Happy Reading! :D


Warning tambahan: Setiap huruf 'R' di dialog Zuma (kagak termasuk batin) akan diubah jadi 'W' karena dari yang aku baca di Wikipedia, Zuma kagak bisa ngucapin 'R' dengan benar!


Chapter 7: Menjadi guru


Paw Patrol mendapat tawaran untuk menjadi guru di NNG dari Mathias si jabrik dari Denmark.

Bagaimanakah cara mereka menghadapi kenistaan murid-murid di sana? Simak aja kejadian di bawah ini!


Zuma

Zuma sedang berjalan di koridor kelas 9 dan berniat mengajar Geologi di kelas 9E yang akan menjadi kelas pertamanya hari ini.

Dia pun sampai di depan kelas 9E dan mengintip sebentar keadaan murid-muridnya lewat jendela.

'Kayaknya ngajar kelas ini bakalan jadi living hell gue, deh! Baru masuk aja udah berisik banget!' batin Zuma yang cengo melihat keributan di dalam kelas nista tersebut.

Zuma pun menelan ludah dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam kelas yang katanya ajaib tersebut.

"Selamat pagi, namaku Zuma!" sapa Zuma sambil masuk dan memperkenalkan dirinya kepada para murid 9E. "Aku akan menjadi guwu kalian untuk pelajawan hari ini!"

"Pagi, Pak Zuma!" seru Aiko yang duduk di bangku tengah.

"Jangan pake Pak, Kakak aja!" balas Zuma sok imut sambil mengambil daftar nama dan mengabsen murid-muridnya.

"Switch!" panggil Zuma.

"Iya, Kak?" sahut Switch.

"Kamu manusia atau tombol?" tanya Zuma.

"Hah? Maksudnya?" Switch pun langsung bingung mendengarnya.

"Kagak, habis namanya Switch! Kayak nama tombol!" jawab Zuma ngasal. "Baiklah! Manusia atau tombol?"

"Ma-manusia, Kak!" balas Switch gugup.

"KURANG KEWAS!" teriak Zuma menyemangatinya.

"MANUSIA, KAK!" pekik Switch.

Webek, webek...

Seisi kelas pun langsung hening dan sebagian anak udah mulai merinding disko.

"Oke, sekawang buka buku paket kalian! Kita akan belajaw tentang pewmukaan bumi, salah satunya benua!" kata Zuma menjelaskan. "Ada yang tau definisinya?"

Hazuki mengangkat tangannya dan menjawab, "Daratan yang luas, Kak!"

"Iya, bagus!" puji Zuma. "Ada yang tau disebut apakah pewairan yang luas?"

"Samudra, Kak Zuma!" jawab Dark.

"Bagus!" puji Zuma lagi dan melanjutkan pelajaran dengan normal sampai jam pelajaran pertama habis.


Skye

Sekarang kelas 9C lagi nungguin guru baru.

"Eh, menurut lu, nanti guru barunya cowok atau cewek?" tanya Akmal.

"Gue mah berharap banget ada satu yang gurunya cewek!" jawab Farel. "Kan seru, tuh!"

"Hahaha! Lucu banget, Farel-pyon!" timpal Giro geli.

"Gurunya dateng, cepet siapin gombalan kalian!" seru Luthfi sang ketua kelas.

"Kok gombalan, Luthfi? Memang gurunya cowok atau cewek?" tanya Idham kaget.

"Cewek! Liat aja sendiri!" balas Luthfi.

Benar saja, seorang guru cewek yang memakai topi pilot pun masuk ke kelas 9C.

"Pagi, anak-anak!"

"Pagi, Bu!"

"Nama saya Skye, ada pertanyaan?"

Feby mengangkat tangannya dan bertanya, "Bapaknya Bu Skye itu... Dokter mata, ya?"

"Kagak, kenapa?"

"Abisnya mata Ibu mengobati hatiku~" jawab Feby watados.

"Widih! Gombalnya!" puji para cewek.

"A-ada lagi?" tanya Skye yang canggung karena digombalin.

Slamet pun ikutan ngangkat tangannya dan bertanya, "Kalau bapaknya Bu Skye bukan dokter mata, berarti... Astronot, ya?"

"Bukan, kenapa?"

