.

.

Disclaimer:

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Warning:

AU, OOC, Typo(s), kacau balau, yang pasti masih jauh dari sempurna

Big Thanks to:

Wely, Anne Garbo, moe chan, Mitsuki Ota, Kazuko Nozomi, dekda. nurlageenyanmanteng

.

Enjoy!

.

.

Rumah besar tempat Hinata tinggal bukanlah rumah yang paling dia sukai. Rumah itu terasa terlalu besar untuk sebuah rumah yang hanya dihuni oleh sedikit orang yang bahkan tidak pernah menghabiskan waktu berlama-lama di rumah. Terkadang, Hinata merasa rumah besar itu seperti menelannya sendirian ke dalam lubang hitam penuh hantu yang menyeramkan—tentu saja itu hanya imajinasinya. Tetapi meskipun Hinata tidak menyukai rumahnya, dia selalu menyukai kamar tempatnya tidur.

Dia suka kasur besar dan empuk yang berada di tengah ruangan. Dia suka lemari baju dan lemari-lemari buku yang tersusun rapi. Dia suka jendela besar yang langsung menghadap taman di samping rumahnya. Oh, dia juga sangat menyukai meja belajarnya beserta seperangkat elektronik yang berada di sana. Dan hal pertama yang biasa ia pikirkan saat baru saja bangun dari tidur adalah meraih bantal bulu angsanya, dan melirik jam di samping meja lampu.

Tetapi saat Hinata terbangun kali ini, tidak ada lagi bantal bulu angsa, jam di atas meja lampu, jendela yang menghadap taman atau ranjang besar. Semuanya hilang.

Ruangan tempatnya terbangun memiliki dinding yang pelapis kertasnya terkoyak, menunjukkan dasar dindingnya yang berwarna kekuningan. Sebuah meja kayu yang miring di sisinya. Bahkan sepertinya Hinata tidak berbaring di kasur, dia kini terbaring di tempat yang keras dengan bantal lepek yang berbau.

Dan semua kenyataan itu menyadarkannya kalau ruangan ini bukanlah kamarnya.

Lalu dia di mana?

"Dia udah sadar, tuh!"

Dan sebuah suara yang didengarnya membuatnya merinding. Secepat dia bisa bangun dan mencari asal suara; secepat itulah jantung dan napasnya berhenti.

Di sana, di lantai kusam di sebelah kursi kayu tempatnya terbaring tadi, duduk sekumpulan makhluk aneh yang Hinata duga berasal dari planet mars. Makhluk-makhluk itu, dengan matanya yang tajam, memandang ke arahnya, seolah bisa melihat apa pun yang Hinata sembunyikan dari balik pakaiannya.

Dengan susah payah, Hinata menelan ludahnya, dan kemudian berkata, "Ka-ka-kalian si-si-siapa?"

Oh, dia bahkan tidak bisa berbicara dengan normal.

"Sepertinya dia gagap." Sebuah suara yang disertai siulan dari seorang pemuda berambut pirang yang kini berdiri paling dekat dengannya membuat Hinata terenyak.

"A-aku ti-tidak ga-gagap!" Hinata bisa mendengar suaranya yang seperti mencicit. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya—berharap semua makhluk mars itu hilang dari hadapannya. Tapi sepertinya sia-sia. Semua makhluk itu malah tertawa. Menertawakannya.

"Udah jelas elo itu gagap, masih aja ngeles." Nada sinis itu keluar dari sosok yang duduk di ujung ruangan. Mata hitamnya yang memicing membuat Hinata merasa tertarik ke dalam lubang hitam yang sesungguhnya.

"A-a-aku … aku … aku…." Seketika itu Hinata menyadari air matanya mengalir. Dia tidak pernah diserang seperti ini. Dia tidak pernah berada satu ruangan dengan begitu banyak orang-orang asing yang terlihat benar-benar asing.

