When Our Eyes Meet

.

.

.

Kembali ku hitung

.

.

.

.

Tiap detik berlalu

.

.

.

.

Bagaikan mati, tetapi hidup

.

.

.

.

Siang yang terik tidak menyurutkan semangat guru olahraga untuk mengambil nilai praktek di kelas 1-3. Murid perempuan ribut dengan gerutuan tentang make up mereka yang luntur karena keringat. Sedangkan para lelaki berkumpul untuk saling adu keren dengan keringat.

Sehun duduk di undakan tangga paling atas, jeli memperhatikan seluruh teman sekelas yang namanya di panggil satu persatu oleh Guru Ma untuk mempraktekkan tekhnik pasing pada permainan bola voly. Ia bisa sedikit bersantai karena telah selesai mengambil nilai. Kaos olahraga yang Sehun kenakan telah basah hampir disetiap bagian.

Murid perempuan yang duduk di seberangnya dengan jelas menunjukkan ketertarikan. Tubuh tinggi, kulit putih, rahang tegas dengan keringat yang sesekali menetes di dagu runcingnya tentu tak bisa diabaikan begitu saja.

Sehun diam-diam mendengus. Mengasihani mereka yang kadang berharap dapat mengambil hatinya. Sejujurnya, rasa khawatir tak bisa ia abaikan. Namun segala resiko akan ia sanggupi.

Bagaiman reaksi mereka jika tau bahwa aku benar-benar gay?

Kadang Sehun harus menahan kakinya yang bergetar tanpa perintah. Membayangkan tatapan penuh intimidasi dengan rasa jijik dari mereka membuatnya ketakutan berlebihan. Sehun selalu merasa bahwa ia bisa menghadapi apapun jika jalan penuh resiko telah ia ambil. Namun, kerja otak dan tubuh manusia seringkali tidak bekerja sama dengan baik.

Mereka layaknya kutub utara yang di gabungkan. Sekeras apapun menyatukan, mereka akan memantul dengan keras untuk melepaskan diri.

Bagaimana reaksinya saat tau bahwa aku gay?

Pemikiran itu bahkan lebih menakutkan dari mimpi-mimpi buruknya selama ini. Mereka yang lebih banyak tidak lebih mengerikan dari dia seorang.

Hal yang baik,

Selalu dibalas dengan baik.

Lalu bagaimana dengan kejujuran?

Sehun mendongak, melihat dia disana. Menjadi satu dalam candaan tanpa arti murid lain. Menjadi satu-satunya pusat perhatian yang terlihat jelas. Mereka hanya menatapnya, menertawakan leluconnya, memujinya, memperhatikannya. Mengabaikan sisi lain yang lebih diam dikeramaian hujan guguran daun.

Nerd.

Mereka menyebutnya begitu.

Dan Sehun salah satu yang peduli dalam diamnya.

Kadang Sehun muak dengan perbedaan yang jelas antara si kaya dan si miskin, si popular dan si nerd, si cantik dan si buruk rupa. Sehun muak dengan standar-standar penentu yang membuat manusia hidup dalam keterpaksaan.

Sehun muak pada dirinya sendiri.

Daun coklat yang melayang jatuh mengalihkan perhatiannya. Sejenak mengikuti alur cerita singkat si daun yang telah layu. Berharap tanah bukanlah tempat singgah terakhirnya.

Tapi garvitasi tak sebaik angin. Yang telah jatuh, tempatnya ada di bawah.

Kembali Sehun menatap ke depan. Dan seperti oasis di gurun pasir tak berujung, mata setajam elang namun seramah matahari terbit itu ikut menatapnya. Tak luput satu garis melengkung di bibir penuh damba kaum hawa itu.

Sehun mampu melupakan kegelisahannya hanya dengan melihat senyum itu. Ia mampu mengambil resiko apapun untuk mempertahankan tatapan itu. Ia terjebak semakin jauh dalam labirin yang ia buat sendiri.

Seolah-olah dunia telah berhenti.

Pandanganku penuh denganmu,

Semuanya adalah kesempurnaan.

"Kau haus?"

Sehun terperanjat. Ia mendongak dan berkedip beberapa kali untuk sekedar menemukan seseorang yang tidak familiar berdiri menjulang di sampingnya. Sebuah botol air mineral menunggu untuk diambil di samping kepalanya.

"Kau mengenalku?" ia tanpa ragu mengambil botol tersebut, masih dengan raut wajah bingung.

