I am
.
.
.
.
Yang ku tau..
.
.
.
.
Cinta itu..
.
.
.
.
Hanya tentang aku dan k au…
.
.
.
.
Sudah tidak terhitung berapa kali aku menghela napas. Suara dari tulang leherku seolah menandakan bahwa aku butuh istirahat. Langit berwarna jingga pekat di luar. Hampir malam, berarti sudah hampir lima jam aku berkutat dengan si hitam manis kesayanganku. Pantas saja perutku meraung minta diisi.
Setelah pertemuan ku dengan Park Chanyeol siang tadi, aku langsung kembali ke rumah, membatalkan niatku untuk berkencan dengan buku di perpustakaan. Butuh waktu dua jam untuk kembali berpikir ulang. Apakah aku harus menulis kisah Chanyeol? Tapi akhirnya aku bergerak membuka netbook milikku dan mulai menarikan jemari di keyboard. Aku juga sudah terlanjur berkata iya pada oppa tampan itu tadi.
Dan beginilah. Lima jam yang sungguh menyakitkan. Punggungku, leherku, mataku rasanya sakit. Dan yang ku dapat hanya kurang lebih dua ribu words! Aku sudah bilang bahwa aku hanya penulis cerita abal-abal di blog pribadiku. Aku bahkan tidak pernah menamatkan satu cerita. Tapi saat ini aku harus menulis kisah seseorang yang baru pertama kali ku temui. Itu mungkin akan menjadi kisah yang panjang.
Aku masih belum mengerti apa yang terjadi. Hanya sedikit yang sempat di ceritakannya sebelum seseorang menelpon dan Park Chanyeol dengan terburu-buru meninggalkan café. Mungkin itu sebabnya tidak banyak yang bisa ku tulis.
Hufftt…
Benar-benar di luar dugaan. Aku hanya keluar rumah setelah'diusir' ibu. Lalu bertemu dengan pria tampan yang memiliki begitu banyak kisah bahkan hanya dari sorot matanya. Pria yang memilik beribu penyesalan yang membuatku ingin mengerti.
Ku kira ini kisahnya. Kisah Park Chanyeol.
Ternyata seseorang bernama Oh Sehun lah bibit dari kisah ini.
Aku kembali menatap laptop yang masih menyala di depanku sesaat setelah membaca pesan masuk di handphone ku. Pesan dari Park Chanyeol. Mengatakan bahwa ia ingin bertemu kembali malam ini untuk melanjutkan kisahnya.
See You In Autumn.
"Aku ingin mendengarkan kisahmu, Oh Sehun…"
Senja yang menghilang..
Awalku mengetahui tentangmu..
.
.
.
.
.
.
See You In Autumn
Kim Jongin X Oh Sehun
M
Boys Love
.
.
.
Minggu pagi biasanya di habiskan Jongin untuk mencari buku-buku bacaan. Hobi membacanya sudah muncul sejak sekolah dasar. Jongin kecil tidak punya banyak teman karena seringnya ia berpindah sekolah. Pekerjaan ayahnya sebagai seorang pengajar mengharuskna keluarga kecil Kim berpindah kota tiap dua tahun. Jongin yang memang pemalu sulit untuk mencari teman. Hingga tiap akhir pekan, ia hanya menghabiskan waktu membaca buku.
Tapi minggu ini Jongin terpksa harus mengabaikan kegiatan rutinnya itu. Kemarin malam ibunya menelpon dan meminta Jongin untuk mengunjungi nenek di Daegu. Wanita berusia hampir tujuh puluh tahun itu memang kadang merindukan Jongin. Tanpa keberatan sedikitpun, Jongin mengiyakan permintaan ibunya. Kebetulan ia tidak memiliki jadwal apapun. Sehun yang biasanya merengek minta ditemani bermain di archade juga tidak menghubunginya.
Setelah memakai mantel tipis berwarna navy miliknya, Jongin bergegas keluar dari apartemen miliknya. Saat masuk di sekolah menengah atas, Jongin memang meminta apartemen pada kedua orang tuanya. Bukan apartemen mewah, hanya apartement biasa dengan satu kamar tidur dan ruang tamu yang langsung terhubung dengan dapur. Kata "Mandiri" menjadi mantra ampuh untuk membujuk Tuan dan Nyonya Kim. Lagipula kedua orang tuanya tidak akan kesepian, karena di rumah yang besar itu masih ada adik kembar laki-lakinya.
