"Itu tidak seperti yang ibu lihat" Sehun menahan suaranya agar tidak bergetar, namun tidak berhasil. Rasa takut itu mencekik lehernya dengan kuat.
"Lalu seperti apa yang seharusnya ibu lihat?" tanya Nyonya Kim, sedang yang ditanya tak menemukan suaranya. "Kau mencintai Jongin. Itu yang kau katakan."
Sehun menunduk, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia ingin mengelak, namun Nyonya Kim dengan jelas melihat dan mendengar yang terjadi malam itu. Sehun terperanjat saat Nyonya Kim beralih tempat duduk ke sampingnya, menggenggam tangannya dengan kuat.
"Kau mencintai Jongin?"
Pertanyaan yang sangat mudah untuk Sehun jawab. Dan ia tak memiliki keberanian bersuara saat sepasang manik seseorang yang sudah ia anggap sebagai ibu menatapnya penuh harap.
Harapan untuk jawaban yang lain.
Sehun menatap kedalam manik itu. menyampaikan bahwa tidak ada yang perlu dipastikan. Semuanya sudah jelas. Jangan menambah rasa bersalah dengan memaksanya menjawab. Namun Nyonya Kim tetap menunggunya.
Sehun ingin menggeleng dan tertawa, mengatakan bahwa semua yang mereka bicarakan hanyalah lelucon. Tapi nyatanya kepalanya bergerak kaku, mengangguk dengan pasti.
"Aku mencintainya"
Mungkin untuk seorang ibu, istilah bagaikan disambar petir disiang hari saja tidak akan cukup untuk menggambarkan bagaimana kenyataan itu jatuh diatas kepalanya. Nyonya Kim menunduk, terisak hingga air matanya menetesi lengan Sehun yang masih di genggam.
Sehun seolah ingin memotong lidahnya sendiri. Seharusnya ia lebih bisa menahan diri. Namun yang ia katakan pun bukan sebuah kebohongan.
"Kenapa seperti ini? Apa salah ibu padamu Sehun?"
Sehun menggeleng dengan keras. Lagi-lagi terkejut dengan pertanyaan dari Nyonya Kim yang masih tersedu didepannya.
"Tidak bu, maafkan aku." tubuhnya merosot, jatuh berlutut didepan Nyonya Kim.
"Ibu menyayangimu Sehun. Ibu sangat menyayangimu. Jadi ibu mohon jangan lakukan hal ini untuk menyakiti siapapun."
Sehun mengangguk, kembali menggeggam tangan Nyonya Kim. Kepalanya terasa berat hingga yang mampu ia lakukan sedari tadi hanya menunduk.
"Aku akan berhenti mulai sekarang. Aku berjanji." Dan saat tenggorokannya bergerak untuk menelan ludah yang terasa pahit, saat itu pula sebuah kata membelenggunya di kedalaman tak berdasar. "Dan tolong, pegang janjiku"
.
See You In Autumn
Kim Jongin X Oh Sehun
.
.
.
Tonight you steer my heart away
Just leaving a trail of sorrow
(BGM : Lucia – Without You)
Malam berjalan lebih lambat dari biasanya. Gang-gang kecil yang Sehun lewati nampak sepi. Hanya sesekali terlihat pejalan kaki lain dengan setelan kantoran. Sehun melamun disepanjang jalan. Udara yang tiba-tiba mendingin tak ia hiraukan. Kesepian seolah menjadi teman terbaik.
Satu kata yang ia ucapkan beberapa saat lalu pada Nyonya Kim seolah menjadi senjata paling mematikan untuk dirinya. Sehun akan berjalan dengan kata terkutuk itu mulai sekarang. Ia semakin takut menebak takdir macam apa yang bekerja untuk terus mematikan satu persatu titik hidupnya.
Langkah kaki Sehun terhenti saat hendak berbelok. Ia taunya bersembunyi di balik dua tembok yang saling berhadapan. Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Nafasnya tertahan saat suara itu semakin mendekat.
Siapa yang membodohi siapa?
