Perfect Velvet

Chapter 4


Flashback On


Incheon Airport, Jung-gu – Korea Selatan

14 januari 2010

04.45 PM KST

Langit masih gelap ketika sepasang kakinya menapaki lantai badara. Ia keluar bersama beberapa orang yang datang dari pesawat yang sama.

Matanya mengawasi sekitar ketika langkah kakinya akhirnya sampai diluar pintu kedatangan bandara. Ia terus mencari seseorang yang bertugas menjemputnya dan benar saja tak beberapa ia dapat melihat seorang pria yang kira-kira berumur 5 tahun lebih tua darinya melambai dengan semangat.

Ia tersenyum kecil sebelum mempercepat langkahnya menuju pria itu.

"Yunho." Ia menyapa.

Dan lelaki yang bernama Yunho itu membungkuk sopan kepadanya. "Selamat datang kembali Tuan Jongin."

Ia tersenyum kecil sebelum kemudian menyerahkan tas serta koper yang ia bawa kepada pelayan yang menjabat sebagai tangan kanannya. Lalu kembali melangkahkan kakinya mengekori Yunho yang mengantarnya menuju mobil jembutannya.


14 Januari adalah hari yang membahagian untuk seorang Kim Jongin tiap tahunnya. Ia akan membuat pesta besar dan bersenang-senang bersama kawannya untuk merayakan hari jadinya.

Hari ini sejujurnya ia juga berharap hal yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya karena hari ini adalah ulang tahun ke-20 nya. Awal dari masa dewasanya.

Memang manusia bisa berencana namun Tuhan yang berkehendak. Tepat 2 hari sebelum hari ulang tahunnya keluarganya mengabarinya untuk segera pulang ke Korea. Awalnya Jongin tak mengerti kenapa, karena ia masih menjalankan pendidikannya di Jerman.

Namun ia segera memesan tiket keberangkatan ke Korea ketika bibinya mengatakan,

"Nenekmu kritis kembali dan dokter mengatakan ia tidak dapat bertahan lebih lama."

Jongin tidak ingin percaya. Ia ingin menyangkal dan mengatakan jika bibinya itu hanya bercanda. Namun suara bibinya yang terdengar menahan tangis meleburkan harapannya.

Lelaki itu jatuh terduduk dengan ponsel yang terbanting kelantai karena ia tidak mampu memegangnya. Tangannya terlalu lemas. Jangankan untuk memegang ponsel, untuk mengangkatnya saja terasa sulit.

Tanpa dirasa air matanya jatuh.

Seorang Kim Jongin menangis karena neneknya. Siapapun tidak akan ada yang percaya karena lelaki itu bahkan tidak menangis ketika dulu kepalanya bocor terkena lemparan batu temannya dimasa muda.

Ia juga tidak pernah menangis ketika orang tuanya sibuk pergi untuk perjalanan bisnis dan meninggalkannya sendiri dirumah.

Ia adalah anak lelaki yang kuat dan tangguh. Begitu yang dikatakan orang-orang tentang dirinya.

Namun sekali lagi, ia juga manusia. Masih memiliki hati untuk dirasa. Ia juga bisa menangis ketika mendengar jika orang terkasihnya tidak akan bertahan lama. Nenek yang selama ini menjaganya serta mengurusnya. Menjadi sosok ibu pengganti dengan memberikan seluruh kasih sayangnya kepadanya.

Jongin merasakan hatinya benar-benar hampa. Ia bahkan seperti orang kesetanan mendatangi bandara dan meminta untuk segera diberikan tiket pesawat untuk kembali ke Korea. Ia bahkan hampir membuat keributan ketika memaksa untuk tetap terbang hari itu juga padahal bandara sedang tidak beroperasi karena badai salju yang menerpa.

Beruntung ada temannya sekolahnya yang tidak sengaja bertemu dan kemudian menenangkannya. Membuatnya duduk diam dibandara menunggu sehari semalam sebelum kemudian menjadi orang pertama mendapat tiket untuk pulang ke Korea.

