Cracked

.

.

.

.

Seperti gelas retak tak bertuan

.

.

.

Aku mengharap

.

.

.

Sebuah pengakuan

.

.

.

Pagar besi kokoh penuh desas-desus kemewahan itu kini berada tepat di depanku. Warna keemasan yang telah banyak terkelupas seolah tidak melunturkan sedikitpun kemegahannya.

Cheongdam High School.

Kakiku sedikit gemetar ketika Chanyeol berbalik untuk mengajakku memasuki gerbang tinggi tersebut. Dan hampir memekik memalukan saat melihat langsung bagaimana isi dari si emas yang terkelupas.

Kemewahan itu bukan hanya desas-desus. Aku memijaknya sekarang. Bahkan seruan'wah' tidak bisa tertahan di mulutku. Maklum, sekolah ku hanya sekolah biasa yang lebih sering bersyukur untuk sebuah lapangan bola.

Kali ini Chanyeol membimbing langkahku menuju tangga. Sebuah tangga keramik biasa yang dimataku pun terlihat menarik. Kami singgah di koridor lantai dua, menuju sebuah kelas paling ujung.

"Lantai dua milik senior kelas dua. Dan ini kelas Sehun pada saat itu"

Aku menatapi pintu coklat yang terkunci, mengintip sedikit melewati jendela untuk melihat isi kelas si pemilik alur Oh Sehun. Dan gambaran selanjutnya yang ku terima adalah kerapian. Kelas paling rapi yang pernah ku lihat. Beberapa pajangan ada di atas nakas samping papan tulis. Loker berderet rapi di barisan paling belakang. Dan kursi serta meja yang terlihat baru.

"Lalu kelasmu?"

"Ada di lantai bawah"

"Sehun sering kekelasmu?"

Tidak kusangka Chanyeol menggeleng.

"Kami hanya akan bertemu di dekat tangga sebelum beriringan menuju kantin.."

Aku masih diam. Nada bicaranya terdengar seperti ia akan melanjutkan sesuatu.

"..tapi hari itu dia disana. Memohon padaku untuk satu kesalahpahaman"

Aku tau tidak semua hal bisa dibenarkan. Park Chanyeol bukan seorang peramal yang dapat membaca isi hati hanya menyayangi mereka seperti akan memperhatikan sepanjang hari. Seperti mengerti tanpa harus ada logika nyata yang berbicara.

Dan nyatanya, ia akan jatuh pada sisi transparan lain yang tak dapat ia terima dengan hatinya.

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

.

.

.

If I cry, if I smile

Will my life still go on?

If I try, if I chase

Will my love still go on?

(BGM : IU – Through the Night)

Chanyeol memilih membawa Sehun kembali ke villa sebelum Jongin menyadari keberadaan mereka. Chanyeol tidak tau bagaimana harus mengatakan kondisi Sehun. Pria itu sudah tidak menangis lagi, ia juga tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengikuti Chanyeol. Bahkan saat berbaring pun ia membutuhkan bantuan Chanyeol.

Setelah memastikan Sehun terlelap, Chanyeol memutuskan untuk keluar dari kamar bertepatan dengan Jongin yang membuka pintu.

"Hyung?" gumam Jongin bingung.

"Sehun mengalami mimpi buruk lagi" kilah Chanyeol l menunjuk pada Sehun yang membelakangi mereka.

Jongin mengangguk mengerti. Meskipun sekilas dan samar, Chanyeol dapat melihat air muka Jongin yang berubah Khawatir. Ia menatapi Sehun, mendekat pada tubuh itu untuk sekedar memastikan keadaannya.

"Sehun mungkin mengalami hari yang berat, dan tidak biasanya dia menyembunyikan itu dariku"

Hari-hari berat yang ia jalani

Selalu terdapat dirimu didalamnya.

"Sehun membutuhkan waktu untuk sendiri. Kita hanya perlu selalu berada disisinya"

.

.

.

.

Pagi-pagi buta Chen sudah mengeluarkan suara melengkingnya untuk memberitahukan bahwa sunrise di Jeju sangat luar biasa jika mereka tidak malas bangun pagi. Dan villa milik keluarga Park rupanya sudah di desain sedemikian mungkin supaya dapat menangkap karya-karya langit yang indah di waktu kapan saja.

Chanyeol telah lebih dulu membuka kan pintu menuju rooftop untuk Chen yang terlalu bersemangat. Jongin menyusul dengan mata setengah tertutup bersama Seolhyun. Chen yang pertama kali berseru akan sejuknya udara pagi. Chanyeol meilirik Jongin yang dengan sigap melingkarkan selimut ke sekeliling tubuh Seolhyun.

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Senandung burung bersahut-sahutan dengan penduduk laut. Ombak di kejauhan menambah kesejukan yang dirasa. Awan melukis ceritanya sendiri, membiarkan manusia menebak apa kiranya yang akan terjadi hari ini.

Chen dan Chanyeol memilih duduk di sofa putih berkanopi kaca dengan dedaunan yang menjulur di sepanjang sisiannya. Sedangkan Jongin dan Seolhyun entah mengobrolkan apa di samping pagar pembatas. Chen taunya terkekeh, segelas teh hijau ditangan ia percaya untuk menghangatkan tubuh.

"Aku terkejut dengan perkembangan hubungan mereka" seperti manusia lain yang selalu ingin tau, Chen pun mengawasi dua insan di mabuk asamara yang kini berbagi cerita tanpa peduli apapun.

