Jongin tidak berhenti menekan pelipisnya sejak beberapa menit lalu. Kertas-kertas tes milik siswa dan siswi kelas dua masih berserakan di atas meja. Nilai buruk dari hampir seluruh kertas yang membuatnya pening. Murid-murid ini tidak belajar sama sekali.

Menjadi guru Kimia memang perlu waktu dan tenaga ekstra. Anak-anak lebih menikmati pelajaran yang mudah seperti seni. Menyanyi atau melukis. Walaupun suara mereka tidak bagus, toh mereka bisa menyanyi. Tapi untuk Kimia, jika tidak menemukan jawaban tepat setelah rumus panjang, mereka stress tidak tertolong.

Jongin selalu berusaha memberikan rumus yang paling mudah. Bahkan beberapa rumus ia buat sendiri agar murid-murid itu tidak terbebani. Tapi tetap saja, merah semua nilai mereka. Hanya ada beberapa yang rata-rata, tidak cukup memuaskan juga untuk Jongin.

"Lee Seongsaenim"

Yang di panggil melongok dari kursi nya. Jongin memberi isyarat dengan pulpen yang di pegangnya agar guru yang lebih tua darinya itu mendekat.

"Murid-murid kelasku lagi?" Jongin mengangguk dan menghela nafas melihat wajah putus asa Lee Saem.

"Mereka mengalami krisis dalam menghitung atau apa? Ini lebih buruk dari minggu lalu"

Lee Saem mengambil kertas yang tersodor kearahnya. Melihat satu persatu kekrisisan yang terjadi. Kepalanya menggeleng tidak habis pikir.

"Nilai matematika mereka baik-baik saja" ucap Lee Saem setelah mengembalikan kertas pada Jongin.

"Rumus matematika bahkan lebih konyol" ceplos Jongin.

Deritan kursi dan tubuh ramping yang terlihat di balik sekat di samping mejanya membuat Jongin mengeluarkan senyumannya.

"Anda berkata sesuatu Kim Saem?" Itu Ahn Songsaenim yang cantik, seumuran Jongin dan guru matematika.

"Anda sangat cantik hari ini Ahn Saem"

Si guru cantik memutar bola matanya tapi tersenyum juga. Tubuhnya kembali tersembunyi di balik sekat. Jongin beralih kembali menatap Lee Saem yang mesem-mesem tidak karuan.

"Seharusnya kau juga tersenyum seperti itu ketika bicara padaku, junior"

Gelengan Jongin membuatnya mendelik. Jika bukan sesama guru, ia pasti sudah menjitak kepala juniornya itu. Sejak hari pertama kepindahan Jongin ke Seoul Academy, entah bagaimana Lee Songsaenim sudah tidak menyukainya. Terlebih saat para guru wanita bergosip tentang betapa tampannya Jongin. Dia juga tidak kalah tampan.

"Jadi ini bagaimana? Mereka tidak bisa ikut ujian kalau terus seperti ini"

Lee saem memutar tubuhnya dan berlalu kembali ke meja kerjanya.

"Aku akan mengomeli mereka. Sisanya kau yang urus. Aku hanya guru olahraga yang tidak tau apa-apa tentang senyawa kimia"

Jongin mendelik dengan desisan kesal. "Aishh, sunbae ini"

.

"Anda akan langsung pulang Kim Saem?" Tanya guru Ahn ketika semua guru sudah bersiap membereskan pekerjan mereka diatas meja. Hari selasa yang melelahkan sudah berakhir.

"Iya saem. Ada apa?" Jongin berhenti di depan guru cantik itu.

Guru Ahn menatap berkeliling kantor guru. Menunggu semua guru keluar sebelum kembali bicara pada Jongin.

"Kalau tidak sibuk, aku mengundang mu makan malam Jongin-ah"

Bukannya terlalu percaya diri atau apa. Tapi Jongin tau jika sejak hari pertamanya mengajar, guru Ahn sudah menyukai nya. Terlihat dari hampir setiap malam ia mengajak Jongin makan malam. Dan Jongin memiliki seribu alasan untuk menolak.

Tapi hari ini, ia tidak beralasan. Ia memiliki urusan lain.

"Maaf saem. Tapi aku sudah memiliki janji makan malam dengan teman"

"Kekasihmu?" Ketus guru Ahn sambil memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu meninggalkan kantor.

"Yahh..." Jongin menggaruk tengkuknya dan tersenyum dengan sedikit kekehan.

