"Appa!"

Aku sumringah mendengar suara itu di depan pintu masuk. Bahkan suamiku masih mencariku tapi si jagoan kecil itu sudah berteriak heboh sambil berlari kearahku. Aku bangkit dari kursi untuk menyambutnya.

"Bagaimana harimu di sekolah hm?" Dia menjadi manja jika berada dalam gendonganku.

"Tae tae jatuh dari ayunan" dia menunjukkan telapak tangannya yang lecet, tapi tersenyum lebar kearahku.

"Tae tae menangis?"

Dia menggeleng, "aniyoo~"

Aku terkekeh dan membawa nya duduk dalam pangkuan. Melihat tangan atau kakinya lecet adalah hal yang sangat biasa. Hampir setiap hari ia jatuh saat bermain ayunan atau kejar-kejaran dengan teman sekelasnya. Pria pirang yang lebih tinggi dariku kemudian muncul, membawa satu cup kopi panas serta mainan di kedua tangannya.

"Ironman!" Mainan itu berganti tangan. Kini si kecil sibuk dengan dunianya bersama ironman.

"Sudah menunggu lama?"

"Baru satu gelas latte" aku menunjuk pada gelas kosong di sudut meja.

"Jagoan kecilmu melihat ironman di etalase toko. Jadi kami mampir sebentar kesana"

"Bukan daddy nya, tapi anaknya?"

Suara kekehannya terdengar canggung. Pria ini baru saja tertangkap basah.

"Aku serius sayang"

"Baiklah, aku percaya sampai nanti melihat sendiri kotak besar itu didalam mobil"

Tidak banyak yang tau bahwa suami ku ini adalah kolektor miniatur gundam. Di rumah, ia memiliki ruangan pribadi untuk semua koleksinya. Sudah ratusan robot kecil itu ia pelihara. Bagiku, hal itu terlihat biasa. Tapi mungkin bagi karyawan di perusahaan, sangat menakjubkan jika bisa melihat sisi lain dari presdir mereka yang perfeksionis ini.

Hari ini, aku mendapat shift malam hingga memiliki banyak waktu sampai sore nanti. Aku memang kadang berkumpul di satu restoran bersama teman-teman dari rumah sakit. Tapi menghabiskan waktu bersama suami dan anakku adalah hal terbaik.

Pria yang lebih tua dariku ini lahir dengan nama Wu Yifan. Kanada adalah negara kelahirannya, selain China yang menjadi tempatnya tumbuh dari kecil hingga dewasa. Di Kanada, ia dipanggil Kris Wu. Pria tampan berambut pirang yang berusia tiga tahun lebih tua dariku ini seorang CEO di peruhaan agensy terkenal. Aku termasuk jajaran siswa dengan tinggi badan diatas rata-rata. Tapi suamiku ini bahkan lebih tinggi dariku. Mungkin karena darah campuran.

Selain bersantai dan menghabiskan quality time, hari ini adalah perayaan hari pernikahan kami yang keempat tahun. Aku dan Kris bukan para pria romantis yang menyukai bunga atau candle light dinner. Jadi kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat saja bersama si kecil yang kini berteman akrab dengan ironman.

Dalam hidupku. Menikah dan memiliki keluarga sendiri salah satu hal yang tidak pernah ku bayangkan. Memiliki waktu untuk besok saja sudah sangat cukup. Ku fikir, seorang pria seperti ku akan mendapatkan gadis cantik sederhana yang syukur-syukur mau menikah denganku. Dulu, aku hanya sempat membayangkan akan memiliki masa depan yang cukup indah dengannya. Seseorang. Tapi itu masa lalu. Dan yang terlewat, cukup diingat saja.

Setelah insiden besar dipanti, semua anak di pindahkan ke tempat lain. Tapi, aku tidak bisa meninggalkn nenek. Jadi aku merawatnya setiap hari, sebelum dan sepulang sekolah. Kami masih tinggal di panti yang diperbaiki seadanya oleh tetangga. Sampai di tingkat dua sekolah menengah pertama, nenek yang kusayangi meninggal dunia. Usia nya 107 tahun saat itu. Setiap malam, aku hanya merindukan panggilannya yang memintaku membersihkan lantai yang penuh air kencing. Dan, saat itulah Yixing hyung datang.

Kabar dari ibu tidak membuatku terharu atau bersedih. Hatiku keras seiring berjalannya waktu. Aku tetap sendirian. Yixing hyung bekerja di tempat lain dan akan datang beberapa kali sebulan untuk memberikan uang transferan dari ibu. Wanita yang sangat ku sayangi itu mengira, aku hidup dengan sangat baik di panti.

Setelah beberapa kali mendengar pertanyaan dari Yixing hyung kenapa aku tidak ingin kembali ke Busan, akhirnya aku menemukan jawaban.

Dia teman yang berbicara padaku pertama kali saat anak lain enggan mendekat. Dia teman yang membawaku kerumahnya untuk makan malam enak. Dia teman dengn kedua orang tua yang menyayangiku. Dia seorang teman yang menganggapku seperti saudaranya sendiri. Alasanku tidak pulang ke rumah sendiri, karena dia sudah lebih nyaman untuk jadi tujuanku.