"Aku pun. Kau tau sendiri bagaimana Seolhyun selalu berusaha menghindar dari si menyebalkan Jongin"

Kini Chanyeol ikut terkekeh. Bias matahari mulai terlihat di pelupuk timur. Suara bising kendaraan yang biasa mereka dengar, kini tergani oleh ketenangan sementara yang mendamaikan.

"Dimana Sehun?" Chen kembali bertanya.

Chanyeol tertegun, mengingat kembali kerapuhan yang ia lihat tadi malam. "Dia mungkin masih tidur"

Tidak ada sahutan. Chanyeol mengabaikan. Chen meletakkan cangkir keramik dengan motif teratai itu ke atas meja kecil di samping sofa.

"Sulit untuk bernapas dengan lega mulai sekarang"

Chanyeol menoleh, mengernyit bingung dengan ucapan yang keluar dari mulut si troll Chen. Seperti orang asing, bahkan bunyi suara yang keluar jelas berbeda. Chen tersenyum memandangi matahari yang mulai menampakkan keagungannya. Saat mulut Chanyeol terbuka untuk bertanya, suara pintu mengalihkan. Sehun masuk dengan wajah sendu. Kesedihan yang dimanipulasi dengan kondisi bangun tidur.

Sehun melangkah tanpa menoleh, tanpa fokus yang jelas di kedua netranya. Jemarinya mencengkram pagar pembatas, mendongak membiarkan wajahnya disiram oleh kehangatan sang surya. Tanpa sadar bahwa di sampingnya Jongin menatapi dengan gurat kekhawatiran yang di tutup dengan satu senyum.

Inikah yang kau mau?

Benarkah ini jalanmu?

Tanpa kata, ia berdiri dengan kedua kaki yang menopang kokoh badannya yang hampir roboh. Penyangga-penyangga kuat yang ia miliki terlepas satu persatu. Ketakutan akan sesuatu tak nyata yang membayang di kejauhan matanya. Sehun terbiasa sendirian, namun ia takut sendiri. Sehun terbiasa diam, namun ia takut sepi. Sehun terbiasa menyimpan semua hal yang ia tau dan rasakan, namun ia enggan terluka.

Kini saat satu persatu mendekat, ia bahkan tidak bisa berlari. Menghadapi seorang diri menjadi satu-satunya pilihan. Karena meskipun mereka tau apa yang ia rasa, mereka tidak akan pernah tau bagaimana rasanya.

Jongin mendekat, merangkul ringan pundak yang terasa berat di sampingnya. Sehun terkejut dengan berlebihan, tangannya tanpa sadar menyentak lengan Jongin dibahu kirinya. Sekuat rasa terkejut Jongin. Seolhyun, Chen dan Chanyeol terdiam, menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Nyatanya Sehun berlalu, melangkah cepat meninggalkan rooftop. Suara langkah kaki yang terburu bahkan menggema hingga ke telinga. Jongin masih tertegun, menatap hampa di depan seolah Sehun masih disana dan akan menyuarakan kekesalannya alih-alih pergi tanpa sepatah katapun.

Tepukan lembut dari Seolhyun di bahu menyadarkannya. Ia menoleh, berbicara melalui mata untuk mendapati satu anggukan dari kekasihnya. Jongin menyusul Sehun kemudian.

Hening.

Keindahan sunrise tidak bisa menjadi penengah rasa terkejut.

Seolhyun berbalik. Matanya gemetar untuk sesuatu yang ia sendiri tidak ketahui. "Sedekat apa hubungan mereka?"

"Sedekat nadi dan nyawamu"

Kegamangan itu tertangkap oleh kedua mata Chanyeol. Jawaban Chen mungkin membuat Seolhyun merasa bersalah. Ia tau seberap jelas Sehun tidak menyukainya. Kini ia tau seberapa dekat hubungan kekasihnya dengan seseorang yang membenci dirinya. Dan jawaban-jawaban lain di masa depan menakutinya tiba-tiba.

"Apa sebenarnya yang sudah ku lakukan?"

.

.

.

Bunyi pintu yang tertutp keras mengejutkan Bibi Jang yang baru saja masuk ke dapur. Sesaat kemudian ia mendapati Jongin setengah berlari menuju lantai dua.

Meskipun tau, Jongin tetap memutar kenop pintu yang terkunci.

"Sehunna" panggilnya pada udara tanpa ada balasan. "Ada apa sebenarnya? Ceritakan padaku"

Di balik satu pembatas kokoh itu, Sehun bersandar. Terengah dengan rasa sesak yang mencekik. Berkali-kali ia pukuli dadanya, namun sesak itu enggan pergi. Suara Jongin yang memanggil namanya masih terdengar seperti tahun-tahun yang berlalu. Membuatnya selalu terburu-buru untuk menyahuti.

Dulu ia pernah bermain petak umpet bersama Jongin. Sehun bersembunyi di bawah tempat tidur Nyonya Kim, terkikik menunggu Jongin menemukannya. Menit yang berlalu tidak menunjukkan adanya Jongin. Sehun hampir menangis, ia pikir Jongin tidak peduli dan membiarkannya di kegelapan yang menyesakkan.