Lelaki dengan setelan kasual itu duduk di sampingnya, lalu menggeleng, "Tidak."

Satu alis Sehun terangkat, dan sedetik kemudian mengedik acuh. Air dalam botol mengalir dengan rasa nyaman di tenggorokan Sehun. Bahkan ia tidak berusaha menyembunyikan kelegaannya.

Hening setelah itu. Tidak ada satu dari dua surai pirang itu yang ingin membuka pembicaraan. Sehun terlalu malas untuk mengobrol dengan orang asing, walaupun orang asing itu telah memberinya air. Sedangkan si orang asing hanya menatap kumpulan murid yang masih berlatih di lapangan.

"Kau tidak ingin bergabung bersama mereka?"

Suara itu tak mampu membuat Sehun menoleh. Matanya hanya lurus menatap mata lain yang sekarang penuh keingintahuan.

"Tidak"

"Kau merasa muak?"

Gerakan reflex yang Sehun lakukan membuat si orang asing mengernyit heran. Mata Sehun yang sipit makin menyipit saat menatapnya penuh curiga. Namun pertanyaan Sehun selanjutnya membuatnya terkekeh.

Tampan.

"Kau bisa membaca pikiranku?"

"Berarti aku benar."

Sehun kembali tidak menjawab. Kakinya yang sejak tadi tertekuk, ia luruskan dengan hati-hati. Kesemutan.

"Kris!"

Dua kepala pirang itu sama-sama menoleh. Sehun tau bukan namanya yang di panggil, tapi Sehun tidak tuli untuk mendengar suara itu berteriak kearahnya. Kini giliran Sehun yang mengernyit heran.

"Kris?" gumam Sehun. Si orang asing berdiri tanpa menatap Sehun, dan berlalu tanpa sepatah kata apapun lagi. "Kris Wu?"

Merah muda berlomba mendapatkan Sang Hitam,

Dan Sang Hitam hanya menginginkan Hitam yang lain.

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

.

.

.

Chanyeol yakin beberapa saat lalu cuaca masih baik-baik saja. Daun masih berguguran di pertengahan musim. Matahari seolah merajai diatas sana. Meski berangin, para murid yang sedang berolahraga tetap berkeringat.

Sekarang, gerimis seolah mengejeknya.

Ia baru saja berencana untuk mengisi perut di kantin saat dari koridor kanan seseorang menabrak tubuhnya hingga si penabrak terduduk di lantai dengan tumpahan jus di sekeliling pantatnya.

Chanyeol terkejut sebelum tau siapa gadis berambut panjang yang mengaduh di lantai sambil menggerutu. Ia menghela nafas pelan. "Aku baru tau hobimu itu menabrak orang."

Seolhyun mendongak, menatap sengit pada Chanyeol yang bahkan tidak membantunya berdiri. "Aku baru tau hobi oppa membuat seorang gadis menunggu untuk di bantu."

Chanyeol terkekeh, kemudian menjulurkan tangannya untuk diraih Seolhyun. Adik sepupunya itu meringis melihat rok sekolahnya di penuhi dengan lumuran jus tomat.

"Sepertinya bukan hanya wajahmu yang perlu perawatan"

Seolhyun kembali menatap sengit Chanyeol yang sedang dalam mood menyebalkan. Kadang ia kagum pada sosok ketua kedisiplinan yang terlihat berkarisma dengan senyuman ramah di tiap langkahnya, Park Chanyeol. Dan ia akan menyesali kekagumannya saat berhadapan dengan kakak sepupu menyebalkan berwajah polos, Park Chanyeol.

"Aku akan menuntut oppa nanti." baru saja ia melangkah melewati Chanyeol, sosok yang tidak asing itu muncul dengan langkah panjang ke arahnya. Seolhyun mundur untuk berdiri di depan Chanyeol dan berbisik, "dan jauhkan temanmu itu dariku"

Chanyeol tersenyum saat Seolhyun berbalik dan mejauh dengan langkah yang di hentak-hentak. Menggoda Seolhyun memang sering ia lakukan. Mungkin karena ia anak tunggal, dan adik sepupu seperti Seolhyun benar-benar membuatnya merasa menjadi kakak. Ia akan meminta maaf nanti.

"Hyung" Jongin mengernyit mendapati Chanyeol yang terkekeh saat berbalik menatapnya. "Ada apa?"

"Tidak," Chanyeol menggeleng, meredakan kekehan anehnya. "Kau ingin ke kantin?"

