Truth? This is it!
.
L-Lagi-lagi kelamaan updet. Gomenasai minna!
Milo: Plis deh. Macamnya ada yang mau baca cerita ini..
Ketrin: -_- Iya tau deh ficnya jelek. 'Dan ngapain manusia ini disini?'
Milo: Tambahin kalimat BANGET! Dan selamat membaca semuanya!
Ketrin: PERGI SANA!
.
.
.
"Kalian ini siapa? Aku belum ada kenal kalian lho.."
Shun dan Ikki saling berpandangan. Padahal tadi baru saja mereka memperkenalkan diri. Tampaknya Henna tadi gak terlalu memperhatikan. Malahan sepertinya tadi dia tak terlalu peduli. Ralat lagi.
Dia Sama Sekali Tak Peduli.
.
.
.
Akhirnya setelah memperkenalkan diri mereka dengan singkat dan jelas. Bukannya saling tukar-tukar pembicaraan, malah mereka bertiga cuman diam-diam saja.
Kenapa? Karena Henna sendiri gak mulai topik untuk dibicarakan.
"Kalian masih ada perlu sama aku? Karena kalau tidak, lebih baik kalian memanfaatkan waktu kalian daripada bertengger seperti sepasang burung bodoh."
'Udah nusuk, ketus, kasar.. Mending gak perlu dideketin deh.' Batin Ikki gusar.
"T-Tapi tadi kami cuman pingin gabung bareng Henna kok." Shun cepat-cepat cari alasan. "K-Kalau boleh sih."
"Oh.. Silahkan saja. Aku memang ingin menyelesaikan halaman terakhir ini." Henna menunjukkan satu lembar terakhir di buku itu.
"Bagaimana kalau akhiran 'bahagia selama-lamanya'? Shun suka dongeng seperti itu. Apalagi waktu dibacain tiap malam." Ujar Ikki.
Shun menepuk kuat dahinya. Oh martabatnya sudah melayang dibuat sang calon Phoenix.
"Souka.. Mungkin kali ini aja.. Aku bisa buat akhiran bahagia." Gumam Henna.
"Memang biasanya ceritamu seperti apa?"
Hening sebentar dan kemudian Henna menjawab, "Tragedi. Biasanya seperti Romeo dan Juliet."
'Pantesan anak ini galak. Ceritanya aja tentang orang mati.' Batin kakak adik itu.
"Baiklah berikan waktu beberapa menit ya.."
Henna menuliskan akhir cerita itu dengan cekatan dan ketika selesai, dia menunjukkannya pada kakak adik itu.
"Ini bagus! Kau harus membacakannya didepan kami semua!" puji Shun.
"Eh? T-Tunggu! Aku.."
"Minna! Henna akan membacakan kisah untuk kita!"
Shun sudah mulai nyerocos duluan dan tahu-tahu, yang lain juga langsung ikutan dan berkerumun disekitar situ. Melihat mereka semua, tak mungkin Henna bisa menolak. Dia juga tahu untuk membuat orang senang.
"Baiklah." Dia tersenyum. "Sekali ini saja ya."
Kalimat demi kalimat dibacakan gadis pirang itu, ada adegan senang, sedih, lucu maupun menegangkan. Untuk akhirnya, sesuai dengan permintaan Shun. Akhiran yang bahagia.
"'Aku akan tetap melindungi semuanya. Kita semua punya pilihan. Begitu juga dengan aku.' Ucapnya. Matahari terbenam mengiringi janjinya yang disaksikan oleh teman-temannya yang tersenyum akan dirinya. Tamat.."
Tepuk tangan riuh memenuhi satu ruangan. Tanpa disadari, itu menarik perhatian satu orang yang merupakan pengganti sementara Tatsumi. Jikalau Tatsumi adalah pria besar dan botak, maka pria itu adalah pria yang lebih besar lagi dan berambut afro. Jangan lupa namanya Kasuga.
"Apa yang kalian lakukan?! Kembali berlatih!"
Kasuga kini jadi pusat perhatian. Sekejap, semuanya dilanda rasa gugup (apalagi Shun). Tapi malahan jadi rasa geli.
"Tengok woy. Mitsumasa barusan beli monyet baru. Udah rambut kribo, jelek, tua, hidup pula itu." Celetuk Henna.
Alhasil semuanya meringis geli dan ada juga yang tertawa. Jangan lupakan Kasuga. Pria itu malah tersulut amarah juga.
"Jaga mulutmu!"
Keheningan melanda untuk kedua kalinya.
"Sekarang kembali latihan atau kalian akan kuhukum! CEPAT!"
Tanpa ba-bi-bu, semuanya menurut. Bukan karena dibentak kok. Sama Tatsumi juga udah biasa. Tapi karena Kasuga sudah bawa-bawa tongkat kendo yang kelihatannya sangat tidak menyenangkan jikalau dipukul dengan itu.
