Bye, Autumn

.

.

.

Slowly fall a thousand star

And everything all goes by

Wasting all I loved

Quietly, all the dreams are gone away

In a good night

"Dimana ayahmu?"

"Maafkan ibu"

"Anak haram!"

"Tolong aku!"

"Pergi!"

"Kenapa harus aku?!"

Deg!

Sehun membuka matanya dengan tiba-tiba.

Lagi.

Mimpi yang sama.

Sehun mengangkat kepalanya dari meja dan seketika tersadar bahwa dia masih berada di perpustakaan kota. Sore hari yang mendung dapat dilihat dari jendela besar di tengah ruangan.

Sehun menggelengkan kepalanya sambil menutup telinga. Suara-suara di dalam mimpinya seolah masih berdengung di telinganya. Suara tak asing yang mengganggunya beberapa hari ini. Mimpi-mimpi itu kembali mengusik tidurnya setelah sekian lama. Sekali lagi lelaki itu menggeleng, mengusap-usap wajahnya untuk menghalangi apapun hal mengerikan yang dapat memasuki pikirannya.

Ia ingat pergi ke perpustakaan setelah jam belajar rutin di sekolah berakhir. Ujian kenaikan kelas akan diadakan beberapa hari lagi, jadi Sehun memutuskan untuk belajar lebih giat dari sebelumnya. Dari jauh-jauh hari ia sudah bertaruh pada Chanyeol akan mendapatkan peringkat satu, mengalahkan si hitam Jongin yang selalu percaya diri. Yang sialnya selalu lebih unggul darinya.

Hari mulai gelap, Sehun melirik jam kuno besar yang tergantung di sudut perpustakaan. Sudah hampir malam dan Sehun memutuskan untuk beranjak pergi sebelum penjaga perpustakaan menguncinya diruangan luas yang sering dikatakan berhantu ini.

Sehun melangkah menuruni tangga keramik perpustakaan. Kepalanya menoleh memperhatikan sekitarnya. Hanya penuh dengan manusia-manusia apatis dan dedaunan yang gugur. Tidak menarik.

Sehun lupa kapan terakhir kali dirinya merasa bahwa kehidupan yang dijalani terasa menyenangkan. Selama ini ia hanya tau tentang bertahan hidup, sekolah, dan mempertahankan hal tersebut. Ia tidak tau kehidupan seperti apa yang dijalani Chanyeol hingga membuatnya kadang tidur terlalu malam. Ia tidak tau kehidupan seperti apa yang dijalani Chen hingga melakukan hal yang disukai pun termasuk dalam pelanggaran. Dan Sehun tidak tau hal apa yang sudah ia jalani hingga kini ia harus mempertahankan satu hal lagi.

Kim Jongin.

Sehun kembali menggeleng keras saat pikirannya mulai bercabang keman-mana. Ia hanya memikirkan tentang kehidupan orang-orang di balik apartement-apartement mewah yang menjulang di setiap sudut kota.

Tapi kenapa satu nama itu seolah selalu menjadi objek utama dalam otaknya?

Laki-laki yang masih mengenakan seragam itu memilih untuk pergi dan mencari makan malam sebelum ia menjadi pria dengan pemikiran rancu tentang hati, cinta dan semacamnya.

Ia melangkah memasuki stasiun subway di daerah Hongdae. Sehun berhenti di salah satu loker, mengeluarkan tas hitam yang lumayan besar. Sehun meletakkan tas itu di lantai, ikut berjongkok untuk mengambil beberapa pakaian bersih miliknya dan sebuah paper bag. Ia kembali memasukkan tas tersebut beserta renselnya ke dalam loker sebelum beranjak menuju toilet umum di stasiun.

Setelah selesai mengganti seragamnya dengan kaos putih yang dilapisi Hoodie hitam serta celana jins ripped yang santai dan membersihkan wajahnya di westafel agar terlihat lebih segar, Sehun kembali melangkah meninggalkan kawasan stasiun dengan membawa paper bag berisi seragam sekolahnya untuk dibawa ke binatu.

Disepanjang jalan, yang dapat ia lihat hanya anak-anak remaja yang menghabiskan malam akhir pekannya dengan suara ribut dan bersikap layaknya anak ayam yang baru saja lepas dari kandang. Mereka terlihat bahagia di balik pakaian dan perhiasan yang bermerk. Mereka terlihat menikmati hidup di balik kerasnya ibu kota.

