Lachrymose
.
.
.
Baru saja dimulai
.
.
.
.
Segala penyebab
.
.
.
.
Air mata terjatuh
.
.
.
Mobil sedan mewah berwarna silver berhenti tidak jauh dari pintu masuk sebuah toko bunga sederhana. Chanyeol yang duduk di kursi penumpang baru saja hendak membuka pintu mobil ketika netra nya menangkap bayangan seseorang dengan rambut pirang platina mencolok berdiri di salah satu sudut toko dengan setangkai lili di genggamannya.
Chanyeol tersenyum. Mendapati Sehun di luar jam sekolah entah mengapa sangat sulit, kecuali jika ia menginap di rumah Chanyeol. Sehun seperti seorang anak mafia yang tidak memiliki identitas, sekolah dan bergaul seperti anak remaja lainnya, dan akan menghilang begitu saja setelah keluar dari gerbang sekolah.
Sehun masih berdiri di sana, mengamati beberapa bunga dengan warna-warna berbeda yang mungkin sangat menarik perhatiannya. Sehun memang dikenal sebagai salah satu adik kelas tampan di Cheongdam. Tubuh tinggi dengan bahu tegap miliknya selalu menjadi manipulasi sempurna untuk mereka yang tergila-gila pada penampilan. Dan dilihat dari manapun, Sehun memang tampan.
Melihat Sehun berdiri diantara puluhan tangkai bunga, membuat Chanyeol akhirnya menyadari satu hal yang sering terlewat.
Sehun begitu indah.
Pahatan porselen yang apik dengan keindahan berbalut tameng baja.
Sehun begitu mahir memanipulasi pandangan orang-orang di sekelilingnya agar ia terlihat begitu tangguh tanpa cela kerapuhan sedikitpun. Dan Chanyeol bersyukur menjadi salah satu yang tau bagaimana sosok di balik topeng itu.
Chanyeol tidak tau bahwa ternyata Sehun memiliki agenda pergi ke toko bunga. Setaunya, Sehun bukan seseorang yang tertarik pada apapun selain belajar. Dan bunga masuk dalam blacklist teratas.
Sekarang sosoknya berdiri angkuh di depan bunga-bunga yang merunduk, malu akan keredupan mereka di hadapan Sehun. Setangkai lili putih masih kokoh ia pegang. Detik berikutnya Chanyeol dapat melihat sosok itu berdiri di meja kasir dan menyerahkan beberapa lembar uang sebelum keluar dari toko.
Chanyeol akhirnya memilih keluar dari mobil, berjalan dengan langkah kaki jenjangnya menuju Sehun yang masih sibuk dengan uang di saku celana.
Tap!
Sehun berhenti untuk mendongak dan mendapati Chanyeol dengan pakaian formal berdiri di depannya.
"Hyung?" kerutnya bingung, "Kau disini?'
"Siapapun bisa ada disini" sahut Chanyeol acuh, "Kau ingin berkencan?"
Sehun mengikuti arah pandangan Chanyeol pada lili putih di tangannya. Decakan halus keluar dari celah bibirnya, matanya menatap malas pada hyung kesayangan yang masih menatap dirinya dengan antusias.
"Hyung ingin tau?" anggukan Chanyeol membuat Sehun tersenyum tipis, "Kalau begitu antar aku dengan mobil mewahmu itu"
.
See You In Autumn
Kim Jongin X Oh Sehun
.
.
.
(BGM : D.O EXO – Scream)
Dengan mantel pembungkus setelan formal yang dikenakannya, Chanyeol berdiri di bawah salah satu pohon. Salju belum menginjak bumi hari ini, namun angin sudah cukup mengigiti kulit. Sudah hampir lima belas menit ia disana. Mendapatkan pemandangan indah dari atas bukit yang baru pertama kali ini ia jejaki.
Aroma pinus berembun mengganggu penciumannya. Dan Chanyeol menyukai itu. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Keluar dari jeruji besi berdinding kokoh kediaman mewah keluarga Park. Ia terkurung tanpa merasa di kurung. Ia terisolasi dari dunia luar bersama gulungan peta dunia dan penunjuk arah canggih tanpa aroma.
Beginikah aroma pinus?
