"Ohhh. Aku jadi ingin bertemu dengan Katsuyu itu," kata Sakura penasaran.
Alasan Sakura penasaran sebenarnya bukan tentang Katsuyu yang menggemaskan dan lucu itu, tetapi cara Sasori menceritakan sosok itu sangat menganggu benak Sakura. Aneh sungguh aneh, tetapi Sakura mencoba menyembunyikannya di hadapan Sasori dengan bersikap antusias. Sasori pun menatap Sakura dan tersenyum kecil padanya.
"Pasti. Kau pasti akan bertemu dengannya," jawab Sasori lagi padanya.
Naruto © Masashi Kishimoto
Star of Worlds © Namikaze Lily
Pair: Sasori-Sakura, Naruto-Hinata, dan yang lain berjalan dengan seiring cerita.
Warning : AU, OOC, OC, chara death, dan lain-lain yang luput dari sang pengarang. Mohon di maklumi. Arigatou. (Ada karakter yang berasal dari pengarang.)
For safety , Rate : M
Happy Reading All _^^_
Chapter 11
"Hinata-channn."
Naruto memanggil Hinata yang terbaring lemah di kasurnya. Hinata hanya mendengar panggilan Naruto dan tidak mengindahkan panggilannya. Naruto menatap cemas pada sang gadis yang masih terbaring sedari tadi. Hinata sama sekali tidak membuka matanya. Tentu saja Hinata tidak membuka matanya, karena untuk membuka matanya saja sudah malas. Dia masih ingin melanjutkan tidurnya. Sejak mereka sampai di Snamedic Kingdom, Hinata merasakan kelelahan yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Untuk bangkit berdiri saja rasanya kesulitan seolah badannya mempunyai beban yang melebihi kapasitas tubuhnya. Jadi ketika Tsunade yang menyadari keadaannya, dia merasa lega. Tentu saja dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Tsunade Oba-chan! Hinata-chan tidak bangun-bangun! Bagaimana ini? Kau kan dokter!" Teriak Naruto pada Tsunade yang sedang berdiri tidak jauh dari Naruto yang duduk di dekat kasur Hinata.
"Kau ini berisik sekali! Mengapa tidak sabaran sekali? Gadis yang bernama Hinata itu hanya kelelahan! Dia tidak kenapa-napa!" Balas Tsunade kesal kemudian berjalan mendekati Naruto sambil membawa sebuah mangkok.
"A-apa itu Tsunade Oba-chan?! Apakah kau mau membunuh Hinata-chan?!" Tanya Naruto horror saat melihat Tsunade membawa sebuah mangkok mendekatinya dan Hinata. Dari baunya, Naruto dapat mencium betapa pekat bau itu menusuk hidungnya.
"Iya. Ini adalah racun Naruto," kata Tsunade dengan nada yang dibuat-buat. Tsunade tidak habis pikir mengapa cucunya yang satu ini sangat bodoh atau mungkin pura-pura bodoh. Entahlah, dia sangat berbeda dengan anaknya Minato yang terkenal jenius. Mungkin justru Menma yang mewarisi kepintaran Minato. Tentu saja yang dia pegang adalah obat untuk gadis itu tetapi cucu bodohnya ini mengira itu adalah sesuatu yang berbahaya. Dia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dan jika dia tidak memegang mangkok ini, mungkin dia sudah melayangkan tinjunya ke wajah tampan cucunya ini.
"Ja-jangan Oba-chan!" Cegah Naruto sarkatis.
Itu kan? Tsunade mengerang dalam hati mengapa cucunya ini dapat menjadi Hokage di Shinobi Kingdom dengan kebodohannya yang seperti ini. Tsunade menggigit ujung bibirnya yang penuh itu , dia tidak bisa lagi menahan emosinya.
"BAKA!" Teriak Tsunade keras pada Naruto. "Huaaaa!" Teriak Naruto terkejut dan langsung menutup kedua telinganya. "Apaan Tsunade Oba-chan ini! Pakai acara teriak segala!" Cecar Naruto lagi pada Tsunade.
"Itu sebabnya berhentilah bertingkah secara berlebihan! Ini adalah obat pemulihan stamina!" Kata Tsunade.
"Ah begitukah? Maafkan aku Oba-chan! Hehehe," kata Naruto dengan terkejut kemudian nyengir pada Tsunade. Tsunade hanya memandang Naruto dengan sebal.
Tsunade pun duduk di sisi ranjang dan mengangkat tubuh Hinata dengan satu kanannya. Refleks Naruto pun memegang mangkok yang dipegang Tsunade tadi sehingga Tsunade pun dengan mudah menggeser tubuh Hinata menyender tubuhnya sekarang. Naruto menahan nafas saat memegang mangkok itu, tentu saja karena baunya yang sangat menusuk itu.
"Huek! Baunya sangat menusuk. Aku tidak tahan. Itu sebabnya aku benci sakit! Obatmu menyeramkan Tsunade Oba-chan!" Komentar Naruto tiba-tiba pada Tsunade. Tsunade terkejut mendengar komentar Naruto kemudian tersenyum tipis.
Tsunade teringat saat Naruto masih kecil dulu. Naruto sangat suka bermain-main dengan Sasori, Sasuke, Shikamaru, dan Chouji sehingga Naruto seringkali pulang ke rumah dengan berbagai luka. Naruto juga gampang sakit pada saat itu. Tentu saja Tsunade memaksanya minum obat buatannya. Sejak saat itulah Naruto bertekad untuk tidak sakit ataupun terluka lagi. Lihat saja sekarang meski sudah berusia 22 tahun, tetap saja sikapnya masih seperti anak kecil. Lalu Tsunade pun mengambil mangkok itu dari tangan Naruto dan meminumkannya pada Hinata.
Hinata merasa ada yang mengangkat tubuhnya dan meminumkan sesuatu padanya. Dengan keadaan yang masih lemas, Hinata hanya pasrah menerima itu semua. Samar-samar Hinata dapat menangkap percakapan Naruto dengan Tsunade. Hinata bisa merasakan Tsunade sangat menyayangi Naruto, sebab interaksi mereka berdua sangatlah dekat. Hinata merasa cairan obat yang dikatakan Tsunade itu sangat manis dan dengan lembut turun melalui tenggorokannya, memenuhi seluruh tubuhnya. Jika dengar dari penuturan Naruto tadi, obat ini katanya sangat bau. Hinata pikir obat ini akan sangat pahit dan tidak mengenakkan tetapi dugaannya salah. Obat ini sangat manis. Hinata merasa ada tenaga baru yang meluap-luap dalam tubuhnya. Dia tidak lagi lelah seperti tadi dan dia dapat membuka matanya. Rasa kantuk pun menghilang dari tubuhnya.
"Ma-manis," tutur Hinata pelan. Naruto dan Tsunade langsung menatap Hinata. Tsunade tersenyum puas kalau obatnya bekerja dengan cepat dan Naruto takjub saat melihat Hinata sadar sepenuhnya.
"Hi-hinata-chan!" Pekik Naruto senang. "Kau sudah bangun! Tsunade Oba-chan! Obatmu sangat mujarab!" Puji Naruto pada Tsunade.
"Ma-maaf aku merepotkan," tutur Hinata padaTsunade yang masih menopang tubuhnya.
"Bagaimana perasaanmu Lady Hinata?" Tanya Tsunade. "Sa-sangat baik. A-aku bisa merasakan tenaga berkali lipat di dalam tubuhku, se-seolah aku bisa melakukan apa-pun," kata Hinata sedikit terbata.
