KATAWARE DOKI

Cast:

MXM's Im Youngmin

MXM's Kim Donghyun

Warning[!]: OOC, typo[s]

I don't own the casts.


Kali ini malam dimana ada rasa canggung, penjelasan, dan rasa tidak suka. Dan ungkapan yang mengejutkan. Malam ini, kau dan aku, tetap terhubung.


.

Canggung dan kikuk. Dua hal yang menggambarkan suasana Donghyun dan Youngmin yang sedang duduk berdampingan di kursi penumpang. Masih memikirkan kejadian sore tadi di stasiun, keduanya memilih diam dengan Youngmin yang memandang jalanan di luar jendela, dan Donghyun yang berkutat dengan pikirannya. Mereka sedang menaiki taksi menuju apartemen Donghyun untuk meletakkan barang bawaan Youngmin–yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Youngmin sempat berpendapat jika mereka langsung berkeliling saja, tapi Donghyun tetap membujuk agar Youngmin mau singgah ke tempatnya dulu untuk beristirahat malam ini. Donghyun ingat jika Youngmin sering mengeluh mengenai perjalanan jauh yang sering membuat otot leher pemuda itu tegang dan tidak nyaman juga melelahkan. Pada akhirnya Youngmin menyerah pada Donghyun dan menuruti sarannya untuk melanjutkan kunjungan wisata Youngmin di Mie keesokan harinya.

"Donghyun."

Mata Donghyun mengerjap ketika namanya dipanggil dan langsung menoleh ke arah samping. Youngmin sedang menatapnya penuh tanda tanya. Dahi pemuda itu berkerut.

"Ya, Youngmin-san?"

"Youngmin-san lagi?"

Donghyun menepuk dahinya keras.

"Maaf, hyung."

"Kalau begitu, setiap satu 'Youngmin-san' yang kau ucapkan selanjutnya, akan bernilai satu hukuman."

Youngmin menunjukkan deretan gigi putihnya saat tersenyum cukup lebar. Donghyun menghela nafas, pasrah saja. Salahnya juga karena hari ini, bahkan belum genap dua jam mereka bertemu lagi, ia lupa memanggil Youngmin dengan tambahan 'hyung' sebanyak dua kali.

"Dan satu lagi, Donghyun."

Donghyun mendongak menatap Youngmin yang terlihat ragu saat ingin melanjutkan kalimatnya.

"Ya, hyung?"

"Apa seharusnya Donghan yang berada di sini sekarang?"

"Maksud hyung?"

"Karena kulihat sejak tadi kau terus memegangi pipi kirimu."

Donghyun segera menarik tangan kiri dari pipinya. Donghyun benar-benar tidak sadar. Sungguh, Donghyun ingin menampar pipinya sendiri dan bekas kecupan tidak sopan dari Donghan. Sungguh, ia ingin berlari menghampiri Donghan dan memukul pemuda itu dengan gitar kesayangannya. Rusak tidak apa-apa, asal bisa menebus rasa malunya pada Youngmin. Sungguh, Donghyun tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Youngmin sekarang.

.

Bagaimana bentuk dan rupa cemburu? Apakah seperti ini?

.

"Di ruangan ini tidak ada penghangat ruangan. Hyung bisa kedinginan. Tidur di dalam denganku, oke?"

Donghyun melihat jelas ekspresi terkejut yang muncul di wajah Youngmin perlahan lahan berubah menjadi seringai jahil. Entah mengapa Donghyun sadar jika Youngmin mulai berbagi banyak ekspresi wajah saat bersamanya. Dulu saat mereka pertama kali bertemu, Youngmin hanya memperlihatkan wajah datar dan sesekali tersenyum—hanya sebentar.

"Tidak boleh, Donghyun. Kau tidak sedang memancingku agar berubah jadi pemuda yang senang merebut kekasih orang lain, bukan?"

"Apanya yang merebut kekasih orang?"

Dengusan Youngmin bisa didengarnya. Entah karena lelah atau apa, tapi Donghyun tidak menyukainya. Benar saja, wajah Youngmin sudah datar kembali saat mereka memutar tubuh masing-masing untuk saling berhadapan. Salah satu lengannya menumpu pada sandaran sofa yang mereka duduki.

"Donghan?"

"Astaga!"

Donghyun mengusap wajahnya gusar. Sepertinya ia memang harus menjelaskannya sekarang. Semua, sampai ke intinya, mungkin sampai ke detail yang paling kecil mengenai Kim Donghan. Tapi mungkin juga tidak, takut akan ada kesalahpahaman yang berkepanjangan dengan pemuda yang ada di hadapannya sekarang. Donghyun berjanji pada dirinya sendiri, jika ia bertemu Donghan nanti, wajah pemuda itu akan digambarinya dengan pemerah bibir sampai berubah jadi mengerikan dan membuat Kenta-san menangis ketakutan saat melihatnya.

Peduli setan jika mereka bertengkar karena itu. Ini pernyataan perang bagi Donghyun.

"Donghan itu temanku, hyung."

