Truth? This is it!
Sebelum melanjutkan, sedikit peringatan!
Berhubung karena saya sedikit malas (?) menontong ulang filmnya..
Kalau ada adegan yang salah disini..
Please dont kill me :v
.
.
Hari ini tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Matahari masih bangkit dan bersinar. Pasokan oksigen tetap ada. Disekeliling juga masih banyak manusia. Yang pasti, tak banyak berubah.
Kecuali untuk kenyataan bahwa hari ini ada pertandingan yang diadakan oleh Saori Kido, selaku CEO dari Graud Foundation.
Henna yang tadinya masih asik dirangkul oleh selimut hangatnya dan ditopang oleh 2 bantal empuknya kini sudah berbaring dengan posisi pantatnya nungging karena sukses seprainya ditarik kedua kakak kembarnya yang memang jahil.
"At least wake me up with the normal way." Gerutunya sambil mengusap kepalanya.
"Come on, sis! The Tournament will be a waste without you!" seru seorang gadis dengan rambut merah diikat dua.
"What the hell, Miki-nee? My turn will be held tomorrow so it'll be fine anyway."
Pemuda yang disamping Miki hanya tersenyum dan menunjukkan kertas dengan tanda tangan Saori dibawahnya. Judul yang terpampang adalah "Jadwal Galaxian Tournament"
Nama yang terlihat di baris ketiga rasanya ingin membuat gadis pirang itu menelan springbed king size miliknya itu.
"Now i really wan't to kill her." Geramnya sambil berjalan sedikit lunglai menuju kamar mandinya, membelakangi kedua kakak kembarnya yang tersenyum.
"Michi-chan benar-benar nggak berubah ya, Mikio." Gumam Miki.
"Yah, tergantung dia, Miki." Balas Mikio sebelum menarik Miki keluar dari kamar adiknya.
beberapa jam kemudian di arena pertandingan, sepertinya pertandingan sudah mulai duluan menampilkan 2 orang dengan cloth mereka asik menanamkan segala jurus yang ada pada lawan.
Yang belum dipanggil bertarung ada yang berdiri dibawah panggung dan ada juga yang berada di lorong-lorong masuk. Disanalah gadis pirang tadi berada, asik membolak balik buku kecilnya, dengan topeng yang sengaja dia buat menyamping agar matanya bisa jelas melihat halaman penuh tulisan itu.
Kebetulan yang berada didalam itu hanya Hyoga dan dia. Hyoga yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Henna, tanpa berkata apapun. Bukan karena Hyoga nggak peduli. Tapi hanya saja Hyoga lupa dia siapa dan mencoba mengingat keras siapa sebenarnya gadis ini.
"Kau ada perlu denganku?" tanya Henna tanpa perlu mengalihkan pandangannya dari bukunya.
Sontak Hyoga sedikit terkejut. "Kok bisa tahu aku menatapmu?" tanyanya, mencoba cool dan akrab.
"Siapapun juga akan terganggu kalau dilihati seperti itu."
Hening lagi.
Hyoga sedikit gatal karena masih tak bisa mengingat nama lawan jenisnya ini.
"Aku Hasegawa Michiyo, panggil Henna."
Ah, seakan Hyoga sedang disiram oleh air segar yang melegakan. Makasih banyak nak. Tapi sebagian dari dirinya malu bukan main, ternyata Henna sadar dia lupa namanya.
"Maaf aku lupa namamu." Gumamnya, agak bersalah.
"Suaramu tadi memperlakukanku seperti orang asing."
'Gila nusuknya.' Batin Hyoga.
"Kau urutan keberapa?" tanya sang Cygnus mencoba mengalihkan kecanggungan.
"Setelah ini aku naik."
"Melawan siapa?"
"Nachi."
Hyoga menaikkan alisnya. "Kau tau darimana?"
Henna merongoh kantungnya dan menyerahkan selembar kertas yang berisi jadwal tadi. Hyoga mendekat, menerimanya dan langsung membaca isinya. Namanya tertulis akan melawan Ichi.
"Alamak, aku melawan si rambut poco-poco." Celetuk Hyoga.
"Hah?" tanya Henna, sedikit nggak ngerti maksud kalimat si Cygnus.
