Defense
.
.
.
.
Aku menyerahkan hatiku
.
.
.
Tanpa kata
.
.
.
Tanpa pengakuan
.
.
.
(BGM : Taeyeon – Fire & Lee Sun Hee – Wind Flower)
"Aish! Pak tua itu benar-benar—"
"Kenapa?"
"Oh astaga!"
Chen hampir saja membentur tembok saat suara serak Jongin mengagetkannya. Ia melirik pada Sehun dan Chanyeol yang juga berdiri di depannya hingga ketiga orang itu terlihat seolah menghadang badan kecil Chen.
"Kalian seperti preman sekolah yang mau memalakku"
Jongin terkekeh sebelum kemudian merangkul Chen untuk berjalan bersama menuju kelas. Diantara semuanya badan Chen memang yang paling kecil. Saat Sehun, Jongin dan Chanyeol mengalami pertumbuhan yang tidak biasa pada tinggi badan mereka hingga ketiganya memiliki tinggi lebih dari 180 sentimeter, Chen hanya bisa membuang nafas pasrah akan tinggi badannya yang hanya 176cm.
"Kau kenapa?" Chanyeol mengulang pertanyaan Jongin sebelumnya.
"Aku hampir tidak diijinkan masuk oleh satpam tua itu" sungut Chen.
"Wajar saja, kau terlambat"
Chen kembali bersungut mendengar sahutan dari ketua kedisiplinan sekolah itu. Mungkin bukan hanya Chen, tapi hampir seluruh murid mengeluh tentang jadwal pagi di Cheongdam High School. Kalau biasanya gerbang di tutup saat bel masuk berbunyi, maka disini gerbang sudah tertutup lima belas menit sebelum bel berbunyi.
"Sehun"
Merasa di panggil, Sehun menoleh kearah Chanyeol , berdengung tidak jelas untuk menyahut.
"Kau tidur dimana tadi malam?"
Sehun mengerjap, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Uh, aku tidur di club"
Chanyeol berdecak, kemudian melingkarkan lengannya pada leher Sehun dan memiting leher yang lebih muda. Sehun berseru kesakitan sambil memukuli lengan besar Chanyeol.
"Masih minum susu saja sudah berani tidur di club"
Sehun terbatuk sambil memegangi leher saat akhirnya Chanyeol melepaskan lengannya. Hyung kesayangannya itu tidak main-main ingin mematahkan lehernya.
"Kalian pikir, kalian saja yang bisa masuk ke club, huh?" tuding Sehun pada ketiga lelaki lain yang hanya terkekeh di sampingnya.
"Aku tidak pernah kesana"
"Aku juga tidak. Kakek akan membunuhku kalau tau aku pergi ke tempat seperti itu"
Sehun berdecih, tentu tidak percaya begitu saja pada ucapan Jongin dan Chen. Laki-laki kelebihan hormone yang selalu ingin tahu seperti mereka pasti selalu memiliki alibi agar dapat masuk ke club malam.
"Pembual" decih Sehun yang hanya mendapat suara tawa dari Jongin dan Chen. Chanyeol hanya menggeleng melihat kelakuan adik-adik tingkatnya itu.
"Sudah ku bilang, kau bisa menginap di rumahku kapanpun kau mau"
"Dan kau semakin terlihat seperti gelandangan"
Sehun terlebih dahulu menjangkau wajah Chen untuk dia cakar yang berhasil di halau oleh Chanyeol sebelum menggeleng pada si Park.
"Aku tidak mungkin merepotkanmu terus hyung. Lagipula—"
Ucapan Sehun terpotong saat Jongin dengan tiba-tiba berdiri di depan ketiga temannya. Sehun yang berada di tengah dan tepat berhadapan dengan punggung Jongin mengernyit bingung, kepalanya melongok dan semakin bingung saat mendapati seorang perempuan berdiri tepat di depan Jongin.
Si perempuan berdecak tidak suka, "Apa?"
Jongin tersenyum melihat wajah galak perempuan di depannya. "Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu!"
Perempuan itu baru saja menggerakkan kakinya berniat melewati Jongin saat tubuh lelaki itu kembali mengahalanginya. Sehun menatap hal itu dengan wajah malas andalannya.
Perempuan itu lagi-lagi mendesah kesal.
"Ini" kepala Jongin reflex tersentak ke belakang saat kantung plastik hitam itu tersodor di depan wajahnya. "Aku Ingin membuang 'sampah'" tekanan pada kalimat terakhir perempuan itu tidak berhasil menahan tawa Chen.