Saat Sehun keluar dengan wajah tertekuk dan bersiap memusuhi Jongin, suara ribut di ruang tengah mengejutkannya. Disana, Jongin menangis bersama Nyonya Kim yang terlihat panik. Mereka menoleh bersamaan saat suara Sehun menginterupsi. Nyonya Kim lebih dulu menyuarakan kelegaannya, mendekat pada Sehun dan memeluknya. Jongin kemudian berlari dan menuburk tubuhnya dengan wajah basah.

"Aku takut karena tidak bisa menemukanmu. Ku kira aku akan kehilanganmu, Sehunna"

Mungkin untuk anak kecil seperti Sehun, kata-kata itu hanya sebuah pernyataan bahwa ia tidak boleh lagi membuat Jongin khawatir. Sehun melakukannya. Ia tidak pernah membuat Jongin khawatir, ia akan melakukan apapun agar Jongin tidak merasa takut. Ketakutan Jongin adalah mimpi terburuknya.

Namun kini, ia membiarkan pria itu menyebut namanya berulang kali. Membiarkan pria itu merasakan kekahawatiran yang lebih besar. Karena tidak seperti dulu, kini Jongin seperti merasa kehilangan tanpa tau apa yang berusaha ia temukan.

"Ku mohon, buka pintunya"

Sehun menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan. Tertunduk dengan rembesan air mata miliknya yang berharga.

"Jangan seperti ini Sehun. Jangan membuatku khawatir"

Berhentilah mengkhawatirkanku..

"Ceritakan masalahmu seperti biasa. Aku janji tidak akn membuatmu kesal dan akan membantumu"

Kekasihmu mendengarnya..

Pergilah padanya..

"Sehunna"

Aku menyerah Jongin..

"Aku menyayangimu Sehun"

Hanyalah engkau

Yang ku tuju

Suara yang ia tahan akhirnya keluar. Ia tersedu seorang diri. Membenci dirinya sendiri. Sehun terisak keras tanpa peduli Jongin akan mendengarnya. Ulu hatinya serasa di hantam dengan palu besar. Sakit tanpa ampunan.

Sehun memukul pintu dengan keras, membuat Jongin terperanjat dengan rasa khawtir yang meninggi. Sehun lelah. Ia akan mengakhiri ini segera. Selama ini, sikap Jongin yang selalu memberikan perhatian berlebih membuatnya tidak lelah untuk menunggu. Waktu yang ia gunakan sudah terlalu lama dan hampir berkarat. Sekarang, Sehun memilih berbalik dan meninggalkan penantiannya.

Bukan hanya hati, raganya pun lelah untuk terus menerus jatuh terlalu dalam dengan cinta sepihak milknya. Harusnya ia tau dari awal, menunggu cinta dengan harapan-harapan kosong tidak akan memberi kepastian meskipun hatinya yakin.

"Oh Sehun!" suara Jongin meninggi.

Chanyeol, Chen dan Seolhyun yang telah lama berada disana tidak berniat membuka mulut sama sekali, hanya memperhatikan dengan diam drama yang sedang terjadi. Seolhyun tidak berhenti menggigiti bibir bawahnya, sedangkan tangan kiri mencengkram lengan kanan Chanyeol.

Cklek!

Atmospir mencekik yang kentara membuat seluruh orang disana menahan napas. Sehun berdiri di ambang pintu dengan wajah basah. Raut datarnya tertuju pada Jongin.

"Sehun—"

"Berhenti menggangguku, Kim"

"Sehunna"

'Aku mencintaimu! Jadi berhenti memberiku perhatian seperti itu!'

Perkataan yang hanya tertahan di tenggorokan Sehun.

Jongin mendekat, meraih bahu Sehun untuk mendekapnya. Namun gerakan Sehun lebih cepat, genggaman tangannya melayang dengan keras di pelipis Jongin, membuat pria itu tersungkur di lantai. Chen menjadi satu-satunya yang berlari dan membantu Jongin berdiri. Sehun hanya menoleh pada Chanyeol, menatap dingin kearah Seolhyun yang mengkerut di balik pinggung kakak sepupunya itu.

"Hyung, aku ingin pulang"

Kata-kata dalam buku harianku

Tak bisa ku tunjukkan semuanya padamu

Itu tandanya bahwa aku mencintaimu

.

.

.

.

Somehow, I can't get out of here

Sometimes I need you near me

Umumnya, manusia memiliki rasa ingin tau yang besar. berita terbaru di televise, trending topic teratas di social media, bahkan penasaran akan kenapa semut sering terlihat beriringan di sepanjang tembok. Tidak heran jika kini orang-orang seringkali berjalan sambil menunduk, sibuk dengan selancaran mereka di besi canggih bernama handphone.

Sehun salah satunya. Langkah nya tak lebih lambat dari siput, matanya tak lebih awas dari seekor kucing liar. Tak ia lewatkan kata perkata yang kini dibaca dengan hikmat. Bukan sebuah handphone, melainkan surat kabar yang terbentang dari tangan kiri sampai ke tangan kanan. Halaman yang dipenuhi deretan lowongan pekerjaan menjadi fokus utama.

Bibir tipis Sehun bergerak-gerak lucu tiap kali membaca isi surat kabar, kadang akan mendesis kesal saat tak sesuai dengan yang ia harapkan. Ia hampir membuat masalah dengan pejalan kaki lain saat terlebih dahulu ujung surat kabar yang dibawanya menyenggol punggung besar seseorang di depan. Sehun lantas berhenti, mendongak untuk sekedar tau bahwa sekarang dia berada di kumpulan penyebrang jalan.