Ikki sebenarnya tidak mau tapi apa boleh buat saja. Setelah membujuk beberapa kali, Henna akhirnya ikutan juga. 15 menit kedepan, tak ada masalah. 30 menit kedepan juga tak ada masalah. 1 setengah jam kemudian, Shun mulai kehabisan nafas.
"A-Aku istirahat sebentar ya. A-Aku lelah sekali." Shun terduduk setelah sparing dengan Henna dan Ikki.
"Aku juga deh." Ikki mengusap keringat dari dahinya.
"Istirahat saja dulu. Nanti kita lanjut." Henna gabung duduk dengan mereka.
Tapi belum sampai satu menit, mereka sudah dipergoki dengan tak elitnya oleh Kasuga.
"Tak ada yang bilang boleh duduk! Ayo bangkit." Bentaknya.
Shun agak ragu juga. Nafasnya masih tersenggal-senggal. "T-Tapi, setidaknya boleh aku istirahat satu menit?"
"Siapa bilang boleh?! Kalau tak mampu, lebih baik tak perlu kemari! Mitsumasa-sama hanya mau yang terbaik dan bukan sembarangan yang kemari!"
'Memangnya siapa yang bawa kami kemari? Si kakek tua sialan itu kan?!' batin Ikki dan anak-anak lainnya yang mendengar bentakan Kasuga.
"Sekarang ayo bangkit!"
Kasuga memukulkan tongkat itu ke lantai dan cukup membuat Shun ketakutan. Begitu Shun mencoba bangun, Henna langsung menahan pundaknya.
"Jangan paksa dirimu, Shun. Kalau istirahat ya istirahat. Latihan ya latihan." Ujar Henna.
"T-Tapi kata dia.."
"Lha? Shun sekarang ini dengerin perkataan manusia kan?"
"I-Iya?"
"Jadi ngapain dengerin perintah monyet coba?"
Hening sejenak lalu Ikki dan lainnya tertawa lagi. MONYET memang panggilan 'sayang' Henna kepada Kasuga. Tapi itu bukanlah sepenuhnya panggilan sayang toh.
"Berandalan!"
DHUUAAK!
Dan melajulah tongkat itu. Tepat menuju dahi Henna dan sukses membuat darah mengalir dan hampir menutupi seluruh wajahnya dan tak sadarkan diri. Dengan cepat, Shun langsung bangkit. Dia dan kakaknya langsung menghampiri Henna yang sudah pingsan. Seiya, dkk juga langsung ikut menghampirinya.
"Siapa yang suruh kalian hampiri dia?! Bocah macam dia patut dipukul sampai pingsan!" bentaknya sambil menginjak Henna kuat. "Dan jangan sampai aku kehilangan kesabaran dan akhirnya membuat kalian bernasib yang sama!"
Mereka semua terdiam, menatap Kasuga dengan tatapan yang tidak pasti artinya.
"Sekarang kembali latih- AAAAGH!"
Kali ini mereka semua cengo. Cengo melihat Kasuga yang terpental setelah disepak oleh dua remaja kembar dengan warna mata onyx. Seorang gadis muda dengan rambut merah bergelombang diikat 2 dan seorang pemuda dengan rambut merah agak bergelombang dan sedikit diacak.
"Woy! Kau kira kau ini ngapain?! Kita hajar aja dia, Mikio!" bentak gadis itu sambil kembali menendang Kasuga.
"Berani juga dia menginjak Michi. Tapi mending jangan diapa-apain, Miki. Kido-san yang akan bertindak nantinya." Gumam pemuda itu sambil menggendong Henna.
Kasuga sendiri sudah makin panasan. "KALIAN SIAPA? HAH?!"
Kedua kembar itu tak menjawab dan hanya menatap layas ke arah Kasuga. Semakin menjadi-jadi kemarahan Kasuga dibuat mereka.
"Kutanya.. KALIAN SIAPA?! DASAR ANAK-ANAK SIALAN!"
Miki itu tak tahan lagi dan akhirnya menghadiahkan tinju mentah ke hidung Kasuga. Pembaca tentu tahu apa hasilnya jika hidung orang ditinju kuat-kuat.
Kasuga langsung terduduk dan memegangi hidungnya yang sepertinya sudah patah.
"Lancang juga si kawan ini. Kami berdua ini dari keluarga Hasegawa tahu. Kalau kau kerja disini, kau tentu tahu keluarga Kido juga punya hubungan dengan keluarga kami."
Perkataan itu telak menghantam Kasuga. Dia baru saja menghina anak dari keluarga besar. Padahal dia baru saja mulai kerja di hari itu juga. Sudah dibayangkannya apa kemungkinan terburuk yang sudah menimpanya.
