KATAWARE DOKI
Cast
MXM's Im Youngmin
MXM's Kim Donghyun
WarningOOC, typo[s]
I don't own the casts.
Hari dimana ada rasa malu, bahagia, dan tawa. Dan kejutan kecil yang selalu ada. Hari ini, kau dan aku, terus terhubung.
Donghyun bangun dengan dada yang terasa sesak. Donghyun juga tidak ingat jika kasurnya sekeras itu. Saat itu juga ia mengerang pelan sekalipun matanya masih terpejam. Tubuhnya bergerak sebentar, menyamankan posisi untuk kembali dibelai rasa kantuk yang luar biasa.
"Donghyun?"
Ah, itu suara yang bagus untuk dijadikan alarm. Tapi, tidak juga. Jika suara itu bagus di telinganya, bukannya terbangun, Donghyun lebih memilih untuk kembali tidur. Sepertinya suara itu lebih cocok untuk jadi lullaby. Benar, bukan?
"Donghyun-kun?"
"Hm? Ini hari libur. Jadi ayo tidur lagi."
Setelahnya, Donghyun samar-samar mendengar suara tawa pelan yang menyenangkan. Rasanya benar-benar ingin terus mendengarnya sampai ia kembali terlelap di atas dada Youngmin. Detak jantung dan deru nafas Youngmin membuatnya tenang. Berlama-lama di sana, Donghyun tidak keberatan. Youngmin hangat dan menyenangkan.
Youngmin.
Tunggu.
Donghyun membuka matanya cepat-cepat lalu mendongak. Matanya menatap Youngmin yang sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat Donghyun yang masih bergelung nyaman di atas tubuhnya, dengan tangan yang berusaha merengkuh Youngmin dalam sebuah pelukan meskipun tidak terlalu terlihat seperti itu. Donghyun meringis, malu sekali rasanya. Bagaimana bisa ia berada di atas tubuh Youngmin? Menindih pria itu dengan posisi yang—entahlah, Donghyun tidak mau mengatakannya.
"Donghyun—"
"Youngmin-san, gomennasai!"
Bahasa asing yang hanya Donghyun ucapkan saat merasa malu akhirnya keluar dengan kedua mata yang terpejam rapat-rapat dan tangan yang meremas baju Youngmin dan kepala yang semakin menempel di dada pemuda itu.
Pagi yang mengejutkan untuk keduanya.
I don't even know if you have gravitation but I fall onto you.
Donghyun hanya mengaduk-aduk sarapannya, tidak berniat memasukkan bubur instan itu ke dalam mulutnya. Selera makannya masih belum muncul. Donghyun bahkan menggigit bibir bawahnya karena sekarang Youngmin sedang menatapnya dengan dua tangan menopang dagu dan senyuman cerah yang terbentuk dari lengkungan bibirnya. Sepertinya, Youngmin sedang berusaha membuatnya malu.
"Tidak dimakan, Donghyun? Hari ini kita akan jalan-jalan dan kau butuh energi."
Sejak kapan menjawab pertanyaan Youngmin jadi sesulit ini?
"Youngmin-hyung."
"Hm?"
"Aku tidak bisa makan jika ditatap seperti itu."
Donghyun bisa mendengar tawa Youngmin memenuhi ruang makan. Bagus. Rasanya Youngmin benar-benar membuatnya malu dan sulit bernafas. Bayangan dirinya dan Youngmin saat mereka bangun pagi merusak pikiran Donghyun. Seharusnya ia tidak boleh seperti itu pada tamu. Seharusnya semalam Donghyun menolak keputusan Youngmin yang ingin tidur di bawah. Seharusnya ia yang berada di bawah dan—
"Sama saja. Kalaupun aku yang tidur di ranjang, tidak menutup kemungkinan aku juga akan jatuh di atasmu, Donghyun. Jadi berhentilah memikirkannya dan cepat habiskan sarapanmu lalu kita berangkat. Oke?"
Sejak kapan Youngmin jadi cenayang dan bisa membaca pikiran Donghyun?
"Ah, baiklah hyung."
Sometimes, I need your hand to hold and you to understand.
"Aku baru sadar jika daerahmu bernama Nabari. Mengingatkanku pada sebuah manga yang aku baca saat masih kecil."