Ia berangkat sore hari dan sampai di Korea ketika pagi buta. Tepat di hari ulang tahunnya ia menginjakkan kaki di Korea setelah sekian lama.

Mobil yang ditumpanginya bersama Yunho sudah hampir sampai di Rumah Sakit. Hanya tinggal satu kilometer yang berarti tinggal beberapa menit saja sampai ditempat neneknya berada.

Namun ketika Yunho menghentikan mobilnya dilampu merah. Ponsel lelaki itu berbunyi, yang mau tidak mau menarik minat dari lelaki dibelakangnya.

Jongin memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yunho. Lelaki itu menjawab telfon yang entah dari siapa, sebelum kemudian tiba-tiba saja mukanya menjadi pucat dan tegang.

Jujur saja Jongin penasaran namun ia terlalu lelah untuk bertanya. Jadi ia hanya diam kembali menutupi wajah kuyunya dengan lengan. Mencoba beristirahat meski nyatanya ia terjaga.

"Tuan..."

Ia bisa mendengar bagaimana lirih Yunho memanggilnya.

Jongin bahkan tidak menyadari jika dirinya sudah berada tepat didepan bangunan rumah sakit ketika mengangkat lengannya untuk menutupi wajahnya.

"Ada apa?" ia bertanya datar. Malah kelewat datar.

Namun ia segera memperbaiki aksen bicaranya ketika melihat tatapan sendu yang diberikan oleh bawahannya.

"Yunho kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan apa yang ingin kau sampaikan."

Yunho menghela nafas pelan. "Tuan semoga anda diberikan ketabahan untuk melewati ini."

Jongin menaikkan alisnya mendengar pernyataan Yunho. Lelaki yang lebih tua darinya itu terlalu berbelit-belit membuatnya tidak mengerti bahkan tidak menangkap maksud dari pernyataannya.

"Maksudmu?"

Sungguh rasanya Jongin tak tenang. Ia menjadi gusar sendiri merasakan firasat tak enak karena Yunho yang tak kunjung membuka suara.

Namun ia merasa seperti kehilangan jiwanya ketika Yunho akhirnya membuka suara. Kembali menyampaikan perkataannya yang tertunda.

"Tuan maaf. Tapi Nyonya Lim tidak dapat diselamatkan lagi. Beliau pergi 10 menit yang lalu setelah sempat sadar selama 2 menit hanya untuk mencari anda."

Dunia Jongin tiba-tiba saja terasa runtuh. Ini adalah hari ulang tahunnya. Biasanya neneknya akan berkunjung ke Jerman tiap hari ulang tahunnya hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan tahun ini neneknya memberikan kado yang begitu pahit untuknya. Kado terburuk sepanjang sejarah hidupnya.

Kematian dari yang terkasih, segala-galanya untuknya. Satu-satunya wanita yang paling ia hormati dihidupnya. Nenek tersayangnya.


"Arghhhhhhh!"

Lelaki itu berteriak nyaring. Selayaknya orang gila.

Ia baru saja menghadiri pemakaman neneknya yang menguras air mata. Ia masih tidak percaya ketika tubuh wanita tua itu dimasukkan kedalam peti lalu dikebumikan didalam tanah.

Ia bahkan menangis seperti orang gila tidak memperdulikan pandangan orang-orang yang menatap kasihan kepadanya. Ia bahkan menghiraukan tangan bibirnya yang mencoba meraihnya.

Setelah pagi tadi neneknya dinyatakan benar-benar meninggal. Keluarganya memutuskan untuk memakamkan segera tanpa mengadakan ucapara pemakaman sesuai permintaan neneknya. Jadi hanya kerabat terdekat yang datang menghadiri pemakaman itu.

Namun bukan hal itu yang membuat Jongin marah.

