Perfect Velvet
Chapter 3
Kringggg~
Mendengar suara alarmnya berbunyi. Kyungsoo langsung terbangun dari tidurnya. Gadis itu membuka kedua mata bulatnya dan tersenyum senang tatkala melihat salju yang menumpuk diluar jedela kamarnya.
Dengan segera Kyungsoo menyibak selimut yang sejak semalam menyelimuti tubuhnya lalu menyeret kaki kecilnya untuk semakin dekat dengan jendela.
"Salju~" ucapnya riang melihat seluruh halaman depan rumahnya penuh dengan gumpalan putih es itu. Ia hendak membuka jendela kamarnya sebelum sebuah suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
Gadis itu berbalik untuk membuka pintu dan mendapati kakak lelakinya berdiri disana dengan sebuah kotak kecil ditangannya.
"Selamat natal Kyungsoo-ie."
Kyungsoo tersenyum dengan lebar menerima hadiah dari kakaknya. Tak lupa mengucapkan terimakasih karena telah diberi kado natal.
"Masuklah dan buka didalam. Oppa tidak ingin ibu tahu lalu mengambilnya darimu." Lelaki itu mengusak ramput hitam adiknya sebelum kemudian pergi dari sana.
Kyungsoo sendiri memilih menuruti ucapan kakaknya untuk masuk ke dalam kamar tak lupa mengunci pintunya. Ia hanya tak ingin kejadian seperti natal-natal sebelumnya terulang. Bagaimana ibunya akan mengambil hadiah dari kakaknya. Ibunya selama berkata "Memang siapa dia? Dia tidak pantas untuk mendapat hadiah dihari natal."
Kyungsoo menahan nafasnya ketika kado natal itu terbuka. Bibirnya ia dekap rapat agar tidak menjerit kesenangan karena hadiah yang diberikan oleh kakaknya.
Sebuah ponsel keluaran terbaru yang sudah sedari lama Kyungsoo inginkan. Terlebih beberapa hari lalu ponselnya baru saja rusak karena ibunya tidak sengaja membantingnya.
Kyungsoo sudah berkaca-kaca ketika matanya mendapati sebuah surat yang diselipkan didalam kado itu.
Oppa tau kau menginginkan ini dari lama.
Jaga baik-baik, jangan biarkan ibu menyentuhnya.
Selamat natal Kyungsoo. oppa menyayangimu
-KwangSoo
.
Ps : oppa sudah menyetingnya dahulu jadi kau bisa langsung memakainya
Buru-buru Kyungsoo mengaktifkan ponsel yang baru saja oppanya berikan untuknya itu. Ia menunggu beberapa saat dan ketika ponsel itu menyala Kyungsoo langsung mengecek kontak. Dan benar saja disana sudah penuh dengan kontak orang-orang terdekatnya.
Gadis itu terkesiap ketika sebuah telfon masuk ke ponsel barunya. Ia tersenyum ketika mendapati nama oppanya menghiasi layarnya.
"Oppa terima kasih~ hiks,"
Ia bisa mendengar suara kakaknya yang tengah tergelak di seberang sana.
"hey hey, kau menangis?"
Kyungsoo tidak menjawab hanya terus sesenggukan ditempatnya. Ia hanya terlalu senang mendapatkan hadiah yang seperti ini dari kakaknya. Ia bahkan tidak pernah membayangkan kakaknya akan diberi hadiah natal semacam ini. Jadi jangan menganggap Kyungsoo berlebihan karena menangis.
"Shttttt, sudah-sudah oppa menelfonmu bukan ingin mendengarmu menangis jadi cepat hapus air matamu. Adik kesayangan oppa tidak cengeng seperti ini."
Mendengar itu dengan segera Kyungsoo menghapus air matanya yang meleleh dikedua pipi bulatnya. Ia menghela nafas berkali-kali untuk menghentikan sesenggukannya.
"Sudah. Aku sudah tidak menangis lagi." Ucap Kyungsoo kemudian setelah berhasil meredakan tangisannya.
Disebrang sana Kwangsoo tersenyum mendengar suara lucu adiknya yang sedikit sumbang karena habis menangis.
"Oke itu baru gadis pintar." Pujinya.
"Kyungsoo ingat jaga baik-baik dirimu. Maaf karena oppa tidak bisa menghabiskan natal bersamamu dan malah pergi untuk bekerja. Jadi selama oppa pergi jaga baik-baik dirimu. Makan yang cukup, tidur yang cukup dan jangan terlalu lama berada diluar rumah. Mengerti?"
"Ya Oppa, aku mengerti."
"Baiklah kalau begitu oppa tutup telfonnya dulu. Oppa sedang menyetir menuju bandara sekarang. Jaga dirimu, oppa menyayangimu."
"Hati-hati dijalan. Aku juga menyayangimu oppa."
