Truth? This is it!

Argh! Kelamaan update! Ini malas atau gak ada waktu atau gimana siih?! Yang pasti, yang ngetik tengah stress sih, heheh~ (?)

Well.. one word for that!

Enjoy!


"Saori? Kido Saori yah.." gumam Henna, dibalas anggukan Seiya dan Hyoga.

"Nah! Kamu! Anak baru!" Saori menunjuk Henna dengan telunjuknya. "Ayo main denganku! Kau jadi peliharaanku!"

Bukannya Henna tak mencerna perintah Saori, malahan dia tahu betul maksud tiap huruf. Hanya saja.. Henna benar-benar tak terbiasa diperintah seperti itu. Memerintah seperti itu aja gak pernah.

"Nah, ayo berguling didepanku!"

Hening dan tak ada reaksi dari gadis pirang itu.

"Woy! Berguling kubilang!"

Tetap aja. Hening dan tak ada reaksi. Palingan kedengaran suara keong emas (?)

"Dasar..." Saori sebal sendiri dan mendekat ke arah Henna. Setelah menghampirinya, Saori langsung menampar Henna. Taukah kalian? Itu sih namanya udah menyalakan bom atom.

"Kau ini harusnya bersyukur! Oji-sama memberimu tempat tinggal dan makanan serta tempat berlatih! Dasar anak tak tahu diuntung!"

Henna tetap diam saja.

"Mentang-mentang kau anak baru, jangan kira kau pengecualian!"

Dan masih tetap diam saja.

"Biasakan dirimu disini! Aku bosmu! Mengerti itu!"

Dan baru saja Saori mau menampar lagi..

"Siapa yang kau bilang 'anak tak tahu diuntung', tikus manja.."

Semuanya tercengang. Belum ada yang berani melawan Saori. Well, selain Seiya sih..

"Jaga mulutmu ka- UFFH!"

Mulut Saori langsung dibekap oleh Henna. Di mata Saori, sudah jelas ada mata yang menatapnya tajam dan sudah tampak sekali aura kesalnya.

"Berisik. Nafasmu juga kurang enak dihirup. Main aja dengan boneka. Itupun kalau boneka milikmu sudi."

Saori langsung melepas tangan Henna dari mulutnya. "KURANG AJAR! TAK TAHU MALU! KAU GAK TAHU AKU SIAPA?!"

"Udah aku bilang.. Tutup mulut kan? Kau mau kupaksa memakan sepatuku?"

Seketika saja Saori makin meledak-ledak. Segala macam caci makian kembali keluar. Begitu dia mau menendang Henna, dengan cepat Henna menyodokkan sepatunya kedalam mulut Saori yang kebetulan terbuka lebar. Pemandangan yang benar-benar epik (?)

"Gimana? Sepatuku cukup enak bagi monyet yang berisik sepertimu." Gumam Henna.

Saori memuntahkan sepatu itu dan masih saja belum menyerah dan mendekati pemilik sepatu itu. Henna langsung memegang leher Saori dan mendorongnya perlahan ke sudut ruangan luas itu. Saori benar-benar tersudut.

"Dengar ya, kerbau. Aku capek menghadapi segala urusan konyol. Monyet tolol sepertimu hanya bisa menyusahkanku. Dan aku bahkan tak ingin disini. Satu urusan menjengkelkan.. kau tamat.. "

Kalimat padat dan tajam menutup mulut semuanya di ruangan itu. Dengan pelan, Henna mundur dan duduk di tempat semula. Saori sendiri sudah cukup ketakutan dan berlari pergi. Yang lain sudah dan ingin berterima kasih hanya saja melihat raut Henna yang masih sama, tak ada yang berani. Jadinya mereka kembali ke rutinitas semula.

"Ikki, ternyata bukan hanya kau saja yang berandalan disini." Ledek Ichi.

"Diamlah.." balas Ikki dengan nada gusar.

"Iya, Ichi.. Biarkan dia berfantasi sebagai soulmate anak baru itu." Ban ikutan meledek.

"TUTUP MULUT!" bentak Ikki dan keduanya langsung lari sambil tertawa.

"Nii-san tak perlu marah. Mereka kan seperti itu selalu."

"Gitu-gitu, aku gak rela juga Shun.."

Dan tiba-tiba saja, Tatsumi pula yang muncul. Kok gak selesai-selesai pula penderitaan para anak-anak ini. Dikunjungi setan 2 kali.

