Park Chanyeol adalah sosok yang sulit ditebak. Sorot matanya kadang menggambarkan kerinduan yang begitu mendalam hingga mampu membawa ribuan kenangan itu dalam tiap rintik embun pada kaca jendela. Meski begitu sosoknya tetap terlihat gagah dan mapan, menipu banyak orang. Bertahan dengan sangat kuat meski hampir roboh.

Park Chanyeol adalah gambaran nyata kerapuhan dandelion yang bersembunyi dibalik raga sang Zeus.

Ia seolah memiliki dua dunia dalam satu kepalanya. Masa lalu dan masa sekarang. Bayang-bayang gelap dari masa lalu tidak bisa lepas dari balik sorot matanya. Aku lebih sering melihatnya melamun saat aku sendiri sibuk dengan cerita ini.

Seberapa lama ia menyimpan ini seorang diri?

Orang-orang yang dulu menjadi bagian ceritanya seolah memilih jalan masing-masing. Membawa bekas luka yang mendarah daging dan terus bernanah. Mereka hanya ingin menanggungnya. Mereka hanya ingin mendapati hukuman untuk diri sendiri.

Keindahan dunia tidak bisa lagi ditemukan pada dirinya. Park Chanyeol seperti jasad tak bernyawa. Tubuhnya ada disini, namun ruh nya masih melayang di beberapa tahun lalu.

Seorang Oh Sehun yang tidak pernah ku tau wujudnya mampu membuat pria segagah ini redup. Menghilang dibalik kemilau dirinya yang sekarang entah dimana. Aku merenung. Membayangkan seberapa mengerikan kondisi Kim Jongin. Yang tak mencintai saja sepatah ini, apalagi yang mencintai. Mungkin kehancurannya pun tak berani ia pantulkan dalam cermin. Penyesalan dan rasa bersalah yang akan nampak.

Mungkin.

Buku kusam bersampul coklat kayu itu selalu setia berada di samping laptop ku sejak berhari-hari lalu. Ia dan Park Chanyeol akan bergantian bercerita. Ia yang menceritakan bagian Oh Sehun. Rasa sakitnya dan kekecewaan yang Sehun alami. Buku harian Oh Sehun dengan sampul coklat kayu yang kusam, namun tetap seindah dirinya. Aku semakin ingin bertemu. Melihat bagaimana kulit putih, hidung mancung, tubuh tinggi dan rambut pirang yang digambarkan Chanyeol.

Segelas kopi sudah mendingin. Udara di luar masih sejuk sehabis hujan. Sore mulai meninggi hingga kini pegawai kantoran yang terlihat memenuhi jalan. Aku setuju pada Sehun. Yang mereka jalani hanya itu-itu saja. Tidak menarik. Pria setampan Chanyeol lebih menarik. Aku masih saja mengaguminya. Jika teman-teman ku tau bahwa hampir setiap hari aku bersama seorang pria tampan, aku akan jadi berita besar di grup chat para alumni.

Dasar!

Aku menggeleng. Seharusnya aku lebih fokus pada pekerjaanku sekarang. Masih ada berlembar-lembar tulisan Sehun yang minta diketikkan. Aku berhenti sebentar, meminum bubble tea untuk melegakan tenggorokan. Aku jadi penasaran pada rasanya setelah tau betapa sukanya Sehun pada minuman ini. Bubble tea memang sangat enak.

Kulirik Chanyeol. Wajahnya menyamping, memandang keluar jendela. Anak kecil yang baru bisa berjalan menjadi sumber tawanya. Kekehan halusnya menggetarkan. Aku bergidik. Ia terlihat sangat tampan dari samping, dengan senyuman.

"Aku terkejut karena ada beberapa lembar yang sobek disini" aku membuka buku harian, mengambil perhatiannya. Ia menoleh, mendapatiku sedang menelusuri bagian sobek yang kubilang tadi. "Kau menyobek ini?" Aku tidak menuduh, hanya mencari topik pembicaraan.

Chanyeol menggeleng, "Sehun meninggalkan buku hariannya agar siapapun tau perasaannya. Dan sengaja merobek beberapa bagian"

"Kenapa?"