"Karena tadi saya melihat banyak bintang di sekeliling Ibu waktu masuk ke sini!"

Gombalan itu pun sukses membuat para murid 9C langsung tepuk tangan dengan meriah plus membuat Skye tambah canggung.

Sabar ya, Skye~


Rubble

Kelas 9D sedang ribut sampai ada yang ngomong, "Ada guru, ada guru!"

Seorang guru cowok yang memakai topi konstruksi pun masuk dan... Ceria sekali guru itu!

"Selamat pagi~"

"Pagi, Pak!"

"Nama saya Rubble, ada pertanyaan?"

"Bapak itu tukang konstruksi, ya?" tanya Dissa yang heran melihat topi konstruksi Rubble.

"Tentunya, dong~"

"Kalau diseruduk buldoser (?) itu sakit kagak, Pak?" tanya anak itu lagi.

"Ya sakit, lha! Kamu cobain aja sendiri!" jawab Rubble setengah bercanda.

"Kagak, Pak! Makasih! Saya masih sayang nyawa!"

"Ck ck ck ck ck! Padahal jadi tukang konstruksi itu seru, lho! Bisa beradu dengan bahaya reruntuhan!" ujar Rubble watados.

"Ya elah, Pak! Jangankan bahaya reruntuhan!" balas Dissa sambil nunjuk Sho. "Berantem sama dia aja-"

"Diem lu!" bentak Sho sambil menginjak kaki Dissa.

"Anjir! Sakit, tau!"

"Bodoh amat! Masalah buat lu?!"

"Udah, udah! Jangan berteman (?)!" lerai Rubble.

"Berantem kale, Pak!" ralat para murid 9D.

"Oh iya, maksudnya berantem! Kalian berdua damai aja, ya! Fufufufufu~" kata Rubble yang sukses bikin seisi kelas menatapnya dengan sweatdrop.

Ketika duduk di meja guru, Rubble melihat sebuah kotak dan bertanya, "Ini kotak apaan?"

"Kagak tau, Pak!"

"Beneran?"

"Serius setriliyun rius!"

Karena penasaran, Rubble pun membuka kotak itu. Entah kenapa, dia langsung kaget sambil loncat dan melempar kotak itu setelah melihat isinya.

"GYAAAAAAAAAAAAAA!" jerit Rubble.

"Ada apaan, Pak?!" tanya para murid 9D panik.

"ITU, ITU, ITU-"

"ITU APAAN, PAK?!" tanya Jihan. "Ada kuntilanak atau pocong di dalemnya?"

Webek, webek...

"Kamu itu mabok atau apa, sih?! Udah tau tuh kotak cuma seukuran sepatu nomor 38, mana ada yang bisa masuk ke sana?!" bentak Rubble kagak nyelow.

"KALAU GITU JAWAB, ATUH!"

"DI DALEMNYA ADA LABA-LABA GEDE!"

"Oh, laba-laba doang!"

Lha, kok malah 'oh'?

Anak perempuan itu pun mendekati kotak tersebut dan membukanya sambil ngomong, "Hehehe! Ini mah laba-laba mainan si James, cuy!"

"BWAHAHAHAHAHA! TERNYATA PAK RUBBLE TAKUT SAMA YANG BEGITUAN!" teriak para murid 9D sambil ngakak guling-guling.

"DIAM KALIAN ATAU AKU LINDAS PAKE BULDOSER!" ancam Rubble.

"AMPUN, PAK!"


Rocky

Kelas 9B juga kagak kalah ributnya dan seperti sebelumnya, mereka langsung tenang setelah ada yang ngomong, "Gurunya dateng!"

Seorang guru cowok bertopi hijau pun masuk dan dari tampangnya, dapat disimpulkan kalau dia adalah guru yang baik, sayang anak-anak, tidak sombong, dan suka menabung (?).

"Pagi, anak-anak!" katanya dengan riang.

"Pagi, Pak!" balas para murid 9B.

"Nama saya Rocky, ada yang mau bertanya? Sekalian perkenalkan diri kalian dulu, ya!" kata guru itu.

Seorang anak cowok mengangkat tangannya. Dia bermaksud untuk bertanya, bukan untuk memamerkan keteknya lho!