Surat kabar ia hiraukan sejenak, melangkah cepat saling mendahului saat lampu berubah hijau. Café di seberang jalan menjadi tujuannya.

Lonceng berdentang nyaring saat pintu terbuka. Setelah memesan menu makanan yang ia inginkan, Sehun memilih duduk di dekat akuarium besar di bagian belakang. Sehun mengulum senyum saat melihat mulut kecil para ikan bergerak terbuka dan tertutup, seolah mereka sedang beradu argument siapa yang lebih pantas menyerap air lebih banyak.

Baru saja ia kembali menelusuri surat kabar, suara kursi yang di geser membuatnya mendongak.

"Lama tidak bertemu"

Pegang erat tanganku

Bimbing langkah kakiku

Seseorang dengan sebotol air mineral di tangan telah duduk di depannya. Seseorang yang familiar namun buram diingatan Sehun.

"Kau siapa?" tanya Sehun, memicingkan mata. Bukan ia mengira penjahat sedang mengincarnya, ia hanya ingin tau sejak kapan ia memiliki kenalan seorang pria bule pirang yang sangat tinggi.

"Kau haus?"

Air mineral itu kini tersodor kearahnya.

"Kau mengenalku?"

Dan seolah de javu, ingatan itu berputar dengan cepat di kepala Sehun. Musim gugur yang hangat. Keringat. Kumpulan murid. Sudut lapangan. Sebotol air mineral. Dan pria asing.

"Kau?" Sehun memiringkan kepalanya dengan mata membulat, reaksi terkejut yang terlihat lucu untuk seseorang lagi disana.

"Akhirnya kau mengingatku" pria itu meletakkan air mineralnya diatas meja, tau Sehun tidak akan mengambilnya.

"Aku tidak mengenalmu"

"Aku pun tidak"

Dua orang dengan satu sifat.

"Lalu?" kini Sehun mengernyit.

"Mari berkenalan. Aku Kris Wu, dan kau?" giliran tangan kanan miliknya yang pria itu sodorkan.

"Kau menginginkan sesuatu dariku? Atau aku pernah membuat masalah denganmu?"

"Namamu?"

Tangan itu disambut.

"Oh Sehun"

.

.

.

"Jadi kau alumni Cheongdam?"

Kris mengangguk dengan garpu berisi pasta yang dimasukkan ke dalam mulut. Suasana cefe masih sama, cukup ramai namun tidak terlalu berisik. Lebih banyak pengunjung yang hanya memesan satu cup minuman lalu melangkah keluar untuk melanjutkan perjalanan.

"Well, aku benar-benar terkejut kau tidak mengenalku"

Sehun mengangkat bahunya acuh, "Aku memang tidak pernah mendengar namamu"

Hanya Sehun, karena nyatanya Kris memang dikenal dikalangan murid Cheongdam. Si ketua tim basket yang memiliki segudang prestasi. Ia bahkan masih aktif hingga sekarang untuk membantu mengurus tim.

"Kau tidak ingin bergabung? Tinggi badanmu bahkan berlebihan dari standar yang ditentukan, hanya saja kau kurang berisi"

Sehun mendelik, "Aku tidak sekurus itu". Setengah isi cup buble tea ia sesap hingga tandas, menyisakan sedikit bulatan-bulatan lucu buble di dasarnya.

Sehun berpaling saat Kris yang masih sibuk dengan isi piringnya terlihat tidak tertarik untuk menyahuti. Hari mulai beranjak senja. Bias kekuningan yang mengintip di sela tingginya bangunan kokoh di pusat kota seolah tidak ingin terlupakan. Manusia lebih banyak menyadari siang dan malam, tanpa tau bagaimana indahnya fajar dan senja. Atau di Seoul memang tidak ada hal semacam itu?

Orang-orang yang ada di luar selalu berbeda. Ratusa ribu manusia yang berjalan tak akan sama. Tapi yang hampir setiap hari mereka lakukan membuat Sehun muak. Itu-itu saja. Bekerja saja. Sekolah saja. Menghabiskan uang saja.

Sehun tersentak saat surat kabar yang tertindih lengannya ditarik begitu saja oleh Kris. Sehun pikir, cukup hanyaChen dan Jongin yang terlihat menyebalkan untuknya. Ia diam-diam berdoa agar setelah ini tidak ada yang namanya akrab antara dirinya dengan Kris.

Kris terlihat menyusuri deretan iklan di surat kabar, membuat Sehun penasaran akan apa yang akan ia lakukan. Kris mengetukkan jemarinya di salah satu spot lowongan kerja saat surat kabar itu kembali terhampar di hadapan Sehun.

"Disini. Mereka membutuhkan office boy yang tampan"

Sehun mengulum bibir, memajukan tubuhnya kea rah Kris. "Apakah itu masuk akal?"

Kris mengangguk, tersenyum dengan cara yang luar biasa indah untuk seseorang di depannya, "Coba saja"

Dan takdir memang selalu tau caranya datang di waktu yang tepat. Seperti dongeng lama yang telah usang, namun mereka selalu di ceritakan. Seperti hati yang telah melayu, namun mereka tau jalan menuju penyembuh. Sehun pikir, semua akan baik-baik saja selama sang waktu masih memberinya kesempatan.

.

.

.

.

.