"Beberapa hal memang harus disimpan sebagai pertimbangan. Sehun tidak ingin kami menyesal lebih dari ini"

Aku hanya lulusan SMA. Perkataan Chanyeol kadang sangat lambat masuk ke otakku. Ia berbelit. Namun anehnya aku dapat memahami semua itu. Jika orang lain bertanya padaku apa maksudnya, maka aku tidak bisa menjabarkan, tapi aku tau dengan pasti selipan arti yang ia sisipkan.

"Apa yang terjadi setelah hari itu?"

Chanyeol kembali menoleh padaku, membuatku jatuh cinta berkali-kali pada parasnya.

"Sehun tidak kembali ke sekolah beberapa hari" suaranya bahkan selalu mampu membuat sekujur tubuhku meremang.

"Dan Jongin?"

"Bersikap seolah Sehun tidak pernah ada"

Gambaran yang jelas seolah berputar di depan mataku. Bagaimana seorang Kim Jongin mengabaikan hal yang telah terjadi dan menjalani harinya seperti biasa. Sedangkan disisi lain, kekosongan itu mengikisnya hingga lumpuh.

Kembali ku sentuh ujung buku bersampul coklat kayu itu. Sebuah buku yang membuatku mengerti bagaimana cinta bisa membungkam kejujuran seorang Oh Sehun.

Aku memandang layar laptop. Sudah puluhan halaman yang kuhabiskan untuk seorang Oh Sehun. Aku iri pada pria itu. Ia diberkahi oleh pria tampan. Ia diberkahi kasih sayang. Hanya saja, tidak mudah untuk menikmati berkah itu. Batunya sangat banyak.

"Hanya tersisa beberapa halaman lagi" aku membuka lembaran buku harian. Setiap ceritanya memilki tanggal. Dan hanya tersisa dua tanggal lagi sebelum kisah ini benar-benar berakhir pada sisi Oh Sehun.

"Memang hampir berakhir"

Aku hampir merengek. Bertemu Park Chanyeol adalah anugerah. Kami bertemu untuk satu cerita. Jika cerita ini berakhir, pertemuan kami juga akan berakhir. Tapi setitik lega itu ada, aku lelah menangisi orang-orang ini. Menulis mereka menguras tenaga dan pikiran. Kadang aku menangis di depan Park Chanyeol. Hanya terbawa suasana.

"Jadi akhir seperti apa yang sudah kau rencanakan?"

Hening.

Aku membiarkan Chanyeol kembali membuang pandangan nya pada jendela. Yang ku tau ia memang suka memperhatikan sekitar. Manusia yang berlalu lalang, angin yang menggerakkan daun, bunga yang terkurung dalam rumah kaca atau sekedar cipratan air bekas hujan yang diinjak oleh para anak-anak. Ia penikmat semua itu.

Park Chanyeol pernah mengatakan padaku bahwa setiap akhir dari bagian film tak selalu sesuai dengan seleranya. Ia tidak suka akhir yang begitu-begitu saja, yang sudah bisa ia tebak bahkan sejak pertama film diputar. Ia ingin akhir yang berbeda, andai ia yang menulis cerita pada film itu. Aku sedikit bisa menebak isi kepalanya pada cerita ini.

"Dari semua kata yang ku tau didunia ini, hanya satu kata yang sangat kusukai" Chanyeol berucap tanpa menatapku. Ia mengalihkan keresahan itu, malu jika singgungan kami menampakkan kerapuhannya lagi. "Akhir yang bahagia"

Seperti yang kuduga. Ia memilih akhir yang membosankan.

.

.

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

.

.

.

Last To Begin

.

Retakan itu menghilang

.

.

Pengakuan itu diterima

.

.

Semuanya semu..

.

.

.

(BGM : Punch ft. Loco - Say Yes)

Sehun kembali mengecek tiketnya, memastikan bahwa benar setengah jam lagi keretanya akan berangkat. Stasiun bising oleh dengungan pengeras suara atau obrolan para penumpang. Kereta yang baru saja tiba menambah lagi kebisingan.

Sehun memilih sibuk dengan ponsel ketika kepalanya yang menunduk tidak sengaja membentur bahu seseorang. Ia termundur selangkah, mengangkat kepala dan membulatkan mulut kemudian.

"Oh, goblin hyung" serunya.