Chanyeol akan menikmatinya sebentar sambil terus mengawasi Sehun yang berdiri di samping pohon pinus lain. Di depan sebuah gundukan tanah besar yang kini dihiasi setangkai lili putih cantik
Pancaran kesedihan di pahatan indah itu mampu membuat angin gundah. Burung-burung merpati bertengger di dahan pohon sekeliling Sehun. Saling bersahutan untuk meredakan kesedihan pria itu. Angin menggerakan rambut yang menutupi matanya, seolah menyeka seberkas bening krystal yang enggan menjatuhkan diri dari kelopak Sehun.
Kesedihan yang bersembunyi begitu lama
Dan kebencian yang bergelayut misterius padanya
Kemilau krystal di pelupuk mata Sehun tidak selaras dengan rahangnya yang mengatup keras. Chanyeol berpikir sendirian untuk tau kesedihan macam apa yang dapat membuat seseorang mampu membenci begitu dalam.
Teringat pada percakapannya dengan Sehun beberapa saat lalu di dalam mobil. Sehuh tidak berkencan dengan siapapun. Lili putih itu untuk mempercantik makam ibunya.
Ibu asuh.
Pemilik panti asuhan yang kini ditutup karena kebangkrutan setelah kebakaran besar bertahun-tahun lalu. Tempat tinggal Sehun sebelum ia memutuskan pergi dan hidup seorang diri. Satu masa lalu yang menyentak keras dada Chanyeol.
Dugaan penghuni sekolah tentang Sehun sang pewaris tahta yang sengaja menyembunyikan identitasnya mungkin menyakiti Sehun. Membuat pria itu berharap di atas kebahagiaan semu masa lalunya.
Hanya itu yang Chanyeol tau. Pembuka puluhan kertas kusam yang masih di tutup rapat oleh si pemilik.
Sehun rutin mengunjungi makam ibu asuhnya.
Tapi mengapa ada kebencian di suara dinginnya? Mengapa ada pertahanan diri yang kuat darinya saat berdiri disana? Mengapa ada ucapan yang tertahan setiap kali mulut itu terbuka?
'Siapa sebenarnya dirimu, Oh Sehun?'
Mengapa tidak ada jawaban?
Mengapa kau menyembunyikannya tanpa sebuah kata?
.
.
.
"Terima kasih untuk makan malamnya, hyung" ucap Sehun, mengimbangi langkah Chanyeol di sepanjang sungai Han malam itu.
Chanyeol tersenyum, "Kau harus membayarnya"
Sehun berdecak, langkahnya berhenti. Ia bersungut pada hampa di depan, "Apapun akan ku lakukan untukumu hyung" wajah meyakinkan yang diiringi kekesalan.
Chanyeol tertawa. Membuat Sehun kesal bukan hanya menjadi kesenangannya, Chen dan Jongin bahkan hampir setiap hari membuat pria itu mengumpat. Mereka kembali beriringan menuju keramaian.
"Bagaimana kepalamu? Masih sakit?"
Sehun refleks memegangi kepalanya, lalu mengangguk pada Chanyeol. Kini giliran Chanyeol yang berhenti melangkah, memutar tubuhnya mengahadap Sehun untuk sekedar mendapati raut wajah frustasi dari pria itu.
"Kau sakit? Sudah ku bilang untuk ke rumah sakit saja, kenapa keras kepala sekali?" Chanyeol menahan suaranya yang hampir saja membentak Sehun.
"Aku sangat sakit" bisik Sehun, mengundang kerutan bingung pada Chanyeol. "Semua rumus berputar di kepala ku. Teori-teori memuakkan itu juga ikut menambah beban siswa sekolah menengah atas ini. Ujian kenaikan kelas benar-benar menyiksaku hyung"
Chanyeol menutup matanya sejenak. Kelegaan bercampur rasa kesal yang dirasakannya membuat jemarinya mendarat dengan mulus di kening Sehun.
"Itu masih beberapa minggu lagi"
Sehun menggerutu sambil mengelus keningnya. "Tetap saja itu memusingkan" belanya. "Aku selalu lapar setiap kali memikirkannya."
"Kau memang selalu lapar."
"Kalau begitu traktir aku."
"Kau baru saja berterima kasih karena aku sudah mentraktirmu. Mau kau letakkan dimana semua makanan yang masuk ke perutmu?"