"Dan untuk informasi saja tuan." Mikio berdiri di depan Kasuga sambil menggendong Henna. "Yang kau lukai ini adalah adik kami."
Kasuga lebih terhantam lagi, dan tak hanya dia. Seluruh yatim piatu di ruangan itu serasa dihantam beton. Selama sebulan, mereka kebanyakan memperlakukan Henna seperti anak biasa. Ternyata kenyataannya lain.
"M-Maafkan saya! S-Saya tidak tahu! Saya mohon maaf sebesar-besarnya."
Permintaan maaf itu tak digubris sama sekali dan malah membuat pengganti Tatsumi itu kembali merasakan pukulan mentah dari Miki.
"MAAF APANYA?! KAU BARU SAJA MELETAKKAN KAKIMU DI ADIK KESAYANGANKU! KUBUNUH KAU!"
"Itu cukup, Miki-nee.."
Sebelum Miki sempat bertindak lagi, dia langsung menatap dan menghampiri Henna yang untungnya sudah sadar di pangkuan Mikio.
"Aku tak apa. Kasihan dia, baru masuk satu hari tapi sudah bermasalah duluan."
"Tapi lihat apa yang dilakukan padamu, Michi." Mikio menyentuh pelan wajah Henna.
"Dia harus membayarnya, Michi-chan!"
"Itu cukup. Aku serius."
Singkat dan padat, kembar itu terdiam dan hanya menghela nafas. Adiknya susah sekali menurut kalau sudah punya pikiran lain.
"Dan untukmu." Henna memicing ke Kasuga. "Silahkan pecahkan tengkorakku dan patahkan rusukku. Tapi aku tak ingin satu goresan pada mereka semua."
Kasuga terdiam mematung tanpa balasan. Kemudian menunduk dan berjalan keluar ruangan. Seiring keluarnya Kasuga, Henna langsung mencoba bangkit berdiri dan tentu dibantu oleh kakak-kakaknya karena hampir saja dia jatuh lagi.
"Kalian ngapain kemari?"
Miki dan Mikio hanya tersenyum, dan memberi satu jawaban langsung ke Henna.
"Lagi-lagi cipika-cipiki. Tou-san dan Kaa-san terlalu baik."
"Perasaan kamu yang terlalu jahat deh, Michi." Mikio tertawa sambil mengacak pelan rambut adiknya.
Miki melihat ke arah kerumunan Seiya dkk dan kemudian menghampirinya sambil tersenyum.
"Hei, kalian sudah berteman dengan Michi kan?" tanyanya ramah.
Awalnya mereka tak ada yang menjawab, kemudian Shun langsung maju dan mengangguk.
"Henna benar-benar baik. Dia mau membantu kami." Ujar Shun sambil tersenyum.
Miki turut tersenyum. "Wah, tumben Michi-chan bisa jadi baik nih."
Henna menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu apa, Shun? Apa membuat pria dewasa masuk rumah sakit dan membuat anak diatas umurku trauma termasuk membantu ya?"
Asli semuanya sweatdrop seketika.
'Hasegawa Michiyo. Kami nyesal banget ngajak kamu main bela diri.' Batin Miki dan Mikio.
"Tapi tadi kan waktu aku dipaksa latihan, Henna mau bela aku. Itu kan menolong."
"Itu gak menolong. Tapi itu... yah, hanya kulakukan karena kurasa harus."
Shun tersenyum bersama yang lainnya juga. 'Dasar anak yang aneh.' Pikir mereka.
"Aku permisi sebentar. Kepala berdarah bukanlah pemandangan yang bagus."
Dengan sempoyongan, Henna melangkah keluar dari ruang gym. Beberapa kali dia hampir jatuh, karena dia tak ingin berpegangan pada dinding. Kenapa? Karena takut dindingnya kena darah dan panjang lagi urusan.
Sengaja dia melewati ruang tamu dan melihat kedua orang tuanya. Tapi ada juga satu orang lagi. Pria yang sebaya dengan Mitsumasa.
Karena tak terlalu penasaran, Henna tetap berjalan santai menuju kamar mandi dan begitu dia sampai didepan kamar mandi, dia tak sengaja melihat ada gadis kecil yang sebaya dengannya.
Rambutnya cream, dipadukan dengan iris berwarna biru saphire. Sejujurnya saja, baru kali itu Henna bertemu seseorang yang begitu manis. Meskipun begitu, Henna tak terlalu peduli membuka pembicaraan dan langsung saja melangkah masuk.
Tapi sebelum masuk, dia menoleh sebentar dan agak terkejut melihat gadis kecil tadi tampak pucat dan ketakutan melihatnya. Seakan dia melihat setan saja. Henna menaikkan sebelah alisnya, heran. Sampai akhirnya dia sadar kalau yang didepannya lebih tepatnya pucat karena melihat darah di wajahnya.
