.

.

Disclaimer:

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Warning:

AU, OOC, Typo(s), terdapat kata-kata kasar, yang pasti masih jauh dari sempurna

Big Thanks to:

Anne Garbo dan sasunata chan

.

Enjoy!

.

.

Suatu kesalahan terbesar yang Hinata lakukan adalah ia tidak pernah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan ia terima setelah memutuskan menginjakkan kaki ke jalanan. Menjadi pengamen bukan opsi yang sempat ia pikirkan. Ngamen? Definisi pengamen baginya adalah bernyanyi sambil pegang kecek-kecek di depan orang. Nanyi? Di depan orang?

'Duak'

"Ouch."

Gadis itu mengerang kesakitan saat tanpa sadar ia menghempaskan tubuhnya. Pemikiran tentang pengamen ini membuatnya lupa kalau sekarang ia tidak sedang duduk di sebuah ranjang empuk yang biasa ia tempati. Sekarang ia hanya duduk di atas sebuah karpet beralaskan sarung dengan bantal tipis, hampir tidak ada kapuknya sama sekali. Ia mengelus kepalanya yang sakit. O, mungkin saja dia akan benar-benar terkena amnesia. Mungkin ini merupakan balasan dari Tuhan atas segala kebohongannya.

Hinata mendesah entah sudah untuk keberapa kalinya semenjak ia memasuki satu-satunya kamar di rumah kecil itu. Gadis itu sudah berkali-kali mengubah posisinya dari tidur-duduk-berdiri-tidur-duduk-berdiri sudah seperti sedang mengikuti pemanasan sebelum olahraga. Ia mencoba menutup matanya berharap sang peri tidur akan menghampirinya dan menyebarkan serbuk tidur pada kedua manik peraknya. Namun, yang menghampirinya bukannya peri tidur melainkan sosok para makhluk mars yang tersenyum psycho seperti ingin menerkamnya.

Gadis itu kembali mendesah, keparanoidan ini serasa ingin membunuhnya. Tapi, siapa coba yang gak bakal khawatir dengan makhluk-makhlu mars itu? Cover mereka aja udah nakutin, udah gitu insiden makan malam tadi membuat Hinata semakin takut kalau-kalau salah satu makhluk mars itu akan mendatanginya dan memukul kepalanya. Tidak.. Tidak.. Setidaknya hinata harus survei malam ini. Ia harus membuktikan sendiri kata-kata mereka.

Hinata duduk sambil menatap keluar satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Gadis itu tersenyum setelah menemukan bintang paling terang di antara beribu-ribu bintang yang menghiasi malam. Kemudian tetes demi tetes air mata mulai bergulir membasahi wajahnya.

"Ibu, maafkan aku," ucap gadis itu lirih sambil menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya.

Ia selalu seperti ini menangis pada bintang yang ia anggap sebagai ibunya. Ia akan teringat perubahan besar yang terjadi setelah kepergian ibunya. Tidak ada lagi yang menyatukan mereka dalam satu meja makan atau sekedar berlibur bersama. Ayahnya menjadi lebih kaku dan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sedangkan adiknya dan dia sendiri disibukkan oleh kegiatan yang sudah diatur oleh ayahnya. Menyedihkan. Tak ada lagi keluarga harmonis seperti dalam kisah-kisah kecil yang diceritakan gurunya sewaktu SD.

Panggilan alam menyadarkan Hinata dan memaksanya beranjak dari tempat yang telah menjadi spot galaunya. Dengan langkah perlahan gadis itu menuju pintu kamarnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar tersebut. Tangannya menggantung perlahan menuju kenop pintu. Perasaan takut mulai merasukinya. Ia menghela napas sejenak dan dengan perlahan memutar kenop pintu.

Dan, pintu terbuka. Yang pertama kali ia lihat makhluk-makhluk mars yang bergelentangan tidur di lantai beralaskan karpet. Sasuke, Shikamaru, Naruto, Kiba, … tapi dimana Gaara?

"Elo belum tidur?"

"Kya..hmmpp―" Spontan Hinata berteriak kala dirasakan tepukan pelan di bahunya dan suara datar dari sesosok makhluk berambut merah dengan mata hijau menyala ditambah lingkar hitam yang menyeramkan. Ha-hantu?

"Hey, elo mau membangunkan yang lain?" ucap sosok itu yang sebenarnya adalah Gaara sambil membekap mulut Hinata. Jantung Hinata berdebar melihat tangan yang melingkar di lehernya. Punggungnya terasa panas karena adanya tubuh lain yang menempel pada punggungnya. Yah, tanpa sadar Gaara memeluk Hinata dari belakang.

