Suara gelombang mungkin terlalu keras hingga membuat pendengaran Sehun bermasalah. Potongan adegan Kris yang berjalan menjauhinya berganti sekejap oleh wajah serius pria itu. Mereka kini berdiri berhadapan. Saling menyelam dalam tatapan yang tertaut.

Sehun menyiapkan dirinya andai saja Kris tertawa dan berkata bahwa ia bercanda. Tapi hal itu tidak kunjung terjadi. Tatapan Kris seolah memiliki magis yang dapat menariknya. Memberitahunya seberapa serius ungkapan itu keluar dari mulut seorang Kris Wu.

"Maaf kalau itu membuatmu tak nyaman"

Mereka saling mundur satu langkah. Canggung kemudian. Sehun tentu saja terkejut. Seorang Kris Wu berkata di depan matanya bahwa ia menyukai Sehun. Dengan raut wajah seperti itu dan suasana seperti ini.

"Aku terkejut" Sehun mengaku.

Kris terkekeh dengan helaian rambut yang melambai tertiup angin. "Aku benar-benar menyukaimu"

"Kau menggodaku?" Canda Sehun.

Tawa Kris meledak. "Anggap saja begitu"

Sehun enggan mengakui bahwa ada perasaan menggelitik aneh pada perutnya. Ia senang, lega sekaligus malu. Senang itu mendominasi. Ada seseorang yang tau kenyataan dan berkata menyukainya lebih dulu. Sehun merasa diakui. Hal seperti ini yang ia harapkan dari Jongin.

Ia melirik lagi pada Kris yang kini sibuk menulis sesuatu di pasir. Pertanyaan yang sama kembali mengemuka. Apakah ia harus menjawab pernyataan Kris tadi?

"Ini" Kris menunjuk pada tulisan asing yang ia bentuk di pasir. "Ini namamu dalam bahasa China"

Sehun ikut berjongkok di samping Kris. Ada dua aksara China yang sama sekali tidak dimengerti oleh Sehun.

"Wu Shixun"

"Wu?"

Kris mengangguk, "Oh adalah Wu. Dan Wu adalah Oh"

Sehun menatapi wajah tersenyum itu. Kris adalah pria yang baik. Sehun berani berkata bahwa tidak ada yang mampu menolaknya karena ia sendiri sekarang seolah berdiri di pertigaan jalan. Ada Kris di satu sisi dan Jongin di sisi jalan yang lain.

Jongin tentu saja membelakanginya. Enggan sekedar menatap. Dan Kris tersenyum disana dengan uluran tangan yang siap menyambut Sehun. Pilihan sudah tidak lagi membingungkan.

Seharusnya.

"Kau melamun lagi" tangan Kris terulur mengusak surainya. "Tidak usah dipikirkan. Aku tidak menunggu jawaban. Aku tau..." ada jeda saat ia kembali menatap Sehun mencoba menyampaikan sesuatu yang sulit Sehun tangkap. "...hatimu sedang terluka. Apakah sakit?"

Dari kejauhan, pendar biru itu saling bersaing adu terang. Mereka sama-sama menunggu untuk ketidakpastian. Sama-sama terluka meski satu hati telah benar-benar rusak. Sedangkan hati yang lain berusaha agar tidak retak.

"Sangat sakit" Sehun menelan ludah susah payah. Menahan gejolak emosi yang akan keluar. Ia tidak boleh menangis sekarang.

"Kalau begitu aku akan menjadi obatmu yang kau butuhkan kapanpun rasa sakit itu muncul"

Tidak saat uluran itu menyambut nya dengan sukarela. Bersama angin pantai dan aroma asin air laut Busan.

Andai saja aku bertemu denganmu lebih dulu

Tidak akan sesulit ini membalas tulusmu..

.

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

.

.

.

Chanyeol membiarkan kursi yang ia duduki terjengkang ke belakang saat ia berdiri dengan tiba-tiba. Langkah nya tergesa menuju pintu kelas yang terbuka.

Teman sekelasnya, Minseok baru saja memberitahu apa isi papan pengumuman yang sekarang dikerubungi oleh hampir setengah murid di Cheongdam.

Ia baru saja berbelok keluar dari pintu saat sosok yang sangat dikenalnya berdiri kurang dari dua meter didepan.

Ia hampir roboh saat menatap mata itu. Amarah serta ketakutan yang tercipta diantara jeda panjang yang mereka ciptakan cukup membuat Chanyeol berteriak dalam hati memaki diri sendiri.

Dengan sebelah tangan yang menggenggam gumpalan kertas, Sehun berdiri disana. Goyah. Seolah memohon pada Chanyeol untuk menjadi penopangnya.

"Ibuku bukan pelacur, hyung" suara lirih penuh permohonan kepercayaan itu menyakitinya.

Pagi ini Cheongdam High School dihebohkan oleh foto serta cetakan tulisan besar di papan pengumuman. Deretan foto yang diambil diam-diam itu memvisualkan sosok Sehun bersama seorang wanita cantik yang terlihat lebih tua di sebuah bar.

Dan tulisan besar disana seolah menekankan apa maksud dari foto-foto tersebut.

