Prev Chap 2

"A-apa salahnya aku memanggilmu Naruto-kun ?" Tanya Hinata lagi.

"Hime. Kamu tahu panggilan akhir –kun itu hanya berlaku bagi seorang wanita memanggil suaminya." Jelas Naruto dengan nada yang menggoda, karena sudah pasti Hinata tidak tahu peraturan pemanggilan di dunia ini.

'A-APA!" Pekik Hinata.

"Sudahlah akui saja bahwa kamu memang jatuh cinta padaku. Aku bersedia menikahimu di sini sekarang." Goda Naruto yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Ya. Begitu juga bibir Naruto semakin dekat dengan bibir Hinata. Sesaat Hinata dan Naruto saling memandang. Lama dan dalam. Hinata seolah terhanyut dengan tatapan Naruto, sampai Naruto mulai memeluknya untuk makin dekat padanya. Naruto hanya mengangkat sudut bibirnya , dia ingin tahu reaksi Hinata bagaimana jika dia mencium gadis itu.

Tetapi sebelum kedua bibir itu saling bertaut, Hinata yang sadar langsung mendorong Naruto dengan keras dan berteriak, "TI-TIDAK! JANGAN DEKATI AKU!" dan ya dorongan gadis itu sukses membuat Naruto jatuh dari pohon kali ini kemudian mencium tanah.


Naruto © Masashi Kishimoto

Star of Worlds © Namikaze Lily

Pair: Sasori-Sakura, Naruto-Hinata, dan yang lain berjalan dengan seiring cerita.

Warning : AU, OOC, OC, chara death, dan lain-lain yang luput dari sang pengarang. Mohon di maklumi. Arigatou. (Ada karakter yang berasal dari pengarang.)

For safety , Rate : M

Happy Reading All _^^_


Chapter 3

Saat ini Sakura mengikuti Sasori dari belakang. Satu jam yang lalu dia baru terlibat percakapan dengan pria ini dan sekarang dia mengikuti pria ini pulang menuju mansionnya. Sakura bisa melihat tatapan dari prajurit-prajurit Knight yang masih bertugas di sekitar jalan ini. Sakura menunduk malu dan tidak berani melihat ke arah mereka yang membicarakan dirinya dan Sasori, sedangkan Sasori kelihatan tenang-tenang saja. Bahkan dia sepertinya dia tidak peduli dengan tatapan-tatapan aneh yang di layangkan oleh para prajurit-prajurit itu. Tiba-tiba langkah Sasori terhenti dan berbalik melihat Sakura. Dia melihat gadis itu tertunduk dan jalan terus tanpa tahu dia telah berhenti di hadapannya.

"Sakura," panggil Sasori lembut. Sontak Sakura mendongak dan melihat Sasori yang sudah berdiri di hadapannya. Sakura kaget dan mendongak melihat Sasori yang sudah menatapnya. Wajahnya dengan wajah Sasori begitu dekat. Nafas Sakura sesaat tercekat dan tanpa sadar dia menelan ludah. Dia belum pernah sedekat ini dengan Sasori sebelumnya dan rona merah menjalar di kedua pipinya. Kemudian Sasori menjauhkan dirinya sedikit dari Sakura.

"A-apa Sasori?" Tanya Sakura dengan terbata-bata. Ahh. Entah sejak kapan Sakura menjadi gagap seperti Hinata. Sakura tidak mengerti tetapi itu yang terjadi pada dirinya sekarang. Belum pernah dia segagap ini di hadapan seorang pria sebelumnya. Tapi ini hanyalah seorang Sasori. Akasuna no Sasori berhasil membuatnya gagap dalam pertemuan mereka yang masih belum menginjak sehari. Benar-benar hal yang langka buat Sakura.

"Aku hanya ingin berkata. Jika nanti pulang ke rumahku jangan kaget saja," terang Sasori kepada Sakura. "Ke-kenapa begitu?" Tanya Sakura dengan nada yang gagap lagi.

"I-iyaaa. Kamu akan tahu nanti," jelas Sasori dengan nada yang terkesan malu-malu. Sakura hanya mengangguk iya perkataan Sasori barusan dan kemudian Sasori berjalan lagi. Sakura pun mengikuti pria itu di belakangnya. Tetapi pria itu kemudian menarik tangan Sakura untuk berjalan di sampingnya, gadis itu kaget tetapi diam saja menerima perlakuan Sasori. Hatinya berdebar-debar dengan tidak jelas dan dia berharap Sasori tidak dapat mendengar debaran jantungnya sekarang.

Lalu setelah sekian lama berjalan, di depan mereka terlihatlah sebuah gerbang yang sangat besar. Gerbang itu di ukir sedemikian rupa dan ada dua prajurit Black Knight yang berjaga di satu sisi yang berbeda, kiri dan kanan. Obor api yang menyala-nyala di sekitar dinding dekat gerbang itu pun menjadi penerangan kota itu di malam hari. Sakura jadi mengingat penjaranya yang menggunakan obor api sebagai penerangan juga. Benar-benar masih kuno pikir Sakura dalam hati. Sasori pun menghentikan langkahnya dan menatap Sakura.

"Sakura, kita sudah sampai di capital Knight Empire, GradKnight City." Kata Sasori.

"Uhm. Apakah mansionmu ada di dalam kota ini Sasori?" Tanya Sakura dengan nada yang sedikit heran.

"Iya. Tentu saja Sakura. Setiap komandan Knight Empire harus tinggal di sini. Begitu juga Queen Bella, pemimpin Knight Empire. Selamat datang di ibukota dan pusat pemerintahan Knight Empire Sakura." Jelas Sasori kepada Sakura.

"Benarkah aku tidak apa-apa tinggal di kota ini Sasori?" Tanya Sakura lagi dengan nada yang sedikit takut setelah penjelasan Sasori tadi. Sakura tidak menyangka dia akan berada di sini. GradKnight City. Ibukota sekaligas pusat pemerintahan Knight Empire.

"Tidak apa-apa. Tenang saja. Ayo kita masuk. Tapi maaf ya. Hari ini aku tidak dapat membawamu keliling kota ini. Mungkin lain hari aku bisa, karena aku harus memeriksa laporan yang dikerjakan oleh tangan kananku," jelas Sasori dengan nada yang menyesal.

"Ahh. Tidak apa-apa Sasori." Geleng Sakura pelan sambil tersenyum simpul.

Lalu mereka berjalan memasuki GradKnight City. Dua penjaga itu pun menyapa Sasori.