Sehun melangkah gontai sepanjang koridor menuju lantai dua, kelas barunya sebagai senior mengabaikan tatapan kagum dari puluhan pasang mata yang berbaris acak di lapangan luas milik Cheongdam. Siswa dan siswi baru memang akan menjalani masa orientasi hari ini, maka tidak heran jika ratusan murid baru kini memenuhi lapangan dengan almamater beraroma khas.

Tidak berbeda dengan sekolah lain. Cheongdam juga akan melakukan masa orientasi selama beberapa hari yang akan diisi dengan kegiatan dan pembelajaran tertentu yang sudah di tetapkan oleh si ketua Osis, Kim Tae Woo.

Murid dengan kacamata setebal pantat gelas berdiri gusar dengan kaki gemetar di barisan paling belakang. Khawatir akan keadaan mereka yang mungkin saja tidak akan baik selama kegiatan.

Korea Selatan menjadi Negara dengan tingkat bullying tertinggi di dunia. Sekolah sebesar Cheongdam tidak akan luput dari hal tersebut. Dan mulai berdoa lah para nerd di ujung sana.

Tapi kali ini berbeda. Seolah akan ada yang mengawasi para senior tukang bully jika mereka melakukan tindak kejahatan tersebut. Sepasang mata bulat milik ketua kedisiplinan, Park Chanyeol yang bahkan akan lebih menyeramkan dari Kim Tae Woo saat mereka berdebat akankah memberikan para senior kesenangan atau tidak.

Dan jawabannya dimiliki oleh Chanyeol.

Tidak.

"Chanyeol sunbae memang malaikat"

"Tampan, kaya, dan baik hati. Aku jatuh cinta berkali-kali padanya"

"Aku tidak"

Kedua siswi yang asyik mengocehkan halusinasi mereka serentak menoleh pada siswi lain dengan rambut panjang berwarna coklat terang yang sedang menguliti jeruk ditangannya dengan hikmat.

"Aku lebih menyukai Sehun sunbae." Kepalanya mendongak, mengikuti langkah Sehun yang sedang menaiki tangga, "bahkan dia sangat menawan saat menaiki tangga".

Dan di serang oleh kedua temannya kemudian. Mereka tertawa tanpa sadar bahwa Chanyeol berdiri tepat di belakang mereka dengan senyuman dan pandangan yang terarah pada sosok yang kini menghilang di balik tangga koridor.

.

.

.

"Wajahmu membuatku tidak memiliki selera makan" Chen membanting sumpitnya ke atas meja, mengundang atensi hampir seluruh pengguna kantin.

Sehun berdecak, ikut melepaskan sumpit dari genggaman tangannya dan memilih meneguk sisa cola dalam kaleng. Sehun baru saja ingin membuka mulutnya untuk membalas perkataan Chen saat netranya menangkap sosok Jongin bersama nampan penuh makanan menuju meja yang telah ia dan Chen tempati.

Sehun kembali berdecak. Sosok lain di samping Jongin selalu bisa membuat mood nya menurun drastis.

Siapa lagi kalau bukan Park Seolhyun.

"Wah wah, coba lihat pasangan baru ini" Chen bersua tanpa peduli sekitar.

Sehun hampir mengernyit saat melihat senyum Jongin yang terlampau lebar. Ia memberi jarak terlampau aneh saat Jongin memilih tempat duduk di sampingnya bersama Seolhyun.

"Chanyeol oppa dimana?"

Sehun bahkan tidak tau sejak kapan Seolhyun bisa senyaman ini mengobrol dengan mereka. Sebelumnya ia hanya melihat gadis itu mengomel dan mendengus menyebalkan jika berpapasan dengan mereka.

"Chan hyung di—" Chen melirik melewati bahu Seolhyun, "—belakangmu"

Tiga kepala di depan Chen menoleh bersamaan hanya untuk menyambut Chanyol yang tersenyum menuju mereka. Pria itu duduk di samping Chen, mengernyit heran saat melihat jarak diantara Sehun dan Jongin.

"Hari yang cerah bukan?"

Dan tak bersuara apapun.

"Ya, aku merasa hangat disini" Jongin meirik Seolhyun di sampingnya, dengan telaten memindahkan brokoli miliknya ke nampan Sehun.

Trang!

Dentingan sumpit yang berbenturan dengan nampan terdengar lebih bising dari ocehan para senior tentang merk make up terbaru. Kantin sunyi tiba-tiba.

Sehun berdiri, kembali meninggalkan bunyi ribut dari gesekan kaki kursi dengan lantai keramik. Ia menjauh tanpa sepatah katapun, meninggalkan teman-temannya dalam balutan rasa ingin tau. Sehun memang suka mengomel jika Jongin dan Chen sudah mulai berulah. Tidak tanpa alasan seperti sekarang.

Sesungguhnya mereka tau

Hanya bermaksud mengingkari

Chanyeol melirik Jongin yang mungkin tidak sadar jika tangannya masih berhenti di udara, di atas nampan Sehun, tanpa sumpit yang telah di tepis Sehun hingga jatuh ke lantai. Kebingungan dan rasa bersalah bercampur di raut wajahnya.

"Sepertinya Sehun sangat tidak menyukaiku"

Chanyeol menoleh pada Chen yang tertawa, "Kau membutuhkan kesadaran dir yang lebih tinggi lagi dari ini, Nona muda Park" dan ia kemudian bangkit, ikut manjauh dari keramaian kantin.

Aku hilang arah

Tanpa hadirmu

.

.

