Naruto © Masashi Kishimoto
Star of Worlds © Namikaze Lily
Pair: Yang pasti Sasori-Sakura dan yang lain berjalan dengan seiring cerita
Warning : AU, OOC, OC dan lain-lain yang luput dari sang pengarang. Mohon di maklumi. Arigatou.
Happy Reading All _^^_
Chapter 1
Konoha Gakuen, Tokyo, Jepang
Sinar matahari yang terang benderang menerangi Tokyo ini , termasuk Konoha Gakuen. Terangnya yang membuat lingkungan sekitarnya kepanasan serta kicauan burung-burung di sekitarnya serta suara jangkrik-jangkrik yang berkicau bersaing dengan suara binatang yang ada menandakan musim panas di Jepang. Perlu di ketahui , Konoha Gakuen adalah sekolah khusus putri, jadi jangan harap ada pria yang bersekolah di sini. Banyak siswi-siswi yang berlalu lalang di sekitar sekolah, ada yang menghabiskan waktunya mendengar lagu , ada juga yang membahas pelajaran-pelajaran untuk membuang waktu. Lalu ada juga yang menghabiskan bekal bersama-sama.
Tetapi berbeda untuk seorang gadis yang mempunyai rambut berwarna soft pink ini. Rambutnya yang panjang dan halus dengan aksesoris bando warna biru yang sederhana menghiasi kepalanya. Kulitnya yang putih dan matanya yang berwarna emerlard memancarkan sinar ketegasan dan hangat dari gadis itu. Gadis itu bernama Haruno Sakura, bersekolah di Konoha Gakuen. Dia memasuki kelas XII-IPA dan nomor urut absennya adalah 13. Mungkin bagi sebagian orang angka 13 adalah angka sial , tetapi tidak bagi Sakura. Di Konoha Gakuen , banyak siswi yang mengagumi Sakura meskipun dia adalah seorang gadis. Sakura terkenal dengan sifat yang ceria, ramah dan sedikit cuek, tetapi saat istirahat dia suka menyendiri di bawah pohon yang rindang sambil membaca buku atau terkadang menghabiskan bekalnya dan sekarang kegiatan favorit itu sedang dilakukannya sekarang.
Sakura sedang menyenderkan tubuhnya di salah satu pohon milik sekolahnya sambil melihat ke arah lapangan ataupun ke arah sekitar taman. Dia menikmati pemandangan di sekitarnya dan tidak menyadari bahwa ada seorang gadis yang datang duduk menghampirinya yang lalu menepuk pelan bahunya.
"Sakura-chan," sapa gadis itu dengan suara yang teramat lembut.
Sakura langsung menoleh ke sumber suara dan ketika dia melihat gadis yang menyapanya itu , Sakura langsung tersenyum hangat kepadanya.
"Hinata-chan. Maaf aku tidak menyadari kehadiranmu." Jawab Sakura sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal tersebut.
Hyuuga Hinata, salah satu sahabat Sakura, seorang putri keturunan Hyuuga dan ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di Jepang. Berbeda kontras dengan Sakura yang anak yatim piatu, tetapi tidak menghalangi persahabatan mereka. Sebenarnya ada satu lagi sahabat mereka yaitu Yamanaka Ino. Tetapi Ino hari ini tidak masuk sekolah sudah beberapa hari. Hinata tersenyum mendengar perkataan Sakura dan dia pun duduk di samping Sakura sambil membawa kotak bekal yang berukuran besar dari kotak bekal biasa. Sakura mengernyit dahi melihat kotak bekal Hinata yang lebih besar dari biasanya.
"Hinata-chan, mengapa bekalmu hari ini lebih dahsyat dari biasanya? Kamu sedang program gendut ya ?"
"Ti-tidak Sakura-chan. Hari ini aku membuat bekal untukmu dan diriku sendiri. Aku melihat kamu sudah 2 hari tidak membawa bekal. Aku merasa kamu ada masalah dengan dapurmu."
