Hujan hari ini membuat sebagian orang mengeluh karena banyak dari mereka yang mengalami hambatan dalam bekerja. Apalagi biasanya hujan di Montreal bisa seharian penuh dan berlanjut ke hari-hari berikutnya. Salah satu yang paling mengeluh adalah para staff dari WF entertainment.

Sebenarnya, hujan di Montreal City bukan satu hal yang asing. Musim dingin bahkan lebih panjang. Tapi jika mendadak seperti ini, maka semua hal yang sudah terencana matang pun bisa gagal total. WF Entertainment baru saja menandatangi surat kerja sama dengan perusahaan pakaian Roots yang cukup besar di Kanada. Salah satu artis besutan mereka terpilih menjadi brand amabassador untuk merk pakaian musim dingin.

Seharusnya pemotretan yang memang harus dilakukan outdoor dan segala hal lainnya sudah siap di jalankan sejak beberapa jam lalu. Tapi hujan masih belum bosan membasahi pijakan. Hampir semua staff berdiri di samping dinding kaca besar lantai tiga, saling berharap agar hujan lekas reda. Tidak masalah sebenarnya jika pemotretan bisa di langsungkan besok, tapi Han Soori, artis yang menjadi brand ambassador Roots memiliki jadwal padat yang tidak bisa di ganggu gugat.

Mereka menghela nafas. Hari ini pemilik sekaligus presdir perusahaan akan datang. Seluruh laporan akan langsung diberikan padanya. Presdir mereka terkenal sangat perfeksionis. Maka sekali lagi, mereka hanya berharap hujan reda dan pemotretan bisa di langsungkan.

Mobil BMW hitam mengkilap itu akhirnya tiba di pelataran kantor. Para staff yang tadinya berdiri di depan kaca, gaduh untuk beberapa saat.

"Hey hey, what's wrong?" Seseorang yang baru saja memasuki ruangan terlihat menahan tawa melihat keributan kecil yang di buat oleh staffnya.

"Presdir Wu sudah tiba" sahut seorang staff. Pria yang masih berdiri bersandar pada pintu itu terkekeh.

"Calm down, biar aku yang bicara padanya"

Pintu tertutup seiring helaan nafas lega dari seluruh staff. Meski mereka masih belum bisa selega itu. Menyerahkan semua hal pada fotografer andalan WF itu adalah dua pilihan. Hidup terus berlanjut atau mati hari ini juga.

.

.

.

Sepatu pantofel hitam itu menghentak di sepanjang ruangan yang terlewati. Semua karyawan menunjukkan rasa hormat mereka dengan membungkukkan badan. Kebanyakan pekerja di WF adalah orang asia, jadi kebiasaan seperti itu memang tidak asing.

Selain sang presdir, seorang pria dengan setelan yang lebih santai berjalan disampingnya. Beriringan memberikan intimidasi atas paras rupawan mereka yang tidak bisa hanya dijadikan bahan perbandingan. Pria yang lebih murah senyum dan terlihat santai dengan sweter hitam berlapis mantel selutut berwarna senada itu memiliki wajah asia yang kental.

Postur tubuh tinggi dan rampingnya sangat menarik bagi para wanita lajang diluaran sana. Dan lagi, wajahnya yang tampan mampu bersaing dengan pria Perancis lain.

Ketika para karyawan membungkuk, kembali terlihat perbedaan yang sangat kentara. Satu pria yang tetap berjalan dangan tubuh tegap dan pandangan lurus, serta pria lain yang menyambut mereka dengan senyuman ramah. Ketika sang presdir melewati ruang kerja yang tidak cukup sibuk, seluruh karyawan berdiri untuk menyambutnya. Kehadiran pria bermarga Wu itu memang selalu ditinggikan, selain karena jabatannya, kantor agensy di tengah kota Montreal itu memang lebih kecil dari anak perusahaan lain yang tersebar hampir di seluruh benua. Suatu kehormatan jika presdir Wu bisa berhadir di kantor mereka.

Bisikan yang berisik akhirnya tersuara ketika pintu ruangan berplang "Direktur" tertutup rapat. Para karyawan wanita sibuk mengagumi betapa gagahnya presdir mereka. Sedangkan para pria kembali sibuk membahas pekerjaan yang tidak ada habisnya.

Meskipun baru pertam kali mengunjungi WF Entertainment, Wu Xiuhuan hampir tau segala kegiatan di dalamnya sebelum ia memasuki kantor berlantai enam di daerah Cathèdral St itu. Bagaimana tidak, dia pernah bekerja di kantor pusat bertahun-tahun lalu.

Ruangan Kris terletak di lantai empat. Sebuah ruangan bergaya modern yang cukup luas untuk bergerak.

Di belakang meja kebesarannya, dinding kaca besar mampu menstimulasikan seluruh pemandangan pusat kota Montreal yang tidak terlalu padat. Xiuhuan mengakui selera suaminya yang dikenal perfeksionis. Gedung WF terletak di Cathèdrale St, Montreal. Dari kaca jendela ruangan, Katedral Reine Marrie Du Monde bisa terlihat jelas, sehingga kota yang memang biasanya cukup sepi ini terlihat ramai karena tepat di pusat wisata.

