KATAWARE DOKI
Cast:
MXM's Im Youngmin
MXM's Kim Donghyun
Warning[!]: OOC, typo[s]
I don't own the casts.
Senja dimana ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Dan pertanyaan yang harus dijawab. Senja disaat dua hal, kau dan aku, mungkin masih terhubung.
Ada yang merindukanmu hingga membuatmu bersemu hari ini.
.
Sebelumnya, Donghyun tidak pernah segembira ini melihat notifikasi di layar ponselnya. Tapi sekarang tidak lagi. Sebenarnya tergantung pada nama yang tertera pada balon pemberitahuan saat layar ponselnya menyala. Jika itu Taehyun—saudara kembarnya, atau orang tuanya, atau Donghan—sahabat baiknya, yang mengiriminya pesan atau meneleponnya, Donghyun pasti meraih ponselnya cepat-cepat.
Dan jika boleh, ditambah satu orang lagi. Im Youngmin. Pemuda yang baru dikenalnya. Donghyun menyebutnya teman yang akrab—sangat akrab, baru saja mengiriminya pesan setelah lima menit yang lalu ia memutus panggilan mereka secara tiba-tiba.
'Minggu depan kau masih mau menemuiku, bukan? Aku hanya ingin memastikan saja karena kau tiba-tiba memutus sambungan teleponnya.'
Donghyun mengusap wajahnya yang masih bersemu merah dengan kasar.
"Pertanyaan retoris."
Dibalasnya pesan itu dengan cepat setelah memikirkan alasan yang tepat-sepertinya.
'Tanganku tidak sengaja menekan tombol berwarna merah, hyung.
Dan minggu depan aku akan mulai cuti sebulan penuh seperti permintaanmu.'
.
Donghyun membuka pintu apartemennya setelah tamunya menekan bel berulang-ulang—seperti tidak sabar. Donghyun tahu benar siapa orang itu. Ekspresi muka yang terlihat kesal segera ia pasang ketika matanya menangkap sosok tinggi di hadapannya tersenyum lebar sambil mengulurkan dua kantong plastik yang penuh barang.
"Tidak ada ucapan terima kasih atau setidaknya selamat datang untukku?"
Donghyun meraih jinjingan itu dengan kasar lalu kembali masuk ke dalam ruangan tanpa menjawab pertanyaan dari tamunya. Pemuda itu mengekor Donghyun dengan antusias dan sesekali meraih pundak Donghyun agar bisa dirangkul olehnya. Dan beberapa kali juga Donghyun menghindar meskipun pada akhirnya pemuda itu yang menang dan berhasil mengunci tubuh Donghyun.
"Hei, Donghyunie? Masih marah?"
"Tidak."
"Padahal aku sudah rela menghampiri konbini untuk membelikanmu bento dan beberapa kaleng bir."
Donghyun memutar bola matanya bosan menanggapi pemuda yang kini sudah melepaskan dirinya dan menaruh mantel yang sedikit basah akibat guguran salju pada sandaran sofa. Donghyun berjalan menuju dapur dan membongkar belanjaan yang diterimanya. Dua bento dan lima kaleng bir, Donghyun tersenyum melihat benda-benda tersebut tergeletak di meja makannya—keduanya memang favorit Donghyun.
"Donghan, kau membeli dua bento dan lima kaleng bir?"
Pemuda yang tengah membuka tirai apartemennya dan mengijinkan sinar jingga memasuki ruangan itu menoleh saat dipanggil Donghyun. Senyum mengembang dari bibirnya. Ditambah pemandangan senja, Donghyun sangat menyukainya. Senyum yang selalu membuat Donghyun senang saat melihatnya.
"Kita makan malam di balkonmu, oke? Siapkan selimut tebal agar kita tidak kedinginan. "
Setidaknya kesenangan itu ada, sampai Donghan menjalani hubungan spesial dengan seseorang. Dan itu bukan Donghyun. Karena Donghyun sudah ditolak. Karena Donghyun adalah teman baiknya.
.
Kau bilang tidak percaya pada sihir, saat kau sudah mulai tersihir.
.
"Jadi, bagaimana Tokyo?"
Donghyun menenggak isi kaleng yang tinggal setengah hingga tandas. Dua kotak bento yang sudah kosong menemani 3 kaleng bir yang juga habis isinya.
"Menyenangkan."
Donghyun tersenyum mengingat perjalanannya ke Tokyo. Mulai dari stasiun hingga ramainya jalanan Shinjuku masih tergambar jelas dalam ingatannya. Juga genggaman tangan yang menyertai perjalanannya. Dan Donghyun juga tak mungkin lupa dengan tubuh hangat yang direngkuhnya saat ia akan pulang.