"Lalu?

"Lalu hyung ingin bertanya apalagi?"

Youngmin menunjuk pipi kirinya sendiri. Petunjuk yang sudah jelas bagi Donghyun mengenai penjelasan yang harus ia berikan selanjutnya. Donghyun menyempatkan diri menggaruk dagunya sebentar—berpikir mengenai kata-kata yang tepat.

"Itu hanya—"

"Hanya?"

"Donghan—ia makhluk bumi yang ber-genre usil, hyung. Dia juga suka mencium pipi rekan kerjanya. Sungguh."

"Genre? Rekan kerja?"

Youngmin tertawa menanggapinya.

"Hyung!"

"Oke, baiklah."

Youngmin yang berusaha menutupi mulutnya agar berhenti tertawa hanya membuat Donghyun semakin kesal—pada Donghan. Tentu saja. Semua ini karena ulahnya.

"Donghan sudah punya kekasih, namanya Kenta-san. Kalau tidak percaya besok kita temui Kenta-san dan meminta penjelasan—"

Kalimat Donghyun berhenti saat Youngmin menyentuh pundaknya, memberikan sinyal jika ia sudah cukup paham dengan situasinya dengan sebuah anggukan dalam. Youngmin menarik tangannya dan menekuknya, telapak tangan itu menyentuh kepala Youngmin dan menjadikkannya tumpuan untuk bersandar pada sofa. Ah benar, Donghyun baru sadar jika warna rambut Youngmin sudah berubah menjadi hitam sekarang. Terlihat segar dan lebih muda. Pandangannya juga menangkap tiga buah logam berwarna perak menancap di daun telinga Youngmin, dua di kiri dan satu ada di sebelah kanan. Seingat Donghyun, pertama dan terakhir kalinya ia bertemu Youngmin, pemuda Tokyo itu tidak memakai piercing—dan jangan lupa rambutnya masih berwarna merah saat bertemu di Nagano dan berubah jadi pirang saat di Tokyo.

Donghyun tidak sadar jika tangannya terangkat menuju kepala Youngmin—bagian samping kepala tepatnya. Rasanya Donghyun ingin mengusap telinga Youngmin, sambil menanyakan jika telinganya baik-baik saja saat tiga buah logam menggantung di sana. Sebagai tambahannya, Donghyun juga ingin menyentuh rambut hitam Youngmin yang terlihat berkilau walaupun dengan pencahayaan lampu ruangan yang tidak bisa dibilang terang dan berkata jika ia menyukai penampilan Youngmin sekarang.

Sayangnya, niatnya perlu diurungkan karena Youngmin tiba-tiba menguap.

"Jadi hyung tidur di kamar bersamaku, ya? Akan kusiapkan futon. Hyung tunggu di sini, oke?"

Donghyun berdiri, berniat ingin menata berbagai hal di dalam kamarnya agar bisa digunakan, untuknya dan Youngmin. Sayangnya, langkah Donghyun terhenti ketika tangan Youngmin menarik pergelangan tangannya, membuat pemuda itu menoleh pada Youngmin yang masih nyaman duduk di sofa.

"Kau tahu mengapa aku meminta penjelasan tentang Donghan?"

"Kurasa karena hyung memang butuh penjelasan dan aku juga merasa harus menjelaskan, begitu?."

Youngmin yang menggeleng pelan membuat kedua alis Donghyun naik—heran dan bertanya-tanya alasan sebenarnya.

"Aku—hanya merasa tidak nyaman saat pipimu dicium orang lain di depan mataku."

Satu kalimat yang tidak terlalu panjang tapi membuat Donghyun berpikir keras—dan sedikit berharap. Mungkin efek kelelahan Youngmin atau memang sebuah kejujuran? Donghyun tidak tahu. Baiklah, ia tidak akan tidur nyenyak malam ini. Oke, Donghyun tidak yakin jika besok ia bisa bangun pagi untuk menemani Youngmin jalan-jalan. Dan well, Donghyun juga tidak menyangka jika percakapan diantara dirinya dan Youngmin malam ini akan membuat darahnya berkumpul di kepala dan hampir mendidih di sana. Karena Donghyun mulai merasa jika wajah memanas dan telinganya sudah mulai memerah. Apa kabar tidurnya nanti malam—saat Youngmin ada di dekatnya?

.

Karena cemburu itu memiliki, jadi apa aku sudah jadi milikmu? Atau aku memilikimu?

.


W/N: Rasanya ingin mengganti judul karena chapter ini pakai waktu 'malam'. Rasanya ingin membuat YoungDong ngobrol dengan Kansai-ben karena hari ini mereka ke Jepang dan kayaknya ke Osaka (lagi?). Rasanya pace fiksi ini juga makin ga beraturan. Dan rasanya ingin menabrakkan diri ke tembok karena YoungDong kagak jadi2 jalan (padahal berharap chapter kemaren dan ini mereka sudah mesra2an pake pedang di Iga atau mandangin sunset di Teluk Ago). Terima kasih, reviewer!