Sehun memilih diam dengan bibir mengerucut lucu. Malam masih panjang. Sehun menatap sekelilingnya. Sisian sungai Han masih penuh dengan anak-anak muda yang sibuk menghabiskan waktu bermain atau orang-orang dewasa yang butuh udara segar.
Dan terkadang, waktu dapat begitu kejam memerangkap hati rapuh para manusia untuk tunduk padanya. Membuat manusia tidak bisa melakukan apapun untuk memutar ulang yang telah terjadi. Dan tidak membiarkan siapapun melangkah lebih cepat untuk melewatinya.
Gambaran yang begitu jelas tentu membuat satu hati berpendar biru itu kini gundah untuk memilih mengikuti alur sang waktu atau membalik badannya dan berjalana berlawanan.
"Mungkin cemilan tidak masalah" Chanyeol berjalan lebihn cepat, netranya menyapu seluruh sudut taman untuk mencari penjual makanan ringan sebelum berhenti pada satu titik dan menahan nafas untuk satu detik. "Mungkin lain kali"
Sehun terperanjat ketika tubuh tinggi Chanyeol memblokir jalannya. Pria itu tersenyum, mengacak rambut pirangnya dengan gemas beberapa kali.
"Di rumahku ada banyak cemilan. Mau pulang sekarang?" tawar Chanyeol, lalu menarik lengan Sehun untuk meninggalkan taman.
"Aku tau hyung"
Langkah mereka terhenti. Chanyeol menoleh untuk sekedar mendapati Sehun tersenyum di sampingnya. Genggamannya pada lengan Sehun terlepas saat pria itu kembali membalik badannya. Chanyeol mengatupkan rahangnya ketika manik biru malam itu menatap tepat kearah yang sebelumnya ia tatap.
"Kenapa?" bisik Sehun tanpa satu ekspresi yang dapat di baca oleh Chanyeol, "Setiap kali melihat mereka, hyung selalu berusaha membawaku pergi. Kenapa?"
Pandangan Chanyeol jatuh pada kerikil-kerikil tak berdaya di bawah kakinya saat keredupan milik Sehun menatapnya. Bahkan tidak ada kesakitan apapun yang berusaha ia sembunyikan lagi.
"Hyung?" Chanyeol mendongak, kini Sehun kembali menatap ke depan. "Apakah mencintai seseorang memang sesakit ini?"
Sedalam apa rasa sakitmu?
Katakan padaku
"Atau hanya karena aku? karena aku mencintainya? Mencintai seseorang yang tidak seharusnya aku cintai?"
Keheningan dari Chanyeol dianggap persetujuan oleh Sehun. Sejak awal pun ia tau. Dan bertanya hanya akan meyakinkan tiap bagian yang ia coba ingkari.
Siapa yang dapat ia salahkan? Chanyeol yang tidak membelanya? Waktu yang memerangkap dirinya? Atau Jongin dan Seolhyun yang terlihat menikmati kebersamaan di ketidak tahuan akan hati yang mereka sakiti?
Dan kenyataannya, hanya Sehun yang bersalah. Cinta miliknya memang salah. Bukan hanya Tuhan, Negara pun akan menghukumnya. Seluruh orang.
"Jangan lakukan apapun yang dapat membuatmu hancur Sehun." dan satu orang yang masih berdiri di sampingnya, walau ia tidak tau bagaimana perasaan Chanyeol sebenarnya. "Dan jangan menganggapku seperti orang lain yang akan menghukummu. Kau dan cintamu tidak bersalah, Sehun"
Dunia yang begitu kejam menatapi minoritas.
.
.
.
.
.
Setelah mendengar penjelasan Guru Go yang tidak ada habisnya tentang teori-teori tumbuhan serta nama-nama latin yang membuat lidah terbelit, akhirnya suara bel layaknya salju di tengah gurun pasir itu berdering nyaring. Para penuntut ilmu yang kelaparan sesegera mungkin menuju kantin untuk menyantap masakan bibi Nam yang berbeda-beda tiap harinya, atau sekedar mengganjal perut dengan roti isi dan sekotak susu.
Sehun melangkah pelan di sepanjang koridor menuju kantin dengan focus nya pada handphone silver di tangan, tidak menyadari bahwa sedari tadi seseorang mengikutinya dari belakang, bahkan dari jarak yang sangat dekat.