Hanya yang terlihat.

Hongdae lebih di dominasi oleh para mahasiswa yang masih saja berpikir untuk menghabiskan masa muda mereka dengan bersenang-senang sebelum dihadapkan pada kehidupan nyata yang lebih sulit dari skripsi. Mungkin karena keberadaan Universitas Hongik yang berdiri angkuh di bagian barat.

Sehun menghentikan langkahnya saat netranya mendapati kumpulan mahasiswa yang sedang berebut bola basket di tengah lapangan kecil. Mencari sedikit hiburan di penghujung musim gugur tidak ada salahnya.

Satu tangannya yang tidak memegang paper bag dimasukkan ke dalam kantung hoodie. Seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya. Suasana hatinya sangat baik hari ini, jika melupakan mimpi buruk di perpustakaan. Di sekolah tadi siang, Guru Ahn yang memang menangani beasiswa para murid meberitahukan padanya bahwa nilai yang ia dapatkan selama dua semester sangat memuaskan. Ia bahkan bisa memasuki universitas manapun baik di Korea Selatan atau di luar negeri jika ia bisa mempertahankan nilai-nilai plus nya sampai satu tahun kedepan.

Setidaknya ia bisa mengetahui sedikit apa itu menikmati hidup.

Senyumnya semakin terkembang saat mendengar sorakan antusias remaja-remaja yang lebih dewasa darinya di pinggir lapangan saat teman-teman yang mereka dukung berhasil memasukkan bola ke dalam ring.

Dan saat itulah iris biru malamnya terpaku pada sepasang iris lain yang juga sedang menatapnya di keramaian. Seorang pria yang menjadi pusat perhatian karena berhasil mencetak angka. Sehun mengernyit, merasa familiar dengan wajah bule pria itu. Ia mencoba mengingat dan di detik kemudian mengedik, mengacuhkan ingatannya yang payah.

Sehun beranjak meninggalkan lapangan, kembali menyusuri jalan yang tidak sepi menuju sebuah gedung dengan papan nama berkelip heboh di pinggir jalan Hongdae. Sebuah club malam ternama yang sering menjadi perbincangan hangat dikalangan anak muda.

Club malam itu memang berkelas. Tidak sembarang an orang bisa masuk. Tapi siswa sekolah menengah atas berambut pirang itu dengan mudah melewati dua penjaga bertubuh besar di kedua sisi pintu masuk. Tanpa sedikitpun teguran.

Suara musik berdentum keras di setiap sudut ruangan luas tanpa ventilasi udara. Keadaan yang riuh serta minimnya pencahayaan membuat Sehun harus jeli agar tidak terinjak kaki-kaki yang bergerak tidak beraturan di depannya.

Langkahnya membawanya menuju meja bar yang juga di penuhi oleh orang-orang dengan berbagai tingkatan usia. Sehun duduk di salah satu bangku tanpa peduli keadaan sekitar. Sejak memasuki club pun ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan keramaian yang terjadi. Ia hanya duduk disana, menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, menunggu bartender muda yang sibuk meracik minuman di depannya mendongak dan menyapanya seperti sekarang.

"Kau datang lebih cepat malam ini"

"Hm. Aku kelaparan"

Bartender itu terkekeh, menampilkan lesung pipinya yang mampu memikat para gadis muda di ujung ruangan.

"Aku akan mentraktirmu"

Sehun mengibaskan tangannya, menolak tawaran si bartender. "Berikan saja uangnya padaku, aku ingin cepat-cepat keluar dari sini"

"Kenapa?"

"Lee Donghae"

Kali ini tawa si bartender terdengar menyenangkan bagi siapa saja yang bisa mendengarnya di sela permainan musik sang Dj yang semakin menggila. Pria yang lebih tua dari Sehun itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkannya pada Sehun.

Satu alis Sehun terangkat, "Dua?"

Pria didepannya kembali terkekeh, "Sialnya Lee Donghae sudah disini sejak satu jam yang lalu" kemudian ia mendekat kearah Sehun dari balik meja bar dan berbisik, "dia bilang, bonusnya menyusul setelah urusan kalian selesai"

"Brengsek!"

"Owh, manis sekali"

Sehun melemparkan salah satu amplop ke sisi lain meja setelah mengumpat dengan keras di depan wajah si bartender yang kembali tertawa melihat ekspresi kesal Sehun.