Hinata memberontak sedikit membuat Gaara sadar dan melepaskan pelukannya.

"A-ano… a-aku mau ke WC," ucap gadis itu terburu-buru dengan rona merah memenuhi wajahnya.

Setelah keluar dari WC, Hinata masih melihat Gaara yang terjaga di depan pintunya sambil membaca buku. Sedikit rasa penasaran menyeruak. Mengapa pria itu masih terjaga dan di depan pintu kamarnya pula? Gadis itu perlahan mendekati sosok yang berjanji akan menjaminnya itu.

"Insomnia?" Pundak gadis itu meremang ketika pria itu tiba-tiba berbicara. Tangannya yang sudah menyentuh kenop pintu terhenti, lalu ia menghadap Gaara.

"Eh? A-ano.. A-aku.. Kenapa kau belum tidur?" Bukannya menjawab, Hinata malah balik bertanya. Gaara meliriknya dengan tatapan datarnya. Spontan Hinata menunduk takut.

"Insomnia. Elo?" jawab Gaara singkat.

"A-aku.. Aku.." Hinata menggaruk kepalanya yang tidak gatal bingung mau menjawab apa. Gak mungkin kan dia bilang kalau dia mau survei malam ini memastikan keselamatan jiwa dan raganya?

"Elo takut kita apa-apain? Udah gue bilang gue bakal ngejamin keselamatan elo. Elo tidur aja gue jagain elo dari sini." Gaara kembali menatap buku yang ia pegang.

Sederetan kalimat dari Gaara membuat Hinata tersenyum tipis. Pria itu begitu menyeramkan tapi ternyata hatinya begitu baik. Gadis itu memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan mata hingga akhirnya tenggelam menuju alam mimpi.


"Terima kasih, Tenten. Sekarang giliran Hinata Hyuuga silahkan maju ke depan kelas."

Gadis mungil berambut pendek itu tertegun begitu mendengar namanya disebut. Ia meneguk ludahnya dengan paksa. Perutnya serasa diaduk-aduk, keringat mengalir dari pelipisnya. Getaran di tangan dan kakinya mulai terasa. Gadis kecil yang memakai rok terusan berwarna putih itu perlahan berdiri dari kursinya. Dengan langkah berat ia berjalan menuju depan kelasnya. Gadis itu menunduk dalam sambil tangannya memainkan ujung roknya. Waktu bergulir begitu lambat dalam pikirannya. Suara bisik-bisik teman-temannya mengusik telinga makin menciutkan nyalinya yang hanya sebesar upil. Hingga gadis itu sampai di depan kelas ia sama sekali tidak menunjukkan wajahnya.

"Yak, Hinata silakan mulai."

Teguran sensei seperti alarm menuju kematian bagi Hinata. Tubuhnya makin bergerak gelisah. Tapi, ia tidak mungkin hanya diam. Gadis itu memejamkan matanya dan mulai membuka mulutnya. Satu bait dan…..

"Huuuu..." Seruan dari teman-teman sekelanya menggema dan menggaung di gendang telinganya.

Gadis cilik itu menengadahkan kepala dan melihat teman-temanya perlahan menjadi sosok monster bergigi taring menyeramkan. Matanya mulai berkunang-kunang dan ia berlari sekuat tenaga menuju pintu kelasnya. Saat membuka pintu kelas semuanya begitu gelap dari balik pintu itu. Hinata mengedarkan pandangannya ke sekitar, hanya hitam dan gelap seperti ia telah memasuki black hole.

Gadis itu mondar-mandir dengan keadaan panik. Hingga ia menemukan sebuah titik cahaya. Merasa cahaya itu pintu keluar, gadis itu berlari sekencang-kencangnya menuju titik itu. Sebuah bangunan samar-samat mulai terlihat dalam titik itu. gadis itu sampai di depan sebuah rumah kecil. Ia menundukkan tubuhnya sesaat untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Sedikit ragu, gadis itu mendekati pintu rumah itu. Jantungnya berdetak begitu cepat entah karena panik, takut, atau lelah. Mungkin semua bercampur jadi satu. Tangan gadis itu yang bergetar perlahan naik menuju kenop pintu. Dan….

"Kau harus jadi pengamen!"

"KYAAA!" Gadis itu berteriak ketika sosok pria berambut merah membuka pintu itu. Seketika rumah itu menghilang dan semua menjadi gelap lagi. Hinata terduduk dan memutar kepalanya dengan iris perak yang terlihat panik. Sebuah kepala dengan rambut kuning mulai muncul diikuti kepala lainnya dari kepala berambut seperti pantat ayam, kepala berambut nanas, kepala berambut merah dan kepala berambut spiky hitam menggumamkan kata 'pengamen' berulang-ulang. Kepala-kepala itu berputar-putar terkadang mendekati kepalanya. Hinata ikut berputar-putar bingung, panik, takut. Hingga tiba-tiba tempat kakinya berpijak membentuk lubang arus air dan menariknya ke dalam.