"MANA ANAK BARU ITU!"

Karena saking kuatnya volume sang botak, akhirnya yang lain terkejut dan spontan menunjuk Henna yang masih terusik.

'Lagi-lagi? Sebenarnya disini sarang perbudakan atau tempat latihan?!' batin Henna yang SANGAT AMAT TERAMAT geram. 'Gak bisa laginya aku duduk dengan damai?!'

"Kau kira kau ini siapa? Benar-benar berani kau mengatakan itu pada Ojou-sama!" bentak Tatsumi setelah dia berdiri tepat didepan Henna. "Berdiri kau! Cepat!"

"Gak ah. PeWe kok disuruh gerak. Bodo amat." Balas Henna cuek.

"Apa maksudmu?!"

Sepertinya Tatsumi sama aja. Karena kakinya yang besar mendarat dan menyisakan bekas telak di pipi Henna.

Kini gadis itu benar-benar emosi. 'Tadi teriakan, lalu tamparan sekarang tendangan. Makasih banyak ya. Keluarga Mitsumasa memang sudah idiot semua.'

"Jangan kira aku dibatasi disini!" tendangan kembali mendarat. "Aku bahkan bisa membuatmu sekarat kalau aku mau!"

Sudah sekian tendangan yang mendarat di tubuh Henna sampai kulitnya tidak memerah tapi membiru. Setelah puas menendang, diangkatnya Henna sampai sejajar dengan pandangannya.

"Minta maaf .." perintah Tatsumi.

Henna tak bereaksi sementara lalu menjawab, "Kau sebut itu tendangan? Aku sudah dilatih lebih parah jadi ini tak sebanding. Dan apa tadi kau bilang kau bisa membuat kami sekarat kalau kau mau?"

Emosi Tatsumi melonjak dan langsung saja dia mengguncang-guncang Henna dengan kuat. seakan Henna itu hanya sekedar boneka lempar.

"Sialan kau! Kau memang cari mati!" bentak Tatsumi yang langsung menjatuhkan Henna dan kembali menendangnya.

Satu..

Dua..

Tiga..

Empat..

Henna menghitung-hitung tendangan Tatsumi dalam hati. Dan begitu sampai ke angka sepuluh, dengan gesit Henna menangkap kaki butler itu dan memutarnya. Akhirnya pria berbadan besar itu jatuh.

Tapi itu tak cukup. Henna langsung memuntir pergelangan kaki Tatsumi sampai terdengar suara tulang dengan jelas. Mendengar jeritan Tatsumi, tentu rasanya sakit sekali bukan.

Tapi.. tetap saja tak cukup. Henna berjalan ke arah tumpukan barbel. Kebetulan Geki disana.

"Kau membutuhkan ini?" Henna mengangkat barbel 10kg dan Geki hanya menggeleng cepat saking gugupnya dia.

Henna berjalan sambil membawa barbel itu. Tanpa tampak belas kasihan, dihantamnya barbel itu ke punggung dan kaki Tatsumi berkali-kali. Yang melihat itu sudah hampir nangis sendiri. Tak berani membayangkannya. Bahkan Ikki sudah menutup mata Shun. Hyoga dan Seiya juga sudah peluk-pelukan.

Henna menginjak tangan Tatsumi dan berjongkok supaya bisa melihat jelas wajah Tatsumi. Ternyata Tatsumi sudah menangis total. Benar-benar rasa sakit. Tapi bukannya berbelas kasihan, Henna senyum sendiri.

"Cengeng. Dasar bongkahan daging gak berguna. Air matamu mengalir jelas dari matamu. Rasanya jadi ingin kubakar mata itu."

Henna mengeluarkan pemantik api dari saku, menyalakannya dan mendekatkannya ke mata Tatsumi. Tatsumi langsung saja menjerit minta ampun dan minta maaf. Jaraknya hanya 2 cm antara api dan mata, Henna langsung berhenti.

"Berani ganggu aku.. Berani kau laporkan.. Kujadikan bola matamu sebagai bola pingpong.."

Henna mengangkat kaki yang menginjak tangan Tatsumi dan kembali lagi duduk di tempat biasa. Tatsumi langsung pontang-panting keluar sambil terpincang-pincang.

Yang lainnya menatap Henna cukup lama dan ngeri sampai..

