I Know
.
.
.
.
Aku tau yang tidak kau tau..
.
.
.
.
Aku rasa apa yang tidak kau rasa..
.
.
.
.
Aku menyimpannya sendiri…
.
.
.
.
Sehun kembali mencoret beberapa angka pada buku nya, lalu menuliskan angka lain sebagai penyelesaian dari soal yang sedang ia kerjakan. Beberapa kali ia berhenti dan menggelengkan kepala saat jawaban yang ia tulis tidak sesuai. Beberapa buku tertumpuk di samping lengannya yang masih aktif menulis.
Sudah hampir sore, dan Sehun masih betah berada di perpustakaan. Tidak banyak yang datang hari ini. Sehun hanya melihat beberapa mahasiswa yang beberapa saat lalu saling berdebat dan akhirnya mendapat teguran dari penjaga perpustakaan karena terlalu berisik.
Sehun baru saja ingin berdiri untuk mengambil buku lain sebagai referensi, saat dua buah tangan menahan bahunya dan memaksanya duduk kembalii.
"Kau belajar sangat keras." Kata Jongin sambil menyerahkan satu cup bubble tea pada Sehun.
"Mm, aku harus mempertahankan beasiswa ku." Sahut Sehun, kemudian menyesap minuman kesukaannya itu. "Terima kasih." Lanjutnya sambil menggoyangkan cup bubble tea.
Jongin mengambil salah satu buku, membuka tiap lembarnya tanpa berminat untuk membaca. Kadang, pola-pola rumit pada buku matematika cukup menyenangkan untuk dilihat.
"Kita bahkan masih berada di semester kedua" Gumam Jongin.
Sehun berhenti menyesap buble tea nya dan memilih menyandarkan punggung nya pada kursi kayu perpustakaan. Penjaga perpustakaan yang telah di kenal baik oleh Sehun terlihat menyusun beberapa buku di bagian teratas rak menggunakan tangga.
"Beasiswa ku tidak menunggu kapan aku akan belajar. Aku harus terus pintar karena dia selalu mengawasiku." Sehun berkata sambil terus memperhatikan penjaga perpustakaan yang kembali menuruni tangga.
"Aku tau kau pintar. Tapi aku baru tau kalau kau ternyata sok pintar." Sehun mendengus mendengar ejekan Jongin yang sama sekali tidak lucu. Sedangkan Jongin hanya cengengesan di depannya.
Sehun kemudian mengambil salah satu buku di sampingnya, membuka-buka halamannya lalu menunjukkannya pada Jongin.
"Kau pintar dalam kalkulus. Bantu aku menyelesaikan bagian yang ini."
Jongin berdecak malas, namun tetap bergerak untuk berpindah tempat duduk ke samping Sehun. Tangannya sudah siap dengan sebuah bolpoin saat Sehun kembali menyela.
"Ah, kau sudah bertemu dengan Minki Hyung?"
Jongin mengernyit bingung, lalu menggeleng, "Memangnya ada apa?" tentu ia merasa heran, Jongin bahkan tidak akrab dengan senior nya yang satu itu. Ia memang sering mendengar dari murid lain tentang Dj Radio yang terkenal di sekolahnya. Choi Minki. Jongin hanya bertegur sapa dengannya saat kegiatan ospek, dan setelah itu mereka hanya saling membungkuk jika berpapasan di koridor.
"Aku lupa member tahumu tadi. Minki hyung mencarimu. Jika aku tidak salah dengar, dia ingin mengajak mu bergabung dengan radio sekolah." Sehun berbicara dengan suara pelan agar tidak mengganggu orang lain.
"Kenapa orang-orang suka sekali memaksaku ikut bergabung dengan klub mereka?" Jongin mendesah putus asa dengan berlebihan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Oho, sekarang kau mengeluh? Bukankah kau yang paling bersemangat menunjukkan karisma mu yang sama sekali tidak keren itu saat hari pertama masuk sekolah? Kau bahkan selalu berkata akan membuat para sunbae berebut memasukanmu pada klub mereka."
