Truth? This is it !
Akhirnya masuk juga ide~ Rindu deh buat update!
Henna: Cuman kali ini pun juga pendek.
Ketrin: Pake banget malahan.. -_-"
Henna: Baiklah, skip the talk! Let's start!
Henna, Ketrin: Minna! Enjooy!
.
.
.
Zeus kembali melambaikan tangannya di udara dan kemudian keadaan sekitar dia dan Henna langsung black out.
"Nah, bagaimana rasanya mengetahui masa lalumu?" tanya Zeus.
Henna tak menjawab. Hanya mematung dan melihat ke arah ruang kosong.
Sebelum Zeus melanjutkan pertanyaannya, Henna sudah melayangkan tinju telak ke wajah sang dewa petir.
"BAJINGAN! KAU MEMANG COCOK DIPANGGIL SEPERTI ITU!" bentak Henna. "IBUKU MATI DAN KAU HANYA MEMASANG CENGIRAN BODOH DAN MENONTON ADEGAN ITU?!"
Zeus menghela nafasnya dan kembali berdiri sambil membersihkan bajunya. "Sudah kubilang. Kalau aku bertindak, masa lalu akan berubah."
"TAPI KALAU HANYA MEMBIARKAN SATU WANITA HIDUP, APAKAH ITU TAK BISA KAU LAKUKAN?! KAU BISA SAJA ENTAH MENYELAMATKANNYA TAPI MENGHAPUS INGATANNYA TENTANG KEJADIAN TADI!" Henna makin emosi.
"Masih untung Shaka-nii muncul! Kalau tidak, sama saja aku mati.." desis Henna.
"Tapi dia muncul kan?"
Sahutan singkat dari Zeus membuat Henna hanya diam dan menatapnya dingin.
"Sebenarnya apa urusanmu membawa aku ke masa lalu?" tanya Henna.
Zeus menggeleng pelan. "Kau akan tahu nanti. Sebelum mengetahui itu, kau harus tahu masa lalumu yang sebenarnya."
Henna terdiam. Memangnya seperti apa masa lalunya yang sebenarnya. Dan apa campur tangan Zeus dibalik semua ini.
"Nah, genggam tanganku. Akan kuberikan kembali masa lalumu."
Zeus menyodorkan tangannya ke arah Henna. Gadis pirang itu sejenak ragu, kemudian menggenggam tangan si dewa agak kuat. Perlahan seperti ada cahaya silau yang muncul didepannya dan mengosongkan penglihatannya sejenak.
Kini dia melihat kembali dirinya yang sebenarnya.
.
.
.
Di satu ruangan, penuh buku dengan beragam ukuran, ketebalan dan isi. Perpustakaan. Perpustakaan pribadi lebih tepatnya. Tempat itu awalnya termakan oleh hening. Setidaknya sampai,
"MICHIIYOOO!"
Pintu perpustakaan digebrak agak kuat dan kemudian masuklah anak pemuda berumur 13 tahun dengan riang dan agak ribut.
Dia langsung berlari dan menghampiri seorang bocah pirang yang memakai kacamata agak besar dan dia asik dengan buku-buku tebal.
"Hooi! Michiyo! Pergi yuk?!" ajaknya.
Yang dipanggil Michiyo itu langsung memasang wajah jengkel. Tampaknya dia sudah sering dan bosan menghadapi ini.
"Astaga, Julian-san. KAU SEBENARNYA NGAPAIN RIBUT DI PERPUSTAKAANKU?!" bentak bocah itu sambil menimpuk kepala Julian dengan buku setebal 600 halaman itu. "Dan sudah kubilang kan? Aku lebih suka dipanggil Henna."
Julian terduduk sambil mengelus kepalanya yang sudah berasap (?). "S-Sakiit~ Tanggung tuh. Sekalian aja timpuk aku dengan buku setebal 1000 halaman!"
Dan itulah yang ia dapatkan. Henna tak segan-segan melempar buku besar dengan 1000 halaman dan telak menghantam wajah Julian. Alhasil Julian hanya bisa tersungkur dengan nyawa yang sudah melayang dekat mulutnya.