"Kenapa? Di wajahku ada yang aneh?"

Semuanya hanya menggeleng dan kembali mengerjakan rutinitas mereka, meski mereka sudah 100% ngeri mengingat yang tadi. Bahkan Ichi dan Ban hanya bisa berbisik-bisik.

"Anak itu bukan soulmate Ikki.. Tapi anak itu maut versi manusia!" Ban merinding sendiri.

"Ingatkan aku biar gak asal ngomong sama dia." Gumam Ichi.

Sedangkan yang lainnya, entah membicarakan apa-apa yang lain. Bahkan Seiya dan Hyoga setengah-setengah ketakutan ketika bicara dengan Henna.

'Kayaknya ada penindas baru disini..' batin semuanya.


Sebulan lebih sudah berlalu. Henna tetap menjadi pendiam. Sejak kejadian terakhir, Saori tak muncul. Tatsumi kabarnya juga masuk rumah sakit karena pergelangan kakinya terkilir, betis dan rusuk dan juga jari tangannya retak. Kabarnya dia juga menemui psikiater karena trauma.

"Gila ya.. Baru kali ini tenang banget." Gumam Shiryu sambil bersandar dekat jendela, menikmati angin semilir.

"Meskipun Henna ada seramnya, ternyata dia baik mau mengurus masalah ini." Ujar Shun. "Tapi aku belum ada bicara dengan dia lho.. Shiryu udah bicara sama dia?"
Shiryu menggelengkan kepalanya.

"Aku dan Hyoga udah tuh." ucap Seiya. "Dia baik kok. Yah cuman jangan buat dia marah deh."

Shun dan Shiryu nyengir sweatdrop dan ngangguk ngerti. Mereka sudah lihat kok bagaimana nasib kedua orang yang berani itu. Percayalah. Sejak saat itu.. Bahkan Hyoga dan Seiya aja menjerit dulu ketika disapa pelan oleh Henna.

"Anu.. Tapi aku mau coba bicara sama dia lho.."

Yang kebetulan dekat dengan Shun, dalam kata lain : Jabu, Nachi dan Geki langsung berseru gak percaya sendiri.

"Gilaa! Kau mau jadi sasaran selanjutnya?!" seru Nachi.

"T-Tidak sih.."

"Mengingat Ikki itu gimana.. Dia wajib ngamuk dong!" timpal Jabu.

"T-Tapi aku.."

"Tapi seru juga lho.. kedua iblis diantara kita semua saling bertarung." Geki langsung nebeng.

"H-Hoi.. bukan itu maksudku!" Shun sweatdrop seketika.

Tapi ketiganya plus Seiya dan Shiryu (kirain ni anak alim) langsung mulai berdebat tentang hal konyol itu. Shun geleng-geleng sendiri dan akhirnya menghampiri Henna yang angkat besi sendiri.

"A-Anoo.."

Henna menoleh kebelakang, lebih tepatnya menoleh ke sumber suara. Shun langsung terdiam karena cara Henna menoleh itu agak.. err.. tajam.

"Ada perlu dengan saya?" tanya Henna dengan nada datar seperti biasa.

'Dinginnya.. Tapi logatnya sopan juga yah..' batin Shun. "K-Kulihat kamu jarang berbicara dengan yang lain. Kenapa tak berbaur saja?"

"Tak perlu dan tak peduli." Dan dengan itu Henna menarik kembali tatapannya pada Shun dan fokus ke barbelnya.

Shun sweatdrop seketika. 'Astaga dingin amat..'

Shun kembali memperhatikan Henna, mana tahu dia bisa mendapat bahan bicaraan yang pas. Dan setelah dilihat, ada kotak kacamata dan sebuah buku dan pulpen didekat Henna. Shun mengambil buku itu dan membaca isinya. Setelah menghabiskan satu halaman..

"Ini.. cerita buatanmu ya?" tanya Shun.

Henna menoleh lagi. "Ya. Aku hampir tak punya kegiatan selain angkat besi dan halang rintang jadi aku membuat cerita sendiri." Jelas Henna. "Tapi apa kau tak pernah diajarkan 'Jangan membuka milik orang tanpa seizin mereka?' ya?" ujar Henna dengan intonasi tajam.

Shun mematung seketika. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. 'Astaga..Astaga..Astaga.. Tolong jangan bunuh aku.. Yang lain masih perlu aku biar Nii-san gak marah-marah melulu.' Batin Shun.

