 15 menit adalah waktu bell pulang sekolah Kyungsoo berbunyi. Gadis itu berjalan keluar kelas hendak bergeges menuju cafe tempatnya bekerja ketika mendapati ponselnya berdering nyaring menandakan seseorang tengah menghubunginya.

Ia mengernyit ketika melihat nama kakak lelakinya –Kwangsoo yang menghiasi layar ponselnya. Ia bertanya-tanya ada apa gerangan karena tak biasanya kakaknya itu akan menelfon pada jam-jam segini.

"Yeobseo?" ucapan pertama Kyungsoo.

"Kyungsoo kau sudah pulang?"

Gadis itu mengangguk. "Ya oppa, aku baru keluar kelas. Ada apa?"

"Apa kau bekerja malam ini?"

"Tentu saja. Memang ada apa? Tumben sekali oppa bertanya seperti ini?" tanya gadis itu penasaran.

"Bisa kau ijin untuk tidak bekerja hari ini?"

"Ijin?"

"Ya. Oppa ingin kau pulang awal sekarang. Ada hal penting yang ingin oppa beritahukan dan oppa tidak bisa memberitahumu lewat telfon. Jadi bagaimana?"

Kyungsoo berpikir sejenak. Sebelum kemudian menjawab, "Baiklah, aku akan meminta ijin kepada manajerku hari ini."

"Bagus, kalau begitu sampai jumpa dirumah."

Dan sambungan itu terputus setelahnya. Menyisahkan Kyungsoo yang kemudian beralih untuk menelfon manajer cafe tempatnya bekerja, mengatakan ia tidak bisa bekerja hari ini karena ada urusan keluarga dan akan menggantikan shiftnya hari ini di hari libur nanti. Beruntung manajernya termasuk orang yang baik sehingga langsung menginjinkannya tanpa bertanya lebih lanjut.

Gadis itu kemudian meneruskan langkahnya menuju halte bus didepan sekolahnya. Namun ia harus dibuat memberengut kecewa karena tidak mendapati satu bus pun berhenti disana. Ia mengecek jam dipergelangan tangannya dan kemudian menepuk dahinya keras.

Jelas saja tidak ada bus yang berhenti, ia sudah terlambat 10 menit dari jadwal kedatangan bus. Sehingga ia harus menunggu bus berikutnya jika ingin pulang menggunakan transportasi umum itu. Gadis itu bimbang menentukan pilihan akan menunggu bus berikutnya atau langsung pulang sembari berjalan kaki.

Jika ia menunggu bus maka membutuhkan waktu setengah jam untuk bus itu datang dan akan memakan waktu lebih lama lagi untuk sampai dirumah. Sedang jika ia berjalan kaki hanya memerlukan waktu 45 menit jika ia berputar lewat taman kompleks.

Dan akhirnya pilihannya jatuh kepada pulang sendiri sembari berjalan kaki. Beruntung sejak pagi hujan dan baru berhenti beberapa jam lalu sehingga membuat udara menjadi lembab tidak panas.

Gadis itu tersenyum senang sembari berjalan santai ditrotoar. Sesekali ia juga akan bersenandung. Siapapun yang berpapasan dengannya pasti akan tersenyum karena merasakan energi positifnya.

Namun kesenangannya itu harus terhenti ketika sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi disebelahnya. Mungkin jika jalanan tidak becek Kyungsoo tidak akan masalah namun ini jalanan tengah basah dan genangan air dimana-mana membuat seragamnya basah karena terciprat oleh air dijalan.

Ia berhenti dan hendak meledak atau menyumpahi seseorang yang menyetir mobil dengan ugal-ugalan tadi. Namun itu semua harus tertahan diujung lidahnya kala pengemudi tadi memundurkan mobilnya kembali ketempat Kyungsoo berada.

Pengemudi tadi keluar dari dalam mobilnya menghampiri Kyungsoo dan langsung minta maaf.

"Nona maafkan aku. Sungguh aku tidak sengaja." Ucapnya penuh sesal.

Kyungsoo yang tidak tega jika ada seseorang meminta maaf kepadanya akhirnya hanya mampu mengangguk kepalanya. Meski jujurnya ia masih kesal.

"Tidak apa sungguh. Hanya basah sedikit." Ucap gadis itu masih terfokus untuk membersihkan lengan kemejanya yang basah.

Sebelum kemudian gadis itu mendongak ketika mendapati seseorang yang tadi tidak sengaja membuatnya basah memberikannya sebuah jaket.

"Ini pakai jaketku. Bajumu basah dan kotor karenaku jadi anggap ini sebagai permintaan maafku."