"Kau seharusnya istirahat saja di rumah"
"Aku sudah mendengar itu puluhan kali"
Sehun dapat memastikan suara itu dari arah belakang. Ia semakin merapatkan punggung pada tembok yang kotor, tidak peduli kemeja sekolahnya akan bernoda.
"Aku akan meminjam mobil ayah saat kita kencan nanti"
"Dan berakhir ditilang polisi? Tidak, terimakasih"
Sehun akhirnya dapat melihat dengan jelas sosok Jongin yang mengenakan setelan kemeja abu dengan celana jins hitam membalut pas kaki jenjangnya. Sedangkan Seolhyun terlihat cantik dengan dress selutut berwarna biru tua, walau kepalanya kini berbalut perban putih yang terlihat berlebihan untuk Sehun.
"Awalnya aku benar-benar khawatir kau adalah seseorang dengan selera yang tinggi" kata Jongin, lampu jalanan berwarna kuning tidak mengurangi ketampanannya dimata Sehun.
"Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Seolhyun dan dijawab dengan anggukan oleh Jongin.
"Tapi lihatlah sekarang" Jongin berhenti, diikuti oleh Seolhyun. Hanya beberapa langkah dari tempat Sehun bersembunyi. Jongin mendekatkan wajahnya pada Seolhyun, tersenyum dengan lengkungan yang menawan. Sehun bisa saja meleleh jika ditatap seperti itu. Namun bukan dia yang ada disana.
"Aku kenapa?" Seolhyun hanya tersenyum, tidak terganggu dengan kedekatan mereka.
"Kau sangat manis" satu kecupan yang sama manisnya dengan ucapan Jongin mendarat di bibir cherry milik Seolhyun.
Sehun menunduk, menatap kepalan tangannya yang gemetar. Kedua anak adam dan hawa yang terlihat serasi itu kembali melangkah setelah sebelumnya Jongin mendapat cubitan di perut. Sehun baru berani keluar setelah mereka menghilang ditikungan.
Langkahnya kembali terjalin. Lebih berat dari sebelumnya. Sehun benar dengan pilihannya pada takdir. Bahkan tanpa ia tebak, semua berjalan dengan sangat mengejutkan. Untuk apa ia dipertemukan dengan Jongin dan Seolhyun? Untuk memberitahukan padanya bahwa Jongin akan bahagia tanpa harus ada dirinya?
Melihat senyuman Jongin tadi, ada rasa terbakar meliputi sisi-sisi hatinya. Rasa panas yang membuatnya susah bernafas.
Cemburu.
Kemarin, melihat Jongin tersenyum adalah cara Sehun memperindah setiap harinya. Namun kini, hal tersebut menjadi kesakitan yang tak berwujud.
Sehun mendongak. Tak ada bintang di langit Seoul malam ini. Detik demi detik yang Sehun lewati terasa begitu lambat. Berpegang pada kenangan yang indah nyatanya membuat Sehun sangat kesepian kini. Kenangan suram yang telah berhasil ia lupakan, kembali hadir dari arah yang tak terduga.
Kabut yang menyelimuti awan tak mengganggu pandangan Sehun. Bahkan saat rintik hujan membasahi wajahnya, Sehun sama sekali tak bergeming. Seolah alam ikut bersedih karenanya. Seolah langit tau ada pendar biru yang perlahan mulai meredup di sepanjang jalan takdir tak berujung.
Atau mereka hanya menertawakannya?
Sehun kembali melangkah. Buram pandangannya tertutupi tetes hujan yang menggantung dikelopak mata. Tidak ada air mata. Sehun takjub tak menemukan dirinya yang kini mulai cengeng tidak kembali tersedu menjijikan.
Andai air mata layaknya hujan
Akankah dia tau seberapa banyak aku menangisinya?
Mereka selalu berkata lebih dekat layaknya saudara. Saat semuanya hampir menghitam dalam pandangan Sehun, Jongin datang mengulurkan tangan. Menawarkan seberkas cahaya penenang untuk kelamnya hari-hari lalu yang dijalani Sehun.
Sehun akhirnya tau bagaimana rasa saling berbagi dan memiliki. Jongin mampu menggantikan tatapan-tatapan kebencian itu dengan senyumnya yang tidak dapat Sehun abaikan.
