Truth? This is it.
Henna jadi CEO nieee.. tapi belum disini sih. Tapi Henna emangnya sanggup ya?
Miki: Woi! Si Saori aja jadi CEO pas umur 13 taun!
Ketrin: Si Henna 12 taun, Oi!
Mikio: beda 1 tahun kok! Beberapa bulan lagi, dia bakal jadi 13 taun kok!
Ketrin: Haah*tepuk kening*.. Ya uda deh. Minna enjoy! ^^
.
.
Setelah berbincang-bincang lagi, ketiganya pamit pulang ke Sanctuary. Kali ini giliran Mu untuk menteleportasi mereka, tapi malahan...
"Henna, kamu aja deh. Teleportasiku lagi masih di charger(?)." ujar Mu polos.
Mitsuki dan Henna cengo ditempat. "Emangnya bisa ya?" bisik Henna. Mitsuki hanya menggeleng lemah. "Mu-san, kalo malas pakai teleportasi ya tinggal bilang saja." Gumam Mitsuki.
Sesampai di Sanctuary, Henna langsung teringat sesuatu. Dari tadi Shaka tidak menunjukkan batang hidungnya di manapun. "Shaka-nii kemana ?" tanya Henna ke Mu.
Mu mengingat-ingat sebentar. "Kalau tak salah, dia lagi ada misi yang lumayan sulit. Tapi aku tak ingat kemana. Tapi dia akan keluar selama 3 hari." Jawab Mu. Henna menghela nafasnya. Berarti dia sendirian selama 3 hari.
"Yah, setidaknya ada Sophie-san yang bisa kuajak sleep over. Mitsu-chan mau gabung?" tawar Henna. Mitsuki mengangguk setuju.
"Hmm, siapa lagi ya?" pikir Henna.
"Reon dan Larrisa gak diajak? Nitsuki, Natsuki dan Ringo?" sahut seseorang dari belakang Henna. Datang gak diundang, pergi gak diantar(?) (Sophie: Woi! Manusia aku ini!)
Henna sontak berteriak terkejut, ternyata hanya Sophie yang sudah cengar-cengir. "Hufh.. Kalo uda tau aku ini mudah terkejut, jangan dikejutin Sophie-san." Sewot Henna. "Mana pakai baca pikiran lagi!"
Sophie tertawa lepas. "Sorry deh, Henna-chan! Gak tahan juga aku! Ahahaha." Sahut Sophie agak bersalah sekaligus usil. Henna dan Mitsuki hanya bisa menggeleng kepala.
Malam-malamnya, rombongan cewek+cowok sudah di kuil Virgo. Mari kita absen! Henna, Mitsuki, Teru, Sophie, Larissa, Reon, Nitsuki, Natsuki, dan Ringo! Semuanya 9 orang!
"Aku pengen bikin api unggun di kuil ini cuman takutnya Shaka ngamuk pula." Gumam Reon.
Ringo sweatdrop. "Saint manapun bakal ngamuk kalau orang bikin api unggun di kuilnya." Ujarnya setengah tertawa.
"Gak juga tuh." sahut Henna. "Aiolia-san terkadang mau kok kurang kerjaan bikin api unggun di kuilnya." Ujar Henna.
Sontak semuanya ketawa. "Hahaha! Iya ya, pantas kuilnya pernah kebakar." Sahut Sophie masih tertawa.
"Waktu itu, Aiolia-san lari-lari sambil menjerit histeris ke kuil ini, dan hebatnya dia malah masuk ke kamarku duluan, bukannya kamar Shaka-nii. Mana baju tidurku waktu itu agak minim pula. Memang deh satu itu." Ujar Henna tersenyum.
"Oi, Mitsuki. Atur pacarmu yang satu itu." Mitsuki blush seketika. "Ng, Aku ini enggak pacar Aiolia-kun! Lagipula ada yang gak bakalan ngasih izin." Mitsuki melirik Teru yang sudah ber-aura gelap.
Henna senyam-senyum. "Teru-san udahan deh. Orang sendiri juga naksir Minami-san." Goda Henna.
"Huaaaaagh! Darimana tau?!" Teru langsung panik, asli yang lainnya sweatdrop melihat tingkah satu ini.
"Uda jelas-jelas dirimu seorang hanya untuk Minami mu yang tersayang itu." Celetuk Larissa. "Kalo ada cowok lain deketan sama dia gimana ya?" gumam Larissa, disengajakan suaranya agak kuat biar kedengaran Teru.