"Baguslah. Aku senang kau mengalami pemulihan. Obatnya tidak pahitkan?" Tanya Tsunade pada Hinata. "Ti-tidak. Obat buatanmu manis tetapi sedikit bau," jawab Hinata jujur.
"Benarkah? Bukannya obatmu selalu pahit Tsunade Oba-chan?" Tanya Naruto heran, karena seingatnya obat buatan Tsunade selalu pahit dan tentu saja Naruto tidak menyukainya. Tsunade tersenyum pada Naruto.
"Ini adalah obat baru yang kuciptakan, tentu saja sudah mengalami peningkatan drastis. Rasanya sudah tidak pahit seperti dulu, bersyukurlah kau mempunyai nenek yang bekerja di bidang medis," kata Tsunade pada Naruto. "Baiklah, aku keluar dulu. Ada hal lain yang harus kukerjakan! Jaga calon istrimu dengan baik-baik Naruto!" Lanjut Tsunade lagi sambil berjalan keluar meninggalkan Naruto dan Hinata.
Sebenarnya Naruto ingin menyangkal di depan Tsunade, tetapi sebelum Naruto mengeluarkan suara Tsunade sudah keburu pergi. Tinggallah Naruto dan Hinata. Mereka berdua terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Baik Hinata maupun Naruto sama-sama canggung apalagi baru saja Tsunade mengatakan Hinata adalah calon istri Naruto. Mungkin sudah saatnya memanggil Hinata tanpa suffiks-chan jika tidak ingin semua orang salah paham, pikir Naruto.
"Err..maafkan nenekku yang iseng ya Hinata. Dia hanya main-main," kata Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa baik Hinata maupun Naruto semakin merasakan keganjilan. Hinata meringis saat mendengar Naruto memanggilnya tanpa suffiks-chan dan Naruto juga meringis seolah ada yang kurang di hatinya.
"I-iya. Sakura-chan ada di mana?" Tanya Hinata yang teringat sahabat yang berambut soft pink itu. "Ahh. Lady Sakura sudah sadar sejak 6 jam lalu. Pemulihannya luar biasa," jelas Naruto pada Hinata.
"Syukurlah..." Gumam Hinata senang saat mendengar kabar Sakura. "Kau tidak perlu khawatir pada Lady Sakura, karena ada Sasori yang menjaganya," lanjut Naruto memberi penjelasan pada Hinata.
Zeg Forest, perbatasan Snamedic Kingdom dengan Zephyr Empire
Di tempat lain pada waktu yang sama, terlihat prajurit-prajurit berkeliaran di hutan. Ada yang memegang obor api sambil berpatroli, ada yang sedang mengasah senjata baik itu pedang, anak panah ataupun berbagai senjata lainnya. Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya oleh Knight Empire. Pasukan Orange Knight Empire, Green Knight Empire, dan Blue Knight Knight Empire dalam waktu dekat ini akan menyerang Snamedic Kingdom. Di dalam sebuah tenda yang besar melebihi tenda-tenda lainnya. Shiho, Dave, dan Pison sedang mendiskusikan strategi perang yang akan mereka pakai untuk menghadapi Snamedic Kingdom.
"Jadi pasukanku dan pasukan Shiho akan maju duluan di garis depan. Lalu kau Dave, kau dan pasukanmu bertugas sebagai penyembuh di belakang kami. Tugasku dan Shiho tentu saja harus melindungimu dan pasukanmu supaya kalian konsentrasi pada tugas kalian," terang Pison memberi arahan pada Shiho dan Dave. Mereka berdua mendengarkan Pison dengan serius.
"Huh! Melindungiku ya? Rasanya aku diperlakukan seperti baby oleh kalian berdua," komentar Dave sinis pada Pison. Pison dan Shiho menatap Dave yang menunjukkan amarah tidak senang.
"Hmmm, sebenarnya aku juga tidak ingin memperlakukanmu seperti baby, tapi apa boleh buat. Mungkin Lord Madara melihatmu masih seperti baby," balas Pison cuek sambil melihat peta di meja.
"Ka-kau!" Erang Dave emosi. "Ehhhh. Sudah. Sudah. Ini adalah keputusan Lord Madara. Kita turuti saja, mungkin bagi Lord Madara Snamedic Kingdom tidak sepadan untukmu jadi dia tidak mengirimmu ke garis depan," Shiho mencoba menghibur Dave yang sudah kelihatan emosi pada Pison.
Di luar tenda, ada seseorang yang mendengar percakapan mereka dengan serius. Saat melihat seorang prajurit Orange Knight Empire mendekati tenda ini, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Prajurit itu tidak melihatnya dan terus melangkah masuk ke dalam tenda itu.
"Lady Shiho, persiapan perang sudah selesai dan tinggal menunggu perintah anda!"
"Hmph! Baiklah! Terima kasih untuk kerja kerasmu." Kata Shiho seraya menyuruh prajurit itu pergi dengan kibasan kipasnya.
"Baiklah. Apakah kita sudah siap untuk menyerang Snamedic Kingdom?" Tanya Pison pada mereka berdua. Dave dan Shiho pun sama-sama mengangguk iya pada Pison.
"5 hari lagi kita akan menyerang Snamedic Kingdom." Lanjut Pison mantap.
Keesokan harinya di Snamedic Kingdom, Merlbou Castle kedatangan tamu yang tidak di duga oleh semuanya termasuk penghuni di dalamnya. Saat ini mereka berada di ruang kerja Tsunade menemui tamu yang tidak terduga ini. Naruto berjongkok menatapnya histeris saat mendengar penuturannya.
"Nani? Yang benar saja?" Tanya Naruto pada tamu yang di hadapannya ini. "Err..apakah dia bisa dipercaya?" Tanya Genma menunjuknya. Mereka semua memandang tamu itu dengan wajah yang serius. Genma tidak habis pikir, mengapa para pemimpin yang di sini respek padanya.
Ya, wajar saja Genma bertanya pada mereka. Sebab tamu yang datang ini tidak di sangka-sangkanya. Dia mempunyai badan yang kecil, mempunyai dua telinga dan empat kaki serta tubuhnya mempunyai bulu berwarna cokelat. Ya dia adalah seekor anjing. Tamu yang luar biasa bukan? Awalnya Sakura dan Hinata yang berdiri di sudut ruangan melongo melihat anjing ini datang dan di sambut oleh mereka semua, lebih terkejutnya lagi adalah anjing itu bisa berbicara seperti manusia normal lainnya. Akan tetapi ini adalah Other World bukan? Tentu saja tidak heran kalau hewan pun bisa berbicara di sini.
"Tentu saja, ini adalah informasi akurat. Aku datang ke sini atas perintah Kakashi. Jadi jangan banyak protes Naruto," kata anjing itu tenang. "Aku tahu! Akan tetapi mereka tidak gila? Mengerahkan sekaligus 60.000 orang untuk menyerang satu Kingdom? Kau tidak salahkan Pakkun?" Tanya Naruto pada anjing itu.
"Itu tandanya Snamedic Kingdom cukup di segani oleh Knight Empire," balas Shikamaru tenang. "Benar juga ya? Buat apa mereka repot-repot mengerahkan pasukan sebesar itu untuk melawan Snamedic Kingdom kalau tidak takut akan kekuatan Tsunade Oba-chan yang terkenal mengerikan itu," cengir Naruto yang langsung di hadiahi tinju maut Tsunade.
'BUGH!'
"Ittai!" Naruto meringis kesakitan saat di tinju oleh Tsunade. Mereka memandang Naruto dan Tsunade dengan tatapan malas. Naruto ini memang tidak pernah kenal kapok untuk menjahili orang. Dari jauh Hinata memandang Naruto khawatir.