Oh Sehun anak seorang PSK!

Kaki Chanyeol akhirnya melangkah. Menggapai bahu Sehun untuk ia usap sebelum membawa tubuh itu menjauh dari puluhan pasang mata yang selalu berusaha mencari tau.

Atap sekolah menjadi tujuan. Disana sudah ada Chen serta Jongin. Mereka terlihat membicarakan sesuatu sebelum bungkam ketika Chanyeol membuka pintu. Atensi Chanyeol jatuh pertama kali pada Jongin. Meski sempat bersitegang dengan Sehun beberapa hari lalu, kekhawatiran itu tidak bisa disembunyikan.

Kentara Jongin yang ragu. Memilih untuk mendekat atau hanya jadi penonton raga lemah Sehun. Chen memilih mendekat, mengusap rambut pirang itu dengan sayang. Menunjukkan bahwa semua hal yang terjadi tidak berarti apa-apa.

Sehun menampilkan ekspresi yang berbanding terbalik. Kemarahannya tertahan dengan sangat menyiksa. Ia ingin menendang siapapun si penyebar berita. Ia menahannya.

"Aku akan mencari tau siapa yang telah melakukan hal ini" suara Chanyeol terdengar hati-hati. Tidak ingin mengusik Sehun terlalu jauh.

"Kalian percaya padaku?"

Semua kepala menoleh. Sehun masih berdiri di belakang Chanyeol sambil menggenggam gumpalan kertas.

"Kenapa kau bertanya? Tentu kami percaya padamu"

"Siapa yang tau?"

Kini mereka beralih pada Jongin yang menatap kepala gedung lain di ujung matanya.

"Selama ini kau selalu menyembunyikannya sendiri. Siapa yang tau"

"Brengsek!"

Chanyeol menahan tubuh Sehun dengan cara memeluknya dari belakang. Sehun berontak sedang Jongin nanar menatapinya. Sedatar ucapan yang ia keluarkan.

"Aku tidak tahu apapun tentangmu, Oh Sehun" ada jeda yang mencekam. Sehun berhenti bergerak, namun kepalan tangannya pada gumpalan kertas menguat. "Bukankah begitu?"

Chanyeol tidak tau apa saja yang sudah mereka berdua lewati. Percakapan apa saja yang terjalin selama masa perang dingin. Karena akhirnya Sehun mengalah dengan semua kalimat itu.

Jongin beranjak dari tempat semula. Melangkah pasti menuju pintu untuk meninggalkan hati Sehun yang sekarang berceceran di lantai yang ia pijak.

"Aku membencimu Jongin"

Tanpa ada sedikitpun tanggapan, Jongin tetap menghilang di balik pintu. Gema hentakan kakinya terdengar menyakitkan untuk Sehun.

Sehun tersentak ketika semua hujatan hanya tergantung diujung lidahnya. Enggan memihak si pemilik.

Dan akhirnya tubuh itu luruh. Chanyeol dengan sigap menahan, memeluk lebih erat pinggang raping Sehun.

"Bagaimana mungkin aku masih sangat mencintainya hingga detik ini, hyung"

Chanyeol mengambil tatapan yang diberikan oleh Chen. Seolah saling melempar pernyataan yang sama.

Sehun kalah melawan hatinya.

.

.

.

.

Hari demi hari telah berlalu. Desas-desus tentang Sehun mereda seiring datang nya berita panas terbaru. Libur musim panas hanya tinggal menghitung jari. Liburan menjadi topik hangat di antara siswa dan siswi di koridor.

Ada beberapa perubahan yang terlihat jelas bagi Chanyeol. Nama yang sering ia panggil untuk menghadap guru BP kini bukan lagi Oh Sehun dan Kim Jongin. Mereka terlihat enggan melakukan apapun sejak perang dingin itu dimulai. Sehun sering menghabiskan waktunya di atap sekolah, lebih diam dari yang ia kenal. Sedangkan Jongin menghindar dari semua masalah dengan beralih pada kekasihnya.

Hubungan Jongin dan Seolhyun masih terlihat harmonis dan serasi sampai di musim panas. Hanya ada beberapa pertengkaran kecil yang mudah mereka atasi. Saat di meja makan kantin, Chanyeol menyadari satu hal. Seolhyun seolah menjadi pengganti untuk tempat kosong Sehun.

Beberapa hal terasa berbeda. Chanyeol menyesali kesalahpahaman yang terjadi di akhir masa sekolahnya. Sehun menjauh untuk dirinya sendiri. Dan Jongin mengabaikan itu. Mereka seperti medan magnet berkutub sama- tidak bisa saling menyatu.

Bahkan kebersamaan yang telah terjalin sejak sekolah menengah pertama layaknya omong kosong.

Itu hari minggu ketika Jongin bermain playstation di kamar Chanyeol, tentu ditemani Seolhyun. Hanya beberapa obrolan dan gurauan ringan yang saling terlontar saat tiba-tiba ponsel Jongin berdering nyaring.

Jongin hanya menjawab sebentar sebelum berlari keluar rumah seperti orang kesetanan. Chanyeol menyusul, ikut panik.