"M-Maksudnya rambutnya si Ichi itu loh. Baru kali ini kutengok anak-anak rambutnya segituan." Celetuk Hyoga, menahan tawanya.
Baru saja dia selesai bicara, speaker mengumumkan pertandingan berikutnya. Henna vs Nachi. Langsung saja Henna meletakkan bukunya dan memasang topengnya.
Sebelum dia sepenuhnya keluar dari lorong, dia berbalik dan menatap Hyoga.
"Kalau kau sudah nanya 'Lawan siapa' tapi nanya lagi 'Darimana kau tahu', itu membuatmu seperti orang bodoh."
Lalu kali ini dia pergi langsung naik ke panggung.
'Anak itu tetap nusuk seperti dulu.' Batin Hyoga.
Bisikan-bisikan dari semua spektator memenuhi stadion. Kenapa ada gadis kecil ikut turnamen yang keras ini. Segila apa memangnya Kido Saori? Meskipun kita semua sudah tahu dia itu seperti apa.
"Lawan bocah kecil? Ini akan menyenangkan."
Lagi-lagi dari nada bicaranya, dia tidak dikenali. Henna menghela nafasnya dibalik topeng. 'Mungkin aku harus berterima kasih sama Seiya. Hanya dia yang ingat aku.'
"Ayo mulai." Sahut gadis itu kalem, menjulurkan tangannya maju dengan posisi tangan seakan sedang memegang sesuatu.
Seketika cosmo putih mulai berkumpul pelan dan membentuk staff yang seperti dipakai oleh para mage dan sebagainya. Staff itu punya kepala yang berbentuk seperti lingkaran-lingkaran menyatu dan gantungan yang menjuntai dari atas kepalanya.
"Heh, teknikmu lumayan." Nachi memasang posisi bersiap. "Mari kita adu itu."
Nachi mempercepat kedua kakinya, berlari menuju Henna dengan tinju yang sudah dia kepal kuat, terisi penuh dengan cosmonya. Jarak mereka makin dekat dan tinju Nachi akhirnya juga bisa melesat melalui perut Henna.
Para penonton sedikit gemetaran, Nachi dan Henna sama-sama tidak bergerak sama sekali. Tapi beberapa saat kemudian, Nachi membuat suara kesakitan dan tumbang begitu mudahnya, kali ini membuat seluruh stadion heboh.
Seruan heboh menggelegar itu disambut dengan suara spektator yang mengumumkan Henna sebagai pemenang babak ini. Henna berbalik dan membawa Nachi dengan mudahnya seakan beratnya tidak seberapa, turun dari panggung dan meletakkannya di depan para petarung lainnya.
"Tenang, dia tidak kubunuh kok." Ujarnya kalem, kembali berjalan pelan menuju lorong tadi.
Nachi hanya berbaring tak sadarkan diri, bersama Seiya, Shiryu, Shun, Geki dan Jabu.
"Aku tadi bahkan gak bisa melihat serangannya." Gumam Jabu.
"Kau saja, aku nggak." Balas Shiryu. "Tadi sekilas kulihat dia mengarahkan kepala tongkatnya ke dada Nachi."
Shiryu perlahan membuka pelindung dadanya dan menunjukkan lebam di dada kanan Nachi.
'Untunglah dia menyerang kanannya bukan bagian kiri.' Batin Shiryu. 'Kerusakannya hanya ada pada tubuhnya sedangkan clothnya utuh. Aneh.'
"Anak itu rasanya familiar juga." Gumam Shiryu, memegangi dagunya. Sukses Seiya menepuk dahinya.
"Loe itu sekarang pikun ya, kek?"
"Apaan maksudnya, Seiya?"
"Jangan bilang kau lupa satu-satunya cewek yang latihan sama kita dulu." Seiya mulai gemas.
Shiryu dan yang lainnya berpikir sebentar, lalu sontak Jabu dan Geki malah nunjuk Shun yang langsung terdiam di tempat.
"Kalau kalian didengar Ikki, kujamin kalian jadi sup." Seiya mengacak rambutnya frustasi. "Si Henna lho! Henna!"
Dibalas dengan tepukan jidat dari yang lainnya. Bahkan seorang Shun bisa lupa.
"Maklumlah Seiya, kami lebih fokus ke latihan kami daripada ngingat hal yang gak penting." Ujar Jabu.