Kyungsoo mengernyit ditempatnya. Gadis itu tak langsung mengambil jaket yang disodorkan oleh lelaki tadi. Ia malah sibuk mengamati sosok yang tidak sengaja menyiram air ke bajunya tadi.

Kyungsoo berpikir merasa familiar dengan rupa sosok itu. Sampai ia teringat dengan kejadian malam sebelumnya didepan cafe tempatnya bekerja.

"Eoh? Bukankah kau laki-laki yang memberikan payung kepadaku kemarin malam?"

Laki-laki yang berdiri didepan Kyungsoo itu mengernyit ikut mengamati Kyungsoo.

"Ah kau si kasir cafe?"

Kyungsoo mengangguk semangat. "Ya. Aku kasir cafe itu. Perkenalkan namaku Do Kyungsoo. sedang kau?"

Gadis itu mengulurkan tangannya kearah lelaki didepannya, mengajak berkenalan. Dan beruntung lelaki itu menerima uluran tangan Kyungsoo.

"Jongin. Namaku Kim Jongin."

Kyungsoo mengangguk lalu tersenyum setelah melepas jaba tangan keduanya. Gadis itu senang karena kembali bertemu dengan si pemilik payung kuning meski dengan insiden yang kurang mengenakkan.

"Jongin-sii, aku ingin berterima kasih dengan kebaikanmu semalam. Sungguh, jika anda tidak meminjamiku payung mungkin aku akan basah kuyup semalam."

"Ah ya, dan ini payung anda. Aku akan mengem_"

Kyungsoo sudah menari setengah payung ditasnya namun terhenti ketika Jongin menghentikannya.

"Ah tidak usah. Jangan dikembalikan. Sungguh tidak apa-apa, aku masih punya yang lain. Kau bisa menyimpannya Kyungsoo-ssi."

Meski sedikit tidak enak, Kyungsoo hanya mengangguk kepalanya. Kembali menaruh payung yang sudah setengah tercabut itu ditempatnya.

Kemudian keduanya hening. Mereka merasa canggung tiba-tiba, sampai Jongin berdehem untuk memecahkan suasana hening diatara keduanya.

"Apa kau akan pergi bekerja Kyungsoo-ssi?"

Kyungsoo yang ditanyai merespon dengan gelengan kepala. "Aku mengambil libur hari ini dan hendak pulang kerumah."

"Ahh begitu. Rumahmu arah sebelah mana?"

"Rumahku kearah utara. Memangnya kenapa?"

"Sungguh? Kalau begitu kita searah. Mau kuantar pulang? Kita bisa pulang bersama."

Cepat-cepat Kyungsoo mengangkat tangannya. Menolak tawaran lelaki didepannya.

"Tidak, tidak terimakasih Jongin-ssi. Aku tidak mau membuatmu repot. Aku bisa pulang sendiri, toh jaraknya hanya beberapa kilo dari sini."

Namun Jongin yang keras kepala tentu tidak menyerah. Lelaki itu tetap memaksa Kyungsoo untuk ikut dengan mobilnya.

"Sungguh aku merasa tidak keberatan. Aku malah senang jika mendapat teman selama diperjalanan pulang."

Kyungsoo hendak kembali menolak namun Jongin sudah lebih dulu memotong.

"Kumohon. Anggap jika aku ingin menebus kesalahanku tadi. Jadi jangan tolak bantuanku. Aku tidak mau merasa bersalah hingga nanti."

Gadis itu menatap dalam Jongin. Dari matanya ia bisa melihat kesungguhan dari ucapan lelaki didepannya. Jadi dengan berat hati akhirnya Kyungsoo mengangguk kepalanya.

Jongin yang melihat itu langsung tersenyum senang. Ia bahkan langsung melangkah menggiring Kyungsoo untuk memasuki mobilnya. Ia bersikap gentel dengan membukakan pintu untuk Kyungsoo membuat Kyungsoo merona dibuatnya. Karena seumur-umur gadis itu tidak pernah diperlakukan seperni ini oleh laki-laki –kecuali kakak lelakinya.

Setelah melihat Kyungsoo duduk dengan nyaman ditempatnya. Jongin kemudian menutup pintu samping kemudi sebelum memutari mobil dan duduk disebelah Kyungsoo.

Diam-diam lelaki itu menarik sebelah sudut bibirnya karena berhasil untuk mengantar Kyungsoo pulang.


Perfect Velvet


Selama diperjalanan keduanya hanya diam. Terlalu malu untuk membuka suara terlebih dulu sehingga hanya keheningan yang menyapa.