Kali ini Jongin membiarkan perempuan itu melewati badannya. Wajah si kulit tan bahkan masih terlihat terkejut sekaligus takjub.
"Kalau aku tidak salah dengar, dia baru saja ingin membuang 'sampah'" Chen sengaja mendekatkan wajahnya pada Jongin sambil meniru gaya bica perempuan tadi, dan kemudian tertawa puas melihat delikan sadis dari yang lebih tinggi.
Mata sipit dari salah satu diantara keempat lelaki itu tidak lepas mengawasi Jongin. Ia tidak bodoh untuk melihat tingkah tidak biasa yang Jongin tunjukkan pada perempuan tadi. Tanpa sepengetahuan Chanyeol, Jongin dan Chen yang sudah kembali melangkah menuju kelas, Sehun berbalik, masih mendapati tubuh ramping itu di dekat loker.
Sehun akui, siapa saja akan memalingkan kepala mereka saat melihat wajah cantik itu. Badan tinggi bak model nya juga tidak bisa diabaikan. Lelaki pirang itu mengakui, bahwa kaum hawa memang selalu diciptakan sempurna sebesar apapun kekurangan mereka.
Dan satu hal lagi yang harus Sehun akui.
Perempuan itu berhasil menarik perhatian Kim Jongiin.
Kau menyebar,
Ketika aku membuka mata
Hanyalah abu yang tersisa..
.
See You In Autumn
Kim Jongin X Oh Sehun
.
.
.
"Lepaskan aku brengsek!"
"Hiks…Ibu.."
"Aku sudah membayarmu!"
"Aku tidak di bayar untuk melayani nafsumu bajingan!"
Plakk!
"Ibu..hiks..hiks.."
"YAK!"
Sreet!
"Akh!"
"Ibu!"
.
Duk! Duk!
Deg!
Sehun terlonjak, mengangkat kepalanya yang sedari tadi menempel di meja dengan tiba-tiba. Tangannya tanpa sadar mencengkram lengan Jongin yang duduk di sebelahnya. Kedua matanya membola, bibirnya bergetar dengan titik-titik keringat di sekitar keningnya. Nafasnya putus-putus di sela detak jantungnya yang menggila.
"He-hey, apa aku mengejutkanmu?" Chen bertanya dengan khawatir melihat reaksi berlebihan dari Sehun. Ia hanya berniat membangunkan lelaki yang kata Jongin tertidur sejak perlajaran Matematika tadi untuk makan siang dengan cara mengetuk meja tepat di samping telinga Sehun.
Sehun memandang Chen dan Jongin bergantian, berusaha menormalkan deru nafas serta detak jantungnya.
"Kau baik-baik saja?"
Sehun mengerjap beberapa kali saat Jongin menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu badannya. Siswa berambut pirang itu berdehem kemudian mengangguk pada Jongin dan mendesis kesal pada Chen. Remasan tangannya sudah terlepas dari lengan Jongin.
"Kau berniat membunuhku? Aku benar-benar terkejut"
Chen menyengir merasa bersalah, "Aku hanya ingin mengajakmu ke kantin"
Memasang wajah kesal untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya, Sehun berdiri dan melangkah dengan kaki di hentak-hentak, sesekali mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Dan siswi-siswi di sepanjang koridor malah memuji hal itu. Mereka seringkali berpikir lelaki tampan dengan penampilan berantakan bahkan lebih keren.
Saat sampai di kantin, Sehun lagi-lagi di kejutkan saat tangannya di tarik kebelakang oleh Jongin, membiarkan Chen memesan makanan lebih dulu. Sehun menatap Jongin dengan satu alis terangkat.
"Kau benar baik-baik saja?"
Sehun mengangguk, "Ya, kenapa?"
"Kau terkejut sampai benar-benar berkeringat. Ada sesuatu yang mengganggumu saat tidur?"
Kau memperhatikanku?
Apakah kau melihat hatiku yang berpendar kekuningan?
Tidak tau seperti apa perasaannya. Hanya merasa lega bahwa sebenarya ia masih dalam pengawasan lelaki tan itu. Perhatian sekecil itu dapat membuat Sehun tersenyum tanpa sadar. Ia tidak tau seberapa konyol senyuman itu sekarang. ia menarik pipinya terlalu lebar sampai rasanya seluruh sarafnya ikut berdenyut senang.
Sehun menepuk bahu Jongin sekali, "Hati-hati, kau akan jatuh cinta padaku jika perhatian berlebihan seperti itu."