"Tidakk.. Tiidakk... TIDAK!"

"Oi.. Oi.. Bangun woy udah pagi!"

"Ngapain sih lo teriak-teriak kayak orang gila?"

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata terpejam, merasakan percikan air di wajahnya. Gadis itu perlahan membuka matanya dan spontan menarik sarung menutupi bagian depan tubuhnya menuju dinding begitu melihat pemandangan di depannya. Naruto dan Kiba sedang mengamatinya sambil memegang gelas berisi air.

"A-apa yang ka-kalian lakukan?" Gadis menatap kedua pria di depannya horor membuat kedua pria itu mendesah. Perlahan mereka berdiri lalu berkacak pinggang.

"Menurut lo?" Naruto mengusap-usap kedua tangannya dengan seringaian rubah andalannya dan perlahan mendekati Hinata.

Gadis itu membuka sedikit sarungnya dan menutupnya kembali. Bajunya lengkap kok.

"Ya, menurut lo?" Kiba sama saja perlahan mendekati Hinata dengan seringai khasnya, jari-jarinya bergerak seperti ingin menerkam Hinata. Gadis itu makin merapatkan tubuhnya pada dinding, meringkuk ketakutan, matanya terpejam dengan eratnya.

Tuhan, seandainya Engkau mendengarkan apa yang kukatakan kumohon setelah kepergianku pertemukanlah ayah dengan istri baru supaya ada yang mengurusinya, semoga Hanabi gak jadi perawan tua karena sikapnya yang galak ampun-ampun, semoga ayah memaafkanku Tuhan. Begitu Hinata memanjatkan doa dalam hatinya.

'PLAK.. PLAK..'

"OUUCCHH…." Kedua pria itu berteriak kala merasakan panas di kepalanya.

"Mengganggu Hinata lagi, eh?" Suara seorang wanita merasuki telinga ketiganya spontan membuat Hinata mendongak dan kedua pria itu membalikkan badannya. Rasanya Hinata ingin sekali berderai air mata melihat sosok wanita berambut pink itu, di matanya saat ini dia layaknya bidadari yang turun dari khayangan.

Hinata mengelus dadanya yang berdebar kencang. Ia tidak tahu, akan bertahan berapa lama jantungnya jika setiap pagi dikejutkan oleh keadaan-keadaan aneh ini. Mungkin saja suatu saat ia akan mati seketika. Gadis itu merinding memikirkannya.

"Hey, Hinata, ini gue bawain baju ganti punya gue, elo mandi gih katanya mau ngamen kan hari ini?"

Ngamen, ngamen, NGAMEN? Kata itu menggema lagi dalam otaknya. Cuplikan mimpi buruk yang ia dapat kembali berputar. Membuat gadis itu terpaku sesaat dengan wajah pucat. Dan pada akhirnya dengan langkah terseret berjalan menuju kamar mandi.


'Siiing..'

Semua kegiatan terhenti ketika Hinata keluar dari kamar mandi. Gadis itu tampak malu-malu menarik rok mininya yang tingginya sekitar 10 cm di atas lutut sehingga menampakkan pahanya yang putih. Dengan atasan tanpa lengan berwarna hitam bertuliskan 'I Love Punk' dengan gambar tengkorak di bawahnya. Atasan itu sangat ketat sehingga menampakkan lekuk tubuh Hinata yang bisa dibilang seksi dengan dada yang sedikit di atas rata-rata.

Sakura terpana melihat gadis di depannya. Sebelumnya gadis itu hanya memakai kaos longgar tapi sekarang…..

"Sial, dadanya," batin Sakura yang sedikit iri dengan pemandangan yang ada.

Mulut Naruto menganga melihat gadis di depannya. Matanya tidak bisa berkedip dan mie yang ada di mulutnya perlahan turun kembali ke tempatnya. Di sisi lain Kiba yang tadi lagi menyuapkan sendok ke mulutnya menjatuhkan sendok itu seketika. Pria bertato itu meneguk ludahnya dengan paksa. Sasuke masih dengan muka datarnya namun mata onyx-nya tidak berkedip melihat ke arah gadis di depannya yang berpose sungguh menggoda. Sedangkan pria berambut nanasnya sama terpakunya dengan Sasuke. Tanpa sadar Shikamaru menjatuhkan puntung rokoknya dan….

