KATAWARE DOKI

Cast:

MXM's Im Youngmin

MXM's Kim Donghyun

Warning[!]: OOC, typo[s]

I don't own the casts.


Senja dimana ada kabar, rindu, dan pertemuan. Dan tangan yang saling menggenggam. Senja disaat dua hal, kau dan aku, kembali terhubung.


.

Ada yang kau beri kabar hari ini.

.

Youngmin sedang menutup laci meja kerjanya saat ponselnya bergetar dan layarnya menyala terang. Ada panggilan masuk dengan nomor asing. Youngmin tidak biasa menerima panggilan telepon dari nomor tidak dikenal, setidaknya setelah ia mendapat pekerjaan. Sebelumnya, tentu saja dia jawab semua panggilan, asing atau tidak Youngmin tak peduli, berharap jika itu panggilan berisi tawaran kontrak kerja. Tapi setelah menjadi seorang pegawai sebuah perusahaan, ia mulai menghindari menjawab panggilan dengan nomor baru. Tapi jika pesan masuk masih ia akan jawab, dengan syarat si pengirim menuliskan namanya di akhir pesan.

Dan Youngmin memutuskan untuk menghindari panggilan itu karena tidak mau berlama-lama lagi di dalam ruang kerjanya dan ingin segera keluar dari kantor. Mengabaikan ponselnya yang masih bergetar, Youngmin memakai jas yang sedari pagi tersampir di kursinya, bersiap untuk pulang karena jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore. Setelah berhenti bergetar, Youngmin meraih ponselnya untuk dimasukkan ke saku celana. Tapi benda itu bergetar lagi di genggamannya, hanya sekali, menandakan ada pesan masuk. Youngmin segera menggeser lambang kunci virtual hingga menampakkan beberapa kalimat di dalam kotak pesannya.

'Teleponku tidak diangkat?

Kim Donghyun'

Senyumnya mengembang. Dengan segera ia mengangkat tangan kirinya, memegang ponsel dengan kedua tangannya agar bisa membalas pesan singkat itu dengan cepat.

'Bagaimana kalau kau menelepon lagi? Aku tidak biasa menerima panggilan dari orang asing.'

Tidak lebih dari sepuluh detik setelah pesannya terkirim, Youngmin kembali menerima panggilan dari nomor asing yang sama dengan sebelumnya. Sekarang ia tak butuh berpikir ulang. Digesernya tombol virtual berwarna hijau di layar sebelum mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Jadi aku orang asing, Youngmin-san?"

"Secara teori, iya. Kau tidak menelepon dengan nomor yang kau berikan padaku saat kita bertemu di Nagano."

"Ah, benar. Aku sedang berada di luar negeri, jadi aku pakai nomor lain."

"Wow, Kim Donghyun ternyata orang sibuk. Jalan-jalan? Bisnis?"

"Dua-duanya. Sekaligus. Jangan iri, ya?"

Youngmin tertawa di sela-sela pembicaraan mereka.

"Tidak. Aku tidak suka naik pesawat lama-lama. Duduk di kereta dari Tokyo ke Nagano saja membuat punggungku sakit."

Giliran Donghyun tertawa dari seberang sana. Akhirnya, Youngmin bisa mendengar suara itu lagi setelah beberapa waktu, sejak mereka bertemu untuk pertama—hingga ketiga kalinya. Senyumnya kembali mengembang mengingat hal itu.

"Kau sedang ada di mana, Donghyun?"

"Pernah dengar Santiago?"

"Pernah, dan jauh sekali. Jam berapa di sana?"

"Kau tahu, kita berbeda waktu dua belas jam. Di sini masih jam lima pagi. Youngmin-san pasti sudah mau pulang karena di Tokyo hari sudah senja."

"Benar. Dan aku tebak kau baru saja bangun tidur."

Donghyun tertawa lagi.

"Youngmin-san, mataharinya akan terbit sebentar lagi."

" Benarkah? Di sini matahari sedang siap-siap tenggelam. Aku jadi ingat waktu kita bertemu di Danau Suwa."

Lalu keduanya terdiam cukup lama karena Donghyun tidak bersuara setelahnya. Karena agak canggung, Youngmin memberanikan diri menyambung pembicaraan terlebih dahulu.

"Donghyun—"

"Youngmin-san, apa kabar?"

Terpotong dengan pertanyaan sederhana yang tiba-tiba membuat hati Youngmin menghangat.

"Baik. Dan kau, Donghyun?"

"Aku? Sedang tidak baik."

"Ada masalah?"

"Ada."

Youngmin penasaran hingga dahinya berkerut, sekalipun Donghyun tidak bisa melihat.

"Sekarang aku sedang ingin bertemu Youngmin-san."

.

Dan ada yang rindu padamu hari ini.

.

.

Lalu, ada yang kau temui hari ini.

.

Youngmin mematut diri di depan cermin, berkali-kali menyentuh rambutnya yang berwarna pirang agar tertata dengan baik. Setelahnya, fokus beralih pada kemeja bergaris yang menempel ditubuhnya. Youngmin memutar ke kanan lalu ke kiri, meyakinkan diri jika baju yang dikenakan adalah baju yang paling tepat. Heran? Ingin tahu alasan Youngmin mematut diri seolah-olah ia ingin bertemu dengan seseorang yang sepertinya—spesial? Nanti juga akan terjawab.