Jongin terkekeh sebelum mengikuti Sehun memasuki kantin. Mengabaikan gertakan asing yang melingkupinya saat melihat senyum sahabatnya itu. Mengabaikan partikel-partikel kecil yang mulai memasuki hatinya saat ketulusan dari senyum lelaki pirang tadi menahan sedetik waktunya untuk bernafas.
.
.
.
.
"Hyung~~"
Chen mengorek telinganya mendengar rengeken manja Sehun yang sudah kesepuluh kali sejak keluar dari kelas. Sedangkan Chanyeol tidak bereaki sama sekali, masih sibuk dengan gadget miliknya. Sehun memang yang paling muda diantara mereka berempat. Hanya berbeda beberapa bulan dari Jongin.
Walaupun sering berwajah malas—menyebalkan—dan tidak banyak bicara, nalurinya sebagai maknae kadang masih sering keluar entah disadari atau tidak oleh Sehun sendiri. Seperti saat ini, ia hanya terus bergelayut di lengan Chanyeol, merengek memanggil yang lebih tua, dan saat Chanyeol menyahut, ia hanya akan kembali diam.
"Hyung~~"
Lagi!
Chen berdecak keras sebelum menepuk bibir Sehun yang ditanggapi dengan pelototan oleh si pemilik bibir.
"Hey!"
"Berhenti merengek menjijikan seperti itu!"
"Ini mulutku, kalau kau tidak suka, sana pergi!"
Chanyeol bahkan menghentikan langkahnya saat kedua orang itu saling adu mulut. Sehun mencibir ketika Chen akhirnya memutuskan untuk melangkah duluan meninggalkannya. Kali ini Sehun bersandar pada bahu Chanyeol, masih dengan kedua tangan yang melingkari lengan pemuda itu.
Sehun hanya merasa lelah setelah hampir seharian ini disuguhi pelajaran eksak yang memusingkan. Ia sedikit menarik lengan Chanyeol untuk mengajaknya kembali melangkah, namun laki-laki itu tidak bergerak sama sekali. Sehun mendongak, lalu mengikuti arah pandangan Chanyeol.
Seketika itu juga Sehun melepas lingkaran tangannya pada lengan Chanyeol, tubuhnya menegak kehilangan rasa lelah. Pandangannya tak lepas dari Jongin dan seorang perempuan di dekat gerbang. Dan dari sekian banyak ekspresi Jongin yang sering Sehun lihat, mengapa hanya pada perempuan itu Jongin terlihat sangat memuja?
Jongin sering tersenyum padanya. Jongin tersenyum pada siapapun. Jongin sering tertawa lepas karena ulahnya. Dan Jongin bahkan sering menatapnya. Tapi yang dilihatnya sekarang benar-benar berbeda. Dan Sehun tidak seharusnya terkejut seperti ini saat ia bahkan sudah menebak dengan jelas sebelumnya.
Pemuda itu kembali tersentak saat Chanyeol mengurai kepalan tangannya—ia bahkan tidak sadar sejak kapan tangannya mengepal—dan menggenggamnya dengan lembut. Sehun menoleh, mendapati Chanyeol tersenyum kearahnya.
"Kau mau bubble tea?"
"Traktir aku"
"Sebanyak apapun yang kau mau"
'Maafkan aku, adikku'
Cukupkah hanya dengan kalimat itu?
.
.
.
.
.
Hujan masih mengguyur Seoul malam itu. suasana rumah yang sepi dan alunan music klasik yang mengalun di penjuru rumah membuat Jongin menjadi lapar. Terakhir kali asupan nutrisi masuk ke perutnya saat di perjalanan pulang dari sekolah.
Jongin melirik jam yang tergantung di salah satu sudut ruang tamu apartement nya. Masih pukul delapan malam. Pria itu bergegas mengambil mantel serta payung di belakang pintu, bersiap mencari makanan apa saja yang dapat mengganjal perutnya.
Keluhan keluar dari mulutnya saat hujan ternyata lebih deras dari yang dilihatnya dari jendela besar di kamar. Namun karena faktor alamiah yang dialami semua makhluk hidup, Jongin mau tidak mau menyusuri daerah sekitaran apartement nya untuk bertahan hidup. Well, makan adalah salah satu pertahanan hidup manusia.
Karena belum terlalu malam, Jongin dengan mudah menemukan kedai jjajangmyeon tidak jauh dari apartement. Tidak terlalu banyak pelanggan jika hujan deras seperti ini. Kadang, wajah tua pemilik kedai terlihat lesu melihat hasil penjualan yang sedikit.
Hujan memberi banyak berkah untuk petani. Hujan pun mengajarkan kesabaran untuk yang lain.
