Happy Reading! :D
Chapter 15: Berkemah bersama (Request dari Hanazawa Yuki)
Hari ini Paw Patrol akan berkemah bersama 6 anak dari NNG.
Seperti apakah acara 'kemping' mereka? Mari kita lihat di bawah ini!
Zuma
"Jadi di sini kemahnya?" tanya Chase setelah 12 anak nista itu sampai di Shadow Forest.
"Yah, sepertinya!" jawab Garu sambil membaca peta yang dibawanya.
"Sekarang, bagaimana kalau kita dirikan tenda?" usul Luthfi sambil mengambil sebuah benda. "Nah, ini dia! Tenda otomatis! Kalian perhatikan, ya!"
Sontak, Paw Patrol dan kelima temannya langsung duduk untuk memperhatikan. Bahkan, Zuma dan Giro udah nyiapin teropong dan buku catatan.
Luthfi langsung melempar benda itu ke atas dan menekan sebuah tombol sampai benda berubah menjadi selembar kain lebar plus beberapa pasak.
"Bagus sekali! Tapi gimana cawa masuknya?" tanya Zuma.
"Iya, bentuknya aja kagak beraturan!" sambung Giro.
"Ini belum berdiri, bodoh!" balas Luthfi sambil mengobrak-abrik tenda sampai sobek.
"Catat, dia mewobek tenda!"
"Baik!"
Pemuda berambut hitam berantakan itu memukuli tenda dengan rotan.
"Dia memukuli tenda!"
"Baik!"
Anak itu malah berantem dengan tendanya sampai guling-gulingan.
"Catat itu, catat!"
"Baik!"
Keliatannya memang nyatat, tapi kenyataannya? Giro malah main 'tic-tac-toc'.
Sampai akhirnya Luthfi menendang tenda itu yang sukses membuatnya berbentuk seperti tenda biasa dan berdiri tegak. Tapi ketika anak itu mau pamer, tendanya malah rubuh sendiri sampai dia terpaksa harus menyingkirkannya yang sukses membuat kesebelah anak nista itu sweatdrop.
"Apa ada yang punya tenda manual di sini?" tanya Idham.
"Aku punya!" ujar Rocky sambil menyeret beberapa tenda bersama Marshall dan Rubble.
Anak-anak itu pun mendirikan tenda yang dibawa Rocky tersebut.
Skye
Kalau berkemah ramai-ramai, memang paling asyik ngumpul sambil dengerin cerita seram. Apalagi kalau kemahnya di Shadow Forest yang merupakan hutan terseram di Elder Village, salah satu daerah di Elrios. *Elsword addict mode.*
Awalnya Paw Patrol hanya ingin membicarakan tugas bersama keenam anak NNG itu, tapi entah kenapa topik mereka tanpa sengaja malah melenceng ke cerita horror.
"Ja-Jadi organ dalamnya gantung gitu?" tanya Rubble sambil berpelukan erat dengan Marshall.
"Yap! Kepalanya manusia normal, tapi kagak punya badan ataupun kulit! Jadi tenggorokan, ginjal, jantung, hati, dan lainnya nempel di tulang belakang!"
Semuanya langsung ber-'hiiii' ria dengan kompaknya. Rubble dan Marshall berpelukan erat, Chase dan Rocky berusaha untuk tetap stay cool (padahal duduknya udah mulai deket-deketan), Luthfi dan Giro masing-masing memeluk lengan Idham (yang hanya diam saja dengan wajah datarnya), Fiorel, Skye, dan Zuma mulai gelisah di tempatnya, Garu ngilang entah kemana, dan Luthias (selaku orang yang menjelaskan cerita 'Palasik' tadi) hanya biasa-biasa saja.
"Cara mengenali Palasik ada satu: perhatikan wajahnya! Palasik kagak punya cekungan di antara mulut dan hidung!"
Semuanya pun langsung ber-'ooh' ria mendengarnya.