Jongin memutar bola matanya malas, sedangkan Sehun hanya kembali menyesap buble tea miliknya. Jongin mungkin bisa disebut memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Ia selalu optimis pada apapun yang akan di lakukannya. Saat sekolah menengah pertama, ia sering mengikuti lomba-lomba baik dari sekolah ataupun diluar kegiatan sekolah dan menjanjikan kemenangan pada Sehun yang selalu mampu ia tepati.
Sebelum ujian kelulusan dilaksanakan, Jongin sudah merengek pada Sehun agar anak laki-laki kelebihan putih itu ikut bersamanya mendaftar di Cheongdam. Sehun yang awalnya beniat kembali ke Busan, akhirnya luluh dan menerima ajakan Jongin.
Bahkan jauh sebelum mereka diterima di Cheongdam, Jongin sudah berkoar-koar akan menjadi salah satu murid laki-laki tertampan di sekolah dan menjadi rebutan para senior. Ia berkata akan dengan keren menolak ajakan para seniornya tersebut hingga mereka semakin menginginkan Jongin. Tentu saja Jongin hanya melebihkan beberapa ucapannya. Karena nyatanya, Jongin tetaplah murid yang sopan pada kakak kelas, meski sering mendapatkan kartu kuning dari guru BP.
"Tetap saja, aku tidak mungkin memasuki semua klub." Geleng Jongin sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kau bisa menolak seperti biasa." Sahut Sehun mengangkat bahunya acuh.
Jongin mengangguk dan lagi-lagi menghela napas dengan berlebihan. "Kenapa Minki hyung ingin aku bergabung? Aku tidak memiliki bakat apapun di bidang seperti itu. Chanyeol hyung bahkan tidak mengikuti klub apapun, kenapa tidak ajak dia saja?"
"Karena kau lebih tampan dari Chanyeol hyung." Sahut Sehun cepat, menghabis kan sesapan terakhir dari dalam cup buble tea yang telah basah miliknya.
"Tentu." Jongin mengangguk percaya diri masih dengan wajah bingungnya.
"Maaf. Aku salah bicara."
Jongin berdecak, kemudian mengambil kembali buku yang tadi di tunjukkan Sehun padanya. "Aku akan menjelaskan dengan cara yang paling mudah untuk murid sepertimu." Sehun hanya memutar bola matanya sambil memperhatikan Jongin yang mulai menjelaskan beberapa soal kalkulus yang tidak dimengerti olehnya.
Perpustakaan kota memang selalu menjadi tujuan Sehun untuk belajar sejak sekolah dasar. Meskipun di kenal selalu membuat onar di sekolah, teman-temannya tidak akan heran melihat Sehun menghabiskan waktu di perpustakaan hingga lupa diri. Saat mengenal Jongin yang ternyata menyukai buku bacaan, Sehun tidak pernah terlihat sendirian di perpustakaan kota.
Lelaki berkulit tan itu akan dengan rajin membawakannya buble tea. Mereka akan berakhir dengan mengobrol dengan berbisik-bisik atau belajar bersama seperti sekarang.
"Kenapa….masih sulit?" Sehun menggaruk lehernya yag tidak gatal tanpa mengalihkan tatapannya dari deretan angka yang baru saja di tuliskan Jongin.
Jongin meletakkan bolpoinnya lalu beranjak menuju rak buku tidak jauh dari Sehun. Mataya awas memperhatikan tiap buku yang tersusun rapi di bagian tengah rak. Tangannya akan bergerak mengambil buku dan membuka-buka halamannya sebelum meletakkannya kembali saat tidak sesuai dengan apa yang dicarinya.
Semua itu tidak lepas dari mata almond Sehun. Dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja, Sehun mengawasi Jongin. Memperhatikan tiap gerakan kecil yang dilakukan lelaki itu.