"Arggh..! Panas, Bego!" Sasuke menggeram merasakan bara dari rokok yang masih menyala itu. Dan sukses menyadarkan semua makhluk mars itu yang sangat terpesona dengan Hinata.

"A-ano Sakura gak ada baju yang lebih longgar lagi kah? Ini se-sesak." Hinata masih menarik-narik baju dan roknya dengan muka memerah.

"Sudaaaah… elo pake itu aja. Gak usah cerewet deh," sahut Naruto dengan mata berbinar-binar yang dengan sukses mendapat tatapan jijik dari makhluk-makhluk sejenisnya.

"Oi… Masih lama?" pertanyaan datar keluar dari mulut seorang pria berambut merah dari balik pintu depan. Pria itu memegang beberapa gitar okulele dan sebuah lap.

Mendengar suara datar itu Hinata makin menundukkan kepalanya malu. Naruto mengedikkan bahunya ke arah Hinata dan mengedipkan salah satu matanya ke arah Gaara. Apa Naruto seorang biseksual? Bukan, dia hanya ingin menggoda Gaara. Namun, sayangnya Gaara tidak terpengaruh hanya menatap sekilas Hinata dan jalan ke luar. Para makhluk mars itu segera menyelesaikan sarapan mereka hendak menyusul leader mereka; Gaara.

"Hihata, ehlo jugha cephat makhan nanhti kehtinggahlan." Sakura melemparkan nasi bungkus ke arah Hinata. Mendengar itu walaupun masih canggung dengan kostum yang ia gunakan Hinata segera melahap sarapannya.


Mata Hinata berputar-putar sepanjang jalan mendengar segala penjelasan dari Naruto. Mulai dari tempat mana yang boleh mereka datangi, ini wilayah siapa, itu wilayah siapa, kalau ada polisi harus bagaimana, kalau ada preman bagaimana, harus menghindar dari siapa. Seolah-olah Naruto sedang membaca satu buku berisi 'undang-undang dasar pengamen dan anak punk'. Begitu banyak peraturan yang mesti ditaati. Hinata mendesah bahkan ia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Naruto sedari tadi. Dan apa itu?

"Kyaaa… Naruto!"

"Sasuke-san... Kyaaaaa… rambutnya!"

"Gaara liat sini dong… Sangar-sangar caem deh.."

"Shikamaru cool abis deh.. Kyaaa…."

"Kyaa…. keren banget cengirannya Kiba."

Oke. Hinata memang sering mendengar obrolan teman-temannya kalau cowok-cowok bad boy itu yang paling diminati. Tapi makhluk-makhluk mars ini? Hinata melirik-lirik satu-persatu pria-pria berpakaian berantakan yang mengelilinginya. Emang keren semua sih. Hinata memainkan kedua jarinya dengan bibir manyun merasa dikalahkan oleh kenyataan. Tapi, jika Hinata berpikir positif kapan lagi dia dikelilingin cowok-cowok yang menjadi sorakan para wanita. Gadis itu terkekeh.

Setelah melewati perumahan kumuh yang penuh dengan rumah kardus dan jalanan tanah yang penuh kerikil akhirnya Hinata dan makhluk mars itu sampai di depan jalan raya tepat dekat lampu merah. Mata Hinata mulai menggelap melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Haruskah dia….

"Nah, Hinata, elo pegang ini aja gak usah nyanyi." Naruto memberikan bekas minuman gelas kepada Hinata.

"Kecek-keceknya?"

Hening. Hanya suara deru kendaraan dan suara orang-orang yang berbicara samar.

"GYAHAHAHA.." Pertanyaan polos Hinata spontan memecahkan tawa Naruto dan Kiba diikuti dengan kekehan dari Shikamaru dan tetap muka datar Gaara dan Sasuke. Hinata menggaruk kepalanya bingung, apa ada yang salah dengan pertanyaannya?

"Hinaaattaaa... Kita itu anak PUNK. Elo sangka banci apa ngamen pake' kecek-kecek," ucap Kiba lantang dengan penekanan di kata 'PUNK'. Sedikit mendapatkan perhatian dari para banci yang juga lagi ngamen di wilayah itu.

"Ma-ma-af." Gadis itu menunduk dalam dengan wajah ketakutan. 'Tuhan, tolong aku,' gumam gadis itu dalam hati.

Shikamaru, Gaara dan Sasuke hanya bisa geleng-geleng.

"Hinata elo gak usah nyanyi nanti." Gaara membuka suaranya. Membuat Hinata mengalihkan pandangannya pada pria itu.

