Truth? This is it!

This is Chap 2! Yah, terakhir kali kita uda tahu siapa duo kembar yang ributnya membahana. *dicekek Miki dan Mikio*. Yah, semoga dinikmati, maaf kalo Gaje, aneh dan ga masuk akal.

.

.

Setelah melepaskan diri dari pelukan maut Miki, Henna mulai angkat bicara. " Ano, kalau boleh tanya.. Urusan perusahaan apa yang membuat ayah dan ibu kalian datang ke India."

Mikio tersenyum. "Aduh, Michi. Kau ini bebas manggil mereka Ayah dan Ibu. Toh mereka memang orang tuamu.. Yah, meski orang tua tiri sih.." Henna nyengir sweatdrop. "Dan Ayah dan ibu memiliki perusahaan. Namanya Diamond company."

(DM: Ooh, jadi itu Diamond company./ All: BARU SEKARANG DISINGGUNG?!)

"Diamond company?" Henna memiringkan kepalanya, heran. "Perusahaan kami adalah perusahaan yang memproduksi batu berharga. Kami juga punya sedikit tambang. Tambang perusahaan dan tambang pribadi." Jelas Miki.

"Berapa banyak tambang?" tanya Mitsuki penasaran.

"Hmm, Kalo tambang pribadi, 35 tambang lebih mungkin. Tambang perusahaan 2 atau 3 kali lipat dari jumlah tambang pribadi kami mungkin." Jawab Miki.

'Segitu dibilang SEDIKIT?!' Batin Mitsuki, Mu dan Henna jawdrop.

"Ba-banyaknya! Perusahaan kalian pasti sangat maju!" seru Henna kagum.

"Enng, bisa dibilang masuk 10 perusahaan paling kaya di dunia sih. Gak seberapa." Ujar Mikio yang terlalu merendah. "Lagipula Diamond company itu sekarang milik kakek kami, dan kakek juga punya 2 perusahaan lainnya. sepertinya juga perusahaan terkenal. Gak seberapa deh."

'Gak seberapa pula katanya?!' batin ketiganya, jawdrop lagi.

"Err, jadi apakah ada urusan lain anda kemari?" tanya Mu setelah sadar.

"Ya, kami mau jemput Michi-chan dunk! Apa lagi?" tanya Miki.

Sukses Henna agak shock. "A..Apa? jemput aku? Maksud kalian..."

Miki tertawa kecil. "Ya jemput kamu balik ke Jepang donk! Kami kan tinggal di tokyo." Jelas Miki.

Tapi Henna langsung menggeleng sekuat tenaga. "Tidak, kalian pasti salah. Aku err, yah kayaknya tak bisa di Tokyo. Lagipula aku tinggal di Sanctuary saat ini. Aku gak tega ninggalin Shaka-nii." Sahut Henna.

Mereka bisa lihat kalau Henna memang gak mau pergi kemanapun. "Eeh.. benarkah. Ehm, Sebenarnya bukan kami yang mau Michi pindah ke Tokyo." Ujar Mikio.

Henna agak bingung."Hah? Jadi siapa?"

"Jii-san yang meminta kami menjemputmu. Tapi kalau kau gak mau sih ya gak apa. Toh kami bisa berkunjung kemari. Tentu kami harus pakai jet pribadi untuk ke Athens terlebih dahulu." Jelas Mikio.

"Tapi yang penting.. Michi-chan mau ngakuin kami sebagai keluarga kan?" tanya Miki penuh harap. Henna terdiam dan tertawa lepas.

"Kok malah enggak mau? Tentu saja kalian keluargaku! Malah aku berhutang budi nyawa karena kalian menyelamatkan nyawaku sewaktu bayi." Henna tersenyum lebar.

Miki dan Mikio menarik nafas lega. "Oya, mau gak berkunjung ke kamar hotel kami? Karena Sanctuary ini tampaknya daerah suci, aku jadi enggan entah kenapa." Tawar Mikio. "Tambah lagi, Jii-san juga di hotel itu."