Ada yang menepuk puncak kepala Hinata, membuatnya mendongak. Dan sesaat kemudian sekumpulan asap rokok menyerang wajahnya, membuatnya menyesal telah mendongak. Kini ia menangis sambil terbatuk-batuk.

"Udah, Sasuke, Naruto! Kalian nggak bisa liat, ya, dia ketakutan?!" Sosok yang menepuk Hinata itulah yang berbicara.

"Emang tuh Sasuke! Ngebuat cewek cantik nangis itu nggak boleh tau!" Sosok lain berambut cokelat berbicara sambil mengusap-usap bulu seekor anjing yang sangat besar—membuat Hinata bergidik.

"Gue nggak suka cewek cengeng!" Nada sinis itu keluar dari sosok bermata kelam tadi.

Dan adu mulut yang tidak begitu jelas terjadi di antara empat makhluk aneh tadi. Mengabaikan Hinata yang sebelumnya menjadi penyebab adu mulut itu. Meski begitu, menatap mereka, membuat Hinata semakin menangis menjadi-jadi.

Dia tidak tahu ada di mana. Dia tidak tahu bagaimana caranya dia bisa berada di ruangan yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk aneh itu. Dia … dia hanya ingin pulang.

"Mereka emang aneh." Sebuah suara lain yang terdengar begitu datar membuat Hinata menoleh.

Di ujung ruangan lain, satu sosok lain tengah duduk. Seumur hidup, mungkin Hinata tidak akan pernah melupakan sosoknya yang paling aneh. Rambut merah menyala, mata hijau yang menusuk, lingkar mata yang menyeramkan, bentuk wajah yang keras, dan … apa itu? Tato cinta?

Andai Hinata tidak dalam keadaan saat ini, mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin sosok yang terlihat begitu menyeramkan seperti itu memiliki tato berbentuk "cinta" di keningnya?

Sosok yang merasa dipandangi oleh Hinata itu membuang muka. "Gue Gaara, yang berambut pirang itu Naruto, yang rambutnya mirip nanas dan ngerokok itu Shikamaru, yang punya anjing gede itu Kiba—anjingnya Akamaru, dan yang punya rambut kayak pantat ayam dan sok keren itu Sasuke."

Hinata mengerjap. Dia memandang sekeliling ruangan yang mendadak sepi karena semua mata tengah memandangnya. Apakah sosok berambut merah menyala itu tengah memperkenalkan semua makhluk di ruangan ini?

"Asal elo tau aja, kami bukan orang jahat." Sosok itu berbicara lagi.

Hinata menelan ludah.

"Gue nggak sengaja nemuin lo pingsan di jalan, jadi gue bawa elo kemari."

Pingsan di jalan? Bukan diculik?

"Jadi, di mana rumah lo? Biar gue antarkan pulang."

Rumah? Pulang?

Oh! Astaga! Hinata baru ingat kalau … kalau dia kabur dari rumah, kehilangan ransel, kelaparan dan … pingsan?

"Elo dengar gue nggak sih? Rumah lo di mana?"

Dia harus menjawab apa?

"Jadi dia udah bangun?"

Suara seorang perempuan dari arah pintu membuat Hinata mendongak. Di sana, sesosok gadis berambut merah muda yang aneh tengah tersenyum lebar ke arahnya. Dia mengangkat kantongan plastik di tangannya. "Sebaiknya elo makan dulu, gih. Gue rasa, elo pasti lapar, 'kan?"

Hinata tidak menyahut.

"Kenalin, gue Sakura." Gadis itu berjalan mendekati Hinata, membukakan kantongan plastik yang berisi nasi bungkus dan memberikannya pada Hinata. Dia mengerutkan kening saat melihat bekas jejak air mata di pipi Hinata. "Elo nangis?" tanyanya selembut mungkin, "Pasti terbangun di antara para beruk ini bikin frustasi, ya?"