Seseorang dari masa lalu yang kini menjadi alasanku lagi untuk berada di Montreal, bersama Kris dan Tae Oh.

Kim Jongin.

"Jadi, sudah menyusun rencana untuk perjalanan selanjutnya?" Tanya Kris setelah menghabiskan sepiring cake dan setengah gelas kopi.

Aku tersenyum mengingat semua list sudah tersusun rapi. "Siapkan kakimu tuan Wu"

Kami bertiga keluar dari cafe. Menyusuri jalan di Old Montreal dari Bonaventure ke stasiun Place D'Armes untuk bertemu dengan Notre Dame of Basilica yang megah. Walau sudah begitu lama menetap di Montreal, ini pertama kalinya untuk kami bertiga. Waktuku dulu hanya dihabiskan untuk kuliah dan mengurus Tae Oh.

Aku tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah. Bagiku, merepotkan Kris selama satu tahun di tingkat SMA sudah cukup. Pria itu tidak pernah mengeluh. Dia merawatku seperti anaknya dan menjaga ku layaknya kekasih. Tapi lagi-lagi beasiswa mengetuk pintu rumah, Kris yang bersemangat membuatku tidak tega. Akhirnya, jurusan kedokteran di Universitas McGill membuatku tergiur.

Kris pria yang sangat sibuk. Rumah miliknya yang ku tempati selama masa pelarian selalu sepi. Ia hanya akan datang tiga bulan sekali paling lama-sebelum kami menikah. Aku seperti seorang istri yang ditinggal suaminya merantau.

Aku tidak pernah memiliki masalah apapun dengan hal itu. Seperti terbiasa.

Aku sudah berhasil menunggu banyak orang selama hidup. Ayah, Ibu, Yixing Hyung, dan Jongin. Hanya satu masalahku. Rumah Kris terlalu besar. Hanya ada aku dan aunty Rena disana. Beliau yang memasak untuk dua orang pria yang hanya tau memegang pulpen ini sebelum aku tertarik dan ikut menghabiskan waktu di dapur.

Aku sering menginap di rumah Chen dan Chanyeol hyung yang juga besar. Hal yang luar biasa untukku karena sejak kecil, aku hanya pernah menempati rumah kontrakan kecil dan panti. Hanya sebentar setelah nenek meninggal, dua orang dewasa yang mengaku anaknya datang dan mengambil panti. Mengusirku tanpa hati.

Aku masih enggan kembali ke Busan. Ibu rutin mengirim uang. Dan belajar tanpa kenal waktu memberiku beasiswa di tingkat sekolah menengah atas. Aku cukup dengan semua hal itu, meski harus tidur di stasiun atau sauna. Menyewa sebuah flat akan membuatku mati kelaparan.

Rumah pertama yang ku singgahi adalah rumah Jongin. Rasanya seperti kembali ke rumah. Nyonya Kim begitu hangat, menyambutku dengan baik. Aku menangis malam itu di samping Jongin yang tertidur. Merindukan ibu.

Kim Jongin.

Namanya seperti belati. Menggores lidahku. Serta hati yang sudah kebal. Untuknya, aku hanya belum bisa mengundurkan diri dari kenyataan.

Orang-orang jatuh cinta dengan cara yang misterius. Aku tidak tau karena apa. Kadang terlalu banyak alasan, kadang tidak ada alasan sama sekali untuk mencintainya. Aku hanya remaja yang masih buta masalah hati saat rasa itu muncul. Aku menganggap nya biasa dan akan menghilang seiring berjalan waktu. Tanpa peduli pada benih yang selalu tumbuh.

Saat kusadari, aku sengaja membiarkannya.

Aku memiliki Chanyeol hyung yang luar biasa baik. Mengerti aku tanpa lisan yang panjang. Dia mengawasiku. Memberiku ruang untuk sendiri dan akan sigap memberi pundak saat aku lelah dengan kesendirian itu.

Hanya saja, banyak hal yang tidak bisa aku tunjukkan. Tentang semua kesalah pahaman yang terjadi, itu salahku.

Saat malam aku di menginap di sauna, sepi membuat semuanya menjadi menakutkan. Aku ingin Chanyeol hyung, atau Chen atau Yixing hyung. Terlebih lagi, aku ingin Jongin. Hanya Jongin. Tapi aku tidak suka di kasihani. Keadaan ku, biar aku dan Yixing hyung saja yang tau. Aku melarang siapapun untuk mendekat. Pernah Jongin marah karena hal itu. Tapi aku tau, dia tidak bisa mengabaikanku lebih lama. Entah karena bodoh, Jongin tidak menyadari bahwa aku sudah menjadi salah satu prioritasnya.

Tidak.

Aku yang bodoh. Karena tidak tau bahwa prioritas Jongin bisa berubah sekejap mata.

Bodoh karena mengira hati kami sama.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.

Gantung?
Sengaja. Wkwkk

Flashback masih sangaaaat panjang. Beberapa juga nanti akan aku selipkan di luar dari Coffe Shop Dreams. So, siap² untuk bosan :v

Untuk yg nunggu kaihun, sabar ya. Dari awal, ff ini udh kaihun. Aku cuma mau ngasih kebahagiaan untuk sehun di beberapa chap ini T.T