Jongin mengangguk. "Aku ingin mengajaknya, tapi langkahnya lebih cepat dariku." Lalu menunjuk Seolhyun yang sudah menghilang di tikungan koridor.

"Kau menyukainya? Adik sepupuku?"

"Ya. Tentu"

Hening.

Meskipun tidak kentara, Jongin bisa melihat perubahan ekspresi tiba-tiba dari Chanyeol. Ia yakin beberapa saat lalu sisa tawa Chanyeol masih ada. Tapi kenapa sekarang raut wajah datar itu mengganggu penglihatannya?

"Kenap—"

"Yoeli yeoli hyung~~"

Belum sempat Jongin menanyakan perubahan ekspresi Chanyeol, Chen dan Sehun sudah lebih dulu berebut untuk bergelayut di pundak Chanyeol.

"Traktir aku. Dan akan aku kabulkan satu permintaan"

Perkataan Sehun yang tiba-tiba membuat Jongin , Chen dan Chanyeol sendiri tertawa. Flower boy sekolah itu mengusak surai si pirang dengan gemas.

"Tiga"

"Satu"

"Dua"

"Baiklah, dua permintaan. Ayo, kantin sudah menunggu para pria tampan ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun tidak suka cuaca dingin. Sehun tidak suka makanan manis. Sehun tidak suka menonton drama. Terlebih lagi, Sehun paling benci hari rabu.

Guru Ma mungkin menjadi satu-satunya guru yang mempunyai dua jadwal mengajar dalam satu hari di satu kelas. Sehun bisa saja bersenang hati mengikuti pelajaran olahraga dengan praktek-praktek yang dapat membuat tangan atau kakinya terkilir. Namun untuk pelajaran Guru Ma di jam terakhir sore itu, rasanya Sehun ingin kabur saja. Membolos di kedai ddeokboki paman Kim.

Setelah praktek dalam permainan bola voly siang tadi, Guru Ma kembali mengajar di kelas 1-3 di jam terakhir hari rabu yaitu renang. Sehun memang kingka sekolah yang sering membuat masalah. Dia juga murid yang pintar hampir di setiap mata pelajaran.

Ya, hampir.

Sehun benci hari rabu.

Sehun tidak bisa berenang.

Sekarang murid laki-laki berambut pirang itu hanya bisa gigit bibir di tepian terjauh kolam renang sambil memperhatikan teman-teman sekelasnya yang terlihat bersemangat.

Dari sekian banyak pelajaran olahraga, kenapa harus renang yang menjadi kelemahannya? Bahkan dikelas, hanya dia yang tidak bisa berenang. Sehun berhenti mengigit bibir saat Jongin sambil tersenyum melangkah kearahnya.

Dan kenapa pula Jongin selalu suka tersenyum? Lelaki pemilik marga Kim itu tidak tau efek berbahaya seperti apa yang ia berikan pada Sehun.

"Sialan!"

"Aku bahkan baru tiba disini, dan kau sudah mengumpat?" Jongin membolakan matanya tanda protes, lalu sedetik kemudian terkekeh saat helaan nafas Sehun terdengar frustasi. "Kau bisa beralasan seperti biasa. Kau ahli dalam menghindari pelajaran renang."

Sebelumnya, Sehun memang selalu bisa menghindar saat pelajaran renang. Memberi alasan ini dan itu agar Guru Ma berbaik hati mengijinkannya tidak mengikuti pelajaran.

"Kali ini tidak bisa. Be—"

"Beasiswa mu lagi?" tebak Jongin. Kepalanya menoleh pada Sehun yang juga menatapnya dengan memelas. "Kau tidak bisa berenang. Kau juga menolak saat kutawari belajar berenang. Sekarang kau tidak bisa menghindar lagi dari Guru Ma karena beasiswamu. Bukankan tidak enak menjalani hari seperti itu?"

Tatapan Jongin membuat Sehun memilih untuk menatap riak air di dalam kolam. Ucapan Jongin memang benar. Sehun selalu memikirkan hal-hal yang harusnya tidak perlu ia pikirkan dengan berlebihan.

Suara nyaring peluit menggema memenuhi ruangan indoor tersebut. Guru Ma masuk sambil membawa catatan nilai yang seketika terlihat menyeramkan untuk Sehun.

Jongin berdiri, melepaskan handuk yang sedari tadi ia sampirkan di bahu untuk menutupi badan topless nya.