Matahari sore yang membias di kaca besar perpustakaan memantul tepat kearah Jongin. Membuat lelaki itu layaknya lukisan hidup yang berdefinisikan indah. Semua tentang Jongin bukan hanya ketampanan. Jika di dunia ini ada hal yang tidak bisa didefinisikan bahkan dengan ribuan kata indah, maka bagi Sehun, Jongin lah hal tersebut.
Ia tidak tau dengan pasti sejak kapan kegiatan memperhatikan Jongin menjadi hobinya. Ia tidak tau apa yang membuatnya tak bisa melepaskan pandangan dari Jongin begitu saja, seolah menyayangkan tiap hal yang terlewat. Yang ia tau, ia memiliki batas tak kasat mata.
Batas yang selalu menahannya untuk tetap memperhatikan dalam diam. Batas yang berteriak keras melarangnya menaruh harapan. Batas yang selalu membuatnya menahan diri sewajar mungkin. Batas berjurang yang membuat senyumnya terlihat begitu memilukan.
Namun Sehun telah melanggar salah satu batas tersebut. Melewatinya tanpa peduli pada duri-duri tajam yang nanti mungkin akan melukai langkahnya.
"Cheos Sarang…"
Sebuah suara senyap…
Berubah menjadi sebuah lagu dirimu…
.
See You In Autumn
Kim Jongin X Oh Sehun
.
.
.
"Jongin! Bumi pada Jongin!"
Jongin yang sedang tertidur mengangkat kepalanya, memandang kesekeliling kelas dengan wajah bingung saat namanya diteriakkan dengan kencang oleh Chen. Temannya itu telah berdiri di samping mejanya dangan antusias, sedangkan Sehun masih setia duduk di sampingnya.
"Kenapa kau berisik sekali?" sungut Jongin setelah mengusap wajah mengantuknya.
"Kau ketinggalan berita bung." Ucap Chen penuh semangat sambil menumpukan kedua telapak tangannya pada meja Jongin.
"Apa?" tanya Jongin tanpa minat, menyandarkan kepalanya di bahu Sehun yang ikut penasaran dengan berita yang di bawa Chen. Oh, lelaki bersuara nyaring satu itu memang suka sekali menggosip.
"Kau tau Soo Jung sunbae?"
Jongin menggeleng, sedangkan Sehun mengangguk. Jongin mendongak untuk menatap Sehun dengan pandangan 'Kau mengenalnya?'
"Sunbae dari kelas yang sama dengan Chanyeol hyung?" tanya Sehun dengan wajah datar.
"Ya, yang itu." sahut Chen, "dia bertengkar hebat tadi."
Jongin berdecak kesal, "lalu apa hubungannya perkelahian perempuan-perempuan itu denganku?"
Chen menggeleng, lalu duduk di bangku tepat di depan Jongin. "Ehey! Asal kau tau, dia bertengkar dengan pacarnya, Minhyuk hyung."
"Lalu?"
"Kudengar, Soo Jung sunbae ingin memutuskannya karena tertarik denganmu."
Sehun berdecih tak habis pikir. Ia kembali mengambil buku bacaan nya di atas meja. Memperhatikan tiap suku kata yang tertulis disana tanpa fokus yang berarti.
"Lalu itu menjadi berita yang penting untukku?" Jongin sedikitnya masih kesal acara tidur singkatnya di ganggu oleh Chen. Ia merogoh isi tasnya dan mengambil sebatang lollipop darisana.
"Ya! Karena Minhyuk sunbae akan segera—"
Brak!
"—menemuimu"
Jongin baru saja memasukkan lollipop tersebut ke dalam mulutnya saat pintu kelasnya yang tidak bersalah di tendang dengan keras dari luar. Seorang laki-laki dengan rambut coklat memandang seisi kelas dengan tajam sebelum berhenti saat bertemu pandang dengan Jongin.