"Aku tebak kau sedang melamunkan calon penggantiku."
Donghyun mendongak menatap Donghan yang duduk di sampingnya. Wajah pemuda itu menyeringai jahil. Donghyun dengan sigap meraih lengan Donghan untuk dipukulnya. Bukan pukulan keras, hanya candaan yang tetap saja memuat Donghan meringis kesakitan.
"Jangan sombong, Kim Donghan."
"Hanya mengungkapkan fakta, Donghyun. Sejak pulang dari Nagano kau selau bercerita tentangnya, dan bertambah parah saat kau pulang dari Tokyo untuk menemuinya."
Donghyun menghela nafas berat. Donghan yang melihat eskpresi wajah sedih Donghyun merasa bersalah. Tangan Donghyun diraih lalu digenggamnya—sangat erat, berharap panas tubuhnya bisa dibagi untuk Donghyun yang sedikit menggigil. Sebelumnya Donghan sempat menawarkan untuk masuk kembali ke ruangan setelah mereka selesai makan tapi Donghyun menolak dengan alasan ingin mendinginkan kepala karena Donghan datang secara tiba-tiba setelah sekian lama.
"Kau sedang rindu padanya, Donghyun?"
Tidak ada jawaban.
"Hei, Donghyun. Kau pernah bilang tidak percaya pada sihir, bukan?"
Donghyun mengangguk.
"Tapi aku baca Harry Potter."
Donghan menyentil dahi Donghyun, membuat pemuda itu mengaduh kecil sambil mengusap bekas sentilan Donghan.
"Itu fiksi, bodoh."
"Langsung ke intinya, Donghan."
Tawa pemuda itu menyapa telinga Donghyun. Mereka masih sama seperti sebelumnya—seolah-olah tidak pernah ada yang mengungkapkan perasaan di antara keduanya. Mereka masih sama, dua teman baik yang berbagi canda dan kesedihan seolah-olah tidak ada perasaan yang berubah—menjadi cinta atau sejenisnya.
"Aku bisa melihat jika sekarang pemuda Tokyo yang selalu kau ceritakan padaku itu bisa menggantikan posisiku."
"Kim Donghan, kau masih jadi temanku, oke?"
"Bukan yang itu, bodoh."
Donghyun menarik tangannya dengan cepat hingga benar-benar terlepas dari genggaman Donghan dan segera memukul lengan pemuda itu—kali ini cukup keras untuk membuat Donghan berteriak keras menahan sakit yang menjalar di tangan kirinya.
"Sekali lagi menyebutku bodoh, kubunuh kau."
Donghyun kembali pada posisinya. Bersandar pada Donghan yang masih sibuk mengusap lengannya berulang-ulang, berharap sakitnya bisa cepat hilang. Donghyun mengulas senyum, meskipun Donghan tidak bisa melihatnya.
"Tidak ada pengganti ataupun yang diganti. Kau tetap jadi temanku sekalipun aku pernah menyukaimu. Kau akan tetap jadi sahabatku sekalipun aku menjalin hubungan dengan orang lain. Walaupun aku sempat sakit hati saat mengetahui kau sudah menjadi kekasih Kenta-san sehari sebelum aku menyatakan cinta padamu."
Donghyun merasakan tangan Donghan melingkar di pundaknya dan menarik pemuda itu mendekat.
"Itu dia yang kumaksud, Kim Donghyun. Sihir—ah siapa nama pemuda itu? Youngmin? Yang kau bilang baik hati dan menyenangkan itu—sihirnya sedang bekerja padamu. Kau mungkin pernah sakit hati. Oke, karenaku. Tapi sihir Im Youngmin sedang bekerja menyembuhkan sakit hatimu. Hebat, bukan? Sampai-sampai dia bisa membuatmu tersenyum seperti orang gila hanya karena satu pesan yang dikirimnya ke ponselmu."
"Dia bukan penyihir, Donghan! Dan aku sudah tidak sakit hati. Dan aku tidak tersenyum pada ponselku."
"Terserah apa katamu asal jangan memukulku lagi. Jatuh cinta memang menghasilkan hormon penolakan yang luar biasa."
Donghyun lagi-lagi menarik diri, berusaha menjauh dari Donghan.
"Donghan! Aku akan mengutukmu jadi pohon mapel!"
.
Saat kau jatuh cinta, siapkan tempat di hati untuk terluka atau bahagia.
.