Dan sambungan itu terputus. Kyungsoo menghela nafas melihat ponselnya yang kembali mati ketika oppanya memutuskan sambungan telefonnya.
Gadis itu sedikit sedih karena dihari natal tidak dapat menghabiskan waktu dengan oppanya. Jabatan baru yang disandang oppanya sekarang membuatnya harus banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja.
Kyungsoo tidak marah sungguh. Ia senang karena akhirnya setelah bertahun-tahun bekerja oppanya mendapatkan posisi sesuai dengan kinerjanya. Kyungsoo malah bersyukur untuk itu. Hanya saja, di hati terkecilnya ia merasa sedikit kecewa.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Merutuki pemikirannya yang egois. Ia tidak boleh berpikir yang buruk semacam itu dihari baik seperti natal hari ini.
Jadi untuk menjernihkan otaknya yang sedikit kusut. Kyungsoo segera bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah ia membereskan bungkus kado yang diberikan oleh kakaknya tadi.
Satu jam kemudian, Kyungsoo turun dari kamarnya. Berniat untuk pergi bekerja. Ia sudah mengatakan kepada manajer cafe tempatnya bekerja jika ia akan mengambil shift seharian dihari natal. Jadi sebelum jam kerjanya dimulai ia harus segera berangkat.
Hal pertama yang didapatinya dikediamannya adalah hening.
Memang benar ini hari natal namun suasana rumahnya benar-benar sepi seperti tidak ada acara spesial apa-apa. Bahkan sekedar pohon natal pun orangtuanya tidak menyediakannya.
Jelas saja seperti itu. Orangtuanya tidak akan mau repot mempersiapkan pohon natal jika yang dilakukan mereka adalah pergi berkumpul dirumah saudara ayahnya. Tentu bersama dengan kakak-kakaknya yang lainnya.
Hal ini selalu terjadi dihari natal membuat Kyungsoo paham. Meski tak pernah sekalipun orangtuanya mengajaknya ikut kesana. Ia hanya akan dibiarkan dirumah entah melakukan apa sesukanya.
Mereka hanya berkata, akan sangat merepotkan mengajaknya. Jadi Kyungsoo mencoba mengerti dan mencoba menerima perlakukan tak adil ini.
Ia kemudian kembali menyambung langkahnya menuju garasi untuk mengambil sepeda kayuhnya dan pergi menuju cafe untuk bekerja.
Ia hanya tidak ingin larut-larut memikirkan perlakuan orangtuanya yang nantinya akan membuatnya sedih.
Perfect Velvet
Jongin memandang sebuah kalung yang cantik ditangannya. Lelaki itu menatap lama kepada kalung itu menghiraukan Yunho yang sedari tadi bolak balik keluar masuk kamarnya menata keperluannya.
Ia menghela nafas. Merasa tidak yakin dengan benda cantik ditangannya.
"Apa menurutmu Kyungsoo akan menyukai ini?"
Merasa dirinya diajak bicara, Yunho yang baru masuk pun berdehem sebelum menganggukkan kepala.
"Tentu Tuan. Kalung itu begitu cantik, bagaimana mungkin nona Kyungsoo tidak akan menyukainya."
"Tapi aku tidak merasa yakin Yunho. Menurutku ini terlalu sederhana untuk diberikan kepada Kyungsoo. apa mungkin aku harus mencari kado yang baru lagi untuk ku berikan kepadanya? Tapi itu akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Arghhh aku pusing Yunho. Aku harus bagaimana sekarang?"
Jongin menggerutu. Mengacak tatanan rambutnya yang telah ditata keatas sejak beberapa saat yang lalu. Lelaki itu merutuki seleranya yang buta akan masalah menyenangkan hati wanita dengan sebuah hadiah contohnya. Tidak pernah membina sebuah hubungan dengan wanita membuatnya minim pengalaman tentang hal-hal macam ini.
Ia hanya bisa bergantung kepada tangan kanannya –Yunho. Untuk masukan hadiah apa kiranya yang pantas ia berikan untuk gadisnya.
Ia ingin di hari natal pertama setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Kyungsoo menjadi spesial. Ia ingin memberikan sebuah hadiah yang tak akan pernah Kyungsoo lupakan. Tentu saja ia ingin agar Kyungsoo selalu mengingatnya lewat hadiah itu.
Dan ketika ia bertanya kepada Yunho, tangan kanannya itu mengusulkan untuk memberikan Kyungsoo sebuah kalung. Awalnya Jongin berdebat kenapa tidak cincin namun Yunho berkata jika cincin terlalu berlebihan karena mereka tidak memiliki hubungan apapun. Cukup kalung yang memiliki arti yang sama untuk mengikat Kyungsoo.