"Luthias pintar banget bikin cerita horror!" puji Skye.
"Iya, aku sampai deg-degan lho!" sahut Marshall sambil mengurutkan dada diikuti gumaman setuju dari yang lainnya.
Luthias hanya tersenyum kecil sambil bertanya, "Nah, mau dengar bagian paling seram tentang Palasik?"
Semuanya pun langsung mengangguk penuh semangat.
"Dia ada di belakang kalian, tuh!"
Kejadian selanjutnya jangan dipertanyakan lagi.
Rubble
Setelah cerita horror (yang berakhir dengan teriakan gaje karena ternyata mereka dikerjai Garu yang menggunakan 'Palasik Palsu' -alias mainan yang dibuat mirip aslinya- untuk mendukung suasana horror) barusan, mereka pun melakukan acara bakar-bakaran.
"Greeny, aku tidak mau ikutan acara bakar-bakaran! Entar kuenya malah gosong semua!" ujar Fiorel sambil menarik jaket Luthias.
Di depan mereka, terdapat sebuah api unggun.
"Ada kok makanan yang enak karena dibakar!" sahut Luthias sambil tersenyum kecil.
"Apa itu?" tanya Fiorel penasaran.
"Marshmallow!" pekik semua orang di sana mendahului Luthias yang mulutnya terbuka tapi tidak jadi bicara.
Mata Fiorel pun langsung berbinar seperti anak kecil dan bertanya dengan antusias, "Benarkah?"
Chase dengan baik hatinya memberikan marshmallow yang sudah dibakar kepada Fiorel sambil ngomong, "Coba aja, pasti ketagihan!"
Fiorel pun mengangguk imut dan mulai memakannya.
"Uum, enak!"
Tapi sayangnya, adegan tersebut membuat Rocky pundung di bawah pohon.
"Daripada cuma marshmallow, mendingan bakar ikan juga!" usul Luthfi watados.
Zuma pun langsung menatap Luthfi dengan horror.
'Oh, tidak!' batin Zuma menjerit histeris.
"Ide bagus!"
"Setuju!"
"Benar juga!"
Zuma pun langsung pundung di bawah pohon cemara yang berseberangan dengan pohon yang ditempati Rocky.
"Kok ada asap di sini?" tanya sebuah suara yang berasal dari atas pohon cemara.
Orang itu pun melompat turun dari atas pohon yang sukses membuat Zuma langsung terlonjak kaget dan dengan refleks menyerang orang itu dengan rotan yang dibawanya.
"Woy, sakit tau! Ini gue, Mathias!" bentak orang itu karena terkena serangan Zuma barusan.
Semua orang yang melihat kejadian itu pun hanya bisa sweatdrop plus speechless di tempat.
"Tewnyata Paman Mathias, toh! Kiwain putih-putih-wihihi~" ujar Zuma watados.
Mathias pun langsung memasang muka jutek dan duduk di sebelah kiri Skye, sementara Skye menoleh ke samping kanan dan tatapannya pun bertemu dengan siluet Rubble.
Webek, webek...
'Entah kenapa, dunia jadi terasa milik berdua!' (Skye dan Rubble)
Tiba-tiba, angin kencang menerpa mereka dan membuat salah satu pohon yang sudah mati langsung tumbang mengenai api unggun. Api pun semakin besar dan menjalar dengan sangat cepat.
"Huwaa, kebakaran!" teriak Rubble yang langsung lari pontang-panting sambil mengambil Alat Pemadam Api Ringan (APAR), begitu juga dengan beberapa orang yang sibuk mencari air.
Rubble pun kembali dengan membawa dua APAR di tangannya. Tapi karena terlalu tergesa-gesa, kaki Rubble malah tersandung batu sampai kedua APAR yang dibawanya terpental.
Mungkin inilah yang disebut kesialan yang diselimuti keberuntungan, karena salah satu APAR mengenai kepala Giro dan yang lainnya tepat di tengah-tengah kobaran api sampai akhirnya meledak dan membuat api itu langsung padam seketika.
