Suara sirine seperti pertanda buruk. Ributnya menyatu dengan suara teriakan dari beberapa orang berseragam putih dan biru muda. Roda bankar yang didorong cepat menambah runyam suasana.

"Tambah persediaan darah dan cepat siapkan ruang operasi!"

"Nde!"

Sehun sudah tidak peduli pada jas putih penuh darah dari pasien yang kini meregang nyawa di atas bankar yang masih di dorong menuju ruang operasi. Kakinya berlari secepat mungkin sambil terus menekan luka menganga pada bagian perut pasien kecelakan tunggal di jalan tol siang ini.

"Kita harus cepat"

Orang-orang menyingkir dengan sendirinya milihat kekacauan. Sehun bahkan tidak peduli pada kegugupannya karena ini mungkin menjadi operasi pertama yang akan ia jalankan.

.

.

.

Flashback.

"Hey Oh!"

Sehun terperanjat dan mengangkat kepalanya dari meja dengan wajah mengantuk. Entah siapa di depan sana yang memanggilnya tadi.

"Kau di panggil ke ruang guru"

Saat Sehun bangkit dari kursi dan meregangkan badan, barulah dia sadar bahwa hanya ada dirinya di dalam kelas. Hari ini, para guru memang sedang sibuk mengurus acara tahunan sekolah. Tapi entah kenapa masih sempat ia di panggil ke kantor.

Sehun menggeser pintu dan lebih terkejut karena lorong lantai dua sepi. Ia fikir mungkin sebagian murid sudah melarikan diri dari sekolah. Baru beberapa langkah menuju tangga, siluet seseorang di belakang tubuh menghentikannya. Sehun berbalik dan menemukan seorang siswi di ujung lorong. Tepatnya di balkon.

Sehun sempat berfikir bahwa mungkin saja itu hantu mengingat betapa sepinya lorong sekarang. Penasaran, ia pun mendekat tanpa suara. Semakin dekat, semakin ia mengenal sosok perempuan itu.

Jung Soojung.

Kakak kelas yang pernah membuat keributan dengan pacaranya hanya karena Jongin. Sehun melihatnya berdiri dengan pot kecil di tangan. Tapi itu bukan urusannya. Jadi lebih baik ia ke kantor guru sekarang.

Badannya hendak berbalik arah bersamaan dengan suara ribut di bawah balkon. Sehun kembali memutar badan dan menemukan wajah gusar Soojung yang menatapnya. Tangan Sehun lebih cepat menggapai lengan Soojung yang akan melarikan diri.

"Apa yang sunbae lakukan?" Tanyanya.

Soojung tergagap. Memberontak dari genggaman Sehun.

"Apa yang terjadi sunbae?"

Suara rendah Sehun membuat Soojung menciut. Bibir gemetarnya terbuka beberapa kali untuk bersuara dengan bola mata yang terus menatap kearah balkon.

"Sunbae!"

"Seo-" "Seolhyun.."

Kedua alis Sehun menyatu bingung. Di tatapnya tangan Soojung serta ketakutan yang melanda gadis itu.

Pot bunganya-

Seolhyun.

Kepala Sehun berpikir dengan cepat. Akhirnya mengerti apa yang terjadi. Soojung baru saja menjatuhkan pot bunga kepada Seolhyun. Keributan yang terjadi di bawah sana mungkin karena orang-orang terkejut. Apakah Jongin juga melihat?

Entah bagaimana, cengkramannya pada lengan Soojung terlepas. Gadis itu segera berpikir untuk melarikan diri sebelum ada yang melihat. Ia tidak menyangka pot bunga itu akan benar-benar mengenai Seolhyun. Sedangkan Sehun melangkah ke balkon, memperhatikan keributan di bawah sana.

Sehun bisa melihat Chanyeol membopong Seolhyun. Dimana Jongin? Kekasihnya terluka. Jika ia tau bahwa Soojung yang melakukan hal ini, mungkin kakak kelasnya itu akhirnya akan tau bagaimana sosok Jongin ketika marah. Tapi Sehun tau, Jongin bukan seseorang yang akan menyakiti perempuan.

