Old Montreal menjadi salah satu yang paling sering ku kunjungi. Sepanjang jalan, aku bebas menikmati imajinasi berada pada masa kerajaan Eropa jaman dulu. Bangunan klasik yang terawat serta pejalan kaki yang ramah sering kali memghilangkan rasa bosan. Aku tidak memiliki tujuan. Hanya mengikuti bayangan di aspal yang terus berjalan mendahuluiku.
Sore hari disini lebih dingin daripada di Onewhero. Jika bukan karena urusan pekerjaan, aku masih betah tinggal disana.
Ini sudah satu tahun sejak aku kembali tinggal di Montreal. Setelah tahun sebelumnya ku habiskan dengan bercengkrama bersama kebun pribadi milikku di Onewhero, Selandia Baru. Titel dokter yang kudapat dari Universitas McGill membuatku diterima untuk bekerja di St. Marie Hospital, walau haya dokter magang. Aku menikmati pekerjaanku sekarang, tentu saja. Tapi kadang ketenangan Desa Onewhero membuatku rindu.
Aku tidak bisa membuat biskuit Aznac yang lezat itu. Mencarinya di Kanada pun sangat sulit. Kadang aku meminta Aunt Selena mengirimkannya jika suamiku sudah diserang sakit kepala karena tidak bisa menemukan biskuit aznac seenak buatan Aunt Selena. Lautan hijau padang rumput disana berganti drastis dengan katedral-katedral kuno disini. Walau sebenarnya pemandangan kota Montreal lebih terlihat familiar untukku.
Jauh sebelum dua negara ini, aku tinggal di benua lain. Tanah kelahiranku, Korea Selatan.
Aku lahir dan besar di Busan. Kota pemilik pantai Haeundae yang dikelilingi gedung-gedung tinggi pusat perokonomian. Disana, aku tinggal di rumah sewa sederhana bersama ibu tunggal. Ibu bilang, ayah adalah orang yang sibuk hingga jarang pulang. Tapi aku tau, ayah tidak akan pernah pulang. Masa kecilku selayaknya anak-anak lain. Sekolah, bermain, memiliki banyak teman, baju yang kotor karena lumpur, dan hanya semua hal menyenangkan.
Meski hanya bersama ibu, aku tidak pernah merasa kurang. Sampai aku mulai mengerti tentang beberapa hal. Salah satunya, keluarga yang lengkap. Aku masih berada di tingkat sekolah dasar ketika mereka menyebutku anak haram.
Lampu merah menyala menandakan aku harus menunggu beberapa saat sampai mobil-mobil itu kembali berhenti. Aroma kopi dari seberang jalan membuatku semakin tidak sabar. Selain bangunan kuno, coffe shop pun mudah ditemui di sepanjang Old Montreal. Aku berencana menghangatkan tubuh sebelum dua jagoanku datang dan membuatku repot dengan segala canda mereka.
Lonceng diatas pintu berdenting pelan ketika aku masuk. Aroma kopi semakin kuat di seluruh penjuru ruangan. Aku memesan latte dan memandang berkeliling untuk menemukan tempat duduk. Pengunjung menjadi lebih banyak di musim liburan. Beberapa turis bercengkrama dengan bahasa yang tidak ku mengerti. Akhirnya sebuah bangku di sudut menarikku, menyamankan diriku untuk melihat pejalan kaki di luar coffe shop.
Seorang anak kecil berlarian di sekitarku. Ia terlihat lucu dengan jaket merah muda berbulu yang hampir menenggelamkan seluruh tubuhnya. Kulirik pada meja yang di penuhi beberapa orang di depan sana. Wanita yang kukira ibunya tak melepaskan mata sedikitpun dari anak kecil yang berlarian tadi, khawatir jika ia tersandung atau mengganggu pengunjung lain.
Aku juga pernah memiliki perasaan seperti itu.
Aku bukan seorang ibu. Aku pria berusia 24 tahun yang memiliki seorang anak laki-laki super aktif. Kadang aku dan suamiku harus ekstra perhatian pada setiap langkah kakinya. Suamiku menjadi yang paling memperhatikan segala hal disela kesibukannya yang padat. Dari hal besar sampai yang terkecil sekalipun. Aku bersyukur, anakku memiliki daddy yang luar biasa.
Aku lahir tanpa seorang ayah. Orang-orang menyebutku anak haram hanya karena ibu bekerja di sebuh club malam yang cukup populer di distrik Haeundae-gu. Aku memang masih kecil saat itu. Tapi selalu ingat dengan ucapan ibu. Beliau berkata bahwa aku besar bukan karena uang kotor, aku lahir dari ibu yang cantik dan memiliki ayah yang sangat tampan. Sampai saat ini aku masih percaya, ibu bukan seorang pekerja sex di club. Dia hanya membantu Sunny ahjumma mengelola keuangan.
Orang-orang itu hanya menutup mata dan membuka mulut mereka lebar-lebar.
Aku fikir, tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan. Sampai hari itu tiba. Aku melihat darah. Seorang pria dewasa yang tergeletak di lantai rumahku. Berita mengabarkan bahwa ibuku menganiaya 'pelanggannya'. Mereka lagi-lagi hanya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Ketika ibu berteriak dengan lantang bahwa ia bukan jalang, membela diri demi sebuah harga diri.
Tapi ketakutan membuatnya tidak berfikir panjang. Belati itu menikam si pria hingga membuatnya terluka parah. Aku meraung lebih kencang dari sirine ketika ibu diseret masuk ke dalam mobil polisi.
Dan setelahnya yang ku tau, aku meninggalkan Busan.
Latte hangat tersaji. Seorang pelayan wanita yang sangat ku kenal tersenyum ramah.