"Jadi kesimpulannya aku tidak penting?"
Sontak Jabu langsung memeluk Geki didekatnya ketika Henna tahu-tahu sudah dibelakangnya berbisik seperti anak kuntilanak. Hanya saja baru kali ini ada kuntilanak pirang dan berdomisili di jepang dan pakai cloth mistis.
"Aku baru ingat kalau aku memukul titik vital miliknya." Sahut Henna, mendekat ke Nachi dan menekan satu bagian di lengannya. Akhirnya si Serigala bisa bangun juga.
"Kalau tadi itu tak kulakukan, dia bisa koma." Dengan tenang, Henna kembali ke lorong tadi.
"K-K-Kejamnya.. Malah seenak jidat ngincar titik vitalku." Nachi mengacak rambutnya, sedikit tak terima kenyataan.
Lalu pertandingan berjalan seperti biasa sampai selesai. Juga akan dilanjutkan keesokan harinya. Henna sempat ditawari Saori agar tinggal di mansionnya saja agar lebih mudah tapi kalau sudah punya rumah sendiri, buat apa tinggal disana.
Henna duduk diatas kotak clothnya, menunggu supirnya datang menjemput. Dalam hati dia sedikit merutuki dirinya karena tidak menelepon lebih cepat, akhirnya dia terpaksa menunggu sedikit lama. Tapi tiba-tiba dia merasakan tangan hangat menepuknya dari belakang. Itu tangan Seiya.
"Kau mau jadi pengamen ya?" celetuk Seiya.
"Nggak lucu."
"Hahaha, bercanda. Oke, ini kamu disini ngapain?"
"Nunggu supir."
"Kok gak pulang jalan aja? Aku kawani mau?"
"Gak per.."
Tiba-tiba ponsel Henna bergetar, begitu diangkat, suara baritone pria terdengar dari speaker ponsel itu. Mengatakan kalau dia agar sabar 2 jam lagi karena mobilnya mogok di tengah jalan. Sedikit menggeram ketika menutup ponselnya dan ujung-ujungnya gadis pirang itu setuju mau berjalan bareng Seiya.
"Mansion Hasegawa dimana coba?" tanya Seiya.
"Sekitar 20 menit naik mobil dari sini."
"Loh? Dekat aja kok mesti naik supir?"
"Aku gak mau ngotori kakiku."
Mata milik Seiya hanya bisa menatap Henna dengan makna gimana gitu. Kalau sudah dasarnya anak orang kaya, kenyataan yang ada dimaklumkan saja. Hanya saja kemanjaan ini sedikit berlebihan bagi seorang saint yang harusnya MANDIRI.
"Aku akan menemanimu ke rumahmu duluan."
Suara feminim kalem membuyarkan lamunan Seiya. Sebagian dari dirinya ingin mengorek telinganya, memastikan pasokan kotoran dalam alat tubuhnya itu tidak mengganggu aktivitas pendengarannya.
"Kostku jauh bukan main lho." Seiya memastikan.
"Biasa saja. Lagipula aku memang ingin berjalan malam sebentar."
Seiya makin heran saja dibuat gadis ini. Tadinya dia bilang tak ingin mengotori kaki meskipun jaraknya dekat saja. ini yang jelas lebih jauh, hanya dibilang ingin jalan malam.
"Terkadang aku gak ngerti kau." Desah Seiya, menggelengkan kepalanya. "Nanti pulang kau jangan sampai kesasar."
"Gak bakalan."
Akhirnya Seiya setuju juga ditemani Henna. Selama sejam lebih mereka berjalan agak pelan, bernostalgia dan saling bertukar pengalaman. Sepertinya keduanya punya pengalaman baik dan pahit. Tapi cukup pantas karena kini mereka bisa reuni lagi dengan lainnya.
"Nah, ini tempatku." Seiya menunjuk tempatnya. "Yakin enggak kesasar kan?"
"Iya, nggak bakal." Henna memutar bola matanya. "Sampai jumpa besok pagi."
Henna berjalan pergi dan Seiya masih berdiri sebentar disana menatap punggung Henna. Baru saja Seiya mau membalikkan badan, matanya masih sempat menyaksikan Henna seakan ditelan cahaya sekilas dan menghilang entah dimana.