Sehun meringis. Mengingat waktu berjalan begitu cepat. Jongin kini tidak hanya membutuhkan dirinya. Ia memiliki sisi kehidupan yang tidak bisa Sehun masuki sesuka hati. Entah hanya perasaan Sehun saja atau Jongin memang terlihat tidak berusaha berpihak pada Sehun seperti yang biasa ia lakukan.
Hujan semakin deras membasahi bumi. Malam menyuarakan kesunyiannya dibalik tirai-tirai rumah yang tertutup. Sehun berhenti melangkah ketika dadanya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Menyakitkan. Nafasnya memburu tidak beraturan. Sesak tiba-tiba.
Sehun jatuh ke tanah, bertopang pada kedua tangan agar tidak tersungkur. Panik melandanya ketika tak mendapati siapapun dijalan yang sepi.
"Sialan!" umpatnya sambil memukuli dada kirinya yang nyeri.
Pandangannya memburam saat sepasang kaki berhenti di depan tubuhnya yang semakin menunduk. Orang tersebut kemudian berjongkok, memegangi bahu Sehun dan menggoncangnya pelan.
"Sehun!" seruan itu mendengung ditelinga Sehun. Suara yang familiar membuat Sehun mendongak. Ia hampir menangis saat tau siapa yang ada didepannya sebelum semuanya benar-benar menghitam.
"Kris.."
Bintang mana yang harus ku lihat malam ini?
Untuk membuatku memikirkanmu...
.
.
.
.
Sudah terhitung tiga hari sejak Sehun di skors. Sekolah terlihat seperti biasa. Tidak ada yang berbeda kecuali Jongin yang kini selalu duduk sendiri di pojok kelas. Atau berubah menjadi setrika berjalan di depan Chanyeol. Kaki-kakinya seolah di aktifkan dalam mode mondar-mandir. Ia resah untuk beberapa alasan.
Chanyeol hanya menunggunya bicara tanpa bertanya apapun. Gesekan alas sepatu Jongin dengan lantai yang kasar menimbulkan bunyi berisik di atap sekolah yang sepi. Matahari beriring awan di atas kepala tak membuat Jongin luluh untuk mencari sesuatu yang dapat menyegarkan kepalanya yang sesak. Sesekali suara decakan menjadi satu-satunya yang keluar dari mulut Jongin.
"Kenapa kau berpikir begitu keras? Hanya temui dia dan minta maaf" Chanyeol mengakhiri perjalan bolak-balik Jongin.
Kedua tangan Jongin yang berada dipinggang jatuh terkulai di kedua sisi tubuhnya saat berpaling pada Chanyeol. "Aku juga tidak tau kenapa ini sangat sulit. Aku pikir, sikapku kemarin sangat keterlaluan"
Chanyeol tak langung menyahut. Sejujurnya mengiyakan ucapan Jongin. Ikut merasa bersalah. "Hanya temui dia"
Tidak ada suara. Dua kepala itu hanyut dalam pikiran masing-masing. Saling menyalahkan diri sendiri seakan dapat membuat seseorang yang mereka bicarakan sejak tadi muncul dan tersenyum seperti biasa. Mereka tau bahwa Sehun hanya diskors selama seminggu. Namun perasaan tak nyaman saat pria itu tidak ada membuat Jongin dan Chanyeol merasa seolah Sehun telah benar-benar menghilang.
Tidak salah memang. Jongin bisa saja tidak peduli saat itu, amarah membungkusnya tanpa cela. Namun saat teringat bagaimana Sehun selalu keras kepala mengenai beasiswa, kini perasaan bersalah bergelayut memberati kedua pundak Jongin. Pertanyaan tentang sudah berapa lama ia berteman dengan Sehun seperti kaset rusak yang selalu terulang. Bertanya dan memahami sebenarnya lebih baik.
"Sehun cukup keras kepala beberap waktu terakhir. Aku sudah berkali-kali menanyakan hal apa yang mengganggunya. Dan hyung bisa lihat sendiri bagaimana sikap Sehun padaku" Jongin dikejar keresahan. "Apa ini ada hubungannya denganku?"