"Rasakan itu bocah nakal!" Teriak Tsunade kesal. "Er..sudah-sudah. Lalu satu informasi lagi, Lord Kakashi mengumpulkan pasukan-pasukan Red Knight Empire dan Yellow Knight Empire yang mau berperang dengan kalian. Mereka adalah pasukan yang sudah tidak mempercayai Knight Empire lagi, terlebih Sasori dan Shikamaru yang dituduh sebagai buronan tidak di terima sama sekali oleh mereka. Lalu mereka memutuskan keluar dari Knight Empire. Saat mendengar keberadaan Sasori dan Shikamaru di sini, mereka langsung mengikutiku ke sini. Mereka sudah tiba di depan castle tadi dan di sambut oleh kepala pasukan Hayate tadi," jelas Pakkun pada mereka. Sontak mereka semua terkejut dengan informasi baru ini.
"A-apa? Benarkah itu?" Tanya Kent seolah tidak percaya dengan perkataan Pakkun. "Iya. Lord Kakashi yang bergerak sendiri secara diam-diam menanyai pasukan kalian yang tergolong mengerikan itu. Meski akhirnya yang benar-benar terseleksi hanya 5.000 orang," jelas Pakkun lagi.
"Pakkun-san, terima kasih untuk informasimu, sampaikan salamku pada Kakashi. Freedom Army dan Snamedic Kingdom berutang budi pada SilverStone Kingdom." Kata Sasori tenang pada anjing yang bernama Pakkun ini.
"Huh. Baiklah aku pergi dulu. Jaa.." Kata Pakkun kemudian pergi meninggalkan mereka semua.
Setelah kepergian Pakkun, suasana ruangan semakin mencekam dan tidak ada satu pun yang mulai membuka pembicaraan. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sakura dan Hinata saling memandang, mereka tidak berani berbicara sepatah kata pun. Sebab mereka sama sekali tidak mengerti situasi yang di alami oleh Sasori, Naruto, dan yang lainnya di ruangan ini.
"5 hari lagi. Kita harus menyusun strategi untuk melawan mereka. Jika dilihat dari jumlah pasukan, sudah pasti Snamedic Kingdom kalah jumlah daripada mereka," aku Tsunade pada mereka semua.
"Well, di tambah bekas pasukan milikku dan Sasori itu juga tidak mengimbangi pasukan mereka Shiho, Pison, dan Dave." Lanjut Naruto lagi. "Tapi bukan berarti tidak ada peluang untuk menang bukan?" Balas Shikamaru serius.
Sontak semuanya melihat ke arah Shikamaru. Baik Tsunade, Naruto, Genma, Shizune, Kent, Sakura, dan Hinata terkejut dengan pernyataan Shikamaru. Sasori hanya tersenyum saat mendengar penuturan Shikamaru.
"Kalau begitu apakah kau ada rencana ?" Tanya Sasori dengan nada jahil.
"Errr…ada. Jika kalian mau mendengarkannya," jawab Shikamaru yang merasa sedikit terhina dengan pertanyaan Sasori. "Kalau begitu keluarkan peta dan kita membahasnya sekarang," lanjut Naruto yang member aba-aba pada Genma yang berdiri tidak jauh darinya.
Diam-diam Sakura dan Hinata telah menyelinap keluar dari ruangan Tsunade. Mereka duduk di sekitar taman Merlbou Castle ini. Sakura memandang langit biru sambil menggoyang-goyangkan kakinya sedangkan di sampingnya Hinata duduk dengan anggun sambil memainkan bunga yang dia petik.
"Hei Hinata-chan," panggil Sakura pelan. "Iya? Ada apa Sakura-chan?" Balas Hinata tenang.
"Sepertinya kita tidak kembali ke dunia kita," tutur Sakura dan Hinata menatap Sakura yang masih menatap langit. "Me-mengapa berkata seperti itu Sakura-chan?! Ki-kita pasti kembali, bukankah Naruto-kun dan Sasori-kun berjanji bahwa akan membantu kita?" Balas Hinata.
Hinata takut jika dia tidak bisa kembali ke dunianya, sebab masih ada ayah yang masih menunggunya tetapi Sakura? Hinata tahu bahwa tidak ada yang menanti Sakura pulang ke rumah, karena dia sendirian. Sakura pun menatap Hinata.
"Aku hanya mengatakan seperti itu karena melihat situasi Naruto dan Sasori saat ini. Ehm, lagipula aku penasaran. Apakah kau mau mempunyai dua suami?" Tanya Sakura pada Hinata dengan serangai jahil.
"A-apa maksudmu Sakura-chan?" Tanya Hinata balik tidak mengerti pada Sakura.
"Kau memanggil Naruto dan Sasori dengan suffiks-kun. Ingat Hinata, di sini berbeda dengan dunia kita. Lalu kau jangan memanggilku dengan suffiks-chan jika kau tidak mau di kira… pasangan lesbian," tutur Sakura agak malu untuk kalimat terakhirnya.
Sontak Hinata melihat sekeliling mereka. Terlihat prajurit-prajurit Snamedic Kingdom mulai berbisik-bisik sambil memandangi mereka. Pasti dalam pikiran mereka berpikir cantik-cantik tapi berpasangan. Hinata menundukkan wajahnya dengan malu. Tidak usah di tebak Hinata sudah pasti merona hebat begitu juga dengan Sakura. Dia malu karena di jadikan tontonan.
"Ma-maaf Sakura," lirih Hinata pada Sakura yang di sampingnya. "Tidak apa-apa Hinata," balas Sakura yang tersenyum padanya.
"Akhirnya kau datang ke Other World…"
Kali ini Sakura yang terkejut dan memegang kepalanya. Suara itu lagi yang berbicara di pikirannya. Berulang kali kalimat yang sama di tujukan kepadanya. Sakura merasakan pusing yang hebat akibat suara yang di dengarnya.
"Ukh," erang Sakura pelan sambil memegang kepala dengan kedua tangannya. Hinata melihat Sakura seperti itu menjadi panik. Tiba-tiba Sakura memegang kepalanya dan merasakan sakit yang hebat, gadis berambut soft pink itu berkeringat dingin dan nafasnya sudah tidak teratur.
"Sa-sakura! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Hinata yang panik.
Sakura mencoba menenangkan dirinya dan berusaha meredam suara itu dari pikirannya. Kemudian dengan pelan dia mengatur pernafasannya. Setelah di rasakannya denyut sakit yang di alami kepalanya hilang Sakura menghembuskan nafas lega. Lalu tersenyum pada Hinata.
"Aku tidak apa-apa Hinata, jangan khawatir." Jawab Sakura berusaha menenangkan Hinata yang panik. "Benarkah? Apakah kau tidak sakit?" Tanya Hinata lagi. "Tidak Hinata. Sungguh," jawab Sakura.
"Syukurlah, kukira kau sakit," kata Hinata lega. "Kita kembali yuk, aku takut mereka mencari kita berdua." Ajak Sakura pada Hinata dan di sambut anggukan iya oleh gadis lavender itu.
Mereka pun kembali ke ruangan Tsunade di mana mereka semua masih berkumpul. Ketika Sakura dan Hinata masuk, kedua gadis itu menemukan semua orang menatap mereka berdua. Sakura dan Hinata sama-sama kikuk ketika di tatap seperti itu oleh mereka semua.
"Kemana saja kalian berdua?" Tanya Kent saat melihat kedua gadis itu kembali ke ruangan.
"Keluar mencari angin sebentar," jawab Sakura dengan pelan.