"Aku pulang!" Sehun bangkit dari kursi, dan baru saja selangkah, suara si bartender kembali memanggilnya.

"Jangan sampai sakit. Ujian kenaikan kelas sebentar lagi kan? Raihlah peringkat pertama." Ucapnya yang hanya didiamkan oleh Sehun. "Itu yang di ucapkan ibumu"

Sehun berbalik, mengangguk sambil tersenyum dengan tulus, "Terima kasih, Yixing hyung"

Yang di panggil Yixing tidak mengalihkan atensinya sama sekali dari pemuda yang kini berjalan dengan kepala tertunduk keluar dari club. Senyum mirisnya bukan pertanda kasihan, ia hanya merasakan kesedihan yang sama saat melihat sendiri bagaimana rapuhnya murid SMA itu.

"Takdir mengulur waktu terlalu lama"

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

.

.

.

Never ever say goodbye

Always I wonder why

Wasting all the time

Silently, we collide so fast so deep

In a goodningt

Waktu berlalu begitu cepat bagi para murid di SMA Cheongdam. Ujian kenaikan kelas yang mengerikan sudah berakhir sejak lama. Murid-murid yang baru lulus dari sekolah menengah pertama mereka seolah berebut mendaftar di SMA Cheongdam. Karena sudah menjadi rahasia umum jika sistem pengajaran di sekolah tersebut memilki standar tinggi terbaik se-Korea Selatan, di samping para senior yang tampan.

Nuansa kecoklatan dari daun yang berguguran sudah berganti dengan lembutnya butiran salju di bulan Desember. Libur panjang yang di berikan pihak sekolah seolah menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka yang masih selalu memikirkan waktu bermain. Tidak terkecuali empat sekawan yang sekarang masih mengantri di terminal keberangkatan bandara Incheon.

"Kenapa aku ada disini?"

Itu keluhan kesekian kalinya yang keluar dari bibir Oh Sehun. Suasana bandara yang ramai sama sekali tidak membuat Sehun malu untuk berjongkok dengan wajah memelasnya. Chen yang sedari tadi berkacak pinggang di belakangnya akhirnya bereaksi dengan menarik tudung hoodie yang dikenakan si lelaki Oh itu.

"Mau sampai kapan kau seperti itu?"

Sehun akhirnya berdiri, sedikit mengkhawatirkan hoodie nya yang bisa saja sobek karena ditarik kencang oleh Chen. Kali ini giliran Sehun yang berkacak pinggang, kepalanya mendongak keatas, menghela napas dengan berlebihan karena tidak ada satupun dari mereka yang membiarkannya pergi dari bandara.

"Ibuku benar-benar akan membunuh kalian karena sudah membawa paksa anaknya yang tampan ini" tuding Sehun pada ketiga temannya yang hanya tertawa. "Aku serius!"

"Kalau begitu kita ke Busan saja hyung" suara Jongin lantas membuat Sehun menoleh. Perasaan gugup tiba-tiba saja menyergapnya.

"Ap—"

"Maaf aku terlambat"

Sehun bersyukur kedatangan orang itu mengalihkan semua perhatian teman-temannya. Sehun agak sensitive dengan Busan, mendengar Jongin yang berniat mengajak Chanyeol ke Busan membuatnya takut walau ia tau bahwa Jongin hanya membual. Tapi Sehun kenal bagaimana Chanyeol. Laki-laki itu bisa saja menghanguskan seluruh tiketnya ke Jeju untuk berbalik arah ke Busan.

Sehun menoleh, ekspresi leganya langsung tergantikan dengan ekspresi terkejut saat tau siapa sebenarnya yang telah menyelamatkannya dari situasi tadi.

"Apa-apaan—" Sehun mendelik kearah Chanyeol yang hanya menatapnya bingung. "Aku baru tau perempuan diijinkan bergabung dengan rombongan kita"

Chanyeol menghela napas, "Dia memaksa ikut" tunjuknya pada Seolhyun.

Sehun berdecak kagum dibuat-buat, tubuhnya berbalik menghadap Seolhyun yang jauh lebih pendek. "Kau berani juga."

Seolhyun berdiri risih saat mata sipit Sehun menatapinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Bersiap saja keperawananmu hilang saat kembali ke Seoul"

Plak!

"Akh!"

