.

.

Disclaimer:

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Warning:

AU, OOC, Typo(s), yang pasti masih jauh dari sempurna

Big Thanks to:

minatsuki heartnet, Mitsuki Ota, Anne Garbo, Guest, sasunata chan, Kazuko Nozomi, mayraa, Yoon Hinaru

.

Enjoy!

.

.

"Oke sudah diputuskan." Sakura menepuk tangannya, mengusir ketegangan akan kegalauan Hinata dan nada memerintah yang dikeluarkan Gaara. "Elo istirahat aja dulu di rumah sambil coba ingat-ingat jati diri lo. Dan elo semua mendingan KERJA!"

Suara derap langkah mulai terdengar menjauhi rumah kecil itu seiring suara lantang yang Sakura lontarkan pada kata terakhir.

"Hinata-chan jaga rumah baik-baik ya!" seru gadis berambut pink itu sebelum menghempaskan pintu dan meninggalkan Hinata yang berdiri mematung layaknya manekin di hamparan sawah.

Sesaat ruangan sempit itu terasa lebih luas karena penghuninya telah berkurang semua. Hanya tersisa Hinata dengan segudang kegundahan melanda pikirannya.

Bagaimana ini?

Pikiran buruk mulai menghiasi pikiran Hinata. Bayangan akan wajahnya yang memenuhi koran di pagi hari dengan tajuk, "Tubuh seorang Gadis berumur 17 tahun ditemukan mengambang di sebuah sungai" atau "Tubuh seorang gadis berumur 17 tahun ditemukan telah termutilasi dalam kardus di TPS" mulai berkecamuk dalam otaknya. Bahkan ia bisa melihat dirinya dalam acara berita kesayangan ayahnya yang selalu menampilkan pria bertopeng dipenjara pada akhir acara dan akan selalu menyerukan kata, "Waspadalah! Waspadalah!" Ia juga melihat keluarganya terduduk di sekitar mayatnya sambil menangis tersedu-sedu mengantar kepergiannya.

Gadis itu menggeleng kuat-kuat berusaha menjauhkan keparanoidan dari kepalanya. Bukan salah Hinata memang jika ia menjadi paranoid begitu. Mengingat penampilan para makhluk mars yang sarat akan kriminalitas tersebut. Namun, Kilasan peristiwa beberapa saat lalu sedikit meyakinkannya untuk tetap tinggal di tempat itu. Gaara yang memungutnya padahal bisa saja membiarkan dia begitu saja, lalu Sakura yang membantunya menggantikan baju, memberikannya makanan, dan tentu saja kelapangdadaan mereka yang mau menampungnya, yang mungkin akan sangat merepotkan.

Don't judge the book by it cover. Sebuah pepatah semakin mematenkan keyakinannya.

Tapi, sampai kapan ia akan tinggal disini? Selamanya? Itu tidak mungkin. Hinata harus segera menetapkan tujuan selanjutnya. Tapi, ke mana?

Gadis itu terduduk dalam kemalutnya pikiran. Ia baru menyadari betapa menyesalnya ia kabur dari rumah. Tapi, rasa egonya melarangnya untuk menyerah.

Mata perak gadis itu menerawang mengitari rumah kecil yang akan menjadi rumahnya untuk sementara. Rumah itu benar-benar berantakan. Sisa makanan yang ia makan tadi masih berserakan di lantai semen yang sedikit berdebu. Di ruangan yang lengang itu ia hanya bisa menemukan sebuah meja kecil dengan televisi yang kecil pula. Beberapa kaleng pilox berhamburan di salah satu sudut ruangan. Dan tentu saja, kursi kayu yang ia duduki saat ini.

Akal sehatnya pun mulai berjalan. Daripada ia bengong, apa tidak lebih baik dia membersihkan tempat ini?

Ia mulai mencari alat-alat kebersihan walaupun pesimis akan menemukannya di tempat makhluk-makhluk mars yang pada dasarnya ber-genre laki-laki itu. Untunglah, ia menemukan sapu di depan rumah itu dan lap di satu-satunya kamar. Yah, walaupun ia sedikit tidak yakin yang dipegangnya adalah lap sungguhan. Mungkin saja itu salah satu kostum yang dimiliki oleh para makhluk mars itu. Semoga tidak, semoga tidak.

