Suara roda yang berpacu cepat. Langkah kaki tergesa dan bau obat-obatan menjadi hal biasa kini untuk Xiuhuan. Pagi sekali saat ia tiba. Matahari masih bersembunyi di balik awan mendung. Entah kapan musim panas akan tiba. Xiuhuan bosan kedinginan. Dia kurang suka memakai pakaian yang berlapis-lapis, belum lagi Tae Oh kadang rewel jika di pakaikan mantel. Terlebih ia tidak bisa menikmati ice coffe di pagi hari. Kris yang akan menjadi dokter dadakannya di rumah, mengingatkan ini dan itu tentang tidak baiknya mengonsumsi minuman seperti itu sebagai sarapan.

"Kau sudah menyelesaikan laporan dari pasien di kamar 32?" Jena, si dokter magang yang cantik mengambil tempat di samping Xiuhuan yang sibuk menuliskan sesuatu di meja resepsionis.

"Kau tidak lihat? Aku sedang menyelesaikannya sekarang" sahut Xiuhuan, tangannya bergerak cepat diatas kertas.

"Ya Tuhan!" Map putih di tangan Jena melayang ringan memukuli punggung Xiuhuan. "Kenapa baru menulisnya sekarang? Dokter Simpson akan murka jika tau"

"Jadi tutup mulutmu sebelum dokter pembimbing kejam itu mendengarnya"

Jena mendesis dan kembali memukuli punggung Xiuhuan. Pria itu tidak peduli dan kembali sibuk dengan laporan kesehatan milik pasien penderita tumor di kamar 32. Seorang anak perempuan. Kadang Xiuhuan meringis melihat wajah kesakitan anak itu. Teringat dengan Tae Oh. Semoga hal buruk seperti itu tidak terjadi pada anaknya.

"Setelah ini kau akan menemani Dokter Adele di ruang bedah" kembali suara Jena terdengar setelah hembusan nafas lega keluar dari bibir Xiuhuan. Laporannya sudah selesai.

"Benarkah?"

"Sehun!"

Yang di teriaki hanya terkekeh. "Jangan berisik di rumah sakit Jen. Aku tau. Aku hafal jadwalku"

Jena mendengus. Pertama kali mengenal Xiuhuan, Jena mengira pria itu sosok yang kalem dan boyfriend material sekali karena berpenampilan layaknya murid pintar. Tapi Xiuhuan tidak lebih seperti keponakannya yang sering menghabiskan isi kulkas. Menyebalkan. Dilihat dari segi manapun, Xiuhuan memang sangat tampan dengan gaya berpakaian yang kasual serta tinggi badan proporsional. Bohong jika Jena tidak tertarik. Tapi pria tampan ini memiliki suami yang jauh lebih tampan.

"Aku harus pergi sekarang" Jena mengangguki ucapan Xiuhuan.

"Sehun, tunggu aku di kantin makan siang nanti" pria yang kini melangkah di koridor itu hanya melambai tanpa berbalik.

Jena juga lebih suka memanggil Xiuhuan dengan nama aslinya. Meski sejak menikah nama pria itu telah berganti menjadi Xiuhuan. Tapi di kartu penduduk dia tetap memakai nama Wu Sehun. Lagipula, bagi orang perancis, Sehun lebih mudah diucapkan daripada Xiuhuan.

Jadwal Sehun hari ini cukup padat. Belum lagi nanti ia mendapat shift malam dan akan pulang ke rumah besok pagi. Kris sudah ia andalkan untuk menjemput dan menemai Tae Oh selama satu malam ia berada di rumah sakit. Ia melarang Tae Oh datang ke rumah sakit karena udara di tempat seperti ini tidak baik untuk anak kecil.

Di ruang bedah, Dokter Adele telah siap dengan segala peralatan operasi. Sebagai dokter magang, Sehun hanya bertugas mencatat laporan di belakang dokternya. Menulis segala diagnosa yang dialami pasien.

Operasi berjalan cukup lambat. Hampir tiga jam para dokter yang bertugas akhirnya keluar dari ruang operasi. Sehun menghela nafas. Kakinya cukup keram karena terlalu lama berdiri. Sudah memasuki jam makan siang, jadi ia memutuskan ke kantin, mengisi perut sebelum shift yang panjang hari ini.

.

.

.

Shift yang melelahkan berakhir. Dengan wajah mengantuk berat, Sehun berdiri di pelataran rumah sakit menunggu jemputan dengan kemeja abunya yang kusut. Beberapa kali mulutnya terbuka lebar untuk menguap. Pagi ini cerah. Jalanan sudah ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki.

Tidak lama, mobil sedan hitam itu memasuki kawasan rumah sakit dan berhenti tepat di depan Sehun. Tanpa membuang waktu, Sehun masuk ke jok penumpang di depan dan melihat Kris di sampingnya.

"Lelah?" Tanya Kris, kembali melajukan mobil di tengah jalan yang tidak terlalu padat.

"Sedikit. Tapi aku sangat mengantuk" Sehun kembali menguap, menyandarkan kepalanya pada jok dan menutup mata.

"Kau ingin kopi?"

"Bolehkah?"

"Tentu"

"Kalau begitu belikan satu untukku"

Mobil kembali berhenti di depan sebuah coffe shop. Sehun hanya menunggu di dalam mobil selagi Kris membelikannya secup kopi panas. Suara dering ponsel di dasbor mobil mengejutkan Sehun. Itu milik Kris. Sehun membiarkannya saja. Semua panggilan dari ponsel putih itu berisi pekerjaan.

Kris masuk ke dalam mobil dengan satu cup kopi panas yang ia serahkan pada Sehun.