"Begini Lady Sakura dan Lady Hinata, kami sudah selesai membahas strategi perang. Jika tidak keberatan, kalian berdua harus mendengar kesimpulan bahasan kami," jelas Genma pada mereka berdua. "Heh?" Sakura dan Hinata melongo mendengar perkataan Genma.
"Kalian berdua ikut bersama Sasori dan Naruto di perbatasan Castle ini, sementara aku dan Kent maju berperang bersama Queen Tsunade di garis depan," terang Shikamaru.
"Apa? Kita juga ikut berperang?" Tanya Sakura dengan pandangan melebar. "Err, tidak. Itu sebenarnya…permintaan Sasori." Jawab Shikamaru melirik Sasori. Sasori mengangguk iya memejamkan matanya dan mengingat kembali peristiwa tadi.
Beberapa saat lalu ketika Sakura dan Hinata menyelinap keluar dari ruangan…
"Mereka berdua keluar dari ruangan, tidak apa-apakah?" Tanya Shikamaru.
"Tentu saja mereka keluar, karena mereka tidak ada hubungannya dengan perang ini. Lagipula mereka pasti bosan dengan percakapan kita," jawab Sasori cuek. "Benar. Lagipula Lady Sakura dan Lady Hinata akan kembali ke dunia mereka setelah perang ini selesai," balas Kent membantu Sasori.
Naruto menatap Sasori serius dan mendekatinya.
"Kau yakin dapat mengembalikan mereka berdua Sasori?" Tanya Naruto serius.
"Tentu saja. Mereka bukan berasal dari sini Naruto," jawab Sasori santai.
"Bagaimana jika aku berkata mereka tidak dapat kembali ke dunia asal mereka lagi?" Tanya Naruto dengan nada serius lagi.
Sasori, Shikamaru, dan Kent terkejut mendengar pernyataan Naruto dan Sasori membalas tatapan Naruto serius. Tsunade, Genma, dan Shizune yang tidak mengerti memandang mereka semua dengan pandangan tanda Tanya. Mereka seolah terperangkap suasana serius dan misterius yang di ciptakan oleh Naruto dan Sasori barusan.
"Ada apa ini? Mengapa kalian membahas di luar strategi perang?" Tanya Tsunade penasaran.
Sasori dan Naruto pun memandang Tsunade. Lalu Naruto menghela nafas dan menceritakan singkat tentang kedua gadis itu pada Tsunade, Genma, dan Shizune. Sasori membisu mendengar Naruto yang menceritakan tentang Sakura dan Hinata sampai Sasori tersentak saat Naruto mengatakan sesuatu tentang kedua gadis itu.
"…Nenek Lei mengatakan bahwa dunia kedua gadis itu telah hancur. Jadi sudah tidak mungkin mereka akan kembali ke dunia asal mereka," kata Naruto mengakhiri ceritanya.
"Apa? Tidak mungkinkan?" Tanya Shikamaru tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Percaya atau tidak terserah kalian. Aku juga tidak percaya dengan perkataan nenek tua itu, tapi kalau seandainya iya bagaimana?" Kata Naruto.
"Sepertinya kau jadi paling banyak tahu soal mereka berdua ketimbang kita di sini," celetuk Sasori mengembungkan pipinya kesal. "Tu-tuan muda.." panggil Kent gemas.
Semua di ruangan itu berkeringat dingin melihat tingkah Sasori yang tiba-tiba kesal. Sasori mengembungkan pipinya dan membuang mukanya, mau tidak mau mereka tergoda untuk mencoba mencubit pipi Sasori. Ketika Sasori seperti itu, dia akan kelihatan lucu sekali. Akan tetapi mereka mengurungkan niatnya saat Sasori sudah seperti semula.
"Hancur atau tidak dunia asal mereka berdua, kita harus membantu mereka berdua Naruto. Yang penting sekarang kita dengar dulu strategi Shikamaru," kata Sasori akhirnya.
"Baiklah, kita mulai saja," kata Tsunade yang sudah mempersiapkan peta wilayah tanah Xincland.
"Seperti yang kita ketahui, pasukan Shiho mempunyai 15.000 orang. Pison mempunyai pasukan dengan jumlah yang sama, yaitu 15.000 orang. Lalu Dave yang mempunyai pasukan sebanyak 30.000 orang. Total gabungan mereka berjumlah 60.000 orang." Terang Shikamaru pada mereka dan mereka mendengar dengan serius.
"Sedangkan pasukan punya kita hanya 5000 orang dengan di tambah Snamedic Kingdom berjumlah 20.000 orang jadi totalnya hanya 25.000 orang. Apakah ada strategi yang cemerlang untuk meruntuhkan pasukan sebanyak 60.000 orang?" Tanya Kent pada Shikamaru.
"Ya, kita membagi dua pasukan kita. Aku ingin Queen Tsunade maju dengan membawa 15.000 orang maju ke garis depan melawan Knight Empire. Aku dan Kent akan maju menjadi assist Queen Tsunade. Lalu sisa pasukan berjumlah 10.000 orang itu menjaga di tempat ini dan yang memimpin pasukan ini adalah Sasori dan Naruto. Lalu kita bergerak malam ini dan mengejukan mereka." Terang Shikamaru memberi strategi pada mereka.
"Waw. Pemimpin clan Nara yang menjadi assist-ku. Suatu kehormatan bagiku bekerja sama denganmu," kata Tsunade pada Shikamaru. Sasori tampak berpikir sebentar dan melirik ke arah Kent dan Shikamaru kemudian Naruto yang sibuk melihat peta.
"Shikamaru? IQ-mu tidak turun kan? Kau yakin 15.000 orang cukup melawan mereka di garis depan?" Tanya Naruto tanpa melihatnya. "Menurutku cukup, kita pakai taktik gerilya untuk melawan mereka. Mereka tidak mengenal wilayah sini bukan? Yang mengenal wilayah ini adalah kita Naruto. Jangan-jangan kau yang sudah menjadi bodoh karena terlalu lama bersemedi di Hidden Forest," balas Shikamaru sebal.
"Akh! Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran ya kalau wilayah Snamedic Kingdom itu penuh dengan hutan daripada hamparan luas. Iya kau benar, aku sudah menjadi bodoh dalam artian tertentu," jawab Naruto jujur pada Shikamaru. Shikamaru berkeringat dingin mendengar jawaban Naruto yang tidak biasanya.
"Shikamaru, aku yang akan maju ke garis depan. Queen Tsunade yang diam di sini bersama Naruto dan Kent," potong Sasori tiba-tiba.
"A-apa?!" Teriak mereka semua pada Sasori yang sudah sibuk meneliti peta di depan meja. "Ahh…lalu aku cukup membawa 5.000 pasukan maju ke medan perang. Menurutku, kita tidak usah menghamburkan banyak pasukan untuk melawan mereka semua. Aku hanya berpikir Dave yang menjadi assist itu hanya jebakan mereka untuk menyerang sini terlebih dahulu melalui Dave. Yang mereka incar itu adalah kepala milik Queen Tsunade, bukan kepala kita." Terang Sasori santai sambil menandai beberapa tempat di peta itu.
"Hei, kau tidak bercanda bukan? Menurutku membagi dua adalah pilihan terbaik Sasori. Lagipula kita mempunyai strategi gerilya untuk melawan mereka. Kalau memang Dave yang menjadi assist mereka berdua adalah bohongan, berarti tugas kalian berdua tepat. Bukankah Dave lawan yang cukup setara untuk kalian?" kata Shikamaru lagi. "Er..tetapi menurutku terlalu menghamburkan banyak pasukan ke depan. Benar tidak Naruto?" Kata Sasori seolah mencari dukungan pada Naruto.