"Ada apa Jongin?"

"Sehun kecelakaan, hyung"

Chanyeol tersedot dalam kekalutan itu. Ia mengambil kunci mobil dan menahan Seolhyun untuk tetap berada dirumah. Mobil silver itu membelah jalanan kota secepat angin. Ia tidak perduli lagi jika harus ditilang.

Selama perjalanan, Jongin mencoba menghubungi Chen untuk memastikan keadaan Sehun karena tempat yang ditunjukkan orang asing tadi tidak jauh dari tempat tinggal Chen di Yongsan-gu. Namun si troll bersuara nyaring itu tidak mengangkat telponnya.

Jongin meremas kepalan tangannya. Bersandar gusar pada jendela mobil.

"Sehun-ku.." itu hanya gumaman lirih dari Jongin yang masih dapat Chanyeol dengar diantara bisingnya klakson mobil.

Chanyeol rasanya ingin menabrakkan mobilnya dan membuat Jongin terbentur agar sadar pada apa yang hatinya ucapkan. Pria itu-cintanya yang besar tak memiliki bayangan.

Mobil berhenti di depan sebuah klinik. Jongin menjadi yang lebih dulu berlari memasuki klinik. Kakinya seperti melayang untuk menjangkau Sehun. Dan tidak mengharapkan ruangan kosong tak berpenghuni.

Chanyeol berkerut, memutar kepala untuk mencari sosok Sehun. Namun nihil-

"Mencariku?"

Meskipun samar, Chanyeol dapat melihat senyum jenaka itu di bibir Sehun. Ia keluar dari salah satu ruangan dengan hoodie hitam yang tudung nya hampir menyembunyikan separuh mata Sehun.

"Sehun? Kau-"

Gelak tawa Sehun memenuhi ruangan. Chanyeol akhirnya sadar bahwa semua hal hanya tipuan si pirang. Jongin menghentak kakinya menuju Sehun, mencengkeram kerah hoodie hitam itu dengan kuat hingga punggung Sehun menabrak pintu.

Sehun masih tertawa ketika Jongin menusuknya dengan tatapan tajam.

"Tenanglah Jong, aku hanya bercanda. Aku hanya ingin melihat reaksi kalian saat tau kalau aku kecelakaan" Ia menarik nafas agar berhenti tertawa, berkali-kali. Dengan berat. "Kalian masih berlari mengejarku"

Ada selipan makna yang tak sempat Chanyeol artikan dari ungkapan itu. Chanyeol jelas merasa dibodohi. Ia melanggar peraturan lalu lintas karena rasa khawatir yang berlebih. Dan Sehun menyambut nya dengan tawa. Kekhawatiran nya menguap seiring merasuknya rasa kesal.

"Ini tidak lucu, Oh Sehun!"

Raut wajah Sehun berubah. "Aku minta maaf"

"Sialan!" dan hempasan tangannya menyebabkan benturan dua kali pada punggung Sehun. Netranya kembali menatap Sehun dengan sengit, "jangan jadi pecundang hanya karena kau merasa diabaikan"

Bersamaan kalimat terakhir itu Jongin meninggalkan klinik. Chanyeol masih mencari pembenaran disana. Ia memandangi Sehun yang kini tertunduk. Mata jelinya melihat beberapa debu atau sisa tanah di celana jeans Sehun.

"Aku benar-benar hanya bercanda. Maafkan aku hyung"

Ucapan Sehun membuatnya mengabaikan hal tersebut. Helaan nafas itu membaur dengan udara dingin dari AC.

"Aku memiliki dua permintaan kan?"

"Traktir aku, maka akan ku kabulkan satu permintaan"

"Tiga"

"Satu"

"Dua"

"Baiklah, dua permintaan"

Sehun mengangguk, masih memaku kepala pada gravitasi bumi.

"Permintaan pertama ku, jangan melakukan hal konyol untuk mengambil perhatian kami. Kau bukan anak kecil lagi. Dan kami masih disini untukmu."

Untuk kedua kalinya Chanyeol memilih berbalik tanpa penjelasan. Sedikit saja, ia bisa melihat sudut bibir sosok di depannya tertarik, entah tersenyum seperti apa.

Kesakitan itu kau simpan sendiri

Penyesalan ini ku tanggung sendiri..

.

.

.
.

Seminggu setelah itu, Sehun tidak terlihat lagi di sekolah. Chanyeol menjadi satu-satunya yang khawatir. Jongin mungkin merasakan hal yang sama, namun mampu ia kendalikan dengan baik. Kejadian di klinik masih terus mengganggu nya.

"Bahkan bartender di cafe itu tutup mulut" Chanyeol berkata hampir frustasi. Apakah sikapnya seminggu lalu terlalu keras? Hingga Sehun kembali memutuskan untuk menghilang seperti sekarang.

Chen masih berkutat dengan makan siangnya. Itu lah mengapa Chanyeol merasa menjadi satu-satunya orang yang mencari Sehun. Chen terlalu acuh. Ia bahkan tidak bertanya sama sekali.