Ia mulai menyapu, mengepel, membersihkan seluruh rumah yang hanya terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruangan yang sepertinya tempat untuk bersantai. Kemudian ia mencuci seluruh pakaian kotor yang ada.

Tanpa terasa hari telah sore. Gadis itu pun telah selesai dengan kegiatannya. Ia mengelap peluh yang mengalir dari dahi hingga pipinya yang juga telah sukses melepekkan poni ratanya yang seperti amel karla. Hinata tersenyum sumringah dengan hasil karyanya. Dari dulu ia memang sangat suka mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah ini. Walaupun di rumah besarnya ia memiliki pelayan, ia kerap ikut membantu pelayan-pelayannya membersihkan rumah maupun memasak.

Tapi, jangan mengambil kesimpulan kalau Hinata bercita-cita jadi pelayan loh. Mungkin untuk anak seusia Hinata hal itu bukanlah hal yang menarik untuk dilakukan. Biasanya anak seusia Hinata lebih tertarik menghabiskan waktu jalan-jalan bersama teman, nonton, atau sekedar nongkrong di suatu tempat. Hinata yang korban bully dan kekangan ayahnya membuatnya tidak dapat melakukan semua itu. Ya, inilah salah satu sebabnya Hinata ingin lari dari kehidupan lamanya.

Tiba-tiba gelak tawa Hinata pecah. Sesaat dalam keheningan ia menyadari bahwa ternyata dia seperti memerankan karakter putri salju dalam dongeng 'Snow White and 7 Dwarfs'. Putri Salju yang tinggal di pondok kecil di tengah hutan bersama tujuh kurcaci. Setiap hari putri salju akan membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk para kurcaci yang bekerja di tambang. Bedanya Hinata bekerja bukan untuk kurcaci yang baik hati tetapi untuk 5 anak punk yang patut diwasapadai. Ngomong-ngomong soal menyiapkan makanan, sedari tadi ia belum merasakan air membasahi kerongkongannya dan makanan mengisi lambungnya.

"Wouw!" Sebuah seruan mengusik telinga Hinata memecahkan keheningan yang sedikit menenangkan hati gadis itu. Dari arah pintu masuk satu persatu makhluk-makhluk mars penghuni tempat itu masuk dan menghampirinya.

"Hinata-chaann.. elo ya yang ngebersihin seluruh rumah ini?" Hinata sedikit tertegun karena jarak antara dirinya dan Naruto sangat dekat. Dengan wajah tersipu malu, ia mengangguk sedikit.

"Wah, ini baru yang dinamakan sentuhan wanita. Selama ini selalu Sakura yang bersih-bersih. Tapi gue gak ngerasa seperti ada sentuhan wani—"

'JDUAKK'

"Aduh Sakura…! Elo tega amat ama gue. Sejak kapan pula elo datang?" Naruto meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang dijitak Sakura.

"Jadi maksud lo gue bukan wanita gitu?" Wanita berambut pink itu berkacak pinggang sambil menatap Naruto dengan tajam.

"Hahaha! Mulut lo kebesaran tahu Nar. Rusuh." Pria yang bernama Kiba menimpali.

"Elo bilang apa? Sialan lo." Naruto segera berlari menghampiri Kiba.

"Hey Na-ru-to. Elo masih berurusan sama gue!" Sakura mengejar Naruto yang masih berusaha mendapatkan Kiba yang berlari menghindari Naruto. Akhirnya terjadilah kejar-kejaran antara Kiba, Naruto, dan Sakura mengitari rumah mereka yang kecil itu.

"Mendokuse." Gumpalan asap merasuki hidung Hinata seiring suara datar dari belakangnya.

Déjà vu, pikir Hinata. Gadis itu sedikit terbatuk namun tak menghilangkan senyum yang ia sunggingkan melihat kelakuan tiga manusia berstigma 'anak punk' itu.

'Kruyukk...'

Suara apa itu?

Hinata bersemu merah menyadari suara yang berasal dari perutnya. Wajahnya menunduk saat melihat penghuni rumah tersebut menghentikan semua pergerakan mereka karena bunyi yang ia keluarkan. Semua mata tertuju kepadanya membuatnya makin tenggelam dalam malu.