Tapi untunglah gadis itu tak marah. "Gomen. Aku lupa kalau disini semuanya yatim piatu."

Bocah berambut hijau itu langsung menarik nafas lega. Dia tak jadi kantong pukul (?). "Maafkan aku. Aku memang ceroboh."

"Tidak apa-apa. Semua orang berbuat kesalahan."

Perkataan Henna membuat Shun agak diam. 'Dia tak sejahat yang kami pikirkan kok..'

"Kenapa?"

"E-Eh?"

"Kenapa anda tiba-tiba menghampiri saya? Yang lain tidak terlalu tertarik untuk mendekati saya. Tapi anda sendiri langsung datang begitu saja."

Shun menggaruk kepalanya yang tak gatal. "A-Aku tak enakan saja membiarkan seseorang sendirian terus. L-Lagipula kau tetap yang paling muda diantara kami kan?" jelas Shun. "T-Tapi.. kalau dipikir, logat bicaramu. Aksen bicaramu benar-benar terkesan sopan."

Henna terhenti dari angkat besinya. "Saya memang diajarkan seperti itu." Ujar Henna sambil meletakkan kedua barbelnya. "Dan percayalah, berada disana bukanlah posisi yang mudah."

"Begitu ya.." gumam Shun. Kemudian dia mengambil kotak kacamata Henna. "Aku tak tahu kalau kau memakai kacamata."

"Ah, kacamata itu kupakai kalau sedang sendirian atau bersama keluargaku. Saya tak pernah memakai ini didepan yang lain." Jelas Henna.

"M-Maukah kau memakainya sekali saja? aku.. errmm.. ingin melihatnya sebentar saja kok."

Dalam hati, Shun sudah memukuli kepalanya sendiri sambil merutuki dirinya. Kenapa malah berani bilang seperti itu pada sang iblis. (?)

Tapi tahu-tahu Henna mengangkat bahunya dan akhirnya memakai kacamata nya yang lumayan besar. Shun terperanjat sendiri.

"Sugooi.. Henna seperti orang jenius saja!" puji Shun.

"Lebih mirip kutu buku."

"Kutu buku kan pintar."

"Hmm.. Iya juga.."

Dan keduanya terkekeh pelan. Kebetulan juga yang lain melihat Shun dan Henna terkekeh bersama. Alhasil dihadiahi siulan.

"Shuun! Adiknya Ikki sudah gede juga ternyata!" ledek Ichi.

"Heey! Gak adil Shun! Padahal aku juga pingin bareng Henna-chan!" Nachi ikut-ikutan.

Shun sweatdrop. "A-Aku tidak seperti itu!"

Henna sendiri mual. "H-Henna.. C-Chan...?"

Sorakan yang lainnya tetap lanjut, sampai akhirnya suara Ikki kedengar juga.

"Oi, kalian ini berisik amat sih. Kenapa memangnya?" tanyanya.

"Ikki, tengok tuh adik kamu udah duluan daripada elu!" ledek Hyoga.

"Makanya jangan galak-galak biar cepat dapat cewek!" ledek Jabu.

Ikki menaikkan sebelah alisnya, Shun langsung membela-bela. Tapi tetap saja tak ada pengaruh. Setidaknya itu sebelum campur tangan seseorang.

"Dasar.." desis Henna. "Berisik tahu gak. Kalian perasaan sok polos semua. Benar-benar kalian ini, aho..."

Suara seram dan volume kuat dari Henna akhirnya berhasil mendiamkan semuanya. Dan lagi-lagi Seiya dan Hyoga saling pelukan (WOY! Jangan pacaran!).

"Mending cari yang lain selain nyorakin yang gak penting."

Sontak semuanya ngangguk dan kembali ke tempat masing-masing. 'Benar-benar nusuk!' batin mereka.

"G-Gomen, Henna. Sepertinya tadi agak kacau." Ujar Shun.

"Tak apa. Hal seperti itu bisa dibilang wajar saja." sahut Henna.

Shun tersenyum lalu menatap sang kakak. Ikki entah kenapa membuang pandangan dan sekali-kali melihat ke arah Henna selama satu detik lalu kembali membuang pandangan.

"Ah iya ya!" seru Shun. "Nii-san kan suka dengan gadis yang pakai kacamata!"