"Lord Sasori, selamat datang ! Anda telah bekerja keras menyelesaikan tugas anda!" Sapa prajurit Black Knight itu kepada Sasori sambil menundukkan kepala menghormati dia dan Sakura berdiri di sampingnya. Begitu juga dengan prajurit Black Knight yang satunya lagi menundukkan kepalanya.

"Terima kasih. Kalian juga telah bekerja keras hari ini. Jika hari ini kalian yang berpatroli di wilayah ini, berarti Kakashi ada di Mansion Hatake?" Tanya Sasori pada mereka berdua.

"Ya Lord Sasori. Lord Kakashi ada di mansionnya , Mansion Hatake." Jawab salah satu dari mereka.

"Baiklah. Terima kasih. Aku akan mengunjunginya nanti," kata Sasori tersenyum simpul.

"Sama-sama Lord Sasori!" Jawab dua prajurit Black Knight itu dengan kompak.

Kemudian Sasori pun melangkah memasuki gerbang kota GradKnight City, sewaktu Sakura mau menyusulnya. Gadis itu malah di hadang oleh kedua prajurit Black Knight tadi.

"Maaf anda tidak boleh memasuki kota ini. Silakan tunjukkan kartu identitas anda. Sebutkan nama, pangkat, dan kerajaan anda." Tanya salah satu dari mereka.

"Eh?" Jawab Sakura bingung. Sasori yang mendengar percakapan itu dari belakang langsung berbalik melindungi Sakura dan menghadapi kedua pajurit Black Knight itu.

"Ehm. Sebaiknya kalian jangan menganggu tamuku. Dia kehilangan kartu identitasnya. Itu sebabnya aku langsung menjemputnya dari perbatasan tadi," bela dan bohong Sasori kepada mereka berdua.

Sakura yang terperangah oleh sikap kebohongan Sasori untuk membelanya sontak memandangnya dengan wajah yang lega. "Dia menolongku lagi. Kamisama, terima kasih engkau telah membuangku ke orang yang tepat. Jika tidak, aku pasti di bunuh di dunia asing ini," keluh Sakura dalam hati sambil menelan ludah.

"Ma-maafkan kami Lord Sasori! Kami tidak tahu Lady ini adalah tamu anda! Maafkan kelancangan kami berdua!" Jawab salah satu dari mereka berdua sambil membungkukkan badan dalam-dalam kali ini sebagai permohonan maaf mereka terhadap Sasori dan Sakura.

"Tidak apa-apa. Terima kasih banyak." Jawab Sasori kali ini dengan nada yang tenang. "Ayo Sakura!" Ajak Sasori kepada Sakura yang masih memandangi kedua prajurit Black Knight itu yang masih membungkukkan badan meminta maaf kepadanya dan Sasori. Lalu Sakura dan Sasori pun berjalan meninggalkan kedua prajurit itu kemudian menuju ke mansion Sasori, Mansion Akasuna.

Sakura takjub dengan pemandangan kota ini, rupaya di dalam kota ini sudah ada penerangan lampu bukan obor api yang ada seperti di penjara dan di luar gerbang tadi. Malam yang sangat indah, penduduk GradKnight City masih saja ada yang berkeliaran dan terkesan ramai. Sakura harus meralat pemikirannya bahwa dunia ini kuno, setidaknya dunia asing ini juga modern. Setelah berjalan sedikit mengitari GradKnight City ini, akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah yang besar. Sakura shock saat melihat kebesaran rumah itu. Bukan hanya itu, ada dua orang prajurit Red Knight yang berjaga di sekitar rumah itu dan rumah ini mungkin di desain sesuai dengan pangkat Sasori yang menjadi komandan Red Knight di Knight Empire. Buktinya atap rumah ini bercat warna merah dan di depan rumah itu ada papan besi berwarna merah yang terukir huruf 'Mansion Akasuna.'

Ya, mansion milik Akasuna no Sasori. Sekarang Sakura berdiri melongo bersama Sasori yang sudah tahu reaksi gadis ini ketika gadis ini akan menginjak mansionnya. Sasori hanya bisa membuang muka karena sedikit malu melihat warna rumahnya yang mencolok itu. "Ehm,ehm!" Dehem Sasori keras dengan sengaja untuk menyadarkan gadis itu yang masih melongo di depan Mansionnya.

"Maaf Sasori. Aku jadi mengerti perkataanmu tadi setelah melihat ini," kata Sakura dengan nada yang menyesal.

"Tidak apa-apa Sakura. Ini belum apa-apa lagi. Kamu belum tahu penghuni rumah ku seperti apa," kata Sasori tenang.

Sasori pun mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Sakura hanya berdiri di belakangnya memperhatikan pria itu yang masih ngetuk-ngetuk pintu rumahnya.

'Klek' terdengar suara pintu yang terbuka dan muncullah seorang pria paruh baya dan mempunyai poni panjang sebelah kanan. Begitu melihat Sasori, pria itu langsung berhambur memeluk Sasori dan berteriak, "Tuan muda Sasoriiiiiiii."

"Ugh! Yura! Jangan berlebihan! Tadi pagi kita baru bertemu!" Kata Sasori setengah berteriak sambil berusaha melepaskan pelukkan Yura. Sakura hanya berkeringat dingin melihat tingkah Yura yang masih berusaha memeluk Sasori.

"Tapi aku sangat-sangat merindukan kamu tuan muda," keluh Yura dengan nada yang memelas.

"Jangan berlebihan Yura. Tuan muda Sasori sudah besar dan bukan lagi baby yang kamu asuh," kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka bertiga. Seorang pria yang muda daripada Yura dan hampir sebaya dengan Sasori bisa juga memang sebaya dengan Sasori. Pria ini mempunyai rambut kuning kecokelatan serta mempunyai warna mata yang indah, hitam kecokelatan dan lagi tingginya hampir menyamai Sasori. Dia bersender pada pintu sambil menyilangkan kedua tangannya. Sakura hanya bisa melihat ketiga pria ini dengan tatapan yang takjub.

"Kent!" Panggil Sasori ceria yang langsung melepaskan pelukan Yura dan menghampiri pria itu. Yura pura-pura memasang muka sedih saat Sasori memilih Kent daripada dirinya. Sakura hanya tertawa dengan kecut melihat tingkah Yura yang berlebihan itu.

"Bagaimana patrolimu di daerah sungai tadi tuan muda?" Tanya Kent tersenyum.