"Baiklah"

Jongin diam-diam menghela nafas lega. Biasanya tidak mudah menghindar dari guru matematika yang satu ini. Guru Ahn menoleh padanya dan tersenyum di bibir penuh lipstik itu.

"Mungkin besok kita bisa makan malam bersama"

Ya. Tidak mudah. Gigih sekali wanita ini.

.

.

.

.

Suasana malam pusat perbelanjaan Cheongdamdong bisa lebih ramai dari hari libur. Suara berisik dari seluruh sudut jalan memenuhi telinga. Yang terlihat hanya kerlap-kerlip lampu dari toko sepanjang jalan. Muda-mudi menjadi pemandangan yang menarik melihat bagaimana mereka tertawa sepanjang waktu tanpa beban. Sehun sedikit menikmati.

Kris yang menjemputnya dari rumah sakit dan mengajaknya keluar malam ini. Urusan kerja sebenarnya. Tapi Sehun bisa sekalian jalan-jalan. WF memiliki kerjasama baru dengan perusahaan fashion Queen's Jewel untuk musim panas ini. Jadi Kris turun langsung untuk melihat produk-produk baru ditokonya. Jadi, selama Kris sibuk dengan bisnisnya, Sehun juga akan sibuk berkeliling.

Toko pakaian anak-anak di seberang jalan menarik perhatian Sehun. Terakhir ia membelikan baju baru untuk Tae Oh dua hari sebelum berangkat ke Seoul. Tidak ada salahnya memanjakan anak sendiri.

"Tae Tae ingin baju baru?" Sehun bertanya sambil melangkah mendekati toko.

Anak kecil itu berkedip menatap Sehun. "Boleh?"

Kalau di fikir-fikir Tae Oh tipe anak yang tidak banyak meminta pada kedua orang tuanya. Saat di Onewhero, Sehun dengan Kris akan mengajak Tae Oh ke panti asuhan setiap akhir pekan. Memberi beberapa pakaian dan mainan untuk anak-anak disana. Sehun maupun Kris memiliki pola didikan yang sama. Mereka hanya ingin Tae Oh tumbuh dengan baik meskipun di besarkan oleh kedua orang tua pria.

"Tentu saja sayang" cubitan ia berikan pada wajah tersenyum Tae Oh yang lucu. Anak itu mengangguk beberapa kali dengan antusias.

Pintu toko di buka oleh seorang pelayan wanita yang tersenyum ramah. Toko di desain dengan sangat baik. Sangat cozy untuk anak-anak. Tae Oh telah lebih dulu berkeliling di dalam toko.

Beberapa pakaian menarik perhatian Sehun. Sejujurnya, ia tidak memiliki keahlian memilih pakaian yang cocok untuk Tae Oh. Menurutnya, semua pakaian bagus. Kris yang lebih ahli dalam hal ini. Pria perfeksionis itu kadang menjadi cerewet di dalam toko pakaian. Hampir seluruh pakaian Sehun dan Tae Oh adalah pilihannya. Mungkin karena dia terbiasa memakai pakaian bagus sejak kecil. Tidak seperti Sehun.

Setelah melihat berkeliling, memilah satu baju ke baju yang lain, Sehun akhirnya menyerah. Pria itu memanggil seorang pelayan dan memintanya membantu mencari pakaian yang pas untuk Tae Oh.

"Biar aku saja, Hyejin-ah" seorang wanita dengan blouse cream dan skinny jeans mendekat. Pelayan yang di panggil Hyejin tadi mengangguk dan kembali pada pekerjaannya.

Sehun benar-benar akan kehilangan jantungnya. Orang-orang sangat suka memberi kejutan di tempat tak terduga. Sehun menatap plakat besar di atas sebuah gantungan baju.

Queen's Jewel.

Saat pertana kali Kris berkata WF entertainment akan bekerja sama dengan Queen's Jewel, Sehun benar-benar tidak asing dengan brand fashion yang satu ini. Queen's Jewel adalah hasil kerja keras dari dua saudara ipar keluarga Park.

Jadi tidak heran jika Sehun melihat Park Seolhyun sekarang berdiri di depannya dengan sangat cantik. Perusahaan raksasa itu milik Ibunya Chanyeol dan Ibunya Seolhyun.

"Lama tidak bertemu, Oh Sehun"

Kebetulan macam apa lagi ini?

.

.

Mereka bertemu Kris saat akan pergi ke salah satu cafe di dekat toko pakaian anak-anak milik Seolhyun. Kris yang mengerti suasana mengambil Tae Oh dan pergi ke tempat lain.