Teru yang tadinya merona malah berubah 180 derajat. Aura pembunuh gelap luar biasa mengalir dari setiap anggota tubuhnya(?). bahkan sampai keluar sanctuary pun masih kerasa. Semuanya hanya bisa jawdrop. 'Waduh' Batin mereka.
Sophie langsung berbicara untuk mencerahkan suasana. "Shaka tega amat ninggalin Henna sendirian selama 3 hari." Gumam Sophie.
"Itu mah biasa. Dia bahkan pernah pergi misi selama sebulan penuh. Jadi aku terbiasa." Jelas Henna.
"Tapi kalau masalah masaknya?" tanya Reon.
Larissa terkekeh pelan. "Macam gak tau si Henna aja kau ini, Reon. Gini-gini juga calon master chef lho." Sahutnya.
"Ah enggak kok. Aku terkadang memang hobi masak, itu aja." Henna merendah. "Tapi kamu kan memang pandai masak." Mitsuki meyakinkan.
"Lebih hebat Baaya-san deh. Aku kan amatiran." Gumam Henna. Lagi-lagi semuanya tertawa.
Teru mendapat ide baru. "Aku tantang deh! Kita matiin lampu, kita nonton film horror! Gimana?". Reon menganggukkan kepalanya secepat angin(?), tapi beberapa cewek sempat ragu (sebenarnya hanya Henna) tapi ujung-ujungnya, akhirnya semua setuju.
Henna mengambil TV dan DVD player(anggap saja tiap goldies punya), Teru mengeluarkan koleksi film horror baratnya. Setelah diseleksi, akhirnya mereka memilih 'paranormal activity 4'. Awalnya semuanya cuman bikin muka biasa-biasa aja, tetapi waktu sampai tengahnya, Henna sudah mencengkram tangan Mitsuki. Mitsuki hanya bisa sweatdrop.
Kelompok itu nonton dengan asyiknya sampai dua sosok setan muncul dan membuat Ringo dan Reon yang pertama melihat setan itu menjerit histeris. Yang lain ikutan melihat dan nyusul menjerit lalu mengacir ke segala arah.
"Lha? Padahal aku kan mau ikutan pesta nginap kalian." Tutur Kanon polos, sambil melepaskan topeng kuntilanak yang sedang dipakainya.
"Makanya ngapain pakai cara masuk ginian?" Milo sweatdrop sambil melepas penutup pocongnya. Kanon hanya membuat muka polos dan berkata, "Biar seru."
Sementara itu, dibalik lemari pakaian Henna. 9 anak muda yang tengah gemetaran gak karuan sembunyi sambil himpit-himpitan didalam.
"K-Ko-Kok.. a-a- ada Kunti?" Teru meluk meluk Sophie ketakutan. Yang dipeluk agak risih. "Oi, si Mitsuki di sono, bukan aye!" Sophie meronta.
Teru langsung melepaskan pelukannya dan memeluk Mitsuki. Mitsuki juga risih dipelukin apalagi waktu genting ini. Tapi karena itu kakaknya, ya apa boleh buat. "Mana pocong juga nimbrung lagi!" sahut Mitsuki juga ketakutan
"Hueee! Aqu atut!" rengek Larissa sambil meluk tangan Henna, asli bikin semuanya sweatdrop. Gak bisa kejungkal karna lagi didalam lemari plus sempit-sempitan. "Cup-cup dah." Henna saking cengonya gak tau mau bilang apa lagi.
"Tu-Tunggu dulu! Ini sanctuary, tapi kok ada setan indo?!" tanya Natsuki sweatdrop. "Ya namanya Author yang ngetik asal indonesia. Setannya juga orisinil dari indonesia lah." Balas Reon. (Ketrin: Woi! Menghina!)
Mereka tetap di lemari itu sampai satu persatu jatuh tertidur. Pagi-paginya, Ringo yang pertama bangun dan langsung meronta minta jarak. Hasilnya pintu lemari terbuka dan mereka semua jatuh dan saling menimpa dengan gak elitnya.
"Adaaooow! Aneki! Kaki Aneki di muka aku!" seru Ringo marah.
"Oi! Rin, elo juga nimpa gua!" seru Natsuki.
"Nawtswukwi! Tangwanmwu di muwutkwu!(Natsuki! Tanganmu di mulutku!)" bentak Nitsuki.
Ketiga saudara itu bukannya langsung berdiri tapi malah berdebat, sedangkan 6 orang lainnya langsung membenarkan pakaian dan rambut mereka. "Eh, siapa tuh yang lagi tidur?" tanya Sophie.
"Darimana tau ada orang tidur?" tanya Teru. Semuanya balik sweatdrop. "Ya jelas ketahuan! Suara ngoroknya segitu kuat kok!" seru semuanya serempak.
"Henn, cek gih!" Reon mendorong Henna.
"Lha? Kok engga Reon-san sendiri sih?! Kan Reon-san ini cowok!" protes Henna.
"Gak ah! Ogah aku dekat dekat sana! Jangan-jangan setannya masih gentayangan! Lagipula ini kan kuilmu!" Reon memberi alasan. "Tambah lagi, kau kan akrab sama Hades! Setan ya nggak bakal berkutik sama mu!" . yah, alasan yang rada masuk akal.
Henna mau nggak mau akhirnya maju kedepan, dengan kedelapan sisanya berjajar membentuk barisan lurus dibelakang Henna. Sekali melangkah, dua kali melangkah, dan hasilnya mereka kejungkal serempak. Ternyata hanya Milo dan Kanon, masih mengenakan kostum dan make up hantu(yang kini sudah meler karena liur netes). Mereka tertidur didepan televisi yang memainkan film 'death note: L change the world'
"Memang dah ni orang! Kita sembunyi semalaman hanya gara-gara mereka!" kening Sophie penuh dengan urat yang sudah nonjol disana-sini.
"Henn, pinjem pedang ato palu lagi deh!" pinta Nitsuki.
"Kenapa kalian selalu minjem paluku sih? Kedemenan amat!" protes Henna.
"Tapi kamu kan ahli buat senjata." Nitsuki masih mohon dengan puppy eyes.
"Lho? Cambuk Nitsuki-san kemana?" tanya Henna.
"Gak tau." Jawab Nitsuki polos apa adanya.
Henna menghela nafas dan akhirnya membuat satu benda dari cosmonya. Tapi bukan pedang atau palu yang seperti diminta oleh Nitsuki. Bahkan itu bukan senjata.
"Kok malah pengeras suara?!" Nitsuki sweatdrop. 'ni anak ternyata bisa juga bentuk barang ginian' batin semuanya.
"Daripada main fisik, kita kejutkan aja. Lagipula itu megaphone dari cosmo jadi suaranya pasti jauh lebih kuat dari yang biasa." Jelas Henna.
Nitsuki mengerti dan akhirnya, "BANGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNN!" Bentak Nitsuki, hampir sukses membuat kawan-kawannya pingsan karena tuli.
Kanon dan Milo saking terkejutnya meluncur ke langit-langit kuil dan bilanglah setengah badan mereka nancep di bangunan itu. Kesembilannya memang ingin membantu mereka berdua yang meronta habis-habisan, tapi mereka malah memilih mandi dan langsung tancep pergi meninggalkan duo koplak itu.
"Tolong kami!" jerit Milo.
"Janji gak bakal kami kerjain lagi!" Kanon uda mau nangis.
"Kalian ngapain?"
Suara familiar itu, sudah jelas milik Shaka. "Shak? Bukannya lo itu ada misi sampe lusa? Kok malah sekarang pulangnya?" tanya Milo heran.
"Aku agak khawatir dengan Henna, jadi aku sengaja pulang awal." Jelas Shaka.
Milo dan Kanon sweatdrop. 'Segitu protective, misi sulit dalam waktu 3 hari, langsung tancep selesai dalam sehari?!'
"Kalian juga ngapain disini? Dan ngapain juga setengah badan kalian tersangkut di langit-langit kuilku?"
Milo dan Kanon hanya bisa terdiam dan saling cengar-cengir (meski gak bisa dilihat Shaka.). Shaka menghela nafas dan menarik mereka berdua hingga bebas seperti biasa.
"Makasih, Shaka." Ujar Kanon. Shaka mengangguk dan melihat sekitar kuilnya. "Mana Henna?"
Milo terdiam dan berfikir sejenak. " Kalo gak salah, dia barusan gerak sama kawan-kawannya." Sahut Milo. Shaka mengangguk mengerti dan duduk di kursi teratainya. Bermeditasi seperti biasa.
Sementara itu, rombongan lainnya sudah di café(diluar sanctuary tentunya). Mitsuki, Nitsuki dan Henna sudah duduk di kursi café itu dengan cappucino didepan mereka, dan bertumpuk-tumpuk buku disamping minuman mereka.
"Disini mau ngemil sambil nongkrong ato baca buku sih?!" protes Reon sweatdrop.
"Ya kan gak ada salahnya sambil baca-baca buku, Reon-san. Lagian, kami tiga memang hobi baca kok." Ujar Henna.
"Haizz terserah deh.." gumam Ringo sambil menyeruput latté yang sudah dipesannya.
Ketiganya tertawa kecil lalu kembali terjun ke dunia buku mereka, sedangkan sisanya mengobrolkan hal-hal ringan. Setidaknya sampai dua orang muncul didepan mereka.
"Oi, Michi!" sapa Mikio. Henna menoleh dan balas menyapa ke kakaknya. "Mikio-nii!" sahut Henna riang, meletakkan bukunya. Sophie dkk heran melihat Mikio, bertanya-tanya dia siapa.
"Michi-chaaan!" Miki kembali beraksi dan memeluk Henna sampai megap kehabisan udara. "Ha.. Halo.. Miki-nee..." Henna diambang sekarat(?). Mitsuki tertawa kecil melihat tingkah Miki.
"Eh, Itu siapa?" bisik Natsuki. Larrisa menggeleng pelan dan menaikkan bahunya, "Tapi dia kok tau nama asli Henna ya?"
"Eh, Mikio-san, Miki-san, kenapa gak gabung aja sama kami?" tawar Mitsuki. Sophie dkk juga menatap Mitsuki dengan tatapan 'Kamu-Kenal-Dia-?'
"Wah, makasih Mitsuki-san." Ujar Mikio lalu duduk, bersamaan dengan Miki.
Henna tersenyum dan geli melihat ekspresi teman-temannya yang belum mengenal kedua saudaranya. "Minna, Ini Hasegawa Miki dan Hasegawa Mikio. Mereka saudara angkatku juga."
"EEEEHHHH?!" Ketujuhnya menggebrak meja café itu. Untunglah tempat itu masih dihuni dengan mereka serta pegawainya. Dalam kata lain, café itu masih kosong.
"Yang benar?!" ekspresi Teru hampir-hampir tak percaya.
"Tapi Shaka?" Nitsuki makin heran.
"Mereka saudaraku sebelum Shaka-nii juga mengambil hak adopsiku. Mereka dulu menemukanku di India, tapi karena aku diambil ke pulau pelatihanku, kami berpisah. Aku ke pure island, mereka pulang ke Jepang." Jelas Henna.
"Orang tua mereka dulunya ada urusan bisnis, jadi harus pindah sementara ke India. Mereka melihat Henna masih bayi terbuang di tengah hutan, jadi Henna diadopsi mereka. Tapi karena banyak yang menganggap Henna anak iblis, warga sekitar mencoba membunuh mereka semua."
Rombongan lain melebarkan mata mereka mendengar penjelasan Mitsuki. "Wat?! Kurang ajar mereka!" geram Reon.
"Tapi yang selamat hanya aku, Mikio-nii dan Miki-nee. Orang tua kami tak bisa keluar demi keselamatan kami." Henna menunduk sedih, yang lain ikut bersimpati.
"Ganbatte Henna-chan!" Mitsuki menyemangati. Larrisa mengangguk mantap. "Masih ada kami, juga kakak-kakakmu! Yah meski rada kebanyakan yang angkat."
Rombongan itu tertawa mendengar ujaran Larrisa, lalu kembali bertukar cerita dan sebagainya. Sementara itu, di Papacy hall, Sanctuary.
Shion sedang mengecek beberapa laporan dari misi Shaka. "Astaga, Shaka. Kalau khawatir sama adik, bisa juga nyelesain misi ini. Mesti dipakai beberapa kali ini." Gumam Shion agak ngaco.
Tiba-tiba cosmo aneh menjalar disekitar kuil. Shion langsung bangkit dari tempat duduknya dan agak membakar cosmonya. "Siapa disana.." desisnya dingin.
Dalam sedetik, cosmo keemasan muncul dan bergabung di depan Shion. Setelah menunggu beberapa saat, ternyata Zeus mengunjungi sang Pope.
"Ze-Zeus?!" Shion agak terkejut. Jarang sekali.. Ah tidak, malah SANGAT jarang dewa halilintar itu mau turun ke Sanctuary. "Kalau kau mau jenguk anakmu yang ngerepotin, silahkan pergi ke Tokyo."
Tanpa diduga Shion malah nyantai dan kembali mengecek paperwork Shaka, asli si Zeus sweatdrop. "Hei! Aku ini Dewa, masa cara ngomongnya begitu?" protes Zeus.
"Toh aku gak ada urusan." Shion cuek bebek. Zeus tersenyum. "Iya deh, Grand Pope. Maaf kalau terakhir kali kalian dipermaluin dengan segala macam tingkahnya.."
Hening diantara mereka..
"Meski menurutku kalian harus ikut acara lainnya selain Hello Baby. Hahahahaha!"
Selusin kedutan menghiasi jidat Shion. "Apa perlumu dan cepetan pergi dah!" Shion entah kenapa jadi panasan sebal.
Zeus diam sebentar. "Aku ingin menemui gadis pirang itu." Ucapnya tiba-tiba.
Shion menoleh ke Zeus dengan tatapan curiga. "Ada apa dengan Henna, Zeus?" tanya Shion dengan nada dingin.
"Hoi, aku si dewa tapi kok kau yang kebanyakan serius dan dingin? Kita semua damai bukan? Yah meski menurutku ada beberapa musuh yang masih mengincar kalian." Gumam Zeus.
Shion menaikan sebelah alisnya, ingin bertanya tentang musuh yang dimaksud tapi langsung disela oleh perkataan Zeus.
"Waktuku terbatas saat ini. Sampaikan saja kepada gadis itu untuk menemuiku di Underworld. Kapanpun dia bisa." Zeus entah kenapa mulai memudar.
"He-Hei! Apa maksudmu! Untuk apa dia menemuimu?! Jelaskan, Zeus!" seru Shion mencoba mencegah Zeus pergi lebih awal.
"Yang bisa kukatakan saat ini..."
Zeus mulai memudar, tapi sebelum dia menghilang, Shion mendengar perkataan Zeus. Sangat jelas malahan.
"Henna yang bersama kalian saat ini, tidaklah seorang Henna yang seperti kalian pikirkan."
Shion mematung. Cukup terkejut mendengar perkataan si dewa.
"Ze..us.. Apa maksudmu..." bisiknya dengan mata terbelalak.
TBC
Deng Deng Deeng~! (?) Huwahahaha, rahasia dibuka! Kita saksikan ada apa dibalik perkataan Zeus di Chap selanjutnya! Tapi Zeus kurang kerjaan ya di Olympus? Kan bisa nyuruh Hermes buat ngantar pesannya, masa dewa ngedatangin seorang manusia? Itupun pake bercanda segala.
Yah, seperti perkataan orang.. buah jatuh dari pohonnya tak terlalu jauh. Dalam arti lain, Anak dan Ayah sama aja.
#ScorpioNoKuga
Henna: Sugoi sih iya, tapi kan aku gak tau cara handle perusahaan gede!
ketrin: udahlah! nanti dibantu para hasegawa!
Henna: 'Siap-siap gua!' oya, Shaka-nii kakak kandungku?
Ketrin:#smirk. kita lihat nanti..
All: #sweatdrop
#Gianti-Faith
Henna: pas deh, aku bener" malas sama yang namanya 'mewah'!
Ketrin: Orang minta kehidupan mewah, ini dikasih, malah nolak. oh well, terserahlah/
Henna: tapi ntar Sophie-san bantuin ya! gak sabar juga nih jadi saling saudara!
Ketrin: hahaha..
#AmuletWin777
Ketrin: Ng, haha, trnyata Teru-san memang begitu 'Aigoo'
Henna: kalau Teru-san juga pewaris, berarti saling punya perusahaan nih..
Ketrin: Kerja sama aja.
Henna: Umm, boleh nih..
#TsukiRin Matsushima29
Ketrin: Humm, okey deh kalo beda-beda..
Henna: tapi srius nih dengan SagaxSuri
Ketrin: Ya sih.. cuman, Suri itu gak terlalu tertarik sama Saga?
Henna: lha kenapa?
Ketrin: Suri itu bukan Otaku tapi dia itu Kpopers akut sejati! kyknya aku minjam dia aja deh. kalo dia aslinya, udah punya dunia korea!
Henna: #sweatdrop.