Wajah tua itu tersenyum ramah pada Jongin, menyiapkan tempat duduk yang nyaman di sudut kedai. Suara seraknya tak terlihat lelah meski setiap hari mengurus kedai sederhana itu seorang diri.
Jjajangmyeon hangat tersaji di depan Jongin tidak lama kemudian. Perutnya seolah merespon dengan baik akan aroma saus hitam yang lezat.
Lirik demi lirik lantunan lagu dari musik yang di putar membuat Jongin menikmati kesendiriannya di kedai itu. Kadang mulutnya akan ikut bernyanyi. Kadang ia tersenyum sambil menyuap sisa jjajangmyeon. Kadang juga ia akan melamun menatapi rintik hujan.
Suapan jjajangmyeon terakhir tepat di dentingan musik terakhir. Jongin mendesah lega. Krisis yang ia alami beberapa saat lalu sudah ditangani dengan tuntas. Kakek pemilik kedai menghampiri mejanya, mengangkat mangkuk kosong serta membersihkan meja.
"Kau di penuhi dengan keberkahan nak" ucapan itu membuat Jongin tersenyum. Jongin percaya, perkataan dari orang tua selalu benar. "Kau dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu"
"Nenekku juga selalu berkata begitu kek. Aku memiliki keluarga dan teman-teman yang menyayangiku"
Si kakek tersenyum, sekilas menatap jauh ke dalam mata milik pemuda di depannya.
"Sesuatu yang kau cari sudah kau temukan. Jangan menyakiti siapapun"
Kali ini Jongin tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Mulutnya baru saja terbuka hendak bertanya saat dentingan lonceng di pintu kedai membuat si kakek menjauh darinya.
"Apa maksudnya?"
Jongin keluar dari kedai setelah membayar makanannya. Hujan masih saja deras. Udara dingin semakin menusuk tulang di balik baju hangatnya. Payung coklatnya kadang bergoyang tertiup angin. Jongin menengadah. Langit kelam Seoul semakin kelam karena hujan.
Ia menatap sekitar. Bagaimanapun, ibukota selalu di kenal dengan tempat paling sibuk. Hujan deras tidak membuat para pekerja keras itu menyamankan dirinya di bawah selimut.
Ah, Jongin jadi merindukan selimutnya.
Ia baru hendak melangkah saat sosok yang duduk di halte bus tepat di depannya mengalihkan segala atensinya. Sosok itu terlihat menggerak-gerakkan kakinya dengan gusar, beberapa kali kepalanya menoleh pada sisi jalan dan bahunya menurun saat tak menemukan yang ia cari. Tanpa sadar, Jongin tersenyum.
.
Seolhyun mendongak saat tubuh tinggi seseorang menghalangi cahaya lampu di halte bus yang sepi. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum mendengus ketika melihat siapa orang yang kini berdiri dengan senyuman sok tampan di depannya.
"Kenapa malah kau yang datang?"
"Kau menunggu seseorang?"
"Hum"
"Siapa?"
"Kenapa kau ingin tau?" Seolhyun mendelik, menatap tidak suka pada Jongin.
Jongin mengangkat bahunya acuh, "Hanya ingin tau"
Seolhyun kembali mengabaikannya. Ini pertama kali untuk Jongin menghadapi seorang gadis dengan tingkat keacuhan yang tinggi. Jongin biasanya akan bersikap sama jika ada seseorang yang terlalu acuh padanya, kecuali Sehun. Laki-laki itu seolah mempunyai kepribadian ganda yang tidak wajar, dia akan diam di satu hari setelah menghabiskan hari sebelumnya dengan membuat Jongin sakit kepala.
Saat hari yang lalu Jongin bilang pada Chanyeol bahwa ia menyukai Seolhyun, itu benar adanya.
Katakanlah Jongin terlalu picisan. Ia menyukai Seolhyun pada pandangan pertama saat tidak sengaja bertabrakan di stasiun kereta waktu itu. Mungkin hatinya yang salah, mungkin juga otaknya yang tidak beres. Dia jatuh begitu saja pada sepupu sahabatnya. Dia selalu berusaha untuk dekat walau dijauhi. Jongin keracunan akan letupan asing dalam dirinya.
Jongin mengernyit saat melihat ekspresi kesakitan Seolhyun, lalu terkekeh saat mendengar sumpah serapah dari mulut cantik gadis itu. Jongin bersimpati saat nama Chanyeol menjadi objek kekesalan Seolhyun.
Jongin menatap sekitar sebelum kembali berbicara pada Seolhyun, "Kau suka ayam?"