Tidak ia tidak marah dengan keputusan neneknya yang tidak ingin diadakan ucapan penghormatan seperti kebanyakan orang. Tidak bukan itu. Ia bisa memahami tentang itu karena ia tau jika neneknya tidak terlalu suka hal-hal semacam itu.

Namun yang paling membuatnya marah adalah orangtuanya. Ayah serta ibunya.

Kedua orang yang mengaku sebagai orang tua Jongin itu sama sekali tak terlihat dipemakaman ataupun rumah sakit.

Awalnya Jongin tidak menyadari. Namun ia dapat mendengar sayup-sayup beberapa orang membicarakan tentang ketidak hadiran ayah dan ibunya. Dan saat itulah Jongin mencari.

Lelaki itu mencari ketiap tempat dimana keluarga dekatnya berkumpul dan tidak mendapati kedua orangtuanya dimana pun.

Ia kemudian merogoh ponselnya, menghubungi kedua orangtuanya. Butuh beberapa saat sampai kemudian ibunya menjawab panggilannya.

"Ibu kau dimana? Kenapa aku tidak melihatmu dan ayah sama sekali dipemakaman nenek." Sambar Jongin sebelum ibunya sempat menyapa.

Ia bisa mendengar dengusan kasar yang keluar dari sebrang sana. Kentara sekali jika orang itu malas menjelaskan apa yang ditanyakan oleh anaknya.

"Bisakah kau tidak bertanya itu? Ibu dan ayah sedang sibuk sekarang. Kami akan terbang ke Dubai beberapa saat lagi dari Belanda jadi tidak mungkin kami menghadari pemakaman nenekmu. Lagi pula sudah ada bibimu disana. Dia pasti mengurus semuanya dengan baik."

Jongin terdiam. Ia terlalu tidak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang. Ia tidak percaya jika ibunya bisa mengatakan hal semenjijikkan itu bahkan tentang kematian ibu kandungnya sendiri. Sungguh? Apa wanita yang sedang berbicara dengannya itu benar-benar ibunya? Jongin bahkan terlalu malu untuk mengakui kenyataan tersebut.

"Kalau tidak ada hal ingin kau katakan lagi akan ibu matikan. Pesawat ibu akan terbang sebentar lagi. Ibu tutup."

Bahkan sebelum Jongin menjawab wanita itu telah memutuskan sambungannya tanpa menunggu perkataan putranya.

Jongin menurunkan ponselnya yang sedari tadi melekat ditelinganya. Ia menatap nanar kepada benda ditangannya itu sebelum kemudian membantingnya sekuat tenaga ke meja.

Jongin langsung mendapat perhatian orang-orang disekitarnya karena perbuatannya barusan yang membuat meja kaca dihadapannya pecah menjadi dua. Namun Jongin tidak cukup untuk perduli. Entah ponsel ataupun meja kaca itu. Ia terlalu marah karena ketidak perdulian orangtuanya kapada neneknya membuat emosinya memuncak dengan cepat.

Ia langsung berlari keluar dari sana, menghiraukan panggilan bibinya dan saudara-saudaranya yang lain.

Sampai kemudian langkah kakinya membawanya berhenti dibawah jembatan sungai Han. Tempat itu begitu sepi membuatnya merasa jika ini tempat yang cocok untuk menumpahkan tangis kesedihannya.


Kyungsoo berjalan menunduk. Gadis kecil berwajah manis itu berjalan sembari menendang kerikil-kerikil yang ia jumpai tiap langkahnya. Tidak keras namun cukup membuatnya sedikit tenang karena menemukan pelampiasan.

Sesekali mata bulat menggemaskannya melirik bingkisan yang ia bawa ditangannya. Dan semakin ia sering melirik bingkisan itu semakin bertambah maju kerucutan bibirnya.

"Hahhh~ apa yang harus ku lakukan dengan ini?"

Ia mengangkat bingkisan ditangannya. Bertanya kepada dirinya sendiri, berharap akan mendapat jawaban. Namun hanya keheningan yang menjawab dan hal itu membuatnya mendengus kesal.