"Ya. Aku menemukan seorang gadis dan sementara dia tinggal di sini bersama kita," Jelas Sasori sambil tersenyum manis.

"APA?!" Teriak Yura dan Kent secara bersamaan. "Tuan muda membawa seorang gadis pulang?!" Kata Yura dengan nada yang histeris. "Di mana?! Di mana gadis itu?!" Teriak Kent sambil melihat kiri kanan. "Astaga! Aku harus memasak kare istimewa malam ini! Ini patut di rayakan!" Teriak Yura heboh lagi. Ketika melihat Sakura yang berdiri tidak jauh dari belakang Sasori, mereka berdua langsung berteriak , "UOO! Benaran seorang gadis!" Pekik mereka berdua heboh. Sasori hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yura dan Kent yang heboh, sedangkan Sakura tambah berkeringat dingin. Sebenarnya bagaimana kehidupan penghuni rumah ini semua. Sasori pun melihat ke arah Sakura dan memanggilnya kemari dengan kibasan tangan.

"Sakura kenalkan, ini Yura pengasuh sekaligus tangan kananku. Lalu yang satunya lagi Kent juga pengawal sekaligus sekretarisku." Terang Sasori kepada Sakura.

Sakura pun berjabat tangan dengan Yura dan Kent sambil bergantian dan berkata, "Haruno Sakura, mohon bantuannya."

"Ya. Nama saya Yura. Jika ada yang mau ditanyakan silakan bertanya pada aku," jawab Yura dengan tersenyum yang kemudian langsung dipotong oleh Kent, "Atau padaku , Kent. Salam kenal Sakura."

"Woe. Woe. Acara perkenalan selesai. Yura! Antarkan Sakura ke ruangannya dan Kent segera ke ruangan kerjaku!" Kilah Sasori yang sedikit jengkel melihat tingkah pengasuh dan pengawalnya ini.

"Ba-baik tuan muda Sasori!" jawab mereka kompak dan Sakura hanya terkekeh saja melihat betapa penurutnya Kent dan Yura. Lalu Sasori tersenyum pada Sakura,sedangkan Kent dan Yura melirik tuan mudanya dengan penuh arti.

"Selamat datang di kediaman Akasuna, Sakura. Ku harap kamu menikmatinya," kata Sasori lembut kepada Sakura. "Arigatou Sasori," balas Sakura tersenyum tulus.


Unknown Place

"Pria itu telah kutemukan my Lord," kata seorang pria dengan nada yang pelan. Pria yang di ajak bicara itu hanya diam memandang keluar jendela. Malam yang tenang dan bulan purnama menampakkan dirinya. "Hn. Jika sudah begitu lakukan pencarian dan ingat. Jangan sampai Lei menemukan pria itu duluan." Kata pria itu duluan.

"Baik my Lord. Aku akan segera laksanakan tugasmu." Jawab pria yang tadi dan kemudian menghilang dengan sekejap. Lalu pria yang itu masih memandang di luar jendela sambil bergumam, "Sudah 210 tahun aku menantikan saat-saat ini. Impianku menguasai dunia ini.."


Sementara itu di Hidden Forest, Naruto meringis kesakitan karena di dorong jatuh dari pohon oleh Hinata. "Aduh-duh! Sakit himeee," ringis Naruto sambil mengelus-elus kepalanya. Hinata yang dari atas melihat Naruto meringis kesakitan langsung terkejut dan berkata, "Ma-maafkan aku Naruto-kun!"

Naruto pun mendongak ke atas pohon dan melihat ke arah Hinata. Dia memasang senyum yang lebar dan berteriak, "Tidak apa-apa himee, di lempar ke sungai pun aku rela asalkan kamu yang melakukannya!"

Hinata bergidik mendengar jawaban Naruto. Dia berpikir salah besar dia meminta maaf pada Naruto barusan. Tiba-tiba Hinata menyadari dia ada di atas pohon. Hinata gemetaran. Wajar seumur hidupnya dia tidak pernah berada di atas pohon dan ketinggiannya yang..ya sangat tinggi hingga membuat dia gemetaran. "Bagaimana ini? Aku ketakutan. Aku tidak bisa turun dari pohon setinggi ini." Keluh Hinata dalam hati.

Naruto yang melihat tubuh Hinata gemetaran langsung lompat ke atas pohon dan duduk di samping Hinata. Sedangkan Hinata kaget melihat Naruto yang dapat sekejap lompat sampai di hadapannya. Dia tidak pernah melihat manusia melompat sekali dalam ketinggian segitu. Naruto melihat mulut Hinata yang terbelak hanya cengar-cengir.

"Kaget hime?" Tanya Naruto lembut. Sontak Hinata mengangguk iya dan melirih, "A-aku baru pertama kali melihat manusia melompat setinggi itu..uhm."

"Benarkah itu?! Jadi aku adalah yang pertama yang kamu lihat?" Tanya Naruto semangat lagi dan Hinata mengangguk iya lagi. Saat Naruto mendekatinya lagi, Hinata langsung berkata, "Ja-jangan mendekat Naruto-kun!"

"Kenapa? Aku melihat kamu ketakutan begitu. Aku hanya ingin menolongmu turun dari pohon ini," jelas Naruto dengan nada yang keheranan melihat penolakan Hinata.

"E-eh! Aku bisa turun sendiri!" Teriak Hinata dengan nada yang ketus. Naruto heran melihat gadis ini, sudah jelas ketakutan karena ketinggian pohon ini tapi menolak bantuan Naruto. "Yakin hime?" Tanya Naruto sekali lagi. Hinata langsung mengangguk-angguk iya dengan cepat dan Naruto menyenderkan badannya di pohon itu sambil mendongak ke atas.

"Tapi kenapa kamu gemetaran gitu hime?" Tanya Naruto yang tepat sasaran dan membuat Hinata makin gemetaran. Hinata yang tidak bisa lagi menjaga keseimbangan langsung terjatuh.

"Kyaa!" Teriak Hinata yang berpikir dirinya pasti mencium tanah seperti dirinya mendorong Naruto tadi. Tetapi sepertinya dia harus meralat pemikirannya barusan. Karena Naruto yang melihat Hinata yang terjatuh telah melompat dan menangkap gadis itu dengan kedua tangannya. Naruto pun menginjak tanah dengan kedua kakinya dengan lembut sambil menggendong Hinata ala pengantin. Hinata yang merasa dirinya di gendong seseorang pun membuka matanya dan terlihatlah Naruto yang telah tersenyum padanya.