Hinata mengangguk, sedikit tersenyum mendengar julukan yang gadis itu berikan pada makhluk-makhluk mars di sekelilingnya.

"Sekarang elo makan dulu, oke? Biar gue yang ngurus beruk-beruk ini."

"Sakura-chan! Aku nggak termasuk ke jajaran 'para beruk', 'kan?" Naruto nyengir.

"Elo juga termasuk, Naruto no baka!" Sakura berkacak pinggang. "Jadi siapa yang udah ngegangguin cewek ini dan ngebuat dia nangis, heh?"

"Dia nangis sendiri!"

"Sasuke ngolokin dia gagap!"

"Akamaru tuh nyeremin!"

"Itu sih karena Shikamaru ngerokok di mukanya!"

Suara ribut itu membuat Hinata takjub. Sepertinya, semua makhluk mars ini takut pada gadis berambut merah muda itu. Apa jangan-jangan gadis itu adalah bos mereka? Tapi, bukannya gadis itu sangat cantik, meski dia memiliki warna rambut yang aneh? Dia juga terlihat rapi, tidak seperti gerombolan Makhluk mars di sekelilingnya.

"STOP!" Sakura menghela napas. Dia menatap semua mata di hadapannya, semuanya terdiam. Lalu kembali menatap Hinata. "Gue lupa! Nama elo siapa?"

Hinata melongo. Bagaimana mungkin gadis itu dengan begitu mudahnya mengganti topik pembicaraan?

"Hi-Hi-Hinata." Gadis itu menelan ludah. Kenapa dia menjadi sangat gagap? Kenapa suara yang keluar dari mulutnya terdengar sangat aneh? Kenapa dia tidak bisa bersikap normal?

"Hinata?" Sakura tersenyum. "Jadi, Hinata, baju elo udah gue cuci dan sekarang lagi dijemur. Kalau elo mau pulang, ingatin gue buat ngembaliin, oke?"

Baju?

Hinata terkesiap. Dia memandang pakaian yang dia gunakan. Kaos oblong kebesaran, celana lusuh yang juga kebesaran. Ini … bukan bajunya. Kenapa dia tidak sadar dari tadi?

Seketika, Hinata pucat. Siapa yang mengganti bajunya? Apakah … apakah makhluk-makhluk mars itu—

"Tenang aja, yang ngeganti semuanya Sakura-chan kok! Kita-kita nggak ada yang ngintip. Suerr…." Dan jawaban dari Naruto membuatnya bernapas dengan lega.

"Cepat habiskan makanan lo. Habis itu gue antar elo pulang."

Dan kalimat yang meluncur dari bibir Gaara membuat Hinata teringat jawaban yang belum juga dia temukan sejak Gaara menanyakan di mana rumahnya. Jadi, apa yang harus dikatakannya tentang rumahnya?

.

.

.

.

.

"Jadi, di mana rumah lo?" tanya Gaara.

Hinata menggeleng. Tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mengerti mengapa dia tidak menjawab yang sejujurnya saja.

"Elo gak tau? Gak ingat? Atau gak mau pulang?"

Yang terakhir. Tapi Hinata tidak berkata apa-apa, hanya menunduk semakin dalam.

"Tadi gagap, sekarang bisu. Heran gue."

Hinata menelan ludah. Tidak bisa marah.

"Gue yakin, dia hilang ingatan deh, Gaar." Kali ini Naruto yang menyahut.

Hinata ingin berkata tidak. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

"Maksud lo?"

Naruto mengangkat bahu. "Elo kan nemuin dia pingsan. Bisa aja sebelumnya kepalanya kebentur atau apa, jadi dia sejenis amnesia gitu."

Gaara memandangi Hinata sungguh-sungguh. "Jadi, Hinata? Selain nama lo sendiri, ada hal lain yang elo ingat tentang diri lo, hm?"