Yang di panggil tak merasa terganggu. Telinganya sudah terbiasa mendengar goblin. Beberapa anak perempuan yang ia lewati kadang lebih heboh menyerukan nama itu.

"Oho, hyung membolos kerja?" Tuding Sehun, tiketnya ia simpan pada kantong celana.

Kris mengangkat sebelah alis, ikut menuding Sehun dengan tatapannya. "Dan kau membolos sekolah?"

Sehun bergedik acuh, "aku sudah meminta ijin pada pihak sekolah"

"Kau akan pergi?"

Sehun mengangguk. Kris terlihat memperhatikam sekitar. Sehun bukan orang bodoh untuk tak melihat beberapa orang berjas formal lain disekitar mereka yang pergi berpencar setelah Kris mengangguk singkat. Ia hanya masih bodoh untuk mengira siapa kiranya Kris Wu.

"Kemana?"

"Busan"

Giliran Kris yang mengangguk. "Aku harus ke toilet"

Sehun tidak ambil pusing. Ia memilih duduk untuk menunggu kereta datang. Tidak berapa lama sampai suara bising itu tiba. Penumpang bergerombol di depan pintu, bergantian masuk dengan penumpang lain yang baru saja tiba.

Sehun mendesah lega ketika pantatnya mendarat dikursi empuk kereta. Perjalanan ke Busan akan cukup panjang. Seorang pria tua mengambil tempat disampingnya, Sehun mendesah lagi. Dan ini akan sangat membosankan.

Sehun menutup mata, mencoba tidur saat kereta mulai melaju. Bayangan kejadian kemarin kembali membayang. Ia terjaga.

Setelah kejadian di club, Sehun kembali memilih memberikan keterangan palsu pada sekolah tentang kondisinya. Ia membolos dengan alasan sakit. Pikirannya kacau. Bayangan tentang Jongin yang semakin menjauh membuatnya merana. Ia yang menginginkan hal tersebut, namun ia sendiri tidak rela.

Satu hari penuh ia habiskan untuk memaki Jongin. Kadang Yixing menendang pintu kamar saat suara makiannya terdengar sampai pelataran rumah. Dan hari ini ia sudah membulatkan tekad untuk kembali ke Busan, menemui ibunya. Meski-

"Apa hobimu melamun?"

Sehun menoleh dengan cepat dan menemukan Kris Wu sudah duduk nyaman di sampingnya.

"Hyung?" Kepalanya berputar, mencari kemana perginya pria tua yang tadi duduk di sampingnya. "Kau mengusir ahjussi yang duduk disini?"

"Untuk apa aku melalukan itu? Ini memang tempat dudukku"

Sehun mencibir, "Hyung juga akan pergi?"

"Hm. Busan"

Sehun kembali menoleh. Sosok Kris bersinar terbias cahaya pagi matahari. Irisnya mengkilap. Indah. Sehun terpaku untuk beberap detik lamanya. Ia menyadari beberapa hal sekarang. Otak pintarnya berfungsi.

Kris Wu hanya seseorang yang tidak sengaja ia temui-ah, Kris yang menemukannya. Kris selalu bisa menemukan kesendirian Sehun. Saat ia lelah untuk berharap pada orang lain, sosok itu selalu datang. Bukan untuk sebuah harapan, melainkan sandaran atas harapan-harapan yang tak terjangkau.

Kris Wu memang sosok pelindungnya secara tidak langsung. Ia datang di waktu yang selalu tepat. Entah semua itu hanya kebetulan atau tidak, Sehun nyatanya merasa nyaman. Ia tau beberapa hal memang di sengaja. Tapi ia menikmatinya.

Perjalanan ke Busan tidak lagi membosankan. Mereka bicara sampai kelelahan dan tertidur. Pemandangan abstrak di balik jendela menjadi background yang indah siang itu.

Dalam hari-hari ku yang rumit.

Aku berusaha untuk berpikir, setiap jam

Kini aku akhirnya sadar

Semuanya pergi dan hanya kau yang tetap ada...

.

.

.

Perjalanan yang cukup panjang membuat Sehun tertidur entah berapa lama. Saat terbangun, kereta hanya harus melewati satu stasiun lagi sebelum tiba di Busan.