"Kamu harus diet hime. Ternyata kamu berat juga," bohong Naruto kepada Hinata. Lalu cubitan pun berhasil di layangkan ke dada Naruto. "Aa-aduh! Ittai hime!" Pekik Naruto kesakitan dan Hinata hanya tersenyum melihat tingkah Naruto yang kesakitan. "Arigatou Naruto-kun," kata Hinata dalam hatinya kemudian tidak lama gadis itu tertidur di dalam gendongan Naruto. Naruto yang melihat Hinata ketiduran dalam gendongannya hanya tersenyum kecil dan bergumam, "Gadis yang merepotkan."


Akasuna Mansion

"Nona Sakura, silakan pakai kamar ini. Jika ada yang di butuhkan, katakan saja pada aku," kata Yura pada Sakura yang membawa Sakura pada sebuah kamar yang besar lebih daripda kamar apartemennya di Jepang. Sakura takjub melihat kamar itu yang sangat bersih dan tidak mencolok seperti atap rumah ini. Setidaknya dalam mansion ini ada normalnya pikir Sakura.

"Apakah aku tidak apa-apa menempati kamar ini? Sepertinya ini kamar yang besar sekali," tanya Sakura hati-hati.

"Bicara apa anda nona. Ini adalah kamar yang biasa di gunakan tamu tuan muda Sasori jika menginap di sini. Kamarku dan kamar Kent juga sebesar ini." Jelas Yura dengan ramah.

"Apa? Kamar ini adalah kamar tamu? Gila. Melebihi apartemenku!" Teriak Sakura kaget saat mengetahui ini adalah kamar untuk para tamu sedangkan Yura mengangguk-angguk iya dengan semangat.

"Sudahlah nona Sakura. Anggap saja seperti rumah sendiri. Di sini penghuninya cuma tuan muda Sasori beserta aku dan Kent yang menjadi pengawalnya sejak dari kecil," jelas Yura menenangkan Sakura yang masih panik melihat kamar sebesar ini.

"Sasori tinggal sendirian? Bagaimana dengan keluarganya?" Tanya Sakura yang heran mendengar penuturan Yura barusan.

"Sekarang tuan muda hanya mempunyai seorang nenek di Kugutsu Kingdom. Ayah tuan muda sudah meninggal sejak tuan muda masih kecil karena perang sedangkan ibunya tuan muda meninggal sewaktu melahirkan tuan muda. Aku adalah pengasuh sekaligus pengawal tuan muda, sebelumnya aku adalah pengawal khusus untuk ayah tuan muda tapi semenjak ibu tuan muda meninggal, aku yang mengasuh tuan muda sampai usianya 22 sekarang. Kemudian Kent sebaya dengan tuan muda. Dia dibawa oleh ayah tuan muda saat usianya 7 tahun dan di latih menjadi pengawal tuan muda juga. Itu sebabnya kami hanya tinggal bertiga." Jawab Yura dengan ramah. Sakura terkejut dengan kehidupan Sasori dan merasa bersalah telah bertanya tentang keluarga Sasori.

"Maaf. Aku jadi bertanya hal yang tidak enak. Seharusnya aku bertanya langsung pada Sasori.." keluh Sakura nyesal. Yura pun menepuk-nepuk pelan kepala gadis itu.

"Tidak apa-apa nona. Biar ku kasih tahu rahasia satu lagi pada nona." Kata Yura berbisik di telinga Sakura dan itu membuat Sakura menjadi penasaran.

"A-apa itu?" Tanya Sakura pelan dan penasaran. Yura tersenyum penuh arti dan menjawab dengan pelan, "Untuk pertama kalinya tuan muda membawa seorang gadis pulang ke rumahnya kecuali neneknya Chiyo yang menginap di sini."

Ya. Mendengar perkataan Yura itu , Sakura kali ini tidak dapat menahan rona kemerahan yang menjalar di wajahnya. Sakura merasa mendapat perlakuan istimewa secara tidak langsung oleh Akasuna no Sasori. Sakura harus mengakui pria itu memang sangat baik hati untuk seorang asing seperti dirinya. Diam-diam Sakura tersenyum memikirkan pria itu dan hal itu tidak luput dari pengamatan Yura.

Malam harinya, mereka berempat duduk di meja makan. Sasori duduk di tengah selaku kepala keluarga, Kent dan Yura duduk berdampingan di sebelah kanan Sasori dan Sakura di sebelah kirinya Sasori. Mereka berempat menikmati masakan yang di buat oleh Yura. Sasori melihat Sakura menyantap makanan dengan tenang dan bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, membuat pria itu ingin bertanya-tanya.

"Sakura. Bagaimana masakan Yura? Apakah cocok dengan perutmu?" Tanya Sasori.

"Eh? Iya. Sangat enak malahan. Aku tidak pernah menyantap makanan seenak ini. Terima kasih Sasori, Yura-san." Jawab Sakura tersenyum simpul.

"Yura-san?" Jawab Sasori , Kent dan Yura secara bersamaan dan menatap Sakura dengan tatapan horror. Sakura kaget dengan pernyataan mereka dan merasa aneh dengan tatapan mereka bertiga. "Ke-kenapa? Kenapa kalian memandangku aneh begitu?" Tanya Sakura sedikit panik.

"Wew. Sepertinya aku lupa memberitahumu aturan pemanggilan di dunia ini Sakura," keluh Sasori pelan sedangkan Yura, Kent, dan Sakura kaget dengan pernyataan Sasori. Yura dan Kent heran apa maksud perkataan tuan muda barusan dan Sakura? Gadis itu hanya heran dengan soal pemanggilan di dunia ini.

"Apa maksud tuan muda dengan perkataan itu? Memang Sakura berasal dari mana sampai dia tidak tahu soal pemanggilan di dunia ini," tanya Kent hati-hati dengan di ikuti anggukan Yura. Sasori dan Sakura saling menatap, Sakura menunjukkan wajah yang tidak enak mengenai identitasnya. Tapi Sasori mengangguk padanya supaya gadis itu percaya pada dia.

"Huff. Begini, aku akan ceritakan pada kalian tapi kalian harus bersumpah padaku bahwa hal ini tidak boleh bocor kecuali aku yang menceritakannya pada orang tertentu." Tegas Sasori. Mendengar nada yang tegas dari tuan muda mereka. Kent dan Yura pun bersikap serius.