"Jangan berkomentar karena kau yang memintaku bukan? Julian Solo.." sahut Henna datar, yang kembali asik dengan buku-buku tebalnya.
Tak lama kemudian, sepasang kembar cewek dan cowok yang seumuran dengan Julian masuk. Tahu-tahu mereka gak terkejut mendapati sang pemuda bersurai biru tengah diambang kesakitan. Mereka hanya nyengir kasihan.
"Yah, Julian~ Sama anak umur 4 tahun aja langsung koidh? Gak lepel amat lo!" ledek cewek itu.
"Elo enteng aja ngejek karna gak pernah ditimpuk sama dia kan, Miki?!" bentak Julian.
"Alasan amat! Bilang aja lo ngaku kalah ke dia!" gadis yang bernama Miki itu makin mengejek.
"Aku asli memang gak tau mo bilang apa lagi sama kamu. Iyakan Mikio?" tanya Julian sambil noleh ke arah cowok yang disamping Miki.
"Well.." gumam Mikio. "Aku sendiri gak tau mau bilang apa.." ujarnya sambil menggaruk kepalanya.
Alhasil Julian dan Miki langsung kejungkal 180 derajat.(?)
"Kalian disini mau apa?" tanya Henna datar. "Sudah kubilang berkali-kali, aku tak ingin banyak keributan diperpustakaan ini."
Sahutan dingin itu sukses nge-jleb ke ketiga yang lainnya. dan ironisnya, ucapan dingin itu meluncur dari mulut bocah berumur 4 tahun.
"Michi, ayo siap-siap." Ajak Mikio.
Bocah 4 tahun itu menaikkan alisnya. "Untuk apa?"
"Kaa-san dan Tou-san mengajak kita ke taman ria! Jarang kita kesana lho~" goda Miki.
Sesaat Henna kecil menatap kedua kakaknya dan Julian dan kemudian dengan gampang berkata, "Kalian saja yang pergi."
Kembali mereka bertiga sweatdrop.
"Idiih! Kamu ini sadar kan kalau 3 hari lagi, kita gak bakal bisa bertemu seperti biasa?!" tanya Julian tegas.
Henna terdiam sesaat lalu menghela nafasnya. "Iya... Aku tahu kok.." ujarnya sambil mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.
...
"Michiyo! Kamu bisa turun kemari, sayang?" panggil seorang wanita.
"Ah, tunggu sebentar Kaa-san!" sahutan Henna membalas panggilan ibunya.
Beberapa menit kemudian, Henna turun dan mendapati orang tuanya sedang berbincang kepada seorang pria yang lumayan tua.
"Asuka, inikah anakmu?" tanya pria itu.
"Ah benar. Michiyo, perkenalkan ini Kido Mitsumasa." Ucap Asuka.
Henna mengangguk dan membungkuk sambil memperkenalkan dirinya.
"Waktu itu kami sekedar berbincang. Ternyata ada yang dari Mitsumasa-san yang lumayan mengejutkan." Jelas wanita yang disamping Asuka. "Mitsumasa-san mengumpulkan dan melatih sejumlah yatim piatu agar kelak bisa ditempa menjadi saint."
Henna agak terkejut mendengarnya. "Jadi.. ini artinya?"
"Kamu tak keberatan jikalau kamu ikut berlatih di mansion saya kan?" tanya Mitsumasa.
....
Tercipta suasana hening diantara mereka, tetapi hanya untuk sesaat.
"Well, makanya itu kita puas-puas buat hari ini!" ajak Julian. "Ya? Mau ya?" kali ini disertai mata menggoda (?)
Henna berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk lemas. Dia benar-benar tidak mood untuk pergi ke taman ria. tapi melihat ketiga remaja muda itu, bagaimana dia mau nolak lagi?
Dengan malas, dia langsung beranjak turun dari kursi yang didudukinya. Kemudian berjalan keluar perpustakaan, sementara ketiganya tersenyum riang dan puas.
