Truth? This is it.

Wuahahahaha (?) terakhir kali, si Zeus datang. Memang jangan-jangan dia diusir Hera pula ya?

Zeus: WOI!

Henna: Tu-tunggu! Kalau aku bukan Henna, jadi aku ini siapa?! Aku enggak musuh! Sueeerrr!

Ketrin: iya memang bukan kok. Mau tau? Ya baca fic nya dong!

All: jiyaaah #sweatdrop

Enjoy~


Shion mematung mendengar ucapan terakhir Zeus. Tapi akhirnya Shion memilih untuk menunda masalah ini dulu dan mengurus laporan Shaka, meski dia tetap tak bisa konsentrasi karena kalimat itu tetap mengiang di kepalanya.

Tapi yang tak diketahui Shion, dia tak sendirian bersama Zeus tadinya. Lebih tepatnya, ada seseorang yang menguping percakapan mereka.

"Henna ya? Kita lihat siapa dibalik sosok gadis itu.." gumam 'seseorang' sambil menuruni anak tangga, menuju kuilnya.

Henna yang masih bersama teman-temannya di cafe Athens mendengar telepati seseorang yang memanggilnya.

"Minna, kita kembali ke Sanctuary bentar yuk. Shura-san tiba-tiba memanggilku entah kenapa." Ujar Henna.

"Eh, mau main ke kuilku gak?" ajak Sophie.

"Baiklah. Miki-san dan Mikio-san juga ikut?" tanya Mitsuki.

"Mungkin nanti saja, Mitsuki-san. Terima kasih." Tolak Mikio dengan halus.

"Nanti kami berkunjung lagi kok. Michi-chan dan lainnya duluan saja dulu." Ujar Miki.

Henna mengangguk. Setelah membayar makanan dan minuman mereka, mereka langsung teleport ke kuil Scorpio.

Sophie dan yang lain disana sambil ngobrol dan sebagainya, sedangkan Henna langsung menuju kuil Capricorn. Sesampai di kuil itu, kuilnya entah kenapa kosong.

"Ano.. Shura-san? Aku datang." Panggil Henna.

Tak ada respon.

"Shura-san? Kau dimana nih?" panggil Henna lagi.

Masih tak ada respon.

"Kemana sih? SHURA-SAN?!" panggil Henna agak lebih kuat.

Masih tak ada respon. Henna menggaruk pipinya lalu memutuskan kembali ke kuil Scorpio. Tapi tiba-tiba Shura muncul di belakangnya dan memukul Henna hingga terbanting ke dinding Kuil. Rasa sakit langsung menjalar di sekujur tubuhnya tapi dia menahan sakit itu.

"A-Apa yang...?!" Henna langsung mengambil posisi siaga ketika melihat Shura dengan wajah serius. "Shura-san?! Kenapa kau memukulku!" tanya Henna agak syok.

"Tak usah banyak bicara. Katakan kau siapa, pengkhianat!" Shura meluncurkan excalibur ke arah Henna. Henna langsung menghindar dari serangan itu.

"Apa maksudmu?! Aku siapa? Aku ini Henna tentunya! Kenapa memanggilku pengkhianat?!" tanya Henna agak berteriak.

Karena terkejut dipanggil seperti itu, Henna tak menyadari Shura sudah dekat dengannya. Dengan mulusnya, kepalan tangan Shura langsung menghantam perut Henna dengan kuat. Darah segar keluar dari mulut gadis itu.

Shura tak segan menghantamkan pukulan dan tendangannya ke badan Henna. Henna ingin melawan, tapi dia tak sampai hati untuk membalasnya. Setidaknya dia 'belum' sampai hati untuk membalasnya.

Shura masih memasang wajah serius dan menarik kerah baju Henna yang tak bisa bergerak. "Kau tak perlu banyak omong. Cukup kau katakan kau ini siapa dan apa maumu dengan Sanctuary. Kalau kau masih berbelit belit, aku tak segan menghabisimu." Ancam Shura dingin.

"A..Apa maksud dari..itu.. Aku ini.. Henna! Adik..Virgo Shaka! Aku tinggal di sanctuary.. karena aku.. mengikut kakakku.. Kau.. Juga tahu itu!" Henna sudah mengatasi rasa sakit pukulan tadi.

"Cih, masih tak mengerti?!" Shura langsung melempar tubuh Henna ke arah tiang. Paling parahnya, kepalanya yang duluan menghantam tiang itu.