"Tidak juga. Aku takut Tsunade Oba-chan kenapa-napa. Jadi aku ikut strategi Shikamaru saja." Jawab Naruto jujur melihat ke arah Tsunade yang sudah tersenyum mengembang karena cucunya mengkhawatirkannya. "Lagipula, kau harus menjaga Sakura dan Hinata bukan? Tidak mungkin kau meninggalkan mereka berdua," kata Shikamaru lagi pada Sasori.
Mendengar nama Sakura dan Hinata membuat Sasori langsung menyetujui ide Shikamaru. Naruto hanya cuek saja. Dia tidak terlalu peduli dengan itu semua. Hanya saja ketika mengingat nama Hinata, sosok lavender itu menguasai pikirannya. Entah kenapa dia tidak ingin gadis itu jauh darinya. Dia tidak ingin Hinata dalam bahaya. Berbagai macam adegan pembunuhan terhadap Hinata menguasai pikirannya dan tanpa pikir lagi langsung mengikuti Sasori mengangguk-angguk iya.
"Hm, begitukah? Baiklah, aku akan mengikutimu Shikamaru. Akan tetapi kabulkan satu permintaan egoisku ya? Aku dan Naruto cukup 5.000 pasukan saja. Ya? Ya?" Cecar Sasori. "Sasori, aku tahu kau mempunyai caramu sendiri, akan tetapi aku memikirkan keselamatan kalian semua dengan membagi dua pasukan. Kalau hanya 5.000 pasukan bersamamu, aku tidak mau kau mengambil resiko tidak jelas." Terang Shikamaru.
"Baiklah, maaf aku terlalu keras kepala. Aku tidak menyangka kau terlalu mengkhawatirkan kami semua," kata Sasori senang saat mendengar kata Shikamaru memikirkan keselamatan mereka semua. "Ti-tidak!" Kata Shikamaru malu membuang mukanya. "Hihihi, kau tidak jujur Shikamaru!" Goda Naruto jahil.
"Itu benar Sakura, kalian tidak perlu berperang. Kalian cukup jadi penyemangat kami berdua saja," kata Naruto. "Lagipula tuan muda Sasori kita ini tidak ingin jauh-jauh darimu," goda Naruto melirik Sasori. "E-eh?" Sakura merona saat Naruto menggodanya. Gadis itu melihat ke arah Sasori yang sudah memandangnya dengan tersenyum.
"Baiklah. Kita mulai bergerak malam ini," kata Sasori memberi komando.
"YOSH!" Jawab mereka semangat.
Zeg Forest, perbatasan Snamedic Kingdom dengan Zephyr Empire
Malam harinya, di tengah hutan yang tidak jauh dari tenda-tenda milik pasukan Knight Empire ada sekelompok pasukan yang mengamati mereka semua. Termasuk Shikamaru, Kent, dan Tsunade yang bersembunyi bersama prajurit-prajurit mereka. Seolah menunggu komando dari Shikamaru, mereka semua siap siaga dengan senjata masing-masing. Lalu mereka adalah prajurit bekas milik Sasori dan Naruto dulu. Itu artinya di pihak Sasori dan Naruto tidak ada shinobi dan swordsman yang lihai kecuali di tempat mereka sekarang. Bahkan di pihak mereka tidak ada witch,witchdoctor ataupun healer. Yang maju ke garis depan adalah shinobi, swordsman, witch, witchdoctor, dan healer terbaik yang di miliki oleh Snamedic Kingdom serta ex prajurit milik Sasori dan Naruto di Knight Empire dulu.
Setelah mengamati cukup lama, Shikamaru akhirnya menjentikkan jari tengahnya menempel di jari telunjuknya dan itu tandanya kode untuk mereka semua bergerak. Dengan secepat kilat prajurit Shinobi maju duluan menyerang penjaga-penjaga yang mengelilingi tenda milik Knight Empire. Dengan kunai mereka langsung menebas leher prajurit-prajurit Orange Knight Empire, Green Knight Empire, ataupun Blue Knight Empire.
"Arghhhhh!"
Rintihan suara prajurit milik Knight Empire yang di bunuh oleh pasukan shinobi menghiasi Zeg Forest ini. Di tenda besar tempat Shiho, Pison, dan Dave berada langsung siaga dengan senjata masing-masing setelah mendengar rintihan suara dan suara sabetan-sabetan benda tajam di luar.
"Apa itu?!" Tanya Shiho pada Dave dan Pison yang berdiri di dekatnya.
"Sepertinya kita di serang musuh," analisis Pison tenang.
"Huh! Dasar kecoak! Ayo kita keluar habisi mereka!" Teriak Dave terbakar emosinya.
"Tunggu dulu, kau jangan mengacaukan strategi. Kau kan jadi assist kami," cegah Shiho.
"Apa? Kalian gila ya?" Tanya Dave.
"Pison adalah komandan perang kita, kau harus menurutinya." Kata Shiho lagi.
"Cih! Baiklah!" Jawab Dave angkuh.
"Ayo Shiho," ajak Pison tenang dan keluar menuju tenda.
Sementara keadaan di luar, pasukan gabungan sepertinya mulai unggul selangkah. Kent memimpin Swordsmans bekerjasama dengan witcths dan witchdoctors menghancurkan tenda pembekalan milik Knight Empire dengan cara menggunakan Hi Power membakar tenda pembekalan dan tenda persediaan mereka. Sementara healer berdiri di belakang bersama Tsunade berkonsentrasi menyembuhkan prajurit-prajurit mereka yang terluka parah menghadapi prajurit-prajurit Knight Empire. Shikamaru bersama Shinobi membereskan para penjaga yang menghalangi jalan mereka.
"Kage Power!" Teriak Shikamaru yang kemudian bayangannnya menyerang prajurit Knight Empire. Bayangannya mencekik leher mereka dan dengan itu pasukan Shinobi dengan kunainya menebas leher dan bahkan menusuk organ vital mereka.
Tidak jauh dari tenda besar, Pison dan Shiho telah berjalan menuju wilayah bawah hutan untuk melihat apa yang terjadi. Seorang prajurit Green Knight Empire berlari menuju ke arah mereka berdua.
"Lapor Lord Pison! Lady Shiho! Musuh menyerang dan kita cukup terdesak di bawah sana! Tenda pembekalan dan tenda penyediaan musnah terbakar akibat ulah musuh!" kata prajurit Green Knight Empire itu.
"APA! Bagaimana mungkin? Bukankah prajurit Snamedic Kingdom kebanyakan adalah golongan witch, witchdoctor, dan healer! Tentu tidak mungkin dengan jumlah swordsman mereka yang sedikit mampu menghabisi tenda kita!" teriak Shiho frustasi.
"I-itu sepertinya musuh di back-up oleh pasukan yang tidak di kenal!" Jawab prajurit itu dengan terbata.
"Di back-up?" Tanya Pison bingung. "Be-benar my Lord. Sa-saya melihat Lord Shikamaru dan Master Kent berada di antara mereka beserta prajurit shinobi dan swordsmans yang pernah di komando oleh Lord Naruto dan Lord Sasori!" Kata prajurit itu lagi.
"APA?! BERARTI ADA SASORI? KYAAAA!" Jerit Shiho senang.
"Er…menurutku tidak ada Lord Sasori my Lady," balas prajurit itu membuat kesenangan Shiho hancur seketika.
"Cih! Ya sudahlah! Siapapun itu, ayo kita maju Pison! Kuso!" Kata Shiho akhirnya.