Mendengar jawaban Hinata, mau tidak mau Sakura tertawa malu sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Iya, dapur apartemennya bermasalah lagi. Gas di apartemennya dalam perbaikan, sebenarnya hal ini sudah sering terjadi sehingga Hinata sudah menghafalnya, apalagi mengingat Sakura yang tinggal sendirian. Hal itu sudah pasti Sakura membutuhkan pertolongannya. Sakura tertolong dengan bantuan Hinata dan dia tidak perlu pusing memikirkan makan siangnya yang di habiskan dengan menu kantin yang menurutnya membosankan.
"Kamu tahu saja. Ahhh, rasanya aku ingin sekali memaki pemilik apartemenku! Kamu tahu, gas di rumah ku bocor lagi dan ini sudah ke 10-kalinya kejadian ini terulang! Apa boleh buat, aku hanya dapat menyewa di sana dengan uang hasil kerja sambilanku."
Sakura menghela nafas mengingat dia yang harus banting tulang untuk mencari uang sehari-harinya. Maklum, Sakura adalah anak yatim piatu. Sakura tidak tahu orang tuanya dimana dan dia hanya tahu dirinya di asuh oleh sebuah panti asuhan. Ketika Sakura sudah SMA dan memasuki Konoha Gakuen dengan beasiswa, Sakura memutuskan untuk keluar dari panti asuhan. Sakura bekerja sambilan untuk menghidupi biaya hidupnya sendiri, Hinata tahu semua hal tentang Sakura karena dari kecil Hinata sering mengunjungi panti asuhan tempat Sakura di rawat dan dari situ juga dia sudah bersahabat dengan Sakura.
"Arigatou Hinata-chan untuk bekalmu."
"Douita Sakura-chan," jawab Hinata sambil tersenyum manis kepada Sakura.
Melihat isi bekal Hinata yang enak dan banyak, Sakura sudah tidak sabar untuk menghabiskan bekal dibuat Hinata.
"Hinata-chan, mungkin kamu bisa jadi istri yang baik suatu saat. Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan ini semua."
"Hehehehe, kamu terlalu memuji Sakura-chan. Justru masakanmu lebih hebat dariku. Ayoo kita makan!"
Sakura dan Hinata pun menghabiskan makan siang bersama dengan ceria, mereka menghabiskan bekal itu dengan bercerita. Mereka berbagi cerita tentang kejadian yang mereka alami semalam. Sakura dan Hinata terkikik saat bercerita tentang sinetron yang mereka ikuti di televisi. Benar-benar makan siang yang berkualitas dengan sang sahabat, itulah pikiran Sakura.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, menandakan jam pelajaran di Konoha Gakuen telah berakhir. Siswi-siswi Konoha Gakuen telah bersiap-siap meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah. Begitu juga Sakura, dia terlihat sibuk menyimpan buku-buku pelajaran sekolahnya ke dalam tas beserta alat-alat tulisnya. Hinata yang sekelas dengan Sakura pun menghampirinya.
"Sakura-chan! Kamu sudah selesai?"
"Ahh, Hinata-chan. Sudah Hinata-chan."
"A-ayo! Kita pulang!"
Sakura dan Hinata pun meninggalkan ruang kelas bersama-sama. Sekilas, Sakura menatap bangku yang berada di pojok jendela belakang, lebih teoatnya sebelah bangkunya. Kosong. Tidak ada tanda-tanda bangku itu di isi oleh sang pemilik bangku. Lalu Sakura pun fokus memandang jalan di depannya. Sepanjang perjalanan Sakura memikirkan sesuatu., Hinata yang menyadarinya kemudian menanyainya.
"A-ada apa Sakura-chan? Sepertinya kamu memikirkan sesuatu."
"Maaf Hinata-chan! Aku cuma memikirkan Ino-pig yang tidak hadir beberapa hari ini!"
Sakura memanyunkan bibirnya dan Hinata hanya tertawa melihat sikap sahabatnya yang satu ini.
"Iya, Ino-chan bahkan tidak memberi kabar pada pihak sekolah. Apa sebaiknya hari minggu besok kita menjenguknya?"
"Boleh juga! Baiklah, jam berapa Hinata-chan? Kita bertemunya di apartemenku saja!"
"Oh! Ba-ik lah! Ugh! Kyaaa!"