Donghyun menoleh ke arah Youngmin yang berjalan di sampingnya sambil menekan tombol shutter virtual di ponselnya. Youngmin mengambil gambar pohon-pohon mapel di sekitar aliran sungai. Keduanya sepakat memilih berjalan-jalan di sekitar daerah tempat tinggal Donghyun, Nabari-shi. Dan tujuan pertamanya adalah air terjun Akame 48. Alasan Youngmin memilihnya karena mengingatkan dirinya pada sebuah girlband terkenal—dan Donghyun tentu saja tertawa mendengar alasan Youngmin.
"Manga?"
Youngmin mengangguk kemudian berlari kecil mendekati aliran air terjun. Donghyun yang berada di belakangpun ikut berlari menyusulnya.
"Tidak jauh-jauh dari ninja. Judulnya Nabari no Ou. Pangeran Negeri Nabari. Aku lupa keseluruhan ceritanya hanya saja aku ingat jika si pangeran ini bisa mengabulkan permintaan apapun."
"Keren."
Youngmin memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengulurkan tangannya pada Donghyun sambil melempar senyum yang lagi-lagi membuat kedua alis Donghyun terangkat.
"Mau kujadikan Pangeran Negeri Nabari, tidak?"
Yang barusan benar-benar membuat Donghyun tidak mengerti.
"Karena kau akan mengabulkan permintaanku, jadi cepat berikan tanganmu dan kita akan jadi ninja, Donghyun Oujisama."
Tanpa berpikir panjang—karena memang tidak sanggup, Donghyun pasrah dan menyambut tangan Youngmin dan langsung menggenggamnya erat dan keduanya mulai berjalan ke suatu tempat yang Donghyun masih belum tahu. Menuruti kenginan Youngmin sebenarnya tidak mudah karena banyak hal-hal yang belum Donghyun ketahui dari pemuda Tokyo itu. Youngmin lebih tahu banyak tentang ilmu pengetahuan dibanding Donghyun. Youngmin juga lebih tinggi dari Donghyun, meski hanya sedikit Donghyun menyadarinya. Di mata Donghyun, Youngmin memang pemuda yang benar-benar memperhatikan penampilan. Beberapa kali Donghyun melihat Youngmin membetulkan poninya, dengan tangan dan dengan menggerakkan kepalanya. Donghyun juga merasa Youngmin adalah pemuda yang perhatian. Misalnya saja pagi tadi saat mereka sarapan. Youngmin tidak segan mengambil sisa bubur di bibir Donghyun saat keduanya selesai makan.
Well, pipi Donghyun memanas mengingatnya.
"Jadi?"
Donghyun menghentikan langkah di depan Youngmin yang ternyata berjalan memasuki hutan di sekitar air terjun. Ingatannya tertuju pada beberapa hal yang saling berkaitan. Youngmin suka hal-hal berbau ninja dan di sini sekarang, di Ninja no Mori, di depan sebuah museum, tentu saja mereka berhenti.
"Hyung benar-benar penggemar ninja, ya? Lama-lama aku merasa sedang berjalan dengan Uchiha Sasuke."
Donghyun mendengus pelan saat Youngmin membalas kalimatnya dengan tawa yang cukup keras.
"Kukira kau akan menyebutkan Naruto, Donghyun."
"Aku juga tahu, tapi menurutku Sasuke lebih keren."
Donghyun merasa genggaman Youngmin mengerat, dan detik berikutnya wajah keduanya menjadi dekat saat Youngmin mengurangi jarak di antara keduanya.
"Baiklah. Kita tinggalkan mereka karena kau masih akan tetap jadi Pangeran Nabari yang harus mengabulkan satu permintaanku karena sebuah panggilan 'Youngmin-san' tadi pagi saat kau ada di atas tubuhku, oke?"
Mata Donghyun melebar dan dengan segera ia memundurkan kepalanya, berusaha menjauh dari wajah Youngmin yang baru saja terasa sangat dekat. Bahkan sapuan nafas hangat dari hidung Youngmin di wajahnya masih bisa Donghyun rasakan. Youngmin benar-benar membuatnya kewalahan. Berada di dekat Youngmin untuk waktu yang lama, Donghyun merasa jika jantungnya bisa rusak karena sering ingin keluar dari rusuknya.
Don't rush. Because even in fairytales, happiness come in the ending.