Jika itu dirinya, apa yang akan Jongin lakukan? Entah itu sebagai Seolhyun, atau sebagai Soojung.

"Oh Sehun!"

'Bagaimana jika itu aku, Jongin?'

Pukulan Jongin hari itu tidak sakit sama sekali. Kenyataan bahwa orang nomor satu untuk Jongin yang telah berubah lah yang lebih menyakitkan.

Flashback end.

.

.

.

"Appa mu melamun Tae"

Sehun berkedip dan mendapati Kris bersama Tae Oh di ambang pintu. Ia tersenyum menyambut keduanya.

"Ouh!"

"Appa, waeyo?" Kaki kecil Tae Oh melangkah mendekati Sehun.

"Jangan mendekat Tae" anak kecil itu berhenti, menatap Sehun dengan bibir mengerucut. Penolakan sang ayah baginya adalah tanda tidak disayang lagi. Sehun beralih menatap Kris, "aku baru selesai melakukan operasi. Aku tidak higienis untuk jagoan ini"

Kris mengangguk mengerti dan menggendong Tae Oh, mengusap sudut matanya yang berair.

"Appa mu penuh kuman"

"Penjelasan yang bagus, Kris"

Sehun memutar mata dan melangkah bersama suaminya keluar ruangan. Puluhan pasang mata lekat menatapi mereka kemudian. Sekejap saja untuk mendapat perhatian sebesar ini. Sehun mendelik pada Kris.

"Sudah ku bilang jangan membawa Tae Oh ke rumah sakit"

"Anakmu merengek padaku tuan Wu yang agung. Aku mana tahan mendengar rengekannya yang menyedihkan"

Sehun memutar bola matanya jengah. Dia tau Kris tidak berbohong, hanya saja wajah Kris ketika menjelaskan terlihat menyebalkan.

"Lagipula aku merindukanmu"

Kejengahannya berubah menjadi ukiran lengkungan tipis.

"Aku free nanti malam" sahut Sehun, melirik sekilas melalui sudut mata.

"Bagus" seringai Kris.

Sehun bersikeras tidak ingin makan siang di kantin rumah sakit karena ada Tae Oh bersama mereka. Dan lagi, kantin penuh mata manusia pencari tau. Tunggu saja besok, atau paling tidak sehabis makan siang ini. Sehun akan menjadi headline berita sampai minggu depan.

Selamat.

.

.

.

Sehun tiba di rumah saat hampir tengah malam. Ia nyaris menginap di rumah sakit jika tidak tiba-tiba merindukan kasur empuknya. Dan guling kesayangnnya.

"Mau ku siapkan air panas untuk berendam?" Tanya Kris, bersiap turun dari tempat tidur.

"Yes, please" Sehun sendiri sibuk melepasi pakaiannya.

Kris mengangguk, lantas melewati Sehun menuju kamar mandi. Sehun tidak suka air yang terlalu panas, juga tidak bisa kena air dingin di malam hari. Selama ini, hanya Kris yang tau seberapa ukuran panas yang pas untuk mandi malam Sehun. Bahkan Sehun sendiri sering kewalahan mengaturnya.

"Pemandian anda sudah siap Tuan"

Sehun tersenyum dan mengecup sekilas bibir Kris sebelum menutup pintu kamar mandi. Ia baru saja masuk ke dalam bathub dan menutup mata mencium aroma wangi dari garam mandi ketika pintu kembali terbuka. Kris bersandar pada daun pintu.

"Apa sebelumnya sudah ku katakan bahwa aku merindukanmu?" Kris menggaruk pelipisnya dengan jari. Sikap gugup yang selalu lucu untuk Sehun. Kadang, meski telah bertahun-tahun, Kris masih seperti perjaka muda di malam pertama.

Sehun tertawa dan Kris mendengus.

"Kemarilah daddy Wu"

.

.

.

Flashback.

"Kau baik-baik saja?"

Sehun mengernyit mendengar suara tidak asing itu. Ia mengerjap lagi beberap kali guna memperjelas pandangannya yang kabur.