"Biarkan saja. Dia mungkin tertawa melihat kekhawatiran hyung sekarang"

Chanyeol benar, Jongih masih melibatkan kejadian waktu itu. Chen taunya berdiri, menyisakan banyak maka siangnya di nampan.

"Apakah menjadi egois adalah kemampuanmu? Kau dan Sehun memang sangat serasi"

Chanyeol tau itu bukan sebuah pujian. Chen menentang Jongin dengan keras. Pun selama ini ucapan yang ia keluarkan selalu mengarah pada pembelaan ke sisi Sehun. Chanyeol mengira, Chen lebih mudah memahami sikap tak terduga Sehun selama masa perang dingin ini.

Dan dilihat dari segi manapun, Jongin maupun Sehun memiliki tingkat keegoisan yang tinggi. Mereka membiarkan semua hal terabaikan tanpa kejelasan. Ingin menguji seberapa kuat mereka bertahan. Tidak peduli pada partikel-partikel kecil yang kini menggerogoti dan melubangi hati mereka.

Rumit.

Ketika dua hati itu hanya saling menahan semua keinginan dengan dalih pertahanan diri. Semua omong kosong yang terlontar bahkan berarti pembenaran.

Cintanya sederhana.

Si penerima yang tak karuan mengolah rasa.

"Apa kau mencintai Sehun?"

Kantin yang ribut terasa hening saat pertanyaan tiba-tiba itu keluar dari mulut Chen. Bola matanya yang tak berkedip menatap Jongin seolah menegaskan agar Jongin tak berkelit.

Hening mencekik untuk beberapa saat.

"Kau gila?" Sampai balasan yang sengit dilontarkan oleh Jongin, "aku normal"

"Lalu kita buktikan" masih tidak ada Chen si troll saat kepala itu menoleh pada Chanyeol yang tergugu menghadapi atmosfer asing diantara mereka. "Aku hanya mengatakan ini padamu Hyung" suara kerasnya bisa didengar semua penghuni kantin. "Busan, Tweenty One Club. Kalian punya waktu sampai pukul empat sore nanti-

Jongin meremas sumpit dengan kuat.

-sebelum penerbangannya ke Belanda"

.

.

.

.

.

(BGM : Seo Eunkwang - One Day)

Perlu waktu hingga satu jam menemani Jongin berfikir. Jika saja Chanyeol tidak membiarkan Jongin yang memilih, mungkin ia akan segera menarik pria itu untuk segera ke Busan. Karena demi Tuhan! Jarak Busan tidak bisa disamakan dengan jarak dari sekolah ke rumahnya.

Jongin yang akhirnya lebih dulu berlari menuju parkiran. Chanyeol sudah berkata bahwa supirnya datang untuk mengantar mereka. Anak semata wayang keluarga Park itu memiliki trauma aneh pada pelanggaran lalu lintas sejak seminggu lalu. Meski sedikit, fikiran akan tawa mengejek Sehun ketika mereka tiba nanti membayanginya. Ia harus sedikit waspada.

Suara bising dari semua hal yang mereka lewati selama perjalanan ke Busan menjadi satu-satunya yang dapat memecah kesunyian di dalam mobil. Mereka duduk di dua sudut mobil, saling memandangi bangunan atau orang-orang yang terlihat abstrak karena kecepatan yang dihasilkan. Sesekali Chanyeol menoleh untuk mendapati wajah pias Jongin.

"Apa yang kau rasakan?" Itu hanya sebentuk keingintahuan Park Chanyeol pada kebimbangan Jongin.

Satu jawaban terasa berat untuk terucap. Chanyeol membiarkan Jongin memilah kata yang tepat untuk berkelit lagi kali ini. Satu menit terlewat dengan sia-sia. Sekarang sudah masuk musim panas, matahari seperti membalas dendam untuk eksistensinya yang tak terasa selama beberapa musim. Wajah kecoklatan Jongin mengkilat di samping jendela, terbias cahaya matahari di siang yang terik. Matanya berkedip untuk menghalau cahaya, namun enggan meninggalkan sudut yang silau itu.

Chanyeol memiliki pengalaman berpacaran selama tiga tahun berada di Cheongdam. Hanya dua kali. Karena suara-suara siswi selalu berisik memberitakan ketidaknyamanan. Jadi meskipun masih bisa dibilang awam, ia setidaknya tau cinta seperti apa saja yang bisa membuat seseorang terlihat tidak waras. Ia pernah memikirkan seorang gadis hingga sulit tidur dan membuatnya memiliki kantung mata. Pun ia pernah mengumpat pada satu hal karena rasa perih tak tertahan ketika ditinggalkan.

Dan Jongin serta Sehun membuatnya sadar bahwa mencintai dan ditinggalkan saja tidak menjamin bahwa ia memiliki pengetahuan yang banyak tentang satu kata menggelikan penuh drama, Cinta. Dua sosok itu membuatnya kebingungan akan hal-hal rumit tak berumus yang akhirnya Chanyeol jumpai. Jika satu dikurang satu sama dengan nol, maka bisa menjadi variabel angka yang berbeda-beda tiap menitnya jika itu diserahkan pada Jongin atau Sehun.

Chanyeol berharap sebuah jawaban ketika Jongin membuka mulut untuk bicara.