Hening melanda, katak numpang lewat, dan semua orang langsung speechless di tempat.
"Dasar Baka Rubble-pyon!" bentak Giro sambil menjitak kepala Rubble dengan keras sampai membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Sakit~" ringis Rubble sambil mengelus kepalanya.
"Apa yang kau lakukan padanya?! Cepat minta maaf!" bentak Chase sambil melotot tajam karena tidak terima temannya menjadi korban Giro.
"Gomen~" balas Giro sambil tersenyum terpaksa.
"Yang ikhlas, dong!"
"Udah, deh! Anak kecil kagak usah minta yang aneh-aneh!"
"Enak aja! Aku lebih tua darimu, tau!"
"Memangnya aku nanya?"
"Kagak!"
"Gomennasai, Giro-sama! Aku tadi kagak sengaja!" kata Rubble sambil sungkeman di depan Giro.
"Maafkan aku, Gi(Rosimah)-sama!" Rubble pun mulai sujud-sujud gaje.
Sontak, Mathias, Marshall, Zuma, Luthfi, Rocky, dan Chase pun langsung ngakak di tempat saat mendengar nama panjang Giro barusan, sementara Luthias, Fiorel, Idham, Garu, dan Skye hanya bisa sweatdrop berat.
Giro yang wajahnya memerah sampai ke telinga pun hanya bisa menahan malu dan emosinya dengan menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya, sementara Rubble terus menatapnya dengan wajah tanpa dosa.
"Please, deh! Nama gue Giro aja, kagak usah pake suffix berlebihan!" (Giro)
"Duh, sobatku nista! Sini-sini, biar aku peluk!" (Luthfi)
"Oy, Giro! Kau belum minta maaf dengan ikhlas!" (Chase)
"Maafkan aku, Gi(Rosimah)-sama!" (Rubble)
"Peristiwa yang tak terlupakan!" (Mathias)
"Chase kagak pernah gituin aku sama sekali!" (Rocky)
"Rubble benar-benar sial(manis)!" (Skye)
Rocky
Setelah tragedi bakar-bakaran...
Seorang pemuda berambut coklat tua sedang jalan-jalan di hutan untuk refreshing.
Tapi gimana kalau tersesat? Tenang aja! Pemuda bernama Chase itu membawa kompas.
Tiba-tiba, iris coklatnya menangkap siluet seseorang di atas pohon.
"Woy, lu ngapain di atas pohon?" tanya Chase sambil menunjuk Marshall yang sedang duduk di atas pohon.
"Hanya bersantai, mumpung hantunya belum muncul!" sahut Marshall sambil makan kue.
"Hantunya itu lu, tau! Hantu kan selalu di atas pohon!" balas Chase sambil ngakak gaje.
"Yeee, mana ada hantu ganteng?" tanya Marshall sambil pose yang sukses membuat Chase sweatdrop akut.
"Ada, kok! Pocong kan ganteng!" timpal Chase ngawur.
"Tapi aku lebih ganteng dari pocong!" cibir Marshall yang tidak terima dibandingkan dengan makhluk halus. "Lagian, kok lu tau kalau gue ada di sini? Jangan-jangan lu stalking gue, ya? Ngaku aja! Gue memang ganteng, kok!"
"Jiah, habis warna rambut lu putih merona kayak tepung! Tepung-tepungan~" ejek Chase yang hanya dianggap angin lalu oleh Marshall.
Sementara itu, Rocky yang lagi nyari kayu bakar tanpa sadar telah berada di tengah hutan.
"Huwaaa! Tolooooong!" pekik Rocky ketakutan.
Back to Chase and Marshall...
"Eh? Suara siapa itu?" tanya Marshall heran.
"Kayaknya aku kenal suara ini, deh!" ujar Chase sambil mikir.