Langkah nya menggema seolah sengaja di hentakkan dengan keras saat ia berjalan mendekati Jongin yang masih duduk tenang di bangkunya. Jongin bahkan bisa melihat api yang berkobar-kobar di sekujur tubuk lelaki itu.
Chen memilih bangkit dari kursi saat Minhyuk tiba di depan Jongin dengan gebrakan keras pada meja. Dan berdiri menyandar di papan tulis sambil bersedekap dada.
"Kau!" telunjuk lelaki bersurai coklat menghunus tejam di depan hidung Jongin, "Berani-beraninya kau menggoda kekasihku!"
"Aku tidak menggoda siapapun." Sahut Jongin.
"Ya! Kau menggodanya! Tidak mungkin Soo Jung meninggalkanku dan lebih memilih dirimu jika bukan kau yang memulainya!"
"Yak! Minhyuk!"
Seluruh murid yang berada disana menoleh saat gadis cantik dengan rambut panjang hitamnya yang lurus memasuki kelas dengan tergesa-gesa. Wajahnya memerah saat berhasil menarik paksa Minhyuk dari hadapan Jongin. Entah merasa marah atau malu.
"Apa-apaan kau, hah?!"
"Anak kurang ajar ini kan yang sudah menggodamu?!" lagi, telunjuk lelaki itu hampir menusuk wajah Jongin.
"Jangan membuatku malu!" bentak Soo Jung yang masih berusaha menarik Minhyuk keluar dari kelas.
"Katakan—"
"Apakah itu benar sunbae?" sela Jongin. Mata mengantuknya menatap Soo Jung yang terlihat terkejut.
"Y-ya?"
"Sunbae menyukaiku?"
Soo Jung tergagap. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu,tapi tidak ada suara apapun yang keluar. Genggaman kuat tangannya pada lengan Minhyuk juga telah terlepas saat mendapat serangan mendadak dari Jongin. Ia bergerak gelisah, sesekali menatap Jongin yang masih berdiri dengan satu tangan bertumpu pada meja.
"Sunbae?"
"Be-benar. Aku menyukaimu Jongin-ah"
Seruan lirih dari murid-murid yang sejak tadi menjadi penonton menggema di seluruh kelas. Soo Jung menunduk, merutuki mulutnya yang tidak bekerja sama dengan baik dengan otaknya. Ia melirik takut-takut ke belakang, mendapati Minhyuk yang menatapnya marah. Laki-laki bersurai coklat itu tidak menyangka Soo Jung akan berkata menyukai orang lain di depan kekasihnya sendiri.
Jongin menggaruk kepalanya yang kali ini tiba-tiba saja terasa gatal. Ini menakjubkan sebenarnya. Jongin memang sering mendapatkan pengakuan cinta dari gadis-gadis sejak di sekolah menengah pertama. Biasanya mereka akan mengajak Jongin bertemu sepulang sekolah di halaman belakang atau di dekat toilet, lalu memberikan coklat sambil berkata "Aku menyukaimu".
Mendapat pengakuan dari kakak kelas di depan seluruh murid kelas satu tanpa coklat menjadi pengalaman pertama untuk Jongin. Terlebih di depan kekasih perempuan tersebut. Jongin benar-benar ingin tertawa.
"Bagaimana….emm… kau, sudah punya kekasih sunbae. Kekasih mu bahkan hampir meninju ku karena hal ini. Aku tidak mungkin menerimamu kan?" Jongin mengangkat satu alisnya sambil tersenyum.
"Ta-tapi—"
Suara deritan kursi mengalihkan atensi seluruh murid di kelas tersebut. Sehun yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya berdiri di samping Jongin. Mereka pikir Sehun akan mengusir Soo Jung atau mengatakan sesuatu yang membuat kekacauan mereda. Tapi nyatanya, ia melingkarkan kedua tangan pada lengan kiri Jongin, lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu yang lebih tinggi.