"Kami bersumpah tuan muda. Segala sesuatu yang dikatakan olehmu adalah mutlak bagi kami," sumpah Kent dan Yura. Sasori pun mengangguk-angguk seolah puas memiliki anak buah yang setia kepadanya. Sakura terperangah melihat betapa setianya Kent dan Yura terhadap Sasori, mungkin yang dikatakan jaman kerajaan-kerajaan yang kayak sejarah itu begini ya, mikir Sakura.

Sasori pun menceritakan perihal Sakura yang datang dari dunia lain, pertemuannya dengan Sasori dari awal sampai sekarang, dia berada di sini bersama mereka. Yura dan Kent tidak percaya ada hal seperti ini. Sesekali mereka mengangguk dan memasang tampang serius mendengar cerita Sasori.

"Jadi begitulah. Itu sebabnya aku menolong Sakura dan menyuruhnya tinggal di sini sampai dia menemukan cara untuk kembali ke dunianya," terang Sasori di akhir ceritanya.

"Wow! Aku tidak menyangka kamu berasal dari dunia yang berbeda dari kami. Pantas saja kamu tidak mengerti pemanggilan di dunia ini," kata Kent dengan takjub.

"Ya. Aku tidak menyangka nona Sakura berasal dari Kerajaan Tokyo dan hanyalah seorang murid akademi. Usia anda berapa nona Sakura?" Tanya Yura sopan.

"Bukan kerajaan Tokyo, itu hanyalah nama capital di dunia ku. Nama negaraku adalah Jepang. Usia ku 17 tahun." Terang Sakura kepada Yura.

"Negara?" Kompak Kent dan Yura sedangkan Sasori hanya tertegun dengan sebutan negara.

"Kenapa sepertinya kalian kaget sekali? Ehm. Mungkin arti bahasa kalian di sini adalah kerajaan." Terang Sakura sekaligus agak bingung dengan sikap mereka bertiga.

"Oh. Begitu rupayaaa," celetuk Kent cepat. Yura dan Sasori pun saling memandang.

"Tuan muda, bagaimana dengan kartu identitas nona Sakura? Jika kehilangan kartu alasannya tetap saja dia harus minta pengganti dari kerajaan asalnya, sedangkan nona Sakura berasal dari dunia lain." Tanya Yura kepada Sasori.

"Aku sudah memikirkan caranya, itu sebabnya besok pagi aku akan singgah ke mansion Kakashi," jawab Sasori dengan tenang.

"Tuan muda cepat dalam bertindak. Beruntung kamu Sakura. Kamu bertemu dengan tuan muda Sasori," celetuk Kent kepada Sakura. Gadis itu tersenyum kepada mereka bertiga.

"Nah Sakura. Aku juga menjelaskan kepadamu tentang pemanggilan di dunia ini." Kata Sasori lagi. Yura dan Kent mengangguk-angguk iya seolah mereka memberikan pelajaran dasar pada Sakura.

"Di dunia ini telah ada kesepakatan dalam pemanggilan nama. Terutama penambahan -san yang seperti kamu ucapkan tadi. Jika -san itu untuk seorang budak yang memanggil majikannya. Jadi kamu tadi memanggil Yura sebagai majikanmu. Beda dengan tuan muda yang mereka sematkan padaku karena mereka tidak ku beli ataupun terikat kontrak mana pun. Pembelian budak juga memerlukan izin dari kerajaan asalnya , Slave Empire. Itu sebabnya jangan sembarang ya Sakura," kilah Sasori dengan tenang.

"A-apa? Jadi suffix – san hanya berlaku untuk budak? Terus ada kerajaan yang khusus menjual manusia menjadi budak? Di duniaku itu hanyalah bentuk sopan kepada orang yang lebih tua atau baru kenal..," jawab Sakura kaget yang mendengar penjelasan Sasori. Mereka bertiga mengangguk iya.

"Ya nona Sakura. Aturan pemanggilan dunia ini sudah di tetapkan oleh semua Empire dan Kingdom. Sehingga jelas antara kepemilikan masing-masing. Jika Lord atau Lady itu hanya panggilan prajurit, budak, ataupun maid ditujukan untuk kalangan bangsawan. Tapi beda dengan tuan atau nona, karena seperti kami ini lebih tinggi setingkat prajurit biasa." Jelas Yura kepada Sakura lagi. Sakura tidak menyangka dunia ini ketat dengan aturan dan di sepakati oleh semuanya.

"Lalu suffix –kun untuk wanita yang memanggil suaminya begitu juga –chan untuk pria yang memanggil istrinya. Jika hime hanya untuk wanita yang di sukainya bukan status menikah begitu juga ouji , " tambah Kent kepada Sakura. Sakura hanya melongo mendengar penjelasan mereka. Yura tersenyum melihat reaksi Sakura, sedangkan Kent hanya cengar-cengir dan Sasori membuang mukanya, terkekeh melihat reaksi Sakura.


Di Hidden Forest, Hinata yang sudah sadar dari pingsannya juga menerima penjelasan yang sama dari Naruto. Hinata juga sudah menjelaskan kepada Naruto semua kejadian yang di alaminya bersama Sakura. Naruto hanya mengangguk-angguk mengerti mendengar semua cerita Hinata, sebenarnya Naruto sudah mengetahui hal ini, hanya saja dia ingin mendengar sendiri dari mulut gadis ini. Naruto ingin gadis ini tidak ketakutan padanya seperti waktu tadi pertama bertemu, ya hitung-hitung terbiasa saja.

"A-apa? Begitukah? A-aku tidak tahu," kata Hinata terbata.

"Buahahaha! Sudah jelas kamu tidak tahu hime, kamu kan berasal dari dunia lain," kata Naruto.

"Ba-bagaimana ini? Jadi aku tidak boleh memanggil Sakura dengan Sakura-chan lagi?" Tanya Hinata sedikit panik dan aneh dengan peraturan di dunia ini.

"Ya himee. Itu sebabnya jangan lagi memanggil begitu, mungkin duniamu itu panggilan sayang, akrab atau apalah. Tapi karena kamu sudah di sini, sebaiknya belajar saja." Terang Naruto.

"Ba-bagaimana ini? A-apakah aku bisa kembali ke duniaku?" Tanya Hinata panik kepada Naruto.

Naruto hanya menatap Hinata dengan pandangan yang kasihan. Dia tidak tahu Hinata bisa kembali ke dunianya atau tidak, karena dia teringat perkataan Lei yang mengatakan bahwa dunia Hinata hancur, Naruto sendiri saja tidak percaya dengan perkataan Lei. Habis ya nenek-nenek lemah yang katakan. Siapa juga yang mau percaya? Pikir Naruto dengan gayanya yang sok sangat mengetahui Lei sudah berusia 500 tahun. Lei dapat hidup panjang karena dia memiliki Mon Grawer.