(BGM : Jung Seung Hwan – Wind)

Acara tahunan festival sekolah akan dilaksanakan sebentar lagi. Para guru sibuk dengan agenda yang mereka miliki hingga para murid diabaikan. Hampir seluruh kelas mendapatkan jam kosong. Termasuk kelas 2-3 dan 2-2.

Jongin mengambil kesempatan untuk menemui Seolhyun dan mengajaknya berkeliling sekolah sambil mengobrol. Suasana di halaman samping sekolah tidak seramai lapangan utama, hanya ada beberapa murid laki-laki yang membolos dan lalu lalang serta siswi yang mendapat tugas membuang sampah.

Jongin melihat Chanyeol disalah satu bangku panjang yang hampir bisa didapati dimana saja jika berkeliling Cheongdam High School. Chanyeol menoleh saat Jongin menyerukan namanya, dan melambai pada Seolhyun yang lebih dulu melambaikan tangannya.

Prakk!

Kejadiannya begitu cepat. Bahkan Chanyeol masih belum menurunkan lambaian tangannya saat suara benda padat yang bertabrakan terdengar keras di keriuhan, menyebabkan kerumunan murid yang mulai gaduh. Buku sains di tangannya terlempar begitu saja dan belari menuju Seolhyun yang sudah tidak sadarkan diri di pangkuan Jongin.

"Seolhyun! Park Seolhyun!"

"Seolhyun-ah"

Suara jongin dan Chanyeol bersahutan untuk menyadarkan Seolhyun. Jongin mengangkat telapak tangannya yang membantu mneopang kepala Seolhyun dan mendapati darah telah menutupi hampir seluruhnya.

Chanyeol dengan sigap mengangkat tubuh Seolhyun dan membawanya menuju UKS, meninggalkan Jongin yang masih tertegun disana. Kepala Jongin menoleh kaku kearah sebuah pot bunga seukuran dua genggam tanganya telah pecah diatas tanah. Ia kembali menoleh, kini mendongak untuk melihat balkon lantai dua.

Tanpa pikir panjang, Jongin berlari menuju lantai dua. Suasana koridor hampir sepi karena seluruh kelas tidak di beri pelajaran oleh para guru. Jongin masih berlari menuju balkon di ujung lorong. Di kejauhan ia dapat melihat seseorang berdiri disana. Seseorang yang sangat familiar. Diam-diam Jongin berharap bahwa itu bukanlah seseorang yang sangat ia kenal.

Namun kenyataan berkata lain.

"Se—" Jongin meneguk ludah dengan susah payah, "Sehun?"

Sehun berdiri setenang angin disana. Enggan untuk menolehkan kepalanya. Pandangan Jongin menyapu seluruh sudut balkon, mencari orang lain yang mungkin saja bisa disalahkan akan apa yang baru saja terjadi.

"Jangan kau Sehun" Jongin entah menagapa memelas.

"Dia terluka?" masih setenang hembusan angin.

"Sehun!"

Sehun berbalik, tatapan datarnya bertubrukan dengan mata nyalang milik Jongin.

"Aku tidak mengharapkan apapun, hanya ingin meihat reaksimu"

Bugh!

Pinggang Sehun menabrak pagar pembatas saat Jongin menerjangnya dengan pukulan yang membuat bibirnya sobek dan berdarah. Sehun meringis, namun tidak berkata apa-apa. Bahkan saat Jongin kembali mencengkram kerah bajunya dengan tangan yang berlumuran darah, Sehun hanya mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

"Kali ini kau keterlaluan Oh Sehun! Apa salah Seolhyun padamu? Hah?!"

Sehun hanya terus bungkam. Rasa perih di sudut bibirnya tidak sebanding dengan sakit yang menghantam seluruh tubuhnya. Kali pertama Jongin memukulnya, dan itu karena seorang perempuan. Sehun tanpa sadar berdecih, membuat amarah Jongin kian meledak.

Dengan bertenaga, Jongin kembali menarik kerah baju Sehun untuk menyeretnya ke UKS. Namun sebelum itu terjadi, Chanyeol telah berdiri di sisi lain koridor, menatap lurus pada apa yang terjadi dengan Sehun dan Jongin. Sehun menunduk, mengalihkan pandangan kemanapun asal tidak melihat raut kekecewaan dari Park Chanyeol.

"Oh Sehun" suara berat khas Park Chanyeol terdengar sedatar raut wajahnya, "Ke ruang bimbingan sekarang"

.

.

"Ini tindakan kriminal Oh Sehun" guru Cho selalu berusaha menahan-nahan suaranya agar tidak membentak. "Apa motifmu melakukan hal ini pada temanmu sendiri"

"Dia bukan temanku"

Jongin mendelik saat Guru Cho hanya menarik napas lebih panjang dari biasanya. Chanyeol tidak disana, ia memilih menemani adik sepupunya yang masih ditangani oleh perawat sekolah.

"Ibu serius, Sehun. Kenapa kau melakukan hal ini?"

Sehun tidak langsung menjawab. Matanya kosong menatap ujung meja. Tidak ada yang tau apa yang tengah ia rasakan.

"Aku membencinya" gumamnya sepelan angin, "Aku membencinya hingga ke tulang"

Kata-kata itu mungkin hanya dianggap sebagai 'amarrah seorang remaja' oleh Guru Cho. Namun bagi Jongin, itu adalah pertanda naiknya bendera perang.