Mendengar itu, dari jauh-jauh hari Jongin sudah mempersiapkan seperti apa kiranya kalung yang bagus untuk diberikan kepada Kyungsoo. lelaki itu bahkan membongkar seluruh toko perhiasan di Korea mencari mana kiranya kalung yang pas untuk diberikan untuk gadisnya.
Hingga setelah mendatangi lebih dari 20 toko perhiasan akhirnya Jongin menemukan kalung yang cocok diberikan untuk Kyungsoo.
Kalung itu berbahan dasar platina dengan liontin mutiara kecil ditengahnya. Cukup sesimpel itu model kalung yang dapat menarik perhatian Jongin. Ia bahkan tidak sabar untuk segera memberikan hadiah itu kepada Kyungsoo.
Namun sampai pada hari H kalung itu akan diberikan. Tiba-tiba saja Jongin jadi pemisis. Lelaki itu hanya merasa jika kalung yang akan diberikannya itu terlalu sederhana. Ia takut Kyungsoo akan menolak pemberiannya ketika melihat isi dari kado tersebut.
"Yunho aku harus bagaimana?" keluhnya.
Yunho sendiri hanya bisa menggaruk kepala belakangnya. Ia bingung harus berpendapat seperti apa karena menurutnya kado yang akan diberikan oleh tuannya itu sudah kado terbaik. Tidak berlebihan dan tidak juga terlalu sederhana. Itu cantik. Lalu bagaimana Tuannya itu berpikir jika kado itu tidak pantas?
Jongin yang menunggu jawaban dari Yunho jadi kesal sendiri. Lelaki yang tengah berdiri beberapa meter darinya itu hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan Jongin.
"Yunho kenapa kau diam saja. Aku sedang bertanya kepadamu!" sentaknya.
Mendengar itu, tangan kanannya itu meringis. Tuannya yang emosi adalah hal terburuk yang pernah ada.
"Errr... sejujurnya saya juga bingung mau menjawab bagaimana. Menurut saya kalung itu sudah menjadi kado yang terbaik, sangat cocok nantinya bila dikenakan oleh nona Kyungsoo. juga, jika anda memberikan hadiah yang lebih dari itu mungkin bisa saja nona Kyungsoo menolaknya karena Tuan tau sendiri bagiamana sederhananya nona Kyungsoo itu."
Jongin menghela nafas. Membenarkan perkataan Yunho. Lelaki itu kemudian berdiri membenarkan letak pakaiannya.
Yunho yang melihat itu mengernyit bingung. "Tuan, anda mau pergi kemana?"
Mendengar itu Jongin memutar matanya. Kadang tangan kanannya yang sudah menemaninya lebih dari setengah hidupnya itu konyol juga. Jelas-jelas ia tau kemana Jongin akan pergi dan dengan polosnya ia bertanya Jongin mau kemana?
"Demi Tuhan Yunho. Kau jelas tau aku akan pergi kemana dan kau masih bertanya?"
Yunho semakin mengerutkan keningnya membuat Jongin jadi geram sendiri.
"Tentu saja aku akan pergi menemui Kyungsoo. pikirmu aku mau kemana lagi? Ayo cepat pergi."
Ia bisa melihat bagaimana Yunho yang menepuk keningnya dramatis sebelum kemudian mengekor dibelakangnya.
Perfect Velvet
Kyungsoo tengah menata gelas ketika Jongin masuk. Gadis itu langsung tersenyum lebar menyambut Jongin yang juga tersenyum kecil kepadanya.
"Jongin-ssi, anda datang lagi?"
Jongin membalasnya dengan anggukan. Lelaki itu terlalu gugup untuk menjawab ucapan Kyungsoo. sungguh rasanya kakinya terasa seperti jelly ketika Kyungsoo menyambutnya dengan senyum. Sial, tiba-tiba Jongin takut terkena diabetes.
Kyungsoo masih menatap sambil berkedip kearah Jongin. Gadis itu menunggu pesanan yang Jongin inginkan. Namun sampai beberapa menit Jongin tetap diam sembari menatapnya.
"Jongin-ssi?"
Sedang Jongin langsung tergagap ketika Kyungsoo kembali memanggilnya. Ia menggaruk tengkuknya karena merasa malu, beruntung Kyungsoo bisa memahaminya jadi dia sedikit terselamatkan. Hahhh~
"Aku ingin memesan_
"Satu red velvet cake dan satu chooco blend. Benar?"
Jongin mengangguk. Merasa senang karena Kyungsoo mengingat apa yang biasanya ia pesan. Sungguh Jongin benar-benar terharu bahkan rasanya ingin menangis.
Sejak insiden Jongin yang mengantar pulang Kyungsoo sekitar hampir 2 minggu yang lalu. Lelaki itu setiap harinya akan mampir sejenak ke cafe. jelas Kyungsoo hafal apa yang Jongin selalu pesan karena lelaki itu selalu memesan menu yang sama setiap harinya.