Henna berpikir sejenak, dan akhirnya dia mengangguk setuju. Dengan syarat Mitsuki dan Mu boleh ikutan. Setelah setuju, Henna menteleportasi mereka semua sampai keluar Sanctuary. "Nah, aku telepon dulu supir kita ya!" Miki mengeluarkan hp touchscreen miliknya dan menelepon satu nomor.

Tak lama kemudian, sebuah limo datang ke arah mereka. Mitsuki tentu agak terbiasa dengan limusin. Kalau Mu dan Henna juga mulai terbiasa, karena terakhir kali di Hello Baby, mereka seringnya pakai limusin. Cuman masalahnya, mereka bertiga tetap tak terbiasa dengan kemewahan berlebihan.

"Maaf kalau hotel kami kurang bagus ya. Kami memilih hotel yang sederhana." Sahut Miki.

"Tentu tak apa." Jawab Henna.

"Malahan sederhana juga bagus dan nyaman kok." Mitsuki menambahkan.

Kelimanya berbincang terus sampai mereka tak sadar kalau mereka sudah didepan pintu masuk hotel. "Nah, ini hotel kami." Miki berseru pakai nada promosi(?)

Henna, Mitsuki dan Mu sweatdrop akut. "Hotel grand elite berbintang 5 , dibilang sederhana. Capek deh!" kata mereka serempak.

Waktu masuk, sepertinya kedua Hasegawa ini agak mirip dengan Kakek Mitsuki. Karena kamar mereka itu sudah berkelas dan sengaja menggabungkan 3 kamar. Bisa dibilang seluas rumah asli.

"Ini udah keterlaluan juga." Bisik Mu sweatdrop.

"Yah, mulai lagi deh." Henna menepuk jidatnya.

Mitsuki menatap heran sahabatnya, "Ada apa, Henna-chan?"

"Aku udah pernah bilang kalau aku ini pemimpin di pure island kan?" Mitsuki mengangguk. "Disana aja aku udah muak karena kemewahannya. Disini kok malah diulang lagi sih?" protes Henna.

"Kita senasib Henna-chan. (T^T)" ratap Mitsuki.

"Sekali lagi, kami minta maaf ya kalau kamar ini tak memenuhi selera kalian. Kalau kalian mau, kami bisa meminta upgrade kamar yang lebih mewah dari ini." Tawar Miki.

"INI SUDAH CUKUP, TERIMA KASIH!" Jerit Henna, Mitsuki dan Mu bersamaan.

Kelimanya kembali berbincang dengan bebas, karena waktu di Sanctuary mereka enggan untuk berbicara secara leluasa. Tanpa disadari, seseorang masuk ke kamar mereka.

"Jii-chan!" sorak Miki riang.

Lelaki yang disoraki terkekeh. "Hoi, masih aja riang ya? Seperti uda pisah bertahun-tahun aja." Ledeknya.

"Aah! Jii-chan gak seru! Oh ya, Jii-chan ini temanku dan Mikio!" Miki menarik tangan kakeknya ke arah ketiga tamu.

"Jii-san, ini Mu-san, Mitsuki-san, dan Henna-chan. Minna, ini kakekku. Dia Hasegawa Narubo." Mikio menunjuk satu persatu tamu-tamunya. Yang ditunjuk membungkuk hormat, begitu juga dengan Kakek Narubo.

Tiba-tiba Mikio teringat sesuatu. "Ah, Jii-san. Henna sendiri adalah Michi.". Kakek Narubo tampak terkejut. Setelah memperhatikan Henna agak lama, dia langsung berkomentar.

"Kok enggak mirip sama kalian?"

Kelimanya kepleset dengan muka yang kena lantai duluan. "JII-CHAN INI GIMANA SIH?! JANGAN BILANG KALO JII-CHAN LUPA!" Bentak Miki.

"Lupa apa, Miki-chan?" tanya Kakek Narubo polos.