"Baiklah, beri aba-aba untuk prajurit kita untuk maju ke garis depan sedangkan prajurit Blue Knight Empire menjalankan rencana kita untuk tetap stay di tempat meng-assist kita," kata Pison pada prajurit itu. "Baik Lord Pison!" Jawab prajurit itu meninggalkan Pison dan Shiho berlari turun ke bawah.
Sementara pasukan gabungan terus menyerang pasukan milik Knight Empire terus semakin unggul dan memperkecil jumlah pasukan Knight Empire. Dalam waktu singkat, mereka telah mengatasi pasukan seperempat pasukan Knight Empire termasuk menghancurkan titik vital penting milik Knight Empire. Shikamaru dan Kent yang berdiri saling membelakangi tersenyum puas dan keringat mereka bercucuran.
"Hosh..hosh..hosh...Sudah lama aku tidak maju sebrutal ini!" Kata Kent di sela menebas leher prajurit Green Knight Empire yang menyerangnya. Begitu juga dengan Shikamaru dengan kunainya menusuk jantung prajurit Orange Knight Empire yang menyerangnya.
"Huh! Kesannya kau sudah tua Kent! Hosh..hosh! Ayo kita berusaha terus! Jangan sampai mereka menyerang healer kita!" Komando Shikamaru pada Kent.
"Yosh!" Jawab Kent semangat.
Lalu mereka berdua melompat meninggalkan posisi masing-masing. Sementara itu team Tsunade terus melakukan penyembuhan kepada pihak prajurit yang terluka.
"Pusatkan konsentrasi kalian! Lolos konsentrasi berarti Snamedic Kingdom tamat hari ini!" Teriak Tsunade memompa semangat mental para prajurit-prajurit healer , witch, dan witchdoctor.
Lalu di luar Merlbou Castle pasukan team Sasori dan Naruto melakukan pengecekan senjata, pengecekan prajurit dan menyusun strategi jika pasukan Knight Empire berhasil menerobos pasukan utama mereka. Hinata dan Sakura berdiri tidak jauh memperhatikan para prajurit-prajurit yang berkeliaran sibuk dengan posisi mereka masing-masing.
"Sakura, apakah kita bisa lari dari tempat ini? A-aku sedikit takut," bisik Hinata.
"Tenanglah Hinata. Kita pasti aman," hibur Sakura pada Hinata.
Sebenarnya dalam hati Sakura juga sedikit takut. Perang. Dia hanya menyaksikan yang namanya perang itu di film-film di dunianya. Dia tidak menyangka harus mengalami hal ini benaran di dunia aneh ini. Dia takut bahwa hidupnya berakhir di tempat asing ini, meski dia bisa bela diri tapi itu tidak menjamin hidupnya selamat. Mengingat ada yang namanya benda tajam yang di pakai orang-orang di dunia ini, atau juga yang namanya Pa-power atau namanya yang tidak jelas itulah. Sakura melirik ke arah Sasori dan Naruto yang sibuk membahas sesuatu.
Raut wajah kedua pria itu sangat serius dan saat Naruto melihat ke arah kertas yang di pegang Sasori. Sesaat Sasori memalingkan wajahnya dan pandangannya bertemu dengan manik emerlard yang memandangnya sendu dari jauh. Segera dia menyerahkan kertas itu pada Naruto yang masih mengoceh di depannya dan berjalan menuju ke arah Sakura dan Hinata. Sontak Sakura terkejut dengan kedatangan Sasori begitu juga Hinata yang menunduk menyadari gerak tubuh Sakura langsung mendongak.
"Oh woe! Sasori!" Teriak Naruto melihat Sasori berjalan ke arah Sakura dan Hinata.
Naruto hanya menggaruk-garuk rambut jabriknya yang tidak gatal itu dan mengikuti Sasori mendekati Hinata dan Sakura. Sasori berdiri tepat di hadapan Sakura. Pria bersurai merah itu menatap Sakura dalam.
"Sakura, kau tidak apa-apa? Apakah kau sakit?" Tanya Sasori khawatir.
"Ti-tidak," jawab Sakura gugup.
Mendengar jawaban Sakura dan gelagat Hinata yang tidak nyaman di sekitarnya, akhirnya Sasori mengerti. Kedua gadis ini ketakutan. Wajar, karena kedua gadis ini tidak pernah mengalami yang namanya perang di dunia asal mereka. Naruto juga sepertinya menyadari hal itu dan segera menarik pergelangan tangan Hinata menjauh dari Sasori dan Sakura. Hinata yang awalanya mau berteriak protes tidak jadi karena Hinata melihat raut wajah Naruto yang serius. Tinggallah Sasori dan Sakura. Mereka berdua di tempat yang sepi dan tidak di ketahui oleh orang-orang. Apalagi suasana malam hari yang cukup gelap yang hanya di terangi api obor semakin membuat mereka tidak di ketahui oleh orang lain.
"Hei, mengapa wajahmu seperti menahan nafas selama 90 detik? Apakah kau sudah tidak bisa menahan diri untuk bersamaku?" Tanya Sasori tenang.
Apa? Wajah 90 detik? Darimana dia belajar filosofi wajah 90 detik itu membuat seseorang tidak mempunyai semangat hidup lagi. Godaan terakhir yang di lancarkan oleh Sasori berhasil membuat Sakura marah.
"Apa! Jangan terlalu percaya diri kau kepala cabai!" Teriak Sakura memukul lengan Sasori.
"Auch! Pukulanmu tidak seperti biasanya Sakura. Apakah kau sengaja mengurangi tenagamu? Jika iya, apakah itu pertanda kau sedang kangen padaku dengan sengaja memasang wajah 90 detik itu?" Goda Sasori.
"Wajah 90 detik apaan! Kau terlalu menyebalkan!" Kali ini Sakura benar-benar meninju perut Sasori dan berhasil membuat pria bersurai merah itu meringis kesakitan.
"Ittai!" Pekik Sasori kesakitan dan terjatuh di tanah.
Sakura yang sadar telah meninju Sasori dengan tenaganya yang penuh langsung menyesal dan mendekati Sasori. Dia berjongkok di atas Sasori dan memeriksa perutnya.
"Ka-kau tidak apa-apa?! Maafkan aku!" Teriak Sakura cemas mendekati Sasori untuk memeriksanya. "Hehehe," Sasori nyengir senang melihat Sakura yang cemas melihatnya.
"A-apa? Kenapa malah tertawa?" Tanya Sakura gugup pada Sasori.
"Tidak Sakura. Aku hanya tidak menyangka kau tipe agresif. Kau begitu menyukaiku ya sampai-sampai kau menyudutkanku seperti ini?" Goda Sasori lagi dan berhasil membuat Sakura merona sesaat kemudian mencubit perut Sasori. "Rasakan!" Teriak Sakura geram.
"A-adduh duh! Ittai! Ampun Sakura!" Teriak Sasori kesakitan lagi dan mengelus-elus perutnya yang menjadi korban cubitan Sakura.
"Siapa suruh kau menggodaku?! Itu hukuman paling pantas untukmu!" Cibir Sakura pada Sasori.
Sasori mendengar penuturan gadis berambut warna soft pink itu. Akhirnya dia berhasil membuat wajah sendu Sakura menjadi wajah Sakura yang semangat seperti biasanya. Dia tidak ingin Sakura ketakutan, hanya itu niatnya.
"Akhirnya kembali ke Sakura yang seperti biasanya," kata Sasori dengan senyumnya
"A-apa?" Sakura mengerjap kaget dengan penuturan pria bersurai merah ini.