Perkataan Hinata yang terhenti dan di gantikan dengan jeritan membuat Sakura terkejut, tiba-tiba mereka berdua dan orang-orang sekitarnya harus merasakan gempa yang kuat. Yang seolah-olah membuat mereka jatuh. Dengan sigap Sakura memegang kedua lengan Hinata dan menyuruhnya berjongkok.
"Hinata! Berjongkoklah!"
Hinata dan Sakura berjongkok sampai merasakan gempa itu mereda begitu juga orang-orang yang di sekitar mereka. Lalu mereka bangkit berdiri begitu juga orang-orang yang di sekitar mereka. Saat mereka sudah berdiri, mereka dapat melihat dan merasakan ketegangan wajah-wajah yang di sekitar mereka. Bahkan sekilas Sakura dapat menangkap percakapan mereka, padahal mereka semua tidak saling mengenal.
"Akhir-akhir ini Tokyo terlalu sering gempa."
"Ini sudah ke 10-kalinya dalam bulan ini."
"Benar, aku sampai tidak nyaman saat harus pergi dan pulang kerja."
"Sebaiknya , aku cepat pulang. Aku ingin segera bertemu dengan istri dan anak-anakku!"
Sakura dan Hinata saling memandang. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, lebih tepatnya mereka tidak punya jawaban untuk kejadian barusan. Hinata menatap Sakura dengan cemas, sedangkan Sakura tersenyum lebar untuk menenangkan Hinata. Hinata yang melihat senyum Sakura mau tidak mau ikut tersenyum juga.
"Aku telah menemukanmu.."
Mendengar suara asing, sontak Sakura berbalik melihat ke belakang kemudian celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan. Hinata heran melihat Sakura barusan hanya terdiam menunggu reaksi Sakura.
"Hinata, apakah kamu tadi mengatakan sesuatu?"
"A-apa? A-aku tidak mengatakan sesuatu Sakura-chan!"
"Benarkah? (mengernyit dahi) Aku merasa tadi ada yang memanggilku. Mungkin cuma perasaanku! Ayo pulang Hinata-chan!"
Tanpa menunggu jawaban Hinata, Sakura segera menarik tangan Hinata menuju stasiun. Sore itu Sakura tidak tahu, bahwa hari-hari selanjutnya tidak sama dengan hari yang di jalaninya sekarang.
Unknown Place
"Lady Lei, anda memanggilku?"
Seorang wanita yang sedang berdiri dekat jendela, menoleh kepada orang yang memanggilnya. Wanita ini memakai jubah yang berwarna putih kebiruan serta mempunyai rambut berwarna hijau tua yang lurus dan panjang. Wanita yang dipanggil Lady Lei itu tersenyum. Sedangkan pria itu hanya membungkuk menghormati wanita itu, dia memakai jubah berwarna hijau ketuaan , serta celana panjang berwarna putih beserta sepatu boot, kemudian memakai pelindung kepala. Jika mau melihat keselurahan , dikatakan dia memiliki paras yang tampan dengan kulit yang kecokelatan serta ada segores luka yang panjang menghiasi di wajah daerah sekitar hidungnya. Dia memakai satu anting di sebelah kirinya.
"Kamu sudah datang Iruka. Lihatlah bintang di luar. Mereka sudah mulai berkumpul. Kamu mengertikan?"
Iruka mendekati Lei dan melihat keluar jendela, pemandangan yang indah. Bintang-bintang yang bercahaya dan bertebaran di langit. Tidak dapat di hitung, cahayanya memancarkan terang menerangi malam.
"Ya, aku mengerti. Sesuai dengan perkataan mu Lady Lei. Hari ini tepat dimana kekuatan itu mulai mencari majikannya."
"Ya, aku bisa merasakan Mon Grawer yang di dalam diriku bergejolak. Seolah memanggil seseorang di dunia lain."
"Mon Grawer milik Lady Lei bergejolak?"
Lei mengangguk menjawab pertanyaan Iruka. Lalu dia memandang keluar lagi, melihat bintang-bintang itu berkumpul dengan kemilaunya, begitu juga Iruka memandang di luar dengan tatapan yang mengagumi bintang-bintang itu. Tiba-tiba sebuah bintang yang besar berwarna merah datang berkumpul bersama dengan bintang-bintang itu. Sinarnya yang terang berwarna merah menerangi bintang-bintang yang di sekitarnya seolah dia adalah induk dari semua bintang itu.