Chanyeol sedikitnya terkejut saat Jongin menatapnya bertanya. "Kenapa harus?" dan ia penasaran untuk reaksi tersebut.
Jongin menggigit bibir, "Mungkin ada kata-kataku yang membuatnya marah. Atau—"
Chanyeol menunggu, tapi Jongin memilih mengacak rambut, kebingungan sendiri mencari alasan untuk menyalahkan diri.
"Jongin"
Jongin bereaksi dengan lirikan mata yang masih saja resah.
"Temui Sehun dan bicarakan hal ini baik-baik padanya"
Jongin hendak mengangguk sebelum ada satu hal lagi yang membuatnya terhantam rasa bersalah.
"Kau tau Sehun berada dimana hyung?"
Jongin seperti melamun. Dan Chanyeol tak memiliki satu katapun untuk menjawab. Sudah tiga hari. Mereka melenyapkan keingintahuan tentang Sehun.
Kenapa baru sekarang mereka bertanya?
.
.
.
.
(BGM : Super Junior - Andante)
Sehun sempat berpikir untuk menghabiskan masa liburnya dengan hibernasi. Mengurung diri dan mengikuti anjuran guru Choi untuk berdamai dengan amarah. Ia mencoba, dan berhasil menemukan dirinya hampir membanting lampu tidur berbentuk jamur milik Yixing.
Sehun akhirnya memilih diam tanpa berusaha meredam apapun. Ia hanya tdur, bangun, makan, dan tidur lagi. Yixing hampir membenturkan spatula kekepalanya karena hal itu.
Sehun meringis. Matanya menyapu seluruh sudut kamar yang tidak begitu luas. Hanya ada satu ranjang kecil, lemari kayu yang hanya muat memasukkan baju-baju Sehun, meja belajar, serta nakas untuk meletakkan lampu jamur.
Kamar yang dulunya milik adik Yixing itu tidak memiliki perubahan apapun. Yixing membiarkan beberapa lembar foto tergantung di tembok. Kebanyakan adalah potret dari sipemilik kamar. Meja belajar yang dipenuhi buku-buku dan majalah juga seolah tidak tersentuh sama sekali. Hanya debu yang menghilang dari sisian mereka.
Lembaran surat kabar di sudut meja mengambil atensi Sehun. Tubuhnya bergerak bangkit dari ranjang dan memilih mengambil surat kabar.
Ingatannya berjalan dengan baik pagi ini. Dengan langkah-langkah panjang, Sehun keluar dari kamar. Suara kaki yang menghentak tak elak membuat Yixing yang sedang menyeduh teh paginya terusik.
"Kenapa kau berlarian sepagi ini? Dengan tubuh kelebihan kalsiummu itu, kau bsa merobohkan rumahku"
Sehun tak mendengarkan dan secepat kilat memasuki kamar mandi. Yixing menggeleng tak habis pikir, tapi tersenyum juga.
Sehun keluar setelah hampir setengah jam di dalam kamar mandi. Kadang ia merasa senang tanpa alasan, kadang ia merasa gugup berlebihan. Sehun memperhatikan wajahnya di pantulan kaca. Tersenyum memuji diri sendiri. Sehun membuka isi tas nya, dan menemukan banyak baju kaos, hoodie, serta celana jins.
Sehuh menggeleng, kembali memasukkan tas besar miliknya ke dalam lemari. Ia kembali berdiri di depan cermin, berpose seperti seorang pemikir keras. Dan tersenyum kemudian.
.
"Yixing hyung!"
Jika bukan Sehun, Yixing mungkin saja sudah melemparkan pot bunga di atas meja kekepala seseorang yang telah meneriakinya tepat di samping telinga.
"Apa?!"
Sehun tersenyum menampilkan giginya, "Boleh aku meminjam bajumu?"
"Hm?"
.
.
.
.
.
.
Akhir-akhir ini cuaca berubah begitu cepat. Burung-burung gereja bisa saja bersiul ceria menyambut pagi yang cerah, tapi pada siang hari, mereka seolah bersembuny di tempat terjauh untuk menghindari derasnya hujan.