"Maaf jika aku ikut campur. Tapi—"
Sehun menoleh menatap Jongin, menumpukan dagunya pada bahu lelaki yang juga menatapnya dengan senyum yang di kulum itu. Jongin membiarkan Sehun bergelayut pada lengannya. Ia bahkan tak segan bertatapan dengan jarak yang sangat dekat seperti sekarang.
"—lelaki kurang ajar ini milikku."
Chen yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya tersedak ludahnya sendiri. Chanyeol yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu pun terkekeh melihat kelakuan Sehun. Kelas yang tadinya hening kembali gaduh olah suara bisik-bisik seluruh murid di dalam kelas.
"A-Apa?" Soo Jung mengernyit menatap Sehun dan Jongin bergantian. Ia tanpa sadar termundur satu langkah, terkejut dengan kata-kata Sehun.
Sehun menahan tawanya.
"Sunbae tidak percaya?" Sehun merengut, masih mempertahankan dagunya di bahu Jongin, namun kini telah beralih menatap Soo Jung. "Sunbae ingin melihat kami berciuman?"
Chen kembali tersedak ludahnya sendiri.
"Seperti ini.."
Tanpa perintah, Sehun menarik keluar lollipop tersebut dari mulut Jongin. Lalu menjilatnya dengan gerakan lidah yang sensual sebelum memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
Dan seisi kelas ribut dengan pekikan yang sudah tidak terkontrol.
.
.
.
.
.
.
"Kau benar-benar gila Oh Sehun!" Chen terus tertawa sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri. Wajahnya sudah memerah karena tidak berhenti tertawa sejak menginjak atap sekolah. Sehun hanya memutar bola matanya. Suara Chen yang sedang tertawa bahkan bisa senyaring ini. "Seluruh sekolah sedang membicarakanmu di grup chat. Heol, daebak."
"Suaramu itu, Chen, astagaa." Sehun mengorek-ngorek telinganya seolah ada sesuatu yang menyumbat. Chen hanya terkekeh di tempatnya sambil terus memperhatikan layar ponsel miliknya.
Sehun melirik pada Jongin yang masih lahap menghabiskan menu makan siangnya dan sesekali menyahuti obrolan Chanyeol. Setelah insiden "Loliipop"—begitu isi headline news di grup chat—beberapa saat lalu, Sehun memang menyeret Jongin keatap sekolah. Sehun sudah ingin minta maaf pada Jongin atas kejadian tersebut, karena meskipun sudah berteman lama, ini adalah pertama kalinya Sehun bercanda seperti itu.
Namun di luar dugaan Sehun, Jongin hanya tertawa sambil mngusak rambut pirangnya. Dan seperti sekarang, Jongin bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jongina," yang di panggil hanya menggumam dan menoleh pada Chen. "Aku pikir kau dan Sehun akan benar-benar berpacaran setelah ini." Celetukan itu lantas mendapat geplakan sayang dari tangan Sehun. "Yak! Apa-apaan—"
Jongin tertawa, "Sehun benar-benar membantuku. Tapi aku masih normal, Chen."
"Lain kali jaga ucapanmu." Sehun berkata dengan sinis pada Chen sebelum beranjak, membuka pintu dengan agak keras dan mengabaikan seseorang yang terkejut di balik pintu.
"Yak! Yak! Oh Sehun!" bahkan teriakan Chen yang nyaring hanya dianggap angin lalu. "Kenapa dia? Aku kan hanya bercanda."
"Sudahlah Chen."sahut Chanyeol.
Perhatian mereka bertiga teralih kembali pada pintu. Seseorang baru saja masuk dengan wajah bingung sambil terus menatap pintu.
"Seolhyun?"
Panggilan itu lantas membuatnya menoleh. Keningnya berkerut saat mendapati kakak sepupunya di salah satu bangku panjang dengan sisa cup ramen dan kaleng soda. Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut. Chanyeol memang berada disana, tapi lelaki yang duduk di samping kakak sepupunya dengan senyuman ramah itulah yang memanggilnya.