Lei dan Iruka terkejut saat memandangi itu semua. Kemudian dari belakang mereka keluar cahaya berwarna merah yang menyilaukan, sehingga membuat mereka berdua sadar akan keberadaan cahaya itu. Belum lagi rasa terkejut habis, tiba-tiba keluar cahaya dari tubuh Iruka, lebih tepatnya dari anting sebelah kiri yang di pakai iruka. Iruka menatap Lei intens. Dia mengharapkan jawaban dari Lei. Sepertinya Lei sudah tahu apa yang dipikirkan Iruka kemudian mengangguk kepadanya.
"Pemimpin Star of World sudah ditemukan. Kamu salah satu bintang yang termasuk di dalamnya Iruka. Lihatlah itu. Stone of Stars masih memancarkan sinarnya."
Iruka dan Lei memandang batu yang berbentuk segiempat itu memancarkan sinarnya dengan terang. Sinar berwarna merah sama seperti pemandangan yang mereka lihat di luar tadi. Batu yang terletak di meja itu memancarkan sinarnya tanpa padam bahkan semakin terang kemudian menembus langit , Lei dan iruka memandangi itu sampai sinar itu padam menembus langit malam yang kelam dan sunyi tersebut.
Matahari menunjukkan sinarnya yang paling benderang , menembus jendela kamar seorang gadis yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Gadis itu memeluk guling dengan erat seakan guling itu tidak boleh lepas dari pelukkannya. Sakura mulai merasakan sesuatu yang menusuk matanya. Dengan pelan Sakura membuka sebelah matanya dan sebelah tangannya mengucek-ngucek matanya. Kelihatan sekali gadis ini masih mengantuk, tetapi mengingat janjinya pada Hinata kemarin untuk menjenguk Ino, langsung membuatnya terduduk di ranjang. Dengan malas dia mengacak-ngacak rambut berwarna pinknya itu kemudian bangkit berdiri berjalan ke arah meja rias. Dia mengambil handphonenya dan melihat ada 1 pesan dari hinata.
From: Hinata
"Sakura-chan, jam 10 nanti aku akan tiba di apartemenmu."
Sakura melihat jam dinding di kamarnya dengan tatapan mengantuk, masih pukul 9. Berarti dia masih punya waktu 1 jam untuk bersiap-siap dan sarapan di apartemennya sendiri. Sakura meletakkan handphonenya dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang semangat. Lalu tidak lama kemudian Sakura telah selesai mandi dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya.
"Aku telah menemukanmu.. cepat datang lah ke Other World."
Lagi-lagi suara itu! Sakura yang tidak menyembunyikan keterkejutannya langsung melihat kiri-kanan, bahkan dia tidak sengaja menjatuhkan pisau yang terletak di samping mejanya. Sakura memandang sekitarnya dengan penuh ketakutan, dan dia mengeluarkan keringat dingin. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku hanya berhalusinasi. Gila. Hahaha. Mungkin aku kecapekan akhir-akhir ini."
Sakura memutuskan fokus membuat sarapannya dan melupakan kejadian barusan. Waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi, sesuai dengan janjinya, Hinata datang menemui Sakura di apartemennya.
"Sakura-chan!"
"Hei, kamu sudah datang. Tepat pukul 10 pagi. Sudah sarapan Hinata-chan?"
"Su-sudah! Bagaimana denganmu ?"
"Hihihi, kamu selalu saja gagap. Lucu. Sudah Hinata-chan. Berangkat kita ke rumah Ino ?"
"Uhm. Ayo."
"Ino hilang? Obasan sudah melaporkan ke polisi?" Tanya Sakura sakarstik.
Hinata dan Sakura tidak percaya, baru saja sampai di rumah Ino. Ibunya Ino mengatakan Ino menghilang sudah 3 hari dan sedang dalam pencarian polisi. Sakura dan Hinata shock dengan hilangnya Ino, mereka tidak menyangka Ino hilang tanpa kabar, bahkan telah membuat kedua orang tuanya khawatir. Wanita setengah baya itu memandang kedua gadis itu dengan tatapan sedih seolah dia tidak mempunyai semangat hidup lagi.