"Oke tunggu sebentar."
Setelah mengatakan itu, Kyungsoo langsung melesat membuatkan pesanan Jongin membiarkan lelaki itu menunggu didepan meja kasir sembari mengawasinya. Sedang Jongin sendiri entah bagaimana bisa selalu menyukai kegiatan Kyungsoo ketika menyiapkan pesanan. Gadis itu terlihat begitu manis ketika bergerak kesana kemari. Bahkan kue-kue yang mengelilinginya rasanya kalah manis. Ah, jatuh cinta itu benar-benar membuat orang menjadi gila.
Jongin sekali lagi tersentak ketika tiba-tiba mendapati Kyungsoo sudah berdiri didepannya dengan makanan pesanannya. Terlalu fokus membuat ia tidak menyadari sekitarnya.
"Ini pesananmu. Jumlahnya 50 dolar."
Ia memberikan kartu kreditnya dan dengan senang hati Kyungsoo menerimanya sebagai alat pembayaran. Ia sekali lagi tersenyum sembari memberikan kembali kartu kredit milik Jongin setelah menggeseknya.
"Terimakasih. Selamat menikmati makananmu."
Jongin mengangguk kecil. Langsung pergi mencari kursi kosong. Ketika sudah duduk lelaki itu baru menyaradi ada yang tertinggal. Ia lalu memukul keningnya.
"Bodoh. Kenapa kau lupa memberikan kadonya. Aishhhh Kim Jongin bodohhhh." Ia mendesis sambil memukul-mukul kepalanya. Membuatnya menjadi tontonan pengunjung cafe karena bingung dengan tingkahnya.
Lelaki itu baru berhenti ketika matanya tidak sengaja bersirobok dengan mata Kyungsoo yang juga ikut menonton aksi bodohnya tadi. Sial. Jongin rasanya benar-benar tidak memiliki muka sekarang.
Lama duduk disana, lelaki itu memikirkan bagaimana caranya memberikan hadiahnya kepada Kyungsoo tanpa harus gadis itu menolaknya. Ketika ia masih sibuk berpikir, dering ponsel mengalihkan konsentrasinya.
Ia merogoh ponselnya dan berdecak malah kala nama Yunho yang muncul disana.
"Ada apa?" sambut Jongin ketus yang tanpa Jongin ketahui Yunho membulatkan matanya kaget karena sambutan dari tuannya.
"Emmm Tuan, ini sudah waktunya. Kapan anda akan keluar dari sana?"
Jongin mengedarkan matanya, mencari jam dinding yang dipajang ditengah-tengah cafe. Lelaki itu menghela nafas ketika melihat ternyata sudah pukul 3 sore. Tidak terasa sudah dua jam dia duduk disana.
"Baiklah. Tunggu 10 menit aku akan segera keluar." Putus Jongin.
Lelaki itu kembali duduk diam ditempatnya sembari sesekali melirik tempat Kyungsoo yang bekerja dengan semangat didepan meja kasir. Lelaki itu bahkan memberikan penghargaan atas sikap Kyungsoo yang begitu ramah kepada seluruh pelanggannya. Ia bahkan masih tetap bisa memberikan senyuman manisnya meski pelanggannya itu adalah orang-orang menyebalkan yang mencoba menggodanya.
Ahhh mengingatnya membuat Jongin jadi kesal sendiri.
Ia kembali melirik jamnya. Hanya tinggal 5 menit lagi sebelum ia pergi. Yunho akan terus menerornya jika ia tidak keluar diwaktu yang telah dijanjikan.
Bersamaan dengan itu Jongin melihat Kyungsoo tiba-tiba saja berbalik meninggalkan tempat kasir. Gadis itu berbisik kecil kepada temannya sebelum kemudian temannya itu menggantikan posisi Kyungsoo sedang Kyungsoo berlari kecil kebelakang.
Ia jadi panik sendiri ditempatnya. Kyungsoo pergi sebelum ia dapat memberikan kadonya. Ia terus merutuki sikap leletnya sampai akhirnya matanya tak sengaja melihat salah seorang pegawai cafe yang cukup dekat dengan Kyungsoo tengah membereskan meja sampingnya.
Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dalam kepalanya.
"Hanbin-sii," panggil Jongin. Ketika lelaki yang dipanggil itu menoleh. Jongin tersenyum manis sebelum kemudian menyuarakan idenya.
"Bisa bantu aku?"
Perfect Velvet
Kyungsoo kembali ke depan setelah ia menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Tadi tiba-tiba saja perutnya menjadi sakit. Mungkin akibat dia yang salah makan tadi pagi.
Ia mengucapkan terimakasih kepada Jiyeon, salah seorang temannya di cafe yang telah mau membantunya menjaga meja kasir selama ia pergi. Ia kembali menempati tempatnya dan langsung mendapat sekitar 3 pelanggan anak sekolahan yang datang.