"Kau suka?" Tanya Kris, memutar kursinya menghadap Xiuhuan.

Pria itu membalas dengan senyuman. Lengkungan pada kedua matanya adalah salah satu favorit Kris. "Kau seperti ingin membuat kamar hotel di ruang kerjamu sendiri"

Kris tertawa, menghampiri Xiuhuan dan memeluk tubuh suaminya itu dari belakang. Aroma bergamot ia hirup dari tengkuk Xiuhuan.

"Terima kasih sudah menemaniku hari ini"

"Haruskah aku juga berterima kasih?" Sahut Xiuhuan dengan wajah merengut, "aku berencana menghabiskan 'waktu tanpa shift' ku dengan bersantai di rumah, tapi seseorang memaksaku dan akhirnya aku tergeletak di tempat yang melelahkan ini"

"Membujuk mu lebih sulit daripada membujuk Ellios yang merajuk"

Mereka kembali tertawa ketika suara ketukan pintu meginterupsi. Kris melepaskan pelukannya dan mempersilahkan seseorang di balik pintu untuk masuk. Seorang pria berkulit kecoklatan dengan bola mata biru terang khas orang Perancis tersenyum menyenangkan di depan pintu. Ia melangkah masuk dan membungkukkan badan. Xiuhuan tersenyum melihat bagaimana pria itu membiasakan diri di tengah orang asia.

"Senang bertemu dengan anda-emm.."

"Dia suamiku"

Pria itu tersenyum, "ah, Mr. Wu"

Xiuhuan menyahuti seadanya, lalu melirik Kris.

"Dia salah satu fotografer terbaik kami, Kenneth Douglas" Kris menjawab rasa penasaran Xiuhuan.

"Sebenarnya, aku satu-satunya. Dan kenapa kau tidak memberitahu pada karyawan yang lain bahwa dia adalah suamimu? Mereka terlihat berisik mengatur rencana untuk mengajak suamimu makan malam"

"Bukankah kau disini untuk menyebarkan berita ini?"

"Seperti biasanya. Presdir Wu yang sok tau"

Kris menggelengkan kepala dengan kekehan kecil. Xiuhuan kemudian menjadi pemirsa diantara percakapan akrab mereka. Kenneth terlihat seperti fotografer yang sering Xiuhuan temui ketika kuliah. Ia memiliki kebebasan yang tidak bisa di kekang oleh siapapun. Gaya berpakaian dan bahasa tubuhnya saat berhadapan dengan Kris menunjukkan betapa sering pria itu membuat Kris sakit kepala. Mereka berbicara tentang pemotretan yang ditunda karena cuaca buruk hari ini. Xiuhuan kembali menatap jendela. Hujan sudah reda, hanya goresan gerimis yang kini menghantam kaca.

"Hari masih panjang Ken, kalian bisa melakukan pemotretan siang nanti" Kris membuka beberapa dokumen baru yang terletak di atas meja kerjanya. Di hari pertama, dokumen-dokumen itu telah meminta untuk ditanda tangani.

"Aku tidak bisa membujukmu kali ini" Kenneth menampakkan raut wajah kecewa yang ditolak mentah-mentah oleh Kris. Pria Perancis itu terkekeh kemudian berdiri dari kursi. "Baiklah Presdir, terima kasih atas waktunya"

Pintu kembali di tutup dan kini ruangan menjadi sunyi karena Kris lebih memilih bermesraan dengan dokumen. Xiuhuan mendesah malas, melangkah untuk menyamankan diri di sofa panjang berwarna abu tua. Beberapa pajangan menjadi menarik untuk dilihat.

Sebuah jam besar bergaya klasik di sudut ruangan mengalihkan rasa bosan Xiuhuan.

"Kita harus menjemput Ellios sebentar lagi"

Xiuhuan memicing kearah meja kerja suaminya, "kau membaca pikiranku?"

"Aku melihat jam tanganku" yang lebih tua menunjukkan jam tangan rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu terkekeh.

Xiuhuan mencibir. Matanya kembali menerawang pada bangunan-bangunan tinggi di balik kaca. Hujan di Montreal adalah salah satu yang terbaik setelah Onewhero. Dia menyukai hujan sejak dulu. Aroma hujan sangat menyenangkan. Sederhana dan menenangkan.

Petrichor-

"Sudah kukatakan untuk memanggilnya Tae Oh, Kris" suaranya terdengar kesal.

"Ellios terdengar akrab untuk lingkungan ini"

Kris melirik melalui sudut mata. Xiuhuan terlihat tidak tertarik pada perdebatan yang biasanya terjadi jika sudah membahas nama panggilan untuk anak semata wayang mereka. Kris bahkan hapal dengan alasan Xiuhuan enggan memanggil anaknya Ellios. Dia bilang, nama Tae Oh akan mengingatkannya darimana ia berasal.

Pria dengan kulit cerah itu hanya memandangi pigura yang tergantung di salah satu dinding. Foto suasana ramai pusat kota di malam hari yang di bingkai dengan apik.

Foto itu diambil oleh Kenneth. Satu tahun lalu di salah satu kota terpadat di dunia.

Seoul.

.

.

.

.

.

.

Bersambung..