"Terima kasih sayang"

"Everything for you"

Ucapan itu membuat Sehun mendengus geli, namun mendekat juga untuk mengecup bibir suaminya kemudian.

"Ponselmu berbunyi tadi"

"Ya.."

Sehun melirik mendengar nada suara Kris.

"Ada apa?"

"Sesuatu terjadi di perusahaan"

Satu alis Sehun terangkat, "kau akan pulang ke Seoul?"

Kris menatapnya ragu. Beberapa kali membuka mulut untuk bicara namun belum menemukan kata yang pas.

"Hyung"

Oh, dia lemah dengan panggilan itu.

"Begini, sesuatu yang terjadi disana cukup serius" Sehun mengangguk mengerti, "jadi aku tidak bisa bolak-balik kesini lagi" kali ini keningnya mengernyit bingung.

"Lalu?"

Kris menghela nafas satu kali. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini bersama Ellios. Jadi, bukan aku yang akan pulang. Tapi kita"

Efek kopi yang baru diminun Sehun satu teguk sangat efektif. Kantuk nya hilang begitu saja.

.

.

.

Debur ombak tak nampak di kegelapan malam. Udara lebih menggigit di pesisir pantai. Bayangan daun pohon kelapa melambai pada pasir yang hanya diterangi lampu-lampu kecil. Sosoknya berdiri disana. Menatap hampa pada ombak yang tak berhenti menghempas. Jaket tebal menjadi satu-satunya penghangat tubuh.

Rumahnya berada di seberang jalan setapak sepanjang pantai. Sebuah rumah pesisir sederhana yang ia bangun empat tahun lalu. Menghabiskan waktu sendirian di tanah eksotis pulau Jeju.

Helaan nafasnya berembun. Suara langkah kaki di belakang tubuh ia abaikan.

"Berhentilah berlagak seperti model pakaian musim dingin"

Ia terkekeh mendengar suara berat Chanyeol di belakang, namun masih enggan berbalik.

"Yak! Terserah kalau kau masih ingin mencari pilek diluar sini. Tapi bisakah kau bukakan pintu rumahmu dan biarkan kami masuk?"

Kali ini ia mengalah. Menghadap pada dua orang pria di depannya yang masih terlihat rapi dengan jas masing-masing. Ia berkacak pinggang, memasang wajah protes.

"Kenapa tidak pulang saja ke rumahmu Chen?" Ia melangkah diatas pasir, membiarkan kaki tanpa alasnya kotor oleh pasir-pasir itu.

Chen mendengus, "lihatlah hyung, dia benar-benar menjadi anak pantai sekarang. Kulihat kulitnya juga semakin hitam" katanya pada Chanyeol yang berdiri di sampingnya.

Mereka beriringan menuju satu-satunya rumah disana. Penghangat ruangan menyambut ketika si pemilik rumah membuka pintu. Chen mendesah lega dan menyamankan diri di sofa.

"Kenapa kalian tidak menginap di hotel?"

Chen membuka beberapa kerah kemejanya sebelum menjawab, "kenapa harus menghabiskan uang di hotel kalau ada penginapan gratis di pinggir pantai" kemudian kakinya di tendang dari samping.

"Pulang sana!"

"Maaf, Kim Songsaenim" cengir Chen.

Setelah membersihkan diri, Chanyeol dan Chen bergabung di ruang makan. Beberapa sajian makan malam sudah menggelitik hidung dengan aroma lezat mereka. Ketiga pria dewasa itu sesekali saling bertukar kabar dan menceritakan beberapa hal di sela makan malam.

Selesai mengisi perut. Duduk lesehan di depan perapian menjadi hal terbaik. Melanjutkan kembali obrolan akrab yang sangat lama tidak terjalin. Chanyeol dan Chen berada di satu perusahaan yang sama. Chanyeol sebagai direktur, dan Chen di posisi manager pemasaran.

"Bagaimana rasanya memiliki bawahan seperti dia?"

"Seperti aku memiliki adik kelas yang cerewet"

"Istriku tidak pernah berkata bahwa aku cerewet"

"Karena dia istrimu" serempak dua suara itu menyahuti.

Chen merengut, "kalian kompak sekali"

"Kau mungkin saja tidak akan memberi uang bulanan padanya jika ia menyebutmu cerewet"

"Ide yang bagus"

Tawa mereka sedikit mengisi kekosongan yang selama ini begitu pekat di dalam rumah. Sebuah buku diatas meja meghambil atensi Chanyeol. Buku bersampul coklat dan buku lain dengan sampul ungu muda. Dua buku yang sangat familiar. Salah satunya adalah novel dari seorang penulis yang dikenalnya lima tahun lalu.

"Jongin" panggilan itu membuat si pemilik nama menoleh. "Bagaimana kabarmu?"

Kim Jongin, pemilik rumah di pesisir pantai. Seseorang yang memilih tinggal jauh dari keramaian kota yang membesarkannya itu tersenyum.

"Aku baik-baik saja hyung"

Chanyeol melihat wajah tersenyum tanpa nyawa itu. Kim Jongin yang dikenalnya sudah menghilang sejak bertahun-tahun lalu. Chanyeol menghela nafas dan menengadah menatap langit malam di balik kaca jendela kayu.

"Bagaimana kabar Sehun sekarang?" Tanyanya pada udara.

Chen mengangguk dan ikut tersenyum. "Aku juga penasaran"

"Sehun ya.." seperti permata, nama itu terucap dengan sangat hati-hati dari bibir Jongin. Seolah takut menghancurkannya. "Aku merindukannya setiap hari"

.

.

.

.

.

.

Bersambung..

Lagi suka sama kedokteran, kebakaran, dan rindu. wkwkwkwk