"Jaga omonganmu Sehun"

Sehun mengumpat, pukulan Jongin di belakang kepalanya tidak main-main. Dan sejak itu matanya tidak pernah lepas mengawasi Jongin dengan Seolhyun. Sehun tidak tau sudah sejauh mana hubungan kedua orang itu selama beberapa bulan ini. Yang Sehun tau, Jongin kini lebih banyak menghabiskan waktu makan siang berdua dengan Seolhyun. Mereka lebih sering mengobrol walau kadang Seolhyun masih saja galak pada Jongin.

Bahkan saat di pesawat, Jongin memilih bertukar tempat duduk dengan Chanyeol hingga kini Chanyeol duduk bersamanya. Sehun dapat melihat dua orang itu mengobrol sambil sesekali tertawa. Mereka terlihat begitu senang.

Sehun memilih mengalihkan pandangannya pada gumpalan awan di luar jendela saat Jongin menyuapkan sesuatu ke dalam mulut Seolhyun. Chanyeol tepat di samping Sehun, tak henti menatap pria itu dari balik kacamata hitam yang di kenakannya.

"Hyung" panggil Sehun tanpa beralih sama sekali.

"Hm?"

"Ini tahun terakhirmu. Apa yang akan kau lakukan setelah lulus nanti?"

"Bekerja"

Sehun berdecak malas, "Tentu saja. Kau kan Park"

Chanyeol terkekeh, "Kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan setelah lulus?"

Sehun tidak langsung menjawab. Sinar di matanya meredup. Cuaca cerah di luar sana tidak berhasil memberi cahaya bantuan bagi dirinya. Sehun tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah lulus sekolah. Selama ini ia hanya terus memikirkan akan makan apa besok, bagaimana caranya untuk mepertahankan beasiswa nya. Hanya itu.

Dia tidak memiliki ketertarikan pada bidang pekerjaan apapun. Ia tidak memiliki skill untuk bekerja di perusahaan. Dia tidak begitu suka bertemu orang banyak jika memilih bekerja di café atau minimarket. Sehun cepat merasa bosan akan suatu pekerjaan yang dilakukannya. Itulah mengapa selama ini ia hanya menunggu uang kiriman dari ibunya untuk memenuhi segala kebutuhannya.

Sehun merapatkan mantelnya sebelum menoleh pada Chanyeol yang ternyata masih memperhatikannya.

"Pulang"jawabnya, membuat kernyitan halus di kening Chanyeol. "Aku merindukan rumah"

Rumah yang tidak pernah kumiliki

"Kau merindukan ibu dan ayahmu?"

Seketika itu juga kepalanya memutar begitu banyak kejadian lampau yang sama sekali tidak ingin diingatnya. Pertanyaan Chanyeol bahkan selalu menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri.

'Apakah dia merindukan ibu dan ayahnya?'

Sehun tidak pernah menemukan jawaban. Kadang ia merindukan Busan sampai rasanya ia bisa menangis semalaman. Tapi mengingat tempat itu juga kembali membasahi lukanya dengan air garam. Sehun merintih tanpa tau dimana ia harus menutup luka tersebut.

Perih.

Ia baru saja tau alasan mengapa mimpi-mimpi buruknya tidak pernah kembali lagi. Tapi Sehun bisa saja salah. Ia hanya menebak. Ia hanya mengaitkan semuanya. Perasaan dilindungi yang ia miliki selama bersama Jongin membuatnya selalu bersugesti bahwa ia bisa melakukan apapun bahkan jika bayangan masa lalu berlari lebih cepat mengejarnya.

Selama ini, Jongin selalu menjadi sumber kekuatannya untuk melangkah ke hari esok. Dia merasa memiliki Jongin tanpa perlu khawatir pada apapun.

Dan sekarang mimpi-mimpi buruk itu kembali. Ia seolah menemukan celah yang bisa membuatnya kembali pada Sehun. Ia seolah menunggu hati itu tergerak ragu dan saling berjauhan. Saat Sehun menjadi satu-satunya yang Jongin lindungi, pintu itu merapat dengan kuat. Dan saat hatinya memiliki raga lain, pintu itu saling berjauhan.

Sehun selalu sesumbar dengan perasaannya yang pasti akan terbalas dilihat dari sikap Jongin selama ini. Ia hanya tidak tau bahwa berharap bisa menyakitinya sampai ke tulang. Menyesalpun sudah terlambat. Kini mimpi itu datang lagi. Mengganggunya dengan kejam. Membiarkannya meringkuk ketakutan seorang diri di peraduan harapan-harapannya.