Gadis kecil itu baru saja pulang dari sekolahnya yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berjalan. Bukan sekolah yang mewah seperti kebanyakan sekolah yang ia lihat setiap berjalan berangkat dan pulang sekolah. Hanya sebuah sekolah dasar sederhana dengan 2 kelas tiap angkatannya. Namun Kyungsoo tetap senang bersekolah disana karena ia memiliki banyak teman.

Hari ini –tepatnya sebelum bell pulang. Kelasnya memiliki kelas prakarya dan prakarya hari ini berbeda dengan prakarya minggu-minggu sebelumnya.

Jika biasanya hanya akan ada prakarya melukis atau membuat kerajinan maka hari ini gurunya membuat sebuah prakarya dengan bahan cake. Gurunya mengatakan jika mereka diminta untuk membuat kreasi cake sesuka mereka dan Kyungsoo mendapat sebuah cake yang berbeda. Berwarna merah keunguan.

Gadis manis itu mengernyit ketika mendapati cake yang berada dimejanya.

"Ada apa Kyungsoo? apa kau mengalami kesulitan?" gurunya datang untuk menanyakan keluhannya karena sedari tadi gadis itu hanya menatap diam kearah cake dimejanya. Padahal teman-temannya sudah mulai mengoles-ngoleskan butter cream ke cake masing-masing.

Kyungsoo mendongak menatap gurunya dengan penuh tanya. "Seam, ini apa? Apa ini cake juga? Tapi kenapa aku tidak pernah melihat yang seperti ini dan kenapa teman-teman tidak mendapatkan yang sama seperti milikku?" gadis kecil itu bertanya dengan penasara membuat gurunya tersenyum maklum.

"Ini red velvet cake Kyungsoo. hanya ada satu dikelas ini dan kau gadis istimewa yang mendapatkannya."

"Sungguh?" Gadis itu dapat melihat bagaimana gurunya mengangguk yakin.

Setelah mendapatkan jawaban yang menyenangkan hatinya, Kyungsoo bergegas menghias kuenya seperti teman-temannya yang lain.

Setengah jam sebelum bell pulang sekolah dibunyikan. Seluruh siswa menyelesaikan karyanya. Mereka menjelaskan satu-satu tentang kreasi cake masing-masing sampai akhirnya tiba giliran Kyungsoo. ia mendapat giliran paling akhir karena ia juga menyelesaikannya paling akhir.

"Jadi apa nama cake mu Kyungsoo?" gurunya menanyainya. Ia bisa melihat wajah-wajah penasaran dari teman-teman sekelasnya karena Kyungsoo memiliki cake yang berbeda. Dengan senyuman cerah gadis itu mulai menjelaskan cake kreasinya.

"Ini adalah perfect velvet. Saem bilang ini adalah kue istimewa dan hanya aku yang memilikinya. Aku membuat cake ini dipenuhi dengan coklat, keju dan strawberry. Jadi karena itu aku menyebutnya perfect velvet karena ini adalah cake istimewa yang sempurna. Terimakasih."

Ia menyelesaikan penjelasnnya bersamaan dengan bell sekolah yang berbunyi. Ia segera kembali ketempat duduknya ketika gurunya menyuruh untuk kembali. Dan sebelum mereka diijinkan untuk pulang, gurunya memberitahukan jika mereka semua bisa membawa pulang cake buatan mereka untuk diberikan kepada orangtua masing-masing.

Awalnya Kyungsoo senang. Ia bersemangat untuk menunjukkan cake buatannya kepada kakak lelakinya. Namun semangatnya langsung turun ketika mengingat jika kakak lelakinya sedang berada diluar kota karena sedang mengikuti tes untuk pekerjaan barunya.

Ia tidak mungkin juga membawa pulang kue itu lalu menunjukkan kepada ayah serta ibunya. Yang ada bukannya pujian yang ia dapat tapi malah caci maki yang ia terima. Paling parah mungkin cakenya akan dilempar kedepan mukanya.