Kamar, ayah, pesta ulang tahun Shion, Konoha

Hinata diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Apa dia harus jujur? Apa dia ingin kembali ke rumah?

Tidak. Hinata belum sanggup jika ayahnya marah. Lalu? Apa yang harus dikatakannya? Apa yang harus dilakukannya?

Hinata kembali menggeleng.

"Tuh kan! Apa gue bilang!" Naruto semringah.

Sakura meengambil tempat duduk di sisi Hinata dan menepuk bahunya. "Nggak apa-apa. Ntar pelan-pelan lo pasti juga ingat kok."

Hinata mengangguk. Meski dalam hati dia meringis—ini pertama kalinya dia berbohong.

"So? Untuk sekarang, tujuan lo mau ke mana?"

Hinata mau ke mana dengan tasnya yang hilang? Ugh… dia jelas tidak punya tujuan. Lalu? Dia harus apa? Harus ke mana? Harus bagaimana? Harus tinggal di mana?

"Elo bisa tinggal bareng kami sementara."

Hinata mengerjap. Dia menatap Shikamaru yang barusan berbicara, lalu menatap semua orang di ruangan itu satu per satu. Tidak. Rasanya Hinata tidak ingin berada berlama-lama dengan mereka, apalagi tinggal di rumahnya.

Gadis itu menggeleng.

"Terus? lo tahu mau tinggal di mana?" Naruto menatapnya.

HInata lagi-lagi menggeleng.

"Gue tau, lo pasti takut sama kita-kita. Tapi lo juga gak bisa tinggal bareng Sakura. Nyokapnya pasti nggak bakal ngebolehin."

Jadi, Sakura tidak tinggal bersama mereka? Dan Hinata, jadi satu-satunya perempuan yang ada di rumah super kecil ini?

"Tenang aja mereka nggak jahat kok, Hinata! Buktinya gue hidup aja sampe sekarang," kata Sakura meyakinkan.

Hinata menelan ludah. Tapi setidaknya Sakura tidak serumah dengan mereka. Bisa saja kan mereka melakukan sesuatu pada Hinata saat malam? Bisakah dia memercayai kelima pemuda aneh ini?

"Bener tuh Sakura! Kita janji nggak akan ngegangguin elo! Eh, kecuali kalau lo yang minta. Haha!"

Dan ucapan Kiba membuatnya merinding.

"Kalau lo emang nggak punya tujuan, lebih aman bersama kami. Nggak ada yang jamin lo bakal gimana kalau di jalanan."

Oh, sadarkah Sasuke perkataan baik hatinya itu justru membuat Hinata semakin takut. Tidak ada yang jamin? Memangnya di sini Hinata terjamin?

"Gue yang jamin." Gaara berucap, seolah bisa membaca pikiran Hinata. "Selama ada gue, nggak akan ada yang berani nyentuh lo. Elo aman di sini."

Dan meski Gaara sudah menjaminnya, bisakah Hinata percaya? Bukankah dia terlihat seperti pemuda paling 'kacau' yang tidak akan pernah bisa masuk ke dalam list jenis-orang-yang-bisa-dipercaya?

"Gimana?" Shikamaru membuang puntung rokoknya. "Jangan melihat kami dari penampilan. Kami mungkin bangga menjadi anak punk—"

"—tapi kami tetaplah anak punk berhati pink!" Sakura menyahut sambil menunjukkan cengirannya, diikuti oleh deathglare dari lima orang lainnya.

Anak punk? Berhati pink? Benarkah?

"Pokoknya elo tetap tinggal di sini sampe lo ingat sesuatu atau minimal udah nentuin tujuan lo. Gak ada penolakan!"

Ucapan terakhir Gaara membuat Hinata sekali lagi menelan ludah.

Apakah dia punya pilihan?

.

.

TBC

.

.

A/N: I Know, this is very awful T_T

Well, ini cuman fic iseng kok.. LOl

Thanks for reading!

See ya~ :)

~TnD~