"Kau diskors selama satu minggu. Renungkan kesalahanmu, dan kembali lagi ke sekolah setelah kau berdamai dengan amarahmu"

.

Sehun dan Jongin keluar bersamaan dari ruang bimbingan. Jongin terlihat masih membersihkan telapak tangannya dari noda darah, sedangkan Sehun tidak membuka suara dan hanya menatap tanpa minat sekumpulan murid yang sedang berolahraga.

Jongin menoleh tepat kearah Sehun. Entah apa yang ia pikirkan. Ia mungkin masih berharap kejadian ini hanya salah satu mimpi buruk. Tapi yang telah diinginkan terjadi, tak dapat di murkai. Sehun didepannya tanpa merasa bersalah sama sekali. beribu siratan kekecewaan dari Jongin seolah kebal pada sosok kokoh di sampingnya.

Jongin menghela nafas. Kemudian melangkah dan berhenti tepat di depan Sehun.

"Apapun yang menjadi alasanmu, kau tidak harus melakukan ini Sehun"

Sehun akhirnya menoleh ketika sosok itu kian menjauh. Jemarinya tanpa sadar mencakar dinding yang ia sandari untuk mencari pegangan akan kaiknya yang goyah. Punggung tegap Jongin seolah menyatakan bahwa kini ia tidak bisa memiliki bahu pria itu lagi sebagai sandaran.

Jangan melangkah secepat itu Jongin

Jangan tinggalkan aku semudah itu

Chanyeol muncul dari tikungan koridor, menghalangi pandangannya pada punggug Jongin. Dan rasa bersalah itu merangkap menjadi dua. Chanyeol menatapnya dengan raut kekecewaan yang jelas. sehun ingin melangkah, mendekat dan mengucapkan beribu maaf yang mampu ia lakukan. Namun egonya bertahan. Membuatnya seperti pahatan sempurna tak bernyawa yang hanya mampu memandangi sekeliling.

Kaki itu pun berbalik arah darinya. Dengan enggan menjauh untuk sekedar mencari ketenangan. Sehun merosot jatuh pada lantai. Mengacak rambutnya sebagai pengganti air mata yang ia bendung sekuat tenaga. Raganya telah hancur untuk kesalahan yang ia buat sendiri.

Dengan langkah kakimu yang meninggalkanku

Air mata yang aku tahan,

Mengalir..

Keep me right, keep my breathe

Till the end of story

Let me wait, if you're late

Till my words find your ears

Siang masih merajai. Jalanan tidak seramai biasanya karena jam makan siang telah berlalu . Sehun masih duduk di halte bus yang terletak di dekat sekolah. Sepi menemaninya melamun. Sehun tidak pernah berpikir akan mendapatkan skorsing dari sekolah. dia selalu berusaha mempertahankan beasiswanya.

Sekarang, ia hanya mampu berharap agar apa yang telah ia pilih tidak mengancam apa yang tela ia pertahankan. Walau pada kenyataannya, ia telah kehilangan beberapa. Suara mesin bus di ujung jalan mengalihkan perhatian Sehun dari tanah kering di bawah kakinya. Musim salju telah berakhir. Bunga-bunga di pucuk daun mulai mengintip malu-malu.

Sehun tau siapa yang paling menyukai bunga. Bus sudah berhenti. Sambil menaiki bus, Sehun mengecek isi dompet miliknya. Beberapa lembar won yang ia temukan tak dapat menyembunyikan senyum di bibirnya.

Tujuan awal Sehun untuk turun di pemberhentian ketiga ia urungkan. Sehun turun saat bus berhenti di pemberhentian pertama bersama penumpang lain. Ia menoleh, kembali tersenyum pada satu tempat tak asing di seberang jalan. Sehun sedikit berlari menuju kesana. Lengannya membuka pintu kaca, membiarkan pasangan anak dan ibu yang membawa bucket besar mawar merah untuk keluar lebih dulu.

Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari bunga anyelir merah muda di deretan bunga-bunga lain yang menebarkan aroma menyenangkan pada indera penciuman Sehun. Seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Sehun menghampiri, bertanya dengan ramah apa yang Sehun butuhkan.

Sehun selalu suka saat wanita itu bertanya. Suaranya yang ramah dan penuh kelembutan membuat siapapun mampu melupakan kesedihan mereka. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa toko bunga ini selalu di cari orang-orang.

"Kau ingin ke makam lagi? Kalau tidak salah, ini yang kedua kali."

Sehun memperhatikan tangan telaten wanita bername tag Song Qian itu merangkai bunga yang telah ia pilih.

"Tidak nuna, bunga itu akan kuberikan pada seseorang."

"Kekasihmu?" Sehun taunya terkekeh, kemudian bergumam tidak.

Tidak heran melihat interaksi akrab antara dua orang yang berbeda usia itu. Sehun telah mengunjungi toko bunga lebih sering daripada rumahnya sendiri. Sehun ingat, ia terlalu lupa seperti apa bentuk rumah.

"Kau tidak sekolah?" Song Qian menatapi seragam sekolah yang masih dikenakan oleh Sehun dengan penasaran.

"Ada beberapa urusan dan aku harus pulang lebih awal." Sehun berkilah cepat, karena nyatanya kata-kata itu sudah ia siapkan untuk seseorang yang akan ia temui nanti.

Song Qian hanya tersenyum sambil menyerahkan rangkaian bunga. Sehun tidak melewatkan tatapan heran Qian pada bibirnya.