Sehun mencengkram dadanya yang tiba-tiba tersentak saat bayangan samar seorang wanita cantik dengan rambut hitam bergelombang tersenyum kearahnya. Sudah berapa lama sampai ia bahkan melupakan wajah itu. Seberapa kuat kebenciannya sampai satupun kenangan manis mereka tidak bisa diingat olehnya.

"Aku—" tenggorokonnya bergerak menelan ludah dengan sulit. "—merindukannya"

'Ibu, cinta pertamaku sangat menyakitkan'

.

.

.

.

.

Chen mendesah lega dengan berlebihan setelah pantatnya mendarat di sofa empuk berwarna maroon mewah di tengah ruangan. Aroma segar dari segala penjuru membuatnya senang tanpa alasan. Suara ombak dari kejauhan menenangkan semua orang yang mendengarnya. Tanah Jeju berada di bawah kakinya saat ini. Chen terlalu antusias pada segala hal tentang liburan.

Sehun bertanya pada Chanyeol dimana ia bisa beristirahat. Chanyeol mengantarnya menuju lantai dua villa mewah milik keluarga Park dan menyuruhnya beristirahat di salah satu kamar. Perasaan bersalah masih merayapinya. Sejak pertanyaannya di pesawat beberapa waktu lalu, Sehun tidak bicara apapun. Chanyeol pikir ia menanyakan sesuatu yang sangat sensitive pada Sehun, mengingat selama ini anak itu tidak pernah mengungkit masalah apapun tentang keluarganya.

Chanyeol berecana meminta maaf setelah pria itu merasa lebih baik setelah beristirahat.

Tapi saat makan malam tiba, pria pirang itu sudah terlihat lebih baik dari yang Chanyeol duga. Sehun sudah kembali adu mulut dengan Chen di meja makan, yang sesekali mendapat teguran dari Jongin yang hanya mendapat delikan sadis dari Sehun. Ia bahkan mendelik setiap kali melihat Jongin mengambilkan makanan untuk Seolhyun.

Oh, orang yang dicintainya seperti diperbudak oleh seorang wanita.

Chanyeol yang melihat kegaduhan itu tidak lega sama sekali. Sehun hanya menutupi kesedihannya dengan baik.

Villa mewah milik keluarga Park itu memiliki beberapa asisten rumah tangga yang satu minggu sekali di beri jadwal membersihkan rumah. Dan makanan yang mereka santap sekarang adalah masakan rumahan lezat dari bibi Jung. Wanita paruh baya itu sangat ramah, binar bahagia di wajahnya membuat lima anak muda dari kota itu ikut menikmati suasana makan malam yang hangat, meski ribut oleh suara Chen.

Selesai makan malam, Chanyeol, Jongin, Chen dan Seolhyun memilih menikmati malam pertama mereka di Jeju dengan bersantai di balkon lantai dua. Memandang kegelapan bersuara ombak tepat di depan. Angin yang kencang di bulan Desember menyelip diantara pori-pori tubuh yang mana membuat Jongin mendekatkan tubuhnya pada Seolhyun yang sesekali bergidik kedinginan.

Sehun memilih membantu bibi Jung di dapur, memotong beberapa strawaberry untuk cuci mulut. Bibi Jung bercerita tentang anaknya yang berhasil masuk salah satu fakultas kedokteran di Seoul, kebanggaan di wajahnya membuat Sehun tersenyum untuk menanggapi.

"Kau sangat tampan tuan muda" ucap Bibi Jung yang masih mengurusi beberapa sayuran baru untuk ia masukkan ke dalam kulkas. Setelah tau bahwa tuan muda nya menginap untuk beberapa hari, wanita paruh baya itu langsung memetik sendiri beberapa sayuran segar dari kebunnya. Sudah begitu lama sejak majikannya berkunjung ke villa, hingga membuat ia merasa senang berlebihan.

"Panggil Sehun saja Bi. Dan yeah, semua orang berkata begitu." sahutan Sehun tak ayal membuat bibi Jung tertawa.

"Kau sudah memiliki kekasih?"

Sehun menggeleng, fokusnya tak sedikitpun beralih dari strawberry yang masih berusaha ia potong, khawatir jika ia lengah sedikit saja maka jarinya yang akan berakhir di mangkok. Sebenarnya Sehun tidak memilki keahlian apapun di dapur. Ia hanya jengah melihat Jongin yang selalu menempel pada Seolhyun hingga membuatnya memilih membantu memotong strawberry segar itu dan membayangkan bahwa ia sedang membelah tubuh Jongin menjadi dua sebelum ia tau kalau ternyata memegang pisau begitu sulit.

"Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan gadis-gadis berisik dan tukang cemburu itu"

"Jadi kau tertarik pada laki-laki?"

Sret!

Sehun bahkan tidak mengeluh sakit saat pisau tajam yang ia gunakan untuk memotong strawberry berakhir menyobek kulit jari telunjuknya. Ia hanya terlalu terkejut pada pertanyaan bibi Jung. Ia mendongak, menatapi punggung Bibi Jung yang masih sibuk membereskan isi kulkas.

"Kenapa wajahmu tegang begitu?"

Sehun menoleh pada Jongin yang kini berdiri di sebelahnya. Kepalanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jongin. Tangan kanannya mengepal, menyembunyikan jejak darah yang masih mengalir dari kulit yang terluka.

"Sehun bilang, ia tidak memiliki kekasih." Bibi Jung menutup pintu kulkas dan kini berdiri menghadap kedua anak muda di depannya. "Padahal wajahnya sangat tampan"

Jongin mengangkat tangan kanannya untuk merangkul bahu Sehun yang kini sibuk memasukkan strawberry ke dalam mulutnya. Pria itu mengamati wajah Sehun dari samping.

"Dia tidak lebih tampan dariku"

Sehun mendengus, kemudian menyuapkan sepotong strawberry kepada Jongin. Bibi Jung lagi-lagi tersenyum.

"Kalian terlihat serasi"

Dua kepala itu menoleh bersamaan, saling bertatapan selama beberapa detik. Sehun memutuskan tatapan mereka lebih dulu, enggan terpesona pada wajah tampan sahabatnya. Jongin tersenyum pada bibi Jung, sedangkan Sehun memilih beralih ke westafel untuk membersihkan lukanya.

"Tentu"

Sehun hampir menahan nafas mendengar sahutan dari Jongin. Jantungnya melonjak girang entah karena apa. Ia berdehem, menyalakan keran air agar tidak ada satupun yang bisa mendengar suara detak jantungnya.

Benarkah Jongin berpikir mereka serasi?

"Kami sudah lama mengenal. Kami bahkan sering di sebut sebagai kembar oreo." Jongin terkekeh.

Hanya sebatas itu. Berharap apa kau Oh Sehun.

Sehun tanpa sadar berdecih, menekan lukanya lebih keras, mengeluarkan semua darah yang masih menetes. Jongin pamit untuk menemui teman-temannya di balkon sambil membawa semangkuk besar strawberry yang sudah dipotong oleh Sehun.

Sehun mengambil botol air mineral di dalam kulkas, melangkah menjauhi dapur berniat untuk tidur daripada menemukan Jongin dan Seolhyun di balkon sebelum suara Bibi Jung menghentikannya.

"Jangan salahkan dirimu. Semua hanya kembali pada waktu"

Suara ombak di kejauhan dan detak jam di tengah ruangan seolah mewakili tiap detik berlalu yang ia lewati dengan penyesalan. Selama ini Sehun selalu menyalahkan dirinya, menyalahkan perasaan terkutuk yang datang untuk orang yang tidak tepat.

Ia selalu marah pada keadaan. Tidak ada yang tau bagaimana dia menjalani hari dengan menyembunyikan segala perasaannya. Tidak ada yang tau bagaimana rasa takut selalu membayanginya, memaksanya terlihat normal di balik ketidaknormalannya.

Bibi Jung memang benar, dia tidak harus menyalahkan dirinya. Semua terjadi begitu saja tanpa bisa dia cegah. Tapi berbicara lebih mudah dari yang harus dilakukan. Ketidakmungkinan yang menghadangnya di depan bukan hanya tentang satu hati yang lain. Tapi banyaknya mata yang akan mencaci makinya dengan kejam.

"Ini sulit, Bi"

"Mereka yang mengaku menyayangimu akan dengan mudah menerima dirimu, bagaimanapun kau Sehunie"

Seandainya semudah itu,

Untuk mengeluarkan kura-kura yang ketakutan dari cangkangnya.

.

.

.

.

Jongin memasuki kamar yang ia tempati bersama Sehun. Netranya menangkap sosok Sehun yang sudah bergelung nyaman dalam selimut tebalnya. Ia dan yang lainnya di buat bingung oleh ketiadaan Sehun selama mereka menunggu di balkon untuk saling membual. Chanyeol memintanya untuk memeriksa, khawatir terjadi sesuatu pada si maknae.