Walaupun senang mendominasi, namun bayang-bayang hal lalu mengikuti dan membuat Sehun gugup. Busan memiliki bagian yang cukup panjang dalam ceritanya. Kenangan pahit yang sulit di hapus. Dan kebahagiaan yang mematikan.

Sehun melirik Kris yang masih terlelap di samping tubuhnya. Pria itu tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Berinisiatif, Sehun membenarkan letak jas yang menyelimuti tubuh Kris dan menggeser kepala yang lebih tua untuk bersandar di bahunya.

Sehun yakin Kris memiliki waktu yang padat untuk semua pekerjaannya. Wajah lelah itu tidak menghilang bahkan saat ia tertidur. Mereka hanya berbeda usia tiga tahun. Karena pekerjaan, Kris terlihat sangat dewasa dan mapan di usianya. Sehun jadi berfikir mengenai Chanyeol. Hyung nya itu apakah akan terlihat segagah ini ketika perusahaan Park Manufacturing telah sepenuhnya miliknya.

Kris menggeliat, merasa tidak nyaman dengan posisi tidur duduknya. Sehun tersenyum. Ia selalu merasa diberkati dengan dikelilingi pria-pria tampan sepanjang masa sekolah terakhirnya. Selama ini pria tertampan yang pernah ia temui hanya Park Chanyeol. Sehun jatuh cinta pada paras keturunan Park itu.

Keluarga Wu ternyata juga memikiki keturunan yang tidak biasa dengan paras. Sehun seperti bebek di samping dua keluarga ini.

Kereta akhirnya berhenti. Sehun menengok melalui jendela. Busan dengan sangat besar tertulis diatas kepala para pejalan kaki. Kris tersentak dari tidurnya saat bahu Sehun bergerak.

"Eh? Kau bangun hyung? Maafkan aku"

Kris menengok ke jendela kereta dan merenggangkan tubuhnya kemudian. Kepalanya menggeleng menyahuti Sehun.

"Tidak apa-apa. Aku memang harus bangun" senyum seperti itu selalu berimbas pada mood Sehun.

"Ayo."

Kris melangkah di depan Sehun. Stasiun masih ramai di jam makan siang. Kris hanya membawa tas tangan kecil, sedangkan Sehun kerepotan dengan tas besar miliknya.

"Kau berlibur atau berniat pindah ke Busan?"

Sehun mendengus, "ini oleh-oleh untuk ibu dari gajih pertamaku"

"Good boy" tangan Kris terulur mengusak surai pirang itu. Sehun menghadiahinya cengiran lucu.

"Hyung akan menginap dimana?"

"Aku..." Kris menoleh beberapa kali ke sembarang arah sambil menggaruk tengkuknya, "...tidak memiliki rencana"

Terdiam beberapa detik sebelum Sehun mengambil langkah lembar meninggalkan Kris dengan wajah datar andalannya.

Kris mengejar. "Sehun-ah~~" Sehun tersedak mendengar suara Kris yang dibuat-buat, "Oh Sehuuunn~~"

"Rumahku sempit" langkahnya semakin cepat. Sudah cukup melihat wajah Kris hampir sepanjang hari ini, Sehun tidak bisa mengajak Kris menginap di rumahnya jika ia saja masih tinggal di rumah yang dulu.

"Ibu?"

Wanita berumur diatas tiga puluh lima tahun itu tersenyum menenangkan. Tidak ada tanda penuaan sama sekali di sela wajahnya. Bibir tipis itu masih sesegar mawar merah. Kulit pipinya merona dengan hidung kecil mancung yang diturunkan pada Sehun.

"Sehunie"

Seperti kilasan sebuah film, Sehun kecil berdiri diantara puluhan pejalan kaki, menangis di depan ibunya. Memanggil nama itu berkali-kali seolah tidak ada hari esok. Menyuarakan kerinduan.

Sehun berusia delapan tahun memeluk ibunya. Tangan kecilnya melingkar di pinggang sang ibu. Ia rindu. Hanya itu.

"Ibu"

Kini ibunya yang menangis. Kerinduan yang sama berbaur dengan rasa sakit. Anak semata wayangnya tumbuh dengan baik. Tangan besarnya melingkupi hampir seluruh tubuh. Ia jauh lebih tinggi.

"Bogoshipeo"

.

.

.