"Obasan sudah tidak punya ide lagi kemana Ino pergi, bahkan Obasan bersama Ojisan telah mencarinya di rumah pacarnya, Takeshi."
"Ke-kenapa Obasan tidak menghubungi Sakura atau aku?" Tanya Hinata gagap sekaligus khawatir.
"Karena Obasan tidak tahu nomor handphone dan nomor rumah kalian berdua."
Sakura dan Hinata saling memandang setelah mendengar jawaban wanita setengah baya itu.
"Baiklah Obasan, kami akan coba mencari Ino, jika ada informasi kami akan beritahu Obasan dan Ojisan." Jawab Sakura dengan nada tegas yang kemudian di angguki iya oleh Hinata.
Sesudah dari rumah Ino, Hinata dan Sakura berjalan berdua , mereka masing-masing memikirkan kemana perginya Ino.
"Ino, aku tidak menyangka dia akan berbuat begitu."
"Yaaa, Ino mungkin punya alasan sendiri Hinata-chan! Sudah jangan dipikirkan. Ayo pulang Hinata-chan!"
Sakura dan Hinata berjalan melewati arah sungai sambil menikmati angin di sore hari. Sakura dan Hinata melihat tiga anak kecil yang sedang bermain bola di dekat sungai itu, salah satu anak itu menendang bola itu ke arah sungai. "Akh!" pekik salah satu anak kecil itu.
"Gimana ini? Bolanya!" Seru salah satu anak itu.
Kedua gadis itu saling berpandangan ,kemudian Sakura mendekati mereka di ikuti Hinata di belakangnya dan menenangkan mereka.
"Onee-chan akan mengambil bola itu untuk kalian!"
Sakura segera berlari ke arah bola itu, kemudian tiba-tiba mereka merasakan gempa lagi. Anak-anak yang ketakutan akan gempa itu langsung lari meninggalkan Sakura dan Hinata.
"EH! Tunggu!" Teriak Hinata keras.
Terlambat. Anak-anak itu sudah tidak peduli lagi dengan Sakura dan Hinata, mereka sudah berlari meninggalkan kedua gadis itu. Tiba-tiba Sakura merasa di tarik oleh pusaran air di sungai itu. Sakura panik dan tidak tahu harus berbuat apa ,sampai pusaran air itu telah menelan seluruh tubuhnya, gadis itu hanya bisa menjerit histeris.
"Kyaaaa!"
"Sa-sakura-chan!"
Tanpa pikir panjang Hinata pun meloncat untuk menyelamatkan Sakura, tetapi apa daya Hinata juga tertelan oleh pusaran air itu. Mereka berdua menghilang di tepi sungai kota Tokyo yang sedang gempa tanpa ada orang yang tahu.
West Knight Area, Knight Empire, Other World
Terdengar suara derap kuda yang sedang berlari dengan kecepatan sedang mengitari sekitarnya. Melewati pepohonan kehijauan yang rindang, suara burung-burung yang berkicau serta matahari yang bersinar dengan terang. Pria itu kelihatan santai dan tenang sambil memperhatikan sekelilingnya. Mata hazelnya menelusuri hutan di bagian West Knight Area ini, seperti yang bisa di lihat. Pria yang mempunyai rambut warna semerah darah itu sedang berpatroli menjalankan tugasnya. Sebagai Komandan Red Knight , dia harus bertanggung jawab bagian tugasnya mengawasi wilayah patrolinya hari ini. Lalu pria itu menghentikan kudanya dengan cekatan dan turun dari kuda itu. Kemudian dia mengikat kuda miliknya ke salah satu pohon di hutan ini.
"Sasori!"
Sasori menoleh ke belakang dan mengangkat sedikit sudut bibirnya melihat seseorang yang memanggilnya.
"Shikamaru. Kamu sudah selesai di sebelah sana?" Tanya Sasori sambil tersenyum kecut.
"Tentu saja. Bagaimana denganmu? Sepertinya kamu tidak kesulitan?" Balas Shikamaru dengan nada yang ketus.
"Ya. Daerahku aman. Tetapi bagian area sungai belum ku cek, dan sekarang aku segera menuju ke sana." Kata Sasori dengan nada yang tenang.
