.

Disclaimer:

Naruto Belong to Masashi Kishimoto

Warning:

AU, OOC, Typo(s), terdapat kata-kata kasar, yang pasti masih jauh dari sempurna

Big Thanks To:

Flowers, Nivellia Neil, Anne Garbo, shawol21bangs, Mine, Guest, Zename, CheftyClouds, Hinataholic, toneri

Enjoy!

.

Senyum Hinata merekah. Ia memandang pakaian yang ia kenakan; kaos oblong lengan pendek ukuran sedikit lebih besar dari tubuhnya dan celana selutut yang sangat nyaman. Akhirnya ia memiliki pakaian yang layak untuk digunakan.

Setelah menghitung uang yang mereka dapatkan dari hasil mengamen dan membaginya, Sakura mengajak Hinata untuk pergi ke pasar terdekat dan membeli beberapa set pakaian.

Belum pernah Hinata merasa selega ini karena akhirnya memiliki pakaian dalam yang bersih dan pas. Dulu, ia bisa mendapatkan pakaian apa pun semahal apa pun yang dia mau tanpa harus berpikir keras, tanpa harus berusaha mencari uang untuk itu.

Dengan hati riang, Hinata keluar dari kamar mandi dan terkaget-kaget sendiri melihat teman-teman serumahnya. "Ka-kalian mau kemana?" tanyanya setelah melihat teman-temannya menggunakan seragam.

"Oh?" Naruto menoleh, cengiran menghiasi bibirnya. "Ini hari Senin."

Hinata masih kebingungan. "Lalu?"

"Kami harus pergi ke sekolah di hari Senin."

"Kalian sekolah?"

Shikamaru melengos. "Lo pikir pemerintah bakal diam aja ngeliat sekumpulan anak usia sekolah nggak berangkat sekolah?"

Ah, Hinata mengerti sekarang. Ia tidak menduga anak punk tanpa orang tua seperti mereka pun diwajibkan untuk sekolah dan mau melakukannya.

"Lo kelihatan nyaman make baju itu."

Hinata merona mendengar komentar Gaara yang baru saja masuk membawa bungkusan nasi untuk sarapan pagi ini. Ternyata ia sebegitu memerhatikan Hinata.

"Te-terima kasih," sahutnya.

Sarapan pagi ini dimulai dengan khidmat. Setiap orang sudah rapi sejak pagi-pagi sekali. Mereka terlihat sangat berbeda ketika mengenakan seragam sekolah yang terlalu rapi untuk ukuran mereka.

"Ja-jadi, kalian sekolah di mana?" Rasa-rasanya Hinata mulai merasa nyaman dengan mereka. Perasaan nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bersama teman-teman di tempatnya yang dulu. Sesuatu yang aneh sebenarnya, mengingat mereka baru saling mengenal tidak sampai tiga hari.

"Sebuah sekolah buat anak jalanan," jawab Shikamaru, "kami dibebaskan dari biaya sekolah, tapi sayangnya tetap harus make baju sialan ini."

"Lo tau nggak siapa kepala sekolahnya?" tanya Naruto tiba-tiba.

Hinata menggeleng. Mana mungkin dia tahu, kan?

Dengan senyum penuh kemenangan Naruto menjawab, "Nyokabnya Sakura! Sakura dan keluarganya beneran luar biasa deh!"

Jadi, selain menjadi anak punk terpelajar, mereka juga berteman dengan anak kepala sekolah. Pantas saja Sakura terlihat paling sopan di antara mereka. Yah, meskipun rambutnya berwarna pink. Atau itu memang warna asli rambutnya?

"Dulu, waktu kami masih sekitar umur sepuluh tahun, Sakura datang ke rumah ini ngebawain setumpuk seragam," kenang Naruto. "Sambil marah-marah dia maksa kami buat sekolah. Hahahaha."

"Ka-kalian tinggal di sini sejak kapan?"

"Gue udah tinggal di jalanan dari bayi mungkin, ya," jawab Naruto. "Dulu nggak tinggal di rumah kayak gini sih. Tinggalnya dari satu jalan ke jalan yang lain. Tidur di kardus gitu."

Hinata bergidik. Mereka benar-benar anak jalanan ya?

"Gue dirawat sama kakaknya Sasuke dari bayi. Kak Itachi ngejaga gue sama Sasuke di sepanjang hidupnya," lanjut Naruto.

"Terus Kak Itachi ke mana?"

"Dia udah mati." Jawaban pendek Sasuke membuat dada Hinata mendadak sesak. Haruskah mereka melalui semua kesulitan itu? Sepertinya semua kesulitan yang Hinata rasakan bukanlah apa-apa.