"Aku melihatmu seperti ingin menangis. Jadi aku sengaja menggodamu," kata Sasori kalem.
"Ka-kau! Bagaimana mungkin?!" Teriak Sakura di antara malu dan senang karena Sasori menyadari keadaannya. Dia membuang mukanya dan Sasori tersenyum melihatnya.
Bagi Sasori melihat Sakura yang gelagapan seperti ini menjadi hiburan tersendiri baginya dan entah sejak kapan dia tidak ingin ada pria lain yang melihat wajah Sakura seperti ini. Pria lain? Tunggu dulu. Jika Sasori mempunyai pemikiran seperti itu, kesannya dia seperti seorang kekasih yang cemburu bila pasangannya di goda oleh pria lain. Akan tetapi itu sepertinya tidak menjadi masalahnya sekarang, yang pasti sekarang Sakura sudah tidak merasakan ketakutan dan berwajah sendu seperti tadi lagi.
"Sakura, kau ketakutan ya? Kau boleh memelukku jika ketakutan. Tanganku terbuka lebar menerima pelukkan hangat darimu," goda Sasori lagi membentangkan kedua tangannya lebar.
"Kau. Apakah kau ingin hidup lebih lama lagi Sasori?" Tanya Sakura dengan senyum yang dibuatnya. "Hahahaha. Canda! Lihat. Kau tidak ketakutan menghadapi Akasuna no Sasori ini, masakah kau takut menghadapi musuh-musuh yang di bawah levelku?" Tanya Sasori pada Sakura.
Entah pertanyaan itu di buat-buat oleh Sasori ataupun penghiburan Sasori untuk membuat Sakura kuat. Akan tetapi Sakura tersenyum merekah pada Sasori. Pria ini tahu kalau dia ketakutan dan tentu saja Sakura merasa aman, karena dia tahu Sasori akan melindunginya apa pun yang terjadi.
"Tidak. Aku tidak takut lagi. Harusnya aku sadar kalau aku bersama pria terkuat yang pernah kutemui di dunia aneh ini," balas Sakura balik dan itu berhasil membuat Sasori merona. Dia tidak menyangka gadis ini bisa berkata seperti itu padanya. Sakura menyadari rona merah yang menjalar pipi pria ini sampai ke telinganya. Membuatnya tidak tahan untuk menggodanya.
"Wajahmu merah sekali Sasori. Apakah kau sakit? Ataukah kau sedang melakukan wajah 90 detik yang barusan kau katakan itu?" Goda Sakura jahil.
Sasori yang sadar sedang di goda oleh Sakura langsung menanggapi dengan senyuman. Jadi sekarang Sakura mulai menggodanya? Ini menjadi lebih menarik, Sasori ingin tahu sejauh apa kejahilan Sakura.
"Ehm, mungkin iya. Itu karena aku sebenarnya membutuhkan ciuman daripada dipuji setinggi langit Sakura." Balas Sasori dengan kalem.
"Kau! Jangan mengharapkan mesum padaku! Shannaro!" Pekik Sakura melayangkan tinjunya pada Sasori.
Tentu saja pria itu terkena bogem maut Sakura dan meringis kesakitan.
"Ittai!" Ringis Sasori tetapi kali ini Sakura tidak mengindahkan rasa sakit Sasori. Dia membuang mukanya dan tidak mau melihat keadaan Sasori.
Sasori tersenyum melihat gadis ini dan Sakura sadar Sasori memandangnya dari samping. Saat Sakura membalikkan wajahnya, dia melihat Sasori masih tersenyum padanya. Sakura terpesona dengan senyuman Akasuna no Sasori. Ya. Pria itu membuatnya terpesona. Pria itu juga berhasil mengusir rasa takutnya dan Sakura menyadari bahwa Sasori sengaja melakukan itu semua untuknya.
"Arigatou Sasori," ucap Sakura tersenyum tulus.
Sasori terpesona oleh senyuman milik Haruno Sakura. Jika logika Sasori tidak berjalan mungkin, dia sudah menuruti kata hatinya untuk segera merengkuh gadis di hadapannya ini dan mencium bibir merah penuh milik gadis berambut soft pink ini. Akan tetapi menurut Sasori itu tidak benar, karena kalau Sasori mencium Sakura berarti dia harus menikahi Sakura terlebih dahulu. Tentu saja itu menurut peraturan dunia ini. Dia sudah cukup senang dengan pujian Sakura tadi dan senyuman gadis itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Asalkan kau tidak ketakutan lagi, itu sudah cukup Sakura," balas Sasori tulus. Mereka berdua pun tersenyum .
Sementara itu Naruto masih menarik tangan Hinata pergi sedikit jauh dari tempat penjagaan mereka. Hinata tidak mengerti Naruto mau membawanya kemana dan tentu saja gadis ini mulai kewalahan. Bagaimana tidak? Naruto semakin mempercepat langkahnya dan Hinata kesulitan mengimbangi kecepatan jalan Naruto yang seorang shinobi. Hinata yang tidak jelas mau di bawa kemana oleh Naruto langsung menghentikan langkahnya. Hal itu di sadari oleh Naruto dan melihat ke arah Hinata.
"Ki-kita mau kemana Naruto-kun?" Tanya Hinata terbata.
"Apa kau ketakutan Hinata?" Tanya Naruto sarkatis dan itu berhasil membuat Hinata mengerjap.
Dari mana Naruto tahu kalau dia ketakutan sekarang. Hinata memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap wajah Naruto. Hal itu semakin membuat dugaan Naruto tepat. Entah kenapa dia tidak ingin Hinata mengalami ketakutan tidak jelas ini. Dia mengerti gadis ini tidak pernah mengalami yang namanya perang di dunia asalnya, akan tetapi wajah Hinata yang sendu bercampur ketakutan tadi tidak bisa lepas dari pikirannya. Kalau menilai akal sehatnya, dia tidak peduli dengan keadaan gadis itu, kekasihnya juga bukan apalagi calon istrinya, tetapi hatinya tidak bisa bekerja sama dengan akal sehatnya. Tanpa pikir panjang Naruto langsung menarik Hinata menabrak tubuhnya dan merengkuh gadis itu.
Tentu saja Hinata terkejut dengan tindakan Naruto barusan. Tanpa melihatnya dia bisa merasakan raut wajah Naruto kesal seolah bergumul dengan sesuatu. Naruto terus mengeratkan pelukkannya terhadap gadis itu. Hinata teringat menurut peraturan dunia ini, kalau ciuman itu untuk sepasang suami istri bagaimana dengan pelukan? Pasti itu juga berdampak. Mengingat Naruto yang tidak menganggapnya siapa-siapa, Hinata dengan sekuat tenaganya mencoba melepas pelukannya dari pria berjabrik kuning ini.
"Le-lepaskan aku Naruto-kun!" Kata Hinata di tengah usahanya melepas pelukan Naruto.
"Tidak mau! Aku tidak mau melepaskanmu sampai ketakutanmu lenyap," kata Naruto serius semakim mengeratkan pelukannya pada Hinata.
"Ta-tapi!" Pekik Hinata yang langsung di potong Naruto. "Tidak ada tapi-tapian! Diamlah!" Kata Naruto kali ini sedikit memaksa.
Hinata tersontak kaget kemudian melunak saat Naruto menatapnya dengan dalam. Dia terlena dengan mata biru milik pria berjabrik kuning itu. Hinata sangat menyukai mata Naruto, kedua mata milik Naruto membuatnya tenang dan nyaman. Naruto pun membenamkan wajahnya ke pundak gadis ini dan Hinata akhirnya menyerah dengan membalas pelukan pria ini.