"Nama saya Ismunandar! Kalau boleh tau, umur Bapak berapa?"

"Eh?! U-umur, ya? Tunggu dulu!" jawab Rocky sambil berpikir sebentar. "Emmmm, 19 tahun!"

"Ciyus miapah, Pak?!" seru Keizia. "Kalau gitu, Bapak mau kagak jadi pa-"

Entah kenapa, perkataannya terpotong karena melihat sesosok makhluk di depan pintu.

"Pa? Pa apa?" tanya Rocky bingung.

"Ka-kagak, Pak! Kagak jadi!" balas Keizia gelagapan.

"Tuh anak kenapa tiba-tiba jadi penakut, sih?" tanya Hanny.

"Mungkin gara-gara orang di depan pintu itu!" jawab Bunga sambil menunjuk seseorang di depan pintu.

"Oh, hai Chase!" sapa Rocky.

"Hm!" balas Chase sambil mengangguk dan pergi ke kelas lain.

Oalah, rupanya di sana ada Chase toh! Untung aja dia di situ soalnya kalau kagak, Rocky udah ditembak duluan sama Keizia jadi pacarnya!


"Se-sekarang kita akan perkenalan lebih lanjut! Nah, kamu yang di depan, berdiri dan sebutkan namamu sama umur!" kata Rocky sambil nunjuk seorang anak cowok.

"Nama saya Ilyansyah, umur 15!"

"Kamu rumahnya dimana?" tanya Rocky.

"Yah saya tinggal lha, Pak! Masa saya bawa-bawa? Saya kan bukan kura-kura!" jawab Ilyansyah yang sukses membuat kelas itu meledak karena tawa anak-anak yang cetar membahana badai tersebut.

Setelah sesi perkenalan, maka pelajaran Biologi pun dimulai. Tapi...

"Pak Rocky! Saya mau tes Bapak dulu!" kata Mikado.

"Boleh, silahkan!" tantang Rocky.

"Pak Rocky kan guru Biologi, pasti jago biologi kan?" tanya Mikado.

"Kagak, Bapak jagonya nongkrong di tempat pembuangan sampah! Ya iyalah! Udah buruan, ngabisin waktu aja kamu!" balas Rocky sewot.

"Woles atuh, Pak! Sekarang gini, saya mau nanya! Secara logika, kenapa anak gajah nyari makan sendiri? Yang udah tau jangan jawab!"

"Secara logika, ya?" tanya Rocky dengan tampang 'kirain mau nanya apaan'. "Memangnya apa jawabannya?"

"Karena ibunya kagak bisa masak! Kalau ibunya bisa masak, anak gajahnya kan kagak usah nyari makan sendiri!"

Kelas itu pun langsung meledak lagi dan Rocky hanya bisa berpikir, 'Kenapa gue kagak kepikiran, ya?'


Marshall

Karena pelajaran di kelas 9A sekarang adalah olahraga, maka para muridnya udah langsung meluncur ke lapangan dengan perosotan kolam renang (?).

"Eh, guru olahraganya siapa?" tanya Mea.

"Kalau kagak salah, namanya Marshall apa gitu!" jawab Aruka.

PRIIIIIIIIIIIIIIT!

"Apa kabar, anak-anak?"

"BAIK, PAK!"

"Oke, namaku Marshall! Ada pertanyaan?"

"Sekarang olahraganya apaan, Pak?" tanya Fiorel antusias.

"Sekarang kita materinya basket! Kalian latihan dribble dulu! Tapi ingat, dribble-nya pake tangan!" jawab Marshall mengingatkan.

"Pak Marshall, nenek-nenek koprol sambil salto juga tau kalau dribble bola basket itu pake tangan! Masa pake gigi kayak gini?" balas Rehan sambil mempraktekkan bola basket yang dijedukin ke gigi.

"Jangan dijedukin ke gigi! Entar kalau kamu meninggal gara-gara itu, kan amit-amit kalau di koran tertulis, 'SEORANG ANAK KEHILANGAN NYAWANYA AKIBAT MENJEDUKKAN BOLA BASKET KE GIGINYA'! Apa kata orang tua kamu nanti?" ujar Marshall panjang lebar.

Webek, webek...

"Iya deh, Pak!"