"Elo laper?" tanya Sakura yang masih memegang kerah bajunya Naruto.

Hinata mengangguk pelan. "I-i-i—"

"Ikan!" Naruto menyahut.

Hinata menggeleng."I-i-i—"

"Iklan?" Kali ini Kiba yang menyahut.

Hinata menggeleng lagi. "I-i-i—"

"Ikat rambut!" Keduanya menyahut sambil mengacungkan jempol di depan muka Hinata.

Hinata lagi-lagi menggeleng. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia heran kenapa sampai sekarang ia masih saja gagap sih. Namun, ia tetap melanjutkan. "I-i-i—"

"I—Ouch." Sebuah kipas kertas menghantam kepala Kiba dan Naruto sebelum mereka menjawab asal-asalan lagi. Sasuke yang sedari diam hanya memutar matanya bosan melihat adegan itu begitu juga Shikamaru yang sibuk dengan batangan nikotin dimulutnya.

"Ga-Gaara. E-elo tega banget sama kita," ucap Kiba sambil mengusap kepalanya.

"I-iya,"tambah Naruto yang melakukan gerakan sama dengan Kiba.

"Sekarang elo semua pada gagap, 'kan?"ucap Gaara dengan nada sindiran.

"Gyahaha…. Elo, sih, iseng banget ngerjain Hinata-chan. Untung mulut elo gak disumpel tanah sama Gaara!" Sakura tertawa terpingkal-pingkal melihai dua insan yang menatap Gaara dengan tatapan tanda tanya.

Seakan mengetahui makna tersirat dari tatapan kedua pria itu Gaara menjawab. "Kan gue udah bilang kalau gue menjamin keselamatan Hinata di sini," ucapnya dengan wajah yang sangat datar.

Melihat Gaara yang seperti itu membuat jantung Hinata sedikit berdegup. Ia tidak menyangka laki-laki itu sedang membuktikan kata-katanya. Ia tersenyum kecil, dalam hati keraguannya yang masih ada tadi menguap begitu saja.

"Udah cepetan gue laper nih! Atau gue aja nih yang ngabisin?" celetuk Sasuke dengan seringaian di wajahnya sambil memegang kantong kresek berisi beberapa nasi bungkus.

Kedua makhluk yang tadinnya manyun langsung menyergap kantong kresek tersebut dan memberi pukulan-pukulan kecil ke pria berambut pantat ayam itu. Akhirnya terjadi perkelahian kecil antara ketiga makhluk itu.

Hinata menatap ngeri kelakuan ketiga makhluk itu.

"Dasar orang-orang gak jelas. Ayo kita makan Hinata." Senyum mengejek menghiasi wajah Sakura yang memegang kresek berisi makanan yang Hinata tidak tahu sejak kapan ada ditangan Sakura.

.

.

.

"Jadi tadi siang gue nanyain ke tukang jualan koran gimana caranya nyembuhin penyakit amnesia." Naruto membuka pembicaraan di tengah-tengah waktu makan, membuat Hinata tersentak akan penuturannya.

"Guhe hak nyhangka eho hampe hanya-hanya huga, Nah." Itu Kiba berbicara dengan mulut penuh makanan.

"Gue gitu," balas Naruto bangga.

"Jadi dia bilang apa?" Sasuke yang tadi menikmati makanannya dengan khidmat menyahut.

"Dia bilang kalo penyakit amnesia tuh gara-gara kepalanya Hinata-chan terbentur," ucap Naruto lagi membuat seluruh pandangan mengarah ke Hinata.

Kepala gadis itu tampak baik-baik saja, tidak tampak terlihat bekas darah atau luka berarti. Hinata menjadi gugup saat perlahan Gaara, sang penjamin hidupnya, mendekatinya.

Bagaimana ini? Bagaimana ini? teriak Hinata dalam hati saat melihat tangan besar pria itu mulai mengarah pada surai indigonya.

"Gue gak liat ada luka di kepala elo?" ucap Gaara dengan ekspresi datar.

"A-a-aduh." Hinata meringis saat tangan pria itu menyentuh kepalanya. Jantungnya berdegup dengan kencang menyadari dia telah berakting alias berbohong lagi.

Naruto terlihat sangat bersemangat dan mengatakan, "Nah, itu ada!"