Untuk itu gadis kecil itu memutuskan untuk pergi ketempat favoritnya sembari menghabiskan sorenya sebelum pulang kerumah.

Gadis itu melangkahkan kakinya riang gembira. Sembari bersenandung disetiap langkahnya. Namun senandung serta langkahnya terhenti ketika dari jarak 3 meter, ia mendapati seseorang tengah duduk sembari menyembunyikan kepalanya ditempat favoritnya.

Penasaran

Perasaan itu membuatnya kembali melangkahkan kakinya, menghiaraukan tentang wejangan kakak lelakinya yang selalu mengatakan untuk tidak berbicara dengan orang asing.


Jongin yang masih menangis ditempat persembunyiannya merasa terusik ketika merasakan seseorang datang. Ia juga bisa merasakan jika orang itu tengah menatap penasaran kearahnya. Awalnya ia ingin mengabaikannya namun seseorang itu malah duduk dengan berisik disebelahnya.

Ia mengangkat wajahnya dan bisa melihat seseorang gadis kecil tengah menatap penasaran kearahnya dengan mata bulatnya.

"Oh oppa menangis?"

Jongin mendengus mendengar gadis kecil itu bertanya sembari menahan tawanya. Dengan segara ia hapus air matanya dan mengalihkan pandangannya dari gadis kecil itu. Ia membalikkan badannya kearah lain. Mencoba meratapi kembali nasip sialnya hari ini.

"Ckck, ternyata oppa sombong sekali."

Jongin tetap diam. Membiarkan gadis kecil dibelakangnya terus mengoceh tidak jelas. Jujur saja ia tidak perduli dengan apapun yang dilakukan gadis kecil itu. Ia hanya ingin sendiri tapi kenapa harus ada yang mengganggunya.

"Ya oppa! Aku berbicara kepadamu." Gadis kecil itu masih kukuhh untuk terus berbicara kepada Jongin. Ia bahkan berteriak kesal karena Jongin mengabaikannya. Namun sekali lagi Jongin tidak perduli.

Kyungsoo –si gadis kecil– memberenggut kesal karena sekali lagi orang yang baru ditemuinya itu tetap besikukuh mengabaikannya. Namun jangan panggil namanya Kyungsoo jika ia tidak bisa membuat seseorang mau berbicara kepadanya –oh ini tentu terkecuali orangtua serta dua kakaknya yang lain.

Gadis kecil itu berdiri dari duduknya. Menaruh bingkisan serta tasnya ditanah sebelum berjalan kehadapan seseorang yang sedari tadi terus mengabaikannya. Ketika Kyungsoo berada didepannya, ia bisa melihat jika lelaki itu memalingkan wajah kuyunya masih kukuh dengan pendiriannya untuk mengabaikan kehadiran Kyungsoo.

Untuk itu kemudian Kyungsoo berjongkok lalu menggenggam sebelah tangan dari lelaki yang ia kira seumuran dengan kakak ketiganya.

"Gweanchana.. oppa tidak usah malu. Aku tidak akan menertawakan jika oppa menangis. Tidak apa-apa. Kata oppaku, seseorang memang sesekali harus menangis jika merasa sedih. Oppaku juga kadang menangis jika lamaran pekerjanya ditolak, jadi tidak masalah jika oppa sekarang mau menangis."

Jujur sesuatu dalam rongga dada Jongin tiba-tiba terasa berdebar kencang. Seumur hidupnya ia tidak pernah mendengar seseorang mengatakan kalimat menenangkan seperti itu kepadanya –bahkan neneknya sekalipun selalu mengatakan jika ia lelaki dan ia harus kuat. Tidak boleh cengeng atau sebagainya.

Tapi lihat sekarang. Seorang gadis kecil tengah merayunya dengan kalimat menenangkan untuk menarik perhatiannya.

Ketika ia mengangkat wajahnya ia bisa melihat senyuman manis gadis kecil itu. Matanya tiba-tiba terasa semakin panas ketika gadis kecil itu menepuk-nepuk tangannya pelan dan air matanya kembali jatuh begitu saja.