-Skip Time, 3 days later-
Di mansion Kido, gymnasium itu selalu ramai oleh anak-anak yang sudah berlatih keras agar bisa mempersembahkan diri mereka sebagai saint. Tetapi tidak semuanya berlatih disana. Ada satu bocah yang hanya duduk di pojokan dan memandan semua aktivitas itu.
"Menggelikan. Aku disuruh berlatih dengan mereka? Bahkan apa yang mereka lakukan sekarang itu termasuk bela diri? Tobat aja deh..." komentar Henna sambil memerhatikan mereka dengan malas.
Di sisi lain, Seiya dan Hyoga asik dengan sparring mereka ketika Seiya melihat bocah pirang itu duduk saja.
"Hey, itukan anak yang baru datang kemarin. Hanni ya namanya?" tanya Seiya. "Malas amat orangnya. Bukannya bergerak, malah santai disana."
"Namanya Henna kalee!" balas Hyoga. "Lagian dia masih baru disini. Mungkin dia malu gituan."
Seiya mendengus. "Plis deh. Disini bukan tempat untuk jual mahal."
"Yah, lagian apa kau gak dengar apa yang dikatakan Kido semalam? Dia masih 4 tahun. berarti beda 2 tahun sama kita kan?" gumam Hyoga
Tiba-tiba, bocah berumur 6 tahun itu membuat cengiran. Dari cengiran itu, Hyoga kecil sudah punya firasat buruk kepada calon saint Pegasus ini.
"Ayo kita berikan dia sambutan selamat datang!" usul Seiya.
"Seiya, mendingan jangan deh." Ujar Hyoga.
"Ayolah, anak mami~" goda Seiya.
Hyoga paling gak suka kalau sudah digoda seperti itu. "Ya udah. Kau sendiri yang hampiri dia. aku nonton dari belakangmu saja."
Setelah berdebat beberapa kali, akhirnya kedua anak itu menghampiri Henna. Henna hanya menoleh 2 detik lalu kembali memerhatikan anak-anak lainnya.
"Heh, kau ini kurang kerjaan atau apa sih? Bergerak dong! Jangan malasan terus!" tegur Seiya dengan nada agak sok.
Henna gak merespon dan masih memerhatikan ke arah lain. Hal itu sontak membuat Seiya makin panasan.
"HOOI! KAU DENGAR AKU GAAK?!" jerit Seiya, tepat di telinga Henna.
Setidaknya itu berhasil membuat Henna menoleh ke arah Seiya dengan pandangan terusik. Namun itu juga berhasil mengundang emosi Henna.
"Apa maumu?" tanya Henna dengan nada seram.
Sejenak itu membuat Hyoga merinding, tapi itu tak berlaku untuk Seiya.
"Udah kubilang, jangan malasan! Kau ini kemari mau nyantai atau mau latihan gak sih? Cowok macam apa kau ini? Gak jantan amat." Sindir Seiya.
Hyoga sudah ber-facepalm. "Seiya. Dia itu cewek, bodoh.." ujar Hyoga, langsung membuat Seiya terdiam.
"Saya kemari memang untuk latihan. Tapi dengan melihat kamu dan semua anak disini, mood untuk bergerak saja langsung sirna. Lagipula kalian payah semua." Komentar Henna dengan malas.
Seiya malah makin panas. "Oya?! Kalau gitu kutantang kau, ayo bertarung satu lawan satu! Kalau aku menang, kau akan jadi pembantuku selama sebulan!" tantangnya.
"Terserah. Kalau aku menang, kau cukup tutup mulut dan jangan mengomentariku." Ujar Henna.
"Cih, macam kau bakal menang saja!" ejek Seiya.
Setelah menghela nafas malas, Henna berdiri dan memasang kuda-kuda yang agak lemas. Pandangannya saja juga agak lemas. Tetapi untuk Seiya, wajah dan posenya sudah PeDe 100%.
'Dia lebih muda 2 tahun dari aku. Pose bersiapnya aja loyo. Sudah jelas, aku yang menang!' batin Seiya yakin.