"Tidak"
"Baiklah. Ayo"
"He-hey!"
Jongin semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Seolhyun tanpa berusaha menyakiti saat gadis itu memberontak. Satu tangannya yang memegang payung berusaha melindungi mereka berdua dari guyuran hujan.
Jongin sebenarnya tidak tau, ia hanya menebak bahwa mungkin saja Seolhyun sedang lapar. Dilihat dari kekesalannya, Seolhyun sepertinya sudah cukup lama berada di halte. Setelah beberapa kali berusaha mendekati si pemilik marga Park itu, Jongin tau, mengajak Seolhyun dengan cara baik-baik bukanlah pilihan yang tepat. Maka dari itu, sekarang ia terlihat seperti lelaki kurang ajar yang sedang menyeret-nyeret kekasihnya.
"Sakit"
Genggaman tangannya akhirnya terlepas saat mendengar rintihan pelan dari Seolhyun. Gadis itu juga sudah berhenti memberontak. Kini mereka berjalan bersisian di bawah payung yang sama meski wajah merengut Seolhyun sedikit merusak suasana.
"Tenang saja, aku yang mentraktirmu"
Seolhyun berdecih.
"Kau lucu"
"Aku tidak!"
"Ya, karena sikap galakmu itu" satu telunjuk Jongin terarah pada pucuk hidung Seolhyun yang langsung di tepis oleh si pemilik.
"Sikap alami keluarga Park"
"Chanyeol hyung tidak galak"
"Kalau kau lupa bahwa dia ketua kedisiplinan"
Jongin mengguman membenarkan. Chanyeol memang terlihat kalem kalau bersama mereka. Tapi saat menjalankan tugas, ia akan menjadi killer Park. Wajah tampannya menjadi topeng terbaik untuk menyembunyikan ekspresi sadis yang memang secara alami diturunkan oleh keluarga Park.
Satu hari, Jongin pernah melihat teman seangkatannya yang hampir menangis didepan Chanyeol yang hanya berdiri diam sambil berkacak pinggang di toilet pria. Kalau dilihat sekilas memang tidak ada yang aneh, Chanyeol hanya diam disana. Tapi Jongin sendiri akhirnya memilih menjauh dari toilet melihat tatapan dingin serta kilatan mengerikan dari iris kelam itu.
Ketua osis mereka cukup jeli untuk merekrut anggota. Bukan hanya Chanyeol sebenarnya, hampir seluruh anggota osis mempunyai sikap mengintimidasi yang mengerikan.
"Hahhhh aku lapar"
Seolhyun melangkah lebih cepat, papan nama restoran ayam yang berkelip-kelip di depan sana membuat bunyi di perutnya semakin nyaring. Jongin sedikit berlari mengikuti Seolhyun dengan payung coklat di tanganya—yang mana membuatnye sedikit konyol di mata Seolhyun—tidak membiarkan tubuh ramping itu dibasahi oleh tetesan asam dari langit kelam Seoul.
Hujan pun kadang menjadi kebahagiaan seseorang di balik kesakitan yang lain.
Apa yang sebenarnya yang paling jauh?
Cinta pertamamu.
.
.
.
.
.
.
Hujan masih cukup deras membasahi Seoul malam ini. Orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya untuk menghindari kebasahan. Beberapa minimarket dipenuhi orang-orang. Beberapa terlihat ribut berdiskusi menu makan malam apa yang akan mereka buat. Dan beberapa lainnya mendorong troli seorang diri dengan daftar belanjaan yang tertulis lengkap.
Sehun salah satu yang memilih ke minimarket seorang diri. Duduk di bangku panjang sambil menikmati satu cup ramen panas. Cuaca yang buruk dengan suhu di bawah rata-rata memang sering membuat perutnya lapar tiba-tiba. Sehun baru saja pulang dari perpustakaan kota saat hujan turun dan memaksanya berbelok memasuki minimarket.
Butiran air hujan yang menempel di kaca minimarket menjadi pemandangan yang menyenangkan untuk Sehun. Jemarinya kadang bergerak untuk mengusap kaca, berpikir untuk menyentuh gumpalan-gumpalan kecil air itu walau ia tau bahwa air tesebut berada di sisi lain kaca.
Sejenak, ia hanya fokus pada hujan di luar sana, mengabaikan kepulan uap panas beraroma enak dari cup ramen miliknya. Ia tidak tau sejak kapan ia menyukai hujan. Setiap kali hujan turun, bahkan saat dikeadaan mendesak pun Sehun tidak pernah mengumpat pada hujan. Hingga tanpa sadar senyumnya terkembang.