Kyungsoo sendiri sejujurnya merasa canggung karena berada dalam mobil hanya berdua dengan seseorang lelaki. Terlebih ia tidak mengenal siapa laki-laki itu. Jadi ia memutuskan untuk diam toh ia sendiri juga bingung akan bicara apa jika harus membuka suara pertama.

Sampai akhirnya 15 menit kemudian mobil Jongin berhenti didepan sebuah rumah bertingkat tiga. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Rumah itu memiliki halaman yang cukup luas ketimbang rumah-rumah disekitarnya.

"Jadi ini rumahmu?" tanya Jongin masih memperhatikan sekitar.

Kyungsoo segera melepas sabuk pengaman sebelum menjawab pertanyaan Jongin. "Ya ini rumahku."

Kemudian gadis itu beranjak untuk membuka pintu dan keluar setelahnya. Ia bisa melihat jika Jongin masih memandanginya dari dalam. Gadis itu kemudian membungkukkan badannya untuk berterima kasih.

"Jongin-ssi. Sekali lagi, terima kasih untuk tumpangannya. Maaf jika merepotkan dan sedikit membuat kursi mobilmu basah."

Jongin segera menggeleng. Menolak ucapan tidak enak dari Kyungsoo.

"Santai saja. Lagi pula hanya basah sedikit dan aku tidak merasa direpotkan kok." Ia tersenyum dan dibalas dengan senyuman oleh Kyungsoo.

Kyungsoo masihh berdiri disana memandang kearah Jongin sampai ia mengingat tentang jaket lelaki itu yang ia kenakan.

"Oh, jaket anda." Ia hendak melepas sebelum kembali dilarang oleh Jongin.

"Tidak usah. Kau bisa mengembalikannya padaku jika nanti kita bertemu lagi."

Meski ragu kyungsoo tetap mengangguk. Ia kembali berpikir jika sepatutnya memang ia harus mencuci jaket itu sebelum mengembalikannya karena ia membuat jaket itu kotor.

"Kalau begitu aku permisi."

Sesegera gadis itu mengangguk. "Ya sampai jumpa kembali."

Tidak ada jawaban. Jongin hanya tersenyum manis kearahnya sebelum melajukan mobilnya meninggalkannya sendirian didepan rumahnya. Ia baru akan masuk jika mobil Jongin sudah benar-benar menjauh.

Namun ketika ia berbalik, Kyungsoo harus terkaget ketika mendapati ibunya berdiri didepan pintu sembari melipat tangan didepan dada tengah menatap penuh selidik kearahnya. Entah kenapa hal itu membuat Kyungsoo gugup sendiri.

"I-ibu, kenapa ibu diluar?"

Bukannya menjawab, Nyonya Do malah kembali melempar pertanyaan kepadanya.

"Siapa tadi yang mengantarmu pulang?"

Dengan segera Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Bukan siapa-siapa bu. Kami tadi tidak sengaja bertemu dan terlibat insiden kecil tadi lalu dia menawarkan tumpangan karena rumah kami yang searah." Jelas Kyungsoo.

"Kau tidak meminta nomor ponselnya?"

Kyungsoo yang tidak mengerti hanya menggelengkan kepalanya dan ia harus berjengit kaget ketika mendapati kepalanya yang dipukul oleh ibunya.

"Bodoh. Seharusnya kau meminta nomer ponselnya lalu kau bisa merayunya. Ia terlihat seperti orang kaya dan kurasa jika kau bisa menggodanya dengan mau membuka sedikit pahamu maka dia akan memberikan uangnya yang banyak itu kepadamu dengan begitu kau bisa menjadi sedikit berguna tapi kau malah_"

"ah sudah lah... Dasar tidak berguna!"

Setelah mengucapkan itu, nyonya Do langsung berbalik pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih mematung sendirian didepan pintu.

Wajah cantik gadis itu tiba-tiba saja berubah jadi murung. Bahkan mata beningnya menjadi sedikit memerah setelah mendengar ucapan ucapan ibunya yang membuat dadanya tiba-tiba sesak.

"Apa aku memang tidak seberharga itu bu?" batinnya.


~To be continue~


Baby vee nulis apa ini? *tutupmata*

Aduhhhh gak tau deh, aneh rasanya. Padahal pengen nulis yang fluff tapi gagal karena gak bisa buat yang fluff

Udah lah gak usah dibahas, oh ya jangan minta chapnya dipanjangin karena baby vee bukan spesialis yang panjang-panjang(*´▽`)ノノ

Thank's for reading

Thank's for review

Akhir kata, see ya :*