Puk!
Sebuah lengan dengan arloji Rolex mahal tersampir di bahu si pirang, mengejutkannya sesaat. Sebuah senyum terlewat sumringah di dapatinya saat memastikan siapa kiranya seseorang yang dengan lancang merangkul bahunya.
"Kau mengagetkanku" ucap Sehun meninju pelan perut si pelaku.
Tawa dengan suara baritone itu sedikit mengganggu pendengarannya. Tak pelak membuat Sehun menghela nafas jengkel. Disimpannya handphone yang tadi menjadi focus utamanya, lalu memanjangkan langkahnya sampai rangkulan tersebut terlepas. Seseorang di belakangnya hanya tersenyum, lalu kembali menyamakan langkah dengan Sehun.
"Kau terlihat sibuk" netra setajam elang itu menatap Sehun.
"Aku tidak" geleng si pirang.
"Kau sibuk dengan si silver kesayanganmu itu" dagunya mengedik kearah saku depan celana sekolah Sehun, tempat Sehun menyelipkan handphone nya tadi.
"Baiklah" Sehun menghentikan langkahnya, menatap malas lawan bicaranya. "Lalu apa maumu?"
Pria berhoodie hitam itu terkekeh dengan caranya "Bersabarlah kalau berbicara dengan ku Sehun"
"cepatlah" sergah Sehun, menghiraukan ucapannya.
"Ayo ke kantin" jemari yang di hiasi cincin perak berkilau itu menangkap jemari Sehun dengan cepat, lalu menariknya lembut. Namun sentakan kuat yang di terimanya.
"Aku tidak lapar. Aku ingin menemui Tae Woo" Sehun segera berbalik dan meninggalkan pria itu. Bohong memang, padahal koridor itu hanya menuju ke kantin yang tepat dua meter di depannya. Sedangkan jika berbalik arah, hanya ruang music dan aula yang di tuju. Kelas Tae Woo berada di lantai tiga omong-omong.
Pria itu hanya kembali tersenyum, berbalik arah mengikuti Sehun. "Ayo menemui Tae Woo" jemarinya kembali menggenggam jemari lentik itu.
"Jongin!" kembali Sehun menyentak tangan itu. Si hoodie hitam hanya terkekeh, menatap Sehun dengan jenaka tepat di mata yang dibalas sepersekian detik oleh Sehun. "Berhenti menggangguku"
"Aku tidak mengganggumu"
"Kau mengikutiku, kau menggangguku!"
"Aku hanya—"
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Sehun telah terlebih dahulu meninggalkannya. Berjalan cepat dengan umpatan pelan yang membuat Jongin mengangkat satu alisnya bingung. Ia kira Sehun hanya bersikap menyebalkan seperti biasa. Tapi kemarahan pria itu terasa aneh untuknya.
"Apa yang terjadi?" gumamnya pada udara.
.
.
.
Sehun tidak mengerti kemarahan seperti apa yang merayapinya. Ia tidak seharunya marah pada Jongin seperti ini. Tapi ketika melihat wajah pria itu, ia akan tanpa berdecak dan membuang nafas kasar. Bahkan sepanjang pelajaran, tidak ada obrolan seperti yang biasa mereka lakukan. Sehun hanya terus mengalihkan perhatiannya pada buku, dan Jongin yang sesekali menatapnya, membuka dan kemudian menutup kembali mulutnya tanpa ada kata yang keluar. Penasaran, tapi enggan bertanya.
Bahkan Chen beberapa kali mengelus tengkuknya, ngeri dengan aura dua pemuda di sampingnya saat mereka berjalan bersama menuju gerbang sepulang sekolah. Ketidak hadiran Chanyeol membuatnya seperti tongkat bassball yang siap digunakan kapan saja untuk saling pukul jika ada satu diantara kedua tiang di sampingnya yang berbicara.
"Uh, a-aku duluan ya" tau tidak akan ada yang menyahut, Chen memacu langkah nya meninggalkan duo biang onar yang sepertinya terlibat perang dingin.
Jongin jengah. Dia tidak tau apa yang terjadi pada Sehun hingga membuat semua orang termasuk dirinya didiamkan dengan tidak berperasaan. Pria itu berkacak pinggang menghadang langkah Sehun. Decakan dari bibirnya terdengar nyaring ketika Sehun membuang wajah kearah lain.