"Berhentilah khawatir terlalu banyak." Lelaki itu menepuk bahunya, lalu kembali tersenyum pada Sehun yang hanya membeku di tempatnya. "Kau punya aku untuk membaginya."

Tidak.

Kali ini Sehun tidak bisa.

Rasa khawatir untuk pendidikan yang nyaman adalah hal yang sangat wajar. Jongin dan mereka hanya tidak tau bagaimana rasanya mempertahankan apa yang tidak bisa didapat dua kali. Sekolah elit inilah yang khawatir kehilangan mereka.

"Tentu."dan Sehun tidak bisa menahan omong kosong itu.

Untuk seseorang yang sedang jatuh cinta. Tawaran pundak dari orang yang dicintai tentu lebih menggiurkan dari apapun.

.

Dan disinilah Sehun. Berdiri untuk menunggu gilirannya. Dari belakang para siswi yang berkerumun, Sehun dapat melihat Jongin yang baru saja menyelesaikan bagiannya. Anak itu bahkan masih kelas satu sekolah atas, tapi lihat bagaimana otot perutnya yang kencang di tambah seluruh badannya yang basah dapat membuat para siswi menjerit tertahan.

Sehun mendengus geli.

Ia bahkan bisa melihat hal itu setiap hari.

Sehun menjadi satu-satunya siswa kelas 1-3 yang tidak suka pamer perut. Dapat dilihat dari kaos hitam kebesaran yang di kenakannya sekarang, saat dimana para lelaki kelebihan hormone di sana saling berebut mendapat perhatian dari tubuh topless mereka yang sama sekali tidak menarik.

"Oh Sehun!"

Seruan namanya membuat Sehun terlonjak. Padahal baru saja ia melihat Jongin keluar dari air jernih mengerikan itu, dan tau-tau sekarang sudah gilirannya untuk mengambil nilai.

Dengan helaan nafas berat, lelaki pirang itu melangkah mendekati kolam. Tatapan para siswi seolah menambah rasa khawatirnya. Mereka antusias untuk kesadaran bahwa ini adalah pertama kalinya mereka melihat Oh Sehun berenang.

Kingka sekolah itu terus meremas gengagamn tangannya sendiri setelah berhasil berpijak pada tepian kolam. Ia heran sekaligus lega karena kaki bergetar nya tidak terlalu bodoh untuk membuatnya oleng dan terjatuh ke dalam kolam.

Peluit sudah berada diantara celah bibir Guru Ma, bersiap untuk ditiup dengan nyaring saat suara bass yang familiar memanggil pria berumur 30 tahunan itu.

"Maaf songsaenim. Anda di panggil wakil kepala sekolah keruangan beliau."

Chanyeol berdiri didepan Guru Ma dengan sopan. Mengalihkan seluruh atensi murid di ruangan itu, termasuk Sehun yang kini berharap agar Guru Ma segera pergi dan menyudahi pengambilan nilai sore itu.

"Aku akan kesana setelah selesai mengambil nilai."

Dan harapan yang tidak baik memang susah untuk terwujud. Sehun lupa bahwa Guru Ma adalah guru yang sangat disiplin.

Chanyeol membungkuk, menatap Sehun sekilas sambil tersenyum sebelum berbalik berniat meninggalkan area kolam renang.

"Chanyeol sunbaenim tampan sekali."

"Hey jangan mendorongku."

"He-hey!"

Buk!

Byuurr!

"Oh Sehun!"

Byuurr!

Bahkan Guru Ma baru saja berbalik saat tubuh oleng Wooshin karena lantai yang licin terdorong oleh Chaeyon dan tidak sengaja menyenggol Sehun di tepi kolam yang mana membuat keributan karena Jongin yang tiba-tiba ikut bercebur ke dalam kolam.

Para murid yang awalnya tidak paham situasi, akhirnya ikut gaduh saat tau bahwa Sehun tidak bisa berenang.

Chanyeol yang ikut tekejut, hampir saja ikut menceburkan dirinya saat tiba-tiba Jongin keluar dari dalam air bersama Sehun. Dengan bantuan teman-temannya, Jongin berhasil mengangkat tubuh Sehun ke pinggir kolam.

"Sehuna" Jongin menepuk-nepuk pipi Sehun, terlalu panik saat melihat Sehun tidak sadarkan diri. "Yak! Sehun!"