"Waktu itu kami ketemu Kiba dan Shikamaru. Umur kami ya sekitar sembilan – sepuluh tahun itu," jelas Naruto.

"Jadi, kalian awalnya berempat?"

Mereka berempat mengangguk.

"Terus gue ajak Naruto dan Sasuke tinggal bareng di rumah ini," sahut Kiba tiba-tiba sambil mengusap-usap rambut Akamaru.

"Ini rumah Kiba?"

"Gue kabur dari rumah," Kiba tertawa, "terus ketahuan kakak gue. Dan disuruh tinggal di sini deh, biar kaburnya nggak jauh-jauh. Hahahha. Setidaknya gue gak disuruh pulang."

Mendadak Hinata membayangkan jika Neji mengetahui keberadaannya. Kakak sepupunya itu tidak mungkin membiarkannya hidup sendirian di rumah lain seperti Kiba. Dia pasti akan melapor ke ayah Hinata dan itu adalah hal buruk. Hinata pasti akan dihukum. Membayangkannya membuat Hinata sedih.

"Nah, kalau Shikamaru," lanjut Kiba, "rumah dia sebenarnya dekat sini. Tapi dia malas banget pulang. Lebih doyan di sini. Jadi deh dia tinggal di sini juga."

"Ko-kok begitu?"

"Pulang ke rumah terlalu membosankan," sahut Shikamaru sambil menguap.

Jadi, tidak semua anggota anak punk ini merupakan anak terlantar seperti yang diduganya. Beberapa melakukan kehidupan jalanan yang keras hanya karena ingin merasakannya. Tidak jauh berbeda dengan Hinata, sebenarnya.

Apakah itu berarti Hinata bisa jujur pada mereka? Kalau ia sudah kabur dari rumah?

Tidak. Belum waktunya.

Bagaimanapun juga, Hinata adalah seorang perempuan. Ayahnya merupakan orang terpandang di Konoha. Jika mengetahui kenyataan ini, para anak punk ini pasti akan memulangkannya karena tidak ingin mendapatkan masalah.

Tapi Konoha dan Suna kan jauh. Sangat kecil kemungkinan mereka mengenal ayahnya.

"Kalau Gaara?" Hinata penasaran.

"Gaara sih baru gabung tiga tahun yang lalu."

Tapi kok dia bersikap seperti pemimpin mereka? Ia memandang laki-laki berambut merah itu yang semenjak tadi hanya diam.

Tiba-tiba Gaara berdiri. Dia menatap teman-temannya lalu berseru, "Kalian mau sekolah nggak sih? Cepat selesaiin sarapannya, terus berangkat!"

Segera saja obrolan tadi terputus. Semua orang di ruangan itu menghabiskan sarapan mereka dengan tergesa-gesa. Setelah semuanya habis, mereka mengumpulkan semua sampah untuk dibuang.

"Gaara! Hinata perlu sekolah nggak?" Tiba-tiba Naruto berseru di tengah kegiatan membersihkan sampah.

Pertanyaan Naruto itu membuat Hinata terdiam.

Apa dia perlu sekolah? Dia harusnya memang sekolah sekarang, kan?

"Ntar gue tanyain Sakura," jawab Gaara sambil menatap Hinata. Membuat gadis itu merinding. "lagi pula dia masih masa pemulihan."

"Iya juga sih," Naruto menggaruk kepala, "Dia aja nggak ingat sama apa yang udah terjadi sama dirinya. Apalagi bisa ngingat pelajaran, ya!" kemudian dia tertawa.

Tidak lama kelima orang tadi sudah rapi dan siap dengan tas dan seragam mereka. Di saat Hinata sudah bersiap untuk mengantar kepergian teman-teman serumahnya itu, Gaara mendadak berbalik dan menatapnya.

"Jaga rumah. Istirahat. Ntar sore kita ngamen lagi. Hati-hati."

Hinata mengangguk.

Pemuda itu berbalik lagi dan pergi bersama teman-temannya. Mereka semua mengucapkan selamat tinggal pada Hinata. Tapi ucapan Gaaralah yang bergaung di telinganya.

Hinata bisa merasakan pipinya begitu hangat.


Jalanan sore ini begitu ramai.

Persimpangan jalan di mana terdapat lampu lalu lintas tempat mereka mengamen penuh dengan berbagai jenis kendaraan. Bunyi klakson saling bersahutan memekakkan telinga. Debu dimana-mana. Hinata mengernyit, kemarin pun sama seperti hari ini. Tapi tetap saja ia belum terbiasa.