Langkah nya ia bawa mendekat pada sehun, mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Tangannya terulur untuk mengusap kening yang lebih muda. Helaan nafasnya terdengar gusar di keheningan malam.

"Kau sakit? Ada sesuatu yang mengganggumu?" lirih suara Jongin tak mendapati sahutan dari sosok yang masih terlelap di depannya. "Maafkan aku. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu" kemudian selimut itu ia naikkan sampai ke batas leher Sehun. "Jangan bermimpi buruk lagi"

Suara pintu yang terbuka dan tertutup serta langkah kaki yang menjauh membuat kedua kelopak mata itu terbuka.

Sehun mendengarnya. Sehun mendengar ungkapan khawatir itu terucap untuknya. Ia merasakan usapan lembut itu di keningnya. Tapi kenapa ia tidak bisa berharap lebih?

Sehun merubah posisinya menjadi berbaring. Mulutnya terbuka dan tertutup untuk menghembuskan nafas. Paru-parunya terasa sesak. Ia terlalu banyak menahan suaranya akhir-akhir ini. Suara untuk satu kebenaran yang akan mengulitinya hidup-hidup.

Sehun bangkit, memilih mencari angin segar untuk mendinginkan kepalanya.

.

.

.

.

Closed my eyes

I run and run away from all I see

Whispered the night

That someday my tears will flow

In this blue rain

Langkah kaki tanpa alasnya mengalun pelan di atas pasir putih dingin di pinggir pantai yang tenang. Piyama tipis yang ia kenakan tidak membuat ia menyerah dan berbalik masuk ke balik selimut. Angin yang membawa uap basah pada kulitnya menjadi teman di kegelapan. Ombak berdebur mengiringinya menyambut sisa malam.

Sehun lupa sudah pukul berapa sekarang. Tidak ada siapapun di pantai yang hanya memiliki penerangan dari lampu-lampu hias cantik saat ini. Villa megah bernuansa mediterania itu terlihat mengecil seiring langkahnya yang makin menjauh. Beberapa kali Sehun menemui batu-batu besar yang lebih tinggi darinya.

Uap dingin mengepul saat hembusan nafas nya membaur dengan udara pantai yang beraroma khas.

Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa sepi

Bolehkah aku mendengarmu

Matanya memicing saat siluet dua orang yang berdiri di bawah lampu hias tertangkap netranya. Sehun memilih mendekat. Tanpa sadar ia mengendap. Mendekat tanpa suara pada dua orang disana. Matanya makin menyipit untuk memperjelas penglihatannya. Dan ketika tau, ia hanya kembali mendekat, berdiri di balik batu besar.

Jongin dan Seolhyun.

"Ini tidak terlalu cepat menurutku" Samar-samar Sehun dapat mendengar suara husky Jongin yang sedang berbicara pada Seolhyun.

"Aku tidak menyukaimu omong-omong" Sehun dapat mengenali jaket hitam yang sekarang membalut tubuh ramping gadis itu. Jaket milik Jongin.

"Benarkah? Jadi selama ini hanya aku yang terlalu berharap? Whaa menyakitkan sekali"

Tidak Jongin. Kau sama sekali tidak tau bagaimana rasa sakitnya.

Kedua tangan Sehun mengepal saat melihat senyuman Seolhyun. Jongin juga ikut tertawa di sebelahnya. Ia marah. Orang lain begitu mudah mengucapkan rasa sakit seolah hal itu tidak pernah ada tanpa tau bagaimana perjuangan untuk melewatinya.

Terkubur dalam emosi, tanpa bisa bersembunyi

Aku dan nafasku merindukanmu

"Aku serius Seolhyun-ah"

Kali ini Sehun dapat melihat Jongin berbalik menghadap Seolhyun. Tatapannya berbeda dengan yang sering Sehun lihat. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin Seolhyun sekarang sudah terkapar tak sadarkan diri mendapati betapa mendambanya pria itu padanya. Selain itu, harapan yang besar juga terpancar dari matanya. Berharap akan sesuatu yang mungkin saja menyangkut hidup dan matinya.

"Sehun sangat protektif padamu"

Kekehan Jongin mengiringi ucapan Seolhyun. Pria itu menjawil hidung mancung gadis di depannya. "Kau cemburu?"