Seiya pasang tampang cengo dan mengucek matanya berkali-kali. 'Aku lagi lapar ya?'
Besoknya pertandingan kembali dilanjutkan. Sebenarnya Henna tidak ambil giliran hari ini, hanya saja tujuan utamanya menjaga Athena. Dengan sedikit malas, dia akhirnya memilih tempat diantara spektator, paling jauh dari panggung karena dia tak terlalu minat menonton dua orang saling mencoba bunuh-bunuhan.
Satu persatu pertandingan naik dan kali ini terakhir untuk hari itu adalah Seiya vs Shiryu. Saat itulah perhatian gadis itu sedikit tertarik.
Henna's POV
Dragon vs Pegasus, huh? Ini menarik.
Aku mengarahkan pandanganku ke satu persatu pejuang disana yang ada. Cygnus Hyoga, Andromeda Shun, Dragon Shiryu, Pegasus Seiya.
'Mereka jelas-jelas berbeda dari yang lain. Aku bisa merasakannya.
Hyoga punya tekad yang tinggi, ditambah kekuatan esnya yang memang belum mencapai maksimum hanya saja bisa dibilang sudah bagus.
Ada Shun, dari dulu tetap saja anak lembut. Tapi rantai-rantainya yang harus aku awasi sedikit.
Shiryu, tenang dan bijak. Akan mempermudahkannya dalam pertarungan.
Seiya.. Dari segi kekuatan, dia ketinggalan. Fisik, tak beda jauh dari Shun. Tapi dia itu orangnya...'
Konsentrasiku buyar begitu merasakan ada hawa lain di gedung ini. Memang bukan hawa ancaman, hanya saja buat apa orang asing dengan hawa seperti itu kemari?
Sekilas kulihat ada gadis muda yang memang terlihat biasa saja. namun jelas sekali ada yang janggal dari anak itu.
End of POV
Semua orang disana terlalu asik menonton pertarungan Seiya dan Shiryu sehingga tidak menyadari kalau 2 gadis muda sudah saling kejar-kejaran. Keberuntungan berpihak pada Henna karena dia bisa sigap menangkap tangan gadis itu, menguncinya dari belakang dan langsung menahan seluruh tubuhya di lantai.
"Siapa kau?"
"Tak perlu tahu."
"Mau apa kau?"
"Itu urusanku."
"Apa maksudmu mengancam disini?"
"Siapa bilang begitu?"
Setidaknya jawaban/pertanyaan terakhir membuat Henna yakin kalau orang asing yang dia tangkap saat ini tidak ada maksud bahaya untuk saat ini. Dengan perlahan, Henna bangkit dari atas tubuh gadis itu dan anehnya membantunya berdiri.
Keduanya bertatapan sebentar, Henna menatap mata birunya sedikit tajam untuk beberapa saat. Lalu hanya menghela nafas.
'Jelas-jelas anak ini lain.' Batinnya.
"Jangan buat aku takut seperti itu. Kalau kau mau menonton pertandingannya, tonton dengan normal." Ujar Henna pelan lalu berjalan menjauh dengan santai.
"Tunggu!" seru gadis tadi. "Kau membaca pikiranku. Iya kan?"
"Memang tuh."
"Kau..takkan menghentikanku?"
"Aku tak tertarik saat ini, tapi akan kulihat dulu sejauh apa kemampuanmu. Bermain dengan yang lemah itu tak menyenangkan."
Gadis tadi mengernyitkan dahinya, entah kenapa sedikit kesal. "Kau terlalu arogan."
Henna berhenti sebentar lalu memutar kepalanya, menunjukkan senyuman tajam dan matanya menatap langsung ke mata gadis tadi.
"Memangnya kenapa?"
Lalu Henna kembali berjalan menjauh, meninggalkan gadis tadi. Dia ingin saja menyelidiki tentangnya lebih lanjut, hanya saja dia benar-benar tak bisa tertarik.
Akhirnya dia hanya menghabiskan waktunya menonton dari jauh, apalagi dia sedikit terkejut ketika Seiya berhasil menghantam tinjunya ke dada Shiryu. Keterkejutannya juga agak naik ketika Seiya berhasil menyelamatkan Shiryu.
Tanpa disadari bibirnya mengukirkan senyum rata.
'Seiya itu orangnya spesial.'
.
.
TBC