Henna kini terbaring lemas, tak menyangka dia akan dihajar seperti ini. Shura mendekati Henna dan menarik rambutnya dengan keras sampai kepalanya terangkat sejajar dengan wajahnya.

"Peringatan terakhir.. Aku tak peduli entah kau ini penyusup menyamar sebagai Henna, atau kau memang Henna namun niatmu yang jahat. Yang aku tahu, kau pasti ancaman bagi Sanctuary. Katakan padaku apa rencanamu!" paksa Shura yang mengeratkan genggamannya pada rambut Henna.

Henna menggigit bibirnya sampai agak luka karena sakit pada rambutnya. "Aku.. Ini.. Henna.. dan Aku tak... akan pernah.. berkhianat.. pada Sanctuary!"

Emosi Henna langsung memuncak dan dengan gesit dia mengarahkan tumbukannya tepat ke pipi Shura. Shura langsung melepaskan jambakannya. Henna dengan cepat berteleportasi ke belakang Shura dan menendang punggung Shura.

"Apa alasanmu menyerangku? Aku tak pernah berbuat salah pada kalian!"

Keduanya saling adu tatap sampai akhirnya Shura kembali melancarkan Excalibur ke Henna. Dan bukannya segera menghindar dari jalan, tapi Henna masih tetap berdiam di tempat. Tanpa diduga, excalibur yang dilancarkan berhenti tepat didepan Henna. Sementara Henna membakar cosmonya dengan tenang tapi kuat.

"Sudah.. Cukup..!"

Dan kemudian jurus itu mengarah ke penggunanya sendiri. Shura sendiri langsung menepisnya, tapi yang tak disadarinya adalah jarak Henna dan dirinya sudah dekat. Dengan cepat, Henna pun melancarkan jurusnya.

"Heaven Blaze..!"

Cahaya kilat keluar dari telapak tangan gadis pirang itu dan segera menghantam Shura. Namun Henna sengaja meminimalkan cosmo serangan itu sehingga Shura hanya terdorong ke belakang.

"Cukup atas semua ini. Aku tak punya niat untuk melanjutkan pertengkaran ini." Ujar Henna sambil mengelap darah yang berbekas di sekitar bibirnya.

"Kalau Shura-san memang bimbang terhadapku, kita akan bicarakan nanti. Sekarang aku sibuk."

"Aku tak ingin menunda." Desis Shura. "Begitu mengetahui sebuah ancaman, normal untuk saint agar langsung bertindak."

"Aku tahu itu dan mengerti itu. Namun aku menekankan bahwa aku ini bukanlah ancaman." Henna menatap Shura. Tajam.

"Apa bukti konkret yang bisa kau nyatakan padaku?" tanya Shura.

"Dan apa bukti konkret yang bisa kau tumpahkan padaku sehingga menuduhku sebagai pengkhianat?" Henna membalas pertanyaan itu.

"Zeus yang mengatakannya."

Jawaban Shura membuat Henna terpaku terkejut. "Z-Zeus... Dewa petir, penguasa Olympus?" tanyanya terkejut.

"Ya. Dia yang berkata bahwa kau sebenarnya bukanlah saint yang selama ini kami pikirkan. Dan itu hanya mengarah pada satu hal." Shura memicing ke Henna. "Ancaman terhadap Sanctuary."

"Silahkan simpulkan semuanya sesukamu! Tapi aku ini bukanlah ancaman. Aku berani mempertaruhkan nyawaku demi dewi kebijaksanaan beserta tanah suci dan pejuang-pejuang lainnya. tak terkecuali bersama orang-orang yang kusayangi."

"Apakah itu sumpah atau hanya omongan kosong?"

"Tentu aku berkata yang benar. Aku tak punya niat sebagai antagonis disini."

Keduanya masih saling beradu tatapan dengan tajam, disertai cosmo yang mengalir dari mereka. Seakan mengatakan mereka akan saling menerjang.

"Terserah.." gumam Henna. "Pokoknya camkan ini di kepalamu, Shura-san.. Aku Ini Bukan Pengkhianat."

Begitu Henna mau melangkah keluar, Shura sudah berteleportasi tepat didepannya. Menghalangi jalan keluarnya.

"Apa kau kira aku hanya akan diam dan menatapmu melangkah keluar dari kuil Capricorn?" tanya Shura sambil memandang Henna dengan tatapan menusuk.

"Kau takkan melangkah dari sini hidup-hidup."

Shura langsung mengarahkan tinjunya ke Henna, tapi Henna sempat mengelak dan lompat mundur agak jauh dari saint Capricorn itu.