Setelah melayani pesanan mereka satu persatu, Kyungsoo memilih duduk sembari menunggu pelanggan lain datang. Dan ketika itu, teman satu perjuangan –Hanbin datang mendekat kearahnya.
"Oh, pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Kyungsoo.
Hanbin menggeleng sembari tersenyum lima jari membuat Kyungsoo mendengus. "Lalu kenapa kau disini. Kalau manajer cafe tau bagaimana? Kita akan kena marah. Sudah kembali sana ke tempatmu." Usir Kyungsoo.
Hanbin menkecibikkan bibirnya, namun tangannya merogoh saku dibaju kerjanya.
"Ini." Ia menyodorkan sebuah kotak kado kecil berwarna maroon dengan pita merah muda mengikatnya. Kyungsoo mengernyit ketika melihat kado itu.
"Apa ini?"
Hanbin mengedikkan bahunya. "Tidak tau. Tadi seorang pelanggan menitipkannya padaku mengatakan untuk memberikannya padamu."
"Pelanggan? Siapa?"
"Itu yang tadi duduk dipojok dekat jendela. Dia selalu datang kemari dua minggu kebelakang."
Kyungsoo menatap kearah yang ditunjukkan oleh Hanbin. Gadis itu memutar otak memikirkan siapa pelanggan yang duduk disana sebelumnya. Dan dia membulatkan matanya ketika mengingat siapa yang tadi duduk disana.
"Kim Jongin?"
Sekali lagi Hanbin mengedikkan bahunya. "Aku tidak tau. Ah, sudahlah aku mau kembali bekerja dulu. Sampai nanti."
Lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Kyungsoo yang terpaku dengan kotak ditanggannya. Gadis itu baru tersadar ketika sudah tidak mendapati Hanbin disampingnya. Ia ingin meminta penjelasan lebih kepada Hanbin namun seorang pelanggan datang membuat Kyungsoo harus mengurungkan niatnya.
Memilih menyimpan kado itu dibawah meja sebelum nanti ia akan kembali pikirkan bagaimana kelanjutan nasip dari kado itu.
Perfect Velvet
Kyungsoo duduk diranjang kamarnya. Gadis itu mengeluarkan kado tak terduga yang tadi ia terima di cafe. Pikirannya bercabang memikirkan nasip kado itu.
Ia ingat tadi bagaimana ia menanyai Hanbin dan menceramahi lelaki itu karena menerima kado tersebut bukan malah menolaknya karena Hanbin jelas tau jika Kyungsoo bukan tipe gadis yang suka diberi kado oleh orang sembarangan.
Namun Hanbin seolah menamparnya dengan ucapannya.
"Memang kenapa? Ini hari natal Kyungsoo. kau tidak boleh menolak kado dari seseorang. Itu sama saja kau menolak rezeki yang diberikan Tuhan kepadamu." Debat Hanbin.
"Bukan begitu. Kau jelas tau jika aku_"
"Aku apa?" potong Hanbin. "Kyungsoo hilangkan sifat tak enakanmu itu. Bukan artinya jika seseorang memberimu kado itu berarti kau membebani mereka. Mereka bukan orangtuamu yang merasa begitu. Malah jika kau tidak menerima pemberian itu sama aja kau mengecewakan hati orang yang memberimu. Bukankah itu lebih buruk?"
Dan dengan kata-kata itu Hanbin berhasil membungkam Kyungsoo. membuat gadis itu berakhir membawa kado itu pulang kerumahnya.
Sekarang Kyungsoo merasa dilema luar biasa antara membuka atau tidak kotak kecil itu ditangannya. Ia hanya merasa sungkan menerima kado dari Jongin terlebih mereka tidak sedekat itu untuk saling menukar kado. Namun yang Hanbin katakan benar. Jongin akan kecewa jika ia tidak menerima kado itu.
Jadi setelah mengerang keras akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk membuka kado itu. Menilik apa isi kotak itu karena sejujurnya ia sedari tadi penasaran akan isinya.
Dengan pelan ditariknya pita yang mengikat bagian atas kado. Setelah pita itu terurai, Kyungsoo kemudian mulai membuka tutup atasnya.
Nafasnya tercekat ketika melihat isi didalam kotak itu. Tanpa sadar bibirnya mengalunkan sebuah kata "Cantik" memuji keindahan isi kotak itu.
Tangannya secara perlahan dibawa untuk menyentuh pelan kalung yang tersusun apik didalam kotak. Ia bahkan tanpa sadar menatap berbinar kalung itu. Namun sesuatu membuatnya tersadar.