"Pfftd…. Iya elo gak usah nyanyi. Gue yakin elo juga gak bakal bisa ngikutin nyanyian kita. Mending elo joget aja deh," ucap Naruto yang malah mendapat tatapan horor dari Hinata dan mendapat anggukan dari Kiba dan Shikamaru.

Jo-joget? Jo-joget? Ini bahkan lebih parah daripada nyanyi sambil pegang kecek-kecek!

"Ta-tapi…."

"Udah elo gak usah ngebantah. Elo mau duit, 'kan?"

Hinata membelalakkan matanya lalu mengangguk lemah mendengar ucapan Sasuke yang pendiam tapi sekali ngomong kayak racun ikan buntal.

"Lagi pula elo kan gagap gimana bisa nyanyi," sambung Shikamaru yang sama racunnya mulutnya kayak Sasuke.

Hinata hanya bisa pasrah dan mengkuti semua perkataan makhluk-makhluk mars tersebut. Demi kelangsungan hidupnya baik materi maupun nyawanya ia rela deh.

"Elo udah tahu kan kapan kita operasinya?" tanya Naruto yang dijawab dengan anggukan oleh Hinata.

Gadis itu mengepalkan tangannya, memantapkan jiwa dan raganya. Seperti kata pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Tapi….

'Syuuung.. syuung..'

Melihat kendaraan yang bergerak sangat cepat tanpa henti membuat Hinata bergidik ngeri. Bagaimana pas lampu merah nyala ada yang melanggar lampu merah itu dan tanpa sengaja menabrak Hinata? Arggh.. Hinata paranoid!

Lampu merah pun menyala, Hinata masih terpaku di ujung zebra cross. Rekan-rekannya sudah mulai menghampiri sebuah mobil.

"Hinata! Sini!" teriak Naruto memanggil Hinata. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya. Namun dia terlambat lampu merah telah berganti lampu hijau. Klakson mulai dibunyikan membuat Hinata menjadi ketakutan langsung berlari namun ternyata ada mobil dari kejauhan yang melaju sangat kencang. Hinata menutup kupingnya. Dia akan mati.

'Grab.'

Hinata masih menutup matanya dengan erat. Perlahan matanya membuka. Gadis itu pikir dia akan melihat terowongan yang serba putih namun nyatanya dia yang dia lihat adalah kain berwarna merah. Hinata menengadahkan kepalanya dan melihat sebuah lingkar mata hitam dengan hijau di tengahnya. Hinata menutup mulutnya dan segera menjauhkan tubuhnya dari Gaara. Untuk kedua kalinya Hinata dipeluk oleh Gaara. Wajah gadis itu berangsur memerah.

"Elo mau mati apa? Liat-liat dong kalau jalan." Gaara berteriak membuat Hinata bergidik ngeri dan mengeluarkan air mata. Tubuh Hinata bergetar, ia ketakutan. Bagaimana tidak, diteriaki oleh orang yang selalu bernada datar dan berwajah seram, siapa yang ditakut? Naruto, Kiba, Shikamaru dan Sasuke hanya terdiam menatap kejadian itu.

"Pegangan." Gaara mengulurkan tangannya pada Hinata. Lama Hinata baru menyambut tangan itu. Dan kegiatan mereka pun dimulai kembali dengan Hinata yang digandeng oleh Gaara layaknya ayah yang takut anaknya hilang.

Kiba dan Naruto tersenyum melihat dua pasang manusia berbeda gender itu. Sepertinya sebentar lagi akan ada kejadian seru, pikir mereka.

Sementara Hinata wajahnya betul-betul memerah merasakan hawa panas lain pada tangannya. Namun beruntung bagi para makhluk mars itu Hinata yang memerah dengan pakaian seksi itu mendapat sambutan hangat bagi orang-orang. Walaupun terkadang ada yang mau menggoda tapi langsung terdiam begitu melihat tatapan tajam dari Gaara. Hasilnya mereka mendapatkan uang yang lumayan banyak dari biasanya.

Dalam perjalanan pulang Hinata bernapas lega mengingat bahwa mereka ternyata tidak memaksa Hinata untuk joget setelah melihat goyang robot Hinata. Dan Hinata rasanya ingin tertawa jika mengingat lagu-lagu yang dinyanyikan oleh makhluk-makhluk mars itu. Katanya anak punk tapi malah nyanyi lagu sepiring berdua, gadis atau janda, mabuk janda, dan lagu dangdut lainnya.

.

TBC

.

Sekali lagi salahkan Aoi yang lama banget nulisnya, oke?

Ini seratus persen kerjaannya dia.

Thanks for reading!

~TnD~