"Sialan!"

Bukannya umpatan keras. Maka Chanyeol kembali membiarkan Jongin untuk berfikir. Semua jawaban dikepala Jongin seperti soal matematika. Memiliki jawaban yang pasti. Tapi kadang harus menggunakan satu lembar penuh halaman pada buku untuk membuat rumusnya.

"Bagaimana kalau kita terlambat?" Tanya Jongin.

Chanyeol menghela nafas tanpa berbalik dari sisi jendela. "Aku sedang memikirkan jalan keluar untuk itu"

"Bagaimana kalau aku-" cekatan suara Jongin membuat Chanyeol menunggu dengan harap-harap cemas. "-tidak sempat mengatakan kejujuran ini"

Helaan nafas yang entah mengapa begitu lega terhembus dari sela bibir Park Chanyeol.

"Itu konsekuensi untuk para pecundang"

Bahkan ribuan kata makian tidak akan cukup untuk menghakimi Kim Jongin. Si pria bodoh itu-

"Aku mencintainya, hyung"

Yang terlihat begitu mengenaskan dengan ribuan belati yang kini menghujaninya. Menjadi bodoh karena kekalutan penyangkalan akan orientasinya. Selama ini ia sibuk memikirkan perkatan orang lain. Perkataan dunia tentang minoritas yang pantas berada di bawah kaki mereka. Ia berkelit untuk berlindung dari sakitnya hujaman kata.

Kini sakit itu tidak bisa bersanding dengan hukuman dari hatinya. Sakit yang tidak bisa ditutupi. Bahkan air mata tidak bisa menjadi pengganti sementara.

"Aku mencintai Sehun sedalam ini hyung"

Jongin menangis siang itu.

.

.

.

.

Mobil berhenti didepan bangunan bertingkat dua. Ornamen batu bata yang menjadi desain luar bangunan terlihat kusam. Papan nama besar di atas pintu terkelupas disana-sini. Kawasan ini cukup ramai dilewati oleh pejalan kaki karena adanya toko-toko lain yang berjejer di samping club. Di persimpangan jalan ada sebuah toko bunga kecil. Di depan jendelanya tersusun rapi bunga-bunga yang terlihat segar. Chanyeol jadi ingat lili putih yang dibawa Sehun ke makam.

Jika Sehun memiliki ibu dan tempat tinggal di Busan, mengapa ia harus memiliki masa lalu dengan panti asuhan di Seoul?

"Kau yakin ini alamatnya?"

Chanyeol mengangguk menyahuti Jongin. Mereka masih berdiri di depan pintu berteralis besi club itu. Lengan Jongin baru saja terulur untuk menggedor pintu saat suara berisik dari besi karena pintu yang terbuka membuat mereka mundur beberapa langkah. Pintu membuka kearah luar.

Sehun berdiri disana. Satu tangannya masih tersimpan pada gagang pintu. Matanya lekat memandangi Jongin. Mungkin untuk memastikan kerja matanya sendiri. Beberapa detik sebelum kakinya melangkah untuk meninggalkan kusen pintu, dan barulah mereka melihat koper besar itu ditangan Sehun yang satunya.

Jongin menelan ludah menatap koper. Ketakutannya melingkupi seisi atmosfer yang kini membingungkan untuk Sehun. Ia mungkin tidak berharap lebih untuk kedatangan dua pria itu.

"Kau akan pergi?" Suara Jongin bergetar.

Sehun mengangguk kaku. Dan sesaat kemudian seperti ada sesuatu yang merasuki kepalanya. Ia terkekeh. Menunduk memainkan bola matanya untuk menyembunyikan luapan bahagia yang memiliki makna menyakitkan disana.

"Kalian berlari untukku lagi"

Kata-kata itu terdengar tidak mengenakkan untuk Chanyeol. Sudah kedua kalinya ia mendengar itu dari mulut Sehun. Dan arti tidak sebenar nya yang terselip seperti pertanda buruk.

"Sehun-"

"Hunnie, yakin tidak ada yg tertinggal-oh, ada tamu?"

Chanyeol akhirnya tau keindahan itu diturunkan dari siapa.

"Kenapa tidak disuruh masuk?"

"Aku harus ke bandara" Sehun menyeret kopernya lagi, mengabaikan ibu kali ini.

"Kita harus bicara"

Suara Jongin menjadi pertimbangan untuk ibu dan Chanyeol agar meninggalkan mereka berdua untuk sebuah privasi. Di sisi jalan itu mereka saling berhadapan.

"Apa?"

Jongin mengernyit ketika suara dingin tak bernada yang asing itu keluar dari celah bibir Sehun.

"Jangan pergi" Jongin berkata setelah menghilangkan keheranannya. Tanpa basa basi.

Dengusan jelas terdengar di sela kekalutan yang kini melingkup pada satu sisi yang dulu membeku seperti lawan bicaranya.

"Kau mencintaiku sekarang?" ketus Sehun. Tawanya sumbang untuk banyak alasan. "Bukankah sangat terlambat?"

"Aku mencintaimu" kekeuh Jongin.

"Terlambat, Kim" gemeletuk gigi Sehun beriringan dengan ekspresi muak.