"Ada apa denganmu?"
"Menurutmu?"
"Aku tidak tau"
"Kalau begitu menjauhlah"
Sehun menjulurkan tangannya guna mendorong Jongin menjauh, namun Jongin maah menarik lengannya hingga kini mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku tidak tau apa masalahmu. Tapi kau harus ikut pulang denganku"
Bahkan Sehun dapat merasakan nafas Jongin membentur wajahnya, membuatnya berusaha berkali-kali lipat untuk mengendalikan diri.
"Aku tidak mau"
"Ibu dan Ayah baru tiba tadi malam."
Dan selanjutnya Sehun hanya bisa pasrah di tarik oleh Jongin. Jika sudah Tuan dan Nyonya Kim yang turut andil, ia tidak bisa berkutik. Ia tau bagaimana kedua orang tua Jongin sangat menyayanginya. Setiap kali mereka pulang dari perjalanan luar negeri, Sehun harus ada bersama mereka di meja makan. Kalau tidak, mulut cerewet khas seorang ibu dari Nyonya Kim akan lebih mengerikan dari guru killer di Cheongdam.
.
Sehun masih menekuk wajahnya ketika taksi yang ia dan Jongin tumpangi tiba di depan kediaman keluarga Kim.
"Kau akan menemui ibu dengan wajah seperti itu?"
Sehun mendelik, "Ya!" lalu keluar lebih dulu dari mobil.
Nyonya Kim tergopoh-gopoh keluar dari dapur saat seorang pelayan memberitahu bahwa kedua anaknya sudah tiba. Dengan noda tepung di pipi, wanita paruh baya itu memeluk Sehun dengan sumringah.
"Aku anakmu bu" Jongin memelas di belakang tubuh Sehun.
"Ibu merindukan si tampan ini" dan diabaikan dengan kejam oleh nyonya Kim.
"Um" angguk Sehun.
Nyonya Kim mengerutkan kening bingung, melepas pelukannya dan menatapi wajah tertekuk Sehun.
"Ada apa hm?" tangannya dengan lembut mengusap pipi Sehun.
Sehun menghela napas, lalu jemarinya menunjuk Jongin, "Dia menggangguku"
Jongin melotot terkejut. Nyonya Kim segera melepaskan celemek di pinggang dan memukulkannya ke badan Jongin.
"Ap—akh! Tidak bu, dia berbohong, aww"
"Anak nakal. Kau apakan anakku yang tampan ini huh?"
Sehun mengulum senyum saat Jongin kembali melotot padanya.
"Jangan melotot seperti itu" Nyonya Kim kembali memukuli Jongin dengan celemek pink miliknya.
"Dia bahkan tidak berbicara padaku hampir seharian ini bu. Dia memusuhiku tanpa sebab" sergah Jongin coba membela diri.
"Itu karena kau mengganggunya"
"Aku tidak"
"Jatah makanmu di kurangi"
Jongin kembali di buat menganga tanpa bisa berkata apa-apa. Sehun menjulurkan lidah kearahnya sedetik sebelum berbalik mengikuti sang Ibu menuju dapur. Jongin gemas ingin melepaskan sepatunya dan melemparnya ke kepala Sehun jika saja ia lupa ibunya akan membawakan sapu dan memukulinya dengan lebih brutal.
.
.
.
(BGM : Super Junior – Evanesce)
Mungkin hanya di temptat ini Sehun kembali dapat merasakan kehangatan makan malam bersama. Nyonya Kim yang cerewet seringkali mendapat teguran dari sang tuan rumah, dan Tuan Kim sendiri hanya sesekali bertanya masalah sekolah. Sedangkan si kembar ribut berebut tempat duduk di samping Sehun yang akhirnya di ambil alih oleh Jongin.
Nyonya Kim memang sangat menyukai Sehun. Sejak pertama kali Jongin mengajak Sehun ke rumah mereka, beliau begitu memuji bagaimana tampan dan putih nya Sehun. Meskipun memiliki dua orang putra yang tidak kalah tampan, wanita paruh baya itu tetap saja bersikeras meminta Sehun tinggal dirumah dan menjadi anaknya.