Tahun ini, hujan lebih banyak turun di musim semi. Kadang matahari masih terlihat angkuh diatas kepala saat hujan turut hadir tanpa tau malu. Sehun berdiri di pelataran sebuah gedung tinggi sebuah kantor. Di sepanjang pintu masuk, Sehun dapat melihat karangan bunga berjejer rapi dengan satu nama yang sama ditiap karangan.
Nama salah seorang actor ternama yang wajahnya sering Sehun lihat di televise. Mungkin ia baru saja memerankan drama terbaru. Saat ini, Sehun memang sedang berada di salah satu agensi terbesar Korea Selatan. Ia bisa saja mendaftar sebagai trainee untuk menjadi actor atau boyband disana kalau hanya dinilai dari wajah dan penampilan, tapi Sehun memilih membawa berkas yang ia perlukan untuk menjadi office boy.
Sehun tidak berhenti tersenyum selama menuju pintu keluar perusahaan. Berkas di tangan bisa saja berlubang karena terus ia tatapi. Hingga kini ia menunggu hujan reda pun, senyumnya seolah menghina hujan. Setidaknya, mendapatkan pekerjaan yang bisa bekerja sama baik dengan jam sekolahnya sedikit banyak membuat Sehun lega.
Awalnya ia khawatir akan peraturan jam kerja yang ketat, mengingat betapa besar agensi yang ia datangi. Namun ternyata mereka hanya membutuhkan pekerja pengganti sementara dengan jam kerja malam.
Sesaat, Sehun teringat dengan Kris. Seseorang yag telah memberitahunya bahwa di perusahaan tersebut sedang membuka lowongan kerja. Ia akan mentraktir pria itu jika mereka bertemu nanti.
"Kau terlihat senang"
Sehun terperanjat saat suara berat itu menggema ditelinganya. Sehun menoleh dan mendapati wajah tersenyum Kris disana.
"Whaa, apa kau seorang goblin?" tanya Sehun.
Kris terkekeh, "Apa kau baru saja meniup lilin?" dan suara tawa Sehun ikut terdengar.
"Aku benar-benar baru saja memikirkanmu, dan kau sudah ada disini" kata Sehun, "Apa yang kau lakukan di tempat ini?"
"Hujan" Kris menunjuk ribuan tetes asam di udara, "Hanya kebetulan lewat dan berteduh"
Sehun mengangguk dan memilih diam kemudian. Sebenarnya merutuk dalam hati. Tiba-tiba semua kata yang ingin ia ucapkan hilang begitu saja. Kris mengenakan kemeja biru malam serta celana bahan yang membungkus badannya dengan pas. Sehun tidak munafik untuk mengatakan bahwa pria itu terlihat lebih tampan dari dua pertemuan mereka sebelumnya.
"Jadi," Kris memutus lamunan Sehun. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Sushi"
"Huh?"
"Ayo makan sushi"
Bahkan banyak perasaan yang perlahan-lahan muncul
Bahkan banyak kenangan yang perlahan-lahan kembali
Aku akan menghapusnya sedikit semi sedikit..
.
.
.
.
.
.
.
TBC
PS : Anggap ini prolog setelah saya lama menghilang. Maaf baru bisa update sependek ni, saya terserang WB parah, hampir gila karena ide di kepala nggak bisa tersusun rapi saat saya ketik. Maaf juga karena lama ilang TT Saya harap kalian nggak pernah bosen baca dan nunggu author yang leletnya keterlaluan ini.
Terima kasih untuk review kalian yang sangat membantu semangat saya dalam menulis.
Dan ff ini nggak akan lanjut sampai sekarang tanpa ada kepala lain yang bantuin saya. Special thanks to Dewi a.k.a redmaplee authornim udah ikut capek mikirin alur cerita untuk ff ini. Dan sampai ada reader yang pm saya untuk lanjut ff ini TT Saya benar-benar terharuuuuu huuwweeee
Saya benar-benar mencintai kalian reader-nim :*
Last, maaf lagi untuk typo yang berhamburan TT
SARANGHAE :*