Senyum cantiknya tiba-tiba patah mengingat harga kalung yang Jongin berikan kepadanya itu pasti tidak murah. Terlihat jelas dari tampilannya. Bahkan hanya perlu melihat sekilas untuk Kyungsoo tau jika kalung itu bukan kalung yang ada dipasaran.
Ia hendak kembali menyimpan kalung itu lalu memberikannya kepada Jongin tidak peduli jika lelaki itu akan kecewa. Namun sebuah lipatan kertas kecil dipinggir kotak menarik perhatiannya. Ia kemudian mengambilnya dan mulai membacanya.
Sebelumnya, selamat natal Kyungsoo
Ku harap kau menghabiskan hari natalmu dengan menyenangkan
Jika kau melihat surat ini maka bisa dipastikan kau menerima kado pemberianku
Maaf karena memberikanmu kado padahal kita tidak begitu dekat
Untuk itu dengan ini aku ingin kita mulai mengenal sedikit demi sedikit
Aku tak berharap banyak, namun aku akan sangat berterima kasih jika kau mau memakai kalung itu nanti jika kita bertemu lagi
Aku tidak memaksa karena aku cukup tau diri untuk itu
Jadi pikirkan baik-baik
Sekali lagi, selamat natal
-Kim Jongin
Kyungsoo mendesah. Merasa pening tiba-tiba. Ia benar-benar pusing sekarang. Lebih-lebih Jongin memberinya surat dengan permohonan untuk memakainya. Ia benar-benar tak tau harus berbuat apa dengan kalung ini.
Jujur kalung itu sesuai dengan selera Kyungsoo karena tidak mencolok mata. Namun sekali lagi, egonya benar-benar tak memperbolehkannya untuk menerima kado itu.
Sampai kemudian ia merasa lelah dan berakhir menutup kotak kado itu kembali dan menyimpannya dilaci meja belajarnya.
Kyungsoo bertekat untuk mengembalikannya kepada Jongin. Ia akan menjelaskan sebaik mungkin agar Jongin tidak tersinggung dengan penolakannya.
Namun sampai 5 hari berlalu Jongin tidak muncul-muncul juga. Padahal setiap harinya Kyungsoo akan selalu membawa kado yang lelaki itu berikan. Setiap harinya Kyungsoo menunggu dan berharap ia datang. Namun selama 5 hari itu juga Jongin tidak pernah datang. Bahkan untuk aromanya saja rasanya tidak ada.
"Kau masih menunggu lelaki itu untuk mengembalikan kadonya ya?"
Kyungsoo menoleh sedikit terkejut ketika mendapati Hanbin yang duduk dibangku halte yang sama dengan dirinya. Ia bahkan tidak tau kapan Hanbin datang dan tiba-tiba saja laki-laki itu muncul disebelahnya. Mirip dengan hantu.
"Kau terlalu fokus untuk melamun sampai tidak sadar aku datang." Ujar Hanbin seolah mengetahui isi kepala Kyungsoo.
Keduanya kembali diam menunggu bus malam yang belum juga datang.
"Kyungsoo, saranku kau terima saja kado itu." Ucap Hanbin memecah keheningan. Kyungsoo menggerakkan kepalanya untuk menoleh kearah temannya itu.
"Kenapa?"
"Tidak ada. Aku hanya memposisikannya kepada diriku sendiri. Pasti sakit ketika maksud baikmu ditolak oleh orang. Terlebih dia sudah meninggalkan surat dan mengatakan jika ingin kau mau memakainya. Bukankah dia terlihat putus asa karena ingin melihat kau memakai pemberiannya? Bayangkan betapa sedihnya dia ketika harapannya harus kau hancurkan begitu saja. Pikirkan baik-baik Kyungsoo."
Gadis itu tidak menjawab karena bertepatan dengan itu bus yang akan membawanya pulang datang. Sedang bus yang akan Hanbin naiki masih beberapa saat lagi akan datang.
"Aku pulang duluan." Gadis itu pamit dan Hanbin mempersilahkannya begitu saja.
Kyungsoo masuk kedalam bus dan memilih untuk duduk dikursi paling belakang. Beruntung bus sedikit sepi jadi dia hanya berada sendirian dikursi sana. Ia kemudian mengeluarkan kotak kado yang menjadi bahan pembicaraannya dengan Hanbin barusan.
Ia menatap fokus kepada benda kecil ditangannya itu.
"Haruskah?" gumamnya tak yakin.
Perfect Velvet
"Yunhoooooo kapan kita pulang?" Jongin mengerang kencang. Lelaki itu benar-benar tersiksa selama lima hari ini berada di Macau.
Ia terus terbayang-bayang wajah Kyungsoo karena rasa-rasanya dia seperti akan gila karena merindukan gadis itu.
foto yang dikirim oleh orang suruhannya tetap tak mampu mengobati rasa rindunya kepada Kyungsoo. lebih-lebih Jongin tidak melihat Kyungsoo mengenakan kado pemberiannya. Karena disetiap foto yang diberikan oleh orang suruhannya leher Kyungsoo selalu kosong. Ia takut jika Kyungsoo tidak menyukai kalung itu dan berakhir membuangnya.