Jongin tidak pernah benar-benar cemburu. Ia senang melihat interaksi antara ibunya dengan Sehun. Kadang ia juga merasakan kehangatan saat tangan ayahnya membelai lembut surai Sehun. Entah mengapa, tapi keluarga nya terasa lengkap. Kedua adik bungsunya pun sangat menyukai Sehun. Mereka akan berebut menunjukkan seseuatu yang mereka miliki pada Sehun.
"Menjauh dari hyungku" seperti sekarang, tangan kecil itu bahkan dengan berani mndorong tubuh Jongin menjauh dari samping Sehun saat mereka berkumpul di ruang tengah.
"Waaaeee~~" rengek Jongin yang kembali mendekatkan tubuhnya pada Sehuhn. "Dia temanku"
Sehun hampir terjungkal dari kursi saat Jongin memeluk nya dari samping dengan tiba-tiba. Kedua lengan yang melingkar dipinggangnya mampu membuat aliran darah Sehun menumpuk di wajah. Sehun berdehem beberapa kali, namun Kim bersaudara masih sibuk berebut dirinya.
"Sekarang sudah saat nya anak-anak ibu untuk tidur. Cepat gosok gigi dan cuci kedua kaki serta tangan kalian"
Dengan wajah merengut yang sama, kedua adik kembar Jongin menjauh dari ruang tengah. Sehun belum bisa bernapas dengan benar karena lengan panjang Jongin masih setia bertengger di pinggangnya. Bahkan entah sadar atau tidak,wajah Jongin telah berada di ceruk lehernya. Kekehan yang dikeluarkan Jongin menggelitik lehernya yang sensitiif.
"Kenapa anak ibu terlihat sangat senang hm?" belaian Nyonya Kim pada rambut Jongin akhirnya dapat membuat Sehun bernapas dengan benar. Anak kedua keluarga Kim itu kini ganti memeluk tubuh ibunya. Sehun beralih bersandar pada sofa, tersenyum melihat pasangan ibu dan anak di depannya.
"Nanti, ada seseorang yang akan aku kenalkan pada ibu"
"Hm? Pacarmu?"
Jongin lagi tersenyum yang mana melunturkan senyuman di wajah Sehun. Sehun dapat melihat pantulan wajah cantik Seolhyun di matanya. Sehun fikir, Jongin mungkin saja sudah menjalin hubungan dengan Seolhyun.
Adakah kesmpatan untuknya?
"Sebentar lagi"
Sangat sempit.
Bahkan jika ia memiliki banyak waktu. Jongin hanya terlalu jauh untuk ia gapai.
.
.
.
.
Sehun memiliki keinginan untuk tidur lebih cepat, mengingat besok ia memiliki jadwal pelajaran yang hampir semuanya eksak. Namun matanya tak bisa diajak berkompromi. Sudah pukul dua malam, dan Sehun masih terus menggerakkan badannya dengan gelisah diatas sofa. Ia memilih keluar dari kamar setelah memastikan Jongin terlelap.
Meskipun moodnya membaik sejak tiba di rumah keluarga Kim, Sehun tetap memilih menjaga jarak dengan Jongin. Ia masih marah tanpa sebab.
Tidak.
Ia memiliki sebab yang jelas, namun enggan mengakuinya.
Melihat kencan Jongin bersama Seolhyun waktu itu tentu membuat hatinya memanas. Ia memang sudah memiliki waktu lebih banyak dengan Jongin, seharusnya Seolhyun yang cemburu. Tapi tatapan berbeda yang ia terima menjatuhkannya pada kenyataan bahwa ia sudah kalah bahkan sebelum bertanding.
Sehun masih ingin egois. Rasa penasarannya masih terlalu kuat untuk menyerah sekarang. Ia ingin tau sejauh apa ia mampu bertahan.
Dan sejauh mana Jongin akan bersikap.
Sehun mendengar salah satu pintu terbuka, dan Nyonya Kim memandangnya terkejut tak lama kemudian.
"Kau tidur diluar?" tanya Nyonya Kim.
Sehun bangkit dari sofa, memandang Nyonya Kim dengan salah tingkah.
"I-iya bu. Aku kepanasan" kilahnya.
"Pendingin di kamar Jongin tidak rusak" sergah yang lebih tua. "Ada apa? Kalian bertengkar?"