Henna menatap iris pemuda yang didepannya. "Apakah harus cara ini selesai dengan tangan dan cosmo kita masing-masing?"

"Kalau hanya itu yang bisa membuatmu mengaku.." balas Shura dengan posisi ancang-ancang.

Henna menghela nafasnya. "Aissh.." desahnya pasrah.

Sejumlah cosmo berkumpul di tangan kiri Henna dan satu benda muncul dari cosmo itu. Sebuah topeng. Dengan pelan, dipakaikannya topeng itu ke wajahnya.

"Hanya satu pertarungan singkat." Sahut Henna. "Aku tak niat untuk membuat siapapun terluka."

"Itu menurut dirimu.." sahut Shura. "Tapi kalau aku... Hanya akan membunuhmu.."

Dan pertarungan pun dimulai antar mereka.


Sementara itu di kuil Scorpio, Mitsuki dan Sophie entah kenapa merasa gelisah. Perasaan tak enak tiba-tiba menjalar ke tubuh mereka tanpa alasan yang jelas.

"A-Ano.. Apa Henna-chan gak kelamaan?" tanya Sophie.

"Iya juga ya.." gumam Ringo. "Tadi dia bilang mau ke kuil Capricorn bukan?"

"Iya sih.. Tapi Shura-san ada perlu apa dengannya." Tanya Mitsuki agak heran.

Tahu-tahu tanpa disadari, kelima bronzies langsung muncul entah dari mana (?)

"Eh, Seiya-kun? Dari mana aja?" tanya Mitsuki.

"Tadi sih jalan-jalan sekitar Athens, lalu Sanctuary." Jawab Seiya.

"Oya, Shaka bilang Henna sama kalian ya?" tanya Shiryu.

Nitsuki mengangguk. "Tapi sih itu tadinya.. Dia pergi ke kuil Shura."

Hyoga mengangguk mengerti. "Ini nih, kasian si Ikki. Dari tadi di kuil Virgo, selalu sibuk celingak-celinguk nyariin si Henna." Sahut Hyoga, sambil agak menggoda plus mengejek.

Ikki sontak ber-blush ria. "I-Itukan normal! Ya ka-karena kita lewat kuil Shaka, ya sekalian mau tahu Henna dimana! Kan dia adiknya Shaka!"

Semuanya cekikikan sedikit melihat pembelaan Ikki. "Iya deh, iya.."

"Tapi apa gak lebih baik kita check dulu? Firasatku mengatakan kalau sebaiknya kita kunjungi kuil Capricorn." Sahut Sophie.

Semuanya diam berpikir sebentar. "Nng, bagaimana kalau kita tunggu 10 menit lagi? Kalau belum balik, baru kita periksa." Saran Teru.

"Ah, ide bagus!" ujar Reon.

Kembali ke kuil Capricorn, sepertinya Shura unggul dalam pertarungan ini. Dia hanya lecet di sekitar wajah dan lengannya. Sedangkan Henna yang tadinya sempat dipukuli sudah luka-luka.

"Kenapa kau memakainya?"

Henna memandang Shura heran. "Apa maksudnya?"

"Topeng itu. Kau jarang memakai topeng, bahkan di sekitar sanctuary, meski dilihat orang-orang, terkadang kau menolak memakai topeng. Kenapa kau malah memakainya sekarang?"

Henna lebih memilih untuk tak menjawab dan mengacungkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Shura. Cosmo lain berkumpul dan senjata lain kini sudah dipegangnya. Sebuah tombak. Sepertinya kemahirannya dalam mengatur cosmo memang diperlukan dalam pertarungan ini.

"Aku sengaja memakai topeng."

Itulah jawaban yang keluar sebelum dia melesat dan mencoba untuk menyerang. Tapi tak ada guna karena konsentrasinya kurang tajam karena topeng itu.

Shura memang menyadari ini tapi dia tetap memilih diam dan mencoba mengelak serta membalas serangan dari Henna. 'Apa-apaan dia. Sengaja? Apa dia kira aku memang akan melepas kecurigaanku padanya. Sayang sekali Virgo.. Adik yang kau asuh ini terlalu naif. Menjijikkan.'

Henna hilang fokus selama beberapa saat dan itu sudah cukup waktu bagi Shura yang menendang tepat ke dada gadis itu. Henna terdiam sebentar, mencoba bernafas dengan normal meski paru-parunya sudah mengalami sakit yang berlebihan.