Ia kembali menangis. Namun tidak seperti tadi, kini ada seseorang yang menemaninya ketika ia menangis.


Butuh waktu sedikit lama sampai akhirnya Jongin selesai dengan tangisannya. Kyungsoo bahkan sudah lelah berjongkok dengan kaki kecilnya membuatnya memutuskan untuk duduk ditanah.

Kini setelah Jongin tenang. Keduanya duduk berdua mengahadap kehamparan air sungai yang terlihat tenang. Mereka menikmati hening yang terjadi diantara keduanya.

"Terima kasih." Ucap Jongin akhirnya. Kyungsoo yang kaget karena suara berat Jongin sedikit terlonjak dari duduknya membuat Jongin mengulum senyum karena merasa gemas dengan gadis kecil disampingnya.

"Ini."

Kyungsoo mengerjapkan matanya ketika melihat sesuatu yang disodorkan oleh Jongin kepadanya.

"Apa ini?"

"Ini hadiah karena kau mau menemaniku menangis."

Sekali lagi gadis kecil itu memandangi bergantian antara Jongin serta bungkusan kecil ditangan lelaki itu. Dengan ragu Kyungsoo menerima bungkusan kecil dari tangan Jongin. "Terima kasih."

Jongin mengangguk kecil. Ia memperhatikan Kyungsoo secara lekat. Ia ingin melihat seperti apa respon dari Kyungsoo ketika membuka bungkusan yang barusaja ia berikan.

"Wohhhh coklat putih?"

Dan benar saja gadis kecil itu menjerit senang, membuat Jongin kembali mengulum senyuman dibibirnya.

"Apa oppa benar-benar memberikan ini kepadaku? Tapi ini kan mahal." Kyungsoo sedikit memberengut diakhir ucapannya. Gadis kecil itu ingat jika ibunya pernah memarahinya karena meminta coklat putih kepada kakaknya. Ibunya bilang jika coklat putih itu mahal dan membuang-buang uang jika harus membelikannya itu.

Karena perkataan ibunya itu membuat Kyungsoo teringat kepada ibu Jongin. Takut ibu lelaki itu nanti marah karena ia sudah memberikan coklat putih miliknya kepadanya.

"Tenang saja, dinegara tempatku belajar coklat putih tidak mahal. Lagi pula aku membelinya untuk oleh-oleh jadi kau bisa mengambilnya. Anggap aku memberikannya sebagai hadiah untukmu."

"Sungguh?" Jongin mengangguk dan Kyungsoo bersorak senang ditempatnya.

"Yeyyy, kalau begitu aku anggap oppa memberikannya untuk kado ulang tahunku."

Jongin menaikkan alisnya dan memandang Kyungsoo sedikit terkejut. "Jadi kau ulang tahun hari ini?"

"Tidak. Tapi tepatnya dua hari yang lalu aku ulang tahun." Jawab Kyungsoo polos.

Mendengar itu Jongin mendengus namun tidak membungkiri jika ia kembali dibuat tersenyum untuk kesekian kalinya hari ini hanya karena gadis kecil cerewet yang sedang duduk disebelahnya.

"Hahhh~ ku kira kau ulang tahun hari ini sama dengan ulang tahunku."

Kyungsoo yang tengah mengunyah coklatnya berhenti ketika mendengar gumaman pelan Jongin. Beruntung telinganya kelewat peka hingga ia masih dapat mendengar jelas apa yang lelaki itu katakan.

"Jadi oppa ulang tahun hari ini? Oh jadi oppa menangis tadi karena tidak ada yang merayakan ulang tahun oppa sehingga membuat oppa sedih begitu? Ck, kenapa oppa cengeng sekali sih?"

"Yakk bukan karena itu aku menangis. Dasar gadis kecil sok tau!"

"Lalu karena apa?"