Melihat jam dinding, Youngmin sedikit panic dan berlari ke luar kamar setelah meraih dompet, ponsel serta kunci mobilnya. Usai mengunci pintu rumahnya dan memasuki mobil, ia nyalakan mesin dan menginjak pedal gas menuju stasiun Shinjuku. Sepanjang jalan senyuman tidak hilang dari wajah Youngmin yang sedikit memerah terkena sinar jingga dari matahari yang akan kembali menuju peraduan.

Di tengah perjalanan, ponsel yang ia letakkan di jok samping tempatnya duduk berdering nyaring menandakan seseorang dari seberang sana ingin berbicara padanya. Tanpa basa-basi Youngmin meraih benda itu dan menerima panggilan dengan satu tangan dan mendekatkannya ke telinga.

"Sudah hampir sampai?"

"Oke. Aku akan ada di sana sebelum kau turun dari kereta."

"Tentu saja. Sampai jumpa, Donghyun."

.

.

.

"Jadi berapa usiamu?"

Pertanyaan Youngmin membuat Donghyun menoleh ke arahnya. Pemuda yang sedang berjalan di sampingnya itu tidak segera menjawab. Keduanya berjalan beriringan. Petang itu, jalanan Shinjuku benar-benar ramai. Sesekali Youngmin harus memperlambat langkahnya agar Donghyun tidak tertinggal di belakangnya.

"Dua puluh lima tahun. Youngmin-san?"

Youngmin mendengar suara Donghyun meninggi. Sepertinya pemuda itu takut jika jawabannya tidak terdengar oleh Youngmin jika ia hanya menggunakan nada bicara yang biasa. Youngmin bisa memaklumi. Mereka sedang berada di keramaian.

"Dua puluh delapan? Kalau begitu, bagaimana jika mulai dari sekarang kau memanggilku 'Youngmin hyung'? Sejak tinggal di Jepang, tidak ada yang memanggilku dengan sebutan 'hyung'."

Donghyun mengangguk paham.

"Karena aku orang Korea juga, ya?"

Kali ini Youngmin yang menjawab dengan anggukan dua kali sambil menatap Donghyun yang sedikit lebih pendek darinya.

"Baiklah. Youngmin hyung?"

Youngmin tertawa saat Donghyun menyebut namanya dengan ejaan yang pelan. Sepertinya ia harus bersyukur banyak-banyak ketika orang tuanya memberi nama 'Youngmin' untuknya. Entahlah. Hanya saja, saat Donghyun memanggilnya terdengar berbeda. Seperti—ingin terus disebut. Youngmin hyung? Bagus, menyenangkan. Bagus sekali pelafalannya. Bagus, ya, bagus. Youngmin mengulas senyum lebar-lebar.

"Akhirnya. Aku benar-benar kembali menjadi orang Korea sekarang."

Donghyun ikut tertawa mendengarnya. Mereka berdua melanjutkan acara jalan-jalan sore mereka di Shinjuku. Beberapa kali Donghyun mengajak berhenti di toko-toko pakaian untuk melihat-lihat. Youngmin dengan senang hati menemaninya, bahkan ia sempat memilihkan beberapa pakaian yang menurutnya bagus di tubuh Donghyun. Dan tanpa berpikir panjang Donghyun mengiyakan. Youngmin beberapa kali mendengar pujian dari Donghyun jika selera berpakaian Youngmin adalah yang terbaik dari semua orang yang pernah dikenalnya, sekalipun dirinya sendiri.

"Aku ingin ke kedai makanan manis. Hyung tahu yang mana yang paling enak, bukan?"

Youngmin memutar bola matanya.

"Jangan remehkan penduduk Tokyo, Donghyun."

Donghyun tersenyum lebar, menunjukkan gigi putihnya yang tertata cukup rapi. Menarik, pikir Youngmin. Tapi kemudian, ia melihat Donghyun terhuyung ke depan, hampir terjatuh karena seseorang menyenggolnya dari belakang meskipun sekarang ia sudah berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali. Youngmin yang melihatnya cukup panik. Hingga akhirnya, tangan kirinya terulur ke arah Donghyun. Pemuda itu masih belum paham situasinya, lalu melempar pandangan penuh tanda tanya pada Youngmin.

"Mau kutunjukkan jalan ke kedai makanan manis paling enak di Tokyo, tidak?"

Donghyun terlihat berpikir mengenai tawaran Youngmin. Dengan sabar si pemuda pirang menunggu jawaban Donghyun. Tapi karena sepertinya akan lama, Youngmin memilih mengumbar penjelasan.

"Kita harus bergegas supaya dapat tempat duduk dan makanan manis yang kau inginkan. Percayalah Donghyun, tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Dan lagi, aku tidak mau kau tertinggal di belakangku lalu—"

Tangan Youngmin digenggam erat.

"Meskipun aku bukan anak kecil, tapi aku terima tawaran hyung. Tapi ini karena Shinjuku benar-benar ramai sekali dan aku tidak mau hilang di tengah lautan manusia dan hyung tiba-tiba tidak ada di sampingku lagi. Bukan yang lain."

Youngmin mendengus gemas. Tapi dibalasnya genggaman itu tak kalah erat. Rasanya pas. Hangat. Dan—tidak ingin lepas.

.

Dan ada yang menggenggam tanganmu hari ini.

.


W/N: Sparkle-RADWIMPS adalah moodbooster terbaik. Sasuga om-om! Dan terima kasih untuk yang sudah review sebelumnya. Jadi, mari kita lanjutkan!