"Baiklah, aku datang!" Seiya langsung berlari ke arah Henna.
Tapi belum sempat bocah berambut coklat itu melancarkan pukulan, Henna langsung menarik tangan kiri seiya, menahan kepalanya dan dengan kuat menendang kaki Seiya dari belakang.
Alhasil Seiya sukses terjembab dengan punggung yang menghantam lantai dan kedua kaki yang terangkat.
Hyoga langsung jawdrop di tempat. 'Seiya yang sudah berapi-api, kalah dengan satu tendangan. Henna yang dari tadi agak lemas, tapi begitu nendang kok kuat?'
"Apa kau juga mengantri?" tanya Henna yang kini menoleh ke Hyoga.
Calon saint Cygnus itu langsung kelabakan setengah mati. Dia benar-benar belum siap menyicipi tendangan Henna. "T-T-Tidak terimakasih!"
Henna kembali menatap Seiya yang masih berbaring di lantai dengan posisi tidak elite. "Seperti perjanjian. Jangan berani komentari aku kecuali aku harus menendangmu keluar jendela."
Lalu gadis kecil itu berjalan ke tempat semula dan kembali duduk. Seiya berusaha untuk duduk kembali. Dia masih heran sekaligus kagum. Meski agak ragu, Seiya berjalan mendekati Henna.
'SEIYAAA! KAU INI BODOH ATAU APA?! JANGAN BILANG KAU KEPENGEN KENA TENDANGANNYA LAGI!' Jerit Hyoga dalam hati.
Sementara itu, Seiya langsung duduk disebelah Henna. Henna sendiri tak memperhatikan Seiya.
"Teknikmu yang tadi.. Kau pelajari dari mana?" tanya Seiya.
"Itu teknik buatan guruku." Jawab Henna.
"Guru..?"
"Iya. Sejak umurku 2 tahun, aku sudah diajari segala macam hal. Mulai dari pelajaran yang diajarkan di sekolah, sampai ke teknik bertarung yang paling rumit."
"Hee?! Keluargamu gila juga.."
"Tidak juga. Sejak kecil, mereka sudah memanggil banyak sekali guru untuk mengajariku. Aku sudah diajari menulis, berbicara dan berhitung sejak umur 1 tahun. Sulit dan gila, tapi sepadan"
Seiya hanya bisa jawdrop. '1 tahun? aku sendiri aja masih belum lancar perhitungan. Dan umurku aja 6 .' batin Seiya miris (?).
"J-Jadi... Kalau menurutmu teknik kami payah semua.. Kau bisa mengajariku gak?" pinta Seiya.
Henna langsung menoleh ke arah Seiya. "Bisa saja." ujar Henna sambil memasang senyum.
"Wah, hebat. Aku baru tahu kalau kau bisa senyum.." komentar Seiya.
"Aku juga manusia kan?" balas Henna agak sweatdrop.
"Hoi! Aku juga gabung dong! Masa hanya Seiya yang diajari?" protes Hyoga yang kini didepan mereka dua.
"Boleh kok. Aku bisa berlatih dengan kalian dua."
"Jadi kapan mulai?" tanya Hyoga.
Henna berpikir sejenak, lalu "Bagaimana kalau sekarang saja?"
Seiya dan Hyoga saling bertatapan lalu mengangguk setuju. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan satu hari itu untuk melatih-dilatih.
'Mereka lumayan. Mungkin ini tak seburuk yang kubayangkan..' batin Henna.
Setidaknya mereka asik mencoba melancarkan tendangan dan pukulan, ketika suasana langsung sunyi sepi. Henna memasang raut heran sedangkan Seiya dan Hyoga sudah mematung.
"Kalian kenapa?"
Keduanya tak bersuara dan hanya menunjuk ke satu arah. Ternyata mereka menunjuk ke arah seorang gadis sebaya mereka dengan rambut lavender pendek yang berjalan dengan anggun dan memasang raut yang tak bisa ditebak.