Jongin terdiam. Ia kembali teringat dengan neneknya yang tadi pagi meninggal. Padahal baru saja ia bisa sedikit melupakan tentang hal itu, tapi gadis kecil disebelahnya itu kembali membuatnya teringat tentang neneknya.

Kyungsoo yang melihat Jongin hanya diam mendengus. Ia menebak jika tebakannya tadi benar namun lelaki didepannya itu malu untuk mengakuinya. Ia sudah ingin kembali mengejek Jongin namun ia diam ketika mendengar jawaban Jongin.

"Nenekku meninggal pagi tadi."

Jongin tidak tau kenapa dia harus membicarakan ini dengan Kyungsoo. padahal Kyungsoo hanyalah orang asing yang tidak sengaja menemaninya menangis. Tapi entah kenapa ia merasa nyaman ketika berbicara dengan gadis kecil itu.

"Nenekku meninggal tepat dihari ulang tahunku. Bahkan aku belum melihatnya dan dia sudah pergi ketika aku masih dalam perjalanan menuju rumah sakit dari bandara. Belum lagi ditambah orangtuaku yang tidak hadir dipemakaman nenek tadi siang. Aku hanya merasa kesal. A-aku..."

"Shtttt..." kyungsoo berdiri. Gadis itu kemudian memeluk kepala Jongin, menenangkan Jongin ketika menyadari jika lelaki itu sudah hendak kembali menangis.

"Tidak apa-apa oppa. Semuanya sudah terjadi. Oppa harus merelakan nenek oppa dan memaafkan orangtua oppa. Jika oppa bersedih seperti ini nenek oppa pasti ikut merasa sedih juga."

Jongin membenarkan ucapan Kyungsoo dalam hati. Lelaki itu kemudian melepaskan pelukan Kyungsoo. menghapus air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan tersenyum kearah Kyungsoo yang berdiri dihadapannya.

Kyungsoo sendiri membalas senyuman Jongin tak kalah manis. Mata bulatnya tak sengaja menatap kearah bingkisan yang tadi ia bawa dari sekolah. Gadis itu berpikir sejenak belum kemudian beranjak mengambil bingkisan itu dan menyerahkannya kepada Jongin.

"Aku tidak tau oppa akan menyukainya atau tidak. Aku membuatnya tadi disekolah dan seam menyuruh untuk membawa pulang. Dan karena oppa sedang ulang tahun sekarang, ini aku berikan saja pada oppa jadi jangan menangis karena aku akan menemani oppa untuk merayakannya bersama."

Jongin mengernyit ketika membuka bingkisan yang diberikan oleh Kyungsoo kepadanya. Ia bisa melihat bagaimana 'hancurnya' cake yang gadis kecil itu berikan kepadanya.

"Apa ini? Kenapa jelek sekali?"

"Ishhh kenapa oppa jahat sekali menghina karya ku." Kyungsoo mendesis kesal karena Jongin menghina kuenya. " Ini itu red velvet cake tapi karena aku menambahnya dengan ekstra keju dan coklat maka namanya jadi perfect velvet."

Kyungsoo terlihat menggemaskan ketika membanggakan cake 'hancur' buatannya kepadanya. Ia bahkan seolah-olah tengah memamerkan karya seni paling berharganya kepada Jongin. Dan hal itulah yang membuat Jongin tertawa kecil.

"Kenapa oppa tertawa?" Kyungsoo memberenggut kecil ketika melihat Jongin menertawakannya. Ia kesal karena lelaki itu menertawakannya setelah mengejek cake buatannya.

"Kalau memang tidak mau sini kembalikan cake milik ku."

Kyungsoo berusaha merebut cakenya kembali, namun Jongin dengan segera mengangkat tinggi-tingi cake itu menghindarkannya dari serangan Kyungsoo.

"heyyy bagaimana kau memintanya kembali setelah memberikannya kepadaku."

"Tapi oppa menertawakan cake pemberianku. Jadi biar aku ambil kembali cake itu."