"Terus itu tukang koran ngomong apa lagi?" Kali ini Shikamaru menyahut.

"Dia bilang kalau mau sembuhin orang amnesia mesti dipukul lagi kepalanya!"

Di-dipukul? Hinata bergidik ngeri saat mendengar penuturan itu. Apalagi saat melihat semua orang lagi-lagi menatapnya dengan intens.

"Jadi, kita harus mukul kepala Hinata nih?" Entah sejak kapan Kiba telah memegang sebuah pentungan kayu. Kemudian Kiba dan Naruto mendekati Hinata dengan wajah seperti psikopat.

"Ka-kalian mau a-apa?" Gadis itu mundur perlahan. Setitik air mata keluar dari sudut matanya. Jantungnya berdebar dengan keras. Dalam otaknya pikiran negatif yang ia bayangkan tadi kembali berputar. Oh Tuhan mungkin ini memang akhir dari Hinata!

'Plak... plak….'

"A-aduh…! Kepala gue!"

"Elo sih pada ngisengin Hinata lagi. Gimana dia mau betah coba. BAKA!" Kali ini Sakura dengan kipas kertasnya memukul dua makhluk itu.

Gadis bersurai pink itu memeluk Hinata yang hampir menangis dibuat candaan oleh dua makhluk itu. Sedangkan kedua makhluk itu sibuk mengusap-usap kepalanya yang sakit. Sasuke hanya memutar matanya begitu juga Shikamaru yang menatap malas pada anggotanya yang sangat konyol itu.

"Elo semua pada diam. Gue mau ngasih tahu sesuatu ke Hinata." Sebuah nada datar dari Gaara menghentikan keributan Kiba dan Naruto yang misuh-misuh gak jelas.

Mendengar namanya disebut, Hinata mengalihkan pandangannya ke arah Gaara. Sekarang apa lagi?

"Gue mau elo besok ikut kita-kita ngamen!"

Gadis itu tersentak.

Hah?

Nga-ngamen?

Demi apa, ngamen?

Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya tanda tak mengerti.

"Gue emang bilang bakalan ngejamin elo di sini, tapi untuk urusan uang, sorry, gue gak bisa ikutan ngejamin!" ucap Gaara seakan mengerti arti kerjapan mata Hinata.

Gadis itu membelalak. Ia tidak bisa berkata-kata karena ia memang tidak mungkin meminta dijamin keuangannya pada Gaara. Oh, kenapa Hinata baru memikirkannya sekarang? Kenapa dia begitu bodoh hingga menganggap semua makanan yang dia makan itu gratis?

Bodoh bodoh bodoh!

"Ta-tapi, ke-kenapa harus ngamen?"

Oh, seumur hidup, Hinata tidak pernah berpikir akan menyanyikan lagu dari satu tempat ke tempat lain. Dia sama sekali tidak pernah bercita-cita jadi pengamen!

"Karena kita gak nemu cara lain untuk nyari uang," sahut Gaara datar, "yah, kecuali kalau elo punya keahlian lain yang bisa ngebantu elo buat dapat uang!"

Keahlian lain? Apa dia punya?

"Jadi, apa elo punya keahlian lain, eh?" Sasuke bertanya.

Hinata menggeleng. Dalam hati dia merutuki dirinya yang tidak bisa apa-apa.

"Kalau gitu, mau gak mau, besok elo harus ikut kita-kita!" Gaara berbicara tegas. "Emang lo mau pakai baju itu tiap hari? Elo belum punya tujuan juga, 'kan? Jadi mending lo ikutin aja kata-kata gue!"

Gadis itu menelan ludah dengan terpaksa, lalu mengangguk. Lagi-lagi, sepertinya dia tidak punya pilihan.

.

.

TBC

.

.

A/N: Maaf telat update-nya. Salahkan Aoi yang lama ngebuatnya, oke? :P

Kalau ada yang ngerasa chap ini beda sama chap kemarin, yang bikin chap kemarin itu Kuro.

Yup, emang akun ini punya dua orang dan bisa dibilang fanfic ini fanfic bersama…

Tapi, siapa yang update chap depan, kita berdua masih gak tau sih….

So, keep stay tune aja, oke?

.

~TnD~