Mikio menggeleng pelan. "Tua-tua tapi polos amat. Michi itu adik angkat, bukan adik kandung! Tou-san dan Kaa-san menemukannya terabaikan di area hutan." Jelas Mikio.

"Lalu setelah itu apa?" tanya Kakek Narubo, lagi-lagi polos.

Miki sudah mau membanting kepalanya ke kayu terdekat. "Jii-chan ini percuma pemilik perusahaan besar, tapi pikunnya gak ketolong!" gumam Miki stress.

Kakek Narubo langsung tertawa usil. "Kakek bercanda tau!" ledeknya sambil menjulurkan lidahnya. Saraf simpang empat langsung nongol di kepala kembar Hasegawa.

"Tak lama jumpa, Michi-chan." Kakek Naru(namanya disingkat aja ya.) memeluk Henna dengan hangat.

"Se-senang bertemu, Narubo-san." Sapa Henna gugup.

"Haha, tak perlu kaku dengan kakek ini! Gini tua juga masih ganteng lho!" Kakek Naru membuat gaya yang sukses membuat keempat lainya terjembab ala gag comic.

Henna sweatdrop. "Ahaha. Gomen, Jii-san."

"Michi-chan, jadi apakah kau mau pulang bersama kami ke Tokyo?" tawar kakek Naru. Henna langsung membisu, takut menjawab. Tapi apa boleh buat.

"Gomenasai, Jii-san. Aku gak bermaksud lancang tapi saat ini aku sudah punya kakak angkat lain. Aku gak tega ninggalin dia." ujar Henna agak menunduk.

Tapi Kakek Naru tak marah atau cemberut sama sekali. "Aku sudah menduganya kok. Tak apa, itu bukan jadi masalah. Tapi aku punya satu hal yang ingin kubahas saat ini."

Miki dan Mikio menatap heran kakek mereka. "Saat ini Miki menjabat posisi sebagai CEO di Starlight company. Dan Mikio menjabat posisi sebagai CEO ClearWater company." Jelas Kakek Naru.

"Oke? Lalu.. itu aja kah?" tanya Henna.

Narubo menggeleng. "Saat ini aku punya 3 perusahaan. Satu kuturunkan ke Miki, satu kuturunkan pada Mikio."

Mikio yang mengerti maksud kakeknya melanjutkan kalimatnya. "Kakek sendiri punya satu perusahaan lain yang belum diwariskan. Diamond company. Dan dia ingin mewariskannya ke kamu, Michi."

Penjelasan itu membuat Henna tercengan setengah hidup(?). "Bi-Bisa ulangi?" Tanya Henna, agak gemetaran.

"Kamu dipilih sebagai pewaris Diamond company. Cepat atau lambat, perusahaan ini harus memiliki CEO. Jii-san sebentar lagi akan memasuki masa pensiun. Henna, Kamu bisa kan?" tanya Mikio penuh harap.

Henna gak bisa menjawab apapun, sampai entah kenapa dia mulai gemetaran. "A..A..Ak..Ku..." Henna mulai gagap.

Mitsuki jadi panik melihat Henna. "Henna-chan? Kamu ada kenapa-napa?"

Henna menggeleng. "Engga kok. Aku ngak apa-apa kok!"

Tapi 4 detik setelah mengatakan itu, "Oke, aku bohong! Aku gak bisa tenang!" Henna langsung bernafas dengan panik.

Mitsuki sudah hapal kebiasaan Henna jadi agak panik. "Bertahanlah Henna! Minna-san, dia perlu bantal empuk, air putih dan udara segar! Dengan cepat!" semuanya mengerti dan mengikuti komandonya Mitsuki.

Dalam beberapa menit, Henna sudah duduk didekat jendela yang lumayan lebar yang terbuka, duduk sambil memeluk bantal putih dan meneguk habis segelas air.

"Siapa sangka kalau kau benar-benar hapal kebiasaanya." Komentar Mu.