"Hyung?"

Kris di depannya, duduk dengan wajah khawatir yang kentara.

"Syukurlah kau sudah sadar"

Sadar? Sehun memaksa kepala pusingnya untuk berfikir. Setelah beberapa detik ia ingat tentang tadi malam. Penolakan dari Nyonya Kim, melihat kemesraan Jongin dan Seolhyun. Hujan. Dan kepalanya yang sakit. Sehun berfikir mungkin ia pingsan setelah itu. Tapi dia benar-benar lupa tentang Kris. Kapan dan dimana pria itu menemukannya?

Kris sigap membantu tubuh Sehun yang berusaha duduk. Ia mengatur bantal agar pria itu bisa bersandar dengan nyaman.

"Terima kasih hyung"

Kris mengangkat sebelah alis, "untuk apa?"

"Menemukanku"

Sehun ingin menangis ketika wajah tersenyum Kris terlihat lebih tulus dari ribuan ulat yang rela menjadi kepompong agar kelak seindah kupu-kupu. Orang asing yang sudah tidak asing ini mengacak pelan rambutnya dan tertawa renyah. Sehun menyukai caranya tertawa seperti itu.

"Aku tidak menemukanmu"

"Lalu?"

"Emmm... takdir?"

Takdir.

Sehun membenci kata itu sejak cinta pertamanya yang menyakitkan terwujud. Tapi hari ini, Sehun mengiyakannya dengan yakin.

Hening di pagi hari terasa menghangatkan. Sehun menatap berkeliling melihat isi kamar. Beberapa trophy dan pigura bola basket di atas nakas meyakinkannya bahwa ini memang kamar Kris. Warna abu dengan spectrum yang cerah sangat cocok dengan pria bule ini.

"Aku mengganggu?" Suara seseorang di balik celah pintu mengejutkan keterdiaman mereka.

"Mom?" Kris berdiri dan membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan wanita yang ia panggil Mom untuk masuk.

"Oh, kau baik-baik saja sweetie?" Dengan nampan berisi gelas dan mangkuk, wanita paruh baya itu duduk di samping Sehun, mengecek suhu badannya dan bergumam pelan. "Demammu sudah turun"

Sehun melirik bertanya dan Kris mengisyaratkan bahwa Nyonya Wu memang bertanya padanya. Tapi apa itu...

Sweetie?

"A-aku baik-baik saja nyonya"

"Siapa yang kau panggil nyonya? Apa aku terlihat setua itu?"

"Ya?"

Jika dilihat, Nyonya Wu memang lebih modis dari wanita seusianya. Sangat cantik. Kris mendapatkan hidung mancungnya dari sang ibu ternyata.

"Panggil aku seperti Yifan tadi memanggilku"

Yifan?

"Mom?"

"Yes sweetie"

Sehun tau, jika dirinya di keluarga Wu, benar-benar di terima.

Flashback end.

.

.

.

"Yifanhhh!"

Kris menyukai bagaimana nama nya di sebut oleh Sehun ketika kenikmatan itu tiba. Pinggulnya berhenti bergerak dan ganti mencandai tubuh Sehun dengan kecupan kupu-kupu sebelum berbaring nyaman di samping Sehun.

Sehun menarik selimut guna menutupi ketelanjangan keduanya. Lalu meringkuk manja di lengan sang suami.

"Aku penasaran" suara Kris, Sehun mendongak, sesekali menggigiti bahu Kris yang berkeringat. "Sejak kapan kau menyukaiku?"

Bahkan untuk pertanyaan seperti itu, renggang waktu lima tahun terasa hanya kemarin dan hari ini. Sehun memiliki jeda yang cukup panjang sebelum menyahuti Kris. Fikirnya, ia tidak ingat itu kapan. Kris dan segala kebaikannya membuat Sehun menyukai pria itu setiap hari.

"Everyday?"

"Ey, kau tau bukan itu pertanyaanku" cubitan Sehun dapatkan di pucuk hidungnya.