'Jangan-jangan dia takut darah yah?'pikir Henna. Dengan cepat, dia langsung masuk kamar mandi agar gadis kecil itu tidak takut lagi.
Sementara itu, gadis kecil yang bernama Mitsuki itu tetap terdiam di tempat. Perlahan, dia mulai tenang sedikit. Untunglah juga kakaknya, Teru langsung menghampirinya.
"Mitsuki, kok bengong disini?" tanyanya.
"Ng-Nggak apa kok, nii-san." Ujar Mitsuki disertai senyumnya.
Kemudian, terdengar langkah dari arah lain. Langkah-langkah dari kembar Hasegawa tepatnya.
"Lho? Kalian siapa?" tanya Miki.
Mendengar pertanyaan itu, Mikio langsung saja menjitak kepala saudari kembarnya.
"Masa gak sadar sih?! Sebelum nemui Michi, mereka dua kan disamping kita!"
"Idiih! Cukup jawab pertanyaanku deh!"
"Kamishiro Teru dan Mitsuki, oke?! Lain kali, orang perkenalin diri ya diperhatiin!"
"Sori deh! Tadi aku lebih antusias ketemu Michi. Masalah buatmu?!"
Teru dan Mitsuki sweatdrop sendiri menonton pertarungan tanpa arti itu. Akhirnya Teru berdehem dan menghentikan kedua kembar itu.
"Omong-omong, kalian ada lihat anak dengan rambut pirang lewat sekitar sini?" tanya Mikio.
Mitsuki langsung teringat. "D-Dia di kamar mandi." Mitsuki menunjuk kamar mandi yang didepannya.
"Ah, makasih." Ujar Miki. "Michi-chan! Aku bawain perban nih. Sini aku balutin."
Tak lama kemudian, Henna keluar dengan kepala dan rambut yang agak basah. Tapi darahnya sudah hilang sehingga membuat Mitsuki bisa bernafas lega. Miki dengan cekatan mengeringkan kepala Henna dengan handuk lalu membalut kepalanya.
"Nah, selesai sudah! Kyaa! Kamu malah makin imut!" jerit Miki gemas sambil mencubit kedua pipi Henna.
Henna sendiri tak bisa dan sudah malas meronta karena dia sering sekali melakukan ini dengan Miki.
Awalnya semuanya masih asik memperhatikan keduanya, sampai Mitsuki memberanikan dirinya mengeluarkan suara.
"Anu.. Kepalamu tadi kenapa?"
Henna menoleh seketika dan membuat Mitsuki agak terkejut. Henna masih menatap Mitsuki dan entah kenapa memberi sensasi yang kurang nyaman.
"Tadi aku dipukul."
Kalimat singkat padat keluar dari mulut Henna. Hal itu agak membuat kedua kakaknya lega.
"Uhmm.. Apakah kau tak apa?"
"Iya. Aku tak apa."
Mitsuki terdiam sebentar lalu memperhatikan kedua bola mata Henna.
"Sugoi! Matamu! Beda warna!"
Henna memegang mata kirinya dan tanpa bicara langsung berbalik arah dan berjalan kembali ke gym. Namun sebelum itu, Mitsuki langsung menyahutkan sesuatu.
"N-Namaku Kamishiro Mitsuki!"
Henna menoleh sebentar saja dan tanpa berbicara langsung membalikkan badan dan berjalan kembali. Meninggalkan 4 lainnya.
Tunggu! Dia tak sepenuhnya tak berbicara. Dalam keadaan berjalan dan membalikkan badan dari mereka berempat, Henna melambai pelan dan mengucapkan,
"Henna."
"Yah, maaf ya. Dia orangnya terkadang kurang suka bicara gitu." Ujar Miki.
Mitsuki tersenyum melihat Henna yang sudah menjauh dari mereka. Entah kenapa, rasanya akan ada sesuatu diantara mereka. Sesuatu yang baik tentunya.
.
.
TBC
Ketrin: Jyah, kayaknya Mitsuki dan Teru gatot yah?
Milo: Ceritanya juga gatot.
Ketrin: Aku udah baik hati bolehin kamu jadi guest ya!
Milo: Selow bro~ Oya, jangan lupa pesanmu.
Ketrin: Oya! Untuk Author sesama pencipta OC, gomen aku baru updet. Apalagi di fb jarang OL T_T. Dan untuk Author lainnya yang hanya berdasarkan chara Kurumada-sensei, kalau memang tidak terlalu mengerti alur cerita kami mungkin tak usah dibaca juga sih. Takutnya nyasar arah dan mungkin kami kebanyakan memakai OC. Dalam hal itu, saya mohon maaf. *bow*
Milo: Nah, sekian dan terima kasih! Maaf tak ada balas review karena...
Ketrin: Saya harus buru-buru nyelesain pr ^^;
Milo: dasar..