"Aku tidak tahu jika hyung bisa sejahat itu padaku."
Donghyun merengek dalam perjalanan pulang mereka dari Akame. Keduanya berada di dalam bus, duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Donghyun bisa melihat Youngmin terus menunjukkan senyum jahil padanya sejak pagi hingga sekarang. Bagi Donghyun, hari ini benar-benar menyenangkan sekaligus sangat berat. Tentu saja menyenangkan jika itu soal berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama Youngmin. Dan terasa berat jika Youngmin terus-terusan mengingatkannya pada 'tragedi bangun pagi' mereka. Satu lagi, pakaian ninja yang harus Donghyun kenakan saat di hutan tadi adalah yang terburuk. Donghyun tidak menyangka jika Youngmin akan menyuruhnya berkostum ninja ditambah beberapa jurus yang ia tidak paham harus diperagakan olehnya. Donghyun ingat saat itu Youngmin tertawa sambil memegang perutnya hingga terguling di tanah. Sangat puas dengan penampilannya.
"Siapa suruh kau memanggilku 'Youngmin-san' tadi pagi?"
Donghyun mengerang lelah.
"Tidak sengaja, hyung. Kalau aku ingat ada hukuman, aku tidak akan memanggil hyung seperti itu."
"Lalu akan kau panggil apa?"
Youngmin menatap Donghyun antusias, menunggu kata-kata yang akan dari mulutnya seolah-olah itu adalah jawaban yang akan meluluskan Youngmin dari sebuah ujian yang sangat penting.
"Tentu saja memanggilmu 'Youngmin hyung'."
Donghyun melihat Youngmin mengulum senyum untuknya.
"Donghyun."
"Ya, hyung?"
"Besok kita akan ke Meoto Iwa, oke?"
"Tidak masalah, hyung."
Donghyun mengangguk setuju dengan ide Youngmin untuk perjalan selanjutnya.
"Oh! Aku lupa jika aku hanya akan tinggal hingga besok. Lusa aku harus kembali ke Tokyo."
Donghyun terkejut mendengarnya, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi dan memilih menyamarkannya meskipun tanpa sadar wajah sedih dan kecewa yang ia perlihatkan.
"Padahal hyung bilang akan tinggal di sini sebulan."
Suara deru mesin bus tidak sanggup menghalangi tawa Youngmin sampai di telinga Donghyun. Bahkan Donghyun mulai terbiasa dengan hal itu dan merasa bahwa tawa Youngmin adalah yang paling bagus dari semua jenis tawa yang pernah ia dengar. Kalaupun bisa, Donghyun ingin membuat musik dari itu atau mengubahnya melalui petikan gitar.
"Sebulan itu terlalu lama, Donghyun. Tidak mungkin. Kecuali kalau aku punya kekasih di sini, mungkin?"
Mendengarnya membuat jantung Donghyun tiba-tiba berdetak lebih cepat. Sungguh, kali ini Donghyun kewalahan membuat jantungnya bekerja normal kembali. Youngmin selalu seperti ini, membuat kerja salah satu organ penting di tubuhnya itu kacau.
"Ya, cari saja. Biar nanti hyung bisa sering-sering ke sini dan mengunjungiku."
"Begitu?"
Donghyun mengangguk tanpa menatap wajah Donghyun. Mana mungkin ia berani menatap Youngmin setelah memberi saran yang sepertinya jadi bumerang untuknya sendiri. Antara ingin tahu responnya dan tidak mau mendengarnya sama sekali.
"Hei, Donghyun."
Donghyun tidak tahu sudah berapa kali namanya disebut oleh Youngmin hari ini, tapi ia sadar setiap namanya keluar dari bibir Youngmin, endorfin mengalir deras di tubuhnya. Menyenangkan.
"Hm?"
"Mungkin untuk ukuran tamu aku sedikit lancang. Tapi, karena aku tidak ingin menemukanmu saat bangun pagi dengan posisi lucu seperti tadi, jadi bisakah aku tidur denganmu hari ini?"
Honestly, I want you. Your mistakes, your flawless, you giggles, and your jokes. Everything, I want you.
W/N: Longest series yang pernah saya buat. Terima kasih reviewers.
[Gomennasai: sorry, oujisama: prince, manga: comic, ninja no mori: ninja forest, naruto and sasuke: you know what I mean tehee]