"Dia terlihat tidak menyukaiku"

"Aku akan bicara padanya nanti."

Sehun sudah melihatnya dengan jelas. Dan penjelasan macam apalagi yang dapat meredakan kesakitannya?

"Jadilah kekasihku"

Dalam malam yang terbakar gelap, Sehun bergetar merasakan ketakutan melebihi mimpi-mimpi buruknya selama ini. bahkan angin yang bersayup keras tak bisa membuatnya pergi. Berhenti mendengarkan detik-detik kehancurannya.

Seolhyun tersenyum disana. Sangat cantik. Sangat pas dengan porsi ketampanana Jongin. Sedangkan si pria menunggu dengan harap-harap cemas.

Satu anggukan dan sahutan 'Ya' membuka gerbang baru penuh bunga untuk Jongin. Ia dengan penuh suka cita memeluk tubuh wanitanya, memutarnya di udara dengan seruan paling membahagiakan. Bahkan ombak pun ikut bersorak untuk keserasian mereka.

Salju turut bergabung. Membuat titik-titik putih suci saksi mata ketiganya.

Dua orang yang berbahagia. Dan satu orang yang menggigil di sudut paling gelap.

Sehun mendekapkan kedua lengannya kuat-kuat di dada. Namun tak mampu mengusir nyeri yang ia rasakan. Bukan salju penyebabnya. Tapi disini. Di dalam sini. Hatinya hancur.

Tubuhnya membeku di bawah guyuran salju. Tak satu otot pun mampu ia gerakkan. Bahkan saat kedua belah bibir di depan matanya bersatu, menyatakan dengan lantang bahwa mereka saling memiliki, ia hanya terpaku. Palu besar menghantam seluruh tubuhnya dengan keras. Kehancuran berkeping-keping yang sangat memilukan.

Sehun berbalik, tersaruk-saruk menapaki kembali jejak kakinya diatas pasir pantai. Ia menyesal meninggalkan villa terlalu jauh. Selain karena kakinya yang tak kuat lagi berjalan, ia juga telah menghampiri lubang pesakitannya sendiri.

Terpuruk ku disini

Teraniaya sepi

Bruk!

Sehun menutup mulutnya dengan kuat. Takut Jongin akan mendengar isakan yang akhirnya lolos dari celah bibirnya. Sehun serasa menghirup kepedihan yang menyesakkan dada, hingga berulang kali dadanya ia pukul dengan kuat.

Umpatan ia keluarkan tanpa suara. Mencaci dirinya sendiri yang terlihat lemah hanya karena mencintai. Air mata adalah hartanya yang paling berharga, dan kini telah hampir semuanya tumpah di atas pasir gelap.

Bahkan bulan enggan menemaninya.

Kenapa bisa sesakit ini? Ia bahkan tidak menangis saat terjatuh karena didorong dari tangga. Ia tidak menangis saat darah mengucur dari kepalanya yang di lempar dengan batu. Ia tidak menangisi apapun dalam hidupnya.

Bukankan cinta memang seperti itu?

Jemarinya mencengkram gumpalan pasir, mencioba untuk bangkit dan menyudahi semuanya. Karena demi apapun yang ada di langit dan di bumi, Sehun benci terlihat tidak berdaya. Ia berhasil berdiri dengan hembusan napas yang menggulung di udara..

Dan aku tau pasti

Kau menemani

Saat itulah ia bisa melihat Chanyeol berdiri di depannya. Di kegelapan yang menyelimuti mereka berdua. Sehun menggigit keras bibir bawahnya. Rasa anyir darah yang mengalir darisana tak ia hiraukan. Ia hanya kembali berusaha menahan desakan emosi yang keluar. Bergumul saling mendahului, hingga akhirnya si pemilik raga kembali jatuh. Meraung memilukan.

Dalam hidupku

Kesendirianku..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

*BGM untuk keseluruhan cerita dari SALTNPAPER – Bye, Autumn

Aku juga masukin lirik lagu Letto yang judulnya sandaran hati di chap ini

Dan taraaaa! Bilangnya lusa, tapi update nya sekarang.

Sebenarnya masih banyak plot untuk chap ini, tapi aku udah nggak kuat ngelanjutin TT

Terima kasih untuk dukungannya :*

Maaf untuk typo dan kekurangan lainnya yang menumpuk TT

SARANGHAE :*

Sampai jumpa di chap selanjutnya :* :*