"Hari ini lagi rame banget. Kita bagi tim, ya? Biar bisa dapat duit lebih banyak." Gaara memberikan pengarahan singkat sebelum memulai pekerjaan mereka. "Sasuke dan Naruto bisa nyoba ngamen di angkot. Kiba dan Shikamaru naik ke bus kota. Gue sama Hinata ngamen di sekitar sini. Gimana?"

"Kok Hinata sama lo sih, Gaar? Enakan di lo dong!" protes Kiba tiba-tiba.

Hinata mengangguk-angguk. Benar juga. Kenapa dia harus menghabiskan waktu bersama Gaara lagi?

Seketika Gaara memandang tajam Kiba. Membuat pemuda berambut cokelat itu mundur. Hinata pun menggigit bibir tanpa sadar. Diamnya Gaara sungguh menakutkan.

"Ingat, jangan sampai ada yang bentrok sama kelompok lain." Gaara memperingati.

Mereka semua mengangguk lalu pergi sesuai dengan formasi yang telah diberikan Gaara tadi, meninggalkan Hinata dan Gaara berduaan.

"Ayo, kita ke sana." Gaara menunjuk jalanan di depan mereka. Lampu lalu lintas sebentar lagi akan berubah warna menjadi merah.

Hinata mengangguk. Ia pun membuntuti Gaara.

Berada bersama Gaara membuat Hinata merasa malu, sekaligus nyaman. Ia malu karena tidak cukup terbiasa berjalan bersama laki-laki, juga karena ia teringat banyak sekali kejadian memalukan yang terjadi di antara mereka. Tapi meski demikian, ia benar-benar merasa nyaman. Jauh lebih nyaman daripada ketika ia menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Hinata teringat kejadian kemarin, saat Gaara menjaganya di saat ngamen. Dan kalau dipikir-pikir, Gaara memang selalu menjaganya. Sejak pertama kali pemuda itu menemukannya.

Memikirkan hal tersebut membuat pipi Hinata menghangat. Ia memandang punggung Gaara di depannya. Bagaimana mungkin ia bisa merasa begitu sering tersipu karena pemuda seperti ini?

"Elo udah latihan joget?" todong Gaara tiba-tiba.

Hinata kaget. Dari tadi dia terlalu sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. "A-apa?"

"Tadi ditinggal di rumah elo ngapain aja?"

"Be-bersih-bersih?"

"Nggak latihan joget?"

Ha?

Hinata menggeleng.

"Kalau lagi nganggur, lo harusnya latihan nyanyi atau joget. Biar kita bisa dapat banyak duit."

Latihan joget? Apa-apaan!

Ingin sekali Hinata melemparkan kaleng duit yang tengah ia pegang ke wajah Gaara. Sayangnya ia tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya.

"Terus sekarang ngamen, gue yang nyanyi, gue yang main gitar, elu ngapain?" tanya Gaara lagi.

Hinata menggigit bibir. Ternyata Gaara bisa bertingkah menyebalkan juga!

"A-aku diam aja, kamu bisa dapat duit yang banyak kok."

"Karena lo cantik, heh?" Gaara mencibir, "Tapi lo emang cantik sih."

Hinata membuang muka. Ia benar-benar merona sekarang. "A-aku bantuin kamu nyanyi. Jadi backing vocal."

"Bisa emangnya?"

Hinata mengangguk. Ia menunjuk lalu lintas padat di hadapannya. Lampu lalu lintas sedang berubah warna merah. "Yuk!"

Ngamen hari itu berjalan lancar. Seperti biasa Gaara tidak banyak bicara. Tapi suaranya yang bagus saat bernyanyi mampu membuat orang-orang tercengang. Hinata bahkan merasa suaranya justru kerap membuat lagu mereka berantakan. Tapi bahkan Gaara sama sekali tidak protes. Asal uang yang mereka dapatkan cukup banyak, sepertinya ia tidak merasa terganggu.

Ketika sore telah berganti malam, Gaara mengajaknya untuk berhenti ke sebuah rumah makan. Ia berencana membeli makan untuk makan malam ini. Begitu menemukan kursi di rumah makan tersebut, Hinata langsung duduk dan menjulurkan kakinya yang sangat letih. Ia sedang memijat ringan kakinya saat tiba-tiba ia melihat rambut Gaara ditarik oleh seorang bayi.

Bayi itu kira-kira belum berusia satu tahun. Ia tengah digendong oleh ibunya yang juga sedang mengantri membeli makanan. Rambut Gaara yang berwarna merah di depan mereka mungkin menarik perhatian sang bayi.

Apakah Gaara akan marah? Hinata bertanya di dalam hati.