Jongin mengetuk-ngetukkan jarinya dengan gusar di bibir saat taksi yang ia tumpangi untuk ke stasiun terpaksa berhenti karena ada kecelakaan lalu lintas di depan. Untuk kesekian kalinya Jongin kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Dia harus tiba di stasiun sepuluh menit lagi kalau tidak ingin ketinggalan kereta. Jika saja dia sudah legal untuk mengemudi, mungkin ia akan tidak akan repot-repot untuk mengejar kereta.
Jongin harus puas saat taksi yang ia tumpangi akhirnya kembali meluncur menuju stasiun. Ia hanya berharap ada sesuatu yang mengharuskan kereta menuju Daegu terlambat berangkat. Namun kadang Jongin harus bersyukur untuk segala sesuatu yang terjadi. Ia mungkin bisa menghentikan bus yang baru saja bergerak meninggalkan halte. Tapi menghentikan kereta yang bahkan melaju pelan meninggalkan stasiun mustahil ia lakukan. Pria berkulit tan itu tidak memiliki pilihan selain pulang. Mungkin tidur di apartement adalah pilihan yang bagus.
Bruk!
Baru saja ia berbalik ketika seseorang menabrak bahunya lumayan keras. Seorang wanita dengan satu cup kopi dingin yang kini tumpah membasahi baju bagian depan keduanya.
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja. kau baik-baik saja?" tanya Jongin berusaha memegangi bahu gadis yang menunduk di depannya. Jongin pikir gadis dengan ransel dibahu itu kesakitan setelah menabrak tubuhnya lumayan keras. Namun saat gadis bersurai hitam panjang itu mendongak, Jongin bisa melihat bagian bawah bajunya yang kotor terkena tumpahan kopi.
"Tidak apa-apa. Aku yang menabrakmu. Maafkan aku." gadis itu membungkuk minta maaf sebelum berjongkok untuk mengambil handphonenya di lantai. Jongin mengira gadis itu sedang sibuk dengan handphone nya saat menabrak tubuhnya tadi. Gadis itu kembali berdiri dihadapan Jongin, "Bajumu kotor." Ucapnya.
"Ya?" Jongin menunduk untuk menemukan bercak kopi yang sama di bajunya. Ia tersenyum sebelum menyahut, "tidak apa-apa, aku akan membersihkannya nanti."
Gadis itu hanya mengangguk dan segera ingin beranjak pergi saat satu suara familiar di balik bahu Jongin menghentikannya.
"Ada apa?"
Jongin agak terkejut saat Chanyeol telah berdiri di sampingnya. Kakak kelasnya itu terlihat menggapai ujung baju si gadis yang ditabraknya tadi, memperhatika noda kopi yang mulai merembes.
"Kotor sekali. cepat ganti bajumu." Ucap Chanyeol yang langsung diangguki oleh gadis bersurai hitam itu.
Setelah gadis itu pergi, barulah Jongin menoleh pada Chanyeol dengan kerutan penasaran di keningnya. Ia baru saja ingin menuding Chanyeol saat dengan cepat pria itu menyela.
"Dia sepupuku."
"Oh." Jongin mengangguk.
"Aku melihatmu dari sana," Chanyeol menunjuk arah ia datang tadi, "dan kemudian adegan seperti didrama terjadi." Lanjutnya,
Jongin terkekeh sambil mengibaskan bagian bajunya yang kotor oleh noda kopi, "jadi dia sepupu hyung yang baru pindah ke sekolah kita itu?" tanyanya. Chanyeol mengangguk, kemudian memilih duduk di salah satu kursi tunggu, diikuti oleh Jongin.
"Kau akan pergi?"
"Hm?" Jongin menoleh bingung, kemudian tersadar, "seharusnya begitu, tapi keretaku baru saja meninggalkanku." Sahutnya. "Hyung mau pergi?"
Chanyeol mengambil handphone nya dari saku celana sebelum menjawab, "Ya, ada beberapa berkas milik Seolhyun yang harus diambil di Ilsan."
"Kakak sepupu yang baik, eh?" goda Jongin yang mendapati usakan pelan di kepalanya. Kedua anak sekolahan itu terkekeh sebelum kemudian saling terdiam. Chanyeol telah sibuk dengan handphone di tangannya, sedangkan Jongin memilih memperhatikan sekitar sambil terus mengibaskan bajunya.
"Kau tidak ingin membersihkan bajumu?" tanya Chanyeol tanpa mengalihkan fokusnya dari handphone.