"Ini mah kayak suara Rocky!" sahut Marshall.
1 detik...
5 detik...
10 detik...
30 detik...
1 menit...
10 menit...
Mereka berdua kelamaan loading!
"GYAAAAAAAAA!"
Suara pekikan itu pun membuat kedua anak itu sadar kalau teman mereka dalam bahaya dan Chase langsung berlari menuju sumber suara, sementara Marshall malah melompat dari satu pohon ke pohon lain.
'Dia mirip monyet!' batin Chase sweatdrop.
"Rocky, kau dimana?!" teriak Chase khawatir. "Rocky!"
"Chase?! Aku berada di sekitar pohon mangga! Huwaaaa! Tolong aku!" teriak Rocky lagi dan kedua kawannya pun bisa mendengar teriakan tersebut.
Semak-semak di samping Rocky pun mulai bergemerusuk dan seluruh tubuh pemuda bersurai abu-abu itu langsung bergetar hebat.
Dia takut, tentu saja!
"Hosh, hosh! Kau tidak apa-apa?" Sosok Chase pun muncul dari semak-semak yang sukses membuat Rocky langsung menangis haru dan memeluk Chase.
Pemuda berambut coklat tua itu mengulas senyum lembut sambil menenangkan sahabatehemmerangkap pacarehemnya.
Marshall pun melompat dari atas pohon tepat ke belakang Rocky yang langsung membuatnya terkejut setengah mati sampai pingsan. Chase pun menangkap tubuh Rocky dengan refleks.
"Woy! Lu apain pacar gue, hah?!" bentak Chase dengan amarah yang memuncak sampai ke ubun-ubun dan langsung menggendong Rocky.
"Bujug, deh! Kagetnya extreme bener!" sahut Marshall sambil menolong Chase membopong Rocky menuju tenda terdekat.
Mereka pun membaringkan Rocky dan Marshall dengan tergesa-gesa melepaskan sepatu dan kaus kaki temannya serta melepas ikat pinggangnya. Dia pun dengan cekatan memberikan minyak kayu putih di leher pemuda berambut abu-abu tersebut.
Chase dengan watadosnya malah menutup hidung Rocky seperti ingin memberikan nafas buatan dan Marshall yang melihat hal itu pun langsung menjitak kepala Chase sambil ngomong, "Kagak boleh! Itu ada tabung oksigen!"
"Aduh! Sakit, woy!" gerutu Chase sambil mengambil selang dan tabung oksigen.
"Sendirinya mau ngapain barusan, hah?" tanya Marshall curiga.
"Mau ngasih nafas buatan!" balas Chase watados.
"Kagak boleh kalau kagak terlatih!" ujar pemuda berambut putih itu sambil memasang tampang jutek.
"Gue udah terlatih, kok! Lu mau nyoba, ya?" tanya Chase setengah bercanda.
"Kenapa menawariku? Aku masih sadar! Walaupun kita teman juga jangan menjadikanku sebagai objek latihan pernafasan buatan, dong! Orang ganteng tidak boleh jadi objek percobaan!" Marshall mulai berceramah dengan wajah sok ganteng.
Alhasil, adu mulut pun tak dapat dihindari. Bahkan, sampai saat Rocky mulai sadar dari pingsannya.
Sepertinya setelah sadar, Rocky bakalan dapat serangan jantung.
"Mereka ngapain, sih? Berisik!" (Rocky)
"Ingat itu, Chase! Orang terganteng sedunia kagak boleh jadi objek percobaan!" (Marshall)
"Alah, bilang aja malu!" (Chase)
Marshall
Setelah kejadian di tenda yang dialami ketiga anak nista di atas barusan, kedua belas anak itu (plus Mathias) pun melanjutkan kemah mereka. Semuanya terlihat bergembira, kecuali Rubble yang trauma karena suatu alasan.
"Sini, Rubble!" bujuk Rocky sambil melambaikan tangannya.