"Jadi Chanyeol hyung yang memimpin perusahaan sekarang? Bagaimana dengan perusahaan tuan Park?"

Suasana cafe cukup nyaman dengan alunan musik jazz dari speaker. Dua potong red velvet tersaji di depan mereka, serta latte yang harum.

"Chanyeol oppa ternyata payah dalam urusan bisnis seperti itu. Jadi bibi memindahkannya ke Queen's Jewel" Seolhyun terkekeh. "Park Manufacturing sudah aman di tangan adik bungsu paman"

Sehun mengangguk. Dia tidak terlalu tertarik dengan bisnis.

Ia menoleh ketika mendengar helaan nafas dari Seolhyun. Wanita itu tersenyum padanya.

"Kau masih tidak menyukaiku?"

Sehun terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Apakah wajahnya terlihat seperti itu?

"Tidak. Tidak. Aku hanya tidak tau harus mengobrol apa. Ini sudah sangat lama"

"Benar. Berapa lama?"

"Delapan tahun"

"Kau meninggalkan kami begitu saja"

Benar jika banyak yang berubah untuk semua orang yang ia kenal. Mungkin termasuk dirinya bagi orang lain. Pertemuannya dengan ketiga orang ini membuat Sehun mengantisipasi apakah besok atau lusa ia akan bertemu dengan Chen? Ngomong-ngomong, Yixing hyung saja tidak tau bahwa dia sudah berada di Korea.

Seolhyun masih secantik dulu. Tubuhnya pun tidak berubah. Wanita ini terlihat luar biasa. Pantas saja dulu Jongin begitu mengejarnya. Dan apakah mereka masih sepasang kekasih? Atau bertunangan? Atau...

Perut Sehun melilit ketika bayangan pernikahan harmonis antara Jongin dan Seolhyun terbayang.

Tapi untuk apa? Itu bukan urusannya.

"Ya, bukan urusanku"

"Apa yang bukan urusanmu?"

Oh sial. Mulutnya bergumam menyuarakan isi kepala. Sehun menggeleng untuk menanggapi pertanyaan Seolhyun.

"Kau sudah menikah?" Seharusnya Sehun mengalihkan pertanyaan, bukannya menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak tadi.

"Kenapa? Kau ingin menghinaku?"

Atmosfir menjadi sedikit nyaman karena keakraban diantara keduanya. Orang-orang yang melihat bisa saja mengira mereka teman dekat yang lama tidak bertemu.

Mereka tidak sedekat itu.

"Ku dengar, presdir Wu sudah menikah di Kanada beberapa tahun lalu" ucapan menggantung dari Seolhyun membuat Sehun gugup. Tidak apa-apa sebenarnya jika wanita ini tau. Toh, dia dan Kris tidak berusaha menyembunyikan. Tapi tetap saja..."kurasa aku sedang bersama suaminya sekarang. Benarkan, Wu Xiuhuan-ssi?"

Pemilik kekuasaan memang tau segala hal. Mereka seperti internet berjalan. Bahkan jika di dalam bumi, informasi itu bisa mereka terawang dengan mudah. Sehun menanggapi dengan tawa kecil. Buble tea di atas meja ia sesap sampai habis sebelum kembali menyahuti wanita cerewet di depannya ini.

"Kau wanita yang cukup teliti"

Seolhyun tertawa dengan selipan sikap arogan yang mendarah daging di keluarga Park. Seperti Chanyeol. Tapi pria itu pintar bersembunyi.

"Jadi bagaimana? Kau masih ingin menunggunya?"

Sehun mengernyit atas pertanyaan Seolhyun. Ketika ia putuskan untuk mencari tau, tatapan wanita itu sudah tidak berada padanya. Tubuhnya berputar dengan cepat. Menyaksikan bagaimana wajah pias Jongin berkabut keterkejutan.

Sehun bisa mendengar sesuatu yang retak. Entah dari dapur cafe. Atau Jongin.

Atau dirinya sendiri.

.

.

Seolhyun pergi dengan alasan ada tamu penting di toko. Padahal malam ini ia dan Jongin memiliki janji makan malam. Sehun ingat bagaimana Seolhyun berucap dengan suara provokatif bahwa ia dan Jongin akan menikah dalam waktu cepat. Tapi Jongin lebih cepat lagi membungkam mulutnya dan berucap tidak berkali-kali.