"Anak buah dan tangan kananmu si Yura kemana?" Tanya Shikamaru dengan nada yang malas. "Tenda. Aku menyuruh mereka balik duluan untuk membuat laporan," celetuk Sasori.
"Heh! Memang Komandan Red Knight tidak bisa di remehkan. Patroli sendirian. Akasuna no Sasori memang pantas jadi komandan dan Knight terbaik di Knight Empire," celetuk Shikamaru dengan nada yang di buat-buat.
"Ucapan itu sebaiknya untuk kamu Komandan Yellow Knight , utusan dari Shinobi Kingdom. Ckck. Jangan bandingkan aku dengan otak jenius mu, Shikamaru Nara." Balas Sasori dengan tenang.
"Ya. Terserahlah. Kutemani kamu ke daerah sungai itu." Jawab Shikamaru dengan nada yang malas karena kalah berdebat dengan Sasori.
Sasori dan Shikamaru pun berjalan bersama menuju arah sungai. Sementara itu di daerah sungai, seorang gadis merasa tubuhnya basah dan kedinginan. Dengan pelan dia membuka matanya, yang terlihat duluan saat membuka matanya adalah pepohonan yang rindang, burung-burung yang terbang melintasi udara dan awan-awan yang di langit biru. Gadis itu menyadari dirinya ada di sungai dan berusaha bangkit ke tepi sungai. Saat dia melihat sekelilingnya, dia keheranan, bukan lagi tepi sungai kota Tokyo, melainkan di sebuah hutan. Dia pun bergumam, "Aku..dimana?"
Belum habis rasa terkejutnya, tiba-tiba sebilah pedang merah di arahkan ke belakang leher gadis itu sambil berteriak, "Katakan identitasmu penyusup! Sebutkan nama dan pangkatmu! Kamu telah memasuki wilayah Knight Empire!"
Gadis itu terkejut saat melihat pedang berwarna merah di sebelah lehernya dan segera menoleh ke belakang. Dia melihat dua orang pria yang sedang menangkap basah dirinya atau juga bisa disebut penyusup bagi dua pria itu, tetapi bagi gadis itu berharap ini semuanya adalah lelucon.
"Pangkat? Nama? Knight? Empire?"
Gadis itu menatap pria berambut merah dan pria berambut nanas yang di sebelahnya dengan pandangan yang terkejut dan sulit untuk di jelaskan bahkan untuk dirinya sendiri di situasi ini. Sedangkan pria berrambut merah itu, Sasori masih terus mengarahkan pedangnya ke leher gadis itu seolah dia harus menangkap gadis itu ke tendanya, Shikamaru juga hanya memandang gadis yang mempunyai warna rambut soft pink yang terduduk itu dengan pandangan sengit. Mereka bertiga saling memandang dengan artian berbeda dan gadis seolah menuntut jawaban bagi dirinya untuk situasi yang di alaminya sekarang.
-Continue-
Mon Grawer : Gerbang (Kekuatan Misterius) , Mon dalam bahasa Jepang adalah Gerbang.
Don't like don't read, I just write what I have imagined.
Receive positive review and decline anything I don't think important for this story.
Note : Ada beberapa karakter buatan pengarang seperti Lei, jika ada yang berminat nyumbang karakter juga boleh. _^^_ Thank you.
Thank you yang sudah follow : * 2nd princhass, * Aozora Straw, * SANG GAGAK HITAM
Thank you yang sudah fav : * Aozora Straw , * SANG GAGAK HITAM
-Balasan review-
2nd princhass : iya, bisa juga bilang prolog. Sudah nulis some dialog of story. _^^_ Happy Reading.
Aozora Straw : Sudah di update, semoga tidak mengecewakan, and Happy Reading. _^^_
SANG GAGAK HITAM : Jawabannya tidak bisa update cepat dan juga soalnya ide memang sudah dari masa SMP, makanya ini coba realisasikan dengan karakter Naruto dan juga ada beberapa karakter lain yang berasal dari saya. Soal pair Naruto-Hinata pasti di munculkan. Semoga tidak mengecewakan. Happy reading. _^^_
Blue-senpai : Ini sudah di update. Semoga tidak mengecewakan. _^^_
Arigatou minna! At last , Happy reading!