Sehun menggaruk tengkuknya, "Tidak, hanya—"
"Masuklah kedalam. Ibu akan marah jika kalian tidak segera berbaikan. Tidak baik bermusuhan dengan saudara sendiri"
Tapi aku mencintainya bu..
"Baiklah bu. Selamat malam" Sehun memilih mengalah dan mendekap bantalnya.
Nyonya Kim tersenyum, mengusap rambut Sehun sebelum pemuda itu berlalu dari ruang tengah. "Ibu menyayangi kalian"
Aku mencintai putramu..
.
Pintu tertutup dengan sangat pelan. Sehun tidak ingin membangunkan Jongin yang terlalu lelap dalam tidurnya. Nyonya Kim sangat menyayangi mereka. Bahkan ia memaksa Jongin dan Sehun untuk memakai piyama bermotif anak ayam yang sengaja ia belikan untuk mereka berdua. Dan sekarang mereka seperti anak kembar dengan piyama kembar.
Sehun menaiki tempat tidur dengan hati-hati. Ia tidak langsung tidur, melainkan duduk di samping Jongin. Karena hanya di saat seperti ini lah ia bisa menatapi wajah yang selalu menjadi bagian dari mimpi-mimpinya dengan leluasa.
Ia menghabiskan banyak waktu dengan Jongin. Ia bermain bersama Jongin. Ia disayangi oleh keluarga Jongin. Ia pun bisa tidur bersama Jongin. Sehun bisa melakukan apa yang tidak bisa Seolhyun lakukan.
Tapi Seolhyun memenangkn apa yang selalu ia nantikan.
Hati Jongin.
Sehun meraba dadanya. Merasakan denyutan tak kasat mata yang sangat menyakitkan. Wajah sumringah Jongin saat memberitahukan perihal Seolhyun pada Ibunya membuat pukulan lain yang lebih menyakitkan.
Seandainya…
Seandainya ia yang mengisi hati Jongin. Seandainya ia yang Jongin ceritakan dengan wajah bahagia. Seandainya semua cintanya terwujud dengan begitu mudah. Akankan Nyonya Kim masih menyayanginya seperti sekarang? Akankah seseorang yang sudah ia anggap seperti ibu itu masih akan menganggapnya anak?
Semakin Sehun mendalami apa yang ia rasakan. Semakin ia tau, bahwa cinta yang datang padanya bukan hanya tentang dirinya dan Jongin.
"Mengapa aku di lahirkan sebagai laki-laki jika Tuhan memberikanku cinta yang ditujukan padamu?"
Jemari kurusnya terulur, menyentuh pipi Jongin dengan sangat hati-hati. Menganggap bahwa wajah Jongin berlian berharga yang akan rusak dengan mudah. Namun keserakahannya membuat jemari itu berakhir mengusap pelan pipi Jongin, turun pada bibirnya dan Sehun semakin berani untuk itu.
Ia menunduk. Mendekat pada sang pangeran tidur. Menekuni tiap lekuk wajah rupawan di depannya dengan beribu rasa sakit yang kembali menghujam ulu hatinya. Dan untuk pertama kalinya, matanya memanas. Air mata berlomba-lomba memenuhi pelupuk matanya seolah jengah karena terlalu lama di tahan.
"Aku mencintaimu"
Tes!
Bukan hanya air mata miliknya yang terjatuh diatas pipi Jongin. Tapi juga air mata dari seorang ibu yang menyaksikan sendiri bagaimana anak laki-laki yang sudah ia anggap anak sendiri mencium bibir putranya. Selimut putih milik Sehun telepas dari genggamannya saat melihat dari balik celah pintu yang terbuka bagaimana bibir bergetar Sehun yang menahan isakan mengecup lembut bibir Jongin.
Mengapa aku tidak bisa mendapatkan keduanya?
Orangnya dan juga cintanya?
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Kurang puas sama chapter ini TT Kecewa TT
Maaf untuk chapter yang buruk dan keterlambatan update. Aku baru pulang dari luar kota. Aku juga benar-benar sudah berusaha untuk membuat chapter ini lebih baik.
Terima kasih untuk dukungan kalian TT Aku bener-bener terharu TT
SARANGHAE :*
Chap selanjutnya aku usahakan update lusa.