Jongin menoleh, mendapati Chanyeol yang bertanya tanpa menatap dirinya. Ia tersenyum tipis sekilas. Hyung nya ini memang terlihat selalu diam, seolah tidak ada yang harus ia pedulikan. Tapi sebenarnya, Chanyeol selalu memperhatikan sekitarnya. Ia melihat dengan diam. Ia tau orang-orang perlu perhatian tanpa harus di perhatikan dengan kedua mata. Ia tau orang-orang perlu pujian tanpa harus di ucapkan dengan berlebihan. Seolah memiliki sisi lain dalam dirinya. Chanyeol mampu melihat bahkan dengan mata tertutup.
"Tidak perlu—"
"Oppa?"
Chanyeol dan Jongin sama-sama menoleh saat seorang gadis menepuk bahu Chanyeol dari belakang. Gadis yang telah mengganti bajunya itu menyerahkan ransel miliknya pada Chanyeol dan tanpa berkata apa-apa melangkah mendahalui kakak sepupunya itu.
"Aku harus pergi, Jongin." Gumam Chanyeol sambil menyampirkan ransel tersebut di bahunya, "pulanglah. Angin musim gugur bisa membuatmu flu."
Jongin masih berdiri di tempatnya setelah Chanyeol berbalik menyusul adik sepupunya. Senyumnya terkembang tanpa ia pinta saat memperhatikan dua orang tersebut. Atau…satu? Karena nyatanya Chanyeol hanyalah potongan gambar buram di belakang punggung gadis dengan kemeja abu-abu itu.
"Seolhyun?"
Aku diam-diam mendengarkan..
Lagu ini ku tulis dengan warna abu-abu..
.
.
.
.
.
.
.
Kelas yang ribut tentu menjadi suatu hal yang biasa. Murid-murid dikelas 1-3 selalu menjadi ikon keributan. Tentu, didalamnya ada si duo biang onar Kim Jongin dan Oh Sehun. Seperti saat ini, saat para guru sedang sibuk dengan agenda tahunan ulang tahun CHS, mereka juga sedang sibuk beradu tarian di dalam kelas, mengundang kelas lain juga ikut bergabung untuk melihat kelakuan mereka.
Kim Jongin berdiri di depan kelas, meliukkan badannya dengan hentakan acak tanpa musik. Sedangkan Oh Sehun duduk diatas meja guru dengan kedua tangan terlipat didada dan pandangan remeh.
"Begitu saja kemampuanmu Tuan Kim?" seru Sehun setelah Jongin selesai menari. Si pirang itu melompat turun daru meja, lalu berdiri didepan Jongin yang masih mengatur nafasnya setelah menari. "Mudah sekali." lanjutnya dengan wajah meremehkan yang jujur saja sangat menyebalkan dan kemudian mendapat sorakan penuh semangat dari teman-temannya.
"Giliranmu, Sehunie." Gumam Jongin yang hanya mampu di dengar oleh Sehun. Jelas sekali, ia mengejek pria pirang itu.
Biasanya Sehun akan langsung meledak saat di panggil seperti itu. ia bilang, itu panggilan untuk bayi. Chen yang lebih sering memanggilnya seperti itu. Tapi untuk sedetik yang tak di sadari siapapun, Sehun kehilangan fokus. Ia mengerjap dua kali, lalu kembali tersenyum miring pada Jongin.
Ia mendorong Jongin menjauh dan mulai merenggangkan otot lehernya. Kemudian yang terdengar adalah jeritan anak perempuan saat melihat Sehun bergerak bagai mesin penari. Beberapa anak laki-laki yang menonton bahkan berdecak kagum. Karena meskipun sering membuat kegaduhan di dalam kelas, ini adalah kali pertama Sehun menunjukkan bakat menarinya.
"Waaaaa Oh Sehuuuunnn!"
Sehun terkekeh saat mendengar jeritan anak perempuan di jendela-jendela kelas. Ia bisa melihat Jongin masih menatapnya dengan satu senyuman. Senyuman yang menyiratkan bahwa laki-laki itu kagum padanya. Sehun harus memalingkan wajahnya sebelum—
Brak!
"Kim Jongin! Oh Sehun!"
Yang di panggil menoleh bersamaan. Guru Choi sudah berdiri di depan pintu dengan wajah menyeramkan. Sedangkan murid-murid dari kelas lain sudah berhamburan menjauhi kelas mereka. Bahkan teman-teman sekelas nya yang tadi paling semangat bersorak sudah kembali ke tempat duduk masing-masing.