Donghyun berkali-kali melihat arlojinya. Gelisah sedang melanda pemuda itu.
"Donghan menyetirlah lebih cepat!"
Donghan hanya tersenyum jahil, tidak berniat menanggapi Donghyun yang sejak tadi memberi komentar untuk dirinya tentang mengemudi dan kecepatan dan segala hal agar pemuda itu tidak terlambat sampai di stasiun. Donghan masih memutar kemudi dengan santai.
"Kita harus berkendara dengan aman, Donghyun-kun. Lagipula sebentar lagi kita sudah sampai. Santai saja. Pangeranmu itu akan tetap menunggumu sekalipun kau telat menjemputnya."
Donghyun melempar tatapan tajam pada Donghan yang dibalas dengan tawa keras.
"Seharusnya aku tidak mengiyakan tawaranmu dan menyetir mobilku sendiri."
"Hei. Kau tahu aku khawatir padamu. Lihat, aku yang menyetir saja kau sudah panik dan terburu-buru. Bagaimana bisa aku membiarkanmu menyetir sendiri? Lagipula kita sudah sampai."
"Cepat arahkan mobilmu ke pinggir dan sana temui Kenta-san. Aku kasihan padanya karena punya kekasih yang sering terlambat menjemput sepertimu, Donghan."
Donghyun segera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu di sampingnya. Tergesa-gesa saat keluar dari mobil, Donghyun sempat terhuyung. Kakinya melangkah cepat dengan kepala yang menoleh ke segala penjuru. Matanya mencari-cari seseorang yang berjanji padanya untuk bertemu hari ini. Dan bibirnya membentuk senyuman ketika berhasil menangkap sosok pemuda yang lebih tinggi darinya melambaikan tangan padanya—tanda ia yang menemukan Donghyun terlebih dahulu.
Donghyun berlari mendekat
Donghyun ingin memeluknya. Tapi ia tahan.
"Youngmin-san!"
Pemuda di hadapan Donghyun mengerutkan dahi mendengar panggilan Donghyun untuknya.
"Youngmin-san?"
Donghyun segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ah, Youngmin-hyung!"
Akhirnya senyum lebar itu bisa dilihatnya lagi.
"Apa kabar, Donghyun?"
Belum sempat menjawab sapaan Youngmin, tubuhnya direngkuh dari belakang. Tangan yang familiar lagi-lagi merangkul pundaknya dengan santai. Jika bukan sekarang, Donghyun tidak akan protes. Tapi saat ini ada Youngmin di depannya.
"Donghyun baik. Selalu baik."
Itu bukan jawaban dari mulut Donghyun yang membuat Youngmin terkejut dan heran, setengah bertannya meminta penjelasan melalui ekspresinya. Donghyun melepas rangkulan Donghan dari pundaknya dan memukul lengan pemuda itu sangat keras. Dibentaknya Donghan cukup keras.
"Donghan!"
"Donghan?"
Youngmin ikut menyebut nama Donghan yang disambut dengan uluran tangan dari pemuda tinggi itu. Youngmin membalasnya, menjabat tangan Donghan sambil melempar senyum bersahabat. Donghyun yang melihatnya melempar tatapan tajam—dengan bola mata yang bergerak-gerak pada Donghan, mengisyaratkan agar pemuda itu segera pergi dari sana. Sayangnya, senyum jahil temannya itu membuat Donghyun langsung berprasangka buruk. Tentu saja, Donghan bukan pemuda yang bisa hidup tanpa candaan dan Donghyun paham benar jika akan ada kejutan yang membuatnya—entah marah atau kesal nantinya.
"Senang bertemu denganmu. Aku—"
"Kau Im Youngmin. Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Donghyun."
Keduanya—Youngmin dan Donghan saling melempar senyum. Setelah melihat Donghan dan Youngmin melepas jabatan tangan, Donghyun lega. Sayangnya tidak berlangsung lama karena kejutan datang saat Donghan hendak pamit meninggalkan keduanya.
"Senang beretemu denganmu, Youngmin-san. Dan, Donghyunie, aku pergi dulu. Sampai jumpa, sayang."
Pipi Donghyun dikecup singkat oleh Donghan yang sudah berlari cepat menuju mobilnya. Baiklah, senja itu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan saat melirik wajah Youngmin yang terlihat sangat—luar biasa terkejut dengan adegan yang baru saja dilakukan Donghan pada Donghyun.
W/N: Tbh, found hard time writing this chapter. Ada tambahan Donghan rupanya. Entah membantu atau tidak yang pasti terima kasih untuk review yang masih berdatangan.