"Yeah.. emm sejak Mommy menyukaiku, maybe?"

Anggukan Kris sebatas kemungkinan dari Sehun. Entah kenapa, ia tidak merasa puas dengan jawaban seperti itu. Kris sendiri telah menyukai Sehun sejak pertemuan mereka di lapangan Sekolah. Selama musim gugur waktu itu, Kris hampir menghabiskan seluruh waktu untuk memperhatikan Sehun, dan mencintainya ketika segala keindahan ia temukan di diri pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya.

"Katakan" ragu suara nya tertelan oleh keegoisan untuk cinta yang ia miliki. "Katakan bahwa kau mencintaiku, Xiuhuan"

"Kris-"

"Sekali saja"

Sehun bangkit dan duduk menghadap Kris. Ia menghindari hal semacam ini. Pertengkaran diantara mereka, selalu berawal dari percakapan ini.

"Jika aku tidak memiliki perasaan seperti itu, aku tidak mungkin berada disini sekarang" tegas Sehun, berusaha menghentikan Kris.

Sang suami menunduk dan mencari kedua bola matanya. Sehun memalingkan wajah untuk bersembunyi lagi.

"Jika kau memiliki perasaan seperti itu, maka mudah saja mengatakan bahwa kau benar-benar mencintaiku"

Sehun membuang nafas, "Kris, kita sudah berhenti membahas hal ini"

"Kau bertemu Jongin, right?"

Kris selalu menjadi yang pertama untuk menghindari perdebatan. Selama ini, perasaan Sehun hanya ia anggap sebagai masalah kecil. Asalkan pria itu disisinya, sudah cukup. Seakan memang seperti itu. Malam ini, ketakutan yang menghantui sebagian malamnya membuat Kris menyerah untuk pura-pura.

Pertemuan Sehun dengan Jongin menjadi momok yang paling menakutkan. Karena Kris tau, bagaimana perasaan itu belum sepenuhnya menghilang.

"Aku tiba-tiba begitu takut kehilanganmu, Xiuhuan"

Sehun meringsek ke depan, mendesak tubuh Kris untuk ia peluk. Ada yang mengganjal di hatinya setelah mendengar ucapan itu keluar dari mulut Kris untuk pertama kalinya. Selama ini, pria itu tidak pernah menghalanginya berteman dengan siapapun.

"Bagaimanapun, kau masih sangat mencintainya"

"No, Kris"

"Kau masih mencintainya"

"No!"

Cengkraman Sehun dikulit lengannya tidak menyakiti Kris sama sekali. Sehun terlihat menggebu dengan kerutan wajah menahan emosi. Kris tidak bisa membaca emosi seperti apa yang Sehun rasakan sekarang.

"Aku tidak akan meninggalkanmu Kris. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisi kita nanti. Aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu"

Kris menghela nafas dan memijati keningnya. Suasana hatinya tidak pernah seburuk ini.

"Maafkan aku" ia meraih kembali tubuh Sehun dalam dekapan. "Aku membuatmu berkata seperti itu"

Sehun memejamkan matanya, mendengar melodi dari detakan jantung Kris yang menenangkan segala emosi.

"Aku akan pergi"

Manik biru malam Sehun lantas menuding Kris.

"Tidak sayang, bukan karena masalah ini. Sepertinya masalah kerja" tawa Kris.

"Sepertinya?"

Kris mengangguk ragu, sedangkan Sehun memicing curiga.

"Berapa lama?"

"Entahlah. Sebenarnya aku tidak memiliki jadwal apapun seminggu ini. Tapi sepertinya aku akan pergi mendadak"

"Wu Yifan ini tidak berniat untuk menemui selingkuhannya kan?" Jemari Sehun bermain pada dada Kris, membuat pola-pola acak sebelum mencubitnya keras.

Kris tertawa, "penggal kepala ku di depan kantor jika itu terjadi"

"Deal!" Sahut Sehun, "tapi luangkan waktu lusa untuk ulang tahun Tae Oh"

"Deal!"

.

.

.

.

.

.

Tbc.

Masih KrisHun...