Sehun menyukain hujan.
.
.
.
"Kau tau malaikat pelindung?"
"Malaikat pelindung?"
"Iya. Malaikat pelindung. Dia akan selalu disampingmu saat hujan turun"
"Kenapa?"
"Untuk melindungimu dari hal-hal menakutkan. Seperti petir dan badai."
.
.
.
"Dan kau ada disampingku waktu itu" gumam Sehun pada dirinya sendiri saat ingatan itu kembali terputar di otaknya.
Jemarinya masih menyentuh kaca dingin minimarket saat dua orang diluar sana mengambil perhatiannya. Dua orang di bawah payung coklat kecil di tengah hujan itu membuat jemari Sehun berhenti mengusap kaca dengan tiba-tiba. Matanya awas memperhatikan dua orang yang saling tertawa akrab itu. Meski kaca minimarket di depannya buram karena air hujan, Sehun bisa mengenali wajah salah satu dari merek dengan jelas.
"Jongin?"
"Sehun?"
Sehun berbalik dengan cepat. Tubuh berbalut mantel abu-abu itu tersenyum kearahya. Lega karena ia tidak salah orang. Langkahnya mendekati Sehun yang masih linglung, bertanya-tanya siapa perempuan bersama Jongin tadi.
"Sedang berbelanja?"
Sehun menggeleng sambil tertawa kecil. "Aku hanya sedikit lapar."
Lelaki bermantel abu-abu itu melirik pada cup ramen di atas meja, lalu kembali menatap Sehun. "Ayo, kuantar pulang."
Sehun berpikirbeberapa saat. Sesekali memperhatikan keadaan di luar. Tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Ia juga tidak membawa payung, sedangkan tubuhnya tidak kuat dingin jika memutuskan menerobos hujan. Lagipula…
"Hyung?"
"Hm?"
"Boleh aku menginap dirumahmu?"
"Tentu"
Sehun tersenyum sebelum mengambil ransel yang ternyata ia letakkan di bawah meja sejak tadi.
"Aku mencintaimu, Chanyeol hyung."
Chanyeol tertawa saat Sehun merangkul tangannya dan keluar bersama dari minimarket. Mengabaikan cup ramen yang tersisa setengah diatas meja.
Tutup matamu..
Aku disebelahmu..
.
.
.
.
.
Pagi ini Sehun mengeluh tentang denyutan di kepalanya. Dia bahkan mengkonsumsi dua butir obat sekaligus. Chanyeol yang telah rapi dengan seragamnya terus bergumam khawatir. Ia bisa melihat Sehun yang masih berusaha bangkit dari kasur sambil memijiti keningnya dari pantulan kaca lemari.
"Kau bisa ijin untuk hari ini Sehuna" sudah ketiga kalinya Chanyeol menyatakan hal tersebut, dan tiga kali pula Sehun menggelengkan kepalanya.
"Nilai bahasa Jepangku cukup buruk, Takada Seongsaenim sudah berbaik hati untuk mengadakan ujian penambahan nilai"
"Aku yakin itu bukan masalah yang besar untuk beasiswamu"
Kali ini tidak ada sahutan dari Sehun. Lelaki itu menjauh dari kasur dengan sedikit tertatih. Ia bahkan harus meraba dinding agar tidak jatuh dari atas kakinya sendiri. Saat berhasil membuka pintu kamar mandi, denyutan di kepalanya semakin menjadi.
"Aku akan baik-baik saja, hyung"
Senyuman manis dari pemuda itu membuat Chanyeol menyerah. Ia memilih mengambil ransel hitamnya dan keluar dari kamar untuk sarapan sambil menunggu Sehun bersiap.
Sehun benar, setelah mengguyur kepalanya dengan air hangat, rasa sakit itu sedikit berkurang. Mungkin karena tadi malam dia berada di luar terlalu lama, ia hampir terserang flu. Ia dan Chanyeol berangkat ke sekolah setelah selesai sarapan. Mobil sedan mewah yang mereka tumpangi seketika menjadi pusat perhatian siswi yang masih berada di luar gerbang sekolah saat dua lelaki tampan itu keluar dari mobil.
Sesekali Sehun masih memegangi tengkuknya yang kaku. Chanyeol menatapnya khawatir dari samping.
"Sehun—"
"Aku baik-baik saja hyung" sela Sehun memaksakan senyum nya yang terlihat lucu karena kedua matanya juga ikut tersenyum.
Baru saja mereka melangkah memasuki gerbang saat suara Jongin memanggil mereka dari belakang.