Kini mereka duduk saling berhadapan. Di meja bundar yang kecil. Hanya cukup untuk dua orang. Tangan Sehun terlipat di atas meja, hampir menempel dengan tubuhnya. Mencari jarak untuk udara canggung di sekitar tengkuknya. Jongin sama, duduk dengan kaku seperti Tae Oh yang baru saja belajar duduk.

Seolhyun benar. Mereka memiliki janji makan malam. Jongin sudah lama tidak kembali ke Seoul, jadi wajar jika wanita itu menelpon dan berkata rindu dengan berlebihan. Teman yang dimaksud Jongin pada guru Ahn adalah Seolhyun.

Dan mereka bukan sepasang kekasih.

"Hubungan kalian masih baik-baik saja?" Tanya Sehun.

Jongin sedikit terperanjat dan menggumam bertanya.

"Hubungan siapa?"

"Kau dan Seolhyun"

"Tentu. Kami masih berteman baik"

"Teman?"

Jongin mengangguk dengan pasti. "Kami sudah berakhir sejak-"

Delapan tahun lalu. Tepatnya di hari kepergian Sehun. Jongin nemilih apakah harus memberitahu Sehun atau tidak.

"Sejak lama"

Tidak.

Jongin mendengar pengakuan Sehun perihal pernikahan nya dengan Kris Wu. Hal itu membuatnya terkejut. Sangat terkejut. Ada friksi aneh yang menyakitkan di bagian ulu hatinya. Nyeri.

Jongin meyakinkan diri bahwa itu hanya karena ia telat makan. Tapi setelah melihat wajah Sehun, duduk berhadapan, mendengar suaranya. Penyebab utama rasa sakitnya adalah pria itu. Seharusnya. Namun ketika ia ingin menyalahkan, bayangan masa lalu merusak sistem kerja otaknya. Bagaimana dulu, semua hal terjdi karena dirinya.

Jongin akhirnya menyalahkan diri sendiri.

Sehun seperti orang asing yang tidak bisa ia temukan meski berada di depannya. Sangat jauh. Sehun masih menawan seperti bertahun-tahun lalu. Kulitnya masih seputih susu, tidak lagi pucat karena rona yang membayang di sekelilingnya. Kebahagiaan.

Rona itu, tubuh yang lebih berisi dan statusnya...

Hal asing untuk Jongin.

"Aku minta maaf"

Jongin dapat melihat alis Sehun yang menukik tajam. Marah. Ia jadi kebingungan hal apa yang membuat Sehun marah.

"Kenapa meminta maaf?" Sengit suara Sehun semakin membingungkan.

"Aku mengabaikan-"

Deritan kursi terdengar ribut. Saat Jongin mendongak, Sehun telah berdiri dari tempatnya. Wajah pria itu memerah dan enggan menatapnya.

"Aku sudah melupakan banyak hal selama delapan tahun ini"

Jongin mengerti hal apa yang Sehun maksud. Itu bagus karena mungkin Sehun telah mengabaikan rasa sakit. Membuangnya jauh-jauh. Tapi sedikit tidak rela itu ada. Selama ini Jongin tidak bisa melarikan diri. Ia terkurung oleh penyesalan dan rasa bersalah.

Jika Sehun telah melupakan. Jadi, apakah hanya dia yang merasa seperti itu selama ini?

Sehun meletakkan beberapa lembar won diatas meja dan bersiap pergi sebelum jemari Jongin menggapai jari kelingkingnya. Menggenggam nya erat seperti akan meremukkan. Sehun berdesis dan genggaman itu berubah menjadi usapan.

"Aku.."

Jongin yang masih terpaku pada kursi mendongak. Kini, kedua anak adam itu resmi saling menatap setelah sejak awal duduk bersama saling mencari objek lain yang lebih menarik.

Getaran pada kedua bola mata Sehun tidak dapat ia artikan. Ia hanya merasa begitu bahagia dapat kembali menemukan manik biru malam itu. Seharusnya, sejak awal ia pandangi saja Sehun. Ia tatapi apa yang di rindukan. Karena demi apapun. Tidak ada yang lebih menarik daripada seorang Oh Sehun.

"Aku lupa menanyakan bagaimana kabarmu. Karena aku tidak pernah baik-baik saja"

Sial! Jongin tersenyum di saat yang tidak tepat. Di saat Sehun gemetar karena rasa yang sama.

"Kau tau makna rindu kan?"

.

.

.

.

.

.

Bersambung..

Gimana dengan chap ini? Maaf belum memuaskan /.\