Sehun masih berada dalam pelukan ibunya siang itu. Ia enggan melepas, takut akan benar-benar terlepas kembali. Sebuah sofa berwarna maroon menjadi saksi bisu kegiatan mengobrol mereka. Ibunya beberapa kali terlihat berkaca dan akhirnya menangis. Begitu banyak kisah yang ia lewatkan tentang Sehun.

Sehun sendiri hanya terus tersenyum, menyampaikan bahwa ia baik-baik saja. Cerita yang ia ungkap adalah cerita yang baik, cerita terbaik yang ia jalani selama ini. Mengabaikan bagaimana ia menggelandang di jalanan selama bertahun-tahun. Mengabaikan tujuan awalnya untuk merengek atas apa yang terjadi baru-baru ini.

Wajah bahagia sang ibu tidak ingin ia ganggu dengan penderitaannya selama ini. Cukup ia saja. Ibunya jangan. Sehun pun malu jika orang tau ia hanyalah seorang pria yang mengenaskan diluar sana.

"Lalu bagaimana kehidupanmu selama di panti? Nyonya Gong menjagamu dengan baik?"

Sehun ingin berlari saat pertanyaan itu akhirnya meluncur. Ia bangkit dan duduk di samping ibu. Wanita itu masih tak bosan mengusapi surai pirangnya.

"Panti sangat menyenangkan"

Ibu kembali akan bertanya ketika suara pintu terbuka mengalihkannya. Sehun diam-diam bernafas lega dan akan mentraktir Kris lagi lain kali. Ia hanya tidak ingin banyak berbohong pada pertemuan pertama nya dengan ibu.
"Aku mengganggu?" Pria itu tersenyum minta maaf dan duduk di samping Sehun dengan sekantong plastik cemilan.

"Aku seharusnya memasak untuk kalian" suara Ibu terdengar merasa bersalah.

"Tidak perlu repot bi" Kris berucap, Sehun mengangguki.

"Repot bagaimana? Memasak untuk anakku dan kekasihnya sangat tidak merepotkan" Ibu melirik pada Sehun yang melotot.

"Ibu! Dia bukan-"

"Wae? Sana, ajak dia jalan-jalan melihat kampung halamanmu"

Sehun hanya takut Kris merasa tidak nyaman. Selain itu, ia takut terlihat jelas. Seorang pria seperti Kris mungkin akan berlari ketika tahu teman duduknya di dalam kereta adalah gay.

Nyatanya Kris terkekeh melihat bagaimana mata sipit Sehun berusaha terbuka dan melotot pada ibu. Sehun sendiri tidak menyangka ibu akan menyerangnya dengan pernyataan seperti tadi. Kris tentu saja bukan kekasihnya.

Dia hanya goblin jangkung yang mengikuti Sehun kemana saja.

"Aku sangat ingin ke pantai" pelototan Sehun beralih pada Kris yang kini berdiri menjulang dengan tangan yang menarik tangannya. "Ayo!"

.

(BGM : Han Dong Geun - Wherever It Is)

Tempat tinggal Sehun berada di lantai tiga. Sedang lantai satu dan dua adalah club malam milik Sunny ahjumma. Sejak Sehun memilih tinggal di Seoul dan ibu keluar dari tahanan, Ibu memilih tinggal di club dan membantu Sunny ahjumma mengelola keuangan hasil dari club.

Sehun menahan senyum, Sunny akan memukulnya jika tau ia dipanggil ahjumma. Sejak dulu, wanita yang bersahabat dengan ibunya itu bersikeras untuk di panggil Nuna. Sehun sering mengabaikan dan tetap memanggilnya ahjumma.

"Mengerikan" suara Kris membuat Sehun menoleh. Mereka masih di jalan, pantai tinggal beberapa langkah lagi. Angin dingin dan aroma khasnya sudah terasa di sekujur tubuh Sehun. Di Seoul, ia hanya tau belajar. Libur adalah hari untuk bekerja paruh waktu. Ia tidak pernah menjejak pantai selama berada disana.

"Apanya?"