"Kau sudah melihat tugas yang diberikan Guru Song kemarin? Ku pikir dia benar-benar tidak menyukai apapun yang ada di kelas 1-3. Soal-soal itu sungguh diluar nalar" celoteh Jongin, menyamai langkah Sehun dan Chanyeol.
"Kau juga seharusnya tau, Guru Song selalu dapat mengerjakan tugas-tugas diluar nalar itu. Jadi, jangan merengek dan selesaikan tugasmu sebelum bel masuk"
Sehun memutar bola matanya malas saat melihat cengiran bodoh Jongin. Selalu ada maksud tertentu dari segala hal bodoh yang dilakukan pria tan itu.
"Kali ini tidak gratis"
"Kau selalu meminta biaya tambahan omong-omong" kali ini Jongin yang mendengus. Si pintar Sehun tidak pernah memberikan buku tugasnya pada orang lain untuk di contek. Tapi ia akan merebut paksa buku orang lain untuk dia contek. Terkecuali Jongin, laki-laki itu bebas membuka tutup buku tugas milik Sehun. Dan Sehun akan mendapat makan siang double.
Cuaca hari ini tidak secerah hari-hari lalu. Sisa-sisa bau tanah basah akibat hujan deras tadi malam masih tercium segar. Burung gereja yang biasanya bernyanyi bersahutan seolah masih lelap di peraduan mereka. Kecipak air pun tak luput menjadi backsound lirih dari kejauhan.
Sehun mengamati sekitar. Biasanya ia tidak pernah hadir ke sekoah sepagi ini. Hanya jika ia menginap di rumah Chanyeol, maka si semata wayang Park itu akan membunyikan alarm tepat ditelinganya pukul lima pagi. Dan Jongin selalu menjadi partner terbaik Sehun untuk masuk terlambat. Namun pagi buta inipun pria tan itu sudah menyebarkan wangi parfum maskulinnya di segala penjuru sekolah. Mungkin karena tugas yang belum selesai.
Seorang siswi tingkat tiga berambut ikal sebahu menyapa mereka di koridor. Chanyeol dan Jongin hanya menundukkan kepala mereka, sedangkan Sehun terlihat ramah dengan balik menyapa. Tidak heran jika orang-orang menganggap Sehun memiliki kepribadian ganda.
Dia bisa saja menatap guru-guru yang lewat dengan poker face miliknya, dan detik berikutnya tersenyum ramah pada satpam sekolah.
"Tapi aku tidak yakin. Jawabanmu mungkin saja salah"
Mata sipit Sehun mendelik mendengar penuturan Jongin. Lelaki tan itu mengangkat bahunya acuh sambil tersenyum mengejek. Sehun maju beberapa langkah lebih cepat, lalu berbalik dan bersedekap dada dengan wajah sok nya.
"Kau berani bertaruh?" ia bertanya sambil melangkah mundur.
"Siapa takut"
"Kau akan menye—'"
Duk!
Srak!
Tubuh Sehun oleng dan akhirnya mendarat di lantai marmer koridor, bersamaan dengan buku-buku paket tebal yang berjatuhan menimpa bahunya.
"Sial!"
"Kau baik-baik saja?"
Sehun mendongak, hampir menyahuti pertanyaan bernada khawatir berlebihan dari Jongin sebelum mendengus dengan keras saat tau bahwa kini pemuda Kim itu berjongkok di depan siswi yang menabraknya.
Chanyeol dengan sigap membantu Sehun berdiri. pria pirang itu meringis merasa bukan hanya kepalanya sekarang yang sakit, tapi pinggul dan juga bahunya.
"Lagi?"
Sehun menoleh pada Chanyeol yang bersuara. Lalu beralih menatap perempuan yang masih sibuk membereskan buku-buku paket yang di bawanya. Ia dengan cepat menebak bahwa perempuan itu adalah sepupu Chanyeol yang hari kemarin ditemui Jongin di depan pintu gerbang dan hari-hari sebelumnya selalu menjadi topik pembicaraan yang menarik antara Jongin dan Chen.
Seolhyun mendelik pada Chanyeol yang jelas-jelas mengejek dirinya yang beberapa waktu ini selalu menabrak orang lain sebelum beralih pada Sehun yang kini berdiri menjulang di sampingnya.
"Kau letakkan dimana matamu?!"
Seruan itu tidak hanya mengejutkan Seolhyun, tapi juga Jongin dan Chanyeol. Sehun berdiri sambil memegangi bahunya dengan kening berkerut menahan marah.