"Kenapa kau tak memakai Cloth mu?" tanya Shura.

"Aku tak ingin memakainya. Tidak ketika aku harus melawan temanku sendiri." Jawab Henna, menatap Shura.

"Kau memakai topengmu hanya agar memperlambat dirimu sendiri. Keadaanmu saat ini sudah cukup terluka tapi dari tadi kau tak seperti melawanku. Kau seakan menganggap ini sparing normal." Sahut Shura. "Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjadi naif."

"Aku memang seperti itu, maka itu bukan urusanmu!" seru Henna. "Shura-san, kau sama sekali tak berhak untuk mengguruiku. Maka dari itu, kuharapkan kau tutup mulutmu."

Shura terdiam menatap gadis itu. Keheningan kembali tercipta diantara mereka.

"Aku anggap ini sudah selesai. Aku tak ingin membuang tenagaku lebih banyak." Sahut Henna yang kini melepas topengnya dan menghilangkan senjata cosmonya.

Dengan pelan, dia langsung berbalik dan berjalan keluar agak terpincang. Betis kanannya terasa perih karena kemungkinan retak akibat perlawanan tadi.

Shura tak beranjak dari tempat semulanya. Dia menggumamkan sesuatu.

"Belum berakhir.."

Henna membalikkan kepalanya karena sempat mendengar gumaman kecil itu. Tapi apa yang didapatkannya, lain dari yang dipikirkannya.

"Sh..ura...-san..."

Shura, dengan tangannya yang setajam Excalibur menghantam ke arah dada Henna. Tapi menghantam, tak hanya itu saja yang dilakukannya. Tangan kanan Shura kini MENEMBUS dada Henna.

Henna sempat membatukkan darah dari mulutnya. Seluruh tubuhnya kini seakan sudah kebas dan tak bisa bergerak. Dia sudah mau jatuh, tapi tangan Shura yang masih berada di dadanya menahan tubuhnya tetap berdiri. Dengan kuat dan kasar, dia menarik tangannya dari tubuh Henna.

"Aakhh!" serunya sesaat dengan darah yang kembali keluar dari mulutnya serta lubang yang terbentuk di dadanya.

"Na..ze..." tanyanya dengan volume yang teramat lirih, kemudian diiringi dengan dia yang langsung jatuh ke lantai.

Disekitarnya langsung dibanjiri oleh darah yang masih belum berhenti mengalir. Tapi Shura berjalan perlahan, menginjak genangan cairan kental itu. Dia berhenti didekat Henna. Tanpa ragu menghias wajah dan gerakannya, dia menginjak luka yang diukirnya di dada Henna.

Sakit luar biasa kini sudah dialami gadis pirang itu. Tapi dia benar-benar tak bisa bergerak, maupun berbicara. Bernafas pun dia hampir tak bisa.

"Matilah dengan perlahan.. Siapapun kau, seharusnya kau menjadi pembela kebenaran saja. bukannya sebagai penyusup sekaligus pengancam Sanctuary."

Shura berjalan menjauhi tubuh yang berbaring dan bermandikan warna merah pekat di kuilnya.

'Minna.. Aku.. Mungkin memang sudah mati..'

Itulah isi pikirannya sebelum kegelapan mencakup pandangan dan pikirannya. Kesadarannya kini meninggalkan pikirannya, dan hanya hitungan menit... Sebelum jiwanya meninggalkan tubuhnya.

Ikki yang tengah bersama yang lain kini sudah berada di kuil Sagitarius. Yang lainnya juga berbincang sebentar bersama penjaga kuil itu. Sekilas mereka bisa merasakan cosmo Henna memudar dengan drastis.

"Cosmo ini..!" seru Sophie.

Ikki tak mengatakan apapun dan langsung melesat ke kuil Capricorn. 'Sebenarnya apa yang terjadi disana?!' batinnya panik.

Sementara itu, jantung Henna yang berdetak dengan lemahnya mulai bereaksi. Diiringi tiap detak yang makin lemah dan pelan tiap detiknya..

Jantungnya yang berhenti berdetak, nafasnya berganti serta kulitnya yang memucat menandakan satu hal..

Kematian.

.

.

.


Sebuah tempat yang terang, kelopak bunga berterbangan disekitarnya. Dia bangkit dan terduduk diantara bunga-bunga itu. Sesaat dia mencoba untuk mengatur pandangannya yang masih agak kabur.

"Sudah bangun?"