Melihat keadaan yang semakin gaduh, Guru Ma menggeser tubuh Jongin menjauh dari Sehuh untuk memeriksa keadaan muridnya itu.

"Dia hanya terkejut. Bawa dia ke UKS"

Jongin dengan cepat mengangkat tubuh Sehun dalam gendongannya, dan dengan langkah lebar-lebar segera berlalu ke UKS, disusul oleh Chanyeol.

"Baiklah. Kita lanjutkan pengambilan nilai"

Seluruh murid kembali pada kegiatannya. Sedangkan Wooshin masih berdebat saling menyalahkan dengan Chaeyon.

.

"Uhuk! Akh sial!"

Chanyeol segera menghampiri Sehun yang baru saja terbatuk dengan nafas terengah. Segelas air putih tersodor pada si pemilik marga Oh itu.

"Terima kasih hyung" ucap Sehun setelah menghabiskan setengah isi gelas.

Chanyeol mengangguk. "Kau baik-baik saja?"

"Tidak. Tentu saja" dengus Sehun, menyamankan dirinya bersandar pada kepala ranjang."Akhirnya aku akan benar-benar takut pada kolam renang"

Usakan dikepalanya membuat Sehun merengut. Dia baru saja bangun dari pingsannya yang memalukan setelah tercebur ke dalam kolam. Ia akan malu besok untuk bertemu teman-teman sekelasnya.

"Lain kali jangan paksakan dirimu" Chanyeol terkekeh saat melihat wajah lucu Sehun yang jarang ia tampakkan. "Malu saja tidak akan membuatmu bisa berenang tiba-tiba" ia mendengus, "aku bahkan baru tau kau tidak bisa berenang" lanjutnya. Ada sedikit rasa kecewa di sana.

Sehun turun dari ranjang, merasa tidak nyaman denga bajunya yang basah. "Sekali lagi terima kasih hyung, kau sudah membawaku kesini. Aku pasti bertambah berat dua kali lipat." Ujarnya, mengabaikan perkataan Chanyeol.

"Jongin" sela Chanyeol.

"Huh?" Sehun mengerjap bingung.

"Jongin yang sudah menggendongmu kesini?"

Ada satu perasaan nyaman di dada Sehun setelah mendengar hal itu. ia ingat melihat Jongin yang ikut bercebur saat dirinya hampir tenggelam di kolam. Ia ingat raut wajah khawatir Jongin sesaat sebelum dia pingsan. Dan saat tau bahwa Jongin juga telah membawanya ke UKS, perasaan itu tidak bisa ia hindari.

Ketakutan,

Hanya berlaku pada sesuatu yang dapat menjauh pergi.

"Kenapa aku semakin mellow seperti ini?"

"Huh?" kali ini giliran Chanyeol yang mengerjap bingung saat mendengar gumaman Sehun.

"Tidak." Potong Sehun, "Aku menginap—"

"Kau pulang bersamaku hari ini"

Dua kepala itu menoleh ke sumber suara di ambang pintu. Jongin yang telah memakai seragamnya berdiri disana dengan tatapan yang tidak lepas dari Sehun.

"Wae?"

"Gwenchana?"

"Um" angguk Sehun.

Jongin mendekat, menyerahkan tas serta seragam Sehun pada pemiliknya. "Cepat ganti bajumu. Kita akan kemalaman"

"Disini?"

"Aku dan Jongin juga laki-laki kalau kau lupa. Sudah cepat ganti bajumu, kau bisa masuk angin"

Sehun berdecak, lalu berbalik untuk membuka kaus hitam lembabnya, mengabaikan dua lelaki lain yang kembali menggosipkan dirinya. Chanyeol terlalu marah karena baru tau bahwa Sehun tidak bisa berenang. Ia sudah berencana akan melakukan sesuatu—entah apa—agar Guru Ma membebaskan Sehun dari pelajaran berenang.

Sehun hanya bersyukur lebih banyak. Chanyeol hyung yang baik hati akan segera menyelamatkannya dari hari rabu yang mengerikan.

.

.

.

.

.

Tayangan di televise tidak benar-benar bisa membuat Sehun terbebas dari rasa bosan. Matanya kembali melirik Jongin yang masih sibuk dengan buku-buku bahasa inggris dihadapannya.

"Aku sudah bilang bisa mengerjakannya sendiri."

Beberapa menit lalu, mereka berdua berdebat hanya karena Jongin keras kepala untuk mengerjakan seluruh pekerjaan ruman milik Sehun dan menyuruh si pirang beristirahat.