Jika definisi cengeng tersemat pada Jongin sejak dulu, mungkin ia sudah meraung sekarang. Berlutut untuk pengampunan rasa yang datang di waktu yang sangat amat tidak tepat.

Jongin mengumpat lagi. Ia masih saja menyalahkan hal lain. Rasa itu datang sejak dulu. Dirinya yang mengabaikan begitu lama. Bersembunyi di balik keabsurdan dunia yang menghujat minoritas. Ikut berteriak lantang bahwa gay adalah zona berbahaya. Mutlak.

Si bodoh.

Kini Sehun memilih masuk ke zona berbahaya. Meninggalkannya yang sendirinya telah terbiasa untuk menghabiskan waktu bersama. Kehilangan itu terasa saat ada yang hilang. Sangat wajar. Kim Jongin berada di fase itu sekarang.

Ia merasa kehilangan sebelum benar-benar ditinggalkan.

"Aku akan melakukan apapun-"

"Si brengsek ini" Jongin tidak akan terkejut jika Sehun lebih banyak mengumpat kini. "Kau kesini untuk merayuku dan membuatku merasa 'akhirnya cintaku terbalaskan' hingga batal pergi hanya untuk saling berebut dirimu dengan Seolhyun?" Cecaran kata itu meluap dengan rahang yang makin mengeras. "Hell no Kim Jongin! Kau fikir kau pemeran utama dalam sebuah cerita? Dongeng? Yang bisa seenaknya mengubah alur agar peranmu tidak tergantikan oleh orang lain? Otak kosongmu perlu diberi asupan"

Jongin berkedip cepat, "Sehun-"

"Berhenti bicara omong kosong tentang cinta yang sama sekali tidak pernah kau mengerti. Dan berhenti memberiku harapan. Pesawatku akan berangkat satu jam lagi dan itu artinya satu jam lagi semua hal menyakitkan darimu akan aku lupakan. Biarkan aku pergi dan memaafkan mu setelah itu"

"Aku tidak butuh maafmu"

"Si brengsek-"

Sehun belum sempat berkedip ketika Jongin meringsek kedepan dan mendekapnya posesif. Wajah Jongin sangat dekat, dengan bibir yang menyatu pada bibirnya. Tanpa pergerakan. Hanya saling menempel beberapa detik sebelum Jongin melepasnya lagi.

Udara semakin terasa panas di sekeliling Oh Sehun sekarang. Segala macam emosi bercampur dalam rongga dadanya seolah banyak kata yang ia keluarkan tadi tidak berefek apapun.

"Tidak apa-apa. Kau bisa mengumpat dan menangis sebanyak yang kau mau"

Sehun bahkan tidak sadar bahwa kini pipinya yang berada dalam tangkupan telapak tangan Jongin telah basah. Tangan itu seolah bersedia menampung air matanya dan menghapusnya kemudian. Emosi dalam bentuk makian itu menguap. Ia hanya ingin menjadi cengeng sekarang.

"Apalagi yang kau inginkan?" Serak suaranya memulai negosiasi.

"Kalau ku katakan itu adalah dirimu, kau percaya?" Kabut keputus asaan pada bola mata Jongin tidak bertemu pembenaran.

"Tidak"

"Seperti yang kuduga" ia tersenyum. Menimbulkan satu denyutan lagi pada dada Sehun. "Itu sebabnya aku tidak memiliki pembelaan apapun untuk saat ini selain, aku mencintaimu"

Benar jika keputusan untuk pergi itu telah bulat. Sehun hanya harus pergi ke bandara dan mengucapkan selamat tinggal pada tanah kelahiran. Membuat cerita baru di tempat yang sebelumnya tidak pernah ia kelilingi. Meninggalkan memang lebih mudah diucapkan bukan?

Lihatlah kini ia mengulur keadaan. Terperangkap dalam taktik takdir yang bersekutu dengan waktu. Mereka memiliki irama yang sama untuk membuat Sehun terbuai dan mengakhiri semuanya disini dengan akhir yang bahagia. Mereka bersuara "jalani saja, pertimbangankan banyak hal belakangan".

Sihir Jongin yang telah bekerja pada nya selama bertahun-tahun memang sulit di hilangkan. Membuatnya lagi, lagi dan lagi jatuh pada lubang yang sama. Seperti keledai.

Sial! Bayangan wajah Seolhyun lewat di saat yang tidak tepat.

Sehun menepis tangan Jongin dari wajahnya dan menunduk untuk mengusap airmata nya sendiri. "Pulanglah. Temui kekasihmu. Minta maaf padanya karena telah mengatakan cinta pada orang lain, walaupun aku tidak tau apakah itu tulus atau hanya caramu untuk menahanku pergi" raut wajahnya kembali datar. "Kau sangat tau kelemahanku sekarang. Selamat"

Seharusnya setelah mengatakan itu ia menarik koper dan pergi. Membiarkan Jongin memanggil namanya dan tersiksa dalam pesakitan. Tapi ia sama bodohnya dengan Jongin sekarang. Kakinya tak bergerak. Hanya tubuhnya yang bergetar tidak karuan.