Jongin dan Sehun mendesah bersamaan. Mereka tidak akan selamat dari hukuman. Paling tidak membersihkan toilet dan yang lebih buruk mendapatkan omelan dari guru BP mereka yang cantik itu.
Seolah tersadar, Sehun dan Jongin saling bertatapan. Bukankah para guru sedang sibuk merencanakan pesta ulang tahun untuk sekolah mereka? Lalu kenapa Guru Choi bisa sangat rajin naik ke lantai tiga untuk menjemput duo berandal itu?
"Ke ruanganku sekarang!" sentak guru Choi, lalu melangkah lebih dulu menuju ruangannya. Barulah saat itu mereka melihat sosok tinggi Park Chanyeol yang sejak tadi berdiri di belakang guru Choi, tersenyum dengan sangat tampan.
"Hyung!" seru Jongin dan Sehun bersamaan.
Adakah yang pernah bilang bahwa Park Chanyeol adalah Ketua Kedisiplinan Murid?
.
.
.
.
.
.
"Sehuna!"
Seruan itu membuat Sehun yang baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah berbalik. Jongin berlari kearahnya dengan membawa sebuah bola basket. Sehun tau bahwa baru-baru ini Jongin mengikuti klub basket. Minggu lalu ia bercerita tanpa semangat bahwa salah seorang kakak kelas terus memaksanya ikut begabung di klub basket.
"Kau benar-benar bermain basket sekarang?" tanya Sehun.
Jongin memandang bola basket nya sebentar, lalu mengangkat bahu. "Tidak buruk juga ternyata."
Sehun mengangguk sebelum menyamakan langkah dengan Jongin keluar dari lingkungan sekolah.
"Kenapa baru pulang?"
"Aku mengerjakan tugas di perpustakaan. Kenapa memanggilku?"
"Aku ingin mengerjakan tugas bersamamu. Ada beberapa point yang tidak ku mengerti. Jadi, bisa aku mampir ke rumahmu?"
Mereka berhenti melangkah saat tiba di halte. Sehun menatap keatasnya, melihat langit sore yang cerah meski angin musim gugur dimana-mana. Kemudian ia menunduk, menatap dedaunan kering di sekeliling kakinya. Musim gugur tahun ini terasa lebih dingin bagi Sehun. Entah mengapa.
"Bus mu sudah datang."kata Sehun, masih menunduk.
Jongin yang sedari tadi menunggu jawaban dari Sehun menoleh menatap bus biru yang baru saja berhenti di depan mereka. Hanya dua orang dewasa yang terlihat keluar dari bus. Jongin baru saja akan membuka mulut ketika Sehun telah lebih dulu memotong ucapannya.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu. Aku ada sedikit urusan sore ini"
Jongin tidak menyahut. Pintu bus akhirnya tertutup tanpa seorangpun dari mereka yang beranjak. Sampai bus melaju meninggalkan halte, dua orang siswa berseragam itu masih saling diam disana. Sehun menghela nafas. Tau bahwa kali ini Jongin akan mengeluarkan protesnya. Karena bukan sekali dua kali Sehun beralasan ini dan itu saat Jongin berniat mampir kerumahnya.
"Aku tidak tau apa masalahmu, Sehun. Tapi bisaah kau lebih terbuka padaku? Kau bisa menghindari Chen dan Chanyeol hyung, tapi jangan aku. Kita sudah berteman sejak kelas satu sekolah menengah pertama. Kau mengetahui apapun tentang ku. Dan aku bahkan hanya mengenal namamu." Kata Jongin, tak lepas menatap Sehun yang masih tertunduk di sampingnya.
"Aku benar-benar sibuk. Kau bisa kerumah ku lusa."
"Lalu kau akan beralasan lagi dengan hal yang sama?" sahut Jongin cepat.
Sehun kembali menghela nafas. Kali ini ia menatap sekeliling sebelum menatap Jongin yang masih terlihat kesal. Ia kemudian berkacak pinggang.
"Berhenti mengoceh Jongin, kita terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar—"
"Aku ingin lebih mengenalmu…"
Niatan Sehun ingin menggoda Jongin agar lelaki itu diam, kini malah ia terdiam. Jongin benar, dibandingkan Chen dan Chanyeol. Mereka berdua sudah seperti saudara. Sehun akan lebih sering menginap di apartement Jongin saat akhir pekan. Mereka akan saling bersaing untuk menggoda para noona saat lari pagi. Sehun akan tiba-tiba datang ke apartemen Jongin dan merengek lapar, lalu memasak telur dadar bersama.