"Aku hanya tercebur, dan kau memperlakukanku seperti aku hampir saja mati."

"Kau memang hampir mati jika aku tidak menolongmu."

Sehun menendang kaki meja, membuat coretan panjang di buku Jongin. Lelaki tan itu mendengus sekali, lalu memukulkan pulpennya kekepala pirang Sehun.

"Berhenti mengganggu dan pergi tidur!" titah Jongin seperti seorang ayah.

"Aku akan mengerjakan tugasku sendiri." Dan Sehun layaknya anak kecil pembangkang. "kemarikan bukuku"

Sehun menarik bukunya dari bawah siku Jongin, yang kembali di rebut oleh yang lebih tinggi. Dan akhirnya televise lah yang menonton mereka saling berebut buku.

"Yak!"

"Mwo?"

Sret!

Bruk!

Demi Tuhan, Sehun sama sekali tidak suka menonton drama-drama yang menurutnya konyol di televise. Tapi ucapan orang-orang tentang "Hidup layaknya drama" memang benar. Sudah cukup ia yang tercebur, lalu di selamatkan oleh Jongin.

Dan kali ini ia merutuki dirinya sendiri. Jika saja ia mengikuti kata Jongin untuk tidur dan tidak berebut buku, ia akan selamat dari kejadian tindih-menindih di lantai ruang tamu seperti sekarang dengan ia sebagai pelaku yang menindih tubuh Jongin.

Salahkan Jongin yang menarik buku bahasa inggris itu tanpa perasaan!

"Pergilah tidur."

Suara Jongin tidak mampu membuat tubuh Sehun bergerak menjauh. Kedua pasang mata itu masih saling meneliti satu sama lain. Sehun hanya sibuk mengagumi wajah tampan itu, membiarkan perasaan terlarang itu membawanya semakin jauh. Membiarkan dirinya menyelam dengan rantai baja melilit seluruh tubuhnya di kedalaman mata milik Jongin.

Sehun mengigit bibirnya saat detak jantung nya yang menggila mungkin saja bisa dirasakan oleh Jongin. Tanpa sadar bahwa hal itu membuat Jongin ikut terperosok jatuh saat itu juga.

Aku terus menerus merasa takut karena mencintaimu

Karenamu aku merasakan sakit, mengeluh, tertawa dan menangis yang tak berguna

"Apa aku mengganggu?"

"Chen?!"

"Akhh!"

.

.

.

.

.

"Aku benar-benar penasaran dengannya hyung"

Sehun mendongak, menatap Jongin dengan bingung. Chanyeol di sampingnya hanya bergumam di tenggorokan tanpa beralih dari daging lezat di piring.

"Siapa?"

"Seolhyun"

"Siapa?"

"Sepupu Chanyeol hyung"

Sehun berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya saat Jongin menunjuk seorang murid perempuan di tengah kantin dengan sumpit. "Oh" gumamnya sebelum memasukkan sendok ke dalam mulut dengan lebih rakus. Tiba-tiba ia ingin memakan apa saja.

"Namanya Seolhyun? Aku melihatnya tadi. Dia benarr-benar cantik" sahut Chen.

Jongin mengangguk setuju. Tubuh tinggi itu kemudian berdiri dan berjalan menjauh dari teman-temannya dengan sedikit tertatih. Sehun meringis, merasa bersalah. Akibat terkejut akan kehadiran Chen tadi malam di apartement Jongin saat mereka masih saling menindih, ia tidak sengaja menginjak kaki Jongin saat berusaha bangun. Lumayan keras.

Namun rasa bersalah itu langsung hilang saat melihat Jongin sudah duduk di samping gadis bernama Seolhyun itu. Ia mendengus sebelum melanjutkan makan.

"Ah aku hampir lupa," suara Chen kembali membuat acara makan di meja itu terhenti. "Kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat tadi malam hyung" Chanyeol menatapnya penasaran di balik kaleng cola yang sedang ia minum

Sehun tersedak kuah sup.

"Yak—"

"Sehun mungkin sudah tidak perjaka lagi"

Brussh!

"APA?!"

"YAK!"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Buat pembaca yang nggak ngeh, sub judul di tiap chapter adalah judul lagu untuk lirik di tiap chapter. Liriknya sengaja aku translate ke bahasa Indonesia. Ada juga kata-kata yang pure dari aku sendiri.

Terima kasih sudah membaca :*