"Pergilah. Ku mohon" adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya.

Jongin kembali memeluknya. Dekapan hangatnya menjalar pada seluruh sel tubuh Sehun. Dia tidak kuasa menolak. Lelah untuk menyangkal. Maka ia biarkan kali ini pria itu mengukungnya, merasa bahwa hanya dirinya yang mampu memiliki Sehun.

"Sekali ini saja. Jika kesalahan yang sama terulang, maka jangan pernah maafkan aku"

Sehun gamang oleh pilihan yang dihantarkan Jongin. Hati nya yang terluka berteriak kesakitan dan meminta untuk diobati pada tempat terjauh dari penyebabnya. Sedang hatinya yang mendamba bernyanyi untuk satu kesempatan.

Aku mencoba tuk melupakan dan menghapusmu

Mengatakan bahwa kita tak punya pilihan lain

Tapi aku tak bisa menghapus bayanganmu yang kian menjauh

Akhirnya dekapan itu bersambut. Penyangkalan yang ia banggakan nyatanya runtuh oleh aliran listrik dari seluruh tubuh Jongin. Sudah begitu lama sejak terakhir kali ia memeluk tubuh tegap itu. Rasa nyaman dan aman disaat yang bersamaan.

Seperti kata Jongin. Sekali ini saja. Berdamai dengan takdir tak ada salahnya.

"Bagaimana dengan Seolhyun?"

"Menjelaskan padanya jauh lebih mudah daripada menahanmu pergi" tangan Jongin turun pada pinggang Sehun, merangkulnya erat dengan kening dan hidung yang kini saling menyatu. "Jangan pergi lagi. Bahkan jangan berfikir untuk pergi. Belanda itu jauh"

"Lain kali aku akan membunuhmu" Sehun berdesis rendah tepat di depan wajah Jongin yang terkekeh. Hembusan nafas mereka menyatu dengan keintiman yang menjadi.

"Tentu. Tapi kupastikan itu tidak akan terjadi" kecupan kupu-kupu mendarat di bibir Sehun. Ia tersenyum. Ada yang menggelitik aneh dalam perutnya. Mungkin bunga sakura musim semi sedang berkumpul di dalam sana.

"Si brengsek Jongin"

"Oh, mulutmu sangat manis"

Kedua lengan Sehun naik mengalung pada leher Jongin. Mencari bibir pria itu untuk lumatan yang kemudian terjadi. Tidak peduli bahkan jika mereka masih berdiri di depan rumah, disisi jalan sore hari kota Busan.

"Aku mencintaimu" ucap Jongin dengan bibir yang masih enggan menjauh.

Sehun berdecih, "kemana saja kau? Apa saja yang kau lakukan selama ini?"

"Dihatimu. Mencintaimu" Sehun terpejam lagi ketika bibir itu melumat bibir bawahnya.

"Jongin"

"Tidak berniat menggantinya menjadi sayang?"

"Bodoh"

"Ya manis"

Mereka terkekeh di sela ciuman. Saling bergantian mendominasi untuk menyampaikan perasaan yang bertumpuk-tumpuk ingin di keluarkan. Persetan dengan bandara atau Belanda. Sehun sudah menemukan tujuannya sekarang. Rumahnya ketika di Busan dan di Seoul.

Masalah yang akan muncul akan bisa diatasi seiring berjalannya waktu. Tentang Seolhyun, nyonya Kim atau dunia yang menolak. Sehun tidak main-main dengan ancamannya, dan Jongin tidak ingin mati muda ditangan kekasihnya.

Maka janji itu ada untuk ditepati. Jalan mereka akan berbatu dan banyak terjal cemoohan. Tapi mereka berdua saling menguatkan. Berdua karena saling butuh pegangan.

"Apakah seperti itu percintaan anak muda jaman sekarang?" Ibu Sehun terkekeh, bersandar pada pagar balkon menatap dua orang di bawah yang masih menempel seperti perangko.

Chanyeol ikut tersenyum. "Mungkin" angin menyapu wajahnya. Berbisik tentang sesuatu yang baru saja dimulai. "Aku sudah lama tidak jatuh cinta"

.

.

.

.

.

Aku menulis kata selesai dengan hembusan nafas berat yang tidak begitu melegakan.

Malam telah menggantung. Pinggulku pegal karena terlalu lama duduk. Laptop ku panas terlalu lama menyala. Malam ini adalah akhirnya. Aku merasa kacau karena dua persamaan yang saling menghimpit di dalam kepala.

Lega namun enggan meninggalkan. Senang namun sulit untuk tersenyum. Seperti dua sisi kertas. Menyatu tapi sebenarnya terpisah.

Orang-orang ini entah sejak kapan menjadi bagian yang sulit kulepas dari keseharian. Menyelesaikan cerita berarti melepas mereka untuk diketahui dunia kemudian.

"Aku penasaran" ucapku mengambil atensi Chanyeol. "Bagaimana akhirnya?"

"Kau baru saja menulisnya"

Aku memijat tengkuk, menatapnya dengan keraguan yang jelas. "Kita tidak berada disini jika memang seperti itu akhirnya. Cerita itu milikmu. Milik Sehun tidak menjawab pertanyaanku tadi" aku mengacu pada buku harian yang tersimpan rapi diatas meja.