"Pasti bisa. Kita cari caranya saja himee," hibur Naruto untuk membesarkan hati Hinata. Gadis itu tersenyum saat mendengar perkataan Naruto dan Naruto tersenyum lebar kepadanya.

"Baiklah himee. Bagaimana kita keluar berpetualang? Mungkin temanmu Sakura juga tersesat di dunia ini. Kita mencari temanmu." Tawar Naruto kepada Hinata.

"Be-benarkah?" Tanya Hinata kepada Naruto. Pria itu hanya menjawab iya dengan cengirannya yang khas.

"Ya. Tapi sebelumnya maukah kamu menciumku himee?" Goda Naruto yang sudah mendekati Hinata dan membuat Hinata memerah dengan pernyataannya, lalu dia pun dengan sekuat tenaga meninju Naruto. "Ti-tidak!" Pekik Hinata.

Begitulah hari pertama Sakura dan Hinata di dunia asing yang mereka tidak kenal, bertemu dengan Sasori yang tenang tetapi tegas dan Naruto yang (mungkin) mesum dan sedikit berisik. Di tempat masing-masing Sakura dan Hinata memikirkan bagaimana hari-hari mereka selanjutnya di dunia ini, dan yang paling penting bagaimana cara mereka kembali ke dunia mereka.


Hatake Mansion

"Jadi? Ini gadis yang di ceritakan Shikamaru?" Tanya seorang pria yang memakai masker menutupi mulutnya dan ya dia juga menutup mata sebelah kirinya. Rambut peraknya yang menantang gravitasi tidak meluputkan ketampanannya dan lagi sepertinya pria ini usianya tidak berbeda jauh dengan Shikamaru dan Sasori. Sakura mengamati ketiga pria itu dengan seksama yang sedang membicarakan dirinya. Sasori yang tenang tetapi serius, Shikamaru yang malas-malasan dan Kakashi yang terlihat dewasa dan kelihatan seperti kakak bagi Sasori dan Shikamaru.

"Pagi-pagi kalian datang bertamu dan bersama seorang gadis, ku kira kalian baik hati mau memperkenalkan gadis padaku. Rupaya kerjaan untukku. Malahan pekerjaan menipu. Huff! Kamu mau memintaku membuat data-data palsu, kartu identitas palsu dan surat kelahiran palsu buat gadis ini?" Keluh dan tanya Kakashi kepada Sasori. Shikamaru hanya menunjukkan sikap malas dan sedikit-sedikit menguap menahan kantuk.

"Ya. Lakukan saja sesuai permintaanku Kakashi. Shikamaru juga. Aku ingin kalian berdua mau bekerja sama denganku. Dia hanyalah seorang asing di sini dan sampai waktunya dia kembali ke dunianya, itu hanya berlaku sementara di sini saja." kata Sasori dengan nada yang tenang seolah-olah tidak meminta tolong tetapi seperti menyuruh Kakashi dan Shikamaru untuk menolongnya.

"Ya. Mendokusai. Terserahlah. Aku hanya ikut saja," kata Shikamaru malas tetapi mau menolong Sasori. "Hm. Aku tidak masalah asal kalian berdua terutama nona ini tidak membocorkan aku melakukan pemalsuan. Yang untuk pertama kalinya dalam karirku di Knight Empire, tapi nona ini masuk ke keluargamu atau bagaimana Sasori?" Tanya Kakashi.

"Tentu saja Kakashi. Ini akan menjadi rahasia seumur hidup kami. Hm. Kamu tidak keberatan nama keluargamu di ubah Sakura?" Balik Sasori menanyakan Sakura yang sedari tadi memperhatikan ketiga pria itu dan Sakura sedikit terkejut karena akhirnya di ajak bicara.

"AH! Ya. Aku tidak masalah Sasori. Ini hanya sementara," jawab Sakura kaget dan cepat.

"Hm. Aku akan memikirkan bagaimana supaya gadis ini tetap memakai nama keluarganya," tukas Kakashi dengan tegas. "Arigatou Kakashi. Kamu memang paling bisa di andalkan," puji Sasori tulus.

Dalam hati Sakura , dia juga berterima kasih kepada pria bermasker ini. Pria ini juga mau bersusah payah demi dirinya yang asing ini. Orang-orang di dunia ini hatinya baik bagaikan malaikat, puji Sakura dalam hatinya.

"Lalu Shikamaru. Apakah ada kabar dari sang pemimpin yang menghilang itu?" Goda Sasori kepada Shikamaru yang menatapnya malas tetapi jengkel.

"Ah! Dia benar-benar membuatku susah dan banyak kerjaan! Dia tidak memikirkan Shinobi Kingdom yang telah mengalami kekosongan pemerintahan gara-gara dia kabur, " keluh Shikamaru bohong sambil memijit-mijit bahunya seperti orang tua saja. Kakashi dan Sasori terkekeh mendengar pernyataan bohong Shikamaru.

"Ya. Dia menjadi legenda yang paling keren sepanjang masa. Menurutku. Hahaha," celetuk Kakashi dengan santai. "Sudahlah. Dia pasti punya alasan tersendiri mengapa dia melakukan itu semua. Hanya kita perlu mencarinya. Aku tidak yakin dia terbunuh sesuai dengan rumor-rumor yang beredar," kata Sasori tenang dan menghibur Kakashi dan Shikamaru yang sudah penuh beban kemudian tersenyum simpul mendengar pernyataan Sasori yang positif. Begitu juga Sakura yang tidak mengerti apa yang di bicarakan mereka bertiga, tapi Sakura bisa merasakan Akasuna no Sasori adalah pria yang bukan hanya baik hatinya ,mempunyai jiwa pemimpin tetapi pria yang optimis setiap saat.

"Nah Sasori Shikamaru. Sementara kalian masih di sini, aku akan menyerahkan undangan Empire pada kalian berdua. Ulang tahun Queen Bella yang di selenggarakan minggu depan," kata Kakashi sambil menyerahkan amplop berwarna hitam kepada kedua pria itu. Sasori dan Shikamaru menerima amplop berwarna hitam itu dan membuka amplop itu lalu sama-sama membacanya.