Tapi ia terkejut ketika pemuda yang sebelumnya memandang si bayi tanpa ekspresi tiba-tiba menarik kedua sisi bibirnya.

Gaara tersenyum!

Senyumnya begitu kaku hingga membuat Hinata ingin tertawa.

Sangat sulit membayangkan seorang Gaara yang hanya memiliki dua ekspresi—marah dan diam—mendadak tersenyum. Rambut merah menyala dan lingkar hitam di matanya serta tato di keningnya sangat tidak cocok dengan ekspresi tersebut.

"Nak, jangan begitu!" Ibu sang pemilik bayi menarik lengan anaknya. Ia tersenyum takut-takut. "Maaf ya, Mas."

Gaara mengangguk.

Tapi tidak lama bayi tersebut menarik rambut Gaara lagi. Tidak ingin melepasnya.

Ibu pemilik bayi semakin panik. Tapi Gaara hanya menjulurkan lengannya, mengelus kepala bayi tersebut dalam diam. Siapa sangka bayi tersebut menyambut elusan Gaara dengan tawa yang begitu menggemaskan.

Hinata menggigit bibir. Gaara benar-benar manis dan baik hati!

"Gaar! Lu baru kami tinggal bentar udah bikin anak aja sama Hinata, heh!"

Hinata —dan seluruh orang di rumah makan itu— terkejut ketika Kiba dan Shikamaru tiba-tiba muncul di sana. Kibalah yang tadi berteriak dengan enteng.

Hinata merona. Bikin anak apaan!

Bahkan posisi mereka kini tidak sedang berdekatan.

"Ki-Kiba? Bagaimana kamu tahu kami di sini?"

"Udah bisa diduga sih," jawab Kiba.

"Ini kan sudah jam makan malam," timpal Shikamaru.

Hinata duga mereka memang kerap membeli makan di rumah makan ini.

Benar saja, tidak lama Sasuke dan Naruto datang. Namun, mereka terlihat sangat ngos-ngosan.

"Kalian abis ngapain?" Shikamaru bertanya. Jelas semua terlihat kebingungan.

"Gue kira yang abis bikin anak Hinata sama Gaara. Tapi yang ngos-ngosan malah kalian?"

Ingin sekali Hinata melemparkan sambal ke mulut Kiba. Tapi ia menahan diri. Sepertinya Gaara pun berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama.

Naruto memandang Hinata dan Gaara bergantian, kebingungan. Tapi kemudian ia menggeleng. Sepertinya ada hal lain yang jauh lebih penting daripada gosip murahan Kiba.

"Tadi ... kami ... ketemu ... Akatsuki."

Akatsuki? Hinata mulai bertanya-tanya. Siapa mereka?

"Terus?"

Sasuke menunjukkan selembar kertas berbentuk brosur di tangannya. Ia membuka kertas tersebut di depan mereka semua.

"Kompetisi band?" Shikamaru membaca tulisan paling besar yang terpampang di kertas tersebut.

"Kita ditantang?" Gaara bertanya.

Naruto dan Sasuke serempak mengangguk.

Kiba memutar bola matanya. "Gue nggak pingin yang kayak gini."

"Gue juga udah bilang nggak tertarik," terang Naruto. "Tapi mereka ngancem."

Shikamaru mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas meja. "Ngancam apaan?"

"Hinata." Sasuke menjawab. "Mereka tau kita punya Hinata."

Hening. Mendadak suasana di antara mereka berubah tegang. Apa yang akan 'Akatsuki' itu lakukan pada Hinata?

Gadis itu sama sekali tidak paham.

"Sialan!" Gaara menggeretakkan giginya. Semua orang tau dia marah.

"Maaf, Gaar." Naruto menepuk pundak kawannya. "Gue juga nggak pingin bentrok sama mereka tadi. Tapi mereka kayaknya udah ngawasin kita kemarin."

"Sas, sekarang keputusan lo apa?" Untuk pertama kalinya Hinata mendengar Gaara meminta tanggapan orang lain dalam suatu keputusan yang kelihatannya penting.

Laki-laki bermata hitam itu menggeretakkan giginya. "Gue udah nerima tantangan mereka."

"Kalau begitu sudah diputuskan?" Kiba memandang kawan-kawannya satu per satu.

Mereka semua mengangguk.

Saat itu Hinata tahu, ada sesuatu yang tidak baik antara hubungan mereka dan sesuatu yang dipanggil dengan sebutan Akatsuki tersebut.

.

TBC

.

Thanks For Reading!

Maafkan kami yang mengupdatenya lama sekali.

Semoga masih ada yang ingat ya...

.

~TnD~