"Yah, aku mengetahui solusinya bersama Sophie." Jawab Mitsuki yang mengipasi Henna.

Mu menggelengkan kepalanya. "Ternyata anak yang satu ini juga lebay." Bisiknya lirih, hampir tidak kedengaran. Tapi sebenarnya Mitsuki sudah sempat mendengarnya dan hampir menghujani Mu dengan Deathglare.

"Sudah tenang?" tanya Miki agak takut-takut. Ketika Henna mengangguk pelan, barulah mereka bisa menghela nafas lega. "Kok bisa sampai gituan sih?" tanya Miki.

"Henna-chan memang mau panik kalau dia terkejut, Miki-san." Ujar Mitsuki.

Henna langsung mengiyakan penjelasan Mitsuki. "Lagipula, ini mendadak banget! Masa dalam satu hari, aku sudah disuruh menjalankan perusahaan besar? Nanti kalau ambruk gimana?!" tanya Henna panik.

Narubo tersenyum. "Tenang, kami tetap bantu kok. Tapi kakek harap sih kamu mau. Tapi tak apa deh kalau tak mau." Kakek Naru membuat wajah (sok) sedih. Henna juga gak tega lihat muka sedih. Jadi hasilnya..

"Kalau kalian pikir aku bisa, mungkin aku bisa belajar." Ujarnya pasrah. 'Astaga, aku ini serius ya?!' jerit Henna dalam hati.

"Baguslah kalau begitu!" sorak Kakek Naru riang alias mood change dengan instan.

Kelima lainnya hanya bisa sweatdrop dan cengo. Henna yang paling diambang stress. 'Aku? Perusahaan besar? Oh demi dewa dewi Olympus!' batinnya.

TBC

Henna: (ToT) gak terima! Aku takut gak sanggup.

Ketrin: udahan dah, bisa belajar.

Henna: Oya, Ket. Kenapa gak bikin balas review aja.

Ketrin: Humm, boleh deh..

#Gianti-Faith

Henna: Pas dah, jahat amat! Mereka gak salah, tapi mereka yang kena.

Ketrin: cup cup sabar dah.

Henna: Oya dan salam kenal ya Felicity-san!

Ketrin: Oh iya, Kagaho itu inkarnasi si Ikki ya. Tapi saat ini, Lee sih lom tentu juga pairnya. Kalo Henna jelas sama Ikki.

Shaka: ...

#Amuletwin777

Ketrin*sweatdrop*: Gom-Gomen, Teru-san

Henna: Nih, si Ketrin salahin! *dorong Ketrin*

Ketrin: Hei! Tadi kan kamu duluan yang buat Mitsuki-chan kepleset!

Teru: Oi! Masa Mitsuki dibuat gitu sih?! Dia kan bla bla bla bla...!

Ketrin, Henna: Apa Teru-san MEMANG selalu seperti ini yah? *sweatdrop*

# -kun

Ketrin: Haizz, agak sebhel tapi ya fine aja. Toh aku bukannya marah amat.

Henna: kau juga salah kok. Pair aku gak jelas.

Ketrin: Iya maaf. Aku orangnya plin plan.

Henna: tapi cepeten bikin pair SagaxSuri!

Suri: WOOYY!

#TsukiRin Matsushima29

Ketrin: Haha, kenapa laptopnya, Nitsuki-san?

Henna: eh, arigatou atas pujiannya~

Ketrin: omong-omong, kalo misalnya Aspros sama Nitsuki-san... dan Saga sama Suri.. gimana tuh reaksi Nitsuki-san?

Henna: lha? Kan beda orangnya..

Ketrin: cuman Saga itu kan reikarnasi si Aspros *sweatrop*

Segitu dulu minna! Harap ditunggu chap selanjutnya!

Dan oh iya! Sekedar promosi (?), saya minta sesama Author buat ikut nge-vote poll di profile saya dunk. Buat nentuin siapa pairnya OC TLC saya, Lee. Tentang Lee baca di prof. saya juga ya! Jaa!