"Kau membutuhkan kartu ucapan? Aku akan menuliskannya untukmu."

Sehun berpikir sejenak sebelum mengangguk, "Aku saja yang menulis"

Sehun menunduk dan berucap terima kasih pada Qian setelah menyalipkan kartu ucapan yang ia tulis sendiri. Wanita itu dengan murah hati mengembalikan uang yang akan Sehun berikan dengan dalih bahwa hari ini adalah hari spesial.

Sehun sudah sangat hapal arah rumah yang akan ia tuju. Hanya beberapa blok dari toko bunga. Sehun memilih jalan pintas, melewati gang-gang kecil untuk memotong waktu dan agar ia tidak terlalu lelah. Sehun meringis saat rasa perih kembali menyengat sudut bibirnya. Dengan satu tangan yang tidak memegang bunga, Sehun menyentuh luka yang ternyata kembali berdarah.

Kembali Sehun teringat bagaimana amarah memenuhi Jongin saat memukulnya tanpa peduli apapun. Jongin yang tidak pernah Sehun kenal. Ia menghela nafas. Kini Sehun tidak tau apa yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua. Jongin mungkin akan semakin jauh bahkan sekedar untuk ia sentuh.

Rumah besar itu kini berada di depannya. Untuk sesaat Sehun melupakan kejadian yang telah berlalu. Satpam yang sudah sangat ia kenal tersenyum ramah membukakan pagar. Tanpa membuang waktu, Sehun melangkah ringan memasuki kediaman Jongin.

Senyumnya semakin terkembang saat menemukan Nyonya Kim di dapur, berkutat dengan semua jenis bahan makanan.

"Ibu" suara Sehun diambang pintu membuatnya menoleh.

"Sehun?" Nyonya Kim melepas pisau serta apron yang digunakannya dan mencuci tangan di westafel.

Entah hanya perasaan Sehun saja atau Nyonya Kim memang terlihat terkejut melihat kehadirannya. Terdapat getaran yang berbeda saat sekilas tadi ia menoleh. Sehun menggeleng kecil, mencoba membuang pikiran negatifnya. Ia melangkah mengikut Nyonya Kim menuju ruang tengah.

"Ini untukmu bu." Sehun menyerahkan bucket bunga anyelir yang diterima cepat oleh Nyonya Kim.

"Ada apa? Kau tiba-tiba datang."

Sehun akhirnya menyadari memang ada yang tidak berese pada Nyonya Kim. Biasanya wanita paruh baya itu akan langsung memeluknya atau mencercanya dengan keluhan betapa lamnya mereka tidak bertemu. Tapi kini ia bahkan tidak menyentuh Sehun. Seperti ada sesuatu yang ditahan oleh wanita tersebut. Dan Sehun akan menunggu untuk itu.

"Aku merindukan Ibu" jawab Sehun. Nyonya Kim hanya tersenyum tipis, kembali menundukkan pandangannya pada anyelir di pangkuan. "Akan ada tamu yang datang?"

"Ya?" Nyonya Kim melirik bingung, kemudia teringat bahan masakan di dapur, "Oh, ya. Jongin akan mengajak kekasihnya makan malam disini"

Dalam gelapnya

Malam hariku

Sehun terdiam. Kepalanya mengangguk kaku. Bayangan akan makan malam keluarga yang hangat menyentaknya dengan keras. Sehun tidak ingin mengakui, tapi rasa cemburu itu benar menggerogoti dirinya. Dan puluhan kata 'seandainya' kembali berputar mengejeknya.

"Tapi kenapa kau sudah pulang? Apakah hari ini sekolah diliburkan? Jika iya, dimana Jongin?"

Sehun lagi tergugu. Ia berada disini sekarang karena Seolhyun. Karena ia telah dikira melukai gadis itu. Dilihat dari kondisi mereka sekarang, Jongin pastilah akan menceritakan setiap detail apa yang terjadi pada Seolhyun.

Sehun tanpa sadar menahan nafas. Matanya nanar menatap Nyonya Kim yang masih menunggu jawaban. Kekhawatiran itu tidak bisa ia munafikkan. Bagaimana jika Nyonya Kim tau bahwa Sehun telah melukai Seolhyun?

"Tapi Sehun, ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan." Sehun sedikit bernafas lega karena Nyonya Kim sendiri yang mengalihkan pembicaraan.

"Ada apa bu?"

"Kau…." Nyonya Kim memainkan jemarinya dengan gugup. "…apa kau menyukai Jongin?"

Sehun hampir kehilangan jantungnya.

"Kami sudah seperti saudara. Kalau aku tidak menyukainya, tidak mungkin aku akan berada disini sekarang." dan ia bersyukur pada otaknya yang tidak ikut membeku.

"Ibu melihatmu malam itu"

Deg!

Tatapan keibuan yang kini berubah sendu menghantam Sehun tepat di sekujur tubuh.

"Kau mencium Jongin."

Dan Sehun telah benar-benar kehilangan jantungnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

PS : Maaf telat update TT Saya harus dipisahkan dengan si lepy kesayangan kemaren TT

Dan ini nggak jadi ending pemirsaahh :'v ternyata masih banyak yang harus diuraikan :" maaf juga untuk typo yang keterlaluan banyaknya.

Sekali lagi maafkan saya *bow

Terima kasih untuk yang masih bersedia membaca dan review di ff abal ini. SARANGHAE :*

Sampai jumpa di chapter depan *lambailambai