Jika sampai hal itu terjadi maka Jongin berjanji akan mencincang Yunho hidup-hidup karena telah menyarankannya untuk memberikan hadiah kalung kepada Kyungsoo dan satu hal lagi yang dapat Jongin pastikan adalah perancang kalung itu serta toko yang menjualnya akan ia buat baktruk hari itu juga.
Jongin langsung duduk ketika melihat Yunho datang dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau membuatku takut tau."
Meski Jongin mengatakan dengan ketus tapi hal itu nyatanya tak mampu membuat senyuman lebar Yunho luntur dari bibirnya.
"Saya membawa kabar baik Tuan."
"Apa?" tanya Jongin malas.
"Rapat sore besok dibatalkan jadi jadwal anda besok hanya pagi saja bertemu dengan relasi kita dari Hongkong. Dan artinya anda bisa kembali ke Korea setelah jam makan siang."
Mendengar itu Jongin langsung berdiri dari duduknya. Sedikit tidak mempercayai ucapan yang Yunho katakan. "Sungguh?"
Yunho mengangguk dan Jongin langsung bersorak senang. Lelaki itu bahkan mengabaikan pandangan aneh Yunho yang melihat tingkah absurdnya yang tidak pernah ia lakukan didepan umum, bahkan Yunho sekali pun.
Tapi Jongin yang bahagia tidak ambil peduli. Lelaki itu langsung berlalu mendorong Yunho untuk keluar dari kamar hotelnya.
"Siapakan keperluan besok untuk kembali ke Korea. Pakai saja pesawat pribadi milik ku tidak usah memakai pesawat biasa. aku akan segera tidur sekarang agar pagi hari cepat datang. Kalau begitu selamat malam Yunho."
BRAKKK
Belum sempat Yunho menjawab, pintu kamar itu sudah dibanting keras oleh pemiliknya. Yang paling mengesalkan adalah ia membantingnya tepat didepan wajah Yunho.
Membuat lelaki yang merupakan tangan kanan Jongin itu gemas sendiri. Mungkin ia akan menyumpah serampahi Jongin jika ia tidak takut kehilangan pekerjaannya. Karena jika sampai ia kehilangan pekerjaannya maka istrinya dirumah akan ganti menyincangnya.
"Sabar Yunho sabar. Orang sabar disayang Tuhan."
Jadi ia memilih mengelus dada untuk meningkatkan sebarannya. Karena memiliki majikan macam Jongin adalah cobaan.
Perfect Velvet
Tepat diakhir jam kerja Kyungsoo berakhir, Jongin tiba-tiba datang dengan masih mengenakan mantel yang tadi ia gunakan dibandara.
Lelaki itu bahkan tidak sempat pulang dulu ketika mendapati kabar dari anak buahnya jika cafe tempat Kyungsoo bekerja akan tutup lebih awal di malam tahun baru.
Mereka akan menutup cafe tepat pukul 5 sore dan membiarkan pegawainya pulang lebih awal untuk menikmati meriahnya pergantian tahun.
Kyungsoo sendiri kaget melihat Jongin tiba-tiba muncul didepannya setelah lebih dari 5 hari menghilang. Ia muncul di hari ke-6 tepat pukul 04.45 sore. 15 menit sebelum cafe tempatnya bekerja tutup.
Ia bisa melihat dari pakaiannya jika Jongin pasti habis dari perjalanan jauh. Lelaki itu mengenakan mantel panjang dengan setelah resmi hitam didalam. Jongin terlihat sangat berbeda dari biasanya ia ketika berkunjung kemari. Lebih berwibawa mungkin?
"Jongi-ssi anda datang?"
Jongin tersenyum lima jari. "Ya, lama tak bertemu Kyungsoo. aku.. –eoh?"
Atensinya teralih dengan sebuah benda yang menggantung indah di leher gadis itu. Ia tersenyum semakin lebar saat akhirnya melihat Kyungsoo memakai hadiah pemberiannya.
"Kau memakainya?"
Kyungsoo merunduk malu-malu. Pipinya memanas karena ketahuan memakai kado pemberian Jongin. Setelah semalam ia kembali memikirkan ucapan Hanbin akhirnya ia memutuskan untuk memakainya. Setidaknya ia menghargai pemberian dari seseorang.
"Emmm.. a-aku.. aku.." Kyungsoo terlalu gugup ingin mengatakan jika ia berterimakasih. Bibirnya terasa sulit untuk digerakkan.
Beruntung Jongin tidak menghiraukan itu. Lelaki itu terlalu tenggelam dengan euforia hatinya yang tengah berpesta pora karena Kyungsoo mau menerima kadonya bahkan memakainya.