Kim Jongin.
.
.
.
.
.
.
Sehun menjatuhkan tubuhnya di kursi saat tiba di kelas. Helaan nafas kasar terdengar samar di sela ocehan tidak berjeda para siswi. Koridor yang penuh dengan suara tawa para murid menjadi begitu berisik untuk Sehun. Jika saja ia bisa, mungkin ia memilih bolos sekarang. Namun Sehun masih memikirkan beasiswanya yang bisa saja di cabut hanya karena ia ketahuan membolos.
Suasana hatinya tiba-tiba buruk. Para senior kelas tiga yang sedang bermain bola di lapangan bahkan tidak menarik sama sekali. Suara rimbun pohon yang tertiup angin menjadi satu-satunya hal yang dapat didengar oleh Sehun.
Kepalanya menoleh menatap kursi di sampingnya, dan helaan nafas lagi-lagi keluar dari celah bibir tipis nya.
Sehun tidak berhenti merutuki dirinya sendiri sejak ia menyadari ada yang tidak beres pada mentalnya. Selama ini ia berteman dengan siapa saja. Mengenall banyak orang baik perempuan atau laki-laki. Oh Sehun seolah memiliki daya tarik yang kuat untuk menarik kaum hawa mendekat dan jatuh pada paras tampannya atau kelakuan nakalnya.
Bukan hanya Jongin, Sehun pun sering mendapat pengakuan cinta dari anak perempuan di sekolah. Tapi tak satupun yang membuatnya tertarik.
Sehun tanpa sadar mengumpat keras saat satu nama kembali berputar-putar di kepalanya. Sehun sudah mencari di internet ataupun buku yang ia temui di perpustakaan. Dan tidak ada kata lain selain aseksual yang ia temui.
Sehun tidak tertarik pada perempuan, bagaimanapun paras dan sifat mereka. Sehun tidak tertarik menjalin hubungan dengan perempuan manapun.
Aseksual.
Satu kata itu bahkan tidak membuat Sehun stress berkepanjangan. Pria pirang itu tidak masalah jika ia memiliki kelainan seksual yang membuatnya tidak bisa menikah nanti. Ia cukup senang memiliki keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Sehun tidak memiliki masalah apapun sebelum Ia menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak jauh dari kata "Masalah".
Homoseksual.
Adalah kata kedua yang Sehun temukan. Ia tidak memiliki ketertarikan apapun pada perempuan. Bukan berarti ia tidak tertarik pada yang lain. Dan Oh Sehun bukan orang bodoh untuk tau lebih lanjut kelainan seksual seperti apa yang ia hadapi. Ia pun dengan sangat mudah menemukan biang dari permasalahannya tersebut.
Seseorang yang duduk di bangku sebelahnya.
Kim Jongin.
Menyalahkan Jongin pun bukan hal yang tepat. Karena kesalahan memang ada pada diri Sehun sendiri. Sehun tidak perlu bertanya sejak kapan. Karena ia telah jatuh cinta pada Jongin bahkan sejak ia terlalu bodoh untuk mengerti apa itu cinta.
"Tapi aku masih normal, Chen"
Kepalan tangannya menguat saat suara Jongin yang mengucapkan kata itu kembali terngiang di telinganya. Ada bagian tubuhnya yang berdenyut sakit yang Sehun tidak ketahui ada dimana. Hanya sakit yang menyebar pada seluruh tubuh.
Sehun sadar bahwa kesalahan berasal dari dirinya sendiri. Ia tidak berusaha menahan peasaanya sendiri selama bertahun-tahun. Ia tidak bisa menjauh walau hanya sejengkal. Dan sekarang, untuk mundur pun akan sangat percuma.
Cinta pertamanya mungkin akan sangat menyakitkan.
Karena Ibu bilang aku akan melewati batas…
Jangan pernah takut bahkan saat kau terpojok…
.
.
.
.
.
.
.
TeBeCeh