"Aku tidak sengaja, maaf—"
"Orang-orang bodoh selalu berkata tidak sengaja saat mereka yakin tidak bersalah"
Amarah itu tiba-tiba saja menguasai dirinya. Ia bahkan tidak sadar sepenuhnya dengan sikap berlebihan yang ia tujukan pada perempuan yang masih berjongkok di lantai itu. Melihat Seolhyun, mendengar kekhawatiran dari mulut Jongin, dan pengabaian dirinya membuat sesuatu dalam dadanya memanas.
Tidak sakit.
Hanya panas.
Panas yang membuat ia sekarang melakukan hal konyol dengan memarahi seorang perempuan.
"Sehuna, kau kena—"
"Lain kali gunakan berkah dari Tuhan dengan baik. Aku yakin matamu masih berfungsi"
Setelah memotong ucapan Jongin, Sehun melangkah, berniat meninggalkan tempat itu. Ia merasa harus segera membasuh wajahnya dengan air dingin. Rasa marahnya keluar dengan tidak wajar.
"Bukankah itu salahmu?"
Langkah Sehun terhenti. Suara itu…
"Kau juga seharusnya meminta maaf. Berjalan mundur juga hanya dilakukan oleh orang bodoh"
Jongin tidak pernah marah padanya. Tidak pernah. Bahkan saat kamera Polaroid pemberian neneknya tidak sengaja di rusak oleh Sehun. Tidak saat Sehun membuatnya dihukum membersihkan toilet karena bola yang Sehun tending mengenai pot bunga kesayangan kepala sekolah.
Tidak pernah, sebelum Jongin kini berdiri menatapnya dengan jengkel di depan Seolhyun. Melakukan pembelaan terhadap seorang perempuan yang bahkan terlihat baik-baik saja.
"Kau membelanya?"
"Minta maaflah"
Sehun tidak menjawab. Hanya menatap kedalam iris coklat itu. Pantulan dirinya berdiri tegap disana, tapi ia tak benar-benar berada di dalam mata itu. Ia hampir saja tertawa, yang dengan cepat ia jadikan dengusan mengejek.
Menertawakan nasibnya.
"Whaaa. Kau berlebihan sekali." kekehan nya terdengar sumbang. "Cepat jadikan dia pacar kalau kau memang begitu khawatir padanya." Sehun kembali berbalik dan melangkah pergi, hanya beberapa langkah sebelum ia kembali berhenti dan bicara tanpa menoleh. "Dan kerjakan tugasmu sendiri"
Sehun mencengkram bahunya lebih kuat. Berusaha mengalihkan rasa sakit aneh di dadanya. Ia melangkah menjauh, mengabaikan hatinya yang berteriak menginginkan pembelaan yang sama dari Jongin. Menginginkan dirinya berada dalam tiap kerjapan pelupuk mata pria itu.
Ia memilih berbalik dan menjauh. Ia memilih egois dan menyakiti diri sendiri. Cintanya menyakitkan karena jatuh di waktu yang salah.
Waktu mempermainkan mereka
Menjadikan mereka tersesat dalam labirin bertujuan tanpa arah.
"Ap—yak! Whaa ancamannya tidak main-main"
Jongin menggeleng, lalu kembali menoleh pada Seolhyun yang sudah bersiap pergi dengan tumpukan tinggi di kedua tangannya.
"Kemarikan" pria itu mengambil hampir semua buku dan hanya menyisakan dua di tangan Seolhyun. "Maafkan Sehun. Moodnya kurang baik hari ni"
Seolhyun hanya bergumam dan mengangguk singkat, lalu melangkah mendahului Jongin. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia pun merasa kesal atas sikap Sehun.
Koridor mulai ramai dengan siswa dan siswi yang berdatangan. Dan Chanyeol masih disana. Helaan nafasnya menyatu dengan desau angin dingin di tengah rintik hujan. Matanya meredup seiring rasa bersalah yang mulai merasukinya satu persatu.
Tubuh ramping itu masih bisa ia lihat sedang menaiki tangga. Tangannya kanannya tak lepas dari bahu kiri yang mungkin sangat ngilu.
Chanyeol bisa merasakan yang lebih dari itu.
Kim Jongin.
Park Seolhyun.
Oh Sehun.
Akan menjadi mimpi buruknya untuk waktu yang takdapat ia duga.
Jika aku bisa berjalan ke ufuk laut biru,
Aku takkan melepas tanganmu..
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Happy KaiHun Day! Yuhuuu otp paporit ^^
Kritik dan saran, review juseyoo~~
Gomapchuu :*