"Kau selalu berbicara sendiri, atau mengumpat sendiri dan sekarang tersenyum-senyum sendiri. Aku merasa ngeri. Apa di depanmu ada seseorang yang tidak bisa ku lihat?" Tangan panjang Kris menggapai-gapai udara di depan Sehun yang hanya memutar bola matanya. Sehun tidak tau bekerja di depan komputer terlalu banyak bisa membuat seseorang kekurangan IQ.

Ia ingin menanggapi, tapi terpaan angin membuatnya beralih. Pasir putih dan suara gelombang didepan sana seketika lebih menarik daripada ocehan tidak bermanfaat dari Kris. Ia melepas alas kaki dan berlarian di pasir. Melepas seluruh bebannya.

Angin memberantaki rambut pirangnya. Celana selutut serta kemeja kebesaran bergaris yang ia kenakan sama sekali tidak membuat kedinginan. Sehun menghirup nafas panjang. Perasaan bebas seperti ini yang ia impikan. Pulang ke Busan adalah pilihan yang tepat.

Hampir sore, dan pantai telah sepi oleh anak-anak yang kadang bermain disana. Cetak jingga terlihat jelas di sela kapal-kapal kecil di kejauhan. Di sisi kanan dan kiri, gedung tinggi kota Busan menjadi pemandangan biasa. Puluhan tahun lagi, pantai ini mungkin akan tertutup oleh gedung-gedung lain. Sedang Sehun memiliki keinginan menghabiskan waktu di rumah pinggir pantai saat masa tua nanti.

Jejak kaki tercetak pada pasir. Bebatuan kecil yang ia lewati seperti menghantarnya pada satu moment.

Sehun salah.

Ia pernah ke pantai.

Chanyeol yang mengajak mereka waktu itu. Sehun, Chen, Seolhyun dan Jongin. Pantai terburuk yang pernah Sehun kunjungi. Ingatannya hanya terletak pada malam itu. Keindahan pantai sama sekali tidak bisa terlihat dalam kepalanya.

Tidak terasa hatinya kembali berdenyut. Gelombang perasaan tak menentu menerpanya bersama angin. Ia menggigil dalam tubuhnya yang terbakar.

Saat menoleh, bayangan mereka seperti tertawa disana. Jongin dan Seolhyun. Mereka serasi. Seperti pangeran dan putri negeri dongeng. Mungkin Sehun hanya kurcaci dalam bagian cerita. Atau rumput liar yang tidak diperhatikan.

Bayangan itu buram dan akhirnya tertutupi oleh wajah seseorang.

"Kenapa kau terlihat sangat manis?"

Sehun tersentak. Kris berdiri di belakangnya dengan kepala yang menoleh melewati bahunya hingga kini wajah Kris tepat di depan mata. Begitu dekat. Dan sangat tampan. Iris abu tua itu terlihat jelas memantulkan bayangan Sehun yang tak berkedip. Mustahil ada yang dapat mengabaikan pesona bule yang satu ini.

Katakanlah Sehun terobsesi dangan orang tampan. Jongin yang tampan, Chanyeol yang tampan dan sekarang Kris yang tampan. Tapi kenyataan selalu berpihak padanya. Orang-orang tampan itu berada di sekelilingnya.

Mereka masih berada pada posisi yang sama. Suara burung bersahutan memanggil senja diatas cakrawala. Jingga telah menggantung, tak lagi mengintip di sela kapal. Sehun seharusnya mundur. Atau lari dan menjauh. Sudah cukup Jongin saja yang membuatnya malu akan orientasinya.

"Hyung, aku gay" Sehun mengutuk mulutnya yang bekerja tanpa perintah. Tapi hatinya berkata bahwa itu benar. Kris harus tau agar pria itu berbalik lalu menjauh seperti yang dilakukan Jongin.

Nyatanya Sehun mendadak gugup ketika Kris berkedip. Mungkin terkejut atas ungkapan spontan dari Sehun.

"Lalu?"

Oh, pertanyaan yang sangat Sehun hindari.

"La-lalu, hyung...hyung..jangan dekat-dekat-"

"Sehun, kau tau?"

"Apa?"

"Aku mungkin menyukaimu"

Aku mencintaimu hingga aku buta

Bagiku, seluruh dunia adalah kamu

Berbahagialah, meskipun kenyataan itu menyakitkan

Sehingga aku bisa pergi dengan tersenyum...

.

.

.

.

.

TBC

I'm back~~~