"Sebagai divisi penduduk Knight Empire dan komandan Black Knight kamu melakukan tugasmu dengan cekatan Kakashi," ejek Sasori dan Shikamaru hanya membaca amplop itu dengan malas.

"Yap. Begitulah. Merepotkan mengurus dokumen-dokumen laporan , pengurusan penduduk, lalu ya bahkan undangan seperti ini juga. Ingat pakai lencana kalian saat pesta berlangsung. Jangan sampai kalian di tegur terutama Shikamaru. Kode peringatanmu sudah mencapai angka 10," kata Kakashi pada mereka berdua.

"Hah. Mendokusai," jawab Shikamaru malas. Mungkin pria ini terlahir sebagai pria yang tidak mau berpikir banyak dan menganggap enteng sebuah masalah. "Ya, tahun ini aku juga kena kode peringatan satu kali dan untuk pertama kalinya dalam karirku di Knight Empire," lanjut Sasori dengan nada yang tidak merasa bersalah. Sakura berkeringat dingin melihat tingkah pria berambut merah dan pria nanas ini, sedangkan Kakashi hanya menghela nafas melihat kebandelan mereka berdua.

Sesudah bertamu ke mansion Kakashi, waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sasori dan Sakura berdiri di luar mansion Hatake yang atapnya di cat serba hitam itu. Sasori menatap Sakura dan tersenyum pada gadis itu.

"Sakura, bagaimana kamu ku temani jalan-jalan di kota ini? Mumpung kamu sudah berada di sini dan lagi kamu harus membeli pakaian selama tinggal di sini," tawar Sasori.

"Bolehkah? Tapi aku tidak punya uang di dunia ini, bagaimana aku membayarnya?" Tanya Sakura polos. Sasori yang mendengar jawaban polos dari mulut gadis rambut soft pink hanya mengakak dengan keras.

"Hahahaha! Tenang saja. Hal itu aku yang akan mengaturnya. Kamu tinggal nikmati saja," kata Sasori yang menahan tawanya. Sakura yang merasa tidak enak pun menunduk malu.

"Bukan begitu. Hanya saja.." Kata Sakura yang terhenti karena tanpa sadar Sasori sudah berjalan mendekati Sakura dan memojokkan gadis itu sampai di dinding gerbang milik mansion Hatake. Dari lantai atas, Kakashi menyeringai dengan senyum mesum ketika melihat Sasori yang bersikap agresif. Sasori yang bersikap tenang dan tegas itu menggoda seorang gadis? Hallo. Apakah Akasuna no Sasori sudah berubah menjadi pria mesum? Kakashi tidak menyangka gadis asing seperti Haruno Sakura mempunyai pesona yang membuat Komandan Red Knight itu tertarik kepada seorang wanita.

"Sakura, biarkan Akasuna no Sasori ini memanjakanmu. Kamu kira aku tidak dapat membeli mansion seperti Hatake untukmu?" Goda Sasori sambil mencium ujung rambut pink itu dengan lembut dan Sakura telah menunjukkan muka yang memerah karena perlakuan Sasori barusan, lagi jantungnya berdebar dengan keras. Lalu gadis itu berusaha mengatur nafasnya dengan tenang dan menatap Sasori.

"Sasori. Kamu berlebihan. Aku hanya tidak enak saja yang merepotkanmu dan juga. Tolong singkirkan tangan mesummu kepala cabai!" Teriak Sakura sambil menginjak kaki kiri Sasori lalu berjalan meninggalkan Sasori. "Auh!" Pekik Sasori yang kesakitan tetapi ngakak melihat reaksi Sakura. "HAHAHAHA! Kamu lucu Sakura! Hahahaha!" Pekik Sasori yang kali ini penuh dengan tertawa lebarnya. Kakashi menikmati pemandangan yang bagus di pagi harinya, dia mengelus-elus dagunya yang tertutup masker itu dengan senyuman yang penuh mesum. Mungkin minggu depan di pesta Kakashi dapat mengejek Sasori dan juga mungkin dapat melihat wanita-wanita yang mengincar Sasori patah hati.


Okh Village , Tetorial Snamedic Kingdom

Sementara itu Naruto dan Hinata telah keluar dari Hidden Forest dan menuju ke sebuah desa kecil yang bernama Okh Village. Desa yang bersih dan asri. Penduduk yang ramah serta desa yang penuh dengan tanaman obatan. Di antara hiruk pikuk , terdapat Hinata yang sedang di gandeng oleh Naruto.

"Himee, ayo kita cari makan siang dulu sebelum memulai perjalanan. Kasihan kamu jika makan makanan di hutan itu, aku tidak tega." Kata Naruto sambil mengandeng tangan Hinata.

"Na-naruto-kun! A-aku tidak apa-apa. Ka-kamu tidak usah mengandengku," celetuk Hinata pada Naruto yang masih mengandengnya di antara keramaian desa ini. Naruto pun melihat Hinata dan mulai menggodanya, "Sepertinya kamu harus jadi istriku himee. Kamu tidak bisa menghilangkan kebiasaan suffix mu Hi-na-ta – chan!"

Untuk pertama kalinya Naruto memanggil nama Hinata dengan nama aslinya. Hinata merasa sangat bahagia. Rona merah menjalar di pipinya. Entah kenapa Hinata suka Naruto memanggilnya seperti itu. Naruto yang melihat Hinata memerah hanya menunjukkan senyum cengirannya, bagi Naruto sendiri juga dia tidak mengerti mengapa dia sangat senang berada di dekat gadis ini. Naruto pun membawa Hinata memasuki sebuah penginapan yang sekaligus merangkap restoran. Lalu mereka pun duduk dan mulai memesan makanan.

"Hime, kamu mau makan apa?" Tanya Naruto ramah. Hinata bingung sebab dia tidak pernah makan di sini apalagi dia juga seorang asing di sini. Yang dia lakukan cuma menunduk malu dan Naruto sepertinya sedikit menyadari itu lalu mengambil alih pemesanan makanan itu.

"Pelayan! Kami memesan Snarice 2 dengan sup merah khas Snasoup. Arigatou!" Teriak Naruto kepada seorang pelayan di counter belakang dan pelayan itu hanya mengangguk iya kepada Naruto.