"Tidak mau, aku takut!" tolak Rubble ketakutan sambil ngumpet di balik pohon.
"Tenang aja, ada aku yang akan menjagamu!" sahut Marshall sambil pose dengan narsisnya.
Akhirnya, Rubble pun diseret Rocky (dengan bantuan Garu dan Giro) sampai ke depan tenda.
"Jangan-jangan di hutan ini ada binatang buas!" ujar Skye gemetaran.
"Ada beruang!" lanjut Fiorel ikutan bergidik ngeri.
"Harimau!" sambung Luthfi sambil menatap horror ke dalam hutan.
"Singa!" timpal Zuma dengan wajah pucat pasi.
"Apaan, sih? Di sini malah banyak nyamuk!" balas Chase datar. "Oh, iya! Marshall kan yang jagain, tapi kok kagak ada senjata, sih?"
"Iya nih, bener kata Chase! Kalau kagak punya senjata, entar waktu diserang zombie gimana?" tanya Idham.
"Kalau begitu, nih! Buat senjatamu!" ujar Luthias sambil melemparkan sebuah raket nyamuk yang ditangkap Marshall dengan sigapnya.
"Hoooh, tapi kecil begini buat apaan?" tanya Marshall sambil menghidupkan raket itu dan mengayunkannya kemana-mana sampai nyaris mengenai orang-orang di dekatnya.
"Ini mah cuma buat matiin zombie nyamuk!" ujar Marshall watados.
Semua orang yang berada di sana pun kagak sanggup ngomong apapun mendengar ucapan Marshall barusan dan hanya bisa sweatdrop berjamaah.
"Memangnya ada zombie nyamuk?" tanya Mathias speechless.
"Ada, kok! Apalagi kalau udah malam, mati lampu, lagi hujan, ada petir, geledek pula!" jawab Marshall ngawur.
Alhasil, Marshall pun berakhir dilarikan ke UGD terdekat akibat diamuk massa oleh teman-temannya.
"Hey, Pamali menghajar orang ganteng!" (Marshall)
"Marshall! Aku beneran sweatdrop, lho!" (Rubble)
"Temanku ini stress berat sepertinya!" (Rocky)
"Hewan buas itu menyeramkan, tapi lebih menyeramkan Marshall!" (Skye)
"Aku kagak pernah denger yang namanya zombie nyamuk!" (Luthfi)
"Speechless, deh!" (Zuma)
"Menurut analisaku, Marshall mengalami 70 persen stress, 23 persen gila, dan 7 persen lain-lain!" (Idham)
"Ada yang punya baygon, kagak? Kayaknya lebih meyakinkan, deh!" (Mathias)
"Lain kali kita sewa pawang nyamuk, jangan sewa Marshall!" (Chase)
Chase
Setelah peristiwa 'Zombie Nyamuk' barusan, mereka berniat mendengarkan sebuah cerita.
"Mau dengar cerita supernatural?" tanya Luthias.
Kawan-kawannya pun mengangguk.
"Mau gue yang ceritain?" tawar Chase.
"Terserah lu aja, deh!" balas Rocky dengan malas.
"Oke, deh!" Anak itu pun mulai bercerita.
Pagi itu, seorang gadis melihat keluar rumahnya yang bersalju. Dia benci kalau dilarang keluar.
Tok! Tok!
Gadis bernama Diana itu berjalan keluar dan mendapati enam bunga cantik berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan putih. Enam tetes darah terdapat di kertasnya.
"Di pagi natal, aku selalu mendapatkan ini!" kata Diana sambil menatap keluar.
Diana adalah keluarga onmyoji dan setiap tengah malam, dia harus menyegel enam Nine Tailed Fox. Setiap kali dia selesai melaksanakan tugasnya, enam tetes darah pun terasa jatuh.
Chase berhenti sejenak dan menatap ke arah sekitar. Rocky mencondongkan badannya, sementara Rubble berkata, "Teruskan, teruskan!"