"Itu terlihat sangat cantik saat kau memakainya. Terima kasih Kyungsoo karena telah mau menerima pemberianku."
Dengan segera Kyungsoo menggeleng. "Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih karena kau memberikan kalung cantik ini kepadaku. Aku yakin pasti harganya tidak murah. Maaf karena merepotkanmu."
"Kau sama sekali tak merepotkanku." Bantah Jongin segera. "Sungguh harga kalung itu tak seberapa. Jangan terlalu dipikirkan. Aku sudah cukup senang kau mau memakainya."
Kyungsoo tersenyum kecil. Gadis itu kemudian teringat jika ia belum membalas kebaikan Jongin.
"Ah ya, untuk membalas kebaikanmu aku akan memberikan sesuatu."
"Apa itu?" tanya Jongin penasaran.
Namun Kyungsoo hanya tersenyum membuat Jongin semakin penasaran ditempatnya. "Tunggu saja disini sebentar."
Gadis itu langsung pergi kebelakang. Mengambil red velvet cake yang masih untuh belum tersentuh butter atau hiasan lain-lainnya.
Ia sudah meminta ijin kepada seorang koki dibelakang akan membeli kue itu. Ia segera memotong kue itu menjadi dua mengisinya dengan coklat cair serta beberapa serutan coklat putih. Kyungsoo kembali menumpuk kue itu lalu mengambil butter krim putih mengoleskannya secara merasa diseluruh permukan kue. Menambah banyak topping diatasnya.
Kyungsoo dengan hati-hati menyusunnya menjadi satu diatas kue itu. Butuh beberapa menit sampai akhirnya Kyungsoo menyelesaikan karyanya. Gadis itu kemudian kembali menaburkan parutan keju serta parutan coklat lebih banyak. Sebagai pelengkap Kyungsoo menambah beberapa buah strawberry diatasnya.
Ia keluar dan dapat melihat Jongin yang terlihat sangat bersabar menunggunya.
"Apa aku membuatmu menunggu lama?"
Jongin menggeleng, Kyungsoo tersenyum sembari menyerahkan kue yang tadi ia susun didapur. "Ini."
Sedang Jongin terpaku ditempatnya ketika melihat kue yang diberikan oleh Kyungsoo kepadanya.
"Aku tau ini jelek, aku hanya tak bisa memikirkan hal lain kecuali ini. Ini sebenarnya sama dengan red velvet tapi aku memberi perbedaan untuk isinya dan topingnya. Jadi kau bisa menyebutnya perfect velvet mungkin."
Kyungsoo mengedikkan bahunya. Merasa malu karena karyanya aneh itu. Sungguh Kyungsoo tidak pernah bisa membuat kue. Dia hanya bisa membuat kue sekali itupun dulu ketika dia masih berada disekolah dasar. Dan dia sekarang membuat yang sama persis seperti cakenya yang ia buat dulu. Berdoa saja Jongin tidak akan mentertawakan cake pemberiannya atau paling parah melempar cake pemberiannya.
Sedang Jongin sendiri diam. Ia hanya merasa seolah-olah otaknya kembali memutar ulang kejadian-kejadian dimasa lalu. Kejadian serupa meski tak sama.
"Aku tidak tau oppa akan menyukainya atau tidak. Aku membuatnya tadi disekolah dan seam menyuruh untuk membawa pulang. Dan karena oppa sedang ulang tahun sekarang, ini aku berikan saja pada oppa jadi jangan menangis karena aku akan menemani oppa untuk merayakannya bersama."
"Apa ini? Kenapa jelek sekali?"
"Ishhh kenapa oppa jahat sekali menghina karya ku. Ini itu red velvet cake tapi karena aku menambahnya dengan ekstra keju dan coklat maka namanya jadi perfect velvet."
To be continue~
Tunggu. Apa ini? Oh, au ah gelap
Huhuuuu heyyyy beby vee datang dengan chapter 3 perfect velvet. Gimana? Makin aneh ya? Kalau itu mohon maklum karena yang nulis juga aneh kok XD
Gak mau banyak ngomong ah, cuman mau bilang makasih sama kalian yang udah nungguin ini ff update. Thank's buat kalian yang udah mau baca karya baby vee yang masih kurang ini, yang ngefollow sama favorite in h=juga maksih. Lebih-lebih yang review, makasih banyakkkkk
Oke cukup sekian. See next chap ya~ bye bye :*
#HappyKIMJONGINDay #HappyKAIDay #HappyNinieDay #HappyPACARNYADYODay #HappyRAJAFILTERDay
Gak wish banyak-banyak. Cuman pengen kau sehat selalu dan jadi orang yang apa adanya dan rendah hati.
Jangan lupa jagain si botak ya XD