Bahkan tanpa mereka berdua sadari, Sehun adalah orang pertama yang di cari Jongin saat tiba disekolah.
Jongin hanya ingin mengenalnya lebih dekat setelah empat tahun. Jongin ingin mengenal Sehun lebih dari sekedar namanya, dan—
"sebagai sahabatmu, aku ingin tau lebih banyak tentangmu Sehuna."
Sebagai sahabat..
Aku diam-diam menangis…
Apa yang harus ku lakukan?
.
.
.
.
.
Hujan masih cukup deras membasahi Seoul malam ini. Orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya untuk menghindari kebasahan. Beberapa minimarket dipenuhi orang-orang. Beberapa terlihat ribut berdiskusi menu makan malam apa yang akan mereka buat. Dan beberapa lainnya mendorong troli seorang diri dengan daftar belanjaan yang tertulis lengkap.
Sehun salah satu yang memilih ke minimarket seorang diri. Duduk di bangku panjang sambil menikmati satu cup ramen panas. Cuaca yang buruk dengan suhu di bawah rata-rata memang sering membuat perutnya lapar tiba-tiba. Sehun baru saja pulang dari perpustakaan kota saat hujan turun dan memaksanya berbelok memasuki minimarket.
Butiran air hujan yang menempel di kaca minimarket menjadi pemandangan yang menyenangkan untuk Sehun. Jemarinya kadang bergerak untuk mengusap kaca, berpikir untuk menyentuh gumpalan-gumpalan kecil air itu walau ia tau bahwa air tesebut berada di sisi lain kaca.
Sejenak, ia hanya fokus pada hujan di luar sana, mengabaikan kepulan uap panas beraroma enak dari cup ramen miliknya. Ia tidak tau sejak kapan ia menyukai hujan. Setiap kali hujan turun, bahkan saat dikeadaan mendesak pun Sehun tidak pernah mengumpat pada hujan. Hingga tanpa sadar senyumnya terkembang.
Sehun menyukain hujan.
.
.
.
"Kau tau malaikat pelindung?"
"Malaikat pelindung?"
"Iya. Malaikat pelindung. Dia akan selalu disampingmu saat hujan turun"
"Kenapa?"
"Untuk melindungimu dari hal-hal menakutkan. Seperti petir dan badai."
.
.
.
"Dan kau ada disampingku waktu itu" gumam Sehun pada dirinya sendiri saat ingatan itu kembali terputar di otaknya.
Jemarinya masih menyentuh kaca dingin minimarket saat dua orang diluar sana mengambil perhatiannya. Dua orang di bawah payung coklat kecil di tengah hujan itu membuat jemari Sehun berhenti mengusap kaca dengan tiba-tiba. Matanya awas memperhatikan dua orang yang saling tertawa akrab itu. Meski kaca minimarket di depannya buram karena air hujan, Sehun bisa mengenali wajah salah satu dari merek dengan jelas.
"Jongin?"
"Sehun?"
Sehun berbalik dengan cepat. Tubuh berbalut mantel abu-abu itu tersenyum kearahya. Lega karena ia tidak salah orang. Langkahnya mendekati Sehun yang masih linglung, bertanya-tanya siapa perempuan bersama Jongin tadi.
"Sedang berbelanja?"
Sehun menggeleng sambil tertawa kecil. "Aku hanya sedikit lapar."
Lelaki bermantel abu-abu itu melirik pada cup ramen di atas meja, lalu kembali menatap Sehun. "Ayo, kuantar pulang."
Sehun berpikirbeberapa saat. Sesekali memperhatikan keadaan di luar. Tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Ia juga tidak membawa payung, sedangkan tubuhnya tidak kuat dingin jika memutuskan menerobos hujan. Lagipula…
"Hyung?"
"Hm?"
"Boleh aku menginap dirumahmu?"
"Tentu"
Sehun tersenyum sebelum mengambil ransel yang ternyata ia letakkan di bawah meja sejak tadi.
"Aku mencintaimu, Chanyeol hyung."
Chanyeol tertawa saat Sehun merangkul tangannya dan keluar bersama dari minimarket. Mengabaikan cup ramen yang tersisa setengah diatas meja.
Tutup matamu..
Aku disebelahmu..
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Silahkan di bully TT cerita nya acak banget TT typo pun dimana-mana TT