Suasana malam yang tenang dan minim penerangan tidak membuat keduanya terhalang apapun. Mereka masih terus dalam posisi berpelukan . Hal itu berlangsung lama sampai akhirnya Naruto merasa Hinata sudah tenang dan melepaskan pelukkannya. Awalnya Hinata terkejut dan merasa tidak rela melepaskan pelukan Naruto, tetapi di tatap oleh Naruto membuatnya canggung dan melepaskan pelukan pria itu.
"Sudah tenang Hinata?" Tanya Naruto
"Su-sudah. Maaf Naruto-kun," kata Hinata.
Naruto bisa melihat Hinata sudah kembali tenang. Gadis lavender ini tidak berbohong padanya. Sesaat Naruto menyesal dengan tindakannya barusan, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara meminta maaf yang benar. Akhirnya Naruto hanya nyengir saja.
"Aku yang harusnya minta maaf karena memaksamu. Kau pasti berpikir aku pria yang kasar sekarang," balas Naruto nyengir.
"Ti-tidak. Kau tidak seperti itu Naruto-kun. Ka-kau sangat baik," tutur Hinata jujur.
Pengakuan Hinata membuat Naruto senang dan wajah Hinata yang sekarang membuat Naruto tergelitik untuk menggodanya.
"Benarkah aku seperti itu? Berarti kalau aku mesum padamu bolehkan Hinata?" Goda Naruto.
"TI-TIDAK!" Teriak Hinata yang akhirnya melayangkan tinju ke wajah tampan milik pria berjabrik kuning ini. Akan tetapi dengan mudahnya Naruto menangkap tangan Hinata yang ingin meninjunya. Dia tersenyum jahil dan semakin ingin menggoda Hinata. Lihat saja wajah Hinata yang sudah merah merona.
"Kenapa? Padahal aku membutuhkan kehangatan darimu untuk meningkatkan semangatku. Bukannya dari awal kau telah menyukaiku Hinata?" Goda Naruto semakin ngawur.
"Ka-kau terlalu percaya diri Naruto-kun!" Teriak Hinata pada Naruto.
"Baiklah kalau kau berkata seperti itu. Apakah kau tidak sadar kau terus menggunakan suffiks-kun saat memanggilku?" Goda Naruto yang membuat Hinata mati kutu.
"I-itu kebiasaan! Aku juga menggunakan suffiks –kun pada pria lainnya!" Hinata membuat alasan yang masuk akal, karena di dunia asalnya dia menggunakan suffiks –kun pada pria yang dekat padanya, yaitu saudara sepupunya Hyuuga Neji.
Mendengar alasan Hinata yang berkata menggunakan suffiks –kun pada pria lainnya, Naruto tiba-tiba kesal. Dia tidak dapat menerima alasan Hinata dan itu membuat akal sehatnya tidak berjalan lagi. Batinnya berteriak dia tidak suka jika Hinata memanggil pria lain menggunakan suffiks –kun selain dirinya. Dia membayangkan memanggil teman-teman dekatnya di panggil Hinata dengan suffiks- kun, Seperti Sasori-kun , Shikamaru-kun, atau mungkin juga Kent-kun. Tidak! Dia teramat tidak rela.
Kali ini dengan lembut, Naruto menarik Hinata dekat padanya lagi. Hinata yang tidak siap langsung jatuh ke tubuh Naruto dan dipeluk oleh pria itu lagi. Naruto menundukkan wajahnya kea rah wajah Hinata. Gadis lavender itu semakin tidak siap dengan tindakan Naruto yang mendadak mendekatkan wajahnya ke wajahanya semakin tidak karuan. Dengan cepat Hinata menutup matanya, dia berpikir Naruto akan menciumnya.
Naruto terkesiap dengan tindakan Hinata yang menutup kedua matanya yang indah itu. Naruto menghentikan pandangannya di wajah Hinata yang sudah menutup kedua matanya, menunggunya. Jadi Hinata berpikir bahwa dia akan menciumnya? Cium? Iya, Naruto ingin menciumnya. Jika Hinata tidak menutup kedua matanya tadi mungkin akan terjadi seperti yang di inginkan Hinata. Akan tetapi akal sehat Naruto kali ini sudah berjalan dan seringai jahil menghiasi pria berkulit tan ini.
Naruto menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya ini. Wajah Hinata yang putih dengan menutup kedua matanya terlihat pasrah dan sedikit gugup. Benar-benar defendless. Kali ini akal sehat dan batin Naruto dapat bekerja sama. Naruto ingin sekali mencium gadis lavender di hadapannya ini, akan tetapi dia tidak bisa mengulangi kesalahannya di Kugutsu Kingdom. Hal itu harus di lakukan oleh sepasang suami istri, dengan alasan itu Naruto mengurungkan niatnya. Bukan berarti Naruto namanya kalau tidak kehabisan akal, kali ini dia menggunakan alasan ini untuk menggoda Hinata. Di sisi lain, Naruto tidak menyukai Hinata. Dia hanya menikmati reaksi Hinata. Itu saja. Dia yakin akan hal itu.
"Lho kenapa menutup mata Hime? Apakah kau sakit?" Goda Naruto yang sukses membuat Hinata membuka kedua matanya yang terpejam tadi.
"A-apa?! Tidak!" Teriak Hinata yang mencoba melepaskan diri dari pria itu sekali lagi.
Tentu saja niatnya tidak berhasil sebab Naruto mengunggulinya dengan tenaganya sebagai seorang pria terkecuali Hinata adalah seorang petarung, pasti sudah lain ceritanya.
"Ah! Kukira kau sakit Hime. Atau jangan-jangan kau mengira aku akan menciummu Hime?" Goda Naruto lagi
Well, itu berhasil membuat Hinata merona hebat dan mati kutu. Dia tidak bisa membalas kata-kata Naruto lagi. Naruto benar-benar menebak dirinya. Seringai jahil menghiasi wajah Naruto dan entah kali ini akal sehat berjalan atau tidak bersama batinnya, Naruto mencuri kesempatan mencium pipi Hinata yang merona kemerahan akibat ulahnya. Tentu saja itu karena Naruto tidak bisa memungkiri betapa manisnya gadis ini saat bereaksi seperti itu menanggapi godaannya.
-Continue-
Gomen Minna-san!
Maaf baru updatenya sangat lama sekali dan thank you buat review-reviewnya.
Jujur updatenya lama karena sibuk kerja dan kuliah semester akhir. Memikirkan judul skripsi yang masih stuck di jalan. Hehehe
Arigatou buat pembaca yang masih setia menunggu ini dan arigatou untuk komentar tentang judul tidak sesuai cerita, ini di karenakan mau menyesuaikan alur cerita. Maaf kalau terkesan super duper lambat, tapi Lily tidak mau merusak kualitas cerita sendiri. Masing-masing penulis mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan suatu cerita. Akhir kata arigatou sudah membaca cerita ini dan memperhatikan perkembangan cerita ini. Lily senang dapat komentar baik jeleknya. Untuk soal pertanyaan Iruka dengan Lei,mereka berada di pihak Saso-Naru. Untuk Sasu-Ita, mereka pasti dukung Naruto, tunggu saja part mereka muncul. Tentu saja Ino-Chouji gabung bersama Saso-Naru-Saku-Hina. Untuk Menma Namikaze, tunggu saja pertarungannya dengan sang Aniki. ^^ (Gomen, tidak mau membocorkan cerita lebih lagi. :p)
Thank you for review, favo, and foll
Keep support ya Minna!
At last, enjoy it Minna!
Arigatou Gozaimasu!