"Ya udah, ayo kita mulai!" perintah Marshall sambil meniup peluitnya.

Anak-anak pun mulai serius men-dribble bola basket. Satu anak dapat satu bola basket dan jumlah anak di kelas 9A ada 36. Jadi bisa terbayang kalau tiba-tiba kenistaan mereka kumat dan obatnya habis, mereka bakalan melempar bola basket itu kepada Marshall dengan 'yahuuuuud'-nya dan Marshall akan berkata 'Sungguh ter-la-lu~' sambil memainkan gitar.


Chase

Berbeda dengan yang dialami Chase kali ini. Dia akan mengajar Sejarah di kelas 9C setelah jam pelajaran Skye.

Chase sudah menyiapkan apa yang harus diajarkannya dan berusaha untuk tetap tenang karena risih dengan kabar tentang kenistaan murid-murid di sana.

Chase pun masuk ke kelas 9C yang udah tenang (karena ketua kelas yang sigap ngasih tau kedatengan guru ke kelas mereka) dan melakukan perkenalan dengan anak-anak yang (menurutnya) baik tersebut.


Sementara itu, Rocky dan Marshall sedang menatap sebuah tongkat berbentuk bintang milik Britania Angel yang mereka temukan di lapangan. Karena penasaran, Marshall pun mengambilnya dan mencoba kehebatan tongkat tersebut.

"Okay, lets go! Hoata! Batak!" ujar Marshall sambil mengarahkan tongkat itu ke atas.

"Batak itu apaan?" tanya Rocky heran.

"Batak itu-" Marshall yang hendak menjelaskan langsung terkejut ketika tiba-tiba melihat sebuah cahaya yang keluar dari tongkat itu dan mengarah ke kelas 9C.


Cahaya dari tongkat itu pun mengenai Chase dan tidak ada yang melihatnya, kecuali Giro (yang berpikir kalau itu hanya ulah iseng Lukas).

"Yosh! Heh, kau, Rombleng! Sebutkan salah satu negara Sekutu yang terlibat Perang Dunia Kedua!" seru Chase sambil menunjuk seorang anak di depannya.

'Rombleng?! Nama macam apa itu?!' tanya para murid 9C dalam hati.

Tapi anak itu menjawab, "Rusia, Pak!"

"Bagus! Kau memang anak pintar! Sekarang kau, Rombleng!" ujar Chase sambil menuju anak yang lain.

Rombleng lagi?

"Rombleng!"

"Rombleng!"

"Rombleng!"

"Kenapa nama kami Rombleng semua, Pak?" tanya Luthfi bingung.

"JANGAN KAU MENENTANG GURU! KAU MURID DURHAKA YANG SANGAT KATROAK! BAU MACAM KOTORAN LEMBU LAGI, KUROMBLENG ROMBLENG!" bentak Chase kagak nyelow.

Sontak, para murid 9C yang kaget melihat Chase ngomong kayak orang Batak itu pun langsung memasang tampang 'What The Fuck is That?!' dengan kagak elitnya.


Keesokan harinya...

"Jadi begini lho, Mathias! Udah seminggu ini Chase sama Wubble bewantem gawa-gawa Wubble kagak sengaja bikin debu pas lagi bewsihin Mansion sampe Chase bewsin mulu, makanya Chase manggil dia 'Wombleng'! Soal Chase yang jadi kayak orang Batak itu, gue ngeliat Mawshall ngomong 'Batak' pas lagi mainin tongkat Bwitania Angel yang dia temuin baweng Wocky!" jelas Zuma ketika Mathias memintanya bercerita tentang kejadian kemaren.

"Ah, begitu ya! Terima kasih udah ngasih tau, Zuma!" kata Mathias yang langsung teringat sesuatu. "Oh, iya! Marshall sama Rocky mana?"

"Dikejar-kejar Lukas, tuh!" jawab Skye sambil menunjuk tiga sosok yang lagi lari-larian di lapangan yang sukses bikin Mathias sweatdrop.


To Be Continue...


Sebenernya Chapter ini buat spoiler proyek fic 'NNG Series' yang baru! Awalnya sih buat re-write sebuah fic yang mau kuhapus! Well, that enough! ^^V

Review! :D