Dengan mendengar itu, pipi Ikki merona. Wah, itu hal yang jarang. Henna memang tidak merona tapi dia melongo ke arah Shun dan Ikki.

"S-S-Shun! Ke-Kenapa kau.."

"Ayolah Nii-san! Kenalan dengan Henna juga!"

Shun menarik tangan Ikki dan mendekatkannya ke Henna. Hening diantara keduanya, sementara Shun sudah mohon-mohon (?) dibelakang. Sampai akhirnya Henna mengulurkan tangannya.

"Hasegawa Michiyo. Anda bebas memanggil saya Henna."

Ikki menerima jabatan tangan Henna dengan pelan.

"Namaku Ikki.."

.

.

.

"Oi kok diam sih.." sewot Shun.

Ikki hanya bisa pasang wajah kesal sedangkan Henna tetap dengan wajah datarnya sambil mengambil buku dan pulpennya dan duduk di tempat yang biasa.

Shun menyusul dan ikut duduk disamping Henna. Ikki juga ditarik-tarik oleh Shun, meskipun Ikki gak pengen-pengen amat tapi sebenarnya sudah rada senang sih. #dasarIkki

"Keberatan kalau aku dan Nii-san gabung" tanya Shun.

"Tentu saya tidak keberatan." Ujar Henna.

"H-Hoi, tak usah seformal itu." Gumam Shun agak cengo.

Henna terdiam sebentar, lalu memasang senyum kecil. "Well, kalau itu maumu."

Shun tersenyum dan entah kenapa, Ikki juga. Tapi senyum itu malah berubah ketika Henna bertanya dengan polosnya.

"Nama kalian siapa? Aku belum ada kenal kalian lho.."

#GUBRAKZ

Itulah suara kedua kakak adik itu jungkir balik ke belakang.

.

.

TBC


Ketrin: Selesai~ Selesai~ Kali ini.. summon dari anime lain deh.. Hmm.. Sesshomaru mungkin.

Sesshomaru: *muncul pasang tampang kece*

Ketrin: Woy, gak ada yang minta kamu muncul! -_-

Sesshomaru: Ada kok!

Ketrin: Siapa? Rin? Gue belum minta lo muncul kok.

Sesshomaru: yang minta aku muncul itu.. aku *pasang pose kece*

Ketrin: =_= waktu disorot, tampangnya berkarisma. Disini alay. Dasar modus kurang asam.


#Gianti-Faith

Sesshomaru: Wah, cewek kalau marah.. nyeremin juga yah _

Ketrin: #tendangSesshomaru RIIN! TENANGKAN DULU TUANMU INI! Dan wajar aja sih Julian kalah telak sama Henna.. soalnya main-main mulu sih XD. Well.. buat Seiya.. yah penasaran juga aku, ini dari mama atau dari papanya..

Seiya: WOYY!


#TsukiRin Matsushima29

Ketrin: #sweatdrop W-Waduh..

Sesshomaru: #tepukTangan


#AmuletWin777

Ketrin: ^^; Well, kalau dewa yang dipukul.. kayaknya gak sakit-sakit amat sih..

Zeus: Betul sekali! Hahahahaha!

Sesshomaru: #nendangZeus

Zeus: GAK SOPAN! AKU INI DEWA!

Sesshomaru: Emang Gue Pikirin?! #langsungberantem

Ketrin: -_- Wah, Saori disini.. yah lumayan selamat lah ^^; tapi Henna disini rada... err.. kejam pakai banget yah?

Sesshomaru, Zeus: BETUULL!

Ketrin: DIAAM!


#Shimmer Caca

Ketrin: Ah, daijoubu Caca~

Sesshomaru: Malahan, gak nge-review juga bagus kok~

Ketrin: KAU JANGAN GANGGU AKU OOI!

Sesshomaru: =_= Budeq nih! Budeq!

Ketrin: Henna sih di chap sebelumnya lumayanlah kakkoinya..

Sesshomaru: Tapi kalau di chapter ini.. macamnya setan cilik..

Ketrin: Makanya itu.. =_=


Ketrin: Sekian reviewnya~

Sesshomaru: Harap jangan menikmati chapter ini, sebelum dan sesudahnya~

Ketrin: #lemparbatubata Harap jangan mempercayai setan ini~

Sesshomaru: Sekian dan..

Ketrin: Terima kasih ! XD

.

.

RnR?