Chanyeol tertawa ringan. Ia mengambil satu teguk kopi sebelum memusatkan seluruh perhatiannya padaku. Suara musik jazz di sudut cafe menjadi peringan mood kami setelah berjam-jam berkutat dengan perasaan masing-masing.

"Seperti yang kau tebak. Sehun pergi"

"Belanda?"

"Akan lebih mudah jika itu Belanda"

"Lalu?"

Chanyeol menggeleng dengan dagu yang bertompang pada kedua tangan. "Tidak ada yang tau. Sehun pergi tanpa mengatakan apapun dan menghilang tanpa jejak sedikitpun"

Aku mngernyit, "tidak ada yang tau? Chen?"

"Tidak satupun."

Keputusan yang berat untuk diambil oleh Sehun. Aku yakin seperti apa hatinya saat memilih pergi tanpa ada yang peduli. Aku ingin menangis.

"Kenapa?" Aku bergumam pelan.

"Itu juga yang selalu kami tanyakan selama dua tahun ini."

Aku menatap keluar jendela. Mencari pembenaran dan penyangkalan akan langkah yang diambil oleh Sehun. Namun jika Chanyeol saja putus asa, apalah aku yang terlalu jauh untuk bisa mengerti.

"Sehun memenuhi permintaanku untuk tidak berbuat sesuatu yang konyol untuk menarik perhatian kami. Dia pergi diam-diam dan itu lebih konyol"

Aku fikir ini akan menjadi cerita dramatis dengan semua karakter yang ada. Aku mengharapkan klimaks yang apa ya, mungkin sedikit antimainstream? Cih, otak sempit.

Ah! Benar. Semua karakter.

"Bagaimana dengan Kris?"

"Aku menunggu pertanyaan itu." Antisipasi ku menguat. "Kris melakukan banyak perjalan luar negeri selama dua tahun belakangan. Kami seperti penguntit ulung sejak itu. Tapi sejauh apapun, tidak ada Sehun."

Ini memang di luar kenyataan. Ending nya yang kutulis jauh dari apa yang terjadi. Kasihan pembaca ku nanti yang tertipu. Tapi setidaknya mereka tidak perlu tau seperti apa kepahitannya.

Aku menangis. Chanyeol memberiku tisu dan mengusak rambutku.

"Aigoo, kau sudah bekerja keras" senyumnya kali ini tidak bisa membuatku tersipu. Isi kepalaku penuh dengan Sehun dan semua yang ia tinggalkan.

"Jongin pasti merasa buruk sekali" aku tercekat nafasku sendiri. Ingus sialan!

Chanyeol terdiam dengan kedua tangan yang kini turun terlipat pada meja. Bentuk senyumnya berubah. Aku seperti de javu. Seperti pertama kali aku bertemu dengannya.

Si malam tanpa bintang.

"Definisi kata hancur bahkan tidak bisa menggambarkan kondisi pria bodoh itu sekarang" ia parau berucap. Pedih.

"Dimana dia?" Aku sangat hati-hati dengan pertanyaan sensitive.

"Jongin menerima penghukumannya"

Cinta di dunia itu memiliki banyak pengertian. Sebanyak semua kata dalam kamus. Tapi carilah, maka tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan rasanya. Aku tidak tertarik tentang cinta yang rumit. Mereka hanya membuat lelah. Bahagianya, harunya, sedihnya, semua itu berarti lelah.

Ketidak pedulian itu mungkin yang membuat waktu dan garis hidupku berjalan cepat menuju hal baru yang harus ku lewati. Hidup bukan tentang apa yang terjadi hari ini saja.

Sosok itu yang menarikku. Mengajakku untuk ikut terbawa dalam perasaannya. Aku tidak bisa mengerti penuh bahkan sampai sekarang. Karena setiap hati memiliki sisi misterius yang tidak bisa di jangkau. Seperti mengapa hujan turun di musim panas atau daun yang rela jatuh ditiup angin. Hanya mereka yang mampu menjawab.

Park Chanyeol ada di sisi misterius diawal aku mengenalnya. Ia gelap dan sulit. Tapi Sehun membuat kami dekat sampai akhirnya aku tau seperti apa jika lembaran itu terbuka. Chanyeol hanya seseorang yang kehilangan dan putus asa untuk mencari.

Jika suatu saat nanti kita bertemu

Aku akan mengenalimu meski kau bersembunyi

Aku akan membiarkanmu pergi dalam waktu yang membeku..

Aku jadi takut membayangkan bagaimana hati yang hancur melumpuhkan Kim Jongin.

Lonceng pintu cafe berbunyi. Aku tidak peduli sampai Chanyeol berdiri untuk menyambut.

"Perkenalkan"

Aku berbalik untuk menemukan sosok tinggi dan tampan itu berdiri dengan gagah.

Tes!

"Dia Kim Jongin"

Tapi kenapa aku menangis?

.

.

.

.

.

.

.

Yeayy! Finnaly! Ending! Lalalala~~~