"Ma-maaf Naruto-kun. Aku sangat merepotkanmu!" Kata Hinata dengan malu. "Tidak apa-apa hime. Lagipula kita tidak hanya sekedar makan di sini. Tetapi juga mencari informasi Hinata,"jelas Naruto serius. "E-eh?" Kata Hinata bingung. "Stt.." Bisik Naruto yang menyuruh Hinata diam dan Hinata pun langsung terdiam. Naruto pun menuangkan teh untuk Hinata dan dirinya yang sudah tersedia di setiap meja di restoran ini. Di belakang Naruto ada 2 orang pria yang gemuk sedang bergosip dan Naruto mencuri dengar percakapan mereka.

"Kamu tahu kemarin ada surat peringatan dari Knight Empire yang dilayangkan untuk Queen Tsunade." Kata salah seorang pria itu kepada kawannya.

"Surat peringatan apa?" Tanya kawannya keheranan. "Ya. Queen Bella dari Knight Empire mengancam Queen Tsunade untuk segera mengirimkan tentara medis dan obat-obatan dari Snamedic Kingdom, jika tidak mengirimkan itu maka kemungkinan Knight Empire segera menginvasi tetorial Snamedic Kingdom, termasuk tempat ini dan terjadi perang antara Snamedic Kingdom dan Knight Empire," jelas pria itu dengan serius.

"Serius kamu?! Jadi Queen Tsunade sudah melakukan tindakan?! Knight Empire itu belagu! Queen dari Knight Empire itu memandang rendah Snamedic Kingdom yang maju di bidang medis dan obat-obatan! Tanpa kita, mereka sebenarnya adalah Empire yang miskin!" emosi kawannya itu setelah mendengar pernyataan pria tadi. Naruto yang pura-pura menyantap tehnya hanya tertunduk mencerna perkataan mereka sedangkan Hinata yang tidak mengerti hanya ikut Naruto menikmati tehnya.

"Itu sebabnya Queen Tsunade akan menuju capital Knight Empire , GradKnight City dalam waktu dekat ini. Dia akan melakukan pembicaraan dengan Queen Bella. Hanya saja aku sangat gelisah. Hanya saja kalau terjadi perang dan aku di kirim ke garis depan, aku harus meninggalkan istri dan anak-anakku di rumah. Lagian Knight Empire sangat keterlaluan. Mereka mengincar Kingdom dan Empire kecil untuk bersekutu, jika menolak maka akan Kingdom atau pun Empire itu di hancurkan." Keluh pria itu kepada kawannya.

"Benarkah itu! Bukankah sudah ada surat kedamaian! Mereka sangat keterlaluan dan tidak manusiawi! Aku tidak menyangka Knight Empire melakukan hal keji seperti itu!" kata kawannya geram. "Sepertinya Knight Empire tidak menghiraukan surat kedamaian itu dan mencetus perang di mana-mana. Lalu aku juga mendengar akhir-akhir ini Sun Empire baru mereka taklukkan. Mau tidak mau harus terjadi perang lagi, sebaiknya kamu juga bersiap-siaplah untuk kemungkinan terjadi di depan nantinya."lanjut pria itu lagi.

Naruto yang dari tadi mendengar percakapan mereka berdua hanya menahan emosinya. Gelas teh yang dia minum hampir di remukkannya jika Hinata tidak sengaja memegang tangannya. Hinata mengira pria ini sakit dan mencoba memanggilnya, "Naruto-kun.."

Naruto tersontak dan langsung melihat Hinata yang memandangnya khawatir.

"A-ada apa hime? A-ada yang mau ditanya?" Tanya Naruto gelagapan yang berusaha bersikap biasa di depan gadis itu, tetapi gadis itu tahu dan Naruto tidak bisa menyembunyikan sikapnya yang aneh itu.

"Ti-tidak. Aku hanya mengira kamu sakit. Ma-maaf," kata Hinata pelan. Naruto pun berusaha tersenyum dan mencoba untuk tidak membuat Hinata bertanya lagi, "Tidak himee. Kamu jangan khawatir!" Ujar Naruto tersenyum simpul.

Hinata merasa aneh dengan sikap Naruto tetapi dia memutuskan untuk tidak bertanya pada Naruto lebih dalam lagi. Dalam hati Naruto, dia bersyukur Hinata tidak bertanya macam-macam padanya setidaknya dia berhasil mengelabui gadis itu.

"Bella. Kamu sudah menghancurkan kerajaan-kerajaan yang ada dan membunuh ribuan manusia. Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan membiarkan kamu merusak kedamaian yang sudah di sepakati semua Empire dan Kingdom yang telah terjalin dalam surat aliansi kedamaian selama 50 tahun ini. Tidak akan." Batin Naruto.

Lalu Naruto dan Hinata menghabiskan makan siang itu dengan suasana diam dan tegang. Hinata yang tidak tahu harus berkata apa terhadap Naruto sedangkan pria itu, Naruto hanya terdiam memikirkan hal lain. Naruto sekilas melihat ke punggung tangannya yang terbalut sarung tangan hitam dan berpikir panjang.

-Continue-


Don't like don't read, I just write what I have imagined.

Thank you buat yang fav : * Aozora Straw * Bunshin Anugrah ET * Minato Malik Ibrahim * SANG GAGAK HITAM * uzumaki reverend *Yamashita Hyuuga * Blue-senpai

Thank you buat yang follow : * 2nd princhass * Aozrora Straw * Bunshin Anugrah ET * SANG GAGAK HITAM * nInEtAILf0X * Yamashita Hyuuga * Uzumaki Shizuka * miskiyatuleviana

-Balasan Review-

Uzumaki reverend : Iya. Selain 5 elemen itu ada elemen lain. Di tunggu saja. Hehehe. Happy reading _^^_

Bunshin Anugrah ET : Iya. Soalnya Lily berusaha ada humor romance-nya jadi tidak serius melulu nantinya dan adventurenya sudah sedikit di mulai di chap 3 ini. Semoga kamu menikmatinya. Happy reading _^^_

Blue-senpai : Sip! Semoga tidak bosan dan kamu menikmati ceritanya. Happy reading _^^_

Guest : Hallo guest. Semoga kamu tidak bosan dan menikmati cerita yang di buat Lily. Ini bakalan lanjut sampai habis. Ini cerita sudah selesai di tulis sebenarnya waktu Lily semasa SMP jadi ceritanya sudah di otak Lily dan tinggal di ketik-ketik saja sampai habis. Happy reading _^^_

Finally Chapter 3 Finish! Happy reading all ! Arigatou! _^^_

Note ; Sorry ya all jika tidak dapat update berkala, karena Lily sibuk kuliah *maklum* semester 5 sudah mulai sibuknya. Terus buat Silent Readers Happy Reading! _^^_