Beberapa anak pun juga mulai serius. Pemuda berambut coklat itu pun melanjutkan ceritanya.
Diana menatap keluar. Sebentar lagi dia harus menyegel, tapi dia merasa sangat bosan. Malam-malam dia keluar. Sebelum jam 11.30, dia bersender di batang pohon dan berbicara sendiri.
"Maafkan aku, Nine Tailed Fox! Aku terpaksa, seluruh keluargaku adalah onmyoji! Aku, aku..."
Dia merasakan enam orang memeluknya dengan hangat. Syal yang dipakainya pun melonggar.
Sakura merah pun jatuh dari atas diikuti sebuah tetesan darah dan bunga enam warna pun berjatuhan. Diana selalu ragu akan hal itu.
Dia sering menemukan hal-hal supernatural, tapi tidak pernah seperti ini. Diana memegang sakura merah itu dan mulai menyanyikan sebuah lagu.
White snow fall from the sky~
Everything turn strange~
I know must be the Nine Tailed Fox mad~
But I must do it because it is my job~
Chase berhenti sebentar dan menatap sekitarnya dan aura-nya pun semakin terasa seolah mengatakan 'Teruskan!' untuk memintanya melanjutkan ceritanya.
Tiba-tiba...
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!
Diana mendapati enam mayat dengan baju lusuh. Dia dapat melihat sembilan ekor yang keluar dari setiap orang dan seorang badut keluar sambil berkata, "Kau harus menghentikan tugasmu, sekarang!"
Diana pun mengangguk dan berlari pergi.
Keesokan harinya, dia melihat ibunya pulang dan berkata, "Bu! Aku ketemu dengan enam Nine Tailed Fox kemarin dan seorang badut!"
Ibunya pun tersenyum dan membalas, "Itu memang wajar, sayang! Ibu juga mengalaminya! Tentang badut, entahlah!"
Teman Diana, Ryan, selalu berkata kalau itu hanya khayalan.
Tapi malam harinya, dia bertemu dengan badut itu dan badut itu berkata, "Jangan pernah mengejeknya!"
Sepertinya badut itu penjaga Diana di masa yang akan datang.
Tapi itu belum diketahui!
Chase menghela nafas setelah membaca cerita itu dan kawan-kawannya pun langsung tepuk tangan.
Diam-diam, seorang badut mengintip dari kegelapan.
"Oy, Luthfi! Mendingan lu jangan ngumpet di sini, deh! Mathias ngeliatin lu aneh, tuh!" kata Marshall sambil menepuk pundak Luthfi.
Mathias pun langsung cengo saat melihat Luthfi yang berpakaian badut tersebut.
Tengah malamnya, terdengar teriakan dari Zuma, "AAAAAAAAAAAAAAH! BADUT!"
Mereka semua pun menatap badut yang tidur di tenda sebelah.
"Woy, bisa kagak lu diam sedi- BADUT!" Skye pun juga ikutan teriak karena mengingat cerita yang dibacakan Chase.
"HYAAAAAAAAH!" Fiorel yang takut sama badut pun menutup wajahnya.
Sementara itu, Giro, Mathias, dan Idham bersiap untuk menghajar Luthfi yang masih berkostum badut mengerikan.
To Be Continue...
Yah, aku tak tau harus bilang apa! Yang penting, semoga puas dengan hasilnya! :D
Entah kenapa, Request tentang kemah itu mengingatkanku pada salah satu episode di 'Spongebob' dimana kemahnya berakhir dengan serangan beruang laut! Ngakak banget! XD
Oke, saatnya balas Review! :D
Hanazawa Yuki: Nah, ini dia Request-nya! Semoga anda senang dan terima kasih Review-nya! :D
Honey Sho: Aku bukan orang yang sering update tentang game terbaru, jadi hanya segitu game horror yang aku tau! ^^V Baiklah, Request akan aku kerjakan and Thanks for Review! :D
Review! :D