"Nah.." dengan itu, gadis itu langsung memasang cengiran ceria.
"Salah satu dari kalian, ayo main denganku!" serunya agak memaksa.
Henna masih menaikkan alisnya heran. "Kalian kenapa sih? Siapaan dia?"
"I-Itu..." Hyoga mulai bicara.
Henna jadi makin bingung. "Gak usah basa-basi. Siapa dia?"
Seiya dan Hyoga berpandangan sebentar, lalu dengan serempak menjawab..
"Itu Saori. Cucunya Mitsumasa."
.
.
TBC
Ketrin: Tuhkan pendek -_-
Henna: setidaknya mengandung beberapa kegilaan abnormal..
Ketrin: Hehe~ Kan enak kamu sudah diajari sejak kecil.
Henna: enak apanya? uda mau gila rasanya tauk..
Ketrin: Peace mak~
Henna: Omong", Hyorin berkunjung tuh.
Ketrin: Hah?
Hyorin: Aku dataang! XD
Ketrin: A-Ah, hey Hyorin. Ah, Minna! ini OC Nurarihyon no Mago saya! Dia masih kecil, umurnya masih 10.
Hyorin: Hajimemashite minna-san! Kalian ngomongin apa?
Henna: tentang belajar begitu.
Ketrin: Kalau pikir, Hyorin itu lumayan cerdas sih.
Henna: Iya, cuman masalahnya..
Ketrin, Henna: Masakannya itu senjata pembunuh.. =_="
Hyorin: o_0||| ?
#AmuletWin777
Ketrin: W-Waduh.. Wina-chan kepalanya sampai berasap ya? ^_^;
Henna: Gomen, kami tak punya cara lain buat menjelaskan lebih mudah.
Hyorin: Eh? Nyari cara mudah ya?
Henna: I-Iya sih..
Ketrin: Emangnya apa saran kamu?
Hyorin: Penggal lalu pajang di dinding~
Henna, Ketrin: ... itu gak membantu..
DM: WOOI! HAK MILIK GUE ITU!
#TsukiRin Matsushima29
Henna: Hah? Duga apanya?
Hyorin: Duga kalau Henna-san itu adik kandungnya Shaka-nii..
Henna: Ooh.. APA?!
Hyorin: -_- Chap sebelumnya belum dibaca ya?
Henna: Belum sih -_-
#Matsushima Maiko
Saga: 'M-Mampus dah gue~'
Ketrin: Derita lo! Siapa suruh jahat ke Henna.
Saga: BUKAN AKU! TAPI SISI JAHATKU!
Hyorin: Tapi sama aja tetap Saga-san kan?
Saga: 'Tuhan anak ini nusuk amat sih..' Tapi..Tapi... Henna, kamu maafin aku kan?!
Henna: ^_^;
#Gianti-Faith
Henna: Makasih atas dukungannya~ Tenang saja, saya fine aja kok.. meski memang rada sebal ke Zeus sih..
Ketrin: Wah, Sophie benar-benar tak suka dengan suami-istri itu yah ^^
Henna: Sejujurnya saja.. mereka memang agak aneh.
Hyorin: Haa? Maksudnya?
Henna: Suami tukang selingkuh, Istri tukang ngutuk. Aneh kan?
Ketrin, Hyorin: SETUJU!
#ScorpioNoKuga
Henna: Ehehehe~ sepertinya semuanya sudah pada nebak kalau aku ini adik kandungnya Shaka-nii yah?
Hyorin: Kalian mirip tuh.
Ketrin: Obvious kan kalian itu kandung?
Henna: Tapi ibu dan ayah tak pernah diketahui lho..
Ketrin: Ooh~ kalau itu sih gampang aja.
Henna: Gampang apanya?
Hyorin: Tinggal tanya sama Kurumada-sensei~ Kan dia pencipta originalnya~
Henna: #GUBRAK
Sekian dulu yah Minna~ Doain saya cepat update ya! Sekaligus doain biar nilai sekolah tetap lancar biar naik kelas XD
.
.
.
Mind to RnR?