"Tertawa bukan berarti mengejek gadis kecil. Uhhhh kenapa kau manis sekali sihhh..." jongin mengusak gemas rambut Kyungsoo membuat gadis kecil merengek karena rambutnya berantakan.

"Mungkin jika sekarang kau sudah besar oppa pasti akan menjadikanmu kekasih karena kau benar-benar tipeku. Kau sangat menggemaskan."

"Sungguh? Kalau begitu tunggu aku besar dan oppa harus datang kembali untuk membawaku. Bukan untuk menjadi kekasih tapi menikahiku."

Jongin tergelak bersama Kyungsoo yang terkikik karena ucapannya. Gadis kecil itu benar-benar menghibur Jongin yang tengah bersedih.

"Baiklah-baiklah. Nanti jika kau sudah besar oppa akan datang kepada orangtuamu dan mengatakan jika oppa akan melamar putri mereka. Otthe?"

Kyungsoo bertepuk tangan dan memberikan jempolnya, tanda menyetujui ucapan main-main dari Jongin.

Namun gadis itu menghentikan tawanya ketika melihat langit yang mulai senja.

"Oh ini sudah sore, aku harus pulang." Ia bergegas mengambil tas gendongnya menghiraukan Jongin yang menatap kearahnya. Gadis kecil itu kemudian membungkukkan badannya kepada Jongin.

"Terimakasih untuk hari ini oppa. Aku harus pulang sekarang karena hari sudah mulai sore. Oppa juga cepat pulang, pasti banyak yang mengkhawatirkan oppa. Jadi sampai jumpa." Ia segera melesat berlari dari sana menghiraukan Jongin yang terus memanggil-manggilnya.

"Yakkk kita bahkan belum berkenalan." Jongin mencoba memanggil gadis kecil itu namun gadis itu sudah terlalu jauh untuk mendengar panggilannya.

"Hahhh~ sampai jumpa lagi_ pefect velvet."

dan Jongin tersenyum lebar sembari menatap cake pemberian si gadis kecil cerewet tadi kepadanya.

Tanpa keduanya tau jika takdir akan kembali membawa mereka bertemu diwaktu yang berbeda. Tepat ketika si gadis kecil tadi tumbuh menjadi gadis cantik yang mempesona. Dan mewujudkan janji yang keduanya ikrarkan tanpa sengaja.


Flashback Off


To be continue


Heyyy epribadiiiiii~

Yang dari taun lalu tanya gimana pertemuan awal kaisoo mana suaranyaaaaa~

Yuhuuu baby vee balik bawa flashback panjang kaisoo. Huft, maaf jika flashbacknya tak sesuai ekspekstasi karena sejujurnya ekspekstasi baby vee juga gak kayak gini. Mian

Ohya baby vee mau bales satu review readers yang mencuri perhatian beby vee

To. Rini Kim

Hay tsay~ thanks udah baca ff baby vee. Terus kalo masalah update cepet baby vee gak janji –mungkin diusahain soalnya lagi liburan semester dan feel buat nulis selalu ilang karena baby vee kerjaannya cuman bobok cantik dirumah jadi kadang inspirasinya kagak ada, mwhehehe

Terus semangat buat ujiannya juga. Semoga masuk ke universitas ketje sesuai harapanmu. Karena baby vee dua tahun lalu juga udah ngerasaain rasanya musim ujian belom entar tes univ, wkwkwk

So, semangat yaaa~

Ahhh terakhir, baby vee mau ngucapin terima kasih buat kalian yang udah jadi pembaca serta tukang review setia baby vee

Baby vee noumu-noumu gomahoyo :*

Kalo gitu see ya~

Bye-bye^^


Ps. disini ada yang main ke akun KFF2K18 gak? Udah baca apa belom ff-ff yang diup disana? Kalo udah kira-kira ada yang bisa nebak punya baby vee yang mana? Baby vee ikut partisipasi lhoo. Kalo yang belom baca ayok buruan baca


Pss. Sorry for typo