Suara seorang pemuda membuat gadis pirang keemasan itu melihat ke sumber suara. Didepannya ada seorang pemuda bersurai perak dan beriris merah darah, sedang duduk dan merangkai mahkota bunga.

"Siapa dirimu..?" gumam gadis itu agak pelan.

Pemuda itu tersenyum ke arahnya dan memakaikan mahkota bunga tadi ke kepala gadis ini.

"Tempat ini? Indah bukan. Menurutmu..."

Pemuda itu belum melanjutkan kalimatnya dan menatap kedepan.

"Menurutmu ini cukup indah?" tanya pemuda itu.

Gadis itu memiringkan kepalanya. "Memang indah.." jawabnya.

Pemuda itu tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Karena ini tempat kubangun khusus untukmu."

"Untukku?"

"Ini Surga."

Gadis itu mengubah ekspresinya menjadi ekspresi yang teramat terkejut.

"Dalam kata lain..." Sahut pemuda itu.

.

.

.

Aku sudah meninggal, bukan?

TBC..


Ketrin: Ah, minna! Henna kita langsung aku larikan entah kemana sebelum dia baca akhir chap ini. Penggantinya Ocku dari fandom lain aja ya.

Ciara: Ya, saya Ciara Phantomhive, asal Kuroshitsuji.

Sarah: Salam, saya Sarah Michaelis. Just one of hell of a Maid.

Ketrin: kasian duo ini belum debut dimanapun, jadi di fandom SS pun jadi.

Ciara: terserah saja. Sarah, bawakan tehku.

Sarah: Yes, my lady. #pergi ambil teh.

Ketrin: Apa gak kasian tuh maid? Masa balik ke mansion demi teh?

Ciara: dia itu iblis jadi easy aja kan?

Ketrin: Tapi kan..

Sarah: My lady, saya kembali. Saya membawa Darjleeng tea serta Summer tart with ice cream.

Ciara: Hnn.. #makan snack

Ketrin: O-Oi.. #sweatdrop.


#AmuletWin777

Henna: Di-Dibilangin Doopleganger sama Wina-san...

Ciara: Tapi kalo kamu beneran doopleganger, pasti yang lain uda pada mati semua.

Henna: lho? Kok bisa?

Ciara: Siapapun yang bertemu doppleganger akan mati..

Wina, Mitsuki, Teru: Eerrghh.. #sweatdrop.

Ketrin: Bukan lho, Ci. Kamu salah tauk!

Sarah: Ojou-sama, yang benar itu adalah 'kalau bertemu dengan dopplegangermu sendiri, kau akan mati.'. Bukan asal doppleganger kok.

Ciara: Ah, begitu..

#ScorpioNoKuga

Ketrin: Hahaha! Gomenasai, lupa kalau keduanya anaknya Thanatos. Anggap aja deh keterkejutan biasa.. yah begitulah.

Ciara: makanya jangan asal ngetik kenapa?

Ketrin: yah namanya aku juga ngebut ngetik! Uda ngebut, publish lama! Tugas tauk!

Sarah: Saya bisa menawarkan jasa anda. Itu jikalau ada perintah dari ojou-sama serta kalau anda minta mengikat kontrak..

Ketrin: GAK PERLU! Dan haha, Henna nya memang seperti ini.. Cuman nanti kalian tahu kok ^^

#TsukiRin Matsushima29

Ketrin: Eeh? Ternyata Natsuki-san bukan milik Nisa-san? Go-Gomenasai!

Ciara: yah setidaknya rada diperbaiki di fic ini. Bukankah begitu, Sarah?

Sarah: Yes, my lady.

Henna: Oya, maksud Ringo-san itu ratu setan.. siapa yah?

All: #gubrak!

Ciara: itu si –Psst psst-

Henna: Ah, maaf kalau aku nanya!

Ketrin: Eh, kalian dua sama dong. Sama-sama takut om pocong, bukanya tante kunti.

Sarah: Are..? Ketrin bukannya takut keduanya?

Ketrin: Nggak kok.. cuman takut sama SEMUANYA..

All: #doubleGubrakz


Ketrin: Minna, tetap lanjut baca ya! Gomen kalau saya lama post. Saya anak SMA katolik jadi maklum aja waktu terbatas.

Henna: tapi tetap nantikan ya!

Ciara: Omong-omong, aku mau tanya. Henna kan seharusnya gak disini..

Henna: aku kan mau baca endingnya. Aku baca dulu ya

Ciara: Sarah, bawa dia pergi.

Sarah: yes, my lady. #bawa Henna pergi

Henna: OOII!