"Kau terlihat sangat tampan hari ini, dokter Wu"
"Terima kasih Helena. Kau pun cantik"
Wanita itu tersenyum kembali sebelum melanjutkan pekerjaannya. Coffe shop ini menjadi salah satu yang paling sering ku kunjungi di masa kuliah dulu. Meski cukup jauh dari McGill University, beragam kopi yang mereka sajikan terasa berbeda dari coffe shop lain. Jadi tidak heran jika beberapa pelayan mengenalku. Orang Kanada sangat ramah.
Aku sempat takut saat pertama kali pindah ke Montreal. Aku memang remaja pembuat onar saat sekolah, tapi aku sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Orang-orang berbahasa Perancis cukup mengerikan kulihat. Dan seketika kejadian pembullyan membayangiku di hari pertama menjejak International Montreal Butler Academy. Aku tidak suka di bully. Aku terbiasa membully. Tapi percayalah, Korea Selatan memang menjadi negara dengan tingkat bullying tertinggi. Remaja Kanada seusiaku waktu itu menerimaku dengan baik. Memang ada beberapa yang tidak suka, tapi itu hal wajar. Kota ini damai, dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah.
Terlebih, ada seseorang yang rela menukar waktunya untuk menemaniku sampai aku terbiasa.
Suamiku.
Dulu, aku melihat Seoul dengan tatapan yang berbeda. Aku percaya diri dengan lingkungan baru. Aku dibentuk untuk menjadi laki-laki yang kuat oleh ibu. Hidup kami selama ini cukup menjadi bekal untukku. Itu sebelum ku tau bahwa anak-anak di panti memiliki tingkat emosi yang berbeda. Panti asuhan yang ku tinggali adalah rumah tua di pinggiran kota milik seorang Nenek renta yang sudah tidak mampu berdiri dari kursi rodanya. Pengasuh kami adalah Jang Ahjumma. Dia sangat galak dan disiplin. Kami harus tidur jam sembilan malam, jika tidak maka bersiap saja tidur di pelataran rumah.
Hanya ada kurang dari sepuluh anak di panti termasuk aku. Rata-rata seumuran denganku, kelas empat sekolah dasar. Seorang anak laki-laki berbadan besar bernama Dong Hyuk, dia yang sering mengejekku, memperlakukan ku dengan tidak baik. Selain galak, Jang ahjumma juga pilih kasih, sikap yang tak seharusnya ditunjukkan oleh seorang pengasuh. Aku selalu terluka karena Dong Hyuk, dan Jang Ahjumma seolah tidak melihat apapun.
Yixing hyung dan adiknya, Yin adalah teman berharga yang kumiliki. Mereka yang akan mengobati lukaku. Mereka juga yang berteriak meminta tolong ketika aku jatuh dari tangga akibat perbuatan Dong Hyuk. Tapi mereka meninggalkan ku lebih dulu. Yin diadopsi oleh seorang pengusaha dari Taiwan, dan Yixing hyung memilih jalan hidupnya sendiri.
Yixing hyung pergi dengan janji akan membawa kabar dari ibu. Wanita yang sangat ku rindukan. Selama bertahun-tahun aku menunggu, tidak ada kabar. Yixing hyung datang saat semuanya sudah menjadi kacau.
Aku menghela nafas berat saat teringat kejadian itu. Entah mengapa, Busan dan Seoul seperti tidak menyukaiku. Selalu ada trauma yang ditinggalkannya untukku. Anak kecil yang masih belum mengerti banyak hal.
Rasa panas yang membara masih bisa kurasakan sampai sekarang. Ketakutan itu masih saja membuatku panik. Aku kembali menatap berkeliling, memastikan bahwa aku akan aman berada di coffe shop ini.
Aku lupa kesalahan apa yang kubuat di pagi hari senin di musim panas saat itu. Jang Ahjumma meneriakiku, memakiku seperti meluapkan seluruh amarahnya yang terpendam selama ini. Aku balas berteriak karena dia menyebutku anak seorang pembunuh. Ibuku yang malang tidak harus menjadi lampiasan rasa kesal orang lain. Lalu dia mengurungku di gudang.
Aku kelaparan. Tenggorokanku kering dan hampir pingsan jika aku selemah itu untuk bertahan. Gudang menjadi sangat gelap di malam hari. Beberapa kali aku menggedor pintu, memohon belas kasih orang lain. Tapi telinga mereka tuli. Anak-anak itu tuli. Hanya di saat seperti itu aku merindukan Yixing hyung.
Malam semakin pekat. Aku hampir tertidur karena rasa lapar. Tapi suara gaduh di luar sana menyadarkanku lagi. Gudang semakin panas ketika aku mendengar anak-anak berteriak "kebakaran" dan "api". Seorang anak kecil berusia sembilan tahun terkurung di gudang, mencoba berteriak dengan kerongkongan kering meminta pertolongan. Aku mungkin saja mati. Tapi seorang pemadam datang dan menyelamatkan ku, entah darimana dia tau bahwa ada seorang anak di dalam gudang. Aku hanya bersyukur. Waktu masih memberiku kesempatan untuk menjalani kepahitan hidup lebih lama lagi.
Nenek pemilik panti selamat dari kebakaran. Semua anak baik-baik saja meski ada yang terluka termasuk aku.
Nyonya Jang tewas di kamarnya yang terkunci.
Aku merinding melihat uap kopi yang mengepul. Itu mengingatkanku dengan asap kebakaran yang masuk melalui celah pintu gudang. Tanpa sadar tanganku mengusap paha bawahku. Bekas luka bakar nya masih ada. Menjadi tatto permanen sepanjang